BAB IV HASIL PENELITIAN
4.2 Analisis Univariat
4.2.3. Variabel Dependen
4.2.3.2 Kategori Tindakan Responden
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Tindakan Responden Berdasarkan Tindakan Keikutsertaan BPJS Kesehatan
No. Tindakan Jumlah (n) Persentase(%)
1. Baik 29 60,4
2. Kurang 19 39,6
Total 48 100,0 Berdasarkan Tabel 4.10 diatas dari 48 responden 29 orang (60,4%) dikategorikan baik yang artinya bersedia mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan dan sebanyak 19 orang (39,6%) masuk dalam kategori kurang yang artinya tidak bersedia menjadi peserta BPJS Kesehatan.
4.3 Analisa Bivariat
4.3.1 Pengaruh Pengetahuan Dengan Tindakan Keikutsertaan BPJS Kesehatan
Tabel 4.11 Hasil Pengaruh Pengetahuan Responden Dengan Tindakan Keikutsertaan BPJS Kesehatan Di Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang Tahun 2016
No
.
PengetahuanKeikutsertaan BPJS Kesehatan Total
p menunjukkan (p<0,05) dengan demikian ada pengaruh yang signifikan antara pengetahuan masyarakat trntang BPJS Kesehatan dengan tindakan keikutsertaan dalam program BPJS Kesehatan.
4.3.2 Pengaruh Sikap Dengan Tindakan Keikutsertaan BPJS Kesehatan
Tabel 4.12 Hasil Pengaruh Sikap Responden Dengan Tindakan Keikutsertaan BPJS Kesehatan Di Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang Tahun 2016
No
.
SikapKeikutsertaan BPJS Kesehatan Total
p
Berdasarkan tabel 4.12 diatas dapat dilihat bahwa responden yang mau ikut serta BPJS Kesehatan dan memiliki sikap baik sebanyak 7 orang (100,0%) sedangkan yang tidak mau ikut serta BPJS Kesehatan dan memiliki sikap kurang sebanyak 3 orang (100,0%). Hasil uji chi-square menunjukkan (p<0,05) dengan demikian ada pengaruh yang signifikan antara sikap masyarakat dengan tindakan ikut serta BPJS Kesehatan.
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Faktor Internal Responden 5.1.1 Umur Responden
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 48 responden umur yang paling banyak adalah antara 46 hingga 55 tahun sebanyak 24 orang (50%), antara 36 hingga 45 tahun sebanyak 16 orang (33,3%), dan antara 26 hingga 35 tahun sebanyak 8 orang (16,7%). Menurut Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental), dimana pada aspek psikologis ini, taraf berpikir seseorang semakin matang dan dewasa. Semakin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun.
Umur tidak mempengaruhi pengetahuan responden dan sikap responden terhadap BPJS Kesehatan. Selain itu ketika semakin bertambahnya umur maka seseorang cenderung memiliki pengalaman, pengetahuan dan sikap yang berbeda terhadap suatu hal datau peristiwa. Hal ini dilihat dari umur produktif responden yang lebih banyak diwawancarai lebih banyak mau menjadi peserta BPJS Kesehatan. Dari hasil penelitian responden dengan umur antara 45 hingga 55 yang mau mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan 16 orang (55,2%) dari jumlah respon yang mau mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Hal di atas sejalan dengan penelitian Anggi Afifi (2009), bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan kepemilikan asuransi kesehatan yang belum memiliki kesadaran untuk berasuransi di lihat dari usia. Menurutnya bahwa responden yang berusia lebih tua belum memiliki kesadaran untuk berasuransi dan dilihat dari kemungkinan sakit, responden yang memiliki usia lebih tua jarang terkena sakitdibandingkan dengan responden yang usia muda. Penelitian ini pun sejalan juga dengan penelitian Hermawanti (2013) yang menyatakan tidak terdapat perbedaan pengetahuan dan pemahaman akan asuransi jiwa pada berbagai usia responden yang mempengaruhi kesadaran akan berasuransi.
5.1.2 Pendidikan Responden
Dilihat dari hasil penelitian yang disajikan dalam table 4.3 diketahui bahwa pendidikan responden responden tingkat pendidikan yang paling banyak adalah pendidikan SMA/Sederajat sebanyak 18 orang (37,5%), Perguruan Tinggi sebanyak 14 orang (29,2%), tingkat SMP sebanyak 13 orang (27,1%). Untuk tingkat SD sebanyak 1 orang (2,1%), dan responden yang tidak menempuh pendidikan atau tidak sekolah sebanyak 2 orang (4,2%).
Sukmadinata (2013) menyatakan pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk siap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan
menghambat perkembangannya sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan.
Berdasarkan hasil uji chi-square menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh pendidikan terhadap BPJS Kesehatan di Kecamatan Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang , p = 0,195 > 0,05. Sejalan dengan Notoatmodjo (2012), juga mengatakan bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui oleh orang yang didapat secara formal dan informal. Pengetahuan formal diperoleh dari pendidikan sekolah sedangkan pengetahuan informal diperoleh dari luar sekolah. Selain itu, pengetahuan juga dapat diperoleh dari media informasi yaitu media cetak seperti buku-buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain, juga dari media elektronika seperti televisi, radio, dan internet. Oleh karena itu, pendidikan bukan salah satu faktor internal yang mempengaruhi pengetahuam dan sikap terhadap BPJS Kesehatan di Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang 2016.
5.1.3 Pekerjaan Responden
Berdasarkan hasil penelitian yang telah disajikan dalam tabel 4.4 menunjukkan bahwa pekerjaan responden dalam penelitian ini yang paling banyak adalah wiraswasta yaitu sebanyak 17 orang (35,4%), pegawai swasta sebanyak 16 orang (33,3%), pedagang sebanyak 9 orang (18,8), dan petani sebanyak 3 orang (6,3%), dan tidak bekerja sebanyak 3 orang (6,3%). Menurut Anderson yang dikutip oleh Irfan (2014), salah satu faktor struktur sosial yaitu pekerjaan akan berpengaruh pada pemanfaatan pelayanan kesehatan. Pekerjaan seseorang dapat mencerminkan sedikit banyaknya informasi yang diterima.
Informasi tersebut akan membantu seseorang dalam mengambil keputusan untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
Berdasarkan uji chi square menunjukkan bahwa ada pengaruh pekerjaan terhadap BPJS Kesehatan di Kecamatan Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang , p = 0,020 < 0,05. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Notoatmodjo (2012), yang mengatakan bahwa seseorang yang bekerja akan memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada seseorang yang tidak bekerja karena dengan bekerja seseorang akan banyak mendapatkan informasi dan pengalaman.
5.1.4 Penghasilan Responden
Berdasarkan hasil penelitian yang telah disajikan dalam tabel 4.5 menunjukkan bahwa pada penghasilan yang paling banyak adalah lebih besar dari Rp 1.600.000,00 sebanyak 37 orang (77,1%), dan lebih kecil dari Rp 1.600.000,00 sebanyak 11 orang (22,9%). Ini menunjukkan bahwa penghasilan responden masih ada yang belum memenuhi standar UMR yang telah ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Dairi.
Hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 4.4 bahwa jumlah penghasilan keluarga responden yang paling banyak mau menjadi peserta BPJS Kesehatan adalah yang berpenghasilan > UMR Kabupaten Dairi yakni Rp1.600.000,- sebanyak 25 orang (77,1%). Sedangkan responden yang tidak mau menjadi peserta JKN paling banyak ada pada responden yang memiliki jumlah penghasilan keluarga < UMR Kabupaten Dairi yakni sebanyak 7 orang (36,8%).
Berdasarkan uji statistik pengaruh jumlah penghasilan responden terhadap BPJS Kesehatan dengan menggunakan uji chi square diperoleh nilai p=0,063 >
0,05 yang berarti tidak ada pengaruh jumlah penghasilan keluarga dengan keikutsertaan menjadi peserta BPJS Kesehatan. Hal ini sejalan dengan Anggi Afifi pada tahun 2009 dalam penelitiannya munujukkan bahwa semakin tinggi penghasilan seseorang maka akan tinggi juga kesadaran seseorang untuk membeli asuransi kesehatan. dengan penghasilan yang tinggi dan kebutuhan yang telah tercukupi maka akan memungkinkan individu-individu sadar berasuransi dan berkeinginan untuk membeli asuransi kesehatan. sedangkan buat individu yang memiliki penghasilan rendah, mereka lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terlebih dahulu baru memikirkan apakah akan menggunakan asuransi kesehatan atau tidak.
Wijaya (2013), mengatakan bahwa tingkat ekonomi masyarakat mampu mempengaruhi kesadaran dalam berasuransi.Sehingga disini perlu sekali pemerintah memperhatikan tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat indonesi karena kesejahteraan masyarakat yang baik dan berkualitas mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berasuransi kesehatan.Serta peran lembaga asuransi dalam memberikan pelayanan jasa atau produk baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
5.2 Pengetahuan Responden Tentang BPJS Kesehatan Berdasarkan Kategori pengetahuan di Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang tahun 2016
Pengetahuan yaitu hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Informasi dapat berasal dari berbagai bentuk termasuk pendidikan formal maupun non formal, percakapan harian, membaca, mendengar radio, menonton televisi dan dari pengalaman hidup lainnya. Pengetahuan yang didapatkan akan menjadi sikap sebagai reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2012). Serta pengetahuan merupakan suatu usaha yang mendasari seseorang berfikir secara ilmiah, sedang tingkatannya tergantung pada ilmu pengetahuan atau dasar pendidikan orang tersebut (Nursalam dan Pariani,2010).
Sehingga pengetahuan dapat dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, usia, ekonomi, informasi lingkungan dan kebudayaan.
Berdasarkan penelitian dikategorikan bahwa pengetahuan responden tentang BPJS Kesehatan kategori baik yaitu 7 orang (14,6%), kategori sedang yaitu 37 orang (77,1%) dan kategori kurang sebanyak 4 orang (8,3%). Dengan demikian responden dari penelitian sebagian besar berada pada kategori sedang. Penelitian lain adalah Tyas pada tahun 2014 di Kelurahan Purwosari Kecamatan Laweyan Kota Surakarta bahwa sebagian besar pengetahuan responden termasuk kategori sedang sebesar 68,8%.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Notoadmojo, 2010 yang menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai sumber informasi sehingga dapat membentuk suatu keyakinan bagi seseorang.
Sehingga upaya dalam peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai BPJS Kesehatan dapat diterima melalui petugas kesehatan, kader dan masyarakat serta melalui informasi radio, televisi ataupun majalah. Semakin banyak orang menggali informasi baik dari media cetak maupun media elektronik maka pengetahuan yang diperoleh semakin meningkat.
5.2.1 Pengetahuan Responden Tentang Asuransi Kesehatan
Asuransi kesehatan adalah salah satu jenis produk asuransi yang secara khusus menjamin biaya kesehatan baik dalam pengobatan kesehatan ataupun perawatan kesehatan para anggota asuransi tersebut. Pada umumnya, jenis perawatan yang ditawarkan perusahaan asuransi hanya perawatan bentuk rawat inap dan rawat jalan. Pada umumnya perusahaan asuransi yang menyelenggarakan program asuransi kesehatan akan bekerja sama dengan rumah sakit baik secara langsung maupun melalui institusi perantara untuk menyelenggarakan perawatan kesehatan.
Pengetahuan responden tentang asuransi kesehatan dapat diketahui bahwa sebanyak 19 orang (39,6%) menjawab benar yaitu asuransi kesehatan ialah perlindungan kesehatan agar memperoleh pelayanan kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak responden yang tidak mengetahui tentang asuransi kesehatan dengan benar dan jelas. Masih diperlukan sosialisasi atau membagi informasi terhadap masyarakat tentang asuransi kesehatan. Kurangnya pemahaman tentang asuransi kesehatan dapat mempengaruhi tingkat keikutsertaan masyarakat terhadap program asuransi kesehatan seperti BPJS Kesehatan.
Sejalan dengan Hermawati (2010) yang menyatakan bahwa diperlukan lembaga asuransi kesehatan melakukan edukasi yang luas lagi terhadap seluruh masyarakat, sehingga mereka yang berpendidikan rendah memiliki kesempatan mendapatkan informasi yang baik tentang manfaat dan pentingnya memiliki asuransi kesehatan secara detail, tidak hanya mereka yang berpendidikan tinggi.
Tujuannya agar mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mau berasuransi kesehatan melalui pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang asuransi kesehatan. Serta tingginya tingkat pendidikan masyarakat seharusnya bisa digunakan oleh lembaga asuransi kesehatan untuk dapat mengeluarkan produk asuransi kesehatan baru dengan menyesuaikan pada kebutuhan setiap kelompok masyarakat.
5.2.2 Pengetahuan Responden Tentang JKN
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikembangkan di Indonesia merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan melalui mekanisme Asuransi Kesehatan Sosial yang bersifat wajib (Kemenkes-RI, 2014). JKN merupakan program yang dalam pelaksanaannya dan dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS Kesehatan).
Sebenarnya masyarakat sudah tahu mengenai Jaminan Kesehatan Nasional walaupun hanya sedikit informasi yang diserap masyarakat. Namun masyarakat masih banyak beranggapan bahwa Jaminan Kesehatan Nasional nanti dapat diurus secara mendadak ketika sedang dibutuhkan untuk memeriksakan kesehatan seperti memeriksakan kesehatan dan membiayai pengobatan yang
membutuhkan biaya yang mahal. Padahal Jaminan Kesehatan Nasional memiliki 6 prinsip, yaitu gotong royong, nirlaba, portabilitas, prinsip kepesertaan wajib, dana amanat, dan hasil pengeloaan dana jaminan social (Kemenkes, 2013)
Dari beberapa faktor pengetahuan di atas mempengaruhi masyarakat untuk mengikuti Jaminan Kesehatan Nasional dengan tujuan supaya masyarakat tersebut jika mengalami sakit tidak akan mengeluarkan biaya yang begitu besar untuk memeriksakan dan membeli obat. Jadi, Jaminan Kesehatan Nasional bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah (JKN, 2014).
Berdasarkan jawaban pengetahuan dari responden sebanyak 37 orang (77,1%) menjawab benar bahwa pengertian dari JKN ialah Jaminan Kesehatan Nasional. Pada masyarakat di Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang sebagian besar memiliki pengetahuan cukup mengenai Jaminan Kesehatan Nasional. Hal ini dibuktikan dengan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) meliputi masyarakat yang cukup atau mampu dalam masalah ekonomi, ada budaya menabung pada masyarakat untuk dapat menanggulangi apabila ada musibah sakit, masih adanya masyarakat yang berpikir bahwa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bukan merupakan program pemerintah untuk mencari laba, dan masyarakat ada yang belum tahu mengenai prinsip-prinsip Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diterapkan seperti kegotong royongan, tanpa mencari laba, jaminan sosial yang berkelanjutan, dan kepesertaan wajib seluruh masyarakat Indonesia.
5.2.3 Pengetahuan Responden Tentang BPJS Kesehatan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan merupakan salah satu badan hukum publik yang khusus dibentuk oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan seluruh masyarakat Indonesia serta merupakan asuransi hidup manusia yang turut mendukung upaya dalam mewujudkan pembangunan kesehatan masyarakat baik daerah maupun provinsi.
BPJS Kesehatan mulai beroperasi sejak 1 Januari 2014, BPJS sebelumnya bernama Asuransi Kesehatan (Askes) yang dikelola oleh PT. Askes Indonesia (Persero), namun sesuai dengan UU No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, maka PT. Askes berubah menjadi BPJS Kesehatan sejak tanggal 1 Januari 2014.
Badan penyelenggara jaminan sosial kesehatan adalah merupakan suatu badan dari pemerintah badan penyelenggara sosial yang di bentuk pemerintah badan penyelenggara jaminan sosial kesehatan untuk masyarakat dan untuk seluruh warga negara indonesia nantinya secara bertahap. Pengetahuan responden tentang pengertian dari BPJS Kesehatan termasuk dalam kategori pengetahuan sedang, dapat dilihat dari hasil penelitian, yaitu sebanyak 32 orang (66,7%) menjawab benar bahwa BPJS Kesehatan adalah BPJS penyelenggara jaminan kesehatan di Indonesia.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Cahyani pada tahun 2015, yang menyatakan bahwa pengetahuan responden tentang program BPJS kesehatan adalah kurang yaitu sebanyak 42 responden (45,7%) di Kelurahan Bandungrejo Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak.
5.2.4 Pengetahuan Responden Tentang Manfaat BPJS Kesehatan
BPJS Kesehatan dilakukan untuk mennjamin kesehatan seluruh masyarakat Indonesia dan memberikan kemudahan dalam akses kesehatan bagi seluruh aspek kesehatan masyrakat. Yang memiliki dua manfaat pelayanna yakni :
2. Pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu pelayanan kesehatan non spesialistik mencakup:
a. Mendapat pemeriksaan kesehatan ; Pengobatan, dan ; Melakukan konsultasi medis.
b. Mendapat tindakan medis yang tidak masuk dalam bidang kompetensi dokter spesialis.
c. Mendapat transfusi darah sesuai kebutuhan medis.
d. Mendapat pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pertama.
e. Mendapat pelayanan rawat inap tingkat pertama sesuai dengan indikasi medis.
Jika kondisi pasien membutuhkan penanganan kesehatan tingkat lanjut maka fasilitas kesehatan tingkat pertama akan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, yakni rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
3. Adapun manfaat layanan kesehatan ditingkat kedua yang didapat di rumah sakit setelah dirujuk dari puskesmas adalah sebagai berikut:
e. Mendapat pemeriksaan diri; Pengobatan, dan; Melakukan konsultasi medis dengan dokter spesialis.
f. Mendapat tindakan medis dari dokter spesialis sesuai dengan indikasi medis.
g. Mendapat rehabilitasi medis serta transfusi darah.
h. Mendapat pelayanan rawat inap di ruang non intensif maupun di ruang intensif.
Hasil penelitian menggambarkan bahwa pengetahuan responden tentang manfaat BPJS Kesehatan dalam kategori pengetahuan sedang, yaitu sebanyak 23 orang (47,9%) menjawab benar bahwa manfaat BPJS Kesehatan adalah menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan. Menurut undang – undang republik indonesia No.24 Tahun 2011 tentang badan penyelenggara jaminan sosial kesehatan, kesehatan adalah berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang di berikan kepada setiap orang yng telah membayar iuran atau iurannya di bayar oleh pemerintah.
5.2.5 Pengetahuan Responden Tentang Pentingnya Menjadi Peserta BPJS Kesehatan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah badan publik yang dibentuk dengan Undang-undang. BPJS ini terbagi dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, yang pada dasarnya kedua BPJS ini mengemban misi untuk memenuhi hak konstitusional setiap orang atas jaminan sosial dengan menyelenggarakan program jaminan yang bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah perannya lebih besar karena menyangkut kepentingan umum, bahkan kepentingan rakyat
secara keseluruhan karena peranan pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah melibatkan seluruh pegawai negeri makin terasa dengan adanya peningkatan kesadaran bernegara dan bermasyarakat, maka pelayanan telah meningkat kedudukannya dimata masyarakat menjadi suatu hak atas pelayanan.
Hak masyarakat atau perorangan untuk memperoleh pelayanan dari pemerintah dan pelayanan umum belum menjadi budaya masyarakat. Dimana-mana masih terdapat kelemahan-kelemahan yang dampaknya sering merugikan masyarakat yang menerima jasa layanan. Menurut Notoatmodjo (2003: 29), secara umum pelayanan kesehatan masyarakat adalah sebuah sub sistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran masyarakat.
Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak melakukan pelayanan kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan).
Pengetahuan responden tentang pentinya menjadi peserta BPJS Kesehatan, yaitu sebanyak 29 orang (60,4%) menjawab benar menjadi peserta BPJS itu penting karena mendapat pemeriksaan kesehatan ; Pengobatan, dan ; Melakukan konsultasi medis, Hal ini sejalan dengan Munawarah (2016) yang menyatakan bahwa Badan Penyelaggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) di Puskesmas desa Teluk Pandan Kabupaten Kutai Timur adalah kegiatan yang di lakukan oleh BPJS kesehatan untuk masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan masyarakat dengan jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat
pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang di berikan kepada setiap orang Tangibles, Reliability, Responsive, Assurance, Empathy yang telah membayar iuran atau iurannya di bayar oleh
pemerintah dengan mengacu pada Kualitas pelayanan.
5.2.6 Pengetahuan Responden Tentang Iuran Dan Pelaksanaan Program BPJS
Dalam menjalankan fungsinya BPJS Kesehatan menerima pendaftaran masyarakat melalui pemerintah, tempat peserta bekerja yang pembayaran iurannya dibayarkan oleh instansi/perusahaan tempat individu bekerja namun untuk peserta yang mendaftar secara mandiri mereka membayar iuran sendiri lewat bank yang telah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Pembayaran iuran paling lambat dilakukan pada tanggal 10 tiap bulannya.
Iuran kepesertaan di BPJS adalah sebagai berikut
8. Bagi peserta Penerima Bantun Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan iuran dibayar oleh Pemerintah.
9. Iuran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang bekerja pada Lembaga Pemerintahan terdiri dari Pegawai Negeri Sipil, anggota TNI, anggota Polri, pejabat negara, dan pegawai pemerintah non pegawai negeri sebesar 5% (lima persen) dari Gaji atau Upah per bulan dengan ketentuan : 3% (tiga persen) dibayar oleh pemberi kerja dan 2% (dua persen) dibayar oleh peserta.
10. Iuran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang bekerja di BUMN, BUMD dan Swasta sebesar 5% ( lima persen) dari Gaji atau Upah per bulan dengan ketentuan : 4% (empat persen) dibayar oleh Pemberi Kerja dan 1%
(satu persen) dibayar oleh Peserta.
11. Iuran untuk keluarga tambahan Pekerja Penerima Upah yang terdiri dari anak ke 4 dan seterusnya, ayah, ibu dan mertua, besaran iuran sebesar sebesar 1% (satu persen) dari dari gaji atau upah per orang per bulan, dibayar oleh pekerja penerima upah.
12. Iuran bagi kerabat lain dari pekerja penerima upah (seperti saudara kandung/ipar, asisten rumah tangga, dll); peserta pekerja bukan penerima upah serta iuran peserta bukan pekerja adalah sebesar:
d. Sebesar Rp. 25.500,- (dua puluh lima ribu lima ratus rupiah) per orang per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III.
e. Sebesar Rp. 51.000,- (lima puluh satu ribu rupiah) per orang per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas II.
f. Sebesar Rp. 80.000,- (delapan puluh ribu rupiah) per orang per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas I.
13. Iuran Jaminan Kesehatan bagi Veteran, Perintis Kemerdekaan, dan janda, duda, atau anak yatim piatu dari Veteran atau Perintis Kemerdekaan, iurannya ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari 45% (empat puluh lima persen) gaji pokok Pegawai Negeri Sipil golongan ruang III/a dengan masa kerja 14 (empat belas) tahun per bulan, dibayar oleh Pemerintah.
14. Pembayaran iuran paling lambat tanggal 10 (sepuluh) setiap bulan
Tidak ada denda keterlambatan pembayaran iuran terhitung mulai tanggal 1 Juli 2016 denda dikenakan apabila dalam waktu 45 (empat puluh lima) hari sejak status kepesertaan diaktifkan kembali, peserta yang bersangkutan memperoleh pelayanan kesehatan rawat inap, maka dikenakan denda sebesar
2,5% dari biaya pelayanan kesehatan untuk setiap bulan tertunggak, dengan ketentuan :
1. Jumlah bulan tertunggak paling banyak 12 (dua belas) bulan.
2. Besar denda paling tinggi Rp.30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah).
Sebanyak 33 orang responden (68,8%) menjawab iuran dan pelaksanaan program BPJS Kesehatan murah dan mudah dijangkau. Hal ini tidak sejalan dengan pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) di Puskesmas Desa Teluk Pandan Kabupaten Kutai Timur kurang baik. Hal ini dapat di lihat dari alat fasilitas kesehatan dan sarana yang masih kurang dan banyak rusak sehingga mempengaruhi kualitas pelayanan menjadi kurang maksimal dan menyebabkan masyarakat yang menggunakan pelayanan merasa pelayanan yang ada di Puskesmas Desa Teluk Pandan Kabupaten Kutai Timur kurang berkualitas.
5.2.7 Pengetahuan Responden Tentang Sistem Rujukan BPJS Kesehatan BPJS Kesehatan sebagai badan pelaksanan program jaminan kesehatan membuat sistem rujukan dalam pembiayaan kesehatan. Sistem rujukan yang dimulai dari tempat upaya kesehatan primer atau yang pertama yaitu puskesmas.
Pada saat pasien mendaftar di tempat pendaftaran baik rawat inap maupun rawat jalan surat rujukan akan selalu ditanyakan dan diminta oleh petugas. Karena surat
Pada saat pasien mendaftar di tempat pendaftaran baik rawat inap maupun rawat jalan surat rujukan akan selalu ditanyakan dan diminta oleh petugas. Karena surat