BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.1 Karakteristik subyek penelitian
Tabel 4.1.1 Distribusi frekuensi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin n %
Laki – laki Perempuan
76 33
69,7 30,3
TOTAL 109 100
Dari tabel diatas dijumpai penderita karsinoma nasofaring di RSUP H.
Adam Malik Medan paling banyak diderita oleh pria dibandingkan wanita.
Jumlah penderita karsinoma nasofaring pada pria sebanyak 76 orang dan wanita sebanyak 33 orang.
Tabel 4.1.2 Distribusi frekuensi penderita karsinoma nasofaring
Tabel 4.1.3 Distribusi frekuensi karsinoma nasofaring berdasarkan keluhan utama
Adam Malik Medan berdasarkan keluhan utama paling banyak adalah benjolan dileher sebanyak 89 penderita (81,6%), dan yang paling sedikit
Tabel 4.1.4 Distribusi frekuensi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan histopatologi
Tipe Histologi n %
Tipe 1:keratinizing squamous cell carcinoma
Tipe 2: non-keratinizing squamous cell carcinoma
Dari tabel diatas dijumpai penderita karsinoma nasofaring di RSUP H.
Adam Malik Medan berdasarkan tipe histologi paling banyak terdapat pada tipe non keratinizing scc sebanyak 76 penderita (69,7%), dan yang terendah pada tipe keratinizing scc sebanyak 11 penderita (10,1%).
Tabel 4.1.5 Distribusi frekuensi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan massa tumor sebelum kemoradioterapi
Dari tabel di atas dijumpai penderita karsinoma nasofaring di RSUP H.
Adam Malik Medan memiliki massa tumor terbanyak sebelum kemoradioterapi pada T2 sebanyak 40 penderita (36,7%), dan yang terendah pada T4 sebanyak 10 penderita (9,2%).
Tabel 4.1.6 Distribusi frekuensi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan besar kelenjar getah bening sebelum kemoradioterapi
Besar Kelenjar Getah Bening n %
Dari tabel diatas dijumpai penderita karsinoma nasofaring di RSUP H.
Adam Malik Medan berdasarkan besar kelenjar getah bening paling banyak terdapat pada N3 sebanyak 41 penderita (37,6%), dan yang terendah pada N0 sebanyak 5 penderita (4,6%).
Tabel 4.1.7 Distribusi frekuensi karsinoma nasofaring berdasarkan stadium
Dari tabel diatas dijumpai penderita karsinoma nasofaring di RSUP H.
Adam Malik Medan berdasarkan stadium paling banyak adalah stadium III sebanyak 48 penderita (44 %), dan diikuti dengan stadium IVb sebanyak 41 penderita (37,6 %).
4.2. Response rate Penderita Karsinoma Nasofaring Post Kemoradioterapi
Tabel 4.2.1 Response rate Penderita Karsinoma Nasofaring Post Kemoradioterapi paling sedikit memiliki respon progresif yaitu 5 penderita (4,6 %).
Tabel 4.2.2 Tabulasi Silang Response Rate Penderita Karsinoma Nasofaring Tipe Undifferentiated Berdasarkan Jenis Terapi
Terapi
Pada penderita karsinoma nasofaring tipe undifferentiated tampak bahwa dari 3 subjek yang memperoleh radioterapi terdapat 1 subjek (33,3%) dengan respon komplit. Dengan kemoterapi konkomitan seluruhnya (100%) dengan Response rate komplit. Sementara itu, tidak satupun
subjek dengan Response rate komplit pada kemoterapi dengan teknik neoadjuvan dan full-dose.
Tabel 4.2.3 Tabulasi Silang Response Rate Penderita Karsinoma Nasofaring Tipe Keratinizing Squamous Cell Carcinoma Berdasarkan Jenis Terapi
Terapi
Response rate Komplit
n (%)
Parsial n (%)
Progresif n (%)
Stabil n (%)
Konkomitan 1 100 0 0 0 0 0 0
Neo-Adjuvan 0 0 1 100 0 0 0 0
Full-Dose
Kemoterapi 0 0 1 12,5 2 25 5 62,5
Pada penderita karsinoma nasofaring tipe keratinizing squomous cell carcinoma tampak bahwa subjek yang memperoleh kemoterapi konkomitan seluruhnya (100%) dengan Response rate komplit. Subjek yang memperoleh kemoterapi neoadjuvan seluruhnya (100%) dengan Response rate parsial. Dari 8 subjek yang memperoleh full-dose kemoterapi terdapat 1 subjek (12,5%) dengan Response rate parsial, 2 subjek (25%) dengan Response rate progresif dan 5 subjek (62,5%) dengan Response rate stabil.
Tabel 4.2.4 Tabulasi Silang Response Rate Penderita Karsinoma Nasofaring Tipe Non - Keratinizing Squamous Cell Carcinoma Berdasarkan Jenis Terapi
Pada penderita karsinoma nasofaring tipe non-keratinizing squomous cell carcinoma tampak bahwa subjek yang memperoleh radioterapi seluruhnya (100%) dengan Response rate komplit. Subjek yang memperoleh kemoterapi konkomitan dengan 19 subjek didapatkan 14 subjek (73%) dengan Response rate komplit dan 5 subjek (27%) dengan Response rate parsial. Sementara subjek yang memperoleh kemoterapi neoadjuvan seluruhnya (100%) dengan Response rate parsial.
Sedangkan dari 19 subjek yang memperoleh full-dose kemoterapi terdapat 6 subjek (33,3%) dengan Response rate parsial, 3 subjek (16,7%) dengan Response rate progresif dan 10 subjek (50%) dengan Response rate stabil.
Tabel 4.2.5 Hubungan Response rate Penderita Karsinoma Nasofaring Tipe Undifferentiated Terhadap Stadium Tumor
Stadium dengan stadium dini. Sedangkan penderita dengan stadium lanjut terbanyak dijumpai Response rate parsial. Secara statistika dijumpai hubungan bermakna antara Response rate penderita karsinoma nasofaring tipe undifferentiated terhadap stadium tumor ( P=0,004, P<0,05 ).
Tabel 4.2.6 Hubungan Response rate Penderita Karsinoma Nasofaring Tipe Keratinizing Squamous Cell Carcinoma Terhadap Stadium Tumor Penderita Karsinoma Nasofaring Tipe Keratinizing Squamous Cell Carcinoma terbanyak pada stadium lanjut, Sedangkan pada penderita
statistika tidak terdapat hubungan Response rate terhadap stadium tumor pada penderita Karsinoma Nasofaring Tipe Keratinizing Squamous Cell Carcinoma ( P=1,000, P>0,05 ).
Tabel 4.2.7. Hubungan Response rate Penderita Karsinoma Nasofaring Tipe Non - Keratinizing Squamous Cell Carcinoma Terhadap Stadium Tumor
Stadium
Response rate
Komplit P Parsial n (%)
Progresif Stabil n (%)
Dini 11 100 0 0 0,194٭
Lanjut 53 80.3 13 19.7 ٭Fisher’s Exact
Dari tabel diatas, dijumpai Response rate komplit/parsial terbanyak pada penderita dengan stadium lanjut dibandingkan stadium dini. Secara statistika tidak dijumpai hubungan bermakna antara Response rate penderita karsinoma nasofaring tipe non-keratinizing squamous cell carcinoma terhadap stadium tumor ( P=0,194, P>0,05 ).
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Penderita Nasofaring
Jenis kelamin penderita karsinoma nasofaring dalam penelitian ini paling banyak terdapat pada laki-laki yaitu sebanyak 76 penderita (69,7%). Dari survei didunia yang dilakukan tahun 2012, terdapat 87.000 kasus baru karsinoma nasofaring (KNF) muncul setiap tahunnya. Dijumpai 61.000 kasus baru pada laki-laki dan 26.000 kasus baru pada perempuan.
Hal ini dikarenakan jumlah perokok pada laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Dari data tersebut 51.000 kematian akibat KNF, yang mencakup 36.000 laki-laki, dan 15.000 perempuan. Rasio KNF pada pria dan wanita adalah 2.18:1 (Ferlay, 2012). Perbandingan penderita laki-laki dengan perempuan adalah 1,2 : 1. Penelitian Yenita dan Asri (2010) di Sumatera Barat mendapatkan perbandingan 2 : 1.Di Amerika Serikat didapatkan angka perbandingan 2 .KNF selalu lebih tinggi ditemukan pada laki. Belum ditemukan secara pasti penyebab tingginya penderita laki-laki daripada perempuan pada kanker ini. Laki-laki-laki mungkin cenderung lebih sering terpapar zat-zat karsinogen di lingkungan kerjanya dibanding perempuan sehingga lebih berisiko untuk menderita kanker.
Usia penderita karsinoma nasofaring terbanyak yang ditemukan dalam penelitian ini adalah pada kelompok umur 40-49 tahun yaitu sebanyak 40 penderita (36,7%). Hal ini sama dengan penelitian Cottrill yang menyatakan insiden KNF di daerah Asia Selatan, insidensi meningkat sejak usia 20 tahun dan mencapai puncak pada dekade IV dan dekade V (Cottrill & Nutting, 2003). Usia insidensi KNF berbeda dengan kanker lainnya. Di Cina, KNF mulai muncul usia 15-19 tahun. Pada pria, KNF sering ditemukan pada usia 15-34 tahun dan mencapai puncaknya usia 35-64 tahun kemudian menurun setelah usia tersebut (Chew, 1997).
Pada penelitian di RSUD dr. Soetomo Surabaya mendapat insiden tertinggi pada kelompok umur 51-60 tahun yaitu 30.23% dikuti kelompok umur 41-50 tahun yaitu 24.03% dari 129 kasus (Hadi dan Kusuma, 1999).
Penelitian lainnya di RSUP H. Adam Malik Medan seperti penelitian serial kasus pada 2003 mendapatkan insiden tertinggi pada usia 40-49 tahun sebanyak 40% dari 130 kasus (Lutan, 2003). Penelitian pada 2011 mendapatkan insidensi tertinggi pada kelompok umur 51-60 tahun sebanyak 26.5% dari 335 kasus (Puspita, 2011). KNF dapat terjadi pada setiap usia namun yang tertinggi pada usia antara 45-54 tahun, namun dalam 2 dekade terakhir dilaporkan peningkatan kasus kejadian pada usia lebih muda (Kelompok studi onkologi, 2015). Pada penelitian ini secara keseluruhan didapatkan kisaran umur antara 17 – 75 tahun. Penderita berumur dibawah 20 tahun tergolong rendah yaitu 4,54%. Di Departemen IKA RSCM, KNF berada pada urutan ke-10 dan berkontribusi 2% (24 dari 1194 pasien) seluruh kanker pada anak tahun 2004-2009.KNF pada anak diduga berkaitan erat dengan peran infeksi EBV. Peningkatan titer antibodi immunoglobulin G dan A (IgG dan IgA) terhadap antigen kapsid viral ditemukaan pada pasien KNF. Adanya faktor genetik, lingkungan dan kebiasaan hidup, dan infeksi berperan sebagai kontributor dominan terhadap kejadian KNF ini masih memerlukan penelitian lanjut (Chew,1997).
Gejala penderita karsinoma nasofaring terbanyak yang ditemukan dalam penelitian ini adalah benjolan dileher yaitu sebanyak 89 penderita (81,6%). KNF memiliki kecenderungan untuk cepat menyebar ke kelenjar getah bening leher. Kelenjar limfe retrofaringeal lateral (rouviere nodes) merupakan filter kelenjar yang pertama, namun tidak dapat di palpasi.
Kelenjar yang paling sering pertama kali dapat di palpasi adalah kelenjar jugulodigastrik dan/atau nodul apikal di bawah sternomastoid. Metastase kelenjar limfe bilateral dan kontralateral sering dijumpai (Chew, 1997).
Massa di leher merupakan gejala klinis terbanyak yang ditemukan pada penderita sebesar 90,91%. Massa di leher menunjukkan telah terjadinya perluasan tumor ke kelenjar getah bening (KGB). KNF biasanya menyebar melalui limfe ke KGB leher. Aliran limfatik dari Fossa Rossenmuller mengalir ke Nodus Rouvier sampai ke ruang retrofaringeal dan berlanjut ke KGB leher atas dalam. Hal ini menjelaskan bahwa massa di leher sering menjadi gejala klinis dari KNF yang membuat pasien berobat ke dokter karena gejala inilah yang dapat terlihat oleh pasien dan membuat ketidaknyamanan pada pasien. Kanker ini akan menyebar melalui aliran darah ke daerah yang jauh seperti tulang, paru dan hati.
Obstruksi hidung dikarenakan massa tumor yang telah menginvasi rongga hidung atau sinus paranasal. Massa tumor yang awalnya tumbuh di daerah Fossa Rossenmuller biasanya akan menginfiltrasi daerah tuba eustachius di dekatnya dan menyebabkan penyumbatan tuba dan bermanifestasi klinis terhadap menurunnya pendengaran. Kesulitan dalam menelan biasanya dikarenakan massa tumor yang telah menginvasi daerah orofaring dan menekan saraf daerah tenggorok. Sakit kepala biasanya diakibatkan oleh gejala neurologis yang diikuti gejala mata pada KNF akibat inflasi tumor ke daerah otak, mata dan juga gejala psikologis yang diakibatkan tumor (William, 2014).
Pasien KNF mempunyai satu atau lebih dari empat gejala. Gejala KNF
ke kelenjar getah bening. Massa tumor dinasofaring dapat mengakibatkan obstruksi hidung dan adanya discharge. Pada tumor yang kecil, obstruksi hidung terjadi unilateral namun bila tumor membesar, obstruksi menjadi bilateral. Ketika tumor mengalami ulserasi dapat terjadi epistaksis.
Epistaksis biasanya ringan dan bercampur discharge sebagai post nasal drip terutama pagi hari (Kelompok studi onkologi, 2015).
Tumor sebagian besar di nasofaring dengan atau tanpa perluasan ke posterolateral ke paranasofaringeal space dan ini biasanya menyebabkan disfungsi tuba Eustachius. Ini dapat menyebabkan cairan terkumpul di kavum timpani sehingga pasien dapat mengeluh konduktif hearing loss unilateral, otitis media dan gejala otologi lainnya. Infiltasi tumor ke superior skull base akan menyebabkan sakit kepala, infiltasi tumor ke sinus kavernosus dan ventrikel lateralis, ventrikel ketiga dan ventrikel keempat juga nervus VI maka akan terjadi diplopia. Apabila tumor tumbuh kearah foramen ovale, nervus V akan terkena dan mengakibatkan facial pain dan gangguan anestetik (Kelompok studi onkologi, 2015).
Histopatologi penderita karsinoma nasofaring terbanyak yang ditemukan dalam penelitian ini adalah non keratinizing squamous sel karsinoma yaitu sebanyak 76 penderita (69,7%). Hal ini sama dengan penelitian Puspita yang menyatakan frekuensi histopatologi tertinggi adalah sel skuamosa tanpa kreatinisasi 46.6% dari 335 kasus (Puspita, 2011). Epitel sel malignansi pada KNF adalah khas berupa polyglonal yang besar deengan sintitial. Nukleusnya berbentuk oval dengan sedikit kromatin dan nukleolus yang jelas. Sel ini sering bersama dengan sel limfosit dinasofaring (William, 2014).
Penelitian Yenita dan Asri (2010) terhadap kasus KNF di Sumatera Barat berdasarkan WHO 1978 mendapat- kan WHO-3 sebagai tipe terbanyak sebesar 68%. WHO-3 merupakan undifferentiated carcinoma, yang mana karsinoma anaplastik masuk kedalam tipe ini. Sementara dalam klasifikasi WHO 1991, tipe WHO-3 masuk ke dalam jenis
perbedaan angka, terlihat bahwa nonkeratinizing carcinoma-undifferentiated type merupakan tipe histopatologi yang terbanyak ditemukan pada KNF. Tumor rongga mulut, tumor rongga hidung dan tumor laring yang diyakini berhubungan dengan konsumsi rokok dan alkohol, lebih dari 75% merupakan karsinoma sel skuamosa.
Undifferentiated type merupakan yang terbanyak dalam prevalensi KNF di Asia Tenggara dan beberapa daerah dengan insiden KNF yang tinggi, dan sangat berhubungan dengan infeksi EBV. Sedangkan keratinizing SCC dapat juga dihubungkan dengan EBV di daerah endemik, dan banyak terdapat di daerah non-endemik seperti Amerika, yang sering dihubungkan dengan perokok dan pecandu alkohol.
Ukuran tumor penderita karsinoma nasofaring terbanyak yang ditemukan dalam penelitian ini adalah pada kelompok T2 yaitu sebanyak 40 penderita (36,7%) sedangkan besar kelenjar getah bening penderita karsinoma nasofaring terbanyak ditemukan dalam penelitian ini adalah pada kelompok N3 yaitu sebanyak 41 penderita (37,6%). Tanda dan gejala awal KNF tidak khas dan tidak spesifik dan nasofaring merupakan area yang sulit diperiksa. Sehingga KNF sering didiagnosis saat stadium lanjut, dimana ukuran dan kelenjar getah bening pasien telah datang dengan ukuran cukup besar (Plant, 2009).
Menurut Ali dan Al Syarraf (1999), 80%- 90% penderita KNF disertai dengan limfadenopati servikal. Sebagian besar (60%-95%) penderita KNF datang berobat di klinik sudah stadium lanjut lokal (locoregionally advanced) atau stadium III-IV menurut UICC 1997. Metastasis jauh diketemukan pada 35% penderita KNF pasca radioterapi dengan median interval 9 bulan setelah diagnosis ditegakkan (Wee et al, 1997). Hasil penelitian di HongKong menemukan metastatic rate sekitar 15%-57%.
Angka - angka ini lebih kecil dari kenyataan sebenarnya, oleh karena kebanyakan metastasis jauh tidak terdeteksi. Dari 3 seri publikasi berdasarkan hasil otopsi penderita KNF yang meninggal, diketemukan
mengalami metastasis jauh yang asymptomatic. Sebagian besar (78%) dari metastasis jauh ditegakkan setelah 18 bulan munculnya gejala pertama. Fakta ini menunjukkan bahwa KNF sebenarnya merupakan penyakit sistemik. Oleh karena itu, terapi KNF harus ditujukan untuk mematikan tumor loko-regional dan mikrometastasis (Tan et al, 1997).
Stadium penderita KNF pada penelitian ini yang terbanyak adalah stadium III sebanyak 48 penderita (44 %), dan diikuti dengan stadium IVb sebanyak 41 penderita (37,6 %). Dikarenakan diagnosa klinis KNF sulit karena letak nasofaring yang tersembunyi, sehingga sebagian besar penyakit sudah berkembang menjadi stadium lanjut pada saat pertama kali ditemukan. Sering terjadi kesalahan diagnose awal karena tidak jelasnya gejala dan sulitnya pemeriksaan pada nasofaring. Sebanyak 80% penderita KNF datang ke RSUD Dr. Soetomo pada stadium III dan IV. Sedangkan penderita yang datang berobat di RSUD Dr. Saiful Anwar dijumpai 0.81% (stadium I), 4.88% (stadium II), 38.21% (stadium III) dan 56.10% pada stadium IV (Fransisca, 2012). Tanda dan gejala awal KNF tidak khas dan tidak spesifik dan nasofaring merupakan area yang sulit diperiksa. Sehingga KNF sering didiagnosis saat stadium lanjut, dimana ukuran dan kelenjar getah bening pasien telah datang dengan ukuran cukup besar (Plant, 2009).
5.2 Response rate Penderita Karsinoma Nasofaring Post Kemoradioterapi
Radioterapi sebagai gold standard untuk KNF sudah dimulai sejak lama (sekitar tahun 1930-an). Hasil radioterapi untuk KNF dini sebenarnya cukup baik, respon lengkap sekitar 80%-100%. Sedangkan untuk KNF stadium lanjut loko-regional, respon radioterapi menurun tajam dengan angka ketahanan hidup 5 tahun yang kurang dari 40% (Tan et al, 1997;
Prasad, 2000). Respon tumor terhadap radioterapi secara keseluruhan
konvensional (2 dimensional radiation therapy / 2 DRT) dalam memberantas (eradikasi) sel kanker di nasofaring maupun anak sebarnya di kelenjar leher (loco-regional failure) mencapai angka 40%-80%. Selain itu, pasca radioterapi cukup sering dijumpai metastasis jauh (15%-57%).
Menurut Wee et al (1997) pasca radioterapi pada KNF dengan T1 diketemukan metastasis jauh sebesar 31%, T2 : 34%, T3 : 38% dan T4 sebesar 60%. Bila berdasarkan ukuran besarnya di leher maka pasca radioterapi penderita KNF dengan N0 diketemukan metastasis jauh sebesar 16%, N1 28%, N2 37% dan N3 sebesar 57%. Angka rekurensi tumor setelah 5 tahun mendapat radioterapi dilaporkan masih cukup tinggi yaitu 19%-56% (To et al, 2002). Disamping angka kegagalan kontrol loko-regional yang tinggi dan systemic failure, radioterapi tidak dapat digunakan untuk membunuh sel-sel ganas yang tersebar diberbagai organ tubuh. Oleh karena hasil radioterapi pada KNF khususnya stadium lanjut (III, IV) yang masih kurang memuaskan, para ahli berupaya mencari cara untuk meningkatkan kontrol lokoregional dan sistemik, sekaligus meningkatkan longterm cure rates atau survival rate (Kentjono, 2003).
Response rate penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik post kemoradioterapi paling banyak memiliki respon parsial yaitu sebanyak 69 penderita (63,3%). Hal ini memiliki perbedaan dengan penelitian pada 31 pasien KNF di RS Adi Husada Surabaya mengatakan, kelompok yang mendapat radioterapi dosis 6000-7000 cGy (13 pasien) didapatkan respon lengkap 61% dan respons sebagian 39%. Sedangkan kelompok lainnya (18 pasien) yang mendapat kemoterapi adjuvan (MTX 50 mg dan 5-FU 500 mg per infus hari 1 - 4, diulang tiap 4 minggu sampai 6 seri) didapatkan RL sebesar 82% dan RS sebesar 18% (Kentjono, 2003).
Pada penelitian dijumpai hubungan bermakna antara Response rate penderita karsinoma nasofaring tipe undifferentiated terhadap stadium
Hasil penelitian meta analisis terhadap 1608 penderita KNF dalam 7 penelitian telah mengkonfirmasi superioritas kemoterapi konkuren dibanding radioterapi secara tunggal, didapatkan rata-rata angka kelangsungan hidup hingga 3 tahun (Perri et al, 2011). Pada diskusi panel para pakar THT-KL di Brunei Darussalam (10 ASEAN ORL Head & Neck Surgery Congress) terjadi perdebatan seru mengenai cara terbaik menangani KNF loko-regional lanjut Menurut Chan (2003) dari HongKong, yang terbaik adalah kemo-radioterapi konkuren. Menurut Prasad ((2003) dari Malaysia yang terbaik adalah radioterapi yang dilanjutkan dengan kemoterapi adiuvan. Sedangkan menurut Lee (2003) dan Teo (2003) dari HongKong yang terbaik adalah kemo-radioterapi konkuren yang kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi adjuvan. Mengenai kemoterapi yang digunakan telah disepakati sebaiknya menggunakan kombinasi Cisplatin dan 5- Fluorouracil. Dianjurkan radioterapi menggunakan pesawat radioterapi generasi paling baru. Menurut Teo (2003) radioterapi KNF yang paling baik dengan IMRT, disusul kemudian 3 DRT lalu 2 DRT.
Integrated chemo-radiotherapy yang diberikan dapat berupa kemo-radioterapi konkuren yang kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi adjuvan, atau radioterapi yang kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi adjuvan. Meskipun beberapa sitostatika generasi baru (Paclitaxel, Gemcitabine) dilaporkan hasil berupa overall response rate yang lebih tinggi, para ahli masih sering menggunakan cisplatin based chemotherapy terutama kombinasi Cisplatin dan 5-Fluorouracil untuk mengobati penderita KNF stadium loko-regional lanjut.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan pada penderita karsinoma nasofaring di Divisi Onkologi – Bedah Kepala Leher T.H.T.K.L RSUP H. Adam Malik Medan 2014-2016, didapatkan bahwa :
1. Usia penderita karsinoma nasofaring terbanyak yang ditemukan dalam penelitian ini adalah pada kelompok umur 40-49 tahun yaitu sebanyak 40 penderita (36,7%)
2. Jenis kelamin penderita karsinoma nasofaring dalam penelitian ini paling banyak terdapat pada laki-laki yaitu sebanyak 76 penderita (69,7%).
3. Gejala penderita karsinoma nasofaring terbanyak yang ditemukan dalam penelitian ini adalah benjolan dileher yaitu sebanyak 89 penderita (81,6%).
4. Histopatologi penderita karsinoma nasofaring terbanyak yang ditemukan dalam penelitian ini adalah non keratinizing squamous sel karsinoma yaitu sebanyak 76 penderita (69,7%).
5. Ukuran tumor penderita karsinoma nasofaring terbanyak yang ditemukan dalam penelitian ini adalah pada kelompok T2 yaitu sebanyak 40 penderita (36,7%)
6. Besar kelenjar getah bening penderita karsinoma nasofaring terbanyak ditemukan dalam penelitian ini adalah pada kelompok N3 yaitu sebanyak 41 penderita (37,6%)
7. Response rate pasien terbanyak pada penelitian ini adalah yang memiliki repon parsial yaitu sebanyak 69 penderita (63,3%).
8. Pada penderita karsinoma nasofaring tipe undifferentiated tampak bahwa dari 3 subjek yang memperoleh radioterapi terdapat 1 subjek (33,3%) dengan respon komplit
9. Pada penderita karsinoma nasofaring tipe keratinizing squomous cell carcinoma dari 8 subjek yang memperoleh full-dose kemoterapi terdapat 1 subjek (12,5%) dengan Response rate parsial, 2 subjek (25%) dengan Response rate progresif dan 5 subjek (62,5%) dengan Response rate stabil
10.Pada penderita karsinoma nasofaring tipe non-keratinizing squomous cell carcinoma Subjek yang memperoleh kemoterapi konkomitan dengan 19 subjek didapatkan 14 subjek (73%) dengan Response rate komplit dan 5 subjek (27%) dengan Response rate parsial
11.Dijumpai hubungan bermakna antara Response rate penderita karsinoma nasofaring tipe undifferentiated terhadap stadium tumor
6.2 Saran
1. Perlunya penelitian lanjutan mengenai bagaimana karakteristik-karakteristik yang telah dilaporkan dapat berhubungan dengan kejadian karsinoma nasofaring, dalam rangka memberi gambaran yang lebih jelas tentang faktor risiko terjadinya karsinoma nasofaring.
2. Perlunya penelitian lanjutan mengenai hubungan Response rate pada penderita KNF post kemoradioterapi berdasarkan jenis dan regimen obat kemoterapi yang digunakan.
3. Diharapkan rekam medis pasien dapat dilengkapi lebih baik lagi agar didapatkan informasi yang lebih banyak lagi pada kasus karsinoma nasofaring.
DAFTAR PUSTAKA
Adham M. Nasopharyngeal carcinoma in Indonesia:
epidemiology, incidence, signs, and symptoms at presentation. 2012. Chin J Cancer 31(4).
Ahmad A. Diagnosis dan tindakan operatif pada penatalaksanaan karsinoma nasofaring. Di dalam Simposium Perkembangan Multimodalitas Penatalaksanaan Kanker Nasofaring dan Pengobatan Suportif. 2002.
Jakarta:FK-UI.
Amene, C., Cosetti, M., Ambekar, S., Guthikonda, B. and Nanda, A. 2013. Johann Christian Rosenmüller (1771-1820): A Historical Perspective on the Man behind the Fossa. J Neurol Surg B Skull Base, 74(4), pp.187-93.
Asroel HA. Penatalaksanaan Radioterapi Pada Karsinoma Nasofaring. 2002.USU digital library : Bagian Tenggorokan Hidung danTelinga.
Bambang SS. Diagnostik dan Pengelolaan Kanker Telinga, Hidung, Tenggorok dan Kepala Leher. 1992. Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Chan J, PIlch B, Kuo T, Wenig B, Lee A. Tumours of the nasopharynx. In Barnes L EJRPSD, editor. WHO classification of tumours: head & neck tumours. 2005. Lyon:
IARC Press. pp.81 - 106.
Chan JKC, Bray F, McCarron P. Nasopharyngeal carcinoma. In:
Leon Barnes, editor. Patology & genetics head and neck tumour, WHO classification of tumours. 2000. Lyon: IARC
Chang TE AH. The enigmatic epidemiology of nasopharyngeal carcinoma. 2006 Oktober. Cancer Epidemiology Biomarkers Prev 15(10).
Chang, ET dan Adami HO. The enigmatic epidemiology of NPC.
2006.Cancer Epidemiol Biomarkers Prev (15):1765-77
Chew CT. „Nasopharynx (the post nasal space)‟.Scott-Brown’s Otolaryngology.Vol.5, 6th edition. 1997. Butterworth Heinemann, Oxford 5(13): pp.1-22.
Chiesa, F & De Paoli F. Distant metastasis fro nasopharyngeal cancer. 2001. ORL (63):214-6.
Cottril, CP. Nutting CM. Tumours of The Nasopharynx. Didalam Evans PHR, Montgomery PQ, Gullane PJ (ed). Principles and practice of Head and Neck Oncology. 2003. UK:Martin-Dunitz. pp.473-81
Deviana, Rahaju P, Maharani I. Hubungan response s terapi dengan kualitas hidup penderita karsinoma nasofaring WHO tipe III setelah terapi. 2016. ORLI Vol. 46 (2)
Ferlay J SIea. Cancer incidence and mortality worldwide:
sources, methods and major patterns in GLOBOCAN 2012.
2015. Int. J. Cancer: 13-6.
Firdaus MA & Prijadi J. Kemoterapi neoadjuvan pada karsinoma nasofaring, Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher, Fakultas kedokteran Universitas Andalas / RSUP Dr. M.Djamil Padang. 2009: pp 1-11.
Guigay J., Temam S., Bourhis J., Pignon J.P. & Armand JP.
the place of chemotherapy. 2006. Annals of Oncology 17 (10): x304–x307. doi:10.1093/annonc/mdl278.
the place of chemotherapy. 2006. Annals of Oncology 17 (10): x304–x307. doi:10.1093/annonc/mdl278.