• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian Tentang Pendampingan Iman Orang

3. Katekese Orang Muda bagi Generasi Beriman Z di Paroki

Responden yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah bagian dari generasi beriman Z. Pada bagian sebelumnya, telah dijelaskan bahwa generasi beriman Z adalah mereka yang hidup di tengah lingkungan serba ada oleh karena perubahan pesat teknologi. Generasi yang disebut sebagai generasi now yang serba cepat dalam mendapat informasi terbaru. Agar katekese dan pendampingan yang diberikan kepada orang muda dapat menjawab kebutuhan mereka secara tepat, maka seorang pendamping perlu mengetahui apa yang menjadi kebutuhan OMK Klepu sebagai pribadi-pribadi yang didampingi.

a. Katekese yang dicita-citakan

Menelaah jawaban-jawaban responden dalam wawancara, tampak bahwa kegiatan-kegiatan berdimensi katekese bagi OMK Klepu sebagai generasi Z perlu dikemas sedemikian rupa sehingga sesuai dengan konteks hidup orang muda masa kini. R5 memberikan contoh, EKM menjadi sebuah kegiatan yang sungguh berkesan karena dikemas dalam acara yang ‘anak muda banget’ sehingga orang muda tertarik untuk mengikuti. Di dalam EG 51 dituliskan, “Dalam berbagai konteks, orang-orang muda Katolik menghendaki kesempatan-kesempatan doa dan saat-saat Sakramentali yang dapat menyentuh kehidupan sehari-hari mereka dengan sebuah liturgi yang segar, autentik dan penuh sukacita…”. Bagi OMK masa kini perayaan liturgi yang secara konkrit tidak bersentuhan dengan dunia orang muda menjadi kurang menarik bagi mereka.

Berbicara mengenai katekese untuk orang muda, Paus Fransiskus dalam seruan apostolik Christus Vivit telah menegaskan mengenai cara-cara baru yang perlu ditemukan dalam mendampingi dan menemani orang muda :

Reksa pastoral orang muda perlu menjadi lebih fleksibel dan mengajak orang-orang muda untuk mengikuti berbagai acara yang memberi mereka ruang tidak hanya untuk belajar, tetapi juga memungkinkan mereka untuk membagikan hidup, bergembira, bernyanyi, mendengarkan kesaksian nyata dan mengalami perjumpaan komunitas dengan Allah yang hidup (CV 204).

Seruan mengenai gaya dan strategi baru yang perlu ditemukan dalam pembinaan iman orang muda mendukung pendapat R5 yang mengatakan bahwa kegiatan katekese bagi orang muda di paroki masih perlu dibuat dengan konsep yang lebih menarik sesuai dengan gaya dan dunia orang muda masa kini. Mengenai konsep kegiatan katekese bagi orang muda, Alfonsus (2019:75) mengatakan:

Transformasi dunia dari aspek sosio-kultural mengajak Gereja untuk berkonfrontasi dengan proses komunikasi yang baru dan menempatkan diri dalam ruang pengalaman manusia yang baru untuk menemukan metode pewartaan yang sesuai pada zamannya.

Pernyataan yang disampaikan oleh R5 juga selaras dengan apa yang juga ditekankan oleh Komkat KWI, “Bila bahasa pewartaan yang mencakup seluruh penampilan Gereja, perilaku, struktur dan sikap-sikapnya tidak diperbaharui, orang zaman ini tidak akan menangkap pesan yang disampaikan Gereja” (Komkat KWI, 2016:67). Persoalannya adalah, melalui wawancara dengan P3 diperoleh informasi bahwa ada beberapa orang tua yang ‘berpengaruh’ di paroki memandang bahwa kegiatan-kegiatan katekese orang muda hanya kegiatan untuk bersenang-senang saja. Bagi mereka katekese orang muda yang dibuat kurang menampakkan

nilai-nilai kerohanian sebagai buah dari kegiatan katekese tersebut.

Ideologi beberapa orang tua penganut katekese klasik ini perlu diarahkan pada pemahaman bahwa model katekese yang dulu pernah eksis pada zaman mereka tidak lagi relevan bila ditatapkan pada OMK masa kini. Perlu dibuka dialog dengan para orang tua yang sudah terlanjur nyaman dengan model katekese zaman dulu namun tidak lagi relevan dengan orang muda zaman now. Pemahaman bahwa proses katekese masa kini tidak dapat di samakan dengan katekese tempo dulu menjadi penting. Bagi beberapa generasi sebelum generasi Z, kegiatan katekese dengan metode pengajaran yang hanya berisi petuah-petuah suci masih menarik. Akan tetapi untuk OMK masa kini kegiatan katekese yang mengajak mereka sekedar duduk, diam dan mendengarkan pengajaran dari pandamping tidak lagi menarik.

Jika Gereja tidak memiliki keberanian untuk berkonfrontasi antara model pewartaan lama dengan model pewartaan yang baru dengan mengikuti perkembangan sesuai dengan zamannya, maka pewartaan tidak akan dapat menyentuh kehidupan OMK secara tepat. Model pewartaan atau katekese perlu disesuaikan dengan budaya orang muda yang selalu berubah dari waktu ke waktu. Kegiatan-kegiatan yang dikemas sesuai dengan situasi dan kondisi OMK masa kini, membantu mereka mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Perjumpaan dengan Tuhan yang hadir harapannya dapat dirasakan oleh OMK meski tidak selalu dalam bentuk kegiatan pendalaman rohani terbimbing yang terkadang bagi mereka terasa membosankan. “… Disatu pihak merupakan kesalahan besar berpikir bahwa dalam pelayanan pastoral orang muda kerygma

ditinggalkan demi suatu formasio yang dianggap lebih solid. …Namun pengalaman sukacita perjumpaan dengan Tuhan itu sama sekali tidak boleh digantikan dengan suatu bentuk indoktrinasi” (CV 214). Kegiatan-kegiatan kerohanian memang penting. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dari kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial, OMK juga dapat menemukan nilai-nilai kehidupan.

b. Berkumpul/Srawung sebagai wadah katekese

Bagi OMK, berkumpul/srawung mengajarkan mereka tentang banyak hal yang berguna untuk semakin berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Kegiatan-kegiatan kerohanian maupun Kegiatan-kegiatan lainnya mengandaikan OMK mengalami perjumpaan satu sama lain. Berkumpul/srawung dengan teman-teman sebaya menjadi hal yang membahagiakan bagi OMK. Seperti yang disampaikan oleh R11, “Melalui srawung dan menjalin relasi dengan sesama baik di dalam OMK ataupun di luar OMK akan menghasilkan persaudaraan yang baik, sehingga isu-isu yang bertentangan dengan toleransi dapat ditekan”.

Menurut R10 Sawung juga menjadi sebuah jalan untuk mempertemukan visi misi diantara orang muda. Dalam sebuah perjumpaan biasanya akan muncul cerita, sharing pengalaman. Berawal dari perbincangan sekedar untuk bercanda sampai pada pembicaraan yang serius. Misalnya tentang keprihatinan-keprihatinan di sekitar atau mungkin permasalahan yang dialami sendiri. Bagi OMK, sharing-sharing pengalaman dalam perjumpaan dapat memunculkan ide-ide baru yang pada akhirnya melahirkan suatu kesepakatan betindak untuk menjawab keprihatinan yang sedang dirasakan oleh diri sendiri dan orang lain.

pengalaman dengan mengenal banyak pribadi yang masing-masing adalah unik. Berproses dalam diskusi menyelesaikan konflik, tukar pendapat dan belajar bagaimana saling menghargai. Pendapat ini didukung oleh R9 yang menyatakan bahwa melalui srawung OMK dapat menambah pengalaman baru. Pengalaman mengenai hidup bersama, saling meneguhkan lewat sharing pengalaman iman dan saling menghargai ditengah perbedaan sehingga memupuk sikap toleransi kepada sesama yang berbeda.

Melihat jawaban-jawaban dari OMK sebagai responden mengenai manfaat berkumpul/srawung, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa mereka senang mengalami perjumpaan dengan sesama dan saling berkomunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa perlunya terjadi interaksi pada saat diadakan pendampingan atau katekese bagi orang muda. Perlu dikondisikan terjadinya komunkasi dua arah sehingga OMK juga terlatih untuk mengemukakan pemikiran mereka dengan penuh rasa percaya diri.

Di dalam Evangelii Gaudium dituliskan “Hanya berkat perjumpaan atau perjumpaan yang dibaharui dengan kasih Allah ini, yang berkembang dalam suatu persahabatan yang memperkaya, kita dibebaskan dari kesempitan dan keterkungkungan diri” (EG 7). Bagi OMK perjumpaan/srawung dapat menjadi sarana untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Dapat saling bercerita, bertukar pikiran, keluh kesah serta saling membantu untuk membangun kepedulian terhadap sesama.

Persahabatan dan perjumpaan, seringkali dalam kelompok yang kurang lebih terstruktur, memberi peluang untuk memperkuat kecakapan sosial dan relasional dalam konteks dimana mereka tidak dinilai dan dihakimi.

Pengalaman kelompok juga merupakan sumber daya yang besar untuk berbagi iman dan untuk saling membantu dalam kesaksian. Orang-orang muda mampu membimbing orang-orang muda lain dan menghidupi sebuah kerasulan sejati di antara sahabat-sahabat mereka sendiri” (Orang Muda, Iman dan Penegasan Panggilan,36)

Sukacita karena perjumpaan dengan Tuhan lewat diri sesama dapat ditemukan bukan saja dalam kegiatan kerohanian. Bagi OMK srawung dapat menjadi wadah untuk belajar saling menghargai dan menerima sesama dengan segala keunikan yang dianugerahkan Tuhan. Tujuan katekese adalah untuk mengembangkan iman. Jika melalui perjumpaan dengan sesamanya OMK mengalami peneguhan, kekuatan, belajar menghargai perbedaan, maka berkumpul atau srawung dapat dijadikan sebagai wadah atau sarana untuk memberikan katekese kepada orang muda.