BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.4 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Unit analisis penelitian ini adalah individu (ARTM laki-laki dan perempuan). Data primer yang telah terkumpul diedit, untuk kemudian dimasukan (entry) ke dalam sistem data dalam komputer dengan menggunakan program Microsoft Excel 2007. Dengan menggunakan program PIVOT, data yang sudah di-entry tersebut selanjutnya diolah ke dalam sejumlah tabel frekuensi dan silang,
khususnya untuk menyajikan hasil yang akan memperjelas ada tidaknya hubungan antara variabel pengaruh dan terpengaruh sebagaimana disajikan dalam Gambar 1. Selain itu, juga untuk menyajikan informasi yang berbasis pada data sekunder, khususnya berkenaan dengan kondisi di Desa Kemang dan pelaksanaan PNPM MP. Dengan menggunakan program SPSS 16 for windows dilakukan pengolahan data lebih lanjut, utamanya untuk menguji kecenderungan diterima atau ditolaknya sejumlah hipotesis pengarah dalam penelitian ini. Hasil pengolahan data dan pengujian hipotesis tersebut selanjutnya dianalisis dengan mengacu kepada sejumlah pendekatan dan teori yang dirujuk dalam kerangka pemikiran.
Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan statistik non parametrik Uji Korelasi Rank Spearman (rs). Uji korelasi Rank Spearman dipilih dengan pertimbangan bahwa variabel-variabel bebas dan tidak bebas dalam penelitian ini menggunakan pengukuran dalam skala ordinal. Dalam interpretasi hasil uji statistik, digunakan interpretasi menurut Purnaningsih (2006), yaitu: (1) signifikansi α= 0,05, artinya berhubungan dan signifikan, (2) signifikansi α= 0,10, artinya cukup berhubungan dan cukup signifikan, (3) signifikansi α= 0,20 sampai α= 0,30, artinya kurang baik berhubungan dan tidak signifikan, dan (4) signifikansi α> 0,30, artinya tidak baik berhubungan dan sangat tidak signifikan.
BAB IV
KEADAAN UMUM DESA KEMANG
4.1 Kondisi Geografis dan Luas Wilayah
Desa Kemang merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Desa ini terletak berturut-turut sekitar 7 km dari kecamatan Bojongpicung, 24 km dari ibukota Kabupaten Cianjur dan 62 km dari ibukota Provinsi Jawa Barat. Untuk mencapai desa ini dapat menggunakan kendaraan motor dan/atau mobil, dengan waktu tempuh berturut-turut satu jam, tiga jam lima puluh menit dan 24 jam.
Adapun waktu tempuh menuju ke desa ini, khususnya menggunakan mobil dari Bogor, diperlukan waktu selama sekitar empat jam.
Secara umum keadaan topografi Desa Kemang merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian 400-800 di atas permukaan air laut (dpl).
Sebagaimana desa-desa lainnya di wilayah Indonesia, Desa Kemang memiliki dua musim, yakni musim kemarau dan penghujan dengan curah hujan 1945 mm per tahun dan suhu rata-rata harian 250C.
Secara administratif, Desa Kemang berbatasan dengan sejumlah desa lain yang ada di Kecamatan Bojongpicung, yaitu dengan Desa Sukaratu di sebelah Utara dan dengan Desa Cibitung di sebelah Selatan. Adapun di sebelah Timur dan Barat, berturut-turut berbatasan dengan Desa Cihea dan Desa Sukarama.
Desa Kemang terbagi menjadi tiga dusun yang di dalamnya terdapat 22 kampung. Secara administratif di setiap dusun terdapat masing-masing dua Rukun Warga (RW). Dusun I terdiri dari dua RW, yakni RW 01 dan RW 02 yang di dalamnya mencakup 12 RT dan delapan kampung. Nama-nama kampung di Dusun I adalah Kelapa Condong, Beber, Cikupa, Kawung Luwuk, Pasir Jati, Cibentang, Mujit, dan Muncang Nunggal. Di Dusun II terdapat 11 RT dan enam kampung, yaitu: Rawa Sampih, Babakan Sawah Hilir, Cimenteng, Kopeng, Kemang, dan Cibuluh. Adapun di Dusun III terdapat 10 RT yang tersebar di delapan kampung, yaitu: Legok Nangka, Jakapari, Jaringao, Cikoneng, Citangkil, Cigunung, dan Babakan Sawah Girang.
Luas wilayah Desa Kemang sekitar 2.499,21 hektar dengan distribusi penggunaan lahan sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Luas Wilayah Desa Kemang menurut Penggunaannya, Tahun 2009 (dalam hektar dan persen)
Jenis Penggunaan Lahan Luas (ha) %
Hutan 1250,00 50,02
Tegalan 994,45 39,79
Persawahan 94,11 3,77
Pemukiman 88,51 3,54
Kebun 20,00 0,80
Pekarangan 12,41 0,50
Kuburan 10,02 0,40
Perkantoran 4,21 0,17
Lainnya 25,51 1,02
Total 2499,21 100,00
Sumber : Potensi Desa Kemang 2009
Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa sebagian besar wilayah Desa Kemang didominasi oleh hutan, dimana hutan tersebut merupakan milik Perhutani, yakni sekitar 50 persen. Lahan terbesar kedua setelah hutan merupakan Tegalan dengan luas sekitar 11 persen lebih rendah dari luas hutan yang selanjutnya diikuti oleh persawahan, pemukiman dan kebun dengan berturut-turut sekitar 3,7 persen, 3,5 persen dan 0,8 persen.
4.2 Keadaan Umum Penduduk
Untuk diketahui, data sekunder yang tersedia di Desa Kemang adalah data yang tertulis dalam dokumen Potensi Desa Tahun 2009. Menurut sumber tersebut, jumlah penduduk Desa Kemang adalah 5501 jiwa, yang terdiri dari 2742 penduduk laki-laki (49,85 persen) dan 2759 penduduk perempuan (50,15 persen).
Dengan demikian, rasio jenis kelaminnya1 sekitar 99 persen, artinya untuk tiap 100 penduduk perempuan terdapat sebanyak 99 penduduk laki-laki.
Terdapat 1514 Kepala Keluarga (KK) di desa ini, sehingga rata-rata jumlah anggota keluarganya kurang dari 4 orang per KK. Dengan demikian,
1Rasio Jenis Kelamin = ∑ Penduduk laki-laki x 100
∑ Penduduk laki-laki
diduga keluarga di Desa Kemang cenderung menerapkan Program Keluarga Berencana (KB). Adapun komposisi penduduk menurut golongan umur dan jenis kelamin disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Distribusi Penduduk Desa Kemang menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin, Tahun 2009 (dalam persen)
Kelompok Umur (Tahun) Laki-laki Perempuan Total
0 – 4 2,51 2,69 5,20
Sumber : Potensi Desa Kemang 2009
Sebagaimana terlihat pada Tabel 2, secara umum, mayoritas penduduk Desa Kemang tergolog ke dalam usia produktif (15-64 tahun), yakni sekitar 60 persen. Selanjutnya disusul oleh kelompok usia Sekolah Dasar sampai Menengah (5-19 tahun) yakni sekitar 13 persen lebih rendah daripada kelompok usia produktif. Adapun, penduduk yang tergolong lanjut usia (>65 tahun) yaitu sekitar lima persen. Jika dilihat menurut jenis kelaminnya, diketahui bahwa persentase penduduk perempuan pada kedua kelompok tersebut di atas sedikit lebih tinggi dibanding penduduk laki-laki; yakni lebih tinggi sekitar 0,2 persen bagi mereka yang tergolong usia kerja dan sekitar 0,4 persen pada mereka yang tergolong lanjut usia.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, mayoritas lahan di Desa Kemang adalah hutan dan tegalan/ladang, hal ini tampaknya mempengaruhi
ragam jenis pekerjaan penduduk desa, dimana sebagian besar penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai petani. Adapun distribusi penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3 Distribusi Penduduk Desa Kemang menurut Mata Pencaharian dan Jenis Kelamin, Tahun 2009 (dalam persen)
Mata Pencaharian Laki-laki Perempuan Jumlah
Petani 56,85 8,75 65,6
Buruh Tani 13,78 5,34 19,12
Buruh Migran 0,34 2,56 2,91
Pegawai Negeri Sipil 1,03 0,21 1,24
TNI 0,05 0,00 0,05
POLRI 0,03 0,00 0,03
Pensiunan PNS 0,34 0,24 0,58
Industri Rumahtangga 5,05 0,87 5,92
Pedagang keliling 2,56 0,4 2,96
Montir 0,05 0,00 0,05
Pembantu Rumahtangga 0,00 1,37 1,37
Dukun Kampung Terlatih 0,00 0,16 0,16
Total 80,09 19,91 100,00
Sumber : Potensi Desa Kemang 2009
Sebagaimana terlihat pada Tabel 3 diatas terlihat bahwa sejumlah mata pencaharian didominasi oleh penduduk laki-laki dengan persentase 80 persen atau sekitar 60 persen lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk perempuan. Dari sejumlah mata penceharian tersebut, 84 persen penduduk bekerja di bidang pertanian dimana 19 persen di antaranya merupakan buruh tani. Yang menarik adalah terlihat kecenderungan mata pencaharian bagi penduduk laki-laki dan penduduk perempuan. Seperti pada persentase penduduk bekerja sebagai petani, PNS, pengrajin dan pedagang yang didominasi laki-laki, sementara buruh migran, pembantu rumahtangga dan dukun kampung terlatih, cenderung ditempati oleh perempuan.
Kondisi pekerjaan penduduk di Desa Kemang tampaknya berhubungan dengan kondisi penduduk desa menurut tingkat pendidikan mereka sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Distribusi Penduduk Desa Kemang menurut Tingkat Pendidikan yang ditamatkan dan Jenis Kelamin, Tahun 2009 (dalam persen)
Tingkat Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah
SD/Sederajat 40,53 40,95 81,48
SMP/Sederajat 7,35 5,09 12,44
SMA/Sederajat 2,67 1,65 4,33
Diploma 1- D3/Sederajat 0,64 0,32 0,95
Strata 1- S2/Sederajat 0,64 0,16 0,80
Total 51,83 48,17 100,0
Sumber : Potensi Desa Kemang 2011
Program Wajib Belajar 12 tahun sebagai bagian capaian Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals), khususnya berkenaan dengan gerakan Program Pendidikan Untuk Semua atau PUS (Education For ALL) nampaknya belum berlaku di desa ini, hal ini berhubungan dengan fakta bahwa mayoritas penduduk Desa Kemang merupakan tamatan Sekolah Dasar, yakni sekitar 81 persen. Adapun relatif masih rendahnya mereka yang berpendidikan lanjutan dan menengah berturut-turut sekitar 69 persen dan 77 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang berpendidikan SD.
Seperti terlihat pada Tabel 4, secara umum terdapat kecenderungan dimana semakin tinggi tingkat pendidikan semakin menurun persentase penduduk yang menikmati pendidikan. Lebih lanjut, jika dilihat menurut jenis kelaminnya, ternyata persentase perempuan yang berpendidikan sekolah lanjutan dan perguruan tinggi menunjukkan persentase yang lebih rendah dibanding laki-laki, berturut-turut lebih rendah sekitar dua persen pada tingkat SMP, satu persen SMU, dan 0,8 persen pada tingkat perguruan tinggi.
4.3 Kelembagaan
Kelembagaan yang ada di Desa Kemang meliputi kelembagaan formal dan informal. Kelembagaan formal terdiri dari lembaga pemerintahan seperti Pemerintahan Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan Lembaga Kemasyarakatan Desa yang meliputi kelompok PKK, Rukun Warga (RW), Rukun Tetangga (RT), Karang Taruna, Posyandu, Koperasi dan Kelompok Wanita Tani (KWT).
Kelompok Wanita Tani (KWT) dibentuk pada tahun 2010, karena dilatarbelakangi oleh dasar keikutsertaan Desa Kemang sebagai peserta lomba bina wilayah. Kelompok tani ini beraktivitas membudidayakan Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Kelembagaan lainnya di Desa Kemang adalah Koperasi Kemang Lestari yang berdiri sejak tahun 2008. Tujuan dibentuknya koperasi tersebut adalah untuk memasarkan beragam produk yang diproduksi oleh masyarakat setempat.
Koperasi ini disebut sebagai koperasi serba usaha karena didalamnya menampung semua jenis produk yang ada di Desa Kemang salah satunya gula aren. Selain kegiatan usaha, koperasi yang diketuai oleh Bapak K. ini juga menjalankan kegiatan simpan pinjam modal bagi para anggotanya. Adapun keanggotaan yang ada pada koperasi ini tidak dibatasi untuk masyarakat Desa Kemang saja, melainkan juga bagi warga masyarakat di luar desa seperti Desa Sukaratu dan desa Cihea dapat tergabung dalam koperasi ini.
Terkait kelembagaan yang berhubungan dengan Jejaring Pengaman Sosial (JPS), terdapat beberapa program yang diterima warga Desa Kemang. Pertama adalah program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diterima sejak tahun 2008, namun hanya diberikan sebanyak dua kali saja, sementara saat ini sudah dihapuskan. Selain itu, Program Beras Miskin atau Raskin yang dialokasikan kepada rumahtangga miskin di desa ini pada setiap bulan, serta Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang diberikan kepada setiap individu yang membutuhkan, namun mereka harus membuat pengajuan kartu Jamkesmas melalui kantor desa.
Kelembagaan informal yang terdapat di Desa Kemang adalah kelembagaan keagamaan (pengajian), keuangan (arisan), dan olahraga. Terdapat beberapa kelompok pengajian yang tersebar di setiap kampung. Rata-rata setiap kampung memiliki satu kelompok pengajian, kecuali di Kampung Jaringao dan Cikupa (keduanya di Dusun I), berturut-turut terdapat dua dan tiga kelompok.
Kelompok pengajian yang dikenal aktif adalah Kelompok Pengajian Miftahunnaja yang berlokasi di Kampung Kopeng, Dusun II. Dalam hal kelompok arisan, umumnya diikuti oleh kaum perempuan. Biasanya kelompok arisan itu dibentuk di dalam sebuah kelembagaan lain. Misalnya kelompok arisan kader Posyandu,
kelompok arisan ibu-ibu pengajian, dan sebagainya. Selanjutnya, terdapat pula kelompok olahraga, seperti bola voli yang biasanya hanya aktif bertanding pada acara-acara tertentu, khususnya berrhubungan dengan hari peringatan tingkat nasional
Dalam hal Posyandu, terdapat empat unit Posyandu di Desa Kemang yang tersebar di setiap dusun, masing-masing satu Posyandu di Dusun I (Posyandu Anggrek) dan Dusun II (Posyandu Mawar), sedangkan di Dusun III terdapat dua unit, yaitu Teratai I di Kampung Jaringao dan Teratai II di Kampung Cikoneng.
Kegiatan Posyandu dilaksanakan secara rutin, yakni sebulan sekali. Bersamaan dengan kegiatan Posyandu, terdapat pula kelembagaan Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina Keluarga Lansia (BKL). Kegiatan dalam BKB berupa penimbangan dan pemberian makanan tambahan pada anak pada kelompok usia 0-5 tahun, sedangkan pada BKL, kegiatannya berupa penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, dan pemeriksaan kesehatan lainnya bagi warga lanjut usia. Selain itu, terdapat Bina Keluarga Remaja (BKR) yang kegiatannya berupa penyuluhan-penyuluhan yang diberikan oleh para kader dari kantor kecamatan, di antaranya penyuluhan tentang Narkoba.
4.4 Sarana dan Prasarana
Desa Kemang memiliki sejumlah sarana dan prasarana yang menunjang berbagai kegiatan masyarakat desa. Prasarana transportasi darat yang tersedia berupa jalan desa (beraspal) sepanjang 1 km dan berupa jalan tanah sepanjang sekitar 2,6 km, namun kondisinya dalam keadaan rusak. Selain itu, tersedia pula jalan aspal antar desa sepanjang 1,85 km di antaranya dalam keadaan baik, sedangkan sisanya (sekitar 3 km) dalam keadaan buruk. Untuk menempuh perjalanan tersebut, tersedia sarana transportasi darat berupa motor ojek sebanyak 35 unit.
Sarana dan prasarana lainnya berupa Balai Desa/Kantor Desa, yang memiliki fasilitas berupa tujuh ruang kerja yang dilengkapi ketersediaan aliran listrik, telepon, dan air bersih, 13 unit meja, 83 unit kursi, dan masing-masing sebanyak tiga unit berupa mesin tik, lemari arsip, dan komputer, dua unit kendaraan motor dinas.
Dalam hal sarana peribadatan, di Desa Kemang terdapat 21 unit mesjid dan 31 unit “langgar”/surau/mushola. Adapun prasarana olahraga yang ada mencakup enam lapangan bulutangkis dan 37 lapangan voli, serta sepuluh buah meja pingpong. Khusus prasarana pendidikan, di desa ini terdapat, lima unit Sekolah Dasar (SD), dan masing-masing satu unit sekolah PAUD (yang merupakan hasil dari PNPM), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Sejak tahun 2010 Desa Kemang memiliki sarana dan prasarana komunikasi dan informasi, berupa dua buah BTS (Based Transceiver Station) telepon seluler dari perusahaan swasta, XL dan Telkomsel. Jumlah pelanggan GSM di desa ini sebanyak 1895 pelanggan atau 34,45 persen dari total penduduk desa. Selain itu , terdapat prasarana informasi, di antaranya 721 unit televisi dan delapan unit parabola.
Berkenaan sarana dan prasarana kesehatan di Desa Kemang, selain Posyandu, juga terdapat satu unit Puskesmas Pembantu, yang didukung oleh enam orang dukun bersalin terlatih, lima orang dukun pengobatan alternatif, dan seorang bidan. Dalam hal prasarana air bersih dan sanitasi, di desa ini terdapat 284 unit sumur pompa dan 397 unit sumur gali, di antaranya bersumber dari sembilan mata air yang berada di desa ini. Di samping itu, tersedia pula delapan unit MCK umum sebagai prasarana sanitasi masyarakat.
BAB V
PROFIL KELEMBAGAAN DAN PENYELENGGARAAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
MANDIRI PERDESAAN (PNPM MP) DESA KEMANG
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, pemerintah Indonesia mulai mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri pada tahun 2007. Di Desa Kemang sendiri, PNPM Mandiri mulai dilaksanakan pada tahun 2009. Sehubungan dengan itu, dalam bab ini dikemukakan penjelasan singkat mengenai latar belakang PNPM MP yang dilaksanakan di Desa Kemang, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur. Selanjutnya, akan dijelaskan pula sejumlah kelembagaan yang berperan serta didalam perencanaan maupun pelaksanaan PNPM MP.
5.1 Sejarah dan Struktur Organisasi PNPM MP di Desa Kemang
Penyelenggaraan PNPM MP di Desa Kemang dilatarbelakangi oleh beragam permasalahan yang ada di desa ini, diantaranya adalah: kondisi infrastruktur jalan yang rusak serta minimnya fasilitas pendidikan khususnya PAUD yang masih memanfaatkan gedung Aula Desa sebagai ruang kelas.
Sehubungan dengan itu, tujuan dari PNPM MP di Desa Kemang antara lain untuk memperbaiki fasilitas prasarana sarana jalan, meningkatkan perkembangan usaha dan pendapatan masyarakat Desa Kemang khususnya rumahtangga miskin serta meningkatkan fasilitas pendidikan dalam hal ini PAUD. Untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, terdapat sejumlah stimulan dalam ruang lingkup PNPM MP di Desa Kemang ini, yakni stimulan sosial dasar ekonomi berupa perbaikan sarana dan prasarana infrastruktur jalan dan pembangunan gedung PAUD, serta stimulan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPKP).
Adapun sejumlah pihak yang terlibat langsung dalam PNPM MP di Desa Kemang seluruhnya berjumlah 116 orang yang terdiri dari 53 orang laki-laki (45,7 persen) dan 63 orang perempuan (54,3 persen). Mereka terdiri dari peserta dan
pengelola PNPM MP di Desa Kemang yang terlibat dalam kelembagaan, stimulan dana bergulir kelompok simpan pinjam maupun sarana sosial dasar perdesaan.
Berikut ini disajikan Bagan Struktur Tim Pelaksana PNPM MP di Desa Kemang yang dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini.
Gambar 2 Bagan Struktur Tim Pelaksana PNPM MP Tingkat Desa
Sebagaimana tertulis dalam PTO PNPM Mandiri, peran Kepala Desa adalah sebagai Pembina dan pengendali kelancaran serta keberhasilan pelaksanaan PNPM MP di Desa. Dalam hal ini, Kepala Desa dibantu oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam menyusun peraturan desa yang relevan dan
KETUA
mendukung terjadinya proses pelembagaan prinsip dan prosedur penyelenggaraan PNPM MP di Desa Kemang.
Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) merupakan lembaga yang mengawasi proses setiap tahapan penyelenggaraan PNPM MP, mulai dari sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pelestariannya di Desa Kemang. Selain itu, BPD juga berperan dalam melegitimasi peraturan desa yang berkaitan dengan pelembagaan dan pelestarian PNPM MP di desa ini. Dalam pelaksanaannya, Bpk.
H.H. selaku Ketua BPD Desa Kemang hadir dalam semua aktivitas tersebut di atas, untuk kemudian beliau melakukan sosialisasi berbagai aspek berkenaan penyelenggaraan PNPM MP kepada anggota BPD lainnya.
Namun demikian, berdasarkan hasil wawancara kepada salah satu anggota BPD Desa Kemang yaitu Bpk. OHN yang juga menjadi salah satu responden dalam penelitian ini menuturkan bahwa keterlibatan BPD dalam PNPM MP ini tidak merata dan tidak transparan. Bpk. OHN tidak pernah mengetahui proses atau tahapan pelaksanaan PNPM MP di Desa Kemang karena merasa tidak pernah dilibatkan. Bahkan, Bpk. H.H. yang seharusnya menyosialisasikan kepada anggotanya, tidak pernah dilakukan, terlebih karena BPD Desa Kemang sendiri tidak memiliki pertemuan rutin anggota.
Tim Pengelola Kegiatan (TPK) merupakan kelembagaan yang dipilih anggota masyarakat melalui musyawarah desa yang dilakukan pada 20 Mei 2009.
Secara umum, TPK memiliki fungsi dan peran untuk mengelola dan melaksanakan PNPM Mandiri Perdesaan. Terdapat tiga posisi dalam kepengurusan TPK di Desa Kemang, yakni ketua, sekretaris dan bendahara. Ketua berperan sebagai penanggung jawab operasional kegiatan PNPM MP di desa, serta mengoordinasikan pelaksanaan kegiatan di lapangan dan pengelolaan administrasi program. Sekretaris berperan dalam pengelolaan administrasi PNPM MP, sementara Bendahara TPK di Desa Kemang berperan dalam mengelola keuangan PNPM MP. Ketiga posisi TPK Desa Kemang tersebut dijabat berturut-turut oleh Bapak KKI sebagai ketua, Sdr. ZG sebagai sekretaris dan Ibu EL sebagai bendahara. Kepengurusan TPK di Desa Kemang telah mengalami dua kali pergantian sekretaris. Posisi sekretaris awalnya dijabat oleh Bapak AS, namun
karena dia mengundurkan diri, posisi sekretaris tersebut kemudian dijabat oleh Sdr. ZG.
Di bawah Tim Pengelola Kegiatan (TPK) yang mengoordinasikan seluruh kegiatan PNPM MP di tingkat desa, terdapat pula penanggungjawab masing-masing program dan/atau kegiatan yaitu Ketua Pelaksana Pembangunan prasarana dan sarana sosial dasar dan Ketua Kelompok SPKP. Yang dimaksud Ketua Pelaksana dalam struktur Tim Pelaksana PNPM MP Desa Kemang merupakan orang yang bertanggung jawab dalam kegiatan pembangunan prasarana dan sarana sosial dasar seperti pengaspalan jalan dan pembangunan PAUD. Adapun yang menjadi Ketua Pelaksana di Desa Kemang adalah Bpk. H. AS yang dipilih masyarakat karena selama ini banyak berperan dalam kegiatan pembangunan desa khususnya dalam hal penyumbang dana. Dalam menjalankan tugasnya, Ketua Pelaksana dibantu oleh dua mandor yang dipilih langsung oleh ketua pelaksana yang berasal dari masyarkat desa kemang dan merupakan rumahtangga miskin.
Ketua Kelompok SPKP merupakan orang yang bertanggung jawab atas kegiatan simpan pinjam yang ada di Desa Kemang dan mengoordinasikan seluruh kelompok SPKP yang ada di Desa Kemang. Ketua Kelompok SPKP bertugas mengakomodir perguliran dana yang sebelumnya dikumpulkan oleh masing-masing ketua kelompok SPKP untuk kemudian diserahkan ke UPK (Unit Pengelola Kegiatan) di tingkat Kecamatan.
Kelembagaan lain yang terlibat dalam pelaksanaan PNPM MP di Desa Kemang antara lain Tim Penulis Usulan (TPU), Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) dan Tim Pemantau. Sebagaimana halnya TPK, TPU PNPM MP Desa Kemang terdiri dari mereka yang berasal dari anggota masyarakat yang dipilih melalui musyawarah desa. Sebagaimana tercantum pada PTO PNPM MP, TPU berperan dalam menyiapkan dan menyusun gagasan-gagasan kegiatan yang telah ditetapkan dalam musyawarah desa dan musyawarah desa khusus perempuan yang kemudian menjadi usulan desa. Anggota TPU dipilih oleh seluruh Peserta PNPM MP Desa Kemang berdasarkan keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan jenis kegiatan yang diajukan masyarakat. Dalam menjalankan tugasnya, TPU bekerjasama dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), yakni warga desa yang dipilih untuk memasilitasi Peserta PNPM MP
Desa Kemang dalam mengikuti atau melaksanakan tahapan PNPM MP di Desa Kemang.
Melalui musyawarah pada tanggal 20 April 2009, dalam kepengurusan TPU tersebut, Bpk S terpilih sebagai Ketua TPU, sementara anggotanya terdiri atas dua orang, yaitu Sdr. HM dan Sdri. NL. Adapun KPMD yang terpilih adalah Sdr. DD dan Sdr. ISP, berturut-turut bertindak selaku KPMD Laki-laki dan KPMD Perempuan.
Tim Pemantau adalah warga desa yang secara sukarela menjalankan fungsi pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di desa, namun keanggotaannya tersebut dipilih melalui musyawarah desa. Dari hasil musyawarah desa, yang terpilih sebagai Tim Pemantau adalah ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Kemang (Bapak TBA).
5.2 Pelaksanaan PNPM MP di Desa Kemang
5.2.1 Pembangunan Sarana dan Prasarana Sosial Dasar
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) di Desa Kemang mulai dilaksanakan pada tahun 2009. Proyek pertamanya berupa pengaspalan jalan trayek Asrama (Kampung Rawa Sampih) sampai dengan “Batas Desa”
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) di Desa Kemang mulai dilaksanakan pada tahun 2009. Proyek pertamanya berupa pengaspalan jalan trayek Asrama (Kampung Rawa Sampih) sampai dengan “Batas Desa”