Siswa kelas IV Sekolah Dasar berusia 10 sampai dengan 11 tahun termasuk dalam katagori usia masa anak-anak akhir. Pada masa anak-anak akhir anak memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Perkembangan Fisik
Menurut Allen dan Marotz (2010: 196) pertumbuhan fisik pada anak 10 tahun adalah sebagai berikut.
a. Pertumbuhan lambat dan tidak teratur; anak perempuan lebih cepat tumbuh daripada anak laki-laki; anak laki-laki ukuran tubuhnya lebih serupa.
b. Bentuk tubuh lebih ramping karena timbunan lemak yang mulai menghilang.
c. Setiap bagian tubuh memiliki kecepatan tumbuh yang berbeda; bagian tubuh bagian tengah dan bawah tumbuh lebih cepat; kaki dan tangan tampak panjang tidak proposional.
d. Ukuran otak bertambah secara signifikan hampir mencapai ukuran otak orang dewasa.
e. Tinggi badan bertambah 2 inci (5cm) setiap tahunnya dan dapat bertambah banyak pada masa pertumbuhan yang pesat.
f. Berat badan naik sekitar 2,72 kg setiap tahun.
g. Gigi bayi yang tersisa akan tanggal, gigi baru yang tumbuh akan berdesakan bila gigi permanen tumbuh pada rahang yang masih kecil. h. Anak perempuan telah mengalami pubertas.
19
Menurut Santrock ( 2012: 318-321) apa masa kanak-kanak pertengahan dan akhir memiliki ciri sebagai berikut.
a. Pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Anak bertambah tinggi 2 hingga 3 inchi tiap tahunnya; bertambah berat badan 5-7 pon setiap tahunnya; masa dan kekuatan otot meningkat secara bertahap serta lemak bayi berkurang; anak laki-laki lebih kuat dari anak perempuan karena memiliki jumlah sel otot yang lebih banyak.
b. Volume total otak menjadi stabil di akhir masa kakan-kanak pertengahan dan akhir, namun perubahan signifikan pada berbagai struktur dan daerah otak tetap berlangsung.
c. Di masa anak pertengahan dan akhir keterampilan motorik anak-anak menjadi lebih halus dan terkoordinasi.
d. Olah raga. Aktivitas seperti memukul bola, melompati tali atau menjaga keseimbangan di atas balok merupakan suatu yang esensial bagi anak untuk memperhalus keterampilan mereka.
e. Pada umumnya, kesehatan yang paling baik berlangsung di masa kanak-kanak pertengahan dan akhir. Dibandingkan masa kanak-kanak-kanak-kanak awal dan remaja, pada masa kanak-kanak pertengahan dan akhir penyakit dan kematian jarang dijumpai.
2. Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget pada usia 7 sampai dengan 11 tahun termasuk dalam tahap operasional kongkret. Pada tahap ini anak dapat melakukan operasi kongkret; mereka juga dapat menalar secara logis sejauh penalaran tersebut
20
dapat diaplikasikan pada contoh-contok spesifik atau kongkret (Piaget dalam Santrock, 2012: 329). Menurut Allen dan Marotz (2010: 197-198) perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak akhir sebagai berikut.
a. Mengembangkan kemampuannya untuk membuat penalaran lebih berdasarkan logika daripada intuisi.
b. Menyukai tantangan aritmatika, namun tidak selalu memahami hubungan matematis dalam praktik yang rumit seperti perkalian dan pembagian.
c. Metode hans on learning menjadi metode belajar yang terbaik; anak lebih menyukai untuk mencari informasi dari internet, buku, eksperimen sains, membangun sesuatu dengan ukuran kecil,. Anak lebih suka mendengarkan rekaman kaset daripada penjelasan guru walaupun informasi yang disampaikan sama. d. Anak menyukai saat-saat di sekolah; sulit untuk bisa duduk diam
selama lebih dari 30 menit; segala sesuatu mengenai sekolah dilupakan begitu pulang sekolah.
e. Anak senang menggunakan ketrampilan membaca dan menulis dalam kegiatan non akademis seperti mengumpulkan daftar belanja, membuat naskah untuk pertunjukan boneka tangan, menggambar peta daerah sekitar rumah dan menulis nama tempat. f. Anak telah dapat menunjukan pemahaman lebih baik pada hukum
sebab akibat.
21
h. Anak menelusuri kejadian berdasarkan ingatan; mampu berfikir sebaliknya; mengikuti serangkaian kejadian mulai dari awal. 3. Perkembangan Bahasa
Menurut Santrock (2012: 347) perkembangan bahasa anak masa kanak-kanak pertengah adalah sebagai berikut.
a. Kosa kata, tata bahasa dan kesadaran metalinguistik
1) Kosa kata anak meningkat dari 14.000 kata di usia 6 tahun menjadi 40.000 kata di usia 11 tahun.
2) Selama di sekolah dasar kemajuan mereka dalam penalaran logis dan ketrampilan analisis memudahkan mereka memahami kontruksi seperti penggunaan kata yang tepat dalam perbandingan dan subjektif.
3) Anak mulai memahami dan menggunakan tata bahasa yang kompleks 4) Anak mampu mengaitkan kalimat yang satu dengan yang lain sehingga dapat menghasilkan deskripsi, definisi dan narasi yang masuk akal.
5) Perkembangan kosa kata dan bahasa disertai perkembangan kesadaran linguistik.
b. Membaca
Menurut Mayer ( Santrock, 2012: 349) proses yang dilalui anak agar dapat membaca adalah sebagai berikut
1) Memahami unit-unit dalam kata-kata yang terkait dengan pemahaman fonem.
22
2) Mengkodekan lagi kata yang mencakup perubahan kata-kata tertulis menjadi suara.
3) Mengakses arti kata dengan membayangkan presentasi dari sebuah kata
c. Menulis
1) Ketika kemampuan berbahasa dan kognitif mereka meningkat dengan instruksi yang baik, begitu pula kemampuan menulisnya.
2) Pemahaman terhadap tata bahasa dan sintaks menjadi dasar dalam penulisan yang lebih baik.
3) Melalui pelatihan menulis di sekolah, anak-anak mengembangkan metode yang rumit untuk mengorganisasikan ide mereka.
Menurut Allen dan Marotz ( 2010: 199) perkembangan bahasa pada anak usia 9 sampai 10 tahun adalah sebagai berikut.
a. Senang berbicara, sering sekali tidak berhenti tanpa alasan yang jelas. Sering kali berbicara digunakan sebagai cara mendapatkan perhatian. b. Mengungkapkan perasaan serta emosinya melalui kata-kata.
c. Memahami dan menggunakan bahasa sebagai sistem untuk berkomunikasi dengan orang lain.
d. Menggunakan kata populer yang sereing diucapkan oleh teman sebaya.
23
e. Mengenali bahwa beberapa kata memiliki arti ganda, seperti panjang tangan mengadu domba.
f. Menganggap perumpamaan yang tidak masuk akal dalam lelucon dan teka-teki merupakan suatu hal yang lucu.
g. Menunjukan pemahaman tingkat tinggi terhadap tata bahasa dan dapat mengenali apabila ada kalimat yang tata bahasanya tidak tepat. C. Kajian Tentang Siswa yang Ditolak
1. Pengertian siswa yang ditolak
Menurut Wentzal dan Asher (dalam Rita Eka Izzaty,2008: 116) anak yang ditolak (rejected children) merupakan anak yang sering dinominasikan sebagai anak yang dibenci dan jarang dinominasikan sebagai teman terbaik. Sedangkan Demista (2009: 187) menjelaskan bahwa anak yang ditolak adalah anak yang tidak disukai oleh teman-temannya. Rubin, Cheah dan Manzer (dalam Santrock, 2011:382) menyatakan bahwa tidak semua anak ditolak merupakan anak yang agresif. Harist, et. al (dalam Lopez, et. al, 2006:387) mengatakanbahwa dalam suatu kelompok heterogen, siswa yang ditolak terbagi menjadi duasubkelompok yang telah diidentifikasi yaitu siswa yang ditolak agresifdansiswa yang ditolaktidak agresif. Astor, et. al dan Cillessen, et. al (dalam Lopez, et. al, 2006:387) mengungkapkan bahwa sekitar40 sampai 50% darisiswa yang ditolakmenunjukkanprofilperilaku agresifyang meliputikerusakan fisik, kerugian psikologis, dankerusakan properti sedangkan siswa yang ditolak yang lainnyaadalahpasivedan pemalu. Anak tertolak agresif cenderung terlibat dalam konflik perilaku fisisk, agresi relasional, dia juga hiperaktif kurang perhatian dan
24
implusif, sedangkan anak tertolak penyendiri cenderung pasif dan canggung secara sosial (Berk, 2012: 265). Untuk mengukur status sosiometrik dapat dilakukan dengan meminta anak menominasikan anak yang paling mereka sukai dan anak yang paling tidak mereka sukai (Santrock, 2007: 211). Hal tersebut didukung pendapat Papalia, Olds, dan Feldman (2009: 336) yang menyatakan bahwa untuk mengukur kepopuleran orang secara sosiometris dapat diukur dengan menanyakan pada anak tentang teman sebaya yang paling mereka sukai dan paling tidak mereka sukai.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa siswa yang ditolak merupakan siswa yang tidak disukai oleh teman sebayanya. Penentuan siswa yang ditolak pada penelitian ini didasarkan hasil sosiometri di mana siswa diminta menominasikan teman yang mereka sukai dan teman yang tidak mereka sukai, serta dikuatkan dengan hasil wawancara dengan siswa dan guru.
2. Faktor faktor penyebab penolakan pada siswa yang ditolak
Anak ditolak biasanya memiliki perilaku agresif, sok kuasa dan suka mengganggu (Wentzal dan Asher, dalam Rita Eka Izzaty,2008: 116). Sementara Demista (2009:187) berpedapat bahwa anak yang ditolak memiliki sifat mengganggu, egois dan memiliki sedikit sifat positif. Sedangkan John Coie (Santrock, 2007:211) menyebutkan alasan anak agresif yang ditolak oleh teman sebaya mengalami kesulitan dalam hubungan sosial karena hal-hal berikut.
1) Anak-anak agresif yang ditolak lebih implusif dan memiliki masalah dalam mempertahankan perhatian. Hal tersebut menyebabkan mereka
25
cenderung lebih sering mengacau dalam kegiatan kelas dan permainan kelompok.
2) Anak agresif yang ditolak lebih reaktif secara emosional. Mereka mudah marah dan lebih sulit menenangkan diri dari kemarahan mereka. Hal tersebut menyebabkan mereka marah pada teman sebaya dan menyerang secara fisik maupun verbal.
3) Anak-anak yang ditolak memiliki kemampuan yang sedikit dalam berteman dan mepertahankan hubungan positif dengan teman sebayanya. Hasil studi menyatakan bahwa anak-anak yang menunjukkan tingkat tinggi agresi cenderung menjadi ditolak dalam kelompok yang baru terbentuk yang menunjukkan peran potensi perilaku agresif dalam munculnya penolakan dari teman sebaya (Bolger dan Patterson, 2001: 550). Hasil penelitian menunjukan bahwa penarikan sosial, perilaku agresif, atau keduanya merupakan penghubung antara penganiayaan dan penolakan teman sebaya dari masa kanak kanak ke masa remaja awal (Bolger danPatterson,2001:549-550)
Ferrer and Ochoa (2006: 388) Faktor keluarga lain seperti komunikasiorangtua-anak dan keluarga konflik juga telah terkait dengan penyesuaian sosial anak-anak di sekolah.
Gaylord, Kitzmann, & Lockwood ; Steinberg & Morris (Ferrer and Ochoa (2006: 388) claimed that recent studies conclude that family cohesion and openness in family communication are associated with peer acceptance at school
Dari uraian di atas diketahui bahwa kohesi keluarga dan keterbukaan dalam komunikasi keluarga berhubungan dengan penerimaan teman sebaya di
26
sekolah Barrera & Li; Demaray & Malecki; Estevez, Musitu, & Herrero; Jackson &Warren; Lambert & Cashw (dalam Lopez, et. al., 2006:388) menambahkan faktor penyebab siswa yang ditolak sebagai berikut:
offensive parent–child communication and conflict between parents are factors closely related to rejection by peers, aggressiveness at school, and children’s negative attitude toward school and teachers
Pendapat tersebut menyatakan bahwa komunikasi orang tua yang ofensif dan konflik antara kedua orang tua merupakan faktor yang terkait dengan penolakan oleh rekan-rekan, agresivitas di sekolah, dan sikap negatif anak-anak terhadap sekolah dan guru. Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa faktor yang menyebabkan anak ditolak antara lain: sifat agresif siswa, sikap egois, sikap suka mengganggu, sikap reaktif secara emosional dan kondisi keluarga.
3. Dampak Penolakan pada Anak
Hasil penelitian terbaru menunjukan anak kelas tiga yang agresif dan ditolak menunjukan tingkat kenakalan yang lebih tinggi sebagai remaja dan pemuda dibandingkan anak-anak yang lain (Santrock, 2007: 211). Menurut McDougall (dalam Helen McGrath and Tony Noble, 2010: 79), murid yang terisolasi secara sosial atau ditolak juga lebih cenderung kurang puas, kurang mandiri, kurang sukses dalam hidup, kurang mandiri dan dan memiliki pengalaman yang mungkin berdampak negatif jangka panjang seperti depresi, pengalaman kerja tidak memuaskan, kriminalitas, dan minimnya keberhasilan dalam hubungan. Putallaz dan Waserman (dalam Demista 2009:187) menambahkan bahwa anak yang ditolak kemungkinan untuk memperlihatkan
27
perilaku agresif, hiperaktif, kurang perhatian atau ketidakdewasaan sehingga sehingga sering bermasalah dalam berperilaku dan akademis di sekolah.Bolger and Patterson (2001:549) menyatakan bahwa penolakan merupakan faktor risiko untuk masalah penyesuaian pada masa remaja masa kanak-kanak dan dewasa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Buhs, Ladd, and Herald (2006:1) yang menyatakan bahwa penolakan dari teman sebaya menyebabkan anak kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Pettit, clawso, Dodge dan Bates (dalam Bolger danPatterson, 2001:550) melaporkan bahwa anak-anak ditolak oleh rekan-rekan mereka telah mengalami disiplin yang lebih ketat dan lebih agresif dan kurang memiliki kemampuan sosial daripada anak-anak lain. Sejumlah penelitian telah mencatat bahwa penerimaan rekan dikaitkan dengan masalah penyesuaian psikososial siswa pada siswa seperti kecemasan, depresi, perilaku, gangguan dan agresi (Lopez, et. al, 2006:387).
Hatzichristou & Hopf (dalam Lopez, et. al, 2006:388) menjelaskan dampak penolakan teman sebaya terhadap prestasi belajar sebagai berikut“rejected students are, in general, more at risk for academic difficulties and school failure than those students not rejected by their peers”.
Pendapat tersebut menyatakan bahwa anak yang ditolak secara umum memiliki resiko lebih untuk mengalami kesulitan secara akademik dan mengalami kegagagalan di sekolah dibandingkan anak yang tidak ditolak. Anak yang tidak diterima oleh teman sebaya atau anak yang terlalu agresif lebih berpeluang untuk mengembangkan permasalahan psikologi, berhenti sekolah atau menjadi nakal (Hartup, et. al, dalam Papalia, Olds dan Feldman,
28
2009: 366). Wentzel & Asher, 1995 (dalam Lopez, et. al, 2006:389) menambahkan bahwa hal tersebut terutama menjadi kasus untuk siswa yang ditolak agresif, yang memiliki motivasi kurang menuju kesuksesan sekolah dan studi.
Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa dampak dari penolakan dari teman sebaya adalah sebagai berikut: masalah psikososial seperti depresi, kecemasan dan lain sebagainya, masalah perilaku, masalah akademis, kurang mampu menyesuaikan diri dan kurang memiliki kemampuan sosial\