• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 BAB V STUDI KASUS

5.1 Kasus 1 (Investasi Mesin Kompresor)

Kasus pertama adalah kasus investasi mesin kompresor untuk proses pengecatan pada tahun 2011. Kasus ini merupakan kasus perbandingan antara pilihan membeli mesin atau menyewa mesin.

Analisa keuangan yang digunakan dalam kasus ini adalah analisa incremental. Biaya yang dibandingkan dalam analisa incremental tersebut adalah biaya ketika perusahaan menyewa mesin atau justru membeli mesin. Analisa incremental mendetail tentang investasi mesin kompresor in terdapat pada Tabel 5.1. dalam analisa incremantal ini hanya terdapat lima biaya yang menjadi acuan dalam analisa finansialnya. Biaya-biaya tersebut yaitu, biaya investasi, biaya sewa, biaya maintenance, biaya operator, dan biaya overhead. Dalam analisa incremental ini, biaya yang digunakan sebagai inflow atau yang bernilai positif adalah biaya sewa, sedangkan biaya lainnya digunakan sebagai outflow.

Tabel 5.1 Analisa Incremental Kasus Investasi Mesin Kompresor

Parameter Investment Rent Incremental

Increase/(Decrease)

Sehingga secara umum, analisa finansial kasus ini terdapat dalam Tabel 5.2 sampai Tabel 5.4.

Tabel 5.2 Biaya Investasi Kasus Mesin Kompresor

Tabel 5.3 Biaya Sewa Kasus Investasi Mesin Kompresor

Tabel 5.4 Biaya Operasi Kasus Investasi Mesin Kompresor

Investasi ini memiliki beberapa komponen lain selain biaya investasi, biaya rental dan biaya operasi. Komponen tersebut adalah nilai interest rate (MARR) dan nilai kurs rupiah. Interest Rate (MARR) dari investasi ini sebesar 6%. Sedangkan nilai kurs pada investasi ini adalah Rp 9,151 / USD. Pada investasi ini, biaya sewa dianggap sebagai sebuah pembanding nilai pemasukkan, sehingga biaya sewa ini merupakan suatu masukan

A. Investment Cost Total Rental Cost per year

B. Operating Cost

dalam analisa aliran kasnya. NPV yang dihasilkan dari investasi ini adalah Rp. 292,429,708.

Pada kasus Investasi mesin kompresor ini, diidentifikasi beberapa variability input. Variability Input ini meliputi besarnya biaya Investasi, biaya maintenance, biaya Overhead, nilai Kurs dan nilai eskalasi. Biaya-biaya menggunakan distribusi normal, sedangkan untuk eskalasi kenaikan menggunakan distribusi dengan 3 parameter yaitu distribusi Pert (Rezaie et al., 2007, Van Groenendaal, 1998, Wibowo dan Kochendörfer, 2005, Ye dan Tiong, 2000, Ye dan Tiong, 2003). Distribusi dari variability input ini terdapat dalam Tabel 5.5.

Tabel 5.5 Distribusi Variability Input Kasus Invesatsi Mesin Kompresor

Dengan nilai distribusi tersebut, dilakukan simulasi dengan software @Risk. Sehingga diperoleh profil NPV dengan tingkat kemungkinan NPV ≤ Rp 149,228,528.18 sebesar 26.5%.

diasumsikan bahwa risiko dari proyek ini dikatakan tidak layak adalah apabila nilai NPV berada pada nilai separuh dari nilai ekspektasi (Rp 149,228,528.18).

Parameter Value Unit

Investment Cost Normal(63000,6300) $

Maintenance Cost Normal(3150,315) $

Overhead Cost Normal(4784,239.2) $

Kurs Normal(9150.74,1428.83) Rp

Escalation Pert(0.02,0.03,0.04) %

Gambar 5.1 Profil NPV Kasus Investasi Mesin Kompresor

Untuk mengetahui variability input yang memiliki pengaruh terhadap NPV, dilakukan analisa korelasi dengan Tornado diagram. Dari tornado diagram ini, dapat diketahui bahwa faktor yang paling berpengaruh dalam menentukan nilai NPV dari investasi mesin kompresor ini adalah nilai kurs.

Gambar 5.2 Tornado Diagram Kasus Investasi Mesin Kompresor

Setelah diketahui profil NPV dari kasus investasi ini, maka dilanjutkan dengan manajemen risiko dari kasus ini. Tahapan

manajemen risiko dibagi menjadi 4 tahap, yaitu tahap identifikasi risiko, analisa risiko, evaluasi risiko dan penanganan risiko.

Tahap pertama adalah indentifikasi risiko. Risiko dari investasi mesin kompresor ini adalah keseluruhan dari variability input. Variability input digolongkan sebagai sebuah risiko.

Tahap kedua adalah analisa risiko. Analisa risiko ini dimulai dari proses pencarian nilai yang menyebabkan risiko NPV ≤ Rp 149,228,528.18 terjadi. Untuk mengetahui nilai tersebut, digunakan analisa goal seek. Sebagai contoh, goal seek dilakukan untuk nilai kurs, diperoleh nilai kurs sebesar Rp.

10,025.00 / USD di mana variability input yang lain dikunci pada nilai ekspektasinya. Hal ini menunjukkan bahwa nilai NPV akan berada di bawah nilai Rp 149,228,528.18 apabila nilai Kurs ≥ Rp.

10,025 / USD.

Gambar 5.3 Goal Seek Nilai Kurs pada Kasus Investasi Mesin Kompresor

Analisa goal seek ini dilakukan untuk semua variability input.

Hasil analisa goal seek secara keseluruhan terdapat dalam Tabel 5.6.

Tabel 5.6 Hasil Goal Seek pada Kasus Investasi Mesin Kompresor

Dengan diketahuinya nilai variability input yang dapat menyebabkan NPV berada di bawah nilai nol (NPV ≤ 0), maka kemungkinan terjadinya (Likelihood) nilai tersebut juga dapat diketahui. Sebagai contoh, kemungkinan nilai kurs berada di atas Rp. 10,025.00 / USD adalah 27.00%.

Gambar 5.4 Likelihood nilai Kurs ≥ 10.911

Risk Parameter

Investment Cost ≥ $ 79,193.00

Maintenance Cost ≥ $ 5,535.00

Escalation ≤ -2.66%

NPV ≤ Rp 149,228,

528

$ 7,196.00

Kurs ≥ Rp 10,025.00 Overhead Cost ≥

4 6 8 10 12 14 16 18

Values x 10^-4

Pencarian Likelihood ini dilakukan untuk semua variability input.

Hasil rekap nilai Likelihood dari semua variability input terdapat dalam Tabel 5.7.

Tabel 5.7 Likelihood variability input Kasus Investasi Mesin Kompresor

Setelah diketahui Likelihood dari variability input yang ada.

Dilanjutkan dengan melakukan analisa konsekuensi nilai NPV apabila variability input ini terjadi. Untuk mengetahui nilai tersebut, Stress analysis dilakukan. Prinsip Stress analysis adalah melakukan simulasi dengan distribusi yang berbeda dari distribusi awal. Sebagai contoh, simulasi dilakukan dengan kondisi jika nilai kurs lebih besar dari Rp. 10,025.00 / USD. Maka akan diperoleh profil NPV, bahwa NPV memiliki nilai ekspetasi sebesar Rp. 809,443. Kemudian nilai ini digunakan untuk mengurangi nilai NPV kasus ini, sehingga dapat diketahui konsekuensi dari variability input ini. Sebagai Contoh, nilai konsekuensi dari nilai kurs adalah Rp. 292,429,708 – Rp. 809,443

= Rp 297,647,614.

Tabel 5.8 Stress Analysis Kurs pada Kasus Investasi Mesin Kompresor

Risk Likelihood

Name Book Stress Analysis Mean Min Max StdDev

(none) (none) baseline 299,846,766.38 (595,840,315.99) 1,194,552,893.40 251,202,235.70 Kurs Calculation of Compressor for Painting rev-2 @Risk Modif 2.xlsx 73.00% to 100.00% 809,442.66 (677,934,036.86) 298,107,911.43 143,491,366.02

Inputs Ranked by Mean Output

Gambar 5.5 CDF Kurs pada Kasus Investasi Mesin Kompresor

Stress analysis dilakukan untuk semua variability input. Hasil stress analysis untuk keseluruhan variability input, direkap dalam Tabel 5.9.

Tabel 5.9 Hasil Stress Analysis pada Kasus Investasi Mesin Kompresor 0

-1E+09 -5E+08 0 500000000 1E+09 1.5E+09

CDF Summary

Nilai NPV kasus dikurangkan dengan nilai expected value yang berdasarkan Tabel 5.9. Sehingga diperoleh nilai konsekuensi seperti pada Tabel 5.10.

Tabel 5.10 Konsekuensi tiap faktor Variability Input

Dengan diketahuinya likelihood dan conseqeunce dari setiap variability input, maka penggolongan risiko dapat dilakukan.

Penggolongan ini berdasarkan pada risk matriks yang telah dibuat. Risk matriks ini dapat dilihat pada Gambar 5.6.

Risk

Gambar 5.6 Risk Matriks untuk Kasus Investasi Mesin Kompresor

Hasil penggolongan risiko tersebut terdapat pada Tabel 5.11.

Penggolongan risiko tersebut kemudian dipetakan ke dalam peta risiko.

Tabel 5.11 Risk Level Kasus Investasi Mesin Kompresor

Hasil pemetaan risiko berdasarkan risk matriks tersebut terdapat dalam Gambar 5.7.

Insignificant Minor Moderate Major Catastropic

NPV ≤ $

Keterangan: Extreme Risk High Risk Moderate Risk Low Risk

Risk Map

Kurs Rp10,025.00 Extreme Risk

Catastropic Overhead Cost $ 7,196.00

Gambar 5.7 Risk Map Kasus Investasi Mesin Kompresor

Tahap ketiga dari manajemen risiko adalah tahap evaluasi risiko. Pada tahap ini, risiko dievaluasi untuk ditentukan risiko mana yang harus diprioritaskan untuk ditangani terlebih dahulu.

Pada kasus ini, risiko yang akan ditunjukkan proses penanganannya adalah risiko kurs.

Tahap keempat adalah tahap penanganan risiko. Pada tahap sebelumnya, telah ditentukan bahwa risiko yang akan ditangani pada tahap ini adalah risiko kurs. Untuk menangani risiko kurs, digunakan skema hedging. Skema hedging adalah skema mengunci nilai kurs pada suatu nilai kesepakatan antara pihak ketiga sebagai pembeli valas dan investor. Pada kasus ini, skema kurs diasumsikan dikunci pada nilai Rp 10,000.00 / USD. Untuk mengetahui efek dari skema hedging ini, maka dilakukan Stress Analysis dengan mengganti distribusi nilai kurs yang sebelumnya berdistribusi normal dengan nilai rata-rata sebesar 9150.74 dan nilai standar deviasi sebesar 1428.83. Hasil dari stress analysis ini terdapat dalam Tabel 5.12.

Insignificant Minor Moderate Major Catastropic

NPV ≤ $

Keterangan: Extreme Risk High Risk Moderate Risk Low Risk

Risk Map

Tabel 5.12 Stress Analysis Mitigasi Kasus Investasi Mesin Kompresor

Gambar 5.8 CDF Mitigasi Kasus Investasi Mesin Kompresor

Mitigasi yang diusulkan menghasilkan NPV sebesar Rp 153,363,622. NPV ini lebih tinggi dari NPV dengan kurs sebesar Rp 10,025. Akan tetapi, NPV yang dihasilkan dari usulan mitigasi ini hanya berada pada nilai hampir separuh dari NPV skenario awal. Tingkat kegagalan proyek juga menjadi semakin besar.

Akan tetapi, standar deviasi dari proyek ini semakin kecil, dan proyek juga akan semakin jarang mengalami nilai di bawah nilai nol. Risiko kurs yang awalnya adalah extreme risk juga menurun menjadi low risk.

Name Book Stress Analysis Mean Min Max StdDev

(none) (none) baseline 299,433,774 (628,435,261) 1,031,933,354 254,346,959 Kurs Calculation of Compressor for Painting rev-2 @Risk Modif 2.xlsx 10,000 153,363,622 (108,931,980) 375,993,328 70,860,151

Inputs Ranked by Mean Output

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

-6E+08 -4E+08 -2E+08 0 200000000 400000000 600000000 800000000 1E+09 1.2E+09

CDF Summary

Baseline Kurs H19 10000 Sukses

Gagal

Gambar 5.9 Risk Map Mitigasi Kasus Investasi Mesin Kompresor

Dokumen terkait