• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.2.8 Pengaruh Pengetahuan Responden Dengan Tindakan

Tahun 2016

Menurut Notoatmodjo (2009), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru dalam diri orang tersebut terjadiproses pengetahuan yang berurutan. Dimana proses tersebut diawali dengan awareness atau kesadaran, dimana orang tersebut menyadari atau mengetahui adanya stimulus atau obyek. Kemudian interest atau merasa tertarik terhadap stimulus. Tahap berikutnya adalah evaluation atau menimbang – nimbang terhadap apa yang baik

dan tidaknya stimulus tersebut, selanjutnya adalah trial atau mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan yang dikehendaki oleh stimulus sampai akhirnya pada tahap terakhir yaitu adaption atau subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan dan kesadaran serta sikapnya terhadap stimulus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan berpengaruh secara signifikan terhadap keikutsertaan BPJS Kesehatan. Pengetahuan merupakan faktor yang mempengaruhi keikutsertaan BPJS Kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 7 orang (100,0%), sedangkan yang tidak mau ikut serta BPJS Kesehatan dan memiliki pengetahuan kurang sebanyak 4 orang (100,0%).

Hasil penelitian dengan uji chi-square menunjukkan (p<0,05) dengan demikian ada pengaruh yang signifikan antara pengetahuan masyarakat tentang BPJS Kesehatan dengan tindakan keikutsertaan dalam program BPJS Kesehatan.

Hal ini sejalan dengan penelitian Cahyani (2015) bahwa pengetahuan responden tentang program BPJS kesehatan adalah kurang di Kelurahan Bandungrejo Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak, yaitu sebesar 42 responden (45,7%).

Ada hubungan antara pengetahuan tentang program BPJS kesehatan dengan kepesertaan BPJS Kesehatan (p = 0,024 < 0,05).

Pengaruh yang signifikan antara pengetahuan masyarakat tentang BPJS Kesehatan dengan tindakan keikutsertaan dalam program BPJS Kesehatan di Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang tahun 2016. Hal ini didukung oleh hasil uji yang menyatakan besar p<0,05 yaitu p=0,005.

5.3 Sikap Responden Terhadap BPJS Kesehatan Berdasarkan Kategori Sikap di Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang tahun 2016

Pengertian sikap menurut Notoatmodjo (2010) merupakan kesiapan untuk bertindak. Sikap belum merupakan suatu tindakan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap masih merupakan reaksi tertutup. Sikap sesorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tersebut melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya. Oleh karena itu, informasi yang didapatkan seseorang tentang sesuatu hal akan dapat mempengaruhi sikapnya.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sikap responden terhadap BPJS Kesehatan bahwa 7 orang (14,6%) memiliki sikap baik tentang BPJS Kesehatan, kategori sedang sebanyak 38 orang (79,2%) dan kategori kurang sebanyak 3 orang (6,2%). Hal ini sejalan dengan penelitian Cahyani (2015) sebagian besar sikap responden tentang program BPJS adalah cukup yaitu sebesar 62 responden (67,4%) di Kelurahan Bandungrejo Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak.

5.3.1 Sikap Responden Terhadap Asuransi Kesehatan

Asuransi kesehatan adalah salah satu jenis produk asuransi yang secara khusus menjamin biaya kesehatan baik dalam pengobatan kesehatan ataupun perawatan kesehatan para anggota asuransi tersebut. Pada umumnya, jenis perawatan yang ditawarkan perusahaan asuransi hanya perawatan bentuk rawat inap dan rawat jalan. Pada umumnya perusahaan asuransi yang menyelenggarakan program asuransi kesehatan akan bekerja sama dengan rumah sakit baik secara langsung maupun melalui institusi perantara untuk menyelenggarakan perawatan kesehatan.

Produk asuransi diharapkan dapat menampung sekian banyak resiko yang ditemui dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Secara khusus, tujuan dari asuransi jiwa adalah untuk mengganti kerugian finansial dari individu, keluarga dan perusahaan yang timbul pada waktu sumber daya manusia sakit, cacat atau kesadaran akan nilai asuransi itu ada dan nyata, namun konsumen biasanya tidak berinisiatif membeli asuransi yang secukupnya untuk memenuhi kebutuhan.

Masyarakat beranggapan pembelian asuransi memerlukan prosedur yang rumit oleh karena itu keraguan-keraguan ini, maka kebutuhan masyarakat untuk perlindungan terhadap finansial tidak akan tercapai jika asuransi tidak murah disinilah dapat dilihat bahwa pengaruh sikap konsumen baik dari pngetahuan, keinginan sampai pada tujuan mereka ingin membeli produk asuransi sangat penting bagi industri asuransi, dan sikap konsumen tersebut yang nantinya akan mendorong keputusan konsumen untuk membeli produk asuransi sebagai jaminan perlindungan jiwa.

Sikap responden tentang pentingnya asuransi kesehatan diperoleh dari hasil penelitian yaitu sangat setuju bahwa asuransi kesehatan adalah hal yang penting karena dapat membantu pembiayaan kesehatan 13 responden (37,1%) dan sangat tidak setuju dengan pentingnya asuransi sebanyak 5 responden (10,5%). Menurut Mulyana (2006) keadaan masyarakat yang tidak menganggap penting untuk berasuransi di karenakan pola perikehidupan yang baik dalam masyarakat kita seperti gotong-royong, saling menolong kadang mempengaruhi ketidakmandirian seseorang. Banyak yang berpikir bahwa masa depan urusan nanti, yang terpenting

adalah memenuhi kebutuhan sekarang. Budaya seperti inilah yang dapat mempengaruhi rendahnya kesadaran masyarakat dalam berasuransi kesehatan.

5.3.2 Sikap Responden Terhadap Sosialisasi BPJS Kesehatan

Sosialisasi merupakan tahap utama masyarakat untuk mengetahui informasi mengenai program BPJS Kesehatan, manfaat BPJS Kesehatan, maupun tata cara untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan yang akan menimbulkan motivasi masyarakat dalam pengambilan sikap untuk memutuskan menjadi peserta BPJS Kesehatan. Sosialisasi atau penyebarluasan informasi program BPJS Kesehatan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui media massa, sosial media, penyuluhan, kampanye, word of mouth, dan sebagainya.

Sejalan dengan penelitian Roesalya (2014), yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara terpaan sosialisasi program BPJS Kesehatan dengan keputusan masyarakat sebagai peserta program BPJS Kesehatan. Hal ini berarti pesan yang disampaikan melalui sosialisasi yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan berkaitan dalam pembuatan keputusan masyarakat untuk bergabung menjadi peserta BPJS Kesehatan sehingga sosialisasi merupakan hal yang penting agar masyarakat mengetahui informasi-informasi yang dibutuhkan dan yang ingin disampaikan oleh BPJS Kesehatan sehingga akan membantu untuk menghasilkan keputusan masyarakat yang menguntungkan BPJS Kesehatan

Berdasarkan penelitian sebanyak 23 orang (47,9%) tidak setuju bahwa sosialisasi mengenai kepesertaan BPJS terhadap masyarakat sudah baik. Menurut peneliti hal ini menunjukkan bahwa belum maksimalnya sosialisasi dan belum meratanya informasi tentang BPJS Kesehatan kepada masyarakat. Hal ini juga

dapat mengakibatkan kurangnya penyuluhan/sosialisasi kepada masyarakat atau calon peserta sehingga masyarakat atau calon peserta tidak mengetahuinya dan memilih untuk bergabung dengan perusahaan atau brand lain. Maka dari itu diharapkan BPJS sebagai provider lebih aktif membagikan informasi bagi masyarakat.

Sikap responden tentang pemerintah harus mensosialisasikan apa pentingnya dan cara mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan sebanyak 14 orang (29,2%) sangat setuju terhadap pernyataan tersebut. Sosialisasi merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan JKN mengingat tingkat kepesertaan jaminan kesehatan saat ini relatif rendah. Sosialisasi yang baik akan memberikan pemahaman dan kesadaran kepada peserta dan pemberi kerja akan hak dan kewajibannya (KEMENKES, 2013).

Menurut peneliti pesan yang disampaikan melalui sosialisasi yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan berkaitan dalam pembuatan keputusan masyarakat untuk bergabung menjadi peserta BPJS Kesehatan sehingga sosialisasi merupakan hal yang penting agar masyarakat mengetahui informasi-informasi yang dibutuhkan dan yang ingin disampaikan oleh BPJS Kesehatan sehingga akan membantu untuk menghasilkan keputusan masyarakat yang menguntungkan BPJS Kesehatan.

5.3.3 Sikap Responden Terhadap Pemanfaatan BPJS Kesehatan di Rumah Sakit

Cumming dalam Notoatmodjo (2005), mengungkapkan suatu set kategori variabel utama yang muncul dari analisa terhadap model-model yang terdahulu bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan salah satunya dipengaruhi oleh kemudahan memperoleh pelayanan kesehatan, seperti kemampuan individu

membayar biaya pelayanan dan pemeliharaan kesehatan, kesadaran mereka untuk menggunakan pelayanan kesehatan, dan tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan;

dan sikap individu terhadap pelayanan kesehatan, seperti kepercayaan terhadap manfaat pengobatan, dan kepercayaan terhadap kualitas pelayanan yang tersedia.

Menurut peneliti hal ini menunjukkan bahwa memiliki asuransi kesehatan seperti BPJS Kesehatan dapat mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan dan pemeliharaan kesehatan.

Masyarakat dapat memanfaatkan kartu BPJS Kesehatan untuk mendapat pelayanan di Rumah Sakit, namun pada saat pasien mendaftar di tempat pendaftaran baik rawat inap maupun rawat jalan surat rujukan akan selalu ditanyakan dan diminta oleh petugas. Karena surat rujukan tersebut akan digunakan untuk mengetahui jenis pelayanan yang akan diberikan kepada pasien sesuai dengan keluhannya dan yang dirujuk oleh puskesmas. Untuk pasien BPJS pelayanan kesehatan yang diberikan merupakan pelayanan kesehatan yang akan ditanggung oleh BPJS dengan sistem pelayanan rujukan berjenjang. Kerugian yang diperoleh pasien jika tidak membawa surat rujukan adalah pasien dianggap sebagai pasien umum atau pasien tersebut harus melengkapi berkas persyaratan terlebih dahulu, kemudian setelah syarat terpenuhi dapat mendapatkan pelayanan.

Berdasarkan penelitian sebanyak 23 orang (47,9%) setuju merasa nyaman berobat ke Rumah Sakit bila sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan Hal ini sejalan dengan penelitian Hermanto (2009), menemukan adanya hubungan yang bermakna antara sikap dan tingkat pemanfaatan kartu Jamkesmas di Poliklinik

Spesialis Penyakit Dalam namun tidak menemukan hubungan yang bermakna antara sikap dan tingkat pemanfaatan kartu Jamksesmas di Poliklinik Umum.

5.3.4 Sikap Responden Terhadap Kartu BPJS

Fungsi BPJS Kesehatan adalah menyelenggarakan program jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia dengan memberikan jaminan pemeliharaan dan perlindungan kesehatan kepada setiap pemegang kartu BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan akan menjadi solusi yang efektif bagi masyarakat dalam menangani kesehatan karena berbagai manfaat dan fasilitasnya. Dimana manfaat yang diberikan dalam BPJS Kesehatan bersifat umum, setiap individu berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan selama individu tersebut memegang kartu BPJS Kesehatan dan mengikuti prosedur serta tata tertib aturan dengan membayar iuran setiap bulannya.

Berdasarkan penelitian sebanyak 9 orang (18,8%) menyatakan sikap sangat setuju bahwa Kartu BPJS yang menjadi bukti kepesertaan BPJS. Hal ini sejalan dengan penelitian Tyas (2010) yang menyatakan bahwa masyarakat di Kelurahan Purwosari Kecamatan Laweyan Kota Surakarta hanya sebagian kecil memiliki sikap mendukung terhadap Jaminan Kesehatan Nasional dikarenakan masyarakat tersebut memiliki pengetahuan yang cukup. Pengetahuan tersebut dapat menimbulkan sikap mereka untuk mendukung adanya program Jaminan Kesehatan Nasional yang dibuktikan dengan sudah memiliki kartu peserta Jaminan Kesehatan Nasional.

BPJS Kesehatan demi mencapai tingkat kesehatan yang lebih baik, pemegang kartu BPJS Kesehatan dapat melakukan pelayanan kesehatan ke tingkat

yang lebih baik guna mencapai kepuasan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik lagi dalam bidang kesehatan. Penyelenggaran perawatan rawat inap merupakan layanan tingkat rujukan lanjutan yang dilakukan dari pelayanan kesehatan tingkat satu yaitu puskesmas atau dokter umum.

Pada umumnya pelayanan rawat inap yang dilakukan oleh pasien BPJS Kesehatan adalah fasilitas perawatan berdasarkan kelas perawatan yang dipilih oleh pasien, misalnya pada kelas perawatan yang lebih tinggi maka kualitas perawatannya akan lebih baik pula namun sebaliknya apabila kelas perawatannya rendah maka kualitas perawatan yang didapat juga rendah. Hal ini biasanya didasari oleh manajemen yang ada pada rumah sakit. Kelas ruang perawatan merupakan produk jasa pelayanan rawat inap yang disediakan oleh pihak rumah sakit kepada pasien.

Terdapat perbedaan pelayanan antara masyarakat yang mampu dan masyarakat miskin. Dimana pada pelayanan perawatan kelas 3 (tiga) ini kebanyakan mereka adalah peserta mandiri dari kalangan ekonomi bawah yang bekerja sebagai buruh atau bertani dengan pendapatan perbulan tidak tetap.

Sehingga peserta merasakan sulit dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dari fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk. Mutu pelayanan tidak saja dinilai dari model pelayanan yang diberikan kepada pasien namun juga dipengaruhi oleh pelayanan obat yang diberikan kepada pasien sehingga pasien merasa puas terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan oleh instansi yang terkait BPJS.

5.3.5 Sikap Responden Terhadap Sistem Rujukan BPJS Kesehatan

BPJS Kesehatan bertugas mengembangkan paket pelayanan promotif (peningkatan pengetahuan) kepada masyarakat akan pentingnya kesehatan dan manfaat yang diperoleh dari keikutsertaan masyarakat dalam BPJS Kesehatan ini, dan preventif (pencegahan), melaksanakan pengendalian mutu pelayanan kesehatan, memfasilitasi dan menindaklanjuti pengaduan terkait pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh BPJS Kesehatan sekarang, antara pelayanan kesehatan yang dijamin dan tidak dijamin oleh pihak BPJS Kesehatan.

Penyelenggaraan perawatan merupakan salah satu tugas pokok BPJS Kesehatan dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang memungkinkan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Seperti halnya pelayanan kesehatan yang diberikan oleh BPJS Kesehatan berupa pelayanan kesehatan tingkat dasar hingga ke pelayanan tingkat lanjutan. Pelayanan tingkat dasar merupakan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter praktek atau puskesmas yang mana proses pelayanan tersebut harus melalui prosedur yang berlaku dari BPJS Kesehatan dan Dokter atau Puskesmas yang menangani pasien.

Mekanisme pelayanan kesehatan ini dilakukan secara berjenjang mulai dari puskesmas, Rumah Sakit Umum dan pelayanan lanjutan berdasarkan diagnosa yang dilakukan dokter dan diikuti dengan prosedur yang telah ditetapkan. Dilihat dari aspek pelayanan kesehatan dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan bertugas memfasilitasi pemberian pelayanan

kesehatan hingga di tingkat rujukan spesialis sesuai kebutuhan medis yang dibutuhkan pasien.

Hasil penelitian sebanyak 19 orang (39,6%) setuju sistem rujukan BPJS Kesehatan dimulai dari puskesmas sebagai pelayanan kesehatan yang utama. Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang sebagian besar tidak setuju dengan sistem rujukan yang dimulai dari puskesmas. Sistem pelayanan ini dianggap memperumit masyarakat untuk mendapat pelayanan ke tempat fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Puskesmas di kelurahan Sidikalang hanya ada 2 dan berada jauh dari lingkungan pemukiman masyarakat kelurahan Sidikalang , hal ini menyebabkan jangkauan masyarakat terhadap proses rujukan menjadi lebih jauh.

5.3.6 Pengaruh Sikap Responden Dengan Tindakan Keikutsertaan BPJS Kesehatan Di Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang Tahun 2016 Sikap merupakan perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung (unfavorable) seperti kesiapan untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon (Azwar, 2008). Dalam kata lain fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi perilaku atau tindakan (reaksi tertutup).

Berdasarkan penelitian dapat dilihat bahwa responden yang mau ikut serta BPJS Kesehatan dan memiliki sikap baik sebanyak 7 orang (100,0%) mau ikut serta dalam BPJS Kesehatan. Sedangkan yang tidak mau ikut serta BPJS Kesehatan dan memiliki sikap kurang sebanyak 3 orang (100,0%). Sebanyak 22 orang (57,6%) dengan sikap sedang mau ikut serta dalam BPJS Kesehatan dan 16

orang (42,1%) dengan pengetahuan sedang tidak mau ikut serta dalam BPJS Kesehatan.

Hasil uji chi-square menunjukkan (p<0,05) dengan demikian ada pengaruh yang signifikan antara sikap masyarakat dengan tindakan ikut serta BPJS Kesehatan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyani (2015) yang menyatakan bahwa sikap responden tentang program BPJS kesehatan adalah sedang di Kelurahan Bandungrejo Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak, yaitu sebesar 62 orang (67,4%). Ada hubungan antara sikap tentang program BPJS kesehatan dengan kepesertaan BPJS (p = 0,01 < 0,05).

Hal diatas dikaitkan dengan kesadaran dan kemauan responden yang masih rendah dan juga dikarenakan akses penyampaian informasi tentang pemeriksaan BPJS Kesehatan belum merata pada masyarakat. Sikap yang baik belum tentu menghasilkan tindakan yang baik pula. Mengacu dari hal tersebut bahwa sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat. Sikap positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata. Untuk terwujudnya sikap menjadi perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain sarana, prasarana dan fasilitas.

5.4 Tindakan Responden Terhadap Keikutsertaan BPJS Kesehatan Berdasarkan Kategori Tindakan Di Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang Tahun 2016

Perilaku menurut Skinner dalam Notoatmodjo (2013) adalah hasil hubungan antara rangsangan (stimulus) dan tanggapan (respon). Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme

yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, perilaku manusia itu mempunyai bentangan yang sangat luas, mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan sebagainya. Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap adalah merupakan respon seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang bersifat terselubung dan disebut covert behavior.

Sedangkan tindakan nyata seseorang sebagai respon seseorang terhadap stimulus (practice) adalah merupakan overt behavior.

Berdasarkan penelitian dari 48 responden 29 orang (60,4%) dikategorikan tindakan baik yang artinya bersedia mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan dan sebanyak 19 orang (39,6%) masuk dalam kategori tindakan kurang yang artinya tidak bersedia menjadi peserta BPJS Kesehatan. Menurut peneliti masyarakat Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang sebagian besar mengetahui program BPJS Kesehatan namun kesediaan mengikuti program tersebut masih belum menjadi agenda utama mereka. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa kesehatan belum menjadi prioritas dalam kehidupan masyarakat.

Hal diatas sejalan dengan Notoatmodjo (2003), tindakan adalah gerakan/perbuatan dari tubuh setelah mendapat rangsangan ataupun adaptasi dari dalam tubuh maupun luar tubuh ataupun lingkungan. Tindakan seseorang terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut. Secara logis sikap akan dicerminkan

dalam bentuk tindakan namun tidak dapat dikatakan bahwa sikap dan tindakan memiliki hubungan yang sistematis.

5.4.1 Tindakan Responden Terhadap Pemeriksaan Kesehatan Ke Pelayanan Kesehatan

Donabedian dalam Notoatmodjo (2005), pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah interaksi antara konsumen dengan provider (penyedia pelayanan). Pemanfaatan pelayanan kesehatan erat hubungannya dengan kapan seseorang memerlukan pelayanan kesehatan dan seberapa jauh efektifitas pelayanan tersebut. Hubungan antara keinginan sehat dan pernyataan akan pelayanan kesehatan hanya kelihatannya saja sederhana, tetapi sebenarnya sangat kompleks.

Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan pemakai jasa pelayanan kesehatan akan meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Keputusan konsumen untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan tidak terlepas dari faktor perilaku yang dimiliki oleh masing-masing individu. Adapun faktor-faktor yang merupakan penyebab perilaku dapat dijelaskan dengan Teori Green dalam Notoatmodjo (2005), yang dibedakan dalam tiga faktor yaitu faktor predisposisi (Predisposing factors), faktor pemungkin (Enabling factors), faktor penguat (Reinforcing factors).

Hal yang sama dikemukakan oleh Notoatmodjo (2007) yang menyatakan bahwa pemanfaatan fasilitas kesehatan dapat dipengaruhi oleh faktor waktu, jarak, biaya, pengetahuan, kelancaran hubungan petugas dengan pasien, dan fasilitas.

Adapun rendahnya kunjungan/penggunaan fasilitas kesehatan seringkali

diakibatkan faktor jarak antara fasilitas tersebut dengan masyarakat (baik jarak secara fisik maupun secara sosial) serta keberadaan petugas kesehatan.

Berdasarkan hasil penelitian sebanyak sebanyak 45 orang (93.7%) memeriksakan kesehatan ke pelayanan kesehatan dan sebanyak 6 orang (6,3%) menjawab tidak memeriksakan kesehatan ke pelayanan kesehatan. Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat Kelurahan Sidikalang sebagian besar telah memanfaatkan fasilitas kesehatan dan menjadi konsumen pelayanan kesehatan.

Sebagian besar masyarakat Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang sudah aktif dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan.

5.4.2 Tindakan Responden Tentang Dukungan Keluarga Terhadap BPJS Kesehatan

Pandangan Notoadmodjo (2003) menyatakan dukungan keluarga yang berasal dari dukungan keluarga sangat berpengaruh besar untuk mendorong sesama anggota keluarga untuk melaksanakan sesuatu perilaku yang baru. Sama hal nya dengan pola pencarian pengobatan yang dilakukan oleh seseorang.

Sebelum seseorang itu melakukan sesuatu, sering terlebih dahulu meminta pendapat orang lain untuk mempertimbangkan apakah tindakan itu baik atau tidak untuk dilakukan. Setiap individu sejak lahir berada di dalam suatu kelompok terutama kelompok keluarga. Kelompok ini akan membuka kemungkinan yang sangat besar untuk mempenaruhi anggota-anggota keluarga.

Berdasarkan penelitian sebanyak 17 orang (35,4%) menyatakan alasan ingin mengikuti asuransi kesehatan adalah karena anjuran keluarga. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Tinendung (2009) tentang pencarian pelayanan pengobatan pada suku Pak-pak di Sidiangkat juga menyebutkan bahwa

masyarakat cenderung mendengarkan pengalaman keluarga. Pengalaman yang berarti telah membuktikan baik sengaja maupuntidak dan cerita dari anggota keluarga, terutama orang tua akan membuat kita semakin percaya dan yakin terhadap suatu hal. Demikian juga dalam pola pencarian pengobatan, yang besar prosesnya didukung oleh pengalaman dan kepercayaan.

Menurut Handayani (2010) tentang determinan pasien memilih pelayanan pengobatan juga menjelaskan betapa pentingnya pengaruh keluarga dalam pengobatan. Faktor dari dukungan keluarga juga sangat mempengaruhi proses pengobatan, bagaimana keluarga meruoakan bagian terpenting dalam kehidupan dan dapat memberikan semangat dan motivasi kepada pasien. Dukungan tersebut tidak hanya sebatas motivasi dan semangat, namun juga bisa berupa dukungan materi maupun saran.

Atas hal ini, peneliti berpendapat bahwa masyarakat melakukan pencarian pelayanan pengobatan sangat dipengaruhi oleh keluarga, masyarakat cenderung melakukan pengobatan yang sama dengan anggota keluarganya dengan asumsi bahwa pengobatan yang telah dijalankan oleh keluarganya tersebut adalah baik.

Sama halnya dengan keinginan untuk mengikuti program BPJS Kesehatan atau mejadi peserta BPJS Kesehatan, masyarakat cenderung mendengarkan saran dari keluarganya sebagai bahan pertimbangan.

5.4.3 Tindakan Responden Terhadap Sosialisasi BPJS Kesehatan

Berdasarkan penelitian sebanyak 34 orang (70.8%) menjawab tidak pernah mengikuti sosialisasi BPJS Kesehatan, dan sebanyak 30 orang (62,5%) menjawab pernah memperoleh penjelasan tentang kepesertataan BPJS Kesehatan. Hal ini

menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih belum mendapat informasi yang merata tentang BPJS Kesehatan dan kepesertaanya.

Hal diatas dapat menyebabkan kurangnya informasi dan kurangnya rasa percaya masyarakat terhadap BPJS Kesehatan sehingga mengakibatkan mereka tidak mau mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan dan memilih asuransi lainnya. Sejalan dengan penelitian hubungan antara terpaan sosialisasi program BPJS Kesehatan dengan keputusan masyarakat sebagai peserta program BPJS Kesehatan. Pesan yang disampaikan melalui sosialisasi yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan berkaitan dalam pembuatan keputusan masyarakat untuk bergabung

Hal diatas dapat menyebabkan kurangnya informasi dan kurangnya rasa percaya masyarakat terhadap BPJS Kesehatan sehingga mengakibatkan mereka tidak mau mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan dan memilih asuransi lainnya. Sejalan dengan penelitian hubungan antara terpaan sosialisasi program BPJS Kesehatan dengan keputusan masyarakat sebagai peserta program BPJS Kesehatan. Pesan yang disampaikan melalui sosialisasi yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan berkaitan dalam pembuatan keputusan masyarakat untuk bergabung