• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.2. KarakteristikResponden

Responden dalam penelitian ini adalah seluruh penjual tahu goreng di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun yang berjumlah 6 orang.

Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, lokasi berjualan, tahun awal berjualan, dan lama berjualan/hari. Hasil penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini :

Tabel 4.1. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Lokasi Berjualan, Tahun Awal Berjualan, Lama Berjualan/Hari Di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

No. Karakteristik Jumlah

(orang)

4. Tahun Awal Berjualan

Mei 2011 1 16,7

Berdasarkan tabel 4.1. diatas menunjukkan bahwa proporsi umur untuk setiap satu orang penjual tahu goreng adalah (16,7%) karena tidak terdapat umur yang sama. Berdasarkan jenis kelamin, proporsi berjenis kelamin perempuan lebih banyak yaitu sebanyak 4 orang (66,7%) dibandingkan dengan yang berjenis kelamin laki-laki hanya 2 orang (33,3%). Berdasarkan pendidikan terakhir, proporsi pendidikan terakhir responden tertinggi adalah SMA yaitu sebanyak 4

orang (66,7%) dan terendah SMP yaitu sebanyak 2 orang (33,3%). Berdasarkan tahun awal berjualan, proporsi tahun awal berjualan masing-masing penjual adalah (16,7%) disebabkan para penjual tahu goreng memulai usaha dagangnya ditahun yang berbeda-beda. Berdasarkan lama berjualan/hari, proporsi lama berjualan/hari responden tertinggi adalah 9 jam/hari sebanyak 4 orang (66,7%) dan terendah 10 jam/hari yaitu sebanyak 2 orang (33,3%).

4.3. Hygiene Sanitasi Penjual Tahu Goreng

Penilaian hygiene sanitasi penjual tahu goreng dilakukan dengan wawancara dan observasi kepada responden. Berdasarkan hasil penelitian variabel hygiene sanitasi penjual dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini :

Tabel 4.2. Distribusi Hygiene Sanitasi Penjual Tahu Goreng Di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

No. Hygiene Sanitasi Penjual Tahu Goreng Ya Tidak

n % N %

1. Apakah bapak/ibu mencuci tangan sebelum melakukan pengolahan makanan

6 100,0 0 0 2. Apakah bapak/ibu pada saat mengolah makanan

menggunakan alat bantu (penjepit makanan)

6 100,0 0 0 3. Apakah bapak/ibu pada saat bekerja memakai celemek 3 50,0 3 50,0 4. Apakah bapak/ibu pada saat bekerja memakai penutup

kepala

4 66,7 2 33,3 5. Apakah bapak/ibu pada saat bekerja memakai sepatu

dapur

1 16,7 5 83,3

6. Apakah bapak/ibu merokok sambil bekerja 1 16,7 5 83,3

7. Apakah bapak/ibu menggunakan perhiasan saat bekerja (cincin, gelang serta jam tangan)

6 100,0 0 0 8. Apakah bapak/ibu sesudah keluar dari kamar mandi

mencuci tangan pakai sabun

5 83,3 1 16,7 9. Apakah bapak/ibu memakai pakaian kerja yang bersih

dan sarung tangan saat berjualan

2 33,3 4 66,7

Berdasarkan tabel 4.2. dapat diketahui bahwa mayoritas responden mencuci tangan sebelum melakukan pengolahan makanan dan menggunakan alat

6 orang (100,0%), akan tetapi responden masih banyak yang menggunakan perhiasan saat bekerja (cincin, gelang serta jam tangan) yaitu sebanyak 6 orang (100,0%) serta belum memakai celemek dan pakaian yang bersih saat berjualan tahu goreng yaitu sebanyak 2 orang (33,3%). Sesuai dengan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hygiene sanitasi penjual tahu goreng belum memenuhi standart hygiene sanitasi makanan dan dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini : Tabel 4.3. Distribusi Hygiene Sanitasi Penjual Tahu Goreng Di Kelurahan

Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016 No. Hygiene Sanitasi Penjual Tahu

Goreng

Dari Tabel 4.3. diketahui bahwa semua responden di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun memiliki hygiene sanitasi yang tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 6 orang (100,0%).

4.4. Hygiene Sanitasi Makanan

Distribusi responden berdasarkan pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan makanan jadi, pengangkutan makanan, dan penyajian makanan di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun dapat dilihat pada tabel 4.4 hingga tabel 4.10 berikut ini :

4.4.1. Pemilihan Bahan Baku Tahu Goreng

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan pada penjual tahu goreng dalam pemilihan bahan baku tahu dapat dilihat dalam tabel 4.4 berikut ini:

Tabel 4.4. Distribusi Penjual Tahu Goreng Berdasarkan Pemilihan Bahan Baku Tahu Goreng Yang Dijual di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

No. Pemilihan Bahan Baku Tahu Goreng Ya Tidak

n % N %

1. Bahan makanan yang digunakan dalam keadaan segar, utuh dan tidak busuk

6 100,0 0 0 2. Bahan makanan dibeli ditempat yang telah diawasi

oleh pemerintah (pasar, swalayan dan supplier berijin)

2 33,3 4 66,7

3. Bahan makanan bebas dari vector dan pencemaran kimia seperti pestisida

2 33,3 4 66,7

Berdasarkan tabel 4.4. diketahui bahwa pemilihan bahan baku tahu goreng menggunakan bahan makanan yang masih segar, utuh,dan tidak busuk (100,0%) diperoleh dari pasar yang diawasi pemerintah sebanyak 2 orang (33,3.%) dan diperoleh dari pasar yang tidak diawasi pemerintah sebanyak 4 orang (66,7%).

Mengenai vektor dan adanya pencemaran terhadap makanan, mayoritas penjual tahu goreng menggunakan bahan makanan yang bebas dari kedua-duanya yaitu sebanyak 4 orang (66,7%).

4.4.2. Penyimpanan Bahan Baku Tahu Goreng

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan mengenai penyimpanan bahan baku tahu goreng yang dilakukan oleh penjual tahu goreng dapat dilihat dalam tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.5. Distribusi Penjual Tahu Goreng Berdasarkan Penyimpanan Bahan Baku Tahu Yang Dijual di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

No. Penyimpanan Bahan Baku Tahu Goreng Ya Tidak

n % N %

1. Penyimpanan bahan makanan seperti tahu, garam dan minyak disimpan di tempat yang bersih dan terpisah

2 33,3 4 66,7

2. Penyimpanan bahan baku harus sesuai dengan suhu penyimpanan yaitu berkisar 4C-10C

6 100,0 0 0 3. Bahan makanan disimpan dalam aturan sejenis dan

bahan makanan yang disimpan lebih awal

digunakan terlebih dahulu dan sebaliknya (First In First Out)

0 0 6 100,0

4. Tempat penyimpanan tahu tertutup sehingga terhindar dari serangga dan vector penyakit

1 16,7 5 83,3

Berdasarkan tabel 4.5 diatas bahwa semua pedagang (100,0%) menyimpan bahan baku pembuaatan tahu goreng seperti tahu dan sayuran pada suhu 4-5oC dan masih banyak pedagang yang menyimpan bahan baku ditempat yang tidak terpisah dan tidak ditempat yang bersih sebanyak 4 orang (66,7%), di samping itu belum ada responden yang menyimpan bahan baku dalam aturan sejenis serta belum menerapkan sistem First In First Out ( bahan makanan yang disimpan lebih awal digunakan terlebih dahulu dan sebaliknya ).

4.4.3. Pengolahan Tahu Goreng

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan mengenai pengolahan tahu goreng yang dilakukan oleh pedagang tahu dapat dilihat dalam tabel 4.6 berikut:

Tabel 4.6. Distribusi Penjual Tahu Goreng Berdasarkan Pengolahan Tahu Goreng Yang Dijual di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

No. Pengolahan Tahu Goreng Ya Tidak

n % N %

1. Lantai tempat pengolahan makanan terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin dan mudah dibersihkan

0 0 6 100,0

2. Penerangan bebas silau dan tidak menimbulkan bayangan

0 0 6 100,0

3. Tersedia tempat sampah tertutup 0 0 6 100,0

4. Tidak menderita penyakit mudah menular misalnya batuk, influenza dan diare

6 100,0 0 0

5. Penjamah makanan tidak memakai cincin dan menderita infeksi kulit misalnya bisul dan kudis

3 50,0 3 50,0 6. Menggunakan pakaian bersih dan alat pelindung

diri (celemek, tutup kepala, sarung tangan dan penutup mulut)

0 0 6 100,0

7. Tidak bersin atau batuk dihadapan makanan dan atau tanpa penutup mulut dan hidung

4 66,7 2 33,3 8. Penyimpanan peralatan tertutup dan dibersihkan

setiap selesai digunakan dengan air yang mengalir

0 0 6 100,0 9. Peralatan yang digunakan anti karat, kedap air,

halus dan mudah dibersihkan

0 0 6 100,0 10. Bila menggunakan plastic, dianjurkan yang aman

dan mudah dibersihkan

3 50,0 3 50,0

Berdasarkan tabel 4.6. diatas diketahui bahwa penilaian dalam prinsip pengolahan tahu goreng terhadap seluruh pedagang (100,0%) belum memenuhi syarat karena belum menyimpan peralatan ditempat tertutup dan belum dibersihkan dengan air mengalir, tidak menggunakan pakaian bersih dan alat pelindung diri (celemek, tutup kepala, sarung tangan dan penutup mulut), (100,0%), kemudian semua penjual (100,0%) menggunakan peralatan yang bukan anti karat, kedap air, halus dan mudah dibersihkan.

4.4.4 Penyimpanan Tahu Goreng

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh pedagang tahu mengenai penyimpanan tahu goreng dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:

Tabel 4.7. Distribusi Penjual Tahu Goreng Berdasarkan Penyimpanan Tahu Goreng Yang Dijual di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

No. Penyimpanan Tahu Goreng Ya Tidak

n % N %

1. Makanan jadi disimpan ditempat yang tidak terjangkau vector (tikus, kecoa, dll)

0 0 6 100,0 2. Tersedia tempat khusus untuk menyimpan makanan

jadi dan tertutup

1 16,7 5 83,3 3. Makanan cepat busuk disimpan dalam suhu panas

(65,5C) atau disimpan dalam suhu dingin (4C)

5 83,3 1 16,7 Berdasarkan tabel 4.7. diketahui bahwa dalam prinsip penyimpanan tahu goreng yang dilakukan pedagang tahu masih belum memenuhi syarat. Seluruh penjual (100,0%) masih menyimpan makanan ditempat yang mudah dijangkau tikus dan kecoa, serta belum tersedia tempat khusus dan penyimpanan makanan tidak dalam keadaan tertutup sebanyak 5 orang (83,3%).

4.4.5. Pengangkutan Tahu Goreng

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan mengenai pengangkutan tahu goreng yang dilakukan oleh penjual tahu dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut:

Tabel 4.8. Distribusi Penjual Tahu Goreng Berdasarkan Pengangkutan Tahu Goreng Yang Dijual di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

No. Pengangkutan Tahu Goreng Ya Tidak

n % N %

1. Tersedianya tempat dan kendaraan khusus untuk mengangkut makanan jadi

6 100,0 0 0 2.

3.

Makanan diangkut dalam keadaan tertutup

Tersedia jalur khusus untuk mengangkut makanan jadi ke lokasi berjualan.

Berdasarkan tabel 4.8 diketahui bahwa kriteria dalam pengangkutan tahu seluruh pedagang (100,0%) mengangkut makanan dalam keadaan tertutup dan sudah menggunakan kenderaan khusus (100,0%), akan tetapi pedagang belum melintasi jalan khusus ke lokasi berjualan (100,0%).

4.4.6. Penyajian Tahu Goreng

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan mengenai penyajian tahu goreng yang dilakukan oleh pedagang tahu dapat dilihat dalam tabel 4.9 berikut:

Tabel 4.9. Distribusi Penjual Tahu Goreng Berdasarkan Penyajian Tahu Goreng Yang Dijual di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

No. Penyajian Tahu Goreng Ya Tidak

n % N %

1. Peralatan untuk menyajikan dalam keadaan bersih 2 33,3 4 66,7 2. Peralatan dicuci setiap satu kali pemakaian dengan

air mengalir dan dikeringkan terlebih dahulu sebelum diapakai kembali

0 0 6 100,0

3. Tempat/wadah penyajian makanan bebas dari debu 0 0 6 100,0 4. Wadah penyajian harus bersih dan kering 6 100,0 0 0

5. Penyajian dilakukan dengan perilaku yang sehat dan berpakaian bersih

0 0 6 100,0

Berdasarkan tabel 4.9. diatas, diketahui bahwa dalam prinsip penyajian tahu goreng yang dilakukan pedagang masih belum memenuhi syarat kesehatan

pakaian yang bersih, peralatan tidak dicuci setiap satu kali pemakaian, dan penyaji belum melakukan perilaku yang sehat dan bersih.

4.4.7. Lokasi Penjualan

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan mengenai lokasi penjual dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut:

Tabel 4.10. Distribusi Penjual Tahu Goreng Berdasarkan Lokasi Penjualan di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

No. Lokasi Penjualan Ya Tidak

n % N %

1. Lokasi usaha terhindar dari sumber pencemaran dan vector (lalat, kendaraan, dll)

0 0 6 100,0 2. Lokasi usaha dilengkapi tempat penampungan

sampah yang tertutup

0 0 6 100,0 3. Dilengkapi fasilitas sanitasi air bersih 0 0 6 100,0

Berdasarkan tabel 4.10. di atas, diketahui bahwa semua pedagang (100,0%) belum berada di lokasi berjualan yang memenuhi syarat kesehatan, dapat dilihat dari lokasi yang tidak dilengkapi penampungan sampah yang tertutup sehingga lokasi masih dicemari oleh vektor seperti lalat, serta lokasi tidak dilengkapi fasilitas sanitasi air bersih.

4.5. Hasil Pemeriksaan Escherichia Coli Tahu Goreng

Pemeriksaan sampel tahu goreng di lakukan di Laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Medan. Hasil pemeriksaan yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut ini :

Tabel 4.11. Hasil Pemeriksaan Bakteri Escherichia Coli Pada Tahu Goreng Yang Dijual di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

No. Pemeriksaan Escherichia Coli Pada Tahu Goreng

Berdasarkan tabel 4.11. dapat diketahui bahwa pada hasil pemeriksaan Escherichia Coli tahu goreng dengan hasil <1,8 yaitu sebanyak 4 sampel (66,7%) sedangkan hasil 4,0 dan 24,0 masing-masing sebanyak 1 sampel (16,7%).

BAB V PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Pedagang Tahu Goreng

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan jumlah pedagang tahu yang berjualan di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun paling banyak berjenis kelamin perempuan yaitu semanyak empat orang (66,7%). Untuk distribusi umur ada perbedaan dimana usia yang paling muda ada 1 orang umur 21 tahun dan yang paling tua 1 orang yaitu umur 53 tahun, dari segi pendidikan diketahui pedagang paling banyak berpendidikan terakhir SMA sebesar 66,7%

dan terendah adalah SMP sebesar 33,3%, untuk distribusi lama berjualan/hari yang paling banyak berdagang selama 9 hari sebesar 66,7% sedangkan paling sedikit 10 hari yaitu 33,3%.

Pada penelitian Marsaulina (2004), di DKI Jakarta menyimpulkan adanya hubungan antara kebrsihan perorangan dengan umur penjamah makanan. Semakin tinggi umur penjamah makanan maka semakin baik kebersihan penjamah makanan. Penelitian sianipar (2009) menyatakan pembuatan susu kedelai dengan jenis kelamin perempuan lebih baik dalam melaksanakan hygiene sanitasi dari pada laki-laki alasannya karena laki-laki sering merokok saat mengolah dan berjualan makanan.

Jadi menurut peneliti batasan usia dan jenis kelamin sama-sama mempunyai kemampuan dalam mengolah dan berjualan makanan tapi dalam hal hygiene sanitasi usia dan jenis kelamin sangat mempengaruhi hasil.

5.2. Ovservasi Penjual Tahu Goreng Yang Dijual Di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun

5.2.1. Pemilihan Bahan Baku Tahu Goreng

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan semua penjual menggunakan bahan dalam keadaan segar, utuh dan tidak busuk, akan tetapi masih ada pedagang yang menggunakan bahan baku yang tidak bebas dari vektor dan dibeli bukan di tempat yang diawasi oleh pemerintah seperti pasar, swalayan dan supplier berijin.

Bahan Bahan-bahan baku sebaiknya disimpan dalam tempat tertutup seperti lemari dan rak-rak yang tertutup sehingga dalam keadaan baik, utuh, segar dan tidak busuk. Dianjurkan membeli bahan makanan ditempat yang telah diawasi oleh pemerintah seperti pasar, swalayan, atau supplier bahan makanan yang berijin. Dan untuk bahan tambahan makanan seperti zat pewarna harus terdaftar pada Departemen Kesehatan (Depkes RI, 2001).

Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti dalam hal memilih bahan baku untuk pembuatan tahu goreng belum sesuai dengan 6 prinsip hygiene sanitasi makanan karena masih menggunakan bahan baku yang belum bebas dari vektor, hal ini bisa dilihat dari perlakuan pedagang terhadap bahan baku yang digunakan diletakkan di atas meja dalam keadaan terbuka sehingga terkontaminasi oleh udara luar, selain itu bahan baku disimpan ditempat yang bersamaan tanpa memisahkan bahan yang bersifat padat dan bersifat cair serta bahan yang mudah membusuk dan diperoleh ditempat yang tidak diawasi oleh pemerintah.

5.2.2. Penyimpanan Bahan Baku Pembuatan Tahu Goreng

Berdasarkan hasil observasi peneliti pada proses penyimpanan bahan baku pembuatan tahu goreng 5 orang penjual (83,3 belum menyimpan bahan baku di tempat yang bersih dan terpisah serta tidak menyimpan bahan baku pada suhu sekitar 4-10oC. Disamping itu pedagang juga belum menyimpan bahan baku dalam aturan sejenis dan masih ada yang menyimpan bahan baku dalam keadaan terbuka sehingga tidak terhindar dari serangga dan vektor pembawa penyakit (100,0%).

Tempat penyimpanan bahan baku makanan harus muda dibersihkan dan bebas dari hama seperti serangga, binatang pengerat seperti tikus burung dan mokroba serta ada sirkulasi udara (BPOM).

Jadi dalam hal penyimpanan bahan baku pembuatan tahu goreng, peneliti melihat dalam segi tempat dan suhu penyimpanan bahan baku ada pedagang masing-masing 1 orang (16,7%) yang memenuhi standart namun apabila dilihat secara keseluruhannya belum memenuhi standart.

5.2.3. Pengolahan Tahu Goreng

Hasil pengamatan memperlihatkan masih adanya pedagang tahu yang menggunakan sarung tangan yang tidak bersih pada saat mengolah tahu yaitu sebanyak 4 (66,7%) pedagang, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Susana (2003), yang menyatakan bahwa tangan merupakan sumber kontaminan yang cukup berpengaruh terhadap kebersihan bahan makanan. Sentuhan tangan merupakan penyebab yang paling umum terjadinya pencemaran makanan. Pada

penjamah makanan juga harus terhindar dari penyakit menular seperti: batuk, filek dan diare serta memiliki surat keterangan berbadan sehat dari dokter.

Berdasarkan pengamatan peneliti, masih ada 3 (50,0%) pedagang yang tidak menggunakan celemek selama mengolah makanan. Pakaian kerja yang bersih akan menjamin sanitasi dan hygiene pengolahan makanan karena tidak terdapat debu atau kotoran yang melekat pada pakaian yang secara tidak langsung dapat menyebabkan pencemaran makanan (Moehyi, 1992).

Terdapat 6 pedagang yang menggunakan perhiasan pada saat mengolah tahu, padahal perhiasan bisa menjadi sarang kuman dan sebaiknya dilepaskan pada saat mengolah makanan agar tidak menjadi salah satu sumber pencemar.

Saat berjualan dan mengolah tahu, terdapat 4 (66,7%) pedagang menggunakan jilbab. Hal ini sesusai dengan Kepmenkes RI No.942/MENKES/

SK/VII/2003 dimana seorang penjamah makanan harus menggunakan tutup kepala. Menurut Fathonah (2006), rambut yang kotor akan menimbulkan rasa gatal pada kulit kepala yang dapat mendorong penjamah makanan untuk menggaruknya dan dapat mengakibatkan kotoran atau ketombe dan rambut dapat jatuh ke dalam makanan.

Dari keadaan di atas peneliti menyimpulkan bahwa pengolahan tahu goreng yang dijual di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun belum memenuhi syarat kesehatan.

5.2.4.Penyimpanan Tahu Goreng Yang Sudah Masak

Berdasarkan hasil penelitian pada penyimpanan tahu goreng seluruh pedagang belum memenuhi syarat kesehatan. Pedagang menempatkan tahu goreng dalam wadah yang terbuka.

Hal ini tidak sesuai dengan Kepmenkes RI No.715/Menkes/ SK/2003, yaitu mengenai syarat penyimpanan makanan jadi yaitu tempat penyimpanan makanan jadi harus terlindungi dari debu, bahan kimia yang berbahaya, serangga dan hewan.

Menurut DEPKES RI (2003), semua makanan harus disimpan dalam wadah yang bersih dan aman bagi kesehatan, dalam keadaan terbungkus atau tertutup agar tidak mencemari makanan.

Jadi menurut peneliti dalam proses penyimpanan tahu goreng yang sudah masak belum memenuhi standart hygiene sanitasi makanan karena penjual masih menyimpan makanan ditempat yang mudah dijangkau oleh vector. Tahu goring yang sudah masak diletakkan di atas meja dan dalam keadaan terbuka sehingga terkontaminasi dengan udara luar dan belum tersedia tempat khusus untuk makanan jadi.

5.2.5. Pengangkutan Tahu Goreng yang Sudah Masak

Berdasarkan hasil penelitian pada proses pengangkutan tahu goreng seluruh pedagang belum memenuhi syarat kesehatan karena pedagang belum menggunakan kenderaan khusus untuk proses pengangkutan makanan.

Makanan yang berasal dari tempat pengolahan makanan memerlukan pengangkutan untuk disimpan dan disajikan. Pengangkutan makanan perlu

mendapat perhatian agar tidak terjadi kontaminasi baik dari serangga, debu maupun bakteri. Wadah yang dipergunakan harus utuh, kuat dan tidak berkarat atau bocor (Purawidjaja, 1995).

Pengangkutan makanan harus menghindari daerah-daerah atau tempat yang kotor dan mudah mengkontaminasi makanan dan cara pengangkutan amkanan harus dilakukan dengan jalan yang singkat, pendek dan paling terdekat (Depkes, 2004).

Berdasarkan uraian di atas peneliti menyimpulkan penjual tahu goreng dalam hal mengangkut makanan yang sudah masak masih jauh dari syarat kesehatan terbukti penjual belum tersedia tempat, jalur dan kenderaan khusus untuk mengangkut makanan masak.

5.2.6. Penyajian Tahu Goreng

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap penjual tahu goreng dalam hal penyajian makanan mask belum sesuai dengan standart hygiene sanitasi makanan karena semua pedagang (100,0%) menggunakan tempat/wadah penyajian yang belum bebas dari debu dan pedagang yang menggunakan peralatan tidak dalam keadaan bersih sebanyak 4 orang (66,7%).

Menurut (Purawidjaja, 1995), penyajian makanan merupakan rangkaian akhir dari perjalanan makanan. Saat penyajian makanan yang perlu diperhatikan adalah agar makanan tersebut terhindar dari pencemaran, peralatan yang dihgunakan dalam kondisi baik dan kebersihan pakaiannya, tangan penyaji tidak boleh kontak langsung dengan makanan yang disajikan.

Menurut peneliti pada proses penyajian makanan masak belum memenuhi standart juga walaupun sudah ada penjual yang sudah menggunkan peralatan dalam keadaan bersih yaitu sebanyak 2orang (33,3%).

5.2.7. Lokasi Berjualan Tahu Goreng

Berdasarkan penelitian dalam hal lokasi berjualan belum memenuhi syarat kesehatan, dibuktikan dengan penjual tahu goreng menjual dagangannya berada di lokasi yang tidak terhindar dari sumber pencemaran dan vektor, tidak adanya tempat penampungan sampah tertutup serta tidak dilengkapi dengan fasilitas sanitasi air bersih.

Lokasi berjualan para penjual tahu goreng berada di jalan Avros Kelura hasilhan Kampung Baru Kecamatan Maimun yang mana lokasi ini merupakan jalan alternatif bagi pengguna jalan dari jalan Brigjen Katamso menuju jalan A.H.

Nasution. Lokasi ini dipadati pengguna jalan baik roda dua, tiga dan empat sehingga terjadi pencemaran udara, dapat dipastikan hal ini jauh dari harapan kita dan tidak sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Depkes RI Tahun 2003 dan KepBPOM yang seharusnya lokasi berjualan para pedagang makanan itu jauh dari sumber pencemar.

Dari keadaan di atas peneliti membuat ulasan bahwa selain sudah tercemar volusi udara lokasi ini juga tidak tersedia penampungan sampah tertutup, sehingga sampah plastik yang digunakan untuk wadah penyanyian makanan tahu goreng bagi konsumen yang mengkonsumsi di tempat berjualan dibuang bergitu saja di belakang steling dan pada sore hari adakalanya sampah tersebut diangkat dan

adakalanya tidak diangkat oleh pedagang itu sendiri, di samping itu lokasi usaha ini diperburuk dengan tidak dilengkapinya fasilitas sanitasi air bersih.

5.3. Kandungan Bakteri Escherichia Coli pada Tahu

Kandungan bakteri Escherichia Coli pada tahu yang dijual di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun diharapkan memenuhi standar yaitu 0 dalam 100ml/sampel. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap bakteri Escherichia Coli yang telah dilakukan pada tahu goreng yang dijual di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun sebanyak 2 sampel yang belum memenuhi syarat kesehatan yaitu terdapat pada pedagang 5 dan 6 dengan jumlah 24/100 ml sampel dan 4,0/100 ml sampel, hal ini dapat dikaitkan dengan karakteristik penjual tahu goring yang tidak memenuhi syarat kesehatan antara lain merokok pada saat berjualan, tidak menggunakan pakaian yang bersih dan menggunakan peralatan yang diletakkan di luar bok setelah melakukan penyajian makanan.

Kemudian untuk pedagang 1,2,3 dan 4 karakteristik pedagang tahu goring sudah memenuhi syarat, bias dilihat dari hasil laboratorium dengan hasil <1,8/100 ml sampel tahu goreng, pada saat berjualan pedagang mengenakan pakaian yang bersih, peralatan disimpan kembali dalam keadaan tertutup setelah melakukan penyajian makanan. dari hasil ini dapat ditarik kesimpulan bahwa tahu goreng

Kemudian untuk pedagang 1,2,3 dan 4 karakteristik pedagang tahu goring sudah memenuhi syarat, bias dilihat dari hasil laboratorium dengan hasil <1,8/100 ml sampel tahu goreng, pada saat berjualan pedagang mengenakan pakaian yang bersih, peralatan disimpan kembali dalam keadaan tertutup setelah melakukan penyajian makanan. dari hasil ini dapat ditarik kesimpulan bahwa tahu goreng