• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES SOSIALISASI SISWA YANG DITOLAK (REJECTED CHILDREN) PADA KELAS IV SD NEGERI 5 WATES.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PROSES SOSIALISASI SISWA YANG DITOLAK (REJECTED CHILDREN) PADA KELAS IV SD NEGERI 5 WATES."

Copied!
319
0
0

Teks penuh

(1)

PROSES SOSIALISASI SISWA YANG DITOLAK

(REJECTED

CHILDRE

N

)

PADA KELAS IV SEKOLAH DASAR

NEGERI 5 WATES

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Yogyakarta

untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Dedi Laksono

NIM 12108241165

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

v

MOTTO

Jalan terbaik untuk memperoleh kawan adalah berperilaku sebagai teman

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Seiring rasa syukur kehadirat Allah swt atas segala nikmat dan rahmat-Nya, karya

ini penulis persembahkan kepada:

1. Bapak dan Ibuku tercinta.

2. Almamaterku.

(7)

vii

PROSES SOSIALISASI SISWA YANG DITOLAK

(REJECTED

CHILDREN)

PADA KELAS IV SD NEGERI 5 WATES

Oleh

Dedi Laksono

NIM 12108241165

Abstrak

Proses sosialisasi merupakan bagian dari perkembangan sosial anak. Proses

sosialisasi terdiri dari tiga proses yaitu belajar berperilaku yang dapat diterima

secara sosial, memerankan peran sosial yang diterima dan perkembangan sikap

sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses sosialisasi siswa

yang ditolak

(rejected children)

pada kelas IV SD Negeri 5 Wates.

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah

dua orang siswi berusia 10 tahun dan seorang siswa berusia 11 tahun yang

berdasarkan hasil sosiometri dan wawancara siswa tersebut ditolak oleh teman

sebaya di kelas IV SD Negeri 5 Wates. Teknik pengumpulan data melalui teknik

observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi data,

penyajian data dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data menggunakan

triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Hasil penelitian menunjukan bahwaproses sosialisasi siswa

yang

ditolak

(rejected children)

berbeda dengan siswa pada umumnya. Pada proses

belajar berperilaku

yang dapat diterima secara sosial,

siswa

yang

ditolakmenunjukan perilaku mengganggu teman, tidak ramah, berperilaku

sederhana, tidak dapat menjaga kebersihan diri, melanggar aturan, tidak jujur,

sopan dan tidak dapat menahan amarah. Pada proses memerankan peran sosial

yang dapat diterima, siswa yang ditolak menunjukan perilaku menjalankan tugas

piket dengan tertib, tidak berpartisipasi secara aktif dalam mengerjakan tugas

kelompok, mengikuti pelajaran dengan tertib, menaati perintah guru, membantu

orang tua di rumah dan menaati perintah orang tua. Pada proses perkembangan

sikap sosial, siswa yang ditolak menunjukan perilaku membantu teman yang

membutuhkan dan dapat menerima perbedaan pendapat dengan teman.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr

. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa yang telah memberikan

limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

yang berjudul

Proses Sosialisasi Siswa yang Ditolak

(Rejected Children)

pada

Kelas IV SD Negeri 5 Wates

ini. Shalawat dan salam selalu tercurahkankepada

Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi

ini mendapatkan banyakbantuan, bimbingan, nasehat, dan motivasi dari berbagai

pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1.

Rektor Universitas Negeri Yogyakartayang telah memberikan kesempatan

untuk menuntut ilmu di Universitas Negeri Yogyakarta ini.

2.

Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakartayang telah

memberikan izin penelitian dan kesempatan kepada penulis untuk melakukan

penyusunan skripsi.

3.

Ketua Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar Fakultas IlmuPendidikan

Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberi izin kepadapenulis untuk

menyusun skripsi ini.

4.

Aprilia Tina Lidyasari, M.Pd., selaku dosen pembimbing skripsi yang

senantiasa sabar dalam membimbing, mencurahkan waktunya,memberikan

nasehat, dan motivasi kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

5.

Kepala Sekolah Dasar Negeri 5 Wates,Drs. Parmanyang telah memberikan

(9)
(10)

x

DAFTAR ISI

hal

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN ... ii

PERNYATAAN ... iii

PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I. PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah ... 1

B.

Identifikasi Masalah ... 6

C.

Fokus Penelitian ... 6

D.

Rumusan Masalah ... 7

E.

Tujuan Penelitian ... 7

F.

Manfaat Penelitian ... 7

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

A.

Kajian tentang Proses Sosialisasi ... 8

1.

Pengertian Sosialisasi ... 8

2.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sosialisasi ... 8

3.

Proses Sosialisasi Siswa SD ... 10

4.

Perkembangan Sosial Siswa SD ... 11

B.

Karakteristik Siswa SD ... 18

1.

Perkembangan Fisik... 18

(11)

xi

3.

Perkembangan Bahasa ... 21

C.

Kajian tentang Siswa yang Ditolak ... 23

1.

Pengertian Siswa yang Ditolak

(Rejected Children)

... 23

2.

Faktor-faktor Penyebab Penolakan pada Siswa yang Ditolak

(

Rejected Children)

... 24

3.

Dampak Penolakan pada Anak ... 26

D.

Pertanyaan Penelitian ... 26

BAB III. METODE PENELITIAN

A.

Pendekatan Penelitian ... 29

B.

Waktu dan Tempat Penelitian ... 29

C.

Subjek Penelitian ... 30

D.

Sumber Data ... 30

E.

Teknik Pengumpulan Data ... 30

F.

Instrumen Penelitian ... 32

G.

Teknik Analisis Data ... 35

H.

Keabsahan Data ... 37

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.

Deskripsi Lokasi Penelitian ... 39

B.

Deskripsi Subjek Penelitian ... 40

C.

Hasil Penelitian ... 41

D.

Pembahasan ... 87

E.

Keterbatasan Penelitian ... 92

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan ... 93

B.

Saran ... 93

Daftar Pustaka ... 95

(12)

xii

DAFTAR TABEL

hal

Tabel 1. Sosialisasi dan Perkembangan Anak... 15

Tabel 2. Kisi-kisi Pedoman Wawancara

Siswa yang Ditolak

(Rejected Children

... 32

Tabel 3. Kisi-kisi PedomanWawancara Guru ... 33

Tabel 4. Kisi-kisi PedomanWawancara Siswa Kelas IV ... 33

Tabel 5. Kisi-kisi PedomanWawancara Orang Tua Siswa yang Ditolak

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

hal

Lampiran 1. Pedoman Observasi ... 98

Lampiran 2. Pedoman Wawancara Siswa yang Ditolak

(Rejected Children)

... 100

Lampiran 3. Pedoman Wawancara Guru ... 102

Lampiran 4. Pedoman Wawancara Siswa Kelas IV ... 103

Lampiran 5. Pedoman Wawancara Orang TuaSiswa yang Ditolak

(Rejected

Children)

... 104

Lampiran 6. Hasil Observasi Proses SosialisasiSiswa yang Ditolak

(Rejected

Children)

... 105

Lampiran 7. Transkip Hasil Wawancara Proses Sosialisasi Siswa

Ditolak

(Rejected Children)

... 182

Lampiran 8. Reduksi Hasil Observasi Proses SosialisasiSiswa yang Ditolak

(Rejected Children)

... 210

Lampiran 9. Reduksi Hasil Wawancara Proses SosialisasiSiswa yang Ditolak

(Rejected Children)

... 252

Lampiran 10.Reduksi Penyajian Data dan Penarikan Kesimpulan

Proses

SosialisasiSiswa

yang

Ditolak

(Rejected

Children)

... 275

Lampiran 11. Catatan Lapangan ... 280

Lampiran 12. Dokumentasi Penelitian ... 290

Lampiran 13. Dokumen Kedatangan Siswa ... 292

Lampiran 14. Surat Ijin Penelitian ... 294

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk sosial. Hal ini berarti manusia tidak dapat

hidup sendiri. Manusia memerlukan bantuan orang lainsehingga harus

bermasyarakat untuk dapat bertahan hidup. Untuk dapat diterima masyarakat

maka setiap orang perlu melakukan proses sosialisasi. Menurut Abdul Syani

(2012: 57) dalam proses sosialisasi itu, individu mempelajari kebiasaan, sikap,

ide-ide, pola-pola nilai dan tingkah laku dan ukuran kepatuhan di dalam

masyarakat di mana ia hidup.

Hal tersebut juga berlaku pada anak usia Sekolah Dasar(SD). Anak usia SD

tidak hanya berinteraksi dengan keluarga saja namun telah mulai berinteraksi

dengan anggota keluarga saja namun juga berinteraksi dengan lingkungan

masyarakat di sekolahSyamsu Yusuf(2009:122)menyatakan bahwa pada masa

anak-anak akhir, anak tidak hanya berinteraksi sosial dengan keluarga saja namun

juga berinteraksi sosial dengan teman di sekolah. Pada saat itulah anak melakukan

proses sosialisasi dengan lingkungan sekolah agar dapat diterima oleh teman

sebaya.

Siswa SD kelas tinggi bersosialisasi dengan membentuk kelompok bermain.

Menurut Husdata dan Nurlan Kusmaedi (2010: 125) masa anak besar disebut

sebagai usia berkelompok karena adanya minat terhadap aktivitas teman dan

meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu

(16)

2

memilih teman yang menyenangkan bagi mereka untuk dipilih menjadi teman.

Anak juga berusaha menjadi menarik bagi teman di kelompoknya. Menurut

Santrock (2002: 347) anak sering berfikir: Apa yang bisa aku lakukan agar semua

teman menyukaiku? Apa yang salah padaku? Dari hal tersebut terlihat bahwa anak

berusaha disenangi semua orang dan menjadi populer. Anak yang paling banyak

disukai akan menjadi anak yang populer, sedangkan anak yang tidak disukai akan

terpinggirkan dan tidak populer. Menurut Wentzal dan Asher (dalam Santrock,

2011: 381) status sebaya anak ada lima tipe yaitu: (1) anak populer, (2) anak

rata-rata, (3) anak yang diabaikan, (4) anak yang ditolak, dan (5) anak yang

kontroversi. Anak populer adalah anak yang banyak dipilih menjadi anak yang

disukai dan jarang tidak disukai. Anak rata-rata adalah anak yang dinominasikan

sebagai anak disukai dan tidak disukai rata-rata dari teman sebaya. Anak

diabaikan yaitu anak yang tidak dipilih menjadi anak yang disukai maupun tidak

disukai. Anak yang ditolak yaitu anak yang tidak disukai dan jarang dipilih

menjadi teman terbaik. Anak kontroversi adalah anak yang dinominasikan sebagai

anak disukai tapi juga dinominasikan tidak disukai.

Penolakan oleh teman sebaya pada siswa dapat berdampak buruk pada

perkembangan anak. Anak yang ditolak akan menjadi kurang mandiri, kurang

percaya diri, kurang puas pada hidup,bahkan depresi. Hal tersebut sesuai dengan

pendapat McDougall (dalam Helen McGrath and Tony Noble, 2010: 79) tentang

dampak penolakan pada anak sebagai berikut:

(17)

3

unsatisfactory employment experiences, criminality, and poor relationship

success.

Murid yang terisolasi secara sosial atau ditolak juga lebih cenderung

memiliki kepuasan yang rendah, kurang mandiri, kurang sukses dalam hidup,

kurang mandiri dan dan memiliki pengalaman yang mungkin berdampak negatif

jangka panjang seperti depresi, pengalaman kerja tidak memuaskan, kriminalitas,

dan minimnya keberhasilan dalam hubungan.

Contoh dampak penolakan teman sebaya terjadi pada Cho Seung Hui

mahasiswa Virginia Tech. Pada tanggal 16 April 2007 Cho menjadi tersangka

pembunuhan dalam peristiwa Pembantaian Virginia Tech di Virginia. Peristiwa

tersebut menewaskan 32 orang. Lucinda Roy, mantan dosen Cho menyatakan

bahwa Cho adalah orang yang sangat kesepian. Cho selalu mengenakan kacamata

hitam dan sebuah topi di dalam ruangan, berbicara seperti berbisik dan mengambil

foto-fotonya dengan telepon genggam (sumber: abcnews.go.com). Ketika SD di

Korea Selatan, Cho merupakan anak yang pemalu, menyukai basket dan pandai

matematika. Namun dia sering mendapatkan ejekan dari teman-temannya,

termasuk dari anak-anak kaya di gereja. Dalam sebuah video Cho menunjukan

kemarahannya kepada anak orang kaya nakal yang menindasnya (Sumber:

biography.com). Dari contoh tersebut jelas terlihat dampak dari penolakan dan

penindasan yang dilakukan kepada Cho serta proses sosialisasi Cho yang kurang

optimal sehingga dia menjadi kesepian dan menumpuk masalah yang dihadapinya

sendiri. Puncaknya ia melakukan aksi penembakan di Virginia Tech yang

(18)

4

Hasil observasi selama pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan/

Magang III dari tanggal 10 Agustus 2015 sampai dengan 12 September 2015,

sosiometri dan wawancara dengan guru kelas IV Sekolah Dasar Negeri 5 Wates

pada tanggal 19 Oktober 2015, 10 November 2015 dan 16 Januari 2016 diketahui

bahwa siswa siswi di SD Negeri 5 Wates senang bermain bersama saat istirahat.

Anak anak duduk satu meja dengan teman dekatnya. Beberapa anak minta di

antar teman saat ke kamar mandi. Akan tetapi terdapat 3 siswa berisial LNF,

HAH, dan ZR yang mengalami penolakan dari teman sekelasnya.

LNF sering diejek monyet oleh teman temannya, dijadikan bahan ejekan

untuk mengolok-olok teman yang lain. Beberapa anak tidak mau dekat dekat

dengan LNF saat di UKS. Hasil sosiometri juga menunjukan bahwa sebanyak 24

dari 31 siswa tidak menyukai LNF. Mereka beralasan karena LNF jelek, suka

mengganggu, suka mencontek, nakal, memegang orang lain sehingga

menimbulkan keributan, jahil, pemarah, sombong, suka mengejek dan cengeng.

Hal ini diperkuat oleh hasil wawancara dengan wali kelas SD Negeri 5 Wates

yang menyatakan bahwa LNF tidak disukai oleh teman temannya karena LNF

suka menuduh tanpa sebab, menangis karena hal sepele, serta marah atau

tersinggung tanpa alasan yang jelas. Wali kelas IV juga mengatakan bahwa LNF

kurang bisa bekerjasama dalam kelompok.

HAH senang bermain sendiri dan melamun. Hasil sosiomerti menunjukan

24 dari 31 anak di kelas IV tidak menyukai HAH. Teman teman HAH tidak

menyukai HAH karena anak tersebut dianggap menjijikan, suka mengejek, bau,

(19)

5

kelas IV SD Negeri 5 Wates, HAH tidak disukai karena anak itu suka menjilati

tangan kemudian mengusapkan tangannya yang terkena liur ke orang lain, suka

memegang, mengejar dan suka tidak menepati janji. Hal serupa juga disampaikan

oleh wali kelasnya. Beliau menuturkan bahwa HAH sebenarnya mau bergaul tapi

karena anaknya jorok suka menjilat tangan terus menggunakan tangan tersebut

untuk salaman, teman-teman yang lain menjadi menghindarinya. Selain itu wali

kelas IV juga menuturkan bahwa HAH kurang bisa bekerjasama dalam kelompok.

ZR kadang duduk sebangku dengan D kadang dengan SR. Ketika

dikonfirmasi ke wali kelas tentang hubungan sosial ZR dengan teman sekelasnya,

wali kelas tidak mengetahui kalau ZR mengalami penolakan dari teman

sekelasnya. Namun hasil sosiometri menunjukan 18 dari 31 siswa kelas IV SD

Negeri 5 Wates tidak menyukai ZR. Hal itu karena ZR suka menghina, keras

kepala, pemarah dan sombong. Hal ini didukung hasil wawancara dengan siswa

kelas IV SD Negeri 5 Wates yang menyebutkan bahwa mereka tidak menyukai

ZR karena anak tersebut suka pamer, suka menghina dan menarik rambut

temannya.

Hasil pengamatan sementara perkembangan perilaku sosial LNF, HAH

dan ZR belum sesuai dengan perilaku yang diterima secara sosial. Hal ini terlihat

dari perilaku anak yang suka mengganggu teman, suka mengejek, suka marah

marah, suka menimbulkan keributan, jahil, sombong dan cengeng. Mereka tidak

dapat beradaptasi dengan baik dan tidak dapat melebur dengan teman sebayanya.

SD Negeri 5 Wates tidak memiliki guru BK. Hal tersebut menuntut guru

(20)

6

kelas memiliki peran penting dalam mengatasi masalah proses sosialisasi yang

dialami siswa yang ditolak.

Peneliti merasa prihatin dengan yang dialami LNF, HAH dan ZR.

Anak-anak tersebut mengalami penolakan dari teman sebayanya dan sulit untuk

bersosialisasi. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian

lebih

lanjut

dengan

judul

Proses

SosialisasiSiswa

yang

Ditolak

(Rejected Children)

pada Kelas IV SD Negeri 5 Wates Kulon Progo.

B.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka peneliti

mengidentifikasi masalah di SD Negeri 5 Wates yaitu:

1.

Siswa kelas IV SD Negeri 5 Wates senang berinteraksi dengan teman

sebayanya namun berdasarkan hasil sosiometri dan wawancara siswa

berinisial LNF, HAH dan ZR ditolak oleh teman sekelasnya.

2.

Perkembangan perilaku sosial LNF, HAH dan ZR tidak sesuai dengan

perilaku yang dapat diterima secara sosial seperti suka mengganggu teman,

suka menghina, suka marah-marah, suka menimbulkan keributan, jahil,

sombong dan cengeng.

3.

Belum diketahui proses sosialisasi siswa LNF, HAH dan ZR.

C.

Fokus Penelitian

Agar penelitian tidak mengembang dan menyesuaikan keterbatasan

kemampuan peneliti, maka peneliti membatasi pe

nelitian ini pada: “

Proses

SosialisasiSiswa yang Ditolak pada Kelas IV SD Negeri 5 Wate

s”

(21)

7

D.

Rumusan Masalah

Berdasarkan fokus masalah di atas, maka rumusan masalah yang diambil

adalah “ Bagaimana

proses sosialisasisiswa yang ditolak pada kelas IV SD

Negeri 5 Wates?”

E.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai

dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses sosialisasisiswa yang

ditolak

(rejected children)

pada kelas IV SD Negeri 5 Wates.

F.

Manfaat Penelitian

1.

Bagi Orang Tua

a.

Memberikan pengetahuan tambahan pada orang tua mengenai siswa yang

ditolak

(rejected children)

b.

Memberikan pengetahuan tambahan pada orang tua tentang proses

sosialisasi pada siswa khususnya siswa yang ditolak

(rejected children)

.

c.

Membantu orang tua mengetahui perilaku sosial

siswa

yang

ditolak

(rejected children)

.

2.

Bagi Guru

a.

Memberikan tambahan pengetahuan bagi guru mengenai siswa yang

ditolak

(rejected children)

b.

Memberikan tambahan pengetahuan bagi guru tentang proses sosialisasi

yang dimiliki siswa yang ditolak

(rejected children)

.

(22)

8

BAB II

KAJIAN TEORI

A.

Tinjauan tentang Sosialisasi

1.Pengertian Sosialisasi

Sosialisasi adalah sebuah proses pembelajaran untuk menjadi anggota

masyarakat dan melalui sosialisasi kita dapat menjadi makhluk sosial (Scott,

2011: 259). Abdulsyani (2012: 57) berpendapat bahwa sosialisasi adalah proses

belajar yang dilakukan seseorang (individu) untuk berbuat dan bertingkah laku

berdasarkan patokan yang terdapat dan diakui dalam masyarakat. David A. Goslin

(2004: 30) menyatakan bahwa sosialisasi adalah proses belajar yang di alami

seseorang untuk memperoleh pengetahuan ketrampilan, nilai-nilai dan

norma-norma agar ia dapat berpartisipasi sebagai anggota dalam kelompok

masyarakatnya. Hasan Shadily (Abdulsyani, 2012: 58) mengungkapkan bahawa

sosialisasi adalah proses di mana seseorang mulai menerima dan menyesuaikan

diri kepada adat istiadat suatu golongan di mana lambat laut ia merasa sebagai

bagian dari golongan itu. Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan

bahwa sosialisasi adalah proses belajar bertingkah laku yang dapat diterima

masyarakat.

2.

Faktor

faktor Sosialisasi

Menurut Hurlock (1978:251) manusia akan belajar menyesuaikan diri

dengan tuntutan sosial dan menjadi pribadi yang dapat bermasyarakat bergantung

(23)

9

a.

Kesempatan yang penuh untuk sosialisasi

Seorang anak tidak akan belajar bermasyarakat bila sebagian besar

waktunya hanya dihabiskan seorang diri. Seiring dengan pertambahan usia

anak, anak perlu untuk bergaul tidak hanya dengan anak dengan umur dan

tingkat perkembangan sama, tetapi juga dengan orang dewasa yang umur dan

perkembangannya berbeda.

b.

Kemampuan berkomunikasi

Ketika bersama orang lain, anak tidak hanya bisa berkomunikasi dalam

kata-kata yang dapat dimengerti oleh orang lain, akan tetapi juga dapat

berbicara mengenai topik yang dapat dipahami dan menarik bagi orang lain.

Pembicaraan yang bersifat sosial merupakan penunjang yang penting bagi

sosialisasi, sebaliknya pembicaraan egosentrik menghalangi sosialisasi.

c.

Motivasi bersosialisasi

Anak akan belajar bersosialisasi jika mereka memiliki motivasi untuk

melakukannya. Motivasi ini tergantung pada tingkat kepuasan yang diperoleh

anak dari suatu interaksi sosial. Jika anak memperoleh kesenangan melalui

hubungan dengan orang lain, mereka akan menggulangi hubungan tersebut.

d.

Metode belajar yang efektif dengan bimbingan

Seorang anak akan belajar beberapa pola perilaku yang penting bagi

penyesuaian sosial lebih cepat dengan hasil akhir yang lebih baik jika ia

dibimbing oleh seseorang yang dapat mengarahkan kegiatan belajar dan

(24)

10

3.

Proses Sosialisasi

Menurut Dirdjosisworo (Abdulsyani, 2012: 57) individu mempelajari

kebiasaan, sikap, ide-ide, pola-pola nilai, dan tingkahlaku, dan ukuran

kepatuhan tingkah laku di dalam masyarakat di mana ia hidup. Mussen, et.al

(1994: 152) proses sosialisasi merupakan proses di mana anak-anak belajar

mengenai standar nilai dan sikap yang diharapkan kebudayaan atau lingkungan

masyarakat mereka.

Hurlock (1978:250) berpendapat bahwa proses sosialisasi terdiri dari tiga

proses sebagai berikut:

a.

Belajar berperilaku yang diterima secara sosial

Setiap kelompok sosial sosial memiliki standar sendiri mengenai perilaku

seperti apa yang dapat diterima. Untuk dapat bermasyarakat anak harus dapat

mengetahui standar perilaku yang diterima dan belajar menyesuaikan perilaku

dengan patokan yang diterima.

b.

Memerankan peran sosial yang dapat diterima

Setiap kelompok memiliki pola kebiasaan yang telah telah ditentukan

bersama dan harus dipatuhi oleh seluruh anggota.

c.

Perkembangan sikap sosial

Untuk dapat bergaul atau bermasyarakat anak harus menyukai aktivitas

sosial sehingga mereka dapat diterima sebagai anggota kelompok sosial.

Dalam proses sosialisasi anak akan menilai apakah perilakunya sesuai

dengan apa yang diharapkan dalam masyarakat. Cooley (Hensline, 2006: 68)

(25)

perasaan-11

perasaan mengenai diri kita berkembang. Berikut ini adalah ringkasan dari

looking glass self

.

a.

Kita membayangkan bagaimana kita nampak bagi orang di sekeliling

kita.

Misalnya, anak akan menilai dirinya apakah dirinya merupakan anak yang

jenaka atau anak yang membosankan.

b.

Kita menafsirkan reaksi orang lain

Anak akan menarik kesimpulan bagaimana orang-orang di sekitar

mengevaluasi dirinya. Anak akan menilai apakah orang orang di sekitarnya

menyukai dirinya karena jenaka atau tidak menyukai dirinya karena

membosankan

c.

Kita mengembangkan suatu konsep diri.

Cara mengintepretasikan reaksi orang lain pada diri kita memberikan kita

ide dan perasaaan tentang diri sendiri. Refleksi yang positif menimbulkan

konsep diri positif. Refleksi negatif menimbulkan konsep diri negatif.

Pada penelitian ini peneliti cenderung pada pendapat Hurlock ( 1978:

250) yang menyatakan bahwa proses sosialisasi terdiri dari tiga proses yaitu

belajar berperilaku sesuai yang diterima secara sosial, memerankan peran

sosial yang diterima dan perkembangan sikap sosial.

4.

Perkembangan Sosial Siswa SD

a.

Pengertian Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berprilaku

(26)

12

dan Agung Hartono (2008: 128) berpendapat bahwa perkembangan sosial

merupakan berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan

dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia. Allen dan Marotz (2010: 31)

berpendapat bahwa perkembangan sosial ini adalah area yang luas yang

mencakup perasaan anak terhadap diri sendiri dan hubungan dengan orang

lain. Yurdik Jahja (2013: 49) mengungkapkan bahwa perkembangan sosial

adalah suatu proses dimana anak secara aktif melakukan proses sosialisasi.

Perkenalan dan pergaulan manusia semakin meluas. Anak mengenalkan kedua

orang tuanya, anggota keluarganya, teman bermain sebaya dan teman sekolah.

Syamsu Yusuf (2009:122) menambahkan bahwa perkembangan sosial

merupakan proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma

kelompok, moral, dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling

berkomunikasi. Dalam perkembangan sosial, untuk dapat mencapai

kematangan sosial, anak harus belajar cara-cara menyesuaikan diri dengan

orang lain. Berdasarkan pendapat diatas, maka definisi perkembangan sosial

adalah proses belajar bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan

sosial sehingga dapat diterima secara sosial.

b.

Faktor-faktor Perkembangan Sosial

Menurut Sunarto dan Agung Hartono (2008:131) faktor yang

mempengaruhi perkembangan sosial ada 5 sebagai berikut:

1)

Keluarga

Sebagai lingkungan pertama bagi anak, keluarga memberikan pengaruh

(27)

13

Kondisi dan tata cara dalam keluarga merupakan lingkungan yang kondusif

bagi sosialisasi anah, di mana berlaku norma-norma kehidupan keluarga

sehingga keluarga dapat membentuk perilaku kehidupan budaya anak.

2)

Kematangan

Untuk dapat bersosialisasi diperlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk

dapat melakukan pertimbangan dalam proses sosial, memberikan pendapat dan

menerima pendapat orang lain, diperlukan kematangan intelektual dan

emosional yang matang. Selain itu kemampuan berbahasa juga diperlukan.

3)

Status Sosial Ekonomi

Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau sosial keluarga

dalam masyarakat. masyarakat tidak melihat anak sebagai anak yang

independen tapi juga melihat latar belakang keluarganya. Secara tidak langsung

dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya memperhitungkan

norma yang berlaku dalam keluarganya. Dari pihak anak sendiri, akan

berperilaku sesuai dengan kondisi normatif yang telah ditanamkan

keluarganya. Dalam hal ini anak menjaga status sosial ekonomi keluarganya.

4)

Pendidikan

Hakikat pendidikan sebagai proses pengoprasian ilmu secara normatif

akan mewarnai kehidupan anak di masyarakat dan kehidupan di masa depan.

Dalam proses pendidikan peserta didik dikenalkan pada norma kehidupan

lingkungan dekat, bangsa, maupun antar bangsa. Etik pergaulan dan

pendidikan moral diajarkan secara terprogam untuk membentuk perilaku

(28)

14

5)

Kapasitas Mental: Emosi dan Inteligensi

Kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik dan

pengendalian emosional yang seimbang sangat menentukan dalam perkembangan

sosial anak.

Allen dan Marotz (2010: 31) menyatakan bahwa dalam menggambarkan

perkembangan personal dan sosial, perlu diingat bahwa setiap anak berkembang

dengan kecepatan yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan individu

dalam latar belakang genetika, dan budaya, status kesehatan anak dan serta

faktor-faktor seperti pengalaman selama dalam masa pengasuhan anak. Syamsu Yusuf

(2009:122) menyatakan bahwa perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh

proses perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak melalui pengenalan

berbagai aspek kehidupan sosial atau norma norma kehidupan masyarakat serta

memberikan teladan bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam

kehidupan sehari-hari. Clausen (Syamsu Yusuf, 2009:123) menyatakan bahwa

perkembangan sosial anak dapat dicapai dengan upaya yang dilakukan orang tua

(29)

15

Tabel 1. Sosialisasi dan perkembangan anak

No

Kegiatan Orang Tua

Pencapaian Perkembangan Perilaku

Anak

1

Memberikan makanan dan memelihara

kesehatan fisik anak

Mengembangkan sikap percaya terhadap

orang lain.

2

Melatih dan menyalurkan kebutuhan

fisiologis (

toilet training

, menyapih,

dan memberi makanan padat).

Mampu mengendalikan dorongan biologis

dan belajar untuk menyalurkannya pada

tempat yang diteriman masyarakat

3

Mengajar dan melatih keterampilan

berbahasa, persepsi, fisik, merawat diri

dan keamanan diri.

Belajar mengenal objek-objek, belajar

bahasa, berjalan, mengatasi hambatan,

berpakaian, dan makan

4

Mengenalkan lingkungan kepada anak:

keluarga, sanak keluarga, tetangga, dan

masyarakat sekitar.

Mengembangkan

pemahaman

tentang

tingkah laku sosial, belajar menyesuaikan

perilaku dengan tuntutan sosial.

5

Mengajarkan tentang budaya,

nilai-nilai (agama) dan mendorong anak

untuk

menerima

sebagai

bagian

dirinya.

Mengembangkan pemahaman tentang

baik-buruk, merumuskan tujuan dan kritesia

pilihan dan berperilaku yang baik.

6

Mengembangkan

keterampilan

interpersonal, motif, perasaan, dan

perilaku dalam berhubungan dengan

orang lain.

Belajar memahami perspektif (pandangan)

orang lain dan merespon harapan/pendapat

mereka secara selektif.

7

Membimbing,

mengoreksi,

dan

membantu anak untuk merumuskan

tujuan dan merencanakan aktivitasnya.

Memiliki pemahaman untuk mengatur diri

dan memahami kriteria untuk menilai

penampilan/perilaku sendiri

Dari uraian di atas, maka faktor perkembangan sosial anak adalah

kemematangan, pendidikan, kapasitas mental, kemampuan berkomunikasi, faktor

keluarga dan status ekonomi.

c.

Perkembangan Sosial anak SD

Rita Eka Izzaty (2008:114) berpendapat bahwa bahwa perkembangan sosial

anak SD dapat dilihat dari 2 aspek yaitu:

1)

Kegiatan bermain

Aktifitas bermain memberikan kesempatan pada anak untuk berinteraksi

dengan teman sebayanya dan memberikan pengalaman berharga bagi anak.

Anak anak pada masa anak-anak akhir menyukai kegiatan bermain yang

dilakukan secara berkelompok, kecuali bagi anak-anak yang kurang diterima

(30)

16

akhir, anak menyukai permainan yang bersifat menjelajah, mengkonstruksikan

sesuatu, bernyanyi dan kegiatan olah raga berkelompok seperti basket, sepak

bola, voli dan sebagainya.

2)

Teman sebaya

Teman sebaya merupakan teman anak di sekolah maupun di luar sekolah.

Mereka sangat mempengaruhi perkembangan sosial anak. Teman sebaya dapat

memberikan pengaruh positif dan negatif. Pengaruh positif teman sebaya

adalah melalui teman sebaya anak dapat belajar pengembangan konsep diri dan

pembentukan harga diri. Selain itu melalui bergaul dengan teman sebaya

seorang anak dapat belajar bagaimana bergaul dalam masyarakat. namun teman

sebaya juga memiliki kemungkinan untuk mengajak ke hal-hal negatif seperti

merokok, membolos, mencuri dan perbuatan anti sosial lainnya. anak-anak

memiliki teman sebaya untuk melakukan kegiatan bersama. Mereka memiliki

integritas tinggi terhadap kelomponya, ada ketertarikan satu sama lain sehingga

mereka merasa perlu untuk bersama. Kegiatan yang dapat dilakukan dengan

teman sebaya meliputi belajar bersama, melihat pertunjukam, bermaik,

masak-masakan dan sebagainya. Pada masa anak-anak akhir keinginan untuk diterima

dalam kelompok sosial sangat besar.

Monks (2004:183-208) berpendapat bahwa aspek perkembangan sosial

(31)

17

1)

Interaksi dengan teman sebaya

Di TK dan SD anak mempunyai kontak yang sangat intensif dengan

teman sebayanya. Anak-anak pun, saling mempengaruhi satu sama lain.

Mereka berusaha untuk menjadi anggota dari suatu kelompok. Hubungan sosial

dengan teman teman sebaya sangat penting bagi perkembangan anak.

Persahabatan yang semula karena melakukan sesuatu bersama, beralih menjadi

persahabatan yang mendalam dan berpengaruh pada perkembangan pribadi

individu yang sedang berkembang.

2)

Perkembangan motivasi prestasi

Ciri motivasi prestasi yaitu untuk melakukan sesuatu lebih baik dari

standar standar keunggulan. Standar keunggulan dapat berhubungan dengan

prestasi orang lain, prestasi diri sendiri di masa lalu, dan tugas yang dilakukan.

3)

Perkembangan identitas jenis kelamin atau tingkah laku sesuai jenis

kelamin

Dasar dari perkembangan tingkahlaku spesifik jenis kelamin adalah

faktor biologis; proses belajar sosial sejak awal telah menyumbang kenyataan

bahwa identitas kelamin terbentuk melalui norma-norma sosial yaitu melalui

penilaian apa yang baik atau tidak baik bagi anak laki-laki atau anak

perempuan.

4)

Perkembangan pengertian norma

Anak kecil memiliki penilaian yang absolut dan mereka tidak dapat

mengalah pada suatu hal. Dalam menentukan benar atau salah tidak ada

(32)

18

B.

Karakteristik Siswa Sekolah Dasar Kelas IV

Siswa kelas IV Sekolah Dasar berusia 10 sampai dengan 11 tahun termasuk

dalam katagori usia masa anak-anak akhir. Pada masa anak-anak akhir anak

memiliki karakteristik sebagai berikut.

1.

Perkembangan Fisik

Menurut Allen dan Marotz (2010: 196) pertumbuhan fisik pada anak 10

tahun adalah sebagai berikut.

a.

Pertumbuhan lambat dan tidak teratur; anak perempuan lebih cepat

tumbuh daripada anak laki-laki; anak laki-laki ukuran tubuhnya lebih

serupa.

b.

Bentuk tubuh lebih ramping karena timbunan lemak yang mulai

menghilang.

c.

Setiap bagian tubuh memiliki kecepatan tumbuh yang berbeda;

bagian tubuh bagian tengah dan bawah tumbuh lebih cepat; kaki dan

tangan tampak panjang tidak proposional.

d.

Ukuran otak bertambah secara signifikan hampir mencapai ukuran

otak orang dewasa.

e.

Tinggi badan bertambah 2 inci (5cm) setiap tahunnya dan dapat

bertambah banyak pada masa pertumbuhan yang pesat.

f.

Berat badan naik sekitar 2,72 kg setiap tahun.

g.

Gigi bayi yang tersisa akan tanggal, gigi baru yang tumbuh akan

berdesakan bila gigi permanen tumbuh pada rahang yang masih kecil.

(33)

19

Menurut Santrock ( 2012: 318-321) apa masa kanak-kanak pertengahan dan

akhir memiliki ciri sebagai berikut.

a.

Pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Anak bertambah tinggi 2 hingga

3 inchi tiap tahunnya; bertambah berat badan 5-7 pon setiap tahunnya;

masa dan kekuatan otot meningkat secara bertahap serta lemak bayi

berkurang; anak laki-laki lebih kuat dari anak perempuan karena

memiliki jumlah sel otot yang lebih banyak.

b.

Volume total otak menjadi stabil di akhir masa kakan-kanak pertengahan

dan akhir, namun perubahan signifikan pada berbagai struktur dan daerah

otak tetap berlangsung.

c.

Di masa anak pertengahan dan akhir keterampilan motorik

anak-anak menjadi lebih halus dan terkoordinasi.

d.

Olah raga. Aktivitas seperti memukul bola, melompati tali atau menjaga

keseimbangan di atas balok merupakan suatu yang esensial bagi anak

untuk memperhalus keterampilan mereka.

e.

Pada umumnya, kesehatan yang paling baik berlangsung di masa

kanak-kanak pertengahan dan akhir. Dibandingkan masa kanak-kanak-kanak-kanak awal dan

remaja, pada masa kanak-kanak pertengahan dan akhir penyakit dan

kematian jarang dijumpai.

2.

Perkembangan Kognitif

Menurut Piaget pada usia 7 sampai dengan 11 tahun termasuk dalam tahap

operasional kongkret. Pada tahap ini anak dapat melakukan operasi

(34)

20

dapat diaplikasikan pada contoh-contok spesifik atau kongkret (Piaget

dalam Santrock, 2012: 329). Menurut Allen dan Marotz (2010: 197-198)

perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak akhir sebagai berikut.

a.

Mengembangkan kemampuannya untuk membuat penalaran lebih

berdasarkan logika daripada intuisi.

b.

Menyukai tantangan aritmatika, namun tidak selalu memahami

hubungan matematis dalam praktik yang rumit seperti perkalian

dan pembagian.

c.

Metode hans on learning menjadi metode belajar yang terbaik;

anak lebih menyukai untuk mencari informasi dari internet, buku,

eksperimen sains, membangun sesuatu dengan ukuran kecil,.

Anak lebih suka mendengarkan rekaman kaset daripada

penjelasan guru walaupun informasi yang disampaikan sama.

d.

Anak menyukai saat-saat di sekolah; sulit untuk bisa duduk diam

selama lebih dari 30 menit; segala sesuatu mengenai sekolah

dilupakan begitu pulang sekolah.

e.

Anak senang menggunakan ketrampilan membaca dan menulis

dalam kegiatan non akademis seperti mengumpulkan daftar

belanja, membuat naskah untuk pertunjukan boneka tangan,

menggambar peta daerah sekitar rumah dan menulis nama tempat.

f.

Anak telah dapat menunjukan pemahaman lebih baik pada hukum

sebab akibat.

(35)

21

h.

Anak menelusuri kejadian berdasarkan ingatan; mampu berfikir

sebaliknya; mengikuti serangkaian kejadian mulai dari awal.

3.

Perkembangan Bahasa

Menurut Santrock (2012: 347) perkembangan bahasa anak masa kanak-kanak

pertengah adalah sebagai berikut.

a.

Kosa kata, tata bahasa dan kesadaran metalinguistik

1)

Kosa kata anak meningkat dari 14.000 kata di usia 6 tahun menjadi

40.000 kata di usia 11 tahun.

2)

Selama di sekolah dasar kemajuan mereka dalam penalaran logis dan

ketrampilan analisis memudahkan mereka memahami kontruksi

seperti penggunaan kata yang tepat dalam perbandingan dan

subjektif.

3)

Anak mulai memahami dan menggunakan tata bahasa yang kompleks

4)

Anak mampu mengaitkan kalimat yang satu dengan yang lain

sehingga dapat menghasilkan deskripsi, definisi dan narasi yang

masuk akal.

5)

Perkembangan kosa kata dan bahasa disertai perkembangan

kesadaran linguistik.

b.

Membaca

Menurut Mayer ( Santrock, 2012: 349) proses yang dilalui anak agar

dapat membaca adalah sebagai berikut

1)

Memahami unit-unit dalam kata-kata yang terkait dengan

(36)

22

2)

Mengkodekan lagi kata yang mencakup perubahan

kata-kata tertulis menjadi suara.

3)

Mengakses arti kata dengan membayangkan presentasi dari

sebuah kata

c.

Menulis

1)

Ketika kemampuan berbahasa dan kognitif mereka meningkat

dengan instruksi yang baik, begitu pula kemampuan

menulisnya.

2)

Pemahaman terhadap tata bahasa dan sintaks menjadi dasar

dalam penulisan yang lebih baik.

3)

Melalui

pelatihan

menulis

di

sekolah,

anak-anak

mengembangkan

metode

yang

rumit

untuk

mengorganisasikan ide mereka.

Menurut Allen dan Marotz ( 2010: 199) perkembangan bahasa pada anak usia

9 sampai 10 tahun adalah sebagai berikut.

a.

Senang berbicara, sering sekali tidak berhenti tanpa alasan yang jelas.

Sering kali berbicara digunakan sebagai cara mendapatkan perhatian.

b.

Mengungkapkan perasaan serta emosinya melalui kata-kata.

c.

Memahami dan menggunakan bahasa sebagai sistem untuk

berkomunikasi dengan orang lain.

d.

Menggunakan kata populer yang sereing diucapkan oleh teman

(37)

23

e.

Mengenali bahwa beberapa kata memiliki arti ganda, seperti panjang

tangan mengadu domba.

f.

Menganggap perumpamaan yang tidak masuk akal dalam lelucon dan

teka-teki merupakan suatu hal yang lucu.

g.

Menunjukan pemahaman tingkat tinggi terhadap tata bahasa dan

dapat mengenali apabila ada kalimat yang tata bahasanya tidak tepat.

C.

Kajian Tentang Siswa yang Ditolak

1.

Pengertian siswa yang ditolak

Menurut Wentzal dan Asher (dalam Rita Eka Izzaty,2008: 116) anak yang

ditolak (

rejected children

) merupakan anak yang sering dinominasikan sebagai

anak yang dibenci dan jarang dinominasikan sebagai teman terbaik. Sedangkan

Demista (2009: 187) menjelaskan bahwa anak yang ditolak adalah anak yang

tidak disukai oleh teman-temannya. Rubin, Cheah dan Manzer (dalam Santrock,

2011:382) menyatakan bahwa tidak semua anak ditolak merupakan anak yang

agresif. Harist, et. al (dalam Lopez, et. al, 2006:387) mengatakanbahwa dalam

suatu kelompok heterogen, siswa yang ditolak terbagi menjadi duasubkelompok

yang telah diidentifikasi yaitu siswa yang ditolak agresifdansiswa yang

ditolaktidak agresif. Astor, et. al dan Cillessen, et. al (dalam Lopez, et. al,

2006:387) mengungkapkan bahwa sekitar40 sampai 50% darisiswa yang

ditolakmenunjukkanprofilperilaku agresifyang meliputikerusakan fisik, kerugian

psikologis, dankerusakan properti sedangkan siswa yang ditolak yang

lainnyaadalahpasivedan pemalu. Anak tertolak agresif cenderung terlibat dalam

(38)

24

implusif, sedangkan anak tertolak penyendiri cenderung pasif dan canggung

secara sosial (Berk, 2012: 265). Untuk mengukur status sosiometrik dapat

dilakukan dengan meminta anak menominasikan anak yang paling mereka sukai

dan anak yang paling tidak mereka sukai (Santrock, 2007: 211). Hal tersebut

didukung pendapat Papalia, Olds, dan Feldman (2009: 336) yang menyatakan

bahwa untuk mengukur kepopuleran orang secara sosiometris dapat diukur

dengan menanyakan pada anak tentang teman sebaya yang paling mereka sukai

dan paling tidak mereka sukai.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa siswa yang ditolak

merupakan siswa yang tidak disukai oleh teman sebayanya. Penentuan siswa yang

ditolak pada penelitian ini didasarkan hasil sosiometri di mana siswa diminta

menominasikan teman yang mereka sukai dan teman yang tidak mereka sukai,

serta dikuatkan dengan hasil wawancara dengan siswa dan guru.

2.

Faktor faktor penyebab penolakan pada siswa yang ditolak

Anak ditolak biasanya memiliki perilaku agresif, sok kuasa dan suka

mengganggu (Wentzal dan Asher, dalam Rita Eka Izzaty,2008: 116). Sementara

Demista (2009:187) berpedapat bahwa anak yang ditolak memiliki sifat

mengganggu, egois dan memiliki sedikit sifat positif. Sedangkan John Coie

(Santrock, 2007:211) menyebutkan alasan anak agresif yang ditolak oleh teman

sebaya mengalami kesulitan dalam hubungan sosial karena hal-hal berikut.

1)

Anak-anak agresif yang ditolak lebih implusif dan memiliki masalah

(39)

25

cenderung lebih sering mengacau dalam kegiatan kelas dan permainan

kelompok.

2)

Anak agresif yang ditolak lebih reaktif secara emosional. Mereka mudah

marah dan lebih sulit menenangkan diri dari kemarahan mereka. Hal

tersebut menyebabkan mereka marah pada teman sebaya dan menyerang

secara fisik maupun verbal.

3)

Anak-anak yang ditolak memiliki kemampuan yang sedikit dalam

berteman dan mepertahankan hubungan positif dengan teman sebayanya.

Hasil studi menyatakan bahwa anak-anak yang menunjukkan tingkat

tinggi agresi cenderung menjadi ditolak dalam kelompok yang baru

terbentuk yang menunjukkan peran potensi perilaku agresif dalam

munculnya penolakan dari teman sebaya (Bolger dan Patterson, 2001:

550). Hasil penelitian menunjukan bahwa penarikan sosial, perilaku

agresif, atau keduanya merupakan penghubung antara penganiayaan dan

penolakan teman sebaya dari masa kanak kanak ke masa remaja awal

(Bolger danPatterson,2001:549-550)

Ferrer and Ochoa (2006: 388) Faktor keluarga lain seperti

komunikasiorangtua-anak dan keluarga konflik juga telah terkait dengan

penyesuaian sosial anak-anak di sekolah.

Gaylord, Kitzmann, & Lockwood ; Steinberg & Morris (Ferrer and

Ochoa (2006: 388) claimed that recent studies conclude that family

cohesion and openness in family communication are associated with

peer acceptance at school

Dari uraian di atas diketahui bahwa kohesi keluarga dan keterbukaan

(40)

26

sekolah Barrera & Li; Demaray & Malecki; Estevez, Musitu, & Herrero;

Jackson &Warren; Lambert & Cashw (dalam Lopez, et. al., 2006:388)

menambahkan faktor penyebab siswa yang ditolak sebagai berikut:

offensive parent

child communication and conflict between parents are

factors closely related to rejection by peers, aggressiveness at school,

and children’s negative attitude toward school and teachers

Pendapat tersebut menyatakan bahwa komunikasi orang tua yang

ofensif dan konflik antara kedua orang tua merupakan faktor yang terkait

dengan penolakan oleh rekan-rekan, agresivitas di sekolah, dan sikap negatif

anak-anak terhadap sekolah dan guru. Dari pendapat di atas dapat diketahui

bahwa faktor yang menyebabkan anak ditolak antara lain: sifat agresif siswa,

sikap egois, sikap suka mengganggu, sikap reaktif secara emosional dan

kondisi keluarga.

3.

Dampak Penolakan pada Anak

Hasil penelitian terbaru menunjukan anak kelas tiga yang agresif dan

ditolak menunjukan tingkat kenakalan yang lebih tinggi sebagai remaja dan

pemuda dibandingkan anak-anak yang lain (Santrock, 2007: 211). Menurut

McDougall (dalam Helen McGrath and Tony Noble, 2010: 79), murid yang

terisolasi secara sosial atau ditolak juga lebih cenderung kurang puas, kurang

mandiri, kurang sukses dalam hidup, kurang mandiri dan dan memiliki

pengalaman yang mungkin berdampak negatif jangka panjang seperti depresi,

pengalaman kerja tidak memuaskan, kriminalitas, dan minimnya keberhasilan

dalam hubungan. Putallaz dan Waserman (dalam Demista 2009:187)

(41)

27

perilaku agresif, hiperaktif, kurang perhatian atau ketidakdewasaan sehingga

sehingga sering bermasalah dalam berperilaku dan akademis di sekolah.Bolger

and Patterson (2001:549) menyatakan bahwa penolakan merupakan faktor

risiko untuk masalah penyesuaian pada masa remaja masa kanak-kanak dan

dewasa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Buhs, Ladd, and Herald (2006:1)

yang menyatakan bahwa penolakan dari teman sebaya menyebabkan anak

kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Pettit, clawso, Dodge

dan Bates (dalam Bolger danPatterson, 2001:550) melaporkan bahwa

anak-anak ditolak oleh rekan-rekan mereka telah mengalami disiplin yang lebih ketat

dan lebih agresif dan kurang memiliki kemampuan sosial daripada anak-anak

lain. Sejumlah penelitian telah mencatat bahwa penerimaan rekan dikaitkan

dengan masalah penyesuaian psikososial siswa pada siswa seperti kecemasan,

depresi, perilaku, gangguan dan agresi (Lopez, et. al, 2006:387).

Hatzichristou & Hopf (dalam Lopez, et. al, 2006:388) menjelaskan

dampak penolakan teman sebaya terhadap prestasi belajar sebagai

berikut

“rejected students are, in general, more at risk for academic difficulties

and school failure than those students not rejected by their peers

”.

Pendapat tersebut menyatakan bahwa anak yang ditolak secara umum

memiliki resiko lebih untuk mengalami kesulitan secara akademik dan

mengalami kegagagalan di sekolah dibandingkan anak yang tidak ditolak.

Anak yang tidak diterima oleh teman sebaya atau anak yang terlalu agresif

lebih berpeluang untuk mengembangkan permasalahan psikologi, berhenti

(42)

28

2009: 366). Wentzel & Asher, 1995 (dalam Lopez, et. al, 2006:389)

menambahkan bahwa hal tersebut terutama menjadi kasus untuk siswa yang

ditolak agresif, yang memiliki motivasi kurang menuju kesuksesan sekolah dan

studi.

Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa dampak dari penolakan

dari teman sebaya adalah sebagai berikut: masalah psikososial seperti depresi,

kecemasan dan lain sebagainya, masalah perilaku, masalah akademis, kurang

mampu menyesuaikan diri dan kurang memiliki kemampuan sosial\

D.

Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang ada pada BAB I, pertanyaan penelitian

pada penelitian ini adalah

1.

Bagaimana proses sosialisasi siswa yang ditolak

(rejected children)

dalam

berperilaku yang diterima secara sosial?

2.

Bagaimana proses sosialisasisiswa yang ditolak

(rejected children)

dalam

memerankan peran sosial yang diterima?

3.

Bagaimana proses sosialisasi siswa yang ditolak

(rejected children

) dalam

(43)

29

BAB III

METODE PENELITIAN

A.

Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono(2011:9)

metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang menggunakan

landasan filsafat pospositivisme, digunakan untuk meneliti obyek alamiah,

peneliti sebagai instrumen kunci, pengumpulan data menggunakan triangulasi,

analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasilnya menekankan pada makna.

Pendapat tersebut didukung pendapat Lexy J. Moleong ( 2014: 6) yang

menyatakan penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk

memahami fenomena yang dialami oleh obyek penelitian secara holistik dengan

cara deskriptif menggunakan kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus

yang alamiah dan memanfaatkan metode alamiah. Penelitian ini merupakan

penelitian deskriptif. Lexy J. Moleong (2014: 11) mengatakan bahwa dalam

penelitian kualitatif peneliti mengumpulkan data-data yang berasal dari naskah

wawancara, catatan lapangan, foto,

videotape

, dokumen pribadi, catatan atau

memo, dan dokumen resmi lainnya sehingga laporan penelitian akan berisi

kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan.

B.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 5 Wates khususnya di

kelas IV. SD Negeri 5 Wates beralamat di Jalan Muh. Dawan Wates, Kulon

(44)

30

untuk penelitian adalah kelas IV. Waktu penelitian yaitu bulan 21 Maret 2016

sampai dengan 22 April 2016..

C.

Subyek penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa yang ditolak oleh teman sebaya pada

kelas IV Sekolah Dasar Negeri 5 Wates yang berjumlah 3 anak. Penentuan subjek

ini berdasarkan hasil sosiometri yang menyatakan dari 30 anak, 24 anak tidak

menyukai LNF, 24 anak tidak menyukai HAH dan 18 anak tidak menyukai ZR.

Data tersebut juga diperkuat hasil wawancara dengan siswa kelas IV serta wali

kelas IV.

D.

Sumber Data

Sumber data pada penelitian ini adalah 3 orangsiswa yang ditolak yaitu

LNF, HAH dan ZR, 5 orang teman sebaya siswa yang ditolak, seorang guru kelas

IV, seorang guru olah raga, seorang guru Pendidikan Agama Islam, serta orang

tua siswa yang ditolak

.

E.

Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2011: 243) Dalam penelitian kualitatf data diperoleh

dari berbagai sumber dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang

bermacam-macam (triangulasi) dan dilakukan terus menerus sampai datanya

jenuh. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara,

observasi dan dokumentasi.

1.

Wawancara

Menurut Lexy J. Moleong (2014:186) wawancara merupakan percakapan

(45)

31

pada penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur dengan alasan pada jenis

wawancara ini peneliti tidak terlalu terpaku pada pedoman wawancara sehingga

wawancara dapat lebih berkembang dan peneliti bisa mendapatkan data yang

lebihmendalam. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono (2011b:320) yang

menyatakan bahwa tujuan dari wawancara semi terstruktur adaah untuk

menemukan permasalahan secara lebih terbuka dimana pihak yang diajak

wawancara, diminta pendapat dan ide-ide. Wawancara pada penelitian ini

bertujuan untuk memperoleh informasi yang mendalam mengenai proses

sosialisasisiswa yang ditolak pada kelas IV SD Negeri 5 Wates. Wawancara

dilakukan dengan wali kelas, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), guru olah

raga dan perwakilan siswa kelas IV.

2.

Observasi

Menurut Sugiyono (2011:1450 teknik pengumpulan data dengan observasi

digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja,

gejala-gejala alam, dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Observasi

dilakukan di ruang kelas dan lingkungan sekolah. Sasaran observasi adalah proses

sosialisasisiswa yang ditolak pada kelas IV yang berjumlah 3 orang.

3.

Dokumentasi

Menurut Sugiyono (2011: 240) dokumen merupakan catatan peristiwa yang

sudah berlalu, di mana dapat berupa tulisan, gambar atau karya karta monumental

dari seseorang. Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa rapot

khususnya pada bagian penilaian sikap yang dapat mendukung data mengenai

(46)

32

F.

Instrumen Penelitian

Nasution (Sugiyono 2011: 223) berpendapat dalam penelitian kualitatif

tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian

utama Untuk mengumpulkan data peneliti menggunakan alat bantu berupa

pedoman wawancara, pedoman observasi dan dokumen.

1.

Pedoman wawancara

Pedoman wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai

proses sosialisasisiswa yang ditolak melalui tanya jawab secara langsung.

Wawancara dilakukan pada guru kelas, guru mata pelajaran, guru mata pelajaran,

dan perwakilan siswa kelas IV. Berikut ini adalah kisi-kisi wawancara proses

sosialisasi yang dikembangkan berdasarkan teori dari Hurlock (1978: 250):

Tabel 2. Kisi-kisi Pedoman Wawancara Siswa yang Ditolak

(Rejected Children)

No. Proses Sosialisasi Indikator No Butir

1. Belajar berperilaku sesuai dengan yang diterima social

Tidak mengganggu teman 1

Ramah (menyapa, mengajak berbicara dengan teman)

2

Berperilaku sederhana (tidak memamerkan barang, membawa barang tidak berlebihan)

3

Menjaga kebersihan diri 4

Mentaati aturan 5, 6, 7

Jujur (tidak berbohong, tidak menyontek) 8, 9, 10

Sopan (berbicara dengan nada, intonasi yang tidak tinggi, tidak duduk di meja, tidak berkata kotor )

Menjalankan tugas piket kelas 21, 22

Berpartisipasi dalam pengerjaan tugas kelompok

23, 24

Mengikuti pelajaran dengan tertib 25

Mentaati perintah guru 26, 27

Membantu orang tua di rumah 28

Menghormati dan mentaati perintah orang tua 29, 30

3. Perkembangan sikap

social

Menolong teman yang membutuhkan 31, 32

Gambar

Tabel 1. Sosialisasi dan perkembangan anak
Tabel 2. Kisi-kisi Pedoman Wawancara Siswa yang Ditolak(Rejected Children)
Tabel 3. Kisi-kisi Pedoman Wawancara Guru
Tabel 5. Kisi-kisi Pedoman Wawancara dengan Orang Tua Siswa yang Ditolak
+6

Referensi

Dokumen terkait

sekolah. Sedangkan untuk kebiasaan belajar di sekolah yaitu. 1) Dengan berangkat sekolah tepat waktu tidak terlambat. 2) Cara belajar di kelas dengan aktif menulis, aktif bertanya.

Dari observasi dapat ditemukan masalah yang menjadi bahan penelitian, kemudian dengan kegiatan refleksi ditemukan solusi pemecahan masalah yang akhirnya digunakan

Dalam konteks ini paradigma pembelajaran yang digunakan adalah konstruktivisme yaitu pembelajaran yang menuntut peran aktif siswa dalam kegiatan belajar, sedangkan guru

Jawaban: ya kalau pembelajaran pasti ada kegiatan percobaan itu ya melatihkan keterampilan mengamati, kalau membuat laporan dan menyampaikan kepada orang lain itu untuk

Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar masih didominasi guru yang menggunakan metode ceramah dan kurang dapat melatih siswa untuk belajar secara aktif dan kreatif karena siswa

sederhana dimana hanya sebagian siswa yang berpartisipasi aktif. Guru belum mengoptimalkan ketrampilan dalam proses pembelajaran. PKn. Rendahnya penguasaan siswa terhadap

Menurut Karsa dan Eddy (1993) kelebihan pendekatan keterampilan prosesadalah (1) merangsang ingin tahu dan mengembangkan sikap ilmiah siswa; (2) siswa akan aktif

memperhatikan penjelasan materi dari guru, mengikuti kegiatan diskusi dan berperan aktif dalam kelompok agar waktu digunakan secara efisien, serta lebih tertib