• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Strategi Pendidikan Tauhid Sayyid Quthb

ANALISIS STRATEGI PENDIDIKAN TAUHID

C. Karakteristik Strategi Pendidikan Tauhid Sayyid Quthb

1. Berpedoman pada Al Qur’ an dan Hadits

Ini terlihat dalam berpegangnya Sayyid Quthb kepada Al-Qur’an dan sunnah sebagai rujukan penulisan dan penyelidikan. Sayyid mencari inspirasi dan ilham dari keduanya tanpa menyertakan pengetahuan- pengetahuan yang lain, sebab keduanya adalah dua referensi yang valid bagi agama ini. Sungguh, umat Islam telah menjauh dari kedua referensi ini sepanjang sejarah arah mereka dan lalai darinya karena sibuk dengan kitab- kitab yang mendapatkan cap "ilmiah". Padahal ini m erupakan salah satu perkara yang menjauhkan mereka dari mata-mata air yang deras dan

mengenyangkan. Karena itu, mereka merugi dengan tidak memperoleh kebaikan yang banyak, dan kerugian mereka dalam tataran realita dan sejarah adalah sesuatu yang jelas dan terang.

Sayyid Quthb paham betul fakta ini, maka beliau pun menulis dalam tiga buku: at-Tashw fr al-Fann f i A l-Q u r’an (Ilustrasi Artistik dalam Al-Qur’an), M asydhid al-Qiyamah (Pemandangan-Pemandangan Kiamat), dan F i Zhilalil Qur ’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an).

Dengan menuliskan buku-buku tersebut Sayyid Quthb ingin mengembalikan umat Islam ke Al-Qur’an, sehingga mereka pun bisa menikmatinya sebagai sesuatu yang segar seperti kala Al-Qur’an diturunkan. Dengan gaya bahasanya yang menawan dan pemahamannya yang mendalam akan apa-apa yang ada di balik kalimat dan huruf, mampu menyingkap untuk umat Islam rahasia-rahasia dan makna-makna yang belum pernah diuraikan sebelumnya dan mengantarkan seorang Muslim ke dalam suasana Qur'ani, sehingga ia bisa menghirup keharumannya, menikmati kesegarannya, serta hidup (meski ia hidup pada abad ke-20) dalam naungan Al-Qur’an.

Keseriusan juga tampak pada tema-tema yang diangkatnya dan tulisan-tulisan berharga yang dipersem bahkannya. Quthb m enulis tentang problem atika-problem atika kekinian dan mendesak yang sedang dialami umat Islam serta yang tengah mereka rasakan ekses- ekses negatifnya dan bahaya-bahayanya.

Setiap menulis, Quthb punya dua tujuan utama. Pertama, menjelaskan sosok Islam seperti yang diturunkan Allah, kedua, menjelaskan realita umat Islam yang jauh dari sosok tersebut. Dengan kata lain, beliau berusaha keras menjelaskan jahiliyah dan memperlihatkannya sama seperti usaha kerasnya dalam menjelaskan Islam. Dan, memperlihatkannya supaya jelas mana jalan orang-orang beriman dan mana jalan orang-orang kafir, agar ada pemisahan antara keduanya atas dasar akidah.9

Keseriusannya juga terlihat dalam perhatian beliau terhadap masalah-masalah pokok dan asasi. Tetapi, beliau menjauhkan diri dari masalah-masalah cabang dan parsial, masalah yang telah menghabiskan waktu umat Islam dan umurnya, misalnya dalam perdebatan masalah- masalah kalam dan perbantahan yang tidak berguna. Sebaliknya, keseriusan beliau tampak pula dalam mengerahkan energi dan tenaga ke akar perkara dan sumber masalah yang pada hakikatnya adalah penyebab problem-problem umat Islam dan ketertinggalannya.10

Karena alasan inilah, kita mendapati buku azh-Zhilall tidak memaparkan rincian-rincian hukum fikih atau perselisihan- perselisihannya. Dalam buku Khashd'ish at-Tashawwur al-Islam i wa M uqawwimdtuh kita juga mendapati bahwa beliau menghindari terminologi-terminologi ahli ilmu kalam dan mazhab-mazhab mereka

9 Ahmad Hasan, F ikih Pergerakan Sayyid Quthb, Uswah, Yogyakarta, 2008, him. 8 10 Ibid., him. 9

yang beragam berikut dialektikanya, supaya pembaca bisa sampai ke hakikat-hakikat akidah seperti yang terbaca secara eksplisit dari nash Al- Qur’an.

2. Jelas dan Sederhana

Sayyid Quthb menulis dengan gaya bahasa seorang dai, dengan semangat dan keterusterangannya, bukan dengan gaya bahasa seorang filosof, dengan fantasi-fantasi dan kehambaran ekspresinya. Tampak bahwa beliau san g at terp en g aru h oleh gaya b ah asa A l-Q u r’an, k arena am at lam anya pergumulan dan penelaahannya dengan Al- Qur’an. Sungguh dalam tiap-tiap kalimatnya akan dirasakan semangat dan gerakan yang memancar dari sela-sela ungkapan-ungkapannya dan dalam tiap-tiap baris tulisannya, seolah-olah adalah rangkaian degup jantung dan detak hati.

Quthb tidak suka menggunakan istilah-istilah seni dan ilmu yang rumit dalam memaparkan suatu hakikat. Yang beliau lakukan hanyalah merasakan h ak ik at te rseb u t, m en cern an y a, untuk k em udian m enyusunnya dalam ungkapannya yang kuat dan paparannya yang indah yang langsung masuk ke hati tanpa keletihan dan kepayahan yang mengiringi. Perhatikan dengan saksama perkataannya dalam al-'Addlah al-ljtim d'iyyah f i al-Islam kala beliau membandingkan agama Kristen, komunisme, dan Islam, bagaimana beliau merangkai hakikat- hakikat ini, "...dengan keterangan ini kita mengetahui bahwa Kristen

adalah sebuah mimpi di alam fantasi abstrak yang terlihat oleh manusia di horison-horison langit; komunisme adalah kedengkian kemanusiaan yang tersembunyi yang tampak dalam diri suatu generasi manusia; dan Islam adalah harapan kemanusiaan yang abadi yang terlihat di alam nyata yang hidup di atas bumi!"11

Selain itu, gaya bahasanya juga memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki penulis lain; beliau tidak berbicara kepada kelompok tertentu dari kalangan cendekiawan atau spesialis di bidang-bidang keilmuan tertentu, yang beliau ajak bicara adalah seorang Muslim yang berwawasan tanpa memedulikan spesialisasinya. Oleh karena itu, beliau menghindari istilah-istilah ilmu dan seni yang bisa menjadi penghalang orang yang tidak berspesialisasi untuk memahami pemikirannya. Hal ini adalah sebuah keistimewaan yang menjadikan buku- bukunya sebagai mata-mata air yang segar yang menjadi tujuan pemuda Islam dengan beragam tingkatan dan spesialisasinya.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa Fi Zhilalil Qur’an memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Di antaranya:

1. Kekuatan membawa kita tenggelam sambil menyelami ilmu dan hikmah yang ada di dalam Al-Qur’an dengan penuh kenikmatan yang tidak mungkin digambarkan dengan kata-kata.

2. Kekuatan megikat dan merajut ayat-ayat Al-Qur’an dengan Hadits Rasul Saw. serta Sirah Nabawiyah dan para Sahabatnya, kemudian dikaitkan dengan sitausi dan kondisi kekinian (w aqi’J.

3. Kekuatan membangkitkan keyakinan (keimanan), optimisme pada rahmat dan pertolongan Allah dan rasa percaya diri sebagai umat terbaik yang Allah hadirkan ke atas bumi ini.

4. Kekuatan menggugah pikiran dan perasaan kita sehingga muncul berbagai inspirasi, ide, gagasan dan berbagai pertanyaan yang paralel dengan situasi dan kondisi yang kita lewati sekarang, sehingga kita memahami dengan tepat situasi dan kondisi tersebut dengan ide solusi yang jelas pula.

5. Kekuatan pencerahan yang luar biasa terkait hakikat Tuhan, manusia, kehidupan dunia, alam semesta, kehidupan akhirat, jahiliyah dan Islam.

6. Kekuatan penelaahan yang sangat luar biasa dalam hal hakikat Islam dan Jahiliyah, iman dan kufur, serta keunggulan manhaj (konsep) Islam dibandingkan dengan konsep jahiliyah, baik dulu maupun yang ada sekarang yang datang dari Barat maupun Timur.

3. Relevan Dengan Zaman

Di zaman tafsir F i Z hilil Qur ’an ditulis (sebagian besarnya ditulis Sayyid Quthb di Penjara Mesir), nyaris sulit membedakan antara al-Haq (kebenaran yang datang dari Allah) dan al-Bathil (kebatilan yang datang

dari manusia dan setan). Penjajah dengan segala pemikirannya menjadi tuan dan bahkan tuhan yang harus ditaati. Sedangkan penduduk negeri asli yang Muslim menjadi asing dan tamu di negeri sendiri. Antara Tauhid dan Syirik sudah nyaris tanpa beda. Antara iman dan kufur sudah tidak banyak lagi dibicarakan. Antara hati nurani, pikiran sehat dan hawa nafsu sudah samar. Antara carahaya dan kegelapan sudah tidak lagi menjadi perhatian. Bahkan antara Tuhan Pencipta (Allah) dengan berhala-berhala yang disembah, baik dalam bentuk manusia, sistem hidup, tradisi nenek moyang, akal, ilmu pengetahuan, teknologi, patung, uang, jabatan, dan sebagainya sudah tidak dihiraukan.

Bahkan, penguasa-penguasa dunia Islam saat itu dengan mudahnya memaksakan kepada umat ini untuk menerima dan mengakui yang hak menjadi batil, yang batil menjadi hak, yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal. Lebih dari itu, ulama dan para aktivis dakwah yang menyuarakan al-Haq itu adalah Al-H aq dan al-B athil itu adalah al-Bathil dimusuhi, dituduh dengan berbagai tuduhan yang mengerikan, lalu ditangkap, dipenjara dan bahkan Sayyid Quthb sendiri dibunuh di tiang gantung rezim Jamal Abdul Naser

Dalam situasi dan kondisi seperti itulah Fi Zhilalil Qur ’an ditulis dan disebarkan. Sejak Fi Zhilal diterbitkan sampai hari ini, ia tetap menjadi rujukan beijuta-juta umat Islam dan bahkan oleh para ulama

sendiri di seluruh penjuru dunia. Atau dengan kata lain, Fi Zhilal tetap menjadi best seller sejak diluncurkan sampai hari ini.

F i Zhilalil Q u r’an menjadi rujukan utama saat ini karena situasi dan kondisi kita sekarang tidak jauh berbeda dengan situasi dan kondisi saat F i Zhilal ditulis sekitar 45 tahun lalu. Bahkan jahiliyahwyz.p\xn masih itu-itu juga. Ingkar pada Allah dan Rasul-Nya. Tidak mau menjadikan Al-Qur’an sebagai the way o f life. Mempertuhankan akal, ilmu pengetahuan, teknologi, harta dan kedudukan. Berbagai kejahatan dan kezaliman yang timbul akibat jauh dari m anhaj Al-Qur’anpun juga masih sangat terasa seperti saat Fi Zhilal diluncurkan. Alangkah miripnya zaman kini dengan masa itu.

Di samping keistimewaan-keistimewaan penulisan dan karakter- karakter tema serta sastranya, di sini penulis juga menambahkan sikap- sikapnya yang menyejarah dan menakjubkan, serta fikrah yang diterangkan dan dijelaskan. K arena itu, karya-karya dan ide-idenya m em iliki gaung yang membahana dan kehidupan yang abadi, sehingga orang-orang pun berbondong-bondong untuk membaca kembali buku- bukunya, seakan-akan buku-buku itu baru saja dituliskan.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Dari berbagai uraian diatas terkait dengan konsep strategi pendidikan Tauhid menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, penulis dapat menarik suatu kesimpulan sebagai b e rik u t:

1. Sayyid Quthb adalah salah satu dari para perintis kebangkitan Islam, yang menulis di balik jeruji penjara dan mati karena mempertahankan keyakinannya. Sayyid Quthb (1906-1966) lahir di Musha,Asyut, Mesir. Putra Ibrahim Husain Sadhili. Bentuk tubuhnya kecil, kulitnya hitam, dan bicaranya lembut. Oleh teman-teman sezamannya ia dikenal sangat sensitif, serius, dan mengutamakan persoalan, tanpa rasa humor. Kesuraman dan kerumitan yang dihadapinya, menjadi faktor yang membuatnya lebih peka terhadap apa yang dialaminya. Ia seorang tokoh yang mempunyai bakat-bakat intuitif. Ia salah seorang penulis kontemporer yang terus terang, apresiasi alqurannya estetis, ramah dengan masyarakat seputarnya di mesir, serta mempunyai pengalaman langsung atas kerusakan selama dua tahun tinggal di amerika serikat.

2. Strategi Pendidikan Tauhid Sayyid Quthb adalah pendidikan yang menekankan pada akidah dan tauhid yaitu yang menekankan pada iman kepada Allah SWT beserta seluruh sifat-sifatnya. Iman yang tidak hanya dalam satu aspek saja saja tetapi menyangkut semua aspek kehidupan,

Sayyid Quthb dalam Tafsir F i Zhilalil Quran terutama pada surat Al-Baqarah mengatakan bahwa umat islam harus belajar pada umat-umat terdahulu dan tidak mengikuti jejak umat yang salah. Di sana di gambarkan bagaimana umat yahudi dan nasrani melakukan pengingkaran terhadap nabi yang di utus kepada mereka bukan hanya mengingkari nabi dan ajaran yang dibawa tetapi mereka juga mengingkari Allah SWT dengan menyembah berhala.

3. Strategi Pendidikan Tauhid Sayyid Quthb masih relevan untuk digunakan sampai saat ini karena situasi dan kondisi kita sekarang tidak jauh berbeda dengan situasi dan kondisi saat Fi Zhilal ditulis sekitar 45 tahun lalu. Bahkan jahiliyahnyapun masih itu-itu juga. Ingkar pada Allah dan Rasul- Nya. Tidak mau menjadikan Al-Qur’an sebagai the way o f life. Mempertuhankan akal, ilmu pengetahuan, teknologi, harta dan kedudukan. Berbagai kejahatan dan kezaliman yang timbul akibat jauh dari manhaj Al-Qur’anpun juga masih sangat terasa seperti saat Fi Zhilal diluncurkan. Alangkah miripnya zaman kini dengan masa itu.

B. Saran dan Kritik