• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.6. Keabsahan Data

Untuk keabsahan data penelitian, maka serangkaian penelitian/ kegiatan uji keabsahan akan dilakukan sebagai berikut:

3.6.1. Pengujian Kredibilitas Data.

Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian ini antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi sumber-sumber data, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negative, dan member check. antara lain :

3.6.1.1. Perpanjangan pengamatan.

Perpanjangan pengamatan dilakukan oleh peneliti untuk kembali ke lapangan dalam rangka melakukan pengamatan. Mewancarai lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan perpanjangan pengamatan diharapkan antara peneliti dengan nara sumber akan semakin akrab semakin terbentuk raport dan saling mempercayai. Hal ini sesuai dengan pendapat Susan Staiback(1988) yang menyatakan bahwa rapport is a relationship of mutual and

emotional affinity between two or more people.

Demi keabsahan sebuah data, peneliti melakukan pengamatan secara berulang kali hingga peneliti merasa data yang dikendaki telah cukup. Sedangkan lama waktu perpanjangan pengamatan ini dilakukan, akan sangat tergantung pada kedalaman, kelulusaan dan kepastian data. Kedalaman yang dimaksud adalah peneliti ingin menggali data hingga tingkat makna. Makna berarti data dibalik yang tampak yang diberikan arti (meaning) hingga terjadi sebuah penafsiran. Keluasan berarti, banyak sedikitnya informasi yang diperoleh. Sedangkan kepastian adalah data yang valid yang sesuai dengan yang diperoleh.

Dari batasan waktu penelitian yang ditetapkan oleh Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Madiun yaitu selama delapan bulan yang terhitung sejak bulan Oktober sampai dengan bulan Mei 2016. Kemudian tambahan 6 bulan lagi sampai Desember 2016. Waktu selama 6 (enam) bulan tersebut untuk peneliti lakukan untuk mencari, menemukan informan dan merekam semua informasi melalui wawancara di lapangan. Jika ternyata data-data yang diperoleh dirasakan belum cukup sehingga harus dilakukan perpanjangan waktu penelitian. Untuk tahap

pertama selama enam bulan berikutnya, yaitu sejak bulan Mei 2016 sampai bulan Desember 2016. Waktu perpanjangan tersebut ternyata juga sudah memenuhi tuntutan data yang dikehendaki oleh peneliti, sehingga perpanjangan kedua tidak diperlukan.

3.6.1.2. Meningkatkan Ketekunan

Penelitian ini selain memakan waktu juga diperlukan peningkatan ketekunan yaitu melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara ini kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sitematis.Pengujian kredibilitas dengan meningkatkan ketekunan ini telah dilakukan oleh peneliti dengan cara mendengar kembali hasil rekaman wawancara. Jika belum jelas membaca kembali seluruh catatan hasil penelitian secara cermat hingga dapat diketahui berbagai kesalahan dan kekurangannya. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan peneliti telah dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis. Mengapa perlawanan terus-menerus terjadi secara berkepanjangan, padahal mereka itu berdagang pada lokasi milik pemerintah daerah Kota tanpa sewa, tanpa bayar pajak di lahan milik pemerintah kota bagaimana mereka memaknai perlawanan tersebut.

3.6.1.3. Triangulasi

Triangulasi dilakukan dengan triangulasi teknik, sumber data dan waktu. Triangulasi tehnik peneliti dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama tetapi tehnik yang digunakan yaitu dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Triangulasi sumber peneliti melakukan dengan cara menanyakan

hal sama melalui sumber yang berbeda. Dalam hal ini sumber datanya adalah ketua paguyuban, tokoh masyarakat, dan para pedagang. Sedangkan Triangulasi waktu dilakukan oleh peneliti dengan pengumpulkan data pada berbagai kesempatan, pagi, siang, sore bahkan malam hari. Dilakukan nya triangulasi ini maka berbagai data yang diperolah dari para nara sumber telah dapat diselaraskan dengan apa yang dikehendaki oleh peneliti dan nara sumber itu sendiri.

3.6.1.4. Diskusi dengan teman sejawat

Diskusi dengan teman sejawat dilakukan dengan mendiskusikan hasil penelitianyang masih bersifat sementara kepada teman-teman sejawat seperti para dosen Universitas Terbuka, dosen UMM Malang dosen Poltehnik Negeri Madiun dan kolega tutor di lingkungan UPBJJ-UT Surabaya. Melalui diskusi-diskusi ini banyak pertanyaan, pernyataan dan saran yang yang diberikan.

Hasil diskusi memberikan banyak masukan terkait dengan fokus penelitian dan sebagai pertanyaan yang berkenaan dengan data yang belum bisa ternjawab oleh peneliti menyebabkan peneliti harus kembali ke lapangan untuk mencarikan jawabannya. Ini dilakukan dengan harapan bahwa data yang diharapkan diperoleh dari informan menjadi semakin lengkap.

3.6.1.5. Analisa Kasus Negatif

Kasus negative merupakan kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil penelitian hingga pada saat tertentu. Melakukan analisiskasus negative berarti peneliti mencari data yang berbeda atau yang bertentangan dengan data yang telah ditemukan. Sebagaimana data yang diperoleh dari informan terkait dengan janjian wawancara, isi materi informasi yang diberikan kadanglebih banyak cerita pada

pengalaman di luar fokus penelitian, sejarah perjalanan paguyuban pedagang. Setelah dikonfirmasikan dengan para nara sumber, maka data yang negative tersebut mendapat arahan dan para nara sumber, maka data yang negative tersebut mendapat arahan dan kesepakatan sehingga berubah menjadi data yang tidak berbeda. Namun demikian masih ada beberapa kasus yang sangat ekstrim perbedanya, hingga hal ini menjadi catatan bagi peneliti untuk mengembangkan lebih lanjut terutama dengan para sesepuh paguyuban PKL. Sejauh ini peneliti terus melakukan pengembangan agar data tersebut dapat dikonfirmasikan dengan para pedagang yang sudah lama menjadi anggota paguyuban.

3.6.1.6. Pengecekan anggota ( Member Check)

Pengujian kredibilitas data dengan member check, dilakukan oleh peneliti dengan acara mendiskusikan hasil penelitian kepada sumber-sumber data yang telah memberikan data yaitu pimpinan Paguyuban PKL, tokoh masyarakat, Disperindag Kota, LSM, dan para tokoh pelaku perlawanan tersebut.Melalui diskusi tersebut para nara sumber masih saja ada yang menyanggah atau menambah data, dan menghendaki beberapa informasikan data yang harus dihilangkan dan ditambahkan. Ini kemudian diklarifikasi lagi untuk mendapatkan kepastian sebagaimana yang diharapkan.

3.6.1.6. Transferbilitas

Transferabilitas merupakan validitas eksternal dalam penelitian studi kasus, Validitas eksternal menunjukkan derajat ketepatan ataudapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi partisipan ketika sampel tersebut diambil sebagai

informan. Transferbilitas berkenaan dengan pertanyaan hingga tahap mana hasil penelitian ini dapat diterapkan atau digunakan dalam situasi lain.

Oleh karena itu, supaya orang lain dapat memahami hasil penelitian ini menyoroti masalah konflik terselubung dan perlawanan terselubung antar pedagang dengan aparat satpol, maka peneliti perlu menguraikan secara rinci, jelas, sistematis dan dapat dipercaya pada bab II pembahasan berikutnya, sehingga dapat diaplikasikan dalam situasi sosial lain yang memiliki kesamaan karakter dan kemiripan kasus. 3.6.1.7. Dependability

Pengujian dependability dilakukan dengan cara melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Audit tersebut telah dilakukan oleh auditor

independen juga oleh pembimbing terhadap keseluruhan aktifitas penelitian,

mulai dari ketika menentukan masalah/ fokus penelitian, memasuki lapangan menentukan sumber data, melakukan analisis data, melakukan uji keabsahan data sampai membuat simpulan dan membangun preposisi.

3.6.1.8. Comfirmability

Dalam penelitian ini uji confirmability telah dilakukan bersamaan dengan tujuan dependability karena menguji comfirmability berarti menguji hasil penelitian, diikatkan dengan proses yang dilakukan. Karena hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut telah memenuhi standar comfirmability.

BAB: IV

LOKASI PENELITIAN

4.1. Pendahuluan.

Kota Madiun merupakan kota Madya, merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Madiun, sebagai pusat kota memiliki ciri-ciri masyarakat perkotaan. Sejak zaman kolonial Belanda, wilayah kecamatan Kota akhirnya dijadikan menjadi wilayah Kota Madiun, dimana orang-orang Belanda bermukim dan tinggal. Kota Madiun wilayah nya relatif sempit, hanya mempunyai 3 (tiga) kecamatan yakni Kecamatan Taman, Kecamatan Kartoharjo dan Kecamatan Manguharjo.

Namun demikian, Kota mempunyai lokasi dan letak geografis yang sangat strategis sebagai ibukota pembantu gubernur di Madiun, yang mencakup wilayah Kabupaten Pacitan, kabupaten Ponorogo, kabupaten Magetan, kabupaten Ngawi, dan kabupaten Madiun, saat ini berpusat di Caruban. Selain itu Kota Madiun menjadi pusat kegiatan perdagangan, pendidikan, perindustrian, perekonomian dan militer di wilayah Jawa Timur bagian barat.

Secara geografis Kota Madiun terletak pada 7 LS – 8 LS dan 111 BT – 112 BT, diapit oleh Gunung Lawu bagian barat, Gunung Wilis di bagian Timur serta pegunungan Kendeng di bagian selatan dan gunung Pandan di utara. Kota Madiun berbatasan dengan Kecamatan Nglames di bagian utara, Kecamatan Jiwan di bagian barat, kecamatan Wungu di bagian Timur, dibagian selatan Kecamatan Geger. Mengingat wilayah sempit maka kebijakan pemerintah

menciptakan perekonomian, pendidikan, perdagang, sebagai skala prioritas untuk memacu Pendapat Asli Daerah (PAD).

Luas Kota Madiun 33,23 km2, terbagi menjadi 3 kecamatan, kecamatan Manguharjo dengan luas 10,04 km, kecamatan Taman 12,46 km, kecamatan Kartoharjo 10,73 km. Tinggi daratan Kota Madiun rata-rata 69 m dari permukaan laut hujan, hujan merata sepanjang tahun, kecuali bulan Agustus dan bulan September tidak turun hujan. Dalam satu bulan rata-rata 174 mm, hari hujan paling banyak terjadi bulan Januari dengan curah hujan tertinggi 430 meter. Keadaan iklim di kota Madiun hampir hujan sepanjang tahun.

Secara administratif Kota Madiun terbagi 3 wilayah kecamatan, 27 kelurahan, 267 RW dan 1009 RT. DPRD Kota Madiun berjumlah 30 orang terdiri dari 20 orang laki-laki, 10 orang perempuan. DPRD Kota Madiun telah menghasilkan 13 Keputusan DPRD, 5 Keputusan pimpinan DPRD dan 51 Keputusan rapat. Pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Madiun mencapai 5.078 orang 6,85 persen dari 174.144 jumlah penduduk. Tingkat pendidikan pegawai S1 dan S 2 ada 58,45 persen atau S1, 2699 orang, S2,269 orang. Jumlah penduduk Kota Madiun adalah 174.144 jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk masing-masing 5.010 orang per km2 dan 4.642 orang/km2 (BPS, 2014).

Kota Madiun saat ini sedang menggalakkan kegiatan ekonomi, sehingga Kota Madiun menjadi pusat bisnis, ekonomi masyarakat, khususnya di Jawa Timur bagian barat. Menurut data dari Disperindag Kota Madiun ada sekitar 773 perusahaan yang berbadan hukum, 39.33 persen perusahaan milik perorangan, 20,83 berbentuk comanditerai venosschaap/ Firma, 11, 83 berbentuk PT, dan 2,58

berbentuk koperasi. Jumlah pedagang di Kota Madiun 786 pedagang yang terdiri pedagang besar 65, pedagang menengah 100 orang, pedagang kecil 621 pedagang kecil. (BPS 2014). Sebagai Kota perdagangan, Kota Madiun didukung dengan fasilitas untuk perdagangan yang sangat memadai seperti pasar tradisional, pasar-pasar modern. Sedanngkan pasar-pasar pedagang sektor Informal dan barang bekas atau pasar loak, yakni pasar Loak Besi, pasar burung dan pasar “Kotak” khusus PKL.

Banyak nya pedagang menurut wilayah kecamatan di Kota Madiun antara lain di kecamatan Manguharjo pedagang besar 24 orang, pedagang menengah 25, pedagang kecil 155 orang, dikecamatan Taman pedagang besar 24 orang, pedagang menengah 46 dan pedagang kecil 270, sedangkan di Kecamatan Kartoharjo, pedagang besar 17 orang, pedagang pedagang menengah 29 orang pedagang kecil 196 orang. Sedangkan banyaknya pasar antara lain, pasar umum 12 buah, pasar desa 3 buah dan pedagang tetap 3453 orang. (sumber : Dinas Pasar Kota Madiun 2015).

Kegiatan ekonomi dan pendidikan yang sedang digalakkan oleh pemerintah daerah yakni berdirinya Super Market Sri Ratu, Super Market Matahari, Super Market Carrefour, dan super Market Sun City di dekat pasar “Kotak”. Selain itu banyak bermunculan hotel, jumlah hotel di Kota Madiun hotel non berbintang 28 buah sedangkan yang berbintang 6 buah antara lain, Hotel Aston, hotel Amaris, Hotel Sun City, Hotel Abdul rahman, Hotel Sarangan dan Merdeka.

Selain pasar modern yang menjadi target peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD, kota Madiun tetap memperhatikan pelaku ekonomi tradisional dan

modal kecil seperti pasar besar Madiun, pasar Sleko, pasar Mojorejo, pasar Kawak, pasar Loak Jaya, dan pasar “Kotak”. Tidak benar jika pemerintah daerah hanya berorientasi pada pengusaha, pedagang pemilik modal saja, buktinya pasar Loak, pasar relokasi PKL pasar “Kotak” juga menjadi perhatian pemkot Madiun. Sedangkan bidang pendidikan Kota Madiun memiliki banyak lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta sebagai wadah mencerdaskan anak bangsa. Ada 2 perguruan Tinggi Negeri seperti Politehnik Negeri Madiun, Sekolah Tinggi Kereta Api (STIKA) dan beberapa perguruan tinggi swasta seperti IKIP PGRI Madiun Universitas Merdeka Madiun, Universitas Widya Mandala, UII Madiun, FISIP Muhamadiyah Madiun, Akbid Muhamadiyah, STIKES Husada Bhakti Madiun., dan, 4 SMK, 6 SMU. Menjamur nya PKL bertebaran di sekolah-sekolah, lembaga kursus, akademi, bimbingan tes, kursus lain yang berakibat pada sektor Informal seperti PKL( Disbudpora kota : 2014).

Kota Madiun saat ini kewalahan menghadapi meledaknya jumlah PKL yang tidak permanent seperti di Alun-alun Kota, jalan-jalan protokol, yang diyakini kebanyakan mereka tidak ber KTP Kota. Pedagang ini sifatnya sementara berjualan di pusat keramaian yang mereka anggap banyak pembeli, orang kumpul seperti di Alun-alun Kota, Bundaran Timur Serayu, sepanjang jalan H.Agus Salim (kuliner). Dampak negatif dari kehadiran PKL, mengambil ruang dimana-mana, tidak hanya ruang kosong atau terabaikan, tetapi juga pada ruang terbuka, jalur hijau, ruang terbuka dan ruang kota lainnya yang tidak diperuntukkan pedagang sehingga tempat jualan PKL illegal. Akibatnya adalah penataan ruang menjadi mati oleh pelanggaran-pelanggaran yang terjadi akibat keberadaan PKL.

Kehadiran PKL d trotoar jalan dapat mengakibatkan pejalan kaki terganggu, timbul tindakan kriminal (pencopetan), dan barang dagangannya mutu rendah.

Perlindungan hukum, Pasal 27 UUD 1945 ayat (2), tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal 13 UU Nomor 09 / 1995 tentang usaha kecil. Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek perlindungan, dengan menetapkan peraturan undang-undang dan kebijaksanaan untukmenentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar, ruang pertokoan, lokasi sentra industri, dan lokasi yang wajar bagi PKL serta lokasi lainnya. b. memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan.