• Tidak ada hasil yang ditemukan

Garis Keturunan Syaikh Abdul Qadir al–Jailani

BAB IV BIOGRAFI SYAIKH ABDUL QADIR AL–JAILANI

A. Garis Keturunan Syaikh Abdul Qadir al–Jailani

Beliau adalah seorang Syaikh yang sempurna, jeli, wushul (sampai kepada Allah), gudang makrifat, rujukan para wali quthb, arif, makamnya luhur, pondasinya kuat, stabil dalam spiritual, keramat yang agung dan luhur, menguasai ilmu Barat dan ilmu Timur.110

Yaitu, Abu Muhammad111 Muhyiddin Abdul Qadir bin As-Sayyid Abu Shalih Musa Jankidust112 bin As-Sayyid Abdullah bin As-Sayyid Yahya Az-Zahid bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Dawud bin As-Sayyid Musa bin As-As-Sayyid Abdullah Abu Al-Makarim bin As-As-Sayyid Musa Al-Jun113 bin As-Sayyid Abdullah Alam bin As-Sayyid Hasan Al-Mutsanna bin As-Sayyid Al-Imam Al-Hammam Amir Al-Mu‟minin wa Sayyid Syabab Ahlul Jannah wa Qurrata A‟yun Ahlussunnah (Penghulu Penghuni Surga dari Kalangan Remaja dan Permata Hati kalangan Ahlussunnah) Al-Hasan As-Sabth (Sang Cucu) bin Al-Imam Al-Hammam

110 al–Hasani, Biografi Syaikh Abdul Qadir Al–Jailani r.a. , 71.

111 Juga dipanggil dengan Abu Shalih.

112 Jankidust atau al-Janki Dusat: Orang yang suka berperang di jalan Allah Swt. Nasab Syelh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. bersambung dengan Khalifah Abu Bakar r.a. Pasalnya ayah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a., Abu Shalih Musa, adalah putra As-Sayyidah Ummu Salamah Istri Al-Imam Muhammad bin Al-Imam Thalhah bin Al-Imam Abdullah bin Al-Imam Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.

113 al-Jun berarti bercahaya seperti kuatnya sinar mentari. Musa al-Jun adalah eyang Syaikh Abdul Qadir al-Jailani r.a., ia termasuk salah satu putra as-Sayyid Abdullah al-Mahdh. Putra-putra beliau dikumpulkan dalam dua rumah, keterangan ini seperti yang dikutip dari “Silsilah Al—

Qa>diriyyi>n”, dalam Qala´id al-Jawa>hir (manuskrip). Di situ dilaporkan, Muhammad bin Ibrahim, Musa Sulaiman Idris, dan Isa adalah 3 bersaudara kandung (seayah dan seibu), sementara Yahya tak punya saudara sekandung.

Asadullah Al-Ghalib Muzhhir Al-Aja‟ib (Orang yang berpendirian kokoh, singa Allah yang Menang dan Menampakkan Keajaiban) Fakhr bin Ghalib Amir Al-Mu‟minin Sayyiduna Ali bin Abu Thalib r.a. Ia (Al-Hasan As-Sabth) adalah putra As-Sayyidah Fathimah Az-Zahra Al-Bathul (Wanita Taat Ibadah) binti Sayyiduna wa Nabiyyuna Muhammad semoga shalawat serta salam tercurah untuknya, berikut kemuliaan, kejayaan, dan keutamaan.

2. Nasab Syaikh Abdul Qadir al–Jailani r.a. dari Jalur Ibu

Ibunda Syaikh Abdul Qadir al–Jailani ialah As-Sayyidah Asy-Syarifah, permata keturunan Al-Husain r.a.,

Ummul Khair Amat Al-Jabbar (Hamba Dzat Yang Maha Memaksa) Fathimah r.a. binti Sayyid Abdullah Ash-Shaumi‟i Az-Zahid bin As-Sayyid Abu Jamaluddin Muhammad bin As-As-Sayyid Mahmud bin As-As-Sayyid Abu Al-Atha Abdullah bin Sayyid Kamaluddin Isa bin Al-Imam As-Sayyid Abu „Ala‟uddin Muhammad Al-Jawwad bin As-As-Sayyid Al-Imam Ali Ar-Rida bin As-Sayyid Imam Musa Kazhim bin As-Sayyid Al-Imam Ja‟far Ash-Shadiq bin As-Sayyid Al-Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin As-Sayyid Imam Ali Zainal Abidin bin As-Sayyid Imam Al-Himmam Asadullah Al-Ghalib Muzhir Al-Aja‟ib Fakhr bin Ghalib Amirul Mukminin.114

3. Panggilan dan Gelar Syaikh Abdul Qadir al–Jailani

Sebagian besar literatur menyebutkan, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani biasa dipanggil dengan nama Abu Muhammad.

114 al–Hasani, Biografi Syaikh Abdul Qadir Al–Jailani r.a. , 73.

Adapun penisbatan beliau kepada al-Jailani, al-Kailani, ataupun al-Jaili, Ibnu Atsir, dalam al-Kamil fi at-Tarikh, telah menyebutkan, “Panggilan Syaikh Abdul Qadir adalah Abdul Qadir bin Abu Shalih Abu Muhammad Al-Jaili.”115

Salah satu julukan yang diberikan kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah “al-Imam”. Konon, julukan ini tak akan diberikan kecuali kepada seseorang yang sudah pakar dalam satu bidang ilmu. as-Sam‟ani116 dalam mendeskripsikan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mencantumkan redaksi berikut, “Imam mazhab Hanbali sekaligus Syaikh para pengikut mazhab Hanbali di zamannya.”

4. Tempat dan Tanggal Lahir (470–561 H/1077–1166 M)

Syaikh Abdul Qadir al–Jailani lahir di perkampungan Naif, di wilayah Jailan belakang Thabaristan, dekat perbatasan Iran di Laut Qazwain (Laut Putih Tengah). Jailan disebut juga Kailan, Jail, atau Kail. Semua nama tersebut adalah sama. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani lahir pada tahun 470 H (±1077 M).117

115 al-Jaili : Para sejarawan sepakat bahwa menisbatkan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani r.a.

kepada “al-Jailani” adalah penisbatan yang valid. Benar bahwa al-Jailani adalah daerah yang terletak di kawasan Fars (Persia) di sebelah utara Iran, tetapi mereka berbeda dalam mengucapkan nama tempat ini. Ada yang menyebut al-Jailani, ada juga yang al-Jaili, ada juga yang menyebutnya dengan al-Kailani. Semuanya benar.

116 Pakar hadis yang nama lengkapnya adalah Muhammad bin Manshur bin Muhammad As-Sam‟ani. Ia dikenal sebagai seorang h~a>fizh (hafal banyak hadis), fa>qih (pakar fiqih), dan a>dib (sastrawan).

117 Terdapat dua versi tahun kelahirannya, 1077/ 1078 M. Mayoritas literatur menyebutkan tahun kelahiran Syaikh Abdul Qadir Al-jailani adalah 470 H / 1077 M berdasarkan perhitungan tahun wafatnya.

5. Sosok Syaikh Abdul Qadir al–Jailani

Qadhi Qudhat Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Al-Imam Imanuddin Abu Ishaq Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi berkata,

“Syaikh kami, al-Imam al-Adil ar-Rabbani Muwaffiquddin Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Maqdisi, mengabarkan kepada kami, “Sosok Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah seorang pria yang badannya ramping, tinggi badan sedang, dada bidang, janggut yang lebar dengan jenggot lebat berwarna coklat, berkulit hitam, beralis panjang hampir menyatu, bola matanya besar, suaranya lantang, berwibawa dan berilmu luas.118

Pengarang Bahjah al-Asrar mencantumkan satu riwayat dari Ibnu Hamid al-Baghdadi. Beliau berkata, “Syaikh Muhyiddin (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani) adalah orang yang mudah menangis, mudah takut, kharismatik, diijabah doanya, berakhlak mulia, keringatnya harum, tidak pernah berkata keji kepada seseorang, orang yang paling dekat dengan Allah swt., sangat keras terhadap orang yang melanggar aturan Allah, taufik adalah pendapatnya, pertolongan Allah selalu bersamanya, menyendiri adalah kebiasaannya, sederhana adalah cerminannya, kejujuran adalah benderanya, ilham adalah senjatanya, lemah lembut adalah perilakunya, zikir adalah sahabatnya, adab syariat adalah tingkah lahirnya, sifat–sifat hakikat adalah rahasianya.”119

118 al–Hasani, Biografi Syaikh Abdul Qadir Al–Jailani r.a. , 79.

119 al–Hasani, 80.

B. Riwayat Syaikh Abdul Qadir al–Jailani

Dokumen terkait