• Tidak ada hasil yang ditemukan

HISTORIOGRAFI KETOKOHAN DALAM PENGUATAN MADZHAB FIQH

G. Penulisan Hagiografi dalam al-Qur’an dan al-Hadits

G. Penulisan Hagiografi dalam al-Qur’an dan al-Hadits

Persoalan masih banyaknya orang bertanya tentang karamah, apakah ia memiliki dasar dalam syari’at Islam, mempunyai dalil dalam al-Qur’an dan Sunnah, serta bagaimana kaum muslimin dan para ulama menyikapinya tentang hal ini, tampak sebagai dorongan utama yang pada akhirnya banyak melahirkan sejumlah tulisan tentang objek tersebut.

Semua latar belakang motivasi dan tendensi ini, secara umum telah memperkaya khazanah dan wacana, serta memberi corak dan warna terhadap

keberadaan historiografi Islam secara umum. Dari tangan-tangan para ahli yang menuliskannya, telah la-hir sejumlah karya dan gagasan yang mengungkapkan secara detil apa itu karamah, baik dari sudut filosofi, teologi, maupun dari sisi-sisi empirisnya. Dengan ber-bagai model ungkapan serta corak dan ragam dalam menggambarkan berbagai karamah yang pernah terja-di pada tokoh-tokoh Islam yang mendapatkannya, maka kitab-kitab manaqib kemudian secara masif banyak diciptakan di sana sini khususnya di kalangan kelompok sufi.58

Secara umum jumhur ulama dari kalangan Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah baik dari kalangan fuqaha, muhadditsin, kalam maupun dari para syekh sufi sendiri, telah menyepakati keberadaan karamah yang muncul dari kalangan orang-orang shaleh sebagai pengamal agama yang ikhlas. Semua ini membuktikan bahwa pengalaman keagamaan dan tradisi intelektual terus berjalan secara konkrit dan seimbang. Sehingga dalam batas-batas tertentu, antara pengalaman seseo-rang dalam beragama dan keagamaannya berikut penjelasan yang mengitarinya oleh mereka yang memahami bahkan mengalaminya, terus melahirkan ontologi dan epistemologi baru bagi kekayaan intelektual di dunia Islam.59

Dalam al-Qur’an banyak sekali jenis-jenis ungkapan penyanjungan atau hagiografi terhadap tokoh-tokoh sejarah. Realitas ini nampaknya kelak 58 Yusuf al-Nabhany, Jậmi’ al-Karamah al-Awliya, Juz 1 (Mesir: Dār al-Fikr, 1989), hlm. 28-29.

59 Abdul Wahhab al-Sya’rany, Thabaqật al-Kubra, Juz 1 (Bairut: Dar Fikr, t.th.), hlm. 2-6.

mendasari bagi pola pengembangan penulisan kitab manaqib. Ungkapan-ungkapan al-Qur‘an mengenai tokoh-tokoh sejarah yang dijelaskannya, bukan hanya sekedar diungkapkan dengan penceritaan biasa namun seringkali diikuti dengan cara penyanjung-annya. Hal ini dilakukan bukan hanya kepada para nabi, tapi juga kepada tokoh-tokoh tertentu yang kapasitasnya bukan sebagai nabi, seperti halnya pada Lukman al-Hakim, Maryam binti Imran, Ashof bin Barkhiya As., pembantu Nabi Sulaiman As., dan Ashab al-Kahfi.60

Tradisi menuliskan keistimewaan orang-orang tertentu mungkin sejak awal telah dimulai oleh Imam al-Bukhari (w. 870 M.) sebagai ahl hadits dalam karyanya yang cukup terkenal, Kitab Shoheh al-Bukhậry. Ia telah menulis bab khusus tentang hadist-hadits yang menggambarkan keistimewaann para sahabat Nabi Muhammad Saw. dengan judul Bậb al-Fadlậil Ashhậb al-Nabiyy; Bậb al-Manậqib al-Muhậjirỉn;

Bậb al-Manậqib al-Anshậr. Dalam bab-bab tersebut ia telah merekam tentang sanjungan dan komentar baik Nabi Muhammad Saw. terhadap beberapa prestasi sahabat yang disebutkan dalam kumpulan haditsnya tersebut. Dalam konteks ini nampaknya ia sebagai tokoh yang dianggap paling awal dalam mempopulerkan istilah dan kata “al-manậqib“, untuk menunjuk keistimewaan atau sesuatu yang dianggap istimewa dalam diri seseorang. Dalam hal ini para sahabat Nabi Muhammad Saw. yang digambarkan dan disebutkan secara khusus dalam hadits-hadits dengan 60 Yusuf al-Nabhany, Jậmi’ al-Karamah, Juz 1, hlm. 34.

sifat-sifat dan karakter yang istimewa.61 Selanjutnya Abul Husain Muslim bin Hajaj (w. 261 H.) penulis Kitậb Shohệh Muslim, mengumpulkan pula beberapa hadits yang berkait dengan keistimewaan beberapa sahabat Nabi Muhammad Saw. dan menuliskannya dengan Kitậb Fadlậil al-Shahậbat Radliallah’anh.62 Imam al-Tirmidzi (w. 279 H.) penulis Kitậb Jậmi‘ al-Shahệh di dalamnya juga mencantumkan “Abwậb al-Manậqib ‘an Rasulillah Salla l-Lah ‘alayh wasallam“.63

Pada dasarnya hadits-hadist tentang manaqib para sahabat yang dikumpulkan oleh ketiga tokoh ahli hadits tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, baik dari segi redaksi maupun isinya.

Karena beberapa rawi yang dijadikan sumber dalam memunculkan hadits-hadits tentang manaqib sahabat masih dari sumber yang sama. Namun dari sisi penamaan judul-judul bab yang menyangkut tentang manaqib mereka, ditulis dengan redaksi yang cukup variatif.

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 855 M.) menulis secara khusus “Kitab Manậqib ‘Ali bin Abi Thậlib“, yang 61 Karakteristik penulisan kitab manaqib dari kalangan

muhadditsin, dipandang sangat orisinil karena ia masih berupa teks-teks hadits yang dikelompokkan secara khusus atas dasar isi matan teks yang sudah dikategorikan khusus dalam membahas keistimewaan para sahabat, dan yang memiliki kaitan khusus dengan penghargaan Nabi Muhammad Saw. Misalnya hadits-hadits tentang para sahabat Nabi Saw. yang dijanjikan masuk surga, yang mendapat sanjungan Nabi Saw. dan lain-lain. Lihat Ch. Pellat, Manaqib, Extract from The Encyclopaedia of Islam, hlm. 1-5.

62 Lihat Shahệh Muslim bi Syarh Imậm al-Nawawy, Juz 4 (Bandung:

Maktabah Dahlan Bandung, t.th.), hlm. 1854.

63 Imam Hafidz Abi ‘Isa Muhamad Tirmidzy, Kitậb Jậmi‘ al-Shahệh bi al-tahqiq ‘Abdul Wahhab bin Abdul Lathif (Semarang:

Maktabah Thoha Putra 1967), hlm. 243. Hadits Nomor 3684.

didasarkan pada hadits dan atsar sahabat.64 Selanjutnya Imam al-Khawarizmy (w. 1173 M.), me-nulis juga kitab hadits yang secara khusus tentang orang-orang yang paling dekat dengan Rasulullah Saw., dengan judul Kitậb al-Manậqib al-Khawậrizmy li

‘Ali bin Abi Thalib. Karya kitab hadits yang lebih me-motret pada keluarga dekat ini pada akhirnya menjadi rujukan penting bagi kalangan Syi’ah karena telah menguatkan dan menjadi legitimasi dalam menje-laskan tentang informasi dan posisi keluarga Nabi Muhammad Saw. berikut keistimewaannnya.65

Perkembangan berikutnya objek menuliskan keistimewaan seseorang bukan lagi milik para sahabat, tapi juga milik semua umat Islam yang secara turun-temurun biasanya berurut dari sahabat diikuti pula keistimewaannya oleh para tabiin dan orang-orang shaleh berikutnya. Historiografi tentang dan mengenai orang-orang sholeh tersebut secara real akhirnya mengarah pada sejumlah tokoh sufi atau wali yang memiliki keistimewaan tertentu, yang biasa disebut karamah. Sehingga karamah mereka telah menjadi subjek pembahasan yang sangat menarik bagi para pembaca dan digemari dalam berbagai penulisan kitab manaqib. Tradisi penulisan tentang karamah para wali di dunia Islam, sebagaimana halnya juga tentang objek kajian yang lainnya seperti tema-tema yang muncul dalam bidang fiqh, kalam, sejarah 64 Hâji Khalîfah, Kasyf al-Dlunữn ‘an Usamy al-Kutub wa al-Funữn, jilid 2 (Beirut: Dar Fikr 1993), hlm. 677; Ch. Pellat, Manaqib, hlm. 7-9.

65 Karya Khawarizmy dicetak di Iran, Mathba’ah Nainawah al-Hadỉtsah Teheran, t.th.

dan sebagainya, nampaknya memiliki inspirasi dan korelasi yang cukup kuat dengan model-model yang telah dicontohkan dalam al-Qur’an maupun al-Hadits sebagaimana yang telah disebutkan. Keberadaan dan wujud tentang mu’jizat, karamah sebagai sebuah wacana keagamaan, dasarnya bukan hanya telah tercantum dalam al-Qur’an, tapi juga telah dituliskan dan diungkapkannya secara nyata dan langsung pada berbagai kitab hadits dengan contoh-contoh penulisanya.66

Dengan demikian, lahirnya berbagai bentuk dan contoh yang beragam tentang model penulisan manaqib di beberapa hadits tersebut, termasuk juga beberapa atsar sahabat Nabi Saw. yang menjelaskan di dalamnya, membuktikan bahwa tradisi penulisan dalam historiografi Islam mengenai objek dan tema-tema tentang mu’jizat, karamah, barakah dan sebagainya yang dikaitkan dengan ketokohan seseorang sangat kuat dan populer serta faktual dalam tradisi penulisan.67 Mungkin karena tema-tema tersebut berawal berangkat serta berakar dari dalam teks suci, al-Qur’an dan al-Hadits. Tradisi penulisan dan menuliskan mengenai hal ini, bukan hanya telah mendapatkan pengesahan secara tekstual berikut model yang dikembangkannya, tapi juga sebagi bagian dari panggilan kegelisahan intelektual Islam dimana setiap orang berpendidikan merasa terpanggil untuk bisa menjelaskannya secara komprehensif, mengenai 66 Abd al-Qodir ‘Isa, Haqậiq ‘an al-Tashawwuf, (Syiria: Dar Ma’arif Suriah Halab, 2001), hlm. 361.

67 Hamid al-Husaini, Peristiwa Gaib Barakat dan Mukjizat Kenabian Muhammad Saw., (Bandung: Pustaka Hidayah, 2006).

keberadaan dimensi ilahiyah yang masuk dan mendominasi pada dimensi-dimensi kemanusiaan.

Realitas mengenai pembahasan ini, bisa jadi sebagai bagian atau lanjutan dari wacana filsafat kalam yang pernah muncul dan populer pada masa-masa klasik antara Qadariyah, Jabariyah atau Mu’tazilah mengenai qada dan qadar Tuhan. Dalam hal ini, berbagai wacana tentang manaqib dan karamah seseorang, nampaknya sebagai sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari wa-cana-wacana keagamaan sebelumnya, yang kemudian menyebabkan lahirnya sejumlah penulis kreatif untuk terus berupaya mengembangkan dengan berbagai wawasan pemahamannya, berikut karakter keilmuannya masing-masing.

H. Kitab Manaqib di Kalangan Madzhab Fiqh