Deskripsi
Melakukan Improvisasi, menata penghuni sekitar sungai, mendampingi penghuni makam, memanfaatkan potensi ekonomi makam sebagai tempat tinggal dan sumber daya ekonomi.
Upaya peningkatan taraf hidup masyarakat di wilayah Gunung Brintik berbeda dengan langkah-langkah yang ditempuh masyarakat di tempat lain. Pembangunan di tempat ini banyak yang dilakukan secara terbalik atau dari sudut pandang yang berkebalikan dari langkah-langkah membangun di daerah lain.
Pembangunan di tempat lain seperti di Banjir Kanal Barat atau di pinggiran jalan dengan cara pedagang diusir dan digusur, di kawasan Gunung Brintik ini pedagang ditata rapi berderet berjualan bunga, tanaman hias, pupuk, pot bunga, dan usaha karangan bunga.
Bila di tempat lain kuburan adalah tempat orang mati, di Gunung Brintik ini kuburan juga tempat orang hidup. Ada kuburan di dalam rumah, dan ada rumah di dalam kuburan. Bila di tempat lain besar tuntutan untuk sekolah gratis, disini sekolah-sekolah yang berada di kawasan penghuni kuburan ini menolak sekolah gratis. Program pendidikan gratis dinilai oleh para guru dan kepala sekolah di Gunung Brintik ini justru tidak mendidik siswa untuk ber-partisipasi. Seperti yang diceritakan oleh Bapak Paeno (Kepala SD PL Gunung Brintik),” untuk membayar pakaian seragam sebesar tiga puluh ribu rupiah (Rp 30.000,-) Siswa dibantu sebesar Rp 20.000,-, dan yang Rp 10.000,- siswa harus membayar”.. Ini wujud pendidikan untuk berpartisipasi, yang merupakan unsur penting di dalam modal sosial. “Potongan harga untuk sekolah didapat dari Unit Penjahitan, dan donatur yang tidak mengikat seperti para ibu pensiunan pegawai Pertamina ataupun dari Komunitas Tugu Muda”, lanjut penjelasan bapak kepala sekolah.
Adalah kasus intervensi NGO terhadap aktivitas Komunitas Miskin dan terpinggirkan di Komunitas Makam Gunung Brintik Semarang:
Serabi diartikan sebagai Sekolah Rakyat Brintik. Di sana para
siswa-siswi umumnya adalah anak-anak jalanan dan sebagian besar dari mereka adalah anak rakyat Brintik. Di sanggar ini, mereka diajari berbagai macam bentuk ke-giatan, seperti ilmu pelajaran sekolah, band atau musik lainnya, dan visualisasi atau pementasan seni drama. Beragam cerita menarik mengenai Sanggar Serabi ini. Salah satu
sharing kami dapatkkan dari seorang pemuda berusia 22 tahun, sebut saja dia Ari. Mas Ari ini merupakan salah satu pemuda yang berperan dalam terbentuknya Sanggar Serabi. Ketika kami meminta informasi seputar sanggar dan isinya, Mas Ari sungguh antusias dengan kedatangan kami, dan dengan sukacita menceritakan sekilas tentang sanggar mungil ini. Sebelum sanggar ini di berdiri sekitar tahun 1996 ada paguyuban yang namanya PAJS (Paguyuban Anak Jalanan Semarang). PAJS inilah yang menjadi tempat berkumpulnya anak-anak jalanan di Semarang.
Ternyata sumber daya (resources) yang dimiliki tidak sepenuhnya cocok (match) dengan medan yang dihadapi, maka harus siap me-modify sumber daya tersebut sehingga bisa optimal menopang usaha yang dilakukan.
Keberadaan PAJS tidak senangi oleh beberapa pihak, seperti preman-preman di daerah tersebut termasuk juga pemerintah. Sampai suatu saat base camp PAJS diserang oleh preman-preman yang katanya merupakan suruhan dari pemerintah kota Semarang untuk membubarkan aksi PAJS ini yang rasionalnya di duga telah mengganggu kenyamanan dalam kota. Banyak anak jalanan (PAJS) ini dikejar-kejar.
Menurut penuturan seorang pengamen, saat aksi penyerangan besar, sekitar tahun 2000, anak-anak jalanan yang ketakutan ini akhirnya pergi menyebar, ada yang ber-lindung ke Yogyakarta atau daerah-daerah lain yang lebih aman dan bergabung dengan anak-anak jalanan di kota tersebut.
Ada seorang yang dapat dikatakan sebagai orang yang melopori berdirinya sanggar Serabi. Beliau adalah ibu Prapto. Seorang pedagang keliling, yang mempunyai tiga orang anak. Anak beliau dulunya juga pernah menjadi anak jalanan. Mulai tahun 1996 beliau sering menampung anak-anak jalanan di daerah semarang khususnya di daerah Tugu Muda. Di sebuah rumah sederhana bu Prapto menampung anak jalanan yang sedang sakit atau membutuhkan makanan. Jika dilihat keluarga ini juga tidak begitu kaya bahkan bisa dikatakan
pas-pasan. Di rumahnya yang sederhana pernah di tempati sekittar puluhan anak jalanan yang membutuhkan tempat tidur. Saat ditanyai kenapa beliau tertarik menam-pung anak jalanan beliau menjawab kalau dia merasa kasihan akan kehidupan anak ini, disamping itu juga kebersamaan dan kekerabatan anak ini juga sangat kuat.
Mengadaptasi sumberdaya
Dengan keterbukaan hati Bu Prapto menerima anak jalanan yang datang kerumahnya yang kadang minta dikeroki ada juga yang datang minta makan, selain itu juga banyak anak jalanan yang datang ke rumah beliau hanya ingin curhat dengan beliau. Ibu banyak bercerita mengenai kehidupannya beserta anak jalanan. Jadi bagi anak jalanan yang mengenal bu Prapto mereka menganggap ibu ini sebagai orang tua mereka. Hal mulia ini justru menjadi gunjingan penduduk Brintik, para tetangga Ibu Prapto justru malah membenci dan memusuhi Ibu Prapto karena dianggap telah mencemarkan perkampungan dengan menampung anak-anak jalanan liar yang dianggap sampah pemerintah. Walaupun demikian, Ibu Prapto, dibantu mas Ari dengan keluarganya tidak mundur dari apa yang telah diputuskannya dalam membantu anak-anak jalanan tersebut. Ibu juga menceritakan ulang aksi penyerangan besar oleh preman-preman kota, sekitar tahun 2000 lalu, anak-anak jalanan yang ketakutan waktu itu akhir nya pergi menyebar, dibantu oleh Ibu Prapto, Mas Ari dan anak-anak jalanan ada yang berlindung ke Yogyakarta dan daerah-daerah lain dan bergabung dengan anak-anak jalanan di kota tersebut. Selama mengungsi ternyata Ibu Prapto dan keluarga selalu datang seminggu sekali ke Jogjakarta untuk mengirimkan beras, atau pakaian seadanya, atau bahan pokok lainnya untuk bertahan hidup anak-anak jalanan tersebut. Ketika keadaan dimungkinkan sudah mulai membaik, pada tahun 2004 anak-anak jalanan ini pun kembali ke Semarang dan mempunyai basecamp di sanggar serabi ini.
Setelah inipun masalah demi masalah baru tetap bermunculan; maka harus mampu meng-overcome (mengatasi) setiap masalah yang
muncul tersebut pada waktunya siap untuk bertahan hidup, survive, bahkan berkembang.
Intervensi yang dilakukan oleh NGO yang bekerja di Komunitas Makam Gunung Brintik Semarang ini sangat halus, dan tidak semua tahap pelaksanaan strategi untuk survive itu diintervensi. Pelaku atau iterventornyapun bisa tidak berasal dari pengurus atau pengelola organisasi formal. Kadang kala ada suatu kelompok atau organisasi yang tanpa bentuk. Mereka adalah kumpulan individu yang memiliki minat dan perhatian yang sama, berkumpul mencari solusi bersama. Mereka sulit untuk diobservasi dari luar. Bantuan yang tulus dari seorang ibu, katakanlah Bu Prapto, merupakan intervensi yang halus yang mengatasi soal kebutuhan primer (makan, berteduh, bahkan “kerokan” untuk menjaga kesehatannya. Bantuan sebuah “sulak” dari seorang suster untuk tidak sekadar meminta derma kepada para pengguna jalan, tetapi juga memberikan jasa membersihkan kaca pengendara mobil di jalan raya itu.
Analisis
Anggota Komunitas Makam Gunung Brintik Semarang, mereka itu semua adalah “Anak Semua Bangsa”. Bila saya memperhatikan frasa Anak Semua Bangsa maka teringat saya buku kedua dari Karya tulis Pramoedya Ananta Toer (Tetralogi Pulau Buru). Tetralogi ini merupakan roman empat serial yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. (Toer, 2011).
Roman sejarah bagian pertama Bumi Manusia merupakan periode penyemaian dan kegelisahan. Roman kedua Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Minke (nama samaran penulis atau aktor dalam tetralogi ini), dihadapkan antara kekaguman pada peradaban Eropa dan kenyataan di lingkungan bangsanya yang kerdil. Tetralogi yang ketiga, Jejak Langkah, adalah fase peng-organisasian perlawanan, Didiklah rakyat dengan organisasi, dan
didiklah penguasa dengan perlawanan (halaman sampul tetralogi Jejak Langkah (Toer, 2011). Roman keempat berjudul Rumah Kaca, memperlihatkan usaha kolonial memukul semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi. Arsip adalah mata radar Hindia yang ditaruh dimana-mana untuk merekam apapun yang digiatkan aktivitas pergerakan itu. Pram dengan cerdas mengistilahkan politik arsip itu sebagai kegiatan pe-rumah kaca-an
Ada kemiripan antara IMAO dan tetralogi, yang tentunya berbeda setting dan kondisinya. Intervensi sosial sebagai cara atau strategi memberikan bantuan kepada masyarakat (individu, kelompok, komunitas). Intervensi sosial merupakan metode yang digunakan dalam praktik di lapangan pada bidang pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial. Intervensi sosial adalah upaya perubahan terencana terhadap individu, kelompok, maupun komunitas. Dikatakan 'perubahan terencana' agar upaya bantuan yang diberikan dapat dievaluasi dan diukur keber-hasilannya. Intervensi sosial dapat pula diartikan sebagai suatu upaya untuk memperbaiki keberfungsian sosial dari kelompok sasaran perubahan, dalam hal ini, individu, keluarga, dan kelompok. Keberfungsian sosial menunjuk pada kondisi di mana seseorang dapat berperan sebagaimana seharusnya sesuai dengan harapan lingkungan dan peran yang dimilikinya.
Penggunaan kata ‘intervensi sosial’ daripada ‘intervensi’ bertujuan menggarisbawahi dua pertimbangan Pertama, individu merupakan bagian dari sistem sosial sehingga walaupun metode bantuan utama adalah terapi psikologi yang bersifat individu, lingkungan sosialnya juga perlu diberikan ‘perlakuan’ atau intervensi. Hal ini didasari pandangan bahwa klien akan dikembalikan kepada lingku-ngan asalnya kelak setelah ‘sembuh’ Apabila lingkungan sosialnya tidak dipersiapkan untuk menerima klien kembali, dikhawatirkan kondisi klien kembali seperti semula sebelum mendapat penanganan. Kedua, intervensi sosial menunjuk pada area intervensi dan tujuan. Hal ini kemudian akan memunculkan pertanyaan siapakah yang menentukan tujuan.
Tujuan utama dari intervensi sosial adalah memperbaiki fungsi sosial kelompok sasaran perubahan. Ketika fungsi sosial seseorang berfungsi dengan baik, diasumsikan bahwa kondisi sejahtera akan semakin mudah dicapai. Kondisi sejahtera dapat terwujud manakala jarak antara harapan dan kenyataan tidak terlalu lebar. Melalui intervensi sosial, hambatan-hambatan sosial yang dihadapi kelompok sasaran perubahan akan diatasi. Dengan kata lain, intervensi sosial berupaya memperkecil jarak antara harapan lingkungan dengan kondisi riil .
Strategi yang digunakan untuk dapat berhasil mengatasi Kemalangan di Gunung Brintik adalah: Partisipasi terhadap masuknya intervensi, Adaptasi/Internalisasi Nilai-Nilai Sosial, Serabutan sebagai mata pencaharian yang dilakukan
Partisipasi sebagai suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya. Dalam defenisi tersebut kunci pemikirannya adalah keterlibatan mental dan emosi. Partisipasi adalah suatu gejala demokrasi dimana orang diikutsertakan dalam suatu perencanaan serta dalam pelaksanaan dan juga ikut memikul tanggung jawab sesuai dengan tingkat kematangan dan tingkat kewajibannya. Partisipasi itu menjadi baik dalam bidang-bidang fisik maupun bidang mental serta penentuan kebijaksanaan.
Bentuk partisipasi yang nyata yaitu:
Partisipasi uang adalah bentuk partisipasi untuk memperlancar usaha-usaha bagi pencapaian kebutuhan masyarakat yang memerlukan bantuan. Partisipasi harta benda adalah partisipasi dalam bentuk menyumbang harta benda, biasanya berupa alat-alat kerja atau perkakas. Partisipasi tenaga adalah partisipasi yang diberikan dalam bentuk tenaga untuk pelaksanaan usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan suatu program. Partisipasi keteram-pilan, yaitu memberikan dorongan melalui keterampilan yang dimilikinya kepada anggota masyarakat lain yang mem-butuhkannya. Partisipasi buah
pikiran lebih merupakan partisipasi berupa sumbangan ide, pendapat atau buah pikiran konstruktif, baik untuk menyusun program maupun untuk memperlancar pelaksanaan program dan juga untuk mewu-judkannya dengan memberikan pengalaman dan peng-tahuan guna mengembangkan kegiatan yang diikutinya.
Partisipasi peserta dampingan, partisipasi Bu Prapto pada Sanggar Serabi penting untuk menciptakan upaya tercapainya kebertahanan hidup, misalnya mengirim beras kepada Anak Jalanan yang melarikan diri ke luar kota.. Dengan demikian tujuan yang sudah direncakan bisa dicapai semaksimal mungkin.
Ringkasan
Bila pembangunan umumnya dimulai dengan program yang besar disertai unsur politik yang kuat, maka pembangunan di kawasan Gunung Brintik ini dimulai dari gerakan non-formal melalui pendampingan, dan dilakukan intervensi dengan pendampingan dan pemberian motivasi untuk membangkitkan motivasi intrinsik untuk mampu membangun dengan kekuatan dari diri sendiri, dari anggota komunitasnya sendiri.
Tidak ada proses belajar tanpa partisipasi dan keaktifan anak didik yang belajar. Setiap anak didik pasti aktif dalam belajar, hanya yang membedakannya adalah kadar/bobot keaktifan anak didik dalam belajar. Ada keaktifan itu dengan kategori rendah, sedang dan tinggi. Disini perlu kreatifitas guru dalam mengajar agar siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
Penggunaan strategi dan metode yang tepat akan menentukan keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Metode belajar mengajar yang bersifat partisipatoris yang dilakukan guru akan mampu membawa siswa dalam situasi yang lebih kondusif karena siswa lebih berperan serta lebih terbuka dan sensitif dalam kegiatan belajar mengajar.
Sebagai suatu intervensi, bantuan NGO dapat berupa uang tunai, pangan, papan, bahan/alat usaha, pendidikan dan pendampingan.