• Tidak ada hasil yang ditemukan

BENTUK-BENTUK PERLAWANAN PKL PADA RELOKASI KE

5.3. Perlawanan Tersembunyi

5.3.1. Perlawanan “hit dan run” sebagai perlawanan sehari-sehari

Relokasi PKL dilaksanakan pada tanggal 31 Desember 2015 jam 06.00 wib, pada waktu suasanan di pasar “Loak” masi sepi-sepi nya karena pedagang belum dating semua di lapak0lapa mereka jalan “Barito dan Batanghari” Waktu itu, suasana panas sudah terasa dengan banyak hadir nya apparat Kepolisisan,

TNI, satpol PP di jalan HOS Cokroaminoto, jalan Delima. Pada jam 07.00. disusul kedatnagan truck bak terbuka, apparat kepolisisn, TNI, mengangkut petugas mmendarat di kawasan pasar “Loak” Jalan Batanghari kota Madiun. Suara orang dari PKL, masyarakat yang peduli nasib pedagang informal bersaut-sautan dengan dengan kata “ a yoo boyongan konco-konco” disertai dengan umpatan-umpatan yang terkesan protes relokasi.

Mereka berkumpul di barat kantor Penggadaian Cabang Kota Madiun tepatnya di jalan, HOS Cokroaminoto lokasi yang menuju jalan Batanghari dimana lapak-lapak PKL berdiri dengan membawa perlengkapan pengamanan suatu operasi penertiban umumnya. Sedang anggouta satpol yang lain didukung oleh kendaraan angkut berat misalnya truck bak terbuka, truck bak tertutup alat berat bachoe untuk merobohkan lapa-lapak yamg selama di tempati PKL. Sedang aparat keamanan Polisi, TNI, anggouta LSM hanya berdiri di samping jalan Batanghari menyaksikan pembongkaran lapak.

Demikianlah gambaran awal, proses terjadi “pemindahan “ PKL yang dilakukan oleh satpol kota pada waktu operasi boyongan PKL dari pusat kota ke lokasi baru pasar “Kotak”. Lokasi jualan PKL tersebut merupakan trotoar jalan Batanghari bagian selatan dan utara sisi kanan kiri yang selama menjadi titik kesemrawutan di Jalan Batanghari. Lokasi berdagang PKL di jalan Batanghari bukan tempat resmi, lokasi itupun berstatus liar karena tidak ada ijin hanya dijadikan mangkal PKL yang telah berlangsung puluhan tahun secara turun temurun dari keluarga mereka.

Pelan tetapi pasti dengan pendekatan yang terorganisir dari aparat satpol PP. proses relokasi PKL berlangsung dengan didukung aparat, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kebersihan dan Pertamanan semua bangunan lapak-lapak PKL di robohkan, kemudian diangkut dengan truck terbuka ke pasar “ Kotak”. Begitulah gambaran salah satu korban yang dilakukan oleh satpol PP. kota terhadap PKL yang akan diboyong ke tempat baru, sebagai aparat penegak perda, satpol PP. pemkot patuh perintah atasan dalam hal ini walikota Madiun dilaksanakan. PKL yang bermukim di Jalan Batangharai dan sekitarnya tidak dapat menolak program relokasi, karena itu merupakan keharusan.

Dengan di iringi suara-suara protes PKL, keluarga, simpatisan, proses pemindahan pedagang terus berangsung, miskipun perlawanan tersembunyi terdengar seperti marah-marah, umpat petugas, ngrsani, ngomel, misuh, meluncur dari mulut PKL yang hari itu juga harus pindah, pergi, boyongan ke pasar “Kotak”. PKL kaget juga dengan dipaksakannnya relokasi, karena para pedagang sudah berusaha mati-matian untuk mencoba menggagalkan rencana tersebut dengan melobby tokoh-tokoh masyarakat agar menunda atau dibatalkan relokasi tersebut, yaa minimal setelah pilkada 2018.

PKL-PKL benar-benar uji pemerintah kota tentang penertiban, penataan, pembinaan, pengawasan PKL dengan melakukan pendekatan ke walikota, DPRD, agar rencana relokasi ditunda. PKL, mengirim perwakilan paguyuban PKL sowan, silaturahmi ke para pejabat, ulama, tokoh informal, akademisi, dengan maksud dan tujuan sama yakni batalkan program relokasi PKL. PKL di Jalan Batanghari sudah puluhan tahun, jika harus pergi akan

menghilangkan sejarah pasar “Loak” Batanghari, kami berjualan disini status seperti sudah seperti rumah sendiri, keluarga sendiri, maka berat hati untuk dipindah ke lokasi baru. Banyak pedagang yang kembali berjualan di tempat lama, miskipun sudah diumumkan lokasi akan digunakan untuk taman kota atau ruang terbuka hijau, pagi-pagi tanggal 1 Januari 2016 PKL yang membandel coba-coba, come back berjuang, berjualan di pasar Loak Jalan Batanghari. Aksi PKL yang ingin kembali merupakan sifat dasar manusia untuk berjuang mencari kehidupan agar dapat makan, minum, sandang dan papan. Miskipun dengan sedikit melakukan perlawanan miskipun tersembunyi.

PKL-PKL benar main peta umpet dengan pemerintah kota dengan mencoba kembali ke lokasi lama, miskipun sebagain besar PKL sudah boyongan ke pasar “Kotak”. Konsumen, pelanggan, masyarakat yang sudah biasa dolan jalan-jalan, mencari hiburan barang bersejarah masih banyak, setia untuk datang membeli barang antik, miskipun barang lama tetapi harga miring, mutu lumayan, walau model kadalu warsa. Mereka pelanggan belum mengetahui jika pasar Loak Batanghari sudah pindah, dibenak hatinya bahwa pasar loak di kota itu yaa, pasar Loak Batanghari, bahkan mereka pelanggan bertanya mengapa kok di pindah di sana ( pasar Kotak) karena jaraknya cukup jauh antara Jalan Cokroaminoto dengan Jalan Diponegoro. Strategis nya lokasi menjadi jujukan konsumen dari berbagai daerah, yaa hanya 100 meter dari perempatan Tugu di sebelah selatan rumah dinas walikota Jalan Pahlawan. PKL tidak melakukan perlawanan terang-terangan atau terbuka, mereka hanya adakan aksi sembunyi-sembunyi

Sudah menjadi budaya orang Madiun bahwa, rakyat harus ta’at kepada ‘umara’ karena pimpinannya (walikota) nya, sebab merupakan pilihannya, sehingga miskipun hati terasa “panas”. marah, sakit hati para pedagang hanya melawan dengan aksi-aksi tersembunyi. Pendapat James Scott jenis perlawanan ada 2 (dua) yakni perlawanan terang-terangan/ terbuka dan perlawanan tersembunyi atau tertutup (2003:90). Begitulah perilaku PKL di kota, mereka ta’at patuh kepada pemerintah, miskipun hati panas, emosional, tetapi kepala tetap dingin yang paling-paling grundel, ngrasani, ngomel, berkata kotor terhadap kebijakan relokasi. Jalan Cokroaminto, jalan Barito miskipun sudah kosong PKL tetapi tetap menjadi kenangan, lebih-lebih di Jalan Barito, masih ada PKL yang bertahan, tidak mau pindah seperti Mbak Eny, penjual Rawon Barito. PKL ini beranggapan bahwa lokasi tidak kumuh, tidak kotor, semrawut alias bersih, rapi seperti di Jalan Batanghari. Dia berdalih lokasinya telah bertahun-tahun warisan orang tua, pelanggan sudah banyak, kasihan konsumen.

Begitulah ritme kehidupan PKL di kota, mereka berpindah dari satu tempat ke lokasi lain, demi sesuap nasi karena hanya seperti itulah yang mereka mampui. Masalah sosial ekonomi yang dialami PKL yang membuat mereka tidak mampu mandiri secara ekonomi miskipun semangat untuk bekerja membara, selama PKL menggantungkan nasibnya pada belas kasihan pemerintah terutama fasilitas untuk jualan. Pemerintah kota seharusnya menyediakan sarana dan prasarana berdagang sebagai pedagang formal seperti pasar, supermarket Mall. Dengan demikian saat ini jika mereka jualan di sembarang tempat yaa tidak salah karena fasilitas resmi untuk PKL dalam berdagang belum ada, perlunya disini

pengakuan resmi pemerintah bahwa sektor formal itu ada dan perlu lokasi permanet untuk kegiatan tersebut.

Pemerintah kota, setiap hari mengeluarkan dana cukup besar untuk menertibkan PKL, operasi penertiban secara reguler dan routin mereka adakan, anggaran uang digelontorkan dalam rangka penertiban, operasi yustisi PKL yang jualan di sepanjang jalan-jalan trotoar dan protokol. Sarana pasar PKL yang permanen jika ada, tidak perlu lagi ada obrakan-obrakan PKL di trotoar jalan, pinggir jalan tidak ada lagi konflik dengan PKL. Energi pemerintah keluar Cuma hanya untuk mengejar, menggusur, mengobrak-abrik PKL yang dianggap melanggar hukum. Hal ini juga diakui oleh beberapa PKL yang pernah mengalami kasus ber “tempur” dengan satpol PP, aparat.

Model-model operasi penertiban aparat pemerintah kota selama ini belum effektif dan tidak “mujarab”, mereka pedagang tetap/ permanent yang menggelar dagangannya di pinggir jalan protokol, karena disitulah PKL mencari mata pencaharian, bekerja demi sesuap nasi. Perkembangan di lapangan jumlah PKL terus bertambah dari hari ke hari, lokasi jualan merambah ke pinggiran kota, asal banyak orang, PKL hadir. Kasus terakhir terjadi d jalan Serayu, suatu kawasan pinggir selatan kota, setiap pagi jam 05.00 – 10.00 Wib dibanjiri PKL dari berbagai kota. Bagi pemerintah kota, kumpul nya PKL di Bunderan di jalan . Serayu Banjarejo mengembirakan karena sektor informal berkembang. Namun perkembangan ini sangat memprihatinkan, sebab dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan sangat besar misal kekumuhan, kemacetan, kejahatan, kebersihan dan kenyaman, kamtibmas, serta berbagai masalah perkotaan yang merepotkan.