• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

4.2. Kondisi Umum PKL di pasar “Kotak”

Menurut data dari badan pemberdayaan masyarakat, KB, dan Ketahanan pangan Kota 2014, keluarga para sejahtera ada 52.073 keluarga. atau 0,72 keluarga miskin. Sebagaimana karakteristik umumnya pasar tradisional, pasar “Kotak” merupakan pasar, pedagang bermodal kecil, barang dagangannya kualitas rendah, pendidikanya rendah, stratifikasi sosial (ekonomi lemah), modal berdagang kecil, tempat jualan (lapak) bukan milik sendiri (milik pemkot). Berbeda dengan pedagang yang di pasar besar, pasar tradisionil, pasar modern, toko pinggir jalan raya semuanya miliknya dan mempunyai modal untuk berdagang. Ketika memasuki pasar PKL pasar “Kotak” suasana amburadul, bangunan lapak apa adanya luas petak hanya 2,5 x 3 meter, jorok, tidak teratur, dagangannya barang rongsokan, barang bekas.(BPM : 2014)

Profil PKL dari pasar Loak Batanghari nampak seperti orang yang kesulitan modal, hanya modal nekad, lusuh kadang kala dagangannya tidak laku. Saat ini mereka di tempat baru yakni pasar “Kotak”, akibatnya pelanggan hilang semua, dagangannya tidak laku, pedagang awali dari nol untuk jualan di pasar “Kotak”, sedang pemerintah daerah tidak memberi ganti rugi atau uang pesangon kepada PKL hasil relokasi jalan Batanghari, Jalan Barito, Jalan Nori.

Menurut data dari paguyuban PKL, hasil relokasi dari tempat lama ada 90 pedagang dari Jalan Batanghari, 30 pedagang Jalan Nori, 10 pedagang dari jalan Barito. Semua pedagang tersebut sudah pindah dari tempat lama (Jalan Batanghari, Jalan Nori) tetapi belum semua sudah jualan secara reguler. Menurut informasi dari paguyuban banyak pedagang belum jualan karena kesulitan modal, pembeli di pasar “Kotak” relatif sedikit sekali, tingkat pengunjung rendah kecuali hari minggu, sehingga pedagang tidak dapat uang untuk dibawa pulang, ada lapak yang dipindah tangan ke pihak ke 3 (tiga). Pemerintah kota ternyata hanya memberi tempat jualan, itupun sementara tanpa memberi modal, baik simpan pinjam, maupun kredit, akhirnya yang terjadi “hidup enggan mati tidak mau”.(Disperindagkoppar : 2014).

Miskipun pasar “Kotak” berdampingan dengan pasar Loak dan burung, berseberangan dengan pasar besi loak “Jaya” pasar modern Sun City, pasar

Carrefour, tetapi pedagang enggan, keluh kesah, putus asa, kecewa dengan lokasi

baru hasil relokasi. Masalah nya tidak ada nya modal dan sepinya pembeli. Berbeda dengan di tempat lama, jalan Batanghari, Jalan Nori, lokasi dekat Alun-alun Kota Madiun, dekat pasar besar, dekat dekat Sri Ratu, Matahari Mall. Yang

membuat pasar loak Batanghari jadi jujukan, dilewati orang dan mudah diakses untuk sekedar, jalan-jalan, refreshing lihat barang antik. Khusus untuk pedagang dari Jalan Nori mereka cenderung tidak segera membangun lapak walaupun sudah tersedia lokasinya, dengan alasan tidak ada modal untuk mbangun lapak, sedang biaya pindah saja sudah keluarkan uang banyak sedangkan uang pesangon yang dijanjikan tidak segera diberikan. (Paguyuban PKL : 2015).

George Eliot, Daniel Derondan, (James C.Scott: 2000:179)

“Tidak gerak mundur, bahkan kalau itu dipaksakan pada orang yang tidak berdaya dan terluka sekalipun, yang tidak mempunyai sisi buruk, sengatan matahari yang ditarik kembali itu sedang mengumpulkan bias/ racun.” Banyak kebutuhan pedagang, mulai makan/minum setiap hari, biaya sekolah, biaya seragam sekolah, dari pada saya mbangun lapak tetapi anak kleler an, ora mangan, ora sekolah, aku biarkan lapakku, kecuali ada bantuan dari pemerintah kota. Sedangkan pedagang yang di jalan Barito ada yang relokasi ke pasar “Kotak” dengan alasan sudah 30 tahun berjualan rawon, nasi pecel sifatnya turun temurun, kalau saya pindah makan apa bapak? Yang penting bersih, tidak kotor dan patuh kepada satpol PP. Hal tersebut di komentari oleh pedagang yang rumahnya Jl : Barito, “Pemerintah ora adil, sing Eny di biarkan yen aku di obrak-abrik”.Demikian lah komentar yang muncul dari pelaku ekonomi PKL yang di relokasi, hampir sama dengan kasus Pulo Gadung, dan pasar ikan Penjaringan Jakarta, dimana manusia diperlukan seperti hewan tanpa ada perasaan, rasa manusiawi.

PKL sebenarnya memahami keberadaannya bukan tanpa peran dalam pembangunan ekonomi daerah khususnya untuk meningkatkan Pendapat Asli

Daerah (PAD), miskipun kecil modal, kualitas barang dagangannya mutu rendah, tetapi nilai peredaran uang oleh PKL cukup besar. Hal tersebut dapat terlihat dengan jumlah pedagang semakin banyak dari hari ke hari,baik di Alun-alun Kota, pasar “Kotak”, pasar dadakan di perlimaan Jalan Serayu Timur, pedagang kuliner sepanjang Jalan Diponegoro, Jalan H.Agus Salim, semua itu menunjukkan dinamika ekonomi rakyat dalam rangka mewujudkan ekonomi kerakyatan.

Sehingga pemerintah kota melalui Disperindag diharapkan lebih peduli dalam pembinaan, penyuluhan PKL agar menjadi pedagang yang profesional, dapat meningkatkan ekonomi masyarakat ikut serta menjaga keindahan, Madiun sehat, nyaman, kebersihan kota mengantarkan Kota meraih, mempertahankan piala Adipura.

Lain kisah yang dialami PKL asal Jalan Nori Kota Madiun, Santoso salah satu korban relokasi :

“ Mas minta tolong panjenengan matur pak sekdakot bahwa PKL dari jalan Nori perlu bantuan modal untuk mengawali jualan di pasar “Kotak” barang melalui bapak beliau kerso mendengar jaritan tangis hati para pedagang. (Mas minta tolong bapak bilang ke pak sekda jika pedagang kaki lima dari jalan Nori, perlu bantuan modal untuk mengawali jualan di pasar”Kotak”).

Dijalan Nori jualan ramai pelanggan banyak, tempat nya strategis sedang disini pelanggan hilang, konsumen sedikit ramainya hanya hari minggu, biasanya waktu masih di jalan Nori setiap hari dapat untung dan membawa uang, inilah komentar pedagang bu Ruslani tersebut:

“Neng kene blass mas ora nggowo duit nambah tombok kanggo mangan, tuku bensin. (Disini tidak ada sama sekali penghasilan, tetapi harus bayar, untuk makan dan beli bensin.)

PKL akan terbebani lebih parah lagi bila air minum PDAM tidak dapat dipindah ke pasar kotak, tetapi untuk listrik PLN tidak mau harus pasang lagi waah berat mas mohon minta tolong, jenengan sing koncone sekretaris daerah kota (Sekdakot).(Waah berat mas, minta tolong bapak yang kenal sekdakot karena kenal beliau). Singkatnya dapat dikatakan bahwa fenomena sosial PKL di Kota merupakan potret dikotomis.

Jumlah PKL banyak, seluruh grassroot masyarakat berjiwa wiraswasta, mandiri, enteprenuer yang tumbuh dan berkembang dari rakyat, tetapi selama ini mereka miskin modal, secara ekonomi tidak mampu, ekonominya “senin-kamis”, termarjinalkan secara ekonomi, itulah kondisi pedagang sektor Informal di Kota Madiun. Apalagi kondisi PKL yang berjualan di pasar “Kotak” hasil relokasi pedagang dari jalan Batanghari, Jalan Nori, Jalan Barito. Orang nya sehat-sehat, besar gempal, berotot, tetapi masalah ekonomi, modal, membuat pedagang tersebut menjadi orang “sakit” secara ekonominya.

Faktor penyebab adanya perlawanan yaitu relokasi dari pusat kota ke pasar “Kotak” kelurahan Rejomulyo. Relokasi PKL atas kebijakan walikota, dari tempat yang selama ini mereka tempati, sebagai kehidupan, menyebabkan PKL melakukan perlawanan. Pedagang bukan tanpa alasan pedagang melawan, karena sudah puluhan tahun tempat sumber hidup ditempati terus, harus ditinggalkan begitu saja tanpa ada kompensasi, ganti rugi, pesangon sedikit. Miskipun secara hukum mereka salah menempati lahan milik pemkot dengan tidak miliki selembar surat, apalagi sertifikat.

Di tempat baru semuanya mulai dari nool, pelanggan hilang, konsumen pergi, pembeli tidak ada karena belum tahu dimana pasar “Kotak”? pantaslah pedagang melakukan perlawanan, perlawanan tersembunyi dan perlawanan tertutup. Mengingat rasa senasib, sepenanggungan pedagang terhadap kondisi sosial ekonomi dan permodalan, tidak heran mereka tumpahkan lewat curahan perasaan. Melalui air mata, marah-marah, berkata kotor, mengumpat, ngrasani, ngrundel, mengeluh sebagaimana hasil wawancara, interveiw, observasi di lapangan baik di lokasi baru pasar “Kotak” maupun di tempat berdagang semula.

Kurangnya sosialisasi dalam relokasi pedagang dan minimnya informasi tentang maksud, tujuan, visi, missi relokasi dari pemerintah kota, dipandang sebagai faktor pemicu perlawanan terselubung pedagang. Jika relokasi pedagang kaki lima di Solo, sewaktu era nya wali kota Jokowi dari pasar Tirtonadi ke pasar Banjaransari proses sosialisasi antara pemkot Solo dan paguyuban pedagang diadakan sebanyak 60 x pertemuan, (Humas pemkot Solo, 2012).

Pemerintah kota Solo dengan paguyuban PKL dicapai kata sepakat “Relokasi”, dengan informasi yang jelas tentang kemana, dimana, untuk apa, bagaimana di tempat baru. Relokasi pedagang di Solo berjalan lancar, tanpa gejolak, tidak ada protes, semua satu kata sepakat “yes”. Terciptalah senyum, tanpa air mata, tidak ada marah-marah, berkata kotor/ misuh-misuh, tidak ada perlawanan. Inilah salah satu kesalahan penguasa dalam memecahkan masalah sosial melalui pendekatan kekuasaan dan otoritas sempit.

Jangan seperti kasus Pulogadung dan kasus pasar ikan di Penjaringan Jakarta, pendekatan yang digunakan bukan pendekatan sosial (manusiawi), tetapi

pendekatan kekuasaan dan militer. PKL, manusia biasa, mempunyai keluarga, anak isteri, dan punya perasaan, harga diri. Janganlah diperlukan tidak manusiawi seperti hewan, binatang, barang, agar tidak ada protes, dendam, sakit hati, mengumpat para petugas satpol PP.