BAB V PAPARAN DATA DAN ANALISA
C. Pendidikan Sufistik pada Aspek Tajalli dalam Kitab Fathur-
Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli, maka tahapan pendidikan sufistik disempurnakan pada fase tajalli.
dalam Konteks pendidikan sufistik, aspek tajalli membimbing peserta didik untuk tetap memelihara akhlak-akhlak terpuji dan mencegah masuknya nafsu insani ke dalam diri. Seorang pelajar yang tidak berharap dan takut kecuali kepada Allah, maka ia tidak akan melanggar batas-batas syariat dan tidak mendurhakai–Nya. Ia selalu menjaga iman dan tauhid di dalam hatinya.
Para sufi sependapat bahwa untuk mencapai tingkat kesempurnaan kesucian jiwa itu hanya dengan satu jalan, yaitu cinta kepada Allah dan memperdalam rasa kecintaan itu. Dengan kesucian jiwa ini, barulah akan terbuka jalan untuk mencapai Tuhan. Tanpa jalan ini tidak ada kemungkinan terlaksananya tujuan itu dan perbuatan yang dilakukan tidak dianggap perbuatan yang baik.304
Syaikh Abdul Qadir al–Jailani dalam kitab Sirrul Asrar berkata:
303 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 356.
304 Hasan, “Tasawuf: Jalan Rumpil Menuju Tuhan”, 59.
Perlu anda ketahui bahwa hati memiliki dua mata, yaitu mata kecil dan mata besar. Mata Kecil melihat semua tajalli sifat–sifat Allah dengan cahaya asma dan sifat–sifat–Nya sampai ke ujung Alam Derajat.
Sedangkan mata besar melihat tajalli cahaya Zat Allah di Alam Lahut, yaitu berupa kedekatan dengan cahaya tauhid keesaan. Semua martabat ini baru dapat dicapai oleh manusia setelah kematian. Atau dapat pula dicapai sebelum kematian dengan pencapaian fana dari kemanusiaan nafsani.305
Nasihat Syaikh di atas dalam konteks pendidikan sufistik dapat peneliti pahami bahwa seorang pelajar yang bersungguh-sungguh dalam mencapai rida–Nya, maka ia tidak hanya mempelajari ilmu, tetapi juga bertata krama dan berakhlak yang baik, serta menjaga tauhid dari segala bentuk kemusyrikan.
Pelajar menghindari nafsu dengan tidak berperilaku tercela, sebab seseorang yang sedang belajar itu membutuhkan kesucian lahir dan batin dengan menjaga akhlaknya agar dimudahkan dalam menerima ilmu untuk mendapatkan keberkahan dan manfaat dari Allah.
Berikut peneliti paparkan data yang mengindikasikan gagasan pendidikan sufistik dalam kitab Kitab Fathur Rabbani pada aspek tajalli. Yaitu titik pencapaian sang hamba dalam keadaan tajalli, bertemu dengan Tuhannya sebagai kebahagiaan yang istimewa, diantaranya:
1. Makrifat
dalam Kitab Fathur Rabbani, makrifat adalah sebagai berikut:
َػت اَذِإَف َر َق َد َ ْت ر َج َه َذ ُة ْلا ا َع ْب ِد َن ِم ِْلْا ْس َلَ
ِـ َلٰ ِإ ِْلْا َْيَ
ِفا َن ِم ِْلْا َْيَ
ِفا َلٰ ِإ ِْلْا ْػي َق ِفا َن ِم ِْلْا ْػي َق َلِٰإ ِفا
ْلا َم ْع ِر َف ِة َن ِم ْلا َم ْع ِر َف ْلا َلِٰإ ِة ِع ْل ِم َن ِم ْلا ِع ْل ِم ْلا َلٰ ِإ َم َح َّب ْلا َنِم ِة َم َح َّب ْلا َلِٰإ ِة َم ْح ُػب ْو ِب َي ْنِم ِة
َط َل َب ٍة َلِٰإ
َم ْط ُل ْو ِب َي ٍة َف ْػي َن ِئ ِح َغ اَذِإ ٍذ َل ِف َْل َػي ْػت ُر ْؾ
305 al–Jailani, Sirrul Asrar, 114–115.
َو َن اَذِإ َي ِس َذ َك َر َو ، َن اَذِإ َـا َػن َب َه َغ اَذِإَو ؛ َف َل
َأ ْو َق َو اَذِإَو ، َظ َِلٰ
َأ ْػق َب َل َس اَذِإَو ، َت َك
َن َق َط َف ، َلَ
َػي َز ُؿا
َأ َب ًد ُم ا ْس َػت ْي ِق َص ا ًظ ِفا ًي َِلْ ا َّن ُه َق ْد َص ْت َّف ُةينا َػق ْل ِب ِه َػي َر ِم ى ْن َظ ِر َه ِها َب ا َػن َه ِطا
ٖٓٙ
،ا
Apabila derajat hamba meningkat, dia akan bertransformasi dari Islam menuju iman, dari iman menuju yakin, dan dari yakin menuju makrifat, dari makrifat menuju ilmu, dari ilmu menuju cinta, dari cinta (mahabbah) menuju yang dicintai (mahbubah), dan dari pencariannya menuju yang dicari. Pada saat itu ketika dia lalai, dia tak akan dibiarkan.
Jika dia lupa, dia akan diingatkan. Ketika dia tidur, dia akan dibangunkan. Manakala dia lengah, dia akan disadarkan. Apabila dia berpaling, dia akan dihadapkan. Ketika dia diam, dia pun dibuat berbicara. Dengan begitu, dia senantiasa menjadi orang yang sadar dan jernih. Maka tatkala bejana hatinya telah jernih, sisi dalamnya pun dapat dilihat dari sisi luarnya.307
Syaikh Abdul Qadir al–Jailani dalam kitab Sirrul Asrar berkata bahwa, dalam sebuah ayat al–Quran Allah Swt. berfirman:
ِفْوُدُبْعَػيِل َلاإ َسْنِْلْاَو َّنِْذا ُتْقَلَخ اَمَو
Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah–Ku. (Q.S. adz–Dzariyat (51) : 56) 308
Maksud “menyembah–Ku” adalah makrifat kepada–Ku. Jika manusia tidak mengenal Allah, bagaimana dapat menyembah–Nya. makrifat hanya dapat dicapai dengan menyingkapkan tirai nafsu dari cermin hati melalui jalan penyucian.
Dengan begitu, dalam cermin hati itu si hamba dapat melihat keindahan khazanah tersembunyi yang ada dalam lubuk hati paling dalam (sirr lubb al–
qalb)309. Demikianlah Allah menyatakan dalam sebuah hadis Qudsi:
306 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 184.
307 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 324–325.
308 Al–Qur‟an, 51:56.
309 Pengertian kata sirr (as–sirr) dalam tasawuf adalah substansi halus dan lembut (lathifah) dari rahmat Allah. Sir adalah relung kesadaran yang paling dalam yang menjadi tempat komunikasi antara Rabb dan hamba.
ِفَْط اًزْػنَك ُتْنُك اِّي
َؼَرْعُأ ْفَأ ُتْبَبْحَأَف َؼَرْعُأ ْيَكِل َقلَْزا ُتْقَلَخَف ،
Aku adalah khazanah tersembunyi. Aku ingin dikenali. Karena itulah Aku ciptakan makhluk agar Aku dikenali.
Ketika Allah Swt. menerangkan bahwa penciptaan manusia adalah untuk mengenal Allah (makrifatullah), maka mengenal Allah adalah wajib baginya. Makrifat itu ada dua macam: makrifat sifat–sifat Allah dan makrifat Zat Allah. Makrifat sifat–sifat Allah menjadi tugas jasad manusia di dunia dan akhirat, sementara makrifat Zat Allah menjadi tugas Ruh Qudsi di akhirat kelak. Demikianlah manusia diperkuat dengan Ruh Qudsi.310
Syaikh Abdul Qadir al–Jailani dalam kitab Fathur Rabbani menerangkan sifat–sifat ahli makrifat sebagai berikut:
ْن ِم ُْج َل ِة َف ِص ْلا ِتا َع ِرا ِؼ ِلله َّلَجَو َّزَع َأ َّن
ُه َي ُِبْ ْص َْلاا ىَلَع َف َو َػي ِتا ْر َض َِب ى ِم ْي َأ ْق ِع َي ِة ِض ِللها َّزَع
َّلَجَو َو ُرادقأ ُُ
َِج ِْف ْي ِع َْلْا ْح َو َػن ِْف ِؿا ْف ِس َو َأ ْه ِه ِل ِه َو َس ِئا َْزا ِر ْل ِق َي( . ُغ ا ُـ َلَ
ُح ) َْرا ُّب ّْق َّلَجَو َّزَع
َو ُح ُّب ِْيْ ُِ َغ َلا َْي َت ِم َع َػق ِْف ِفا ْل َو ِب ِحا
ٖٔٔ
ٍد،
Di antara sifat–sifat ahli makrifat kepada Allah adalah bersabar terhadap berbagai bencana, rela dengan qada dan qadar Allah dalam semua keadaan, baik yang terjadi pada dirinya, keluarganya, maupun semua makhluk. Hai anak muda, ingatlah, cinta kepada Allah swt.
dan cinta kepada selain–Nya tak dapat bergumul di dalam satu hati.312
dalam kitab Fathur Rabbani, dijelaskan bahwa para ahli makrifat mengasihi para pelaku maksiat, mereka menjadi tempat berkumpulnya kasih sayang dan tempat pertobatan kepada Allah serta permohonan maaf.
Seorang arif selalu berusaha keras untuk menyelamatkan pelaku maksiat dari tangan setan dan hawa nafsu. Syaikh juga berkata:
310 al–Jailani, Sirrul Asrar, 10–11.
311 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 113.
312 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 191.
َْز ْل َا ُق َِج ْي ِع ِه ْم َك َْلْا ْو َلا َُي ِد ُب ِطا َْزا ْل َق ِب ِل َس ُْرا ِفا ْك َُّثُ ِم َػي ْر ُه ْم َُح َلا َلَ َط ُع ُه ْم ْلا ىَلَع ِع ْل َػف َػي َر ِم ى
َأ ْػف َع َْرا َؿا ّْق َّلَجَو َّزَع ِف ْي
ْم ِه َػي ْن ُر ُظ ُخ َلِٰإ ُر ْو َْلْا ِج ْق َي ِة ِض َو
َْلْا ْق َد ِرا ْن ِم َب ُْرا ِبا ْك َو ْلا ِع ِم ْل ِم َو َل ِك َّن
ُه ُه ْي ِذ َّلا ِم ِع ْل ِب ْلا ْم ُػب ُه ِطا َُي َلا َو ْه ُي َّػنلا َو ْم ُر َْلْا َو ُه ْي ِذ َّلا ِم ْك ُْرا ِب ْل َق َْزا ُب ِطا َُي َو َك ِل َذ ُت ُم َي ْك
َو
ُّٖٖٔر، ّْسلا
Bagi ahli makrifat, semua makhluk layaknya anak–anaknya. Dia berbicara dengan makhluk dengan bahasa hukum, lalu mengasihi mereka. Karena dia bisa melihat mereka dengan ilmu Ilahi sehingga dia sanggup melihat perbuatan Allah terhadap mereka. Dia dapat melihat keluarnya qada dan qadar dari pintu hukum dan ilmu–Nya.
Akan tetapi, dia menyembunyikannya dan berbicara kepada makhluk dengan bahasa hukum berupa perintah dan larangan. Dia tidak berbicara kepada mereka ke dalam bahasa ilmu yang bersifat batiniah dan dirahasiakan.314
Syaikh juga menjelaskan keistimewaan seorang ahli makrifat di dalam kitab Fathur Rabbani, ialah sebagai berikut:
َّزَع ِهّْبَر َبْرُػق ىَرَػيَو َّلَجَو َّزَع ِهّْبَر ْنِم ُهَبْرَػق ِهِب ىَرَػي اًرْوُػن اًضْيَأ ْيِطْعَػي ُبِرْقُمْلا ُؼِراَعلاَو َّلَجَو
ِهِبْلَػق ْنِم ْوُلُػقَو ْيّْْػيِبَّنلاَو ِةَكِئَلََمْلا َحاَوْرَأ ىَرَػي ؛
ا َب ْمِهِحاَوْرَأَو َْيِْقْيّْدّْصل ْمَُشاَوْحَأ ىَرَػي ،
َّلَجَو َّزَع ِهّْبَر َعَم ِهِحْرَػف ِْف اًدَبَأ َوُه ُِ ّْرَس ِءاَفِصَو ِهِبْلَػق ِءاَدْيِوَس ِْف اَذَه َّلُك ْمِِتِاَماَقَمَو َوُه
ِم ُذُخْأَي ٌةَطِساَو ِقْلَْزا ىَلَع ُؽَرْفَػيَو ُهْن
ٖٔ٘
.
313 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 224–225.
314 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 396.
315 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 254.
Seorang ahli makrifat yang dekat dengan Allah (muqarib) juga diberi cahaya. Dengannya dia dapat melihat kedekatannya bersama Allah Swt. dia juga dapat melihat kedekatan–Nya dengan hatinya. Dia dapat melihat roh para malaikat, para nabi, hati, serta roh orang-orang yang jujur dan benar (s}iddi>qu>n). Dia pun sanggup melihat kondisi dan posisi spiritual mereka. Semua itu berada di dalam relung hatinya dan kejernihan batinnya. Dia senantiasa berada dalam kegembiraan bersama Tuhannya, dan menjadi perantara yang mengambil dari Allah dan membagi-bagikannya kepada makhluk.316 Itulah wacana mengenai makrifat dalam kitab Fathur Rabbani.
2. ´Arif Billah
Syaikh Abdul Qadir al–Jailani dalam Fathur Rabbani, seorang ´arif billah selalu menjaga stabilitas keimanannya. Beliau berkata:
َْيِْقّْقَحُمْلا ِللها ِداَبِع ْنِم ُرْػيِصَت ٍذِئَنْػيِحَف ِةَيَلاِوْلا ِباَب َلِٰإ َتْمَّدَق ُفاَْيَِْلْا َكَل َقَّقََت اَذِإ .ِهِتَيِدْوُػبُعِل
ٖٔٚ
Apabila imanmu benar, engkau akan sampai ke pintu kewalian.
Ketika itu, engkau menjadi hamba–Nya yang beribadah secara benar.318
Pandangan Syaikh di atas selaras dengan pendapat al–„Allamah al–
Habib Abdullah bin Alawi al–Haddad ra. Berkata:
Menurut istilah kaum sufi, seorang ´arif billah adalah seseorang yang beriman kepada Allah swt. dan ia benar–benar mengerti segala kewajiban serta larangan Allah Swt. dan ia menjalankan segala kewajiban–Nya serta menjauhi larangan–Nya dengan baik.Selain itu, ia gemar memperbanyak amalan–amalan sunnah yang dapat semakin menekatkan dirinya kepada Allah swt. semuanya itu ia lakukan demi untuk mendekatkan dirinya kepada Allah swt. sehingga ia mendapat cahaya Allah swt. dan sehingga apa saja yang misteri akan menjadi nyata, hingga ia akan mendapat petunjuk, furqan, dan ilmu dari Allah Swt.319
316 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 447.
317 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 294.
318 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 510.
319 al–Haddad, an–Nafaais al–„Uluwiyyah fi al–Masaail ash–Shuufiyah, 8.
Syaikh juga menjelaskan tentang perilaku orang yang beriman dengan benar. Beliau berkata:
َل ُّْيَْػبُػي ُنِمْؤُمْلا ِهْيِخَِلْ ِهِحْصُن ِْف ٌؽِداَص ُنِمْؤُمْلَا ِهْيَلَع ْيِفُْت َءاَيْشَأ ُه
َْيَْػب ُهَل َؽَّرَفَػت ، ِتاَنَسَْرا
ِتاَئْيّْسلاَو َلاَم ُهُفِرْعَػي ،
ِهْيَلَع اَمَو ُه
ٖٕٓ
،
Seorang mukmin adalah teman bagi mukmin yang lain, yang memberikan nasihat dan penjelasan tentang hal-hal yang tidak diketahuinya. Orang yang beriman juga memberi tahu temannnya tentang perbedaan antara yang baik dan yang buruk, serta tentang hak dan kewajiban.321
Kemudian, Syaikh menjelaskan iman seseorang dapat bertambah dan berkurang. Selengkapnya pidato beliau di bawah ini:
َي ُصُقْػنَػيَو ُُ ُدْيِزَي َفاَْيَِْلْا َّفِإ ِةَّنُّسلا ِلْهَأ َدْنِع ُداَدْزاَو ُفاَْيَِْلْا َّحَص ُةَبْوَّػتلَا ْتَّحَص اَذِإ َعاَّطلاِب ُدْيِز
ِة
ِةَيِصْعَمْلاِب ُصُقْػنَػيَو ِـاَوَعْلا ّْقَح ِْف اَذَه ،
،
َػيَو ْمِِبِْوُلُػق ْنِم ِقْلَْزا ِجْوُرُِب ْمُهُػناَْيَِإ ُدْيِزَيَػف ُصاَّوَْزا اَّمَأَو اَهْػيَلِإ ْمِِشْوُخُدِب ُصُقْػن
ْمِِنِْوُكُسِب ُدْيِزَي ،
ُصُقْػنَػيَو َّلَجَو َّزَع ِللها َلِٰإ َلِٰإ ْمِِنِْوُكُسِب
ُِ ِْيَْغ
ٖٕٕ
.
Apabila pertobatan berjalan secara benar, keimananmu pun akan semakin benar dan bertambah. Menurut pandangan Ahlus Sunnah, iman dapat bertambah dan berkurang. Pertambahan iman seiring dengan ketaatan, sedang berkurangnya iman berjalan bersama dengan kemaksiatan. hal itulah yang berlaku pada orang awam.
Adapun yang berlaku di kalangan orang khusus bahwa iman mereka dinyatakan bertambah bila dapat mengeluarkan makhluk dari hati mereka. Sementara iman mereka berkurang seiring dengan masuknya makhluk ke dalam hati mereka. Iman mereka bertambah jika mereka diam menghadapi selain Allah karena mereka bergantung pada Allah. Dan iman mereka berkurang bila mereka diam menghadapi Allah Swt.323
Nasihat Syaikh di atas kurang lebih menjelaskan tentang pengertian
´arif billah yang posisinya terletak pada maqam tajalli.
320 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 39.
321 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 58.
322 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 139.
323 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 238–239.
Ciri utama seorang ´arif billah kata Syaikh, yakni selalu menjaga stabilitas keimanannya. Lahir dan batinnya terjaga dari perbuatan maksiat.
Hal ini diperkuat oleh pendapat Ibnu Atha‟illah dalam kitab al–Hikam.
Beliau berkata:
َقْػيِقَْرا ُفِتاَوَه ُهْتَداَنَو َّلاِإ اََش َفِشُك اَم َدْنِع َفِقَت ْفَأ ٍكِلاَس ُةَِّه ْتَداَرَأ اَم ُبُلْطَت يِذَّلا :ِة
َكَماَمَأ ُهَل ْتَجَّرَػبَػت َلاَو ،
﴾ْرُفْكَت َلََف ٌةَنْػتِف ُنَْغ اََّنِّإ﴿ اَهُقِئاَقَح ُهْتَداَنَو َّلاِإ ِتاَنَّوَكُمْلا ُرِهاَوَظ
) : ةرقبلا
ٕٔٓ
(
Di saat tekad seorang salik ingin berhenti pada apa yang tersingkap baginya, suara–suara hakikat pun memperingatkannya, “Yang kau cari ada di depanmu!” dan di saat pesona alam tampak menggoda, hakikat–hakikatnya pun berujar, “Kami hanyalah ujian maka jangan kau kufur!”
Kutipan Ibnu Atha‟illah di atas dijelaskan kembali oleh Syaikh Abdullah asy–Syarqawi di dalam kitab syarahnya, bahwa tekad seorang salik (peniti jalan menuju Allah) tidak akan berhenti setelah mendapatkan makrifat, rahasia, dan cahaya–cahaya Ilahi. Ia tidak akan memandang bahwa makrifat, ahwal, dan maqam yang telah diraihnya merupakan tujuan utama dan akhir dari perjalanannya. Bisikan–bisikan hakikat Ilahi akan menyeru hatinya agar tidak berhenti sampai di situ, “Karena apa yang kau cari ada di depanmu!” apa yang dicari dan diinginkan seorang salik adalah
“sampai kepada Tuhannya”, bukan sampai kepada sesuatu selain–Nya. 324 Demikian, data–data diatas yang menjelaskan tentang seorang ´arif billah yang layak berada pada maqam tajalli.
324 as–Sakandari, Syarh al–Hikam Ibnu Atha‟illah as–Sakandari, 42–43.
3. Wali Qut}b
Syaikh Abdul Qadir al–Jailani menjelaskan tentang ciri seorang wali dalam pidatonya, sebagai berikut:
ْفَأ ِلِاَوْلا ُةَمَلََع َْل ِْيَْغ ْنِم ُهُقِفاَوُم ُهُّلُك ُرْػيِصَي ِهِلاَوْحَأ ِعْيَِج ِْف َّلَجَو َّزَع ِهّْبَرِل اًقِفاَوُم ْنُكَي
َو ِرِماَوَْلْا ِءاَدَأ َعَم َفْيَكَو يِهاَنَمْلا ِنَع ِءاَهِتْنِْلاا
ِهِبْرُػق ِةَبْحُص ِْف ُرْػيِصَي ُهَل ُهُتَبْحُص ُـْوُدُت َـَرَجَلا ،
َِيَ َلا ًنْػي ًءاَرَو َلاَو ًلااَِشِ َلاَو ا ِب ًءاَفِص ٍدُعَػب َلَِب اًبْرُػق ٍرْهَظ َلَِب اًرْدَص ُرْػيِصَي َبَسَحَف اًماَمِأ ْلَب ،
َلَ
ّْرَش َلَِب اًرْػيَخ ِرَدَك
ٖٕ٘
.
Tanda seorang wali adalah selalu rida kepada Tuhannya dalam keadaan apa pun. Dia selalu menyetujui–Nya tanpa pertanyaan
“mengapa” dan “bagaimana”. Dia selalu konsisten menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Maka pantaslah dia senantiasa berteman dengan–Nya dan berada di dekat–Nya, bukan di sebelah kanan, kiri atau belakang, melainkan di depan. Dia menjadi dada tanpa punggung, dekat tanpa jauh, jernih tanpa keruh, dan baik tanpa buruk.326
Beliau menambahkan, bahwa ciri seorang wali adalah taat pada perintah Allah Swt. dan taat melaksanakan ibadah fardu, menjaga kebersihan lahir dan batin. Selengkapnya pidato beliau sebagai berikut:
َداَرِإ َعَم َفْوُدْيِرُي َلا ْمُهَّػنَِلْ ًلااَدْبَْلَْا َىُِد اََّنِّإ ًةَداَرِإ َّلَجَو َّزَع للها ِة
َفْوُراَتَْي َلاَو ، ُِ ِراَيِتْخا َعَم
اًراَيِتْخِا َْيَ ، ُْرا َفْوُمُك َرِهاَّظلا َمْك
ُلَمْعَػيَو ، َةَرِهاَّظلا َؿاَمْعَْلْا َفْو
ْوُدَّرَفَػتَػي َُّثُ ، ِؿاَمْعَأ َلِٰإ َف
ْمِهّْصَُت َِلِزاَنَمَو ْمِِتِاَجَرَد َتْقَرَػت اَمَّلُك ، اًيْهَػنَو اًرْمَأ َفْوُدْيِزُي
ِهْيِف ٍرْمَأ َلا ٍؿِزْنَم َلِٰإ اْوُغُلْػبَػي ْفَأ َلِٰإ ،
ْيَِنِ َلاَو ِْف ْمُهَو ْمِهْيَلِا ُؼاَضُتَو ْمِهْيِف ُلَعَفْػنَػت ِعْرَّشلا ِرِماَوَأ َلِب
ٍؿِزْعَم َبْيَغ ِْف َفْوُلاُزَػي َلا ، َعَم ٍة
َّلَجَو َّزَع ّْقَْرا ُػبِرَْي َلا َّتََّح اَمِهْيِف َفْوُظَفَْيَ ْيِهَّنلاَو ِرْمَْلْا ِءْيَِص ِتْقَو ِْف َفْوُرُضَْيَ اََّنِّإَو ،
َفْو
ِعْرَّشلا ِدْوُدُح ْنِم اَّدَح َكِتْرِاَو ٌةَقَدْنُز ِتاَضْوُرْفَمْلا ِتَداَبِعْلا َؾْرَػت َّفَِلْ ،
ِتاَرْوُظْحَمْلا ُبا
ٌةَيِصْعَم َحَأ ْنَع ُضِئاَرَفْلا ُطُقْسَت َلا ؛ ِؿاَوْحَْلْا َنِم ٍؿاَح ِْف ٍد
ٖٕٚ
.
325 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 294.
326 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 510.
327 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 54.
Orang–orang yang mempunyai hubungan khusus dengan Allah Swt.
disebut sebagai abdal328. Mereka tidak berkeinginginan di hadapan Allah Swt. dan tak mau memilih di hadapan pilihan yang telah ditentukan Allah Swt. mereka menaati hukum lahir dan melaksanakan amal perbuatan lahir, lalu menyendiri dengan amal perbuatan yang khusus bagi mereka. Acap kali derajat dan posisi mereka meningkat, mereka semakin taat pada perintah dan larangan–
Nya, sampai pada posisi ketika tak ada lagi perintah dan larangan karena semua aturan syariat telah menyatu dengan diri mereka.
Mereka menjauh dari masyarakat dan bersembunyi bersama Allah Swt. meski begitu, mereka tetap menghadiri seruan perintah, larangan Allah, dan menjaganya tanpa menerobos batas-batas syariat. Sebab meninggalkan ibadah yang difardukan adalah tindakan zindik dan melanggar larangan–Nya. Hal itu sama saja berbuat maksiat. Tak ada satu pun ibadah fardu yang gugur dalam kondisi spiritual mana pun.329
Di bawah ini merupakan kelanjutan nasihat Syaikh yang menjelaskan tentang ciri seorang wali. Adapun nasihatnya sebagai berikut:
َْلْاَو ُءاَيِلْوَْلْاَو ُءاَمَلُعلا ِءاَيِبْنَْلْا ُثاَّرُو ُؿاَدْب
ُةَرِساَمَّسلَا ُءاَيِبْنَْلَْا ، ْلا ِءَلاُؤَهَو ،
ْمِهْيِدْيَأ َْيَْػب َفْوُداَنُم .
ََي َلا ُنِمْؤُمْلَا ُُ َرْػيَغ ْوُجْرَػي َلاَو ،َّلَجَو َّزَع ِللها ِْيَْغ ُؼا
ىَطْعَأ ْدَق ، ِهِبْلَػق ِْف َةَّوُقلا
ُِ ّْرَسَو َلا َفْيَك ،
ُلُقْلا ُُ َدْنِع ُؿاَزَػت َلا ؟ ِهْيَلِإ اَِبِ ىَرْسَا ْدَقَو َّلَجَو َّزَع ِللهاِب ًةَّيِوَق َْيِْنِمْؤُمْلا ُبْوُلُػق ُفْوُكَت ُبْو
؟
ِضْرَْلْا ِْف ُبِلاَقْلاَو
ٖٖٓ
،
Para ulama, wali, dan abdal adalah pewaris para nabi. Mereka para perantara (as-sama>sarah)331 yang memanggil umat manusia ke hadapan para Nabi. Orang yang beriman tidak takut kepada selain Allah Swt. dan tak berharap kepada mereka. Allah telah memberi kekuatan kedalam hati dan batinnya. Lantas, mengapa hati orang–
orang yang mukmin itu tidak memiliki kekuatan bersama Allah, sedangkan kekuatan itu telah membawa (asra) mereka kepada–Nya?
Hati mereka masih tetap berada di sisi–Nya, sedangkan raga mereka ada di bumi.332
328 Abdal, لادبلاا merupakan bentuk jamak dari badal (لدب) artinya pengganti. Sebutan istilah lain dari wali abdal, dinamakan demikian karena setiap kali salah satu dari mereka ada yang wafat maka akan digantikan oleh yang lain.
329 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 86.
330 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 61.
331As–simsa>r adalah perantara antara penjual dan pembeli. (Ta>j Al–´Aru>s, vol. 12, 86)
332 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 99.
Allah Swt. berfirman:
ْنِع ْمُهَّػنِإَو ِراَيْخَْلْا َْيَْفَطْصُمْلا َنِمَل اَنَد
333
Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar–benar termasuk orang–orang pilihan yang paling baik. (Q.S. Shad (38) : 4)334
Syaikh mengemukakan bahwa seorang wali adalah orang pilihan terbaik yang terpilih diantara keluarga dan orang–orang yang hidup di zaman mereka. Sebagai berikut:
َهَأ ىَلَع َفْوُفَطْصَي ْمِِنِاَمَز ِلْهَأَو ْمِهْيِلا
ِهْيِناَبَم َرَّوَػنَػتَػتَو ْمِهْيِناَعَم ُزَّػيَمَتَػت ، ْم
َقْلَْزا اْوُػقَراَف اَذَِشَو ،
َزَو ِتاَفْوُلْأَمْلَا ِْف اْوُدَه اْوُراَس ،
ٍـاَدِق َلِٰإ ْمُهَءاَرَو َبْشُعْلا َتَبَػنَو
ٌعْوُجُر ْمَُش َيِقَب اَم ، اْوُسَنْأَتْسِا
ِةَدِحَوْلاِب َقْلاَو يَراَرَػبْلاَو َراَحِبْلا َلِحاَوَسَو َباَرُْزا اْوُراَتْخِا ؛ َراَف
ِؿْوَقِب ْنَم َفْوُلُكْأَي ُفاَرْمِعْلا َلا ،
َو ىِراَحَّصلا ُغ ْنِم َفْوُػبَرْشَي
اَِنِاَرْد
ٖٖ٘
.
Mereka terpilih di antara keluarga dan orang–orang yang hidup di zaman mereka. Kekuatan spiritual mereka istimewa, dan fisik mereka pun berkilau cahaya. Oleh karena itu, mereka memisahkan diri dari manusia dan menjauhi popularitas. Mereka berjalan kedepan dan rumput tumbuh di belakang mereka. Mereka tidak berharap kembali karena merasa senang dengan kesendirian. Mereka memilih tinggal di tempat–tempat kosong, tepi–tepi pantai, padang–
padang luas, dan tempat–tempat sunyi tanpa bangunan. Mereka makan sayuran (baqul)336 yang tumbuh di bebatuan dan minum dari sumber mata air (ghadran)337. 338
ِشْحَوْلاَك َفْوُرْػيِصَي اَهُسّْنَؤُػيَو ْمُهَػبْوُلُػق ُبّْرَقُػي َكِلاَنُه ،
ِهِب َعَم ْمِهْيِناَبَم َفَّقَوَػت ،
َو َْيِْلَسْرُمْلا ْ ِناَبَم َّشلاَو َْيِْقْيّْدّْصلا
ِءاَدَه اًفْوُػقُو َفْوُلاَزَػي َلا ُهَعَم ْمِهْيِناَعَم ُفِقْوُػيَو ،
ّْنَأَتُمْلا ِةَبّْيَطَو َْيِْقاَتْشُمْلا ُةَحاَرَو ٌةَوْلُخ ْمِهِراَهَػنَو ْمِهِلْيَل ِةَمْدِْزا ِْف َّزَع ِللهاِب َْيِْس
َّلَجَو
ٖٖٜ
.
333 Al-Quran, 38:47
334 Depag RI, al-Quran dan Terjemahnya, 914.
335 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 61.
336 al–baqlun adalah tumbuhan yang bukan pohon. (Lisȃn al–„Arab, vol.11, 60)
337 Ghadrȃn adalah tanah berair. (Mukhta>r ash-Shiha>h)
338 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 99–100.
339 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 61.
Mereka berjalan bagai satwa liar. Di sanalah hati mereka menjadi dekat dan terhibur dengan–Nya. Mereka meniru kehidupan lahiriah para rasul, orang–orang yang benar keimanannya (shiddi>qu>n) dan yang mati syahid (syuhada´), sedangkan hati mereka ada bersama–
Nya. Mereka senantiasa berkhidmat kepada Allah pada siang dan amalam hari, saat sendiri dan beristirahat, laksana para perindu dan orang–orang yang akrab dengan kebaikan Allah Swt.340
Syaikh Abdul Qadir al–Jailani dalam kitab Sirrul Asrar berkata bahwa, buah kewalian adalah si hamba menjadi berakhlak dengan akhlak Allah Swt. sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. dalam hadis beliau:
َللها ِؽَلَْخَأِب اْوُقَّلََت
Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah.
Artinya, milikilah sifat–sifat Allah setelah kalian menanggalkan sifat–sifat manusiawi, sebagaimana yang Allah firmankan dalam sebuah hadis Qudsi:
َو ُشِطْبَػي ِْبَِو ُرِصْبُػي ِْبَِو ُعَمْسَي ِْبَف اًناَسِلَو اًدَيَو اًرَصَبَو اًعَْد ُهَل ُتْنُك اًدْبَع ُتْبَبْحَأ اَذِإ ِْبِ
ْيِشَْيَ ِْبَِو ُقِطْنَػي
Jika aku mencintai seorang hamba, maka aku menjadi pendengar, penglihatan, tangan, dan lisan. Maka dengan–Ku dia mendengar, dengan–Ku dia melihat, dengan–Ku dia menghamparkan, dengan–
Ku dia bicara, dan dengan–Ku dia berjalan. (HR. Bukhari)341
Nasihat di atas juga Syaikh Abdul Qadir al–Jailani jelaskan dalam kitab Fathur Rabbani, sebagai berikut:
ْلَْزا ِفاَْيَِإَك يِطْعُػي ْنِكَلَو اًعْػيَِج ِقْلَْزا َؿاَقْػثَأ ُلِمَْيَ اًبْطُق ُرْػيِصَي ِةَيَلاِوْلا َةَياَغ َغَلَػب ْنَم اًعْػيَِج ِق
ِوْقَػتْسَيِل َلََح اًم ِلَْح ىَلَع ِهِب ي ْيِصْيِمَق ُرُظْنَػي َلا ،
اَذَه ِتْوَمْلا َدْعَػب ِساَبلّْلا اَذَه ِْتَِْيَ ُرْطَو
َفَك ُلِمَْي ِتّْيَمْلا ُنَفَكَو ٌن يِلَكَأَو ِؼْوُّصلا يِسْبُل َدْعَػب اَذَه ،
ْيِدْنِع ِعْوُْذاَو ِنَشَْزا
ٖٕٗ
.
340 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 100.
341 al–Jailani, Sirrul Asrar, 82–83.
342 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 334.
Barang siapa telah mencapai puncak kewalian, dia akan menjadi wali qut}ub dan memikul semua beban makhluk. Dia memberikan keimanan kepada semua manusia untuk memperkuat menanggung beban. Dia tidak melihat pakaianku dan tutup kepalaku. Pakaianku setelah mati adalah kain kafan. Hal itu kulakukan setelah mengenakan wol kasar (s}uf), memakan makanan kasar, serta menahan lapar.343
Syaikh Abdul Qadir al–Jailani dalam kitab Sirrul Asrar berkata bahwa, seorang wali adalah orang yang ada dalam keadaan fana (lebur diri) dan selalu musyahadah kepada Allah Swt. dia tidak memiliki kemampuan memilih dan tidak memiliki tempat tenang baginya kecuali Allah.
Seorang wali dikuatkan dengan berbagai karamah. Namun, karamah–karamah itu ditutupi oleh sang wali dan dia tidak akan menyebarluaskannya. Sebab, menyebarluaskan rahasia ketuhanan adalah sebentuk kekufuran. Demikian dinyatakan oleh penulis kitab al–Mirshad,
“Para pemilik karamah semuanya mahjub (terhalangi tabir). Karamah itu laksana haid bagi kaum laki–laki.”
Wali Allah memiliki seribu maqam (kedudukan). Maqam yang pertama adalah karamah. Barang siapa yang berhasil melewatinya, niscaya akan mudah naik ke tingkat berikutnya.344
Paparan data di atas membuktikan bahwa Allah Swt.
mengistimewakan seorang hamba yang dekat dengan–Nya. Wali qut}ub merupakan gelar bagi hamba terpilih yang paling baik. Seorang wali, kata Syaikh merupakan pewaris nabi yang tingkat spiritualitasnya sangat istimewa.
343 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 583.
344 al–Jailani, Sirrul Asrar, 26.
4. Sufi
Syaikh Abdul Qadir al–Jailani dalam kitab Fathur Rabbani
menjelaskan tentang hakikat seorang sufi. Sebagai berikut:
َأ َيِعْدَت )ُكِلَيَو(
ٌرْدِك َتْنَأَو ِْفْوُص َكَّن َو ُهُنِطاَب اَفَص ْنَم ِْفْوُّصلَا ،
َّزَع ِللها ِباَتِك ِةَعَػباَتُِب ُُ ُرِهاَظ
ُراَيِتْخاَو ُهُتَداَرِإ ُؾُرْػتَػيَو ُِ ِدْوُجُو ِرَْبِ ْنِم َجَرَخ ُُ ُؤاَفِص ُداَدْزِا اَمَّلُكَف ِهِلْوُسَر ِةَّنُسَو َّلَجَو ِشَمَو ُُ
ُهُتَئْي
ِهِبْلَػق ِءاَفِص ْنِم
ٖٗ٘
،
Celaka! Engkau mengaku sufi padahal engkau keruh. Seorang sufi adalah orang yang batinnya bersih dan lahirnya mengikuti kitabullah dan sunah Rasulullah. Apabila kejernihan batinnya bertambah, dia keluar dari lautan wujudnya. Meninggalkan keinginan, pilihan, dan kehendaknya dari kejernihan hatinya.346
Selanjutnya Syaikh berkata:
َّضلاَو َعْنَمْلاَو َءاَطَعلا ىَرَػي َلا ُـَّذلاَو ِدْمَْرا ِعاَِد َلِٰإ ُهَل ٌتاَفّْػتلا َلاَو ٌقْيِدَص َلاَو ُهَلّّوُدَع َلا َّر َلَع َّلَجَو َّزَع ِهّْبَر ُتْخَس ُهُتْو َم ِتْوَمْلاِب ُّمُغَػي َلاَو ِةاَيَْراِب ُحَرْفَػيَلا َّلَجَو َّزَع ِللها ِْيَْغ ْنِم َعْفَّػنلاَو ِهْي
ُهْنَع ُُ اَضِر ُهُتاَيَحَو ِةَوْلُْزا ِف ُهُسْنَأَو ِةَوْلَْذا ِف ُهُتْشَحَو ،
ُباَرَشَو َّلَجَو َّزَع ِهّْبَر ُرْكِذ ُهُماَعَط ، ْنِم ُه
ِهِب ِسْنِْلْا ِباَرَش ُّدلا ِـاَطِِبِ ًلَْيَِب ُفْوُكَي َلا َـَرَج َلا ،
ُهَّنَِلْ اَهْػيِف اَمَو اَيْػن ِنَع َنِغ ُُ َدْنِع
ِعْيِمَْذا
ٖٗٚ
.
Seorang sufi tidak memiliki musuh dan tak mempunyai teman. Dia tidak menoleh untuk mendengar pujian ataupun celaan, tidak melihat pemberian, penolakan, manfaat, dan mudarat dari selain Allah swt.
dia tidak gembira dengan kehidupan dan tidak sedih karena kematian. Kematiannya hanya kemarahan Tuhan kepadanya, sedangkan kehidupannnya ada pada keridaan–Nya padanya. Dia takut dalam keramaian dan senang dalam kesunyian. Makanannya ialah mengingat Tuhannya. Minumanya berupa minuman cinta kepada-Nya. Oleh karena itu, tak mengherankan bila ia tidak pelit dengan harta benda dunia dan isinya karena dia tidak membutuhkan semua itu.348
345 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 256.
346 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 450.
347 al–Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>, 248.
348 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani, 436.