• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KEADAAN UMUM DESA KEMANG

5.2 Pelaksanaan PNPM MP di Desa Kemang

5.2.1 Pembangunan Sarana dan Prasarana Sosial Dasar

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) di Desa Kemang mulai dilaksanakan pada tahun 2009. Proyek pertamanya berupa pengaspalan jalan trayek Asrama (Kampung Rawa Sampih) sampai dengan “Batas Desa”

(Kampung Kopeng), sepanjang 1,823 km, dengan lebar jalan sepanjang 2,5 m.

Pembangunan infrastruktur jalan ini dilatarbelakangi oleh beragam permasalahan yang ada di Desa Kemang yaitu kondisi jalan yang rusak yang kurang kondusif terhadap kegiatan ekonomi warga desa. Sebagian besar warga mengeluhkan bahwa kondisi jalan yang tidak baik berdampak pada ketidakstabilan harga produk pertanian yang mereka pasarkan, mahalnya harga transportasi dan waktu tempuh yang lama.

Pengaspalan infrastruktur jalan bertujuan untuk memperlancar sarana perhubungan yang diharapkan dapat meningkatkan roda perekonomian dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Selain itu, baik secara langsung maupun tidak langsung perbaikan infrastruktur jalan juga diharapkan akan berdampak positif terhadap pendapatan sejumlah rumahtangga miskin yang ada di Desa Kemang.

Adapun jumlah masyarakat pemanfaat dari proyek pengaspalan jalan ini disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5 Jumlah Pemanfaat Proyek Pengaspalan Jalan menurut Kategori Pemanfaat dan Jenis Kelamin, Desa Kemang, Tahun 2010 (dalam jumlah dan persen)

Kategori Pemanfaat Laki-laki Perempuan Total

n % n % n %

Pemanfaat

Langsung Umum 874 49,16 892 51,50 1766 50,31

Pemanfaat Rumahtangga miskin

604 33,97 590 34,06 1194 34,02

Pemanfaat tidak

langsung 300 16,87 250 14,43 550 15,67

Total 1778 100,00 1732 100,00 3510 100,00

Sumber : Proposal Pembangunan Sarana dan Prasarana, Desa Kemang 2009

Pemanfaat langsung merupakan masyarakat Desa Kemang yang bertempat tinggal di sepanjang jalan Kampung Rawa Sampih sampai Kampung Kopeng.

Adapun yang dimaksud dengan pemanfaat tidak langsung adalah mereka yang berasal dari luar kampung Rawa Sampih dan Kopeng namun ikut memanfaatkan/menggunakan jalan.

Untuk kegiatan pengaspalan jalan tersebut, penyelenggara PNPM MP memanfaatkan tenaga ahli dan tenaga kasar yang pada umumnya tersedia di Desa Kemang. Dalam hal material untuk pengaspalan, penyelenggara melibatkan warga masyarakat untuk mengumpulkannya dari sumberdaya alam yang ada, seperti batu pecah, kerikil, pasir, dan kayu. Adapun tenaga kerja seperti tukang berasal dari masyarakat setempat yang dengan hal ini secara tidak langsung membuka kesempatan kerja bagi masyarakat khususnya masyarakat miskin.

Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana lainnya yang juga didanai PNPM MP di Desa Kemang berupa pembangunan gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang dilaksanakan pada tahun 2010 dengan jumlah tenaga kerja tujuh orang. Seperti halnya pembangunan infrastruktur jalan (pengaspalan jalan), tenaga kerja untuk pembangunan PAUD juga berasal dari masyarakat setempat dan diutamakan rumahtangga miskin. Bangunan PAUD yang telah

dibangun terdiri dari dua ruangan yaitu ruang kantor dan ruang kelas dengan total luas gedung 12 x 8 meter.

5.2.2 Kegiatan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPKP)

Kegiatan PNPM MP lainnya yang direalisir di Desa Kemang adalah dibentuknya enam kelompok Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPKP), pada tahun 2009 atau masing-masing dua kelompok di setiap dusun yang ada di desa ini. Pada tahun 2010 dan 2011, kelompok SPKP bertambah masing-masing tiga kelompok per tahun, sehingga sampai saat ini jumlah keseluruhan kelompok SPKP yang ada di Desa Kemang berjumlah 12 kelompok. Kelompok SPKP Desa Kemang merupakan kelompok terbaik di tingkat Kecamatan. Hal ini dinilai berdasarkan administrasi kelompok dan ketepatan waktu dalam pengembalian pinjaman. Keberhasilan ini pula yang menjadikan kelompok SPKP semakin bertambah jumlahnya setiap tahunnya.

Kegiatan SPKP merupakan kegiatan pemberian modal usaha untuk kelompok perempuan yang mempunyai kegiatan simpan pinjam. Secara umum, sebagaimana tertulis dalam PTO PNPM MP, kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan potensi kegiatan simpan pinjam perdesaan, kemudahan akses pendanaan usaha skala mikro, pemenuhan kebutuhan pendanaan sosial dasar, dan memperkuat kelembagaan kegiatan kaum perempuan serta mendorong pengurangan rumahtangga miskin dan penciptaan lapangan kerja.

Kepada SPKP dialokasikan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang totalnya sebesar 25 persen dari total dana PNPM MP di Kecamatan Bojongpicung. Sasaran dari program SPKP adalah rumahtangga miskin (RTM) yang produktif yang memerlukan pendanaan bagi kegiatan usaha.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, terdapat sebanyak 12 kelompok SPKP di Desa Kemang yang terbentuk pada periode tahun 2009-2011, masing-masing beranggotakan 10 orang yang domisilinya berdekatan. Kegiatan perguliran modal di kalangan kelompok SPKP tersebut telah berlangsung selama dua kali dan sekali, berturut-turut bagi mereka yang terbentuk pada tahun 2009 dan 2010. Sementara di kalangan Kelompok SPKP yang dibentuk tahun 2011

belum mengalami masa perguliran. Sejumlah kelompok SPKP tersebut merupakan kelompok terpilih hasil seleksi Tim Verifikasi tingkat Kecamatan.

Seleksi yang dilakukan Tim Verifikasi mempertimbangkan proporsi RTM yang ada di Desa Kemang serta seleksi kelayakan kelompok. Adapun kelompok yang berhak mengajukan SPKP perguliran PNPM MP harus memnuhi persyaratan:

1. Kelompok yang sebelumnya pernah melakukan pinjaman SPP BLM atau SPP perguliran dan pengembalian tepat waktu.

2. Kelompok usaha perempuan yang sudah menjadi pelaku usaha minimal dua tahun.

3. Organisasi kewanitaan yang ada di Desa yang sudah baku dan mempunyasi SK Kepala Desa: PKK. Kader Posyandu, atau kelompok pengajian wanita yang sudah berjalan sedikitnya tiga tahun

4. Kelompok harus mempunyai anggota sedikitnya lima orang dan sebanyak-banyaknya sepuluh orang.

5. Pengurus kelompok dan anggota kelompok adalah warga Desa Kemang minimal dua tahun, dibuktikan dengan Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Pengenal (KTP) yang masih berlaku.

6. Mempunyai tabungan di kelompoknya sedikitnya sepuluh persen dari jumlah pinjaman yang diajukan.

7. Pengurus atau anggota kelompok berusia produktif (21 tahun sampai dengan 60 tahun) pada saat mengajukan pinjaman SPP bergulir.

Adapun kelompok yang tidak berhak untuk mengajukan pinjaman SPP BLM atau perguliran, meliputi: Anggota TNI/POLRI, PNS, karyawan kecamatan, Kepala Desa/BPD, perangkat desa, karyawan BUMN, Purnawirawan TNI/POLRI, pensiunan PNS, kelompok laki-laki, pengusaha atau grosir. Berdasarkan ketentuan tersebut, fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih terdapat sejumlah anggota yang merupakan bagian dari perangkat desa, yakni istri dari Ketua RT serta ada pula anggota yang merupakan istri dari seorang PNS. namun hal ini luput dari pemeriksaan fasilitator dan/atau Tim Verifikasi.

Di bawah ini dikemukakan kondisi kelompok SPKP yang ada di Desa Kemang, yang meliputi enam kelompok yang tersebar di semua dusun di desa ini.

1. Kelompok SPKP “Posyandu I Dusun I”

Kelompok Posyandu Dusun I berasal dari sebuah kelompok posyandu yang dibentuk pada tahun 1985 yang beranggotakan sebanyak 20 orang. Kegiatan awal dari kelompok ini adalah sebagai kader kesehatan Posyandu di Dusun I Kampung Beber RT 04 RW 01 yang dilaksanakan satu kali dalam sebulan yaitu pada minggu ke-2. Sebagaimana dituturkan oleh Ibu A, bahwa pada tahun 1999, disaat kegiatan penimbangan bayi dilaksanakan, banyak kebutuhan bayi seperti susu, mainan dan banyak kebutuhan balita lainnya yang apabila disediakan oleh kader akan menjadi usaha yang mendatangkan keuntungan. Atas dasar hal tersebut, maka semua kader sepakat untuk menyediakan kebutuhan balita dengan modal awal didapatkan dari hasil iuran para anggota. Berkat usaha tersebut, kini para kader Posyandu tidak hanya bertugas sebagai kader kesehatan saja, tetapi juga dapat mendapatkan penghasilan dari hasil penjualan kebutuhan balita tersebut, sehingga kegiatan usaha ini dinilai mampu membantu memenuhi kebutuhan rumahtangga. Kegiatan lain yang dilakukan oleh anggota kelompok ini adalah kegiatan arisan yang dilakukan sekali dalam sebulan, yakni pada minggu ke tiga. Kegiatan usaha yang dijalankan oleh anggota pada umumnya adalah menjual perlengkapan balita dan makanan ringan.

Berdasarkan latar belakang kelompok Posyandu Dusun I ini, maka dibentuklah kelompok SPKP Dusun I yang beranggotakan 10 orang pada tahun 2009. Anggota terpilih merupakan orang yang telah atau akan menjalankan usaha dan membutuhkan modal usaha.

2. Kelompok SPKP “Posyandu II Dusun I”

Kelompok Posyandu II Dusun I, berdiri pada tahun 1985 beranggotakan 10 orang. Seperti hal nya kelompok Posyandu I Dusun I, kelompok ini juga aktif dalam kegiatan Posyandu di Dusun I yang dilaksanakan setiap minggu ketiga pada setiap bulannya. Kegiatan rutin Posyandu yang didukung oleh adanya beberapa anggota sekaligus kader Posyandu yang sedang menjalankan usaha, melatarbelakangi pembentukan kelompok SPKP Posyandu II. Pemilihan anggota dilakukan dengan merekrut siapa saja yang berminat dan bertanggung jawab dalam mengelola pinjaman dengan syarat dapat membayar angsuran tepat pada waktunya. Sehingga pada tahun 2009, terbentuklah Kelompok SPKP Posyandu II

Dusun I yang dibentuk melalui Musyawarah Desa, adapun pemilihan anggota kelompok dipilih pada musyawarah kelompok.

3. Kelompok SPKP “Pengajian Nurul Huda”

Kelompok Pengajian Nurul Huda yang berlokasi di Kampung Cikupa RT 06 RW 01 Desa Kemang berdiri pada tahun 2003. Nama Nurul Huda sendiri disesuaikan dengan nama Madrasah yang digunakan sebagai tempat pengajian yaitu Madrasah dan Pondok Pesantren Nurul Huda. Sebagaimana halnya kegiatan pengajian pada umumnya, Kelompok Pengajian Nurul Huda mendapat dukungan dari para kyai dan tokoh agama setempat, sehingga kelompok ini terus berkembang dan anggotanya bukan hanya ibu-ibu di kampung Cikupa tetapi juga dari kampung-kampung lain di sekitarnya. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh kelompok ini adalah kegiatan pengajian rutin yang dilakukan setiap hari jumat setiap minggunya.

Sebagaimana dipaparkan oleh Ibu E selaku Ketua pada kelompok ini, kegiatan pengajian yang rutin dilakukan satu kali dalam seminggu ini memberi inspirasi bagi sejumlah anggota kelompok pengajian untuk memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai peluang usaha. Berawal dari penyediaan dan pemberian layanan pemesanan berbagai kebutuhan anggota, seperti pakaian muslim, kerudung dan lain-lain, sampai akhirnya kelompok ini dapat memperoleh tambahan pendapatan dari kegiatan tersebut. Hal ini lah yang melatarbelakangi Kelompok Pengajian Nurul Huda untuk diikutsertakan dalam kegiatan SPKP.

Sehingga bersamaan dengan kelompok lainnya, pada tahun 2009 kelompok Pengajian Nurul Huda menjadi bagian dari kelompok SPKP yang ada di Desa Kemang. Pemilihan kelompok ini merupakan hasil keputusan dalam Musyawarah Desa, adapun anggota kelompok pengajian Nurul Huda yang tergabung ke dalam SPKP berjumlah 10 orang yang dipilih melalui musyawarah kelompok.

4. Kelompok SPKP “Arisan Istri Binangkit”

Kelompok SPKP ini berbasis pada kelompok arisan yang berlokasi di Kampung Jakapari yang sudah terbentuk sejak tahun 2007. Kelompok ini terbentuk atas dasar kedekatan tempat tinggal dan digagas oleh Ibu H. yang membentuk kelompok arisan sejumlah ibu rumahtangga sebagai wadah silaturahmi. Kedekatan tempat tinggal dan seringnya interaksi antar anggota

khususnya dalam kegiatan arisan melahirkan ide bersama untuk ikut tergabung dalam kegiatan SPKP. Pada akhirnya, kelompok SPKP Arisan Istri Binangkit ini terbentuk pada tahun 2009 dengan ketua Ibu H. yang tidak lain juga berstatus sebagai isteri Ketua RT 01 RW 2 Kampung Jakapari Dusun III. Seperti halnya kelompok lainnya, kelompok ini pun beranggotakan 10 orang yang dominan mengalokasikan dana PNPM MP untuk kegiatan berusaha tani.

5. Kelompok SPKP “PKK Dusun II”

Kelompok PKK di Dusun II ini berdiri pada tahun 1985. Sejak tahun 2008, kelompok PKK ini diketuai oleh Ibu M. Kegiatan yang dilakukan oleh kelompok PKK ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan sebulan sekali berupa pelatihan keterampilan yang diselenggarakan di tingkat desa. Selain itu juga mengikuti kegiatan PKK yang diselenggarakan atas undangan PKK di tingkat Kecamatan Bojongpicung.

Akhirnya pada tahun 2009, kelompok ini tergabung ke dalam SPKP atas gagasan seluruh anggota. Anggota terpilih merupakan hasil musyawarah yang dilakukan di tingkat kelompok dengan cara memilih 10 anggota yang benar-benar memerlukan pinjaman khususnya untuk digunakan sebagai modal usaha yang dijalankan mereka. Adapun ketua Kelompok PKK Dusun II terpilih menjadi ketua SPKP .

6. Kelompok SPKP “PKK Dusun I”

Kelompok PKK Dusun I berdiri sejak tahun 1985 yang diketuai oleh Ibu I.

Asal mula tergabungnya kelompok ini ke dalam kelompok SPKP dilatarbelakangi atas prakarsa seluruh anggota dimana anggota PKK Dusun I ini didominasi oleh ibu rumahtangga yang belum memiliki usaha namun berminat menjalankan usaha baru, untuk itu diperlukan modal untuk mendirikan suatu usaha yang berkelanjutan. Berlatar belakang hal tersebut akhirnya kelompok PKK Dusun I ini terpilih menjadi bagian dari kelompok SPKP di Desa Kemang dengan Ketua adalah Ibu I. Sampai saat ini usaha yang dijalankan oleh anggota Kelompok PKK Dusun I sebagian besar adalah usaha warung dan usaha tani.

BAB VI

PROFIL RUMAHTANGGA PESERTA PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERDESAAN

(PNPM MP) DI DESA KEMANG

Bab ini mendeskripsikan profil rumahtangga peserta PNPM MP di Desa Kemang yang di survei dalam penelitian ini. Sebagaimana telah dikemukakan di depan, mereka terdiri atas 60 rumahtangga yang dibedakan ke dalam dua kategori, yakni: peserta PNPM MP Sosial Dasar (selanjutnya disebut Peserta Sosial Dasar) dan peserta PNPM MP Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (selanjutnya disebut Peserta SPKP), masing-masing sebanyak 30 rumahtangga.

Profil rumahtangga peserta PNPM MP mencakup karakteristik sumberdaya individu dan rumahtangga. Karakteristik sumberdaya individu meliputi jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, status pekerjaan dan status perkawinan. Adapun dalam hal karakteristik sumberdaya rumahtangga berkenaan dengan kepemilikan yang meliputi: benda berharga, ternak, lahan dan status kategori rumahtangga.

6.1 Karakteristik Individu

6.1.1 Rata-rata Jumlah Anggota Rumahtangga dan Jenis Kelamin

Dari total rumahtangga peserta PNPM MP, terdapat sebanyak 267 orang anggota rumahtangga (ART). Dengan perkataan lain, rata-rata terdapat sekitar empat orang ART per rumahtangga. Kondisi ini tidak berbeda dengan rata-rata jumlah anggota rumahtangga penduduk Desa Kemang sebagaimana dikemukakan pada bab sebelumnya. Diduga, kondisi ini berhubungan dengan masih diterapkannya Program Keluarga Berencana di kalangan pasangan usia subur yang ada di Desa Kemang. Untuk diketahui Terhadap total ART peserta PNPM MP, 53 persen diantaranya merupakan ART dari Peserta SPKP.

Selanjutnya, jumlah ART peserta PNPM MP menurut kategori stimulan dan jenis kelamin disajikan ke dalam Gambar 3 di bawah ini.

Gambar 3 Persentase Anggota Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan dan Jenis Kelamin

Dari gambar 3 di atas, terlihat bahwa ART perempuan dominan pada kedua kategrori penerima stimulan. Hal ini tampaknya sesuai dengan komposisi penduduk menurut jenis kelamin pada tingkat desa, dimana perempuan dominan.

6.1.2 Anggota Rumahtangga Peserta PNPM MP Menurut Kelompok Umur Tabel 6 di bawah ini menyajikan data kondisi rumahtangga peserta PNPM MP menurut kategori stimulan, kelompok umur dan jenis kelamin. Berdasar data pada Tabel 6, diketahui bahwa mayoritas ART peserta PNPM MP terdiri atas mereka yang tergolong kelompok umur produktif (15 sampai 64 tahun), yakni sekitar 66 persen. Jika dilihat menurut kategori stimulannya, jumlah mereka sekitar 73 persen pada Peserta SPKP, sementara pada Peserta Sosial Dasar sekitar 65 persen. Dengan perkataan lain, jumlah ART pada Peserta SPKP delapan persen lebih tinggi dibanding pada Peserta Sosial Dasar.

Tabel 6 Distribusi Anggota Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan, Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, Tahun 2011 (dalam persen)

Jika dilihat menurut jenis kelaminnya, ternyata persentase ART laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan baik terhadap total rumahtangga contoh, maupun pada kedua kategori Peserta PNPM MP. Secara umum, terdapat berturut-turut 34 persen ART laki-laki dan hanya 32 persen ART perempuan.

Pada Peserta SPKP jumlah mereka menunjukkan tertinggi, yakni 40 persen ART laki-laki, dimana jumlah tersebut sekitar 7 persen lebih tinggi dibanding ART perempuan pada rumahtangga yang sama.

Lebih lanjut, merujuk pada rumus Rusli (1995), diketahui bahwa rasio ketergantungan (dependency ratio)2 pada rumahtangga peserta PNPM MP tergolong rendah yaitu sektar 0,48 atau kurang dari satu, yang berarti bahwa jumlah penduduk usia kerja lebih banyak daripada jumlah penduduk yang bukan usia kerja (penduduk usia muda dan tua atau lanjut usia).

2Rumus dependency ratio = Jumlah penduduk umur 0-14 tahun dan 65+

Jumlah penduduk umur 15-64 tahun

6.1.3 Tingkat Pendidikan Formal

Salah satu indikator kemajuan suatu desa dapat dilihat dari tingkat pendidikan masyarakatnya. Namun pada umumnya kondisi masyarakat di desa kurang akses terhadap pendidikan. Berikut disajikan data anggota rumahtangga peserta PNPM MP menurut Kategori Stimulan, tingkat pendidikan formal dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini.

.

Tabel 7 Distribusi Anggota Rumahtangga Peserta PNPM MP Sosial Dasar di Desa Kemang menurut Kategori Stimlan, Tingkat Pendidikan Formal dan Jenis Kelamin (dalam Persen)

Tingkat Pendidikan Formal

PPM MP

Sosial Dasar PPM MP SPKP Total

SD/Sederajat 36 33 31 39 34 36

SMP/Sederajat 9 10 8 11 9 11

SMA/Sederajat 6 1 7 3 6 2

Perguruan Tinggi 2 3 1 0 1 1

Total (persen) 53 47 47 53 50 50

Total (Jumlah) 62 54 54 62 116 116

Tabel 7 memperlihatkan bahwa secara umum tingkat pendidikan formal peserta PNPM MP Sosial Dasar mayoritas berpendidikan Tamat SD, yakni sekitar 69 persen. Jika dilihat menurut kategori stimulan, Peserta PNPM MP yang berpendidikan SD dan SMP tidak berbeda jauh antara kedua stimulan yakni sekitar satu persen. Adapun pada mereka yang tingkat pendidikannya perguruan tinggi menunjukkan, persentase Peserta Sosial Dasar tiga persen lebih tinggi dibandingkan Peserta SPKP.

6.1.3 Jenis Pekerjaan 6.1.3 Jenis Pekerjaan

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa mayoritas lahan di Desa Kemang merupakan lahan pertanian dan perhutanan. Kondisi tersebut tampaknya mempengaruhi jenis pekerjaan anggota rumahtangga Peserta PNPM MP. Data distribusi ART peserta PNPM MP menurut jenis pekerjaan dan jenis kelamin mereka dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Distribusi Anggota Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan, Jenis Pekerjaan dan Jenis Kelamin, Tahun 2011 (dalam persen)

Jenis Pekerjaan

PNPM MP

Sosial Dasar PNPM MP SPKP Total

Diketahui bahwa lebih dari separuhnya yaitu sekitar 53 persen anggota rumahtangga dari total keseluruhan peserta PNPM MP berstatus tidak bekerja.

Namun jika dilihat menurut jenis pekerjaannya, tidak berbeda jauh dengan kondisi umum masyarakat Desa Kemang, jenis pekerjaan peserta PNPM MP juga mayoritas bekerja di sektor pertanian. Terlihat pada Tabel 7, sebagian besar peserta PNPM MP merupakan petani, yakni sekitar 55 persen. Adapun petani yang dimaksud terdiri dari petani pemilik, petani penggarap serta petani pemilik dan penggarap dengan persentase berturut-turut sepuluh persen, lima persen dan 40 persen.

Berdasarkan kategori stimulan, terdapat perbedaan pada kelompok yang tergolong buruh tani dimana peserta PNPM MP Sosial Dasar yang tergolong buruh tani 17 persen lebih tinggi dibandingkan dengan peserta PNPM MP SPKP.

Sebaliknya, pada peserta PNPM MP SPKP memiliki persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta PNPPM MP Sosial Dasar pada kriteria pedagang, yakni sekitar empat persen. Adapun yang dimaksud pada pekerjaan lainnya adalah mereka yang bekerja sebagai tukang ojeg, pekerja honorer serta perangkat desa yaitu sekitar tujuh persen.

6.1.4 Status Pekerjaan

Tabel 9 berikut menyajikan data mengenai kondisi rumahtangga berkaitan dengan status pekerjaannya menurut kategori stimulan dan jenis kelamin.

Tabel 9 Distribusi Anggota Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Simulan, Status Bekerja dan Jenis Kelamin, Tahun 2011 (dalam persen)

Berusaha/bekerja sendiri 44 22 38 24 41 23

Berusaha dibantu dengan

Pekerja keluarga 2 11 4 13 3 12

Total (persen) 63 37 60 40 61 39

Total (jumlah) 34 20 33 22 47 62

Berdasarkan Tabel 9 data dimana mayoritas peserta PNPM MP bekerja dengan status berusaha/bekerja sendiri, baik pada Peserta Sosial Dasar maupun SPKP dengan total kedanya yakni sekitar 64 persen. Namun demikian, jika dilihat menurut jenis kelaminnya, diketahui bahwa persentase ART Laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan untuk semua kategori peserta PNPM, yaitu sekitar dua kali lipat pada Peserta Sosial Dasar, satu setengah kali lipat pada Peserta SPKP.

Hal ini berhubungan dengan fakta bahwa sebagian besar dari mereka merupakan petani pemilik penggarap, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Jika dilihat menurut jenis kelamin, Peserta Sosial Dasar yang bekerja atau berusaha sendiri 18 persen lebih tinggi dibandingkan peserta SPKP.

6.1.5 Status Perkawinan

Pada Gambar 4 disajikan data mengenai profil ART peserta PNPM MP menurut kategori stimulan dan status perkawinannya.

Gambar 4 Persentase Anggota Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan, Status Perkawinan dan

Jenis Kelamin

Dikeahui bahwa tidak ditemukan adanya peserta PNPM MP yang menikah dibawah umur (<15 tahun). Menurut Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974, batas usia yang diizinkan dalam suatu perkawinan diatur dalam pasal 7 ayat (1) yaitu, jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun, dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Sebagaimana terlihat pada Gambar 4, pada peserta PNPM MP di Desa Kemang masih ditemukan adanya peserta Sosial Dasar yang menikah pada umur kurang dari 19 tahun, yaitu sekitar 30 persen. Hal ini mengindikasikan masih relatif tingginya pernikahan usia muda di Desa Kemang.

Secara umum proporsi peserta PNPM MP Sosial Dasar dan peserta PNPM MP SPKP yang berstatus kawin tidak berbeda jauh, berturut-turut sebesar 72 persen dan 71 persen. Lain hal nya pada kelompok peserta yang bersatus belum kawin dimana Peserta Sosial Dasar lima persen lebih tinggi dibandingkan pada Peserta SPKP.

6.2 Karakteristik Rumahtangga Peserta PNPM MP 6.2.1 Kepemilikan Benda Berharga

Kepemilikan benda berharga merupakan karakteristik rumahtangga untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi dari rumahtangga tersebut. Adapun

kepemilikan benda berharga terdiri dari kepemilikan atas teknologi rumahtangga dan kepemilikan ternak. Berikut ini ditampilkan data terkait kepemilikan benda berharga yang disajikan dalam Tabel 10.

Tabel 10 Rata-rata Kepemilikan Benda Berharga pada Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan, Tahun 2011 Kepemilikan Teknologi

Rumahtangga PNPM Sosial Dasar PNPM SPKP

Rumahtangga PNPM Sosial Dasar PNPM SPKP