KOMPLEKSITAS DAN JARINGAN RUMIT ULAMA NUSANTARA:
3. Kata Kunci
Ada dua kata kunci untuk pemahaman lebih baik dari disertasi Azra yaitu jaringan dan transmisi.
Jaringan adalah hubungan aktivitas intelektual di antara para ulama yang berasal dari berbagai daerah yang saling berkaitan, melakukan kontak dan berdialog serta proses peleburan tradisi-tradisi kecil (little tradition) untuk membentuk sintesis baru yang membentuk tradisi besar (great tradition). Proses 6 Jaringan Ulama, hal xxiii.
peleburan ini, menurut Azra, berpusat di Haramayn (Makkah dan Madinah).7 Sedangkan transmisi adalah upaya penyebaran gagasan dari satu ulama ke ulama lainnya atau dari satu daerah ke daerah lainnya. Para ulama Jawi yang berasal dari Melayu-Indonesia telah menyebarkan atau menyampaikan gagasan-gagasan, ilmu serta metode pemahaman Islam yang mereka peroleh di Haramayn. Proses transmisi ini telah menghasilkan gagasan-gagasan pembaharuan yang pada gilirannya telah mempengaruhi perjalanan historis Islam di tanah air.8
Jaringan ulama sebagai sebuah realitas sosiologis-historis yang berisi tradisi kekayaan intelektual Islam abad ke-17/18 sangat luas di Asia Tenggara. Di berbagai tempat di kepulauan Nusantara, jaringan ulama, hubungan guru murid dan peta-peta menuntut ilmu yang menghasilkan karya-karya intelektual para ulama yang sangat kaya yang berbentuk naskah-naskah, sebagiannya telah direkonstruksi melalui berbagai studi dan penelitian. Rekonstruksi ini meng-hasilkan deskripsi dan abstraksi tentang peranan para ulama dalam proses intensifikasi dan pribumisasi Islam, tentang kecenderungan berfikir mereka mengenai Islam, dan terutama tentang aktivitas intelektual ulama yang terjadi pada masanya dalam berbagai bentuk tulisan baik berupa karangan asli, komentar (syarah), polemik dan perdebatan maupun karya sastra dan terjemahan. Jaringan Ulama Azra telah berhasil merekonstruksi aktifitas intelektual 7 Jaringan Ulama, hlm. 109.
8 Jaringan Ulama, hlm. 75.
ulama Nusantara pada abad-abad ke-17/18 hubungannya dengan ulama-ulama Timur Tengah, termasuk polemik pemikiran dan gagasan-gagasan pembaruan Islam yang mengkritik gagasan-gagasan tasawuf panteistik wahdatul wujud yang dikembangkan Hamzah Fansuri.
B. Metodologi
Metodologi yang digunakan Azra dalam melakukan penelitian disertasi ini cukup komprehensif yang melibatkan pendekatan sejarah, filosofis, sosiologi, antropologi dan juga filologi.
Pendekatan historis dilakukan dengan melakukan pelacakan terhadap sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Melayu-Indonesia.
Pendekatan ini akan mengungkapkan kaitan antara perkembangan yang terjadi di kalangan kaum Muslim Nusantara dengan dinamika yang terjadi di wilayah Timur Tengah pada periode objek penelitian.9 Pendekatan filosofis digunakan untuk menemukan bahwa sebenarnya abad ke-17/18 bukanlah abad kegelapan bagi umat Islam, bahkan merupakan abad yang penuh dinamika sosial-intelektual. Islam yang berkembang saat itu bukanlah hanya aspek mistik saja, tetapi juga sudah berkembang orientasi keilmu-an, pemikiran dan penekanan pada syariat.10
Dengan pendekatan itu, Azra ingin membuktikan bahwa dalam pertumbuhan dan perkembangan Islam di Nusantara, yang memiliki hubungan erat dengan 9 Jaringan Ulama, hlm. 19.
10 Jaringan Ulama, hlm. 109.
dinamika umat Islam di Timur Tengah, tidak sekedar masalah-masalah politik. Menurut Azra, sejak akhir abad ke-8 hingga abad ke-12 sebagai masa-masa awal terjadi kontak, hubungan Timur Tengah dan kepulauan Nusantara lebih sebagai hubungan perdagangan dan ekonomi. Tetapi, setelah itu hingga akhir abad ke-15, hubungan kedua kawasan mulai mengambil aspek yang lebih luas. Disamping praktik perdagangan, para pedagang Timur Tengah juga melakukan penyebaran Islam hingga terjalinnya hubungan sosial-keagamaan yang sangat erat antara keduanya. Selanjutnya, pada abad ke-15 hingga abad ke-17, hubungan Melayu-Indonesia dengan Timur Tengah diwarnai kerjasama dengan Dinasti Turki Utsmani yang lebih banyak bernuansa politik disebabkan terjadinya konflik kekuasaan antara Spanyol dan Turki Utsmani. Diikat oleh kesamaan agama, para elit penguasa Nusantara menjalin kebersamaan dengan pihak Utsmani.
Hubungan para ulama Nusantara yang lebih bersifat keagamaan dikembangkan dengan para penguasa di Haramayn untuk meningkatkan jaringan keilmuan Islam. Maka, abad ke-17 hubungan antara ulama Haramayn dengan ulama Nusantara lebih merupakan hubungan sosial, intelektual dan keagamaan.11
Pendekatan sosiologis-antropologis digunakan untuk menelusuri pertumbuhan dan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan yang terjadi dikawasan Melayu Indonesia, yang selama ini dianggap wilayah pingiran Islam oleh para peneliti dan sarjana modern.
Eksplorasi Azra justru menemukan di kawasan yang 11 Jaringan Ulama, hlm. 57-58.
dianggap pinggiran ini, tumbuh gagasan dan ide-ide pembaruan, yang tumbuh dan hidup dalam jaringan ulama yang berpusat di Haramayn sehingga memunculkan “sintesis baru” sebagai “great tradition.”12
Kepustakaan yang digunakan Azra cukup otoritatif dengan menggunakan sumber-sumber sejarah primer berbahasa Melayu dan kitab-kitab berbahasa Arab.
Yang menarik adalah penggunaan kamus-kamus biografi ulama Haramayn (Mekkah dan Madinah) se-bagai sumber sejarah penting. Disini, Azra melalukan sebuah terobosan. Diantara kamus-kamus biografi yang dirasakan sangat membantu dalam penelitiannya misalnya: Pertama, karya Al-Hamawi berjudul Fawa’id Al-Irtihal Wanat’ij Al-Saar yang menyajikan tentang informasi langka tentang kebingungan intlektual dan keagamaan di kalangan kaum Muslim Melayu-Indonesia pada abad ke-17 karena salah paham terhadap mistisme Islam. Kedua, karya Almuradi, Khulashat Al-Atsar dan karya karya Al-Muhibbi dan Silk A-Durar yang banyak memberikan informasi berharga tentang beberapa ulama Haramayn yang menulis karya-karya khusus untuk merespon perkembangan keagamaan di Nusantara pada abad ke-17 dan ke-18.
Ketiga, Karya Wajid Al-Din Al-Ahdal murid ‘Abd Shamad Al-Palimbani yang banyak menceritakan tentang riwayat Palimbani. Kitabnya adalah Nafs Yamani wa al-Ruh al-Rayhani. Keempat, karya Al-Baiyhar, Hilyat Al-Basyar fi Tarikh Al-Qur’an Al-Tsalits
‘Asyar yang juga banyak menceritakan biografi ulama-12 Jaringan Ulama, hlm. 110.
ulama Haramayn dan ulama-ulama Nusantara.13 Selain itu, sumber-sumber berbahasa Inggris, Perancis dan Belanda memperkaya perspektif kajian sejarah ulama tersebut.
Di sisi lain, pendekatan filologi dalam studi sejarah Azra memperkaya kajian dan cukup inspiratif. Naskah-naskah lama menjadi hidup karena tidak hanya dibaca sebagai “naskah mati” melainkan naskah yang
“berbicara” dalam konteks sejarah zamannya.14 Lain 13 Jaringan Ulama, hlm. 20.
14 “Salah satu contoh catatan Azra yang sangat inspiratif tersebut,” menurut Fathurrahman, “adalah disebut dan
diinventarisasinya 2 buah salinan naskah Ithaf al-Dhaki karangan Ibrahim al-Kurani, salah seorang guru terkemuka Shaikh Abdurrauf al-Sinkili. Naskah yang disebut oleh Azra sebagai koleksi
Perpustakaan Dar al-Kutub ai-Misriyyah, Kairo ini merupakan salah satu contoh karya ulama Haramayn abad ke-17 yang ditulis dalam konteks bilad Jawah. Naskah ini terasa semakin penting karena, berbeda dengan naskah-naskah yang berkaitan dengan dunia Islam Melayu pada umumnya, salinan Ithaf al-Dhaki tidak dijumpai di Perpustakaan Nasional RI. Sejauh ini, selain di Perpustakaan Dar al-Kutub tersebut, salinan Ithaf al-Dhaki dijumpai di Perpustakaan Leiden dan di Perpustakaan India Office. Dalam buku ini, Azra hanya mengulas sepintas isi kitab tersebut dalam konteks adanya permintaan fatwa dari sebagian ulama Jawi, dalam hal ini bisa disebut secara spesifik Shaikh Abdurraufal-Sinkili, yang meminta penjelasan mengenai doktrin martabat tujuh dalam kitab Tuhfat al-Mursalah ila Ruh al-Nabi, karangan seorang ulama India, Fadl Allah al-Burhanpuri, yang sempat menimbulkan kesalahfahaman di kalangan sebagian Muslim Melayu saat itu. Lebih dari itu, kitab Ithaf al-Dhaki merupakan sebuah presentasi panjang (80 halaman, dengan rata-rata 17 baris perhalamannya) mengenai penafsiran ulang (reinterpretasi) terhadap doktrin-doktrin tasawuf, seperti martabat tujuh, wahdat al-wujud dan lain-lain. Dalam karya ini kita dapat menyaksikan sebuah kesungguhan yang telah ditunjukkan oleh seorang al-Kurani untuk menjernihkan persoalan yang sedang dihadapi oleh, khususnya, masyarakat Muslim Melayu. Dengan demikian, lebih dari sekedar catatan belaka, informasi yang dikemukakan Azra tentang Ithaf al-Dhaki ini sesungguhnya bisa menjadi topik penelitian tersendiri.” Oman Fathurrahman, ‘Jaringan
kata, dalam aspek keluasan cakupan, penggunaan sumber, kedalaman dan kemampuan reportase yang mengungkapan jaringan-jaringan individu dan aktifitas keilmuan ulama, Jaringan Ulama telah menjadi sebuah ground-breaking study (studi perintis) yang sangat berharga.