• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Sufistik dalam Kitab Fathur Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pendidikan Sufistik dalam Kitab Fathur Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani."

Copied!
216
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh :

NOVIATUS SHOLIHAH NIM T20151338

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

DESEMBER 2021

(2)

PENDIDIKAN SUFISTIK DALAM KITAB FATHUR RABBANI KARYA SYAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Keguruan (S.Pd.) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh :

NOVIATUS SHOLIHAH NIM T20151338

Disetujui Pembimbing,

Dr. H. Ubaidillah, M.Ag.

NIP 196812261996031001

(3)

PENDIDIKAN SUFISTIK DALAM KITAB FATHUR RABBANI KARYA SYAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

SKRIPSI

Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam

Hari : Kamis

Tanggal: 09 Desember 2021 Tim Penguji

Ketua, Sekretaris,

Dr. Mashudi, M.Pd. Shidiq Ardianta, M.Pd.

NIP 197209182005011003 NIP 198808232019031009 Anggota :

1. Dr. H. Matkur, S.Pd.I, M.Si. ( )

2. Dr. H. Ubaidillah, M.Ag. ( )

Menyetujui

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan,

Prof. Dr. Hj. Mukni‟ah, M.Pd.I.

NIP 196405111999032001

(4)

MOTTO





















Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Al-Quran, 13:11

Departemen Agama Republik Indonesia, al-Quran dan Terjemahnya (Bandung: CV.

Gema Risalah Press, 2016), 475.

(5)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkan kepada :

1. Bapak dan Ibu, Alm. Bpk. H. Suryadi dan Ibu Hj. Siti Halimah, beliau kedua orang paling berharga dalam hidup saya, atas keikhlasan dan kasih sayang yang tiada batas telah membesarkan, mendidik, dan selalu mendukung saya untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik serta keluarga Bpk. Sukarmo dan Ibu Nuriyah karena selalu menjaga saya dalam doa-doa beliau.

2. Suami saya, Mas Atok S.H., yang selalu mendukung dan mengisi kehidupan saya dengan banyak kebahagiaan.

3. Putriku terkasih, Najwa Fajri Ash-Shidqi, sumber motivasi saya.

4. Kakak dan Adik saya, Mas Nur, Mas Ahmad, Adik Badrut Tamam.

5. Seluruh Guru dan Dosen dan civitas akademik IAIN Jember, semoga berkah ilmu beliau–beliau kepada saya. Khususnya Ust. Zainal Anshari, Ust. Dasuki, Ust. Rudi, Gus Ridho, dan Abah Amin Sururi

6. Sahabat saya, Rif‟at Humilatisy Syamsinur atas kebaikan–kebaikan beliau yang tak terhingga.

7. Teman–teman penulis, baik itu teman seangkatan, senior, dan adik tingkat yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

(6)

KATA PENGANTAR









Segenap puji syukur penulis sampaikan kepada Allah karena atas rahmat dan karunia–Nya, perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, terselesaikan dengan lancar.

Kesuksesan ini dapat penulis peroleh karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan terima kasih yang sedalam–

dalamnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M. selaku Rektor IAIN Jember.

2. Ibu Prof Dr. Hj. Mukni‟ah, M.Pd.I. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan IAIN Jember.

3. Bapak Dr. H. Mashudi, M.Pd. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik IAIN Jember

4. Bapak Drs. H. D. Fajar Ahwa, M.Pd.I. selaku ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Jember

5. Bapak Dr. H. Ubaidillah M.Ag. selaku Dosen Pembimbing skripsi.

6. Seluruh Dosen dan Civitas Akademika IAIN jember yang saya hormati.

Akhirnya, semoga segala amal baik yang telah Bapak/Ibu berikan kepada penulis mendapat balasan yang baik dari Allah.

Jember, Desember 2021

Penulis

(7)

ABSTRAK

Noviatus Sholihah, 2021: Pendidikan Sufistik dalam Kitab Fathur Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani.

Kata kunci: Pendidikan Sufistik, Kitab Fathur Rabbani, Syaikh Abdul Qadir al–

Jailani

Fathur Rabbani, sebuah karya agung tentang kajian sufistik pemikiran Syaikh Abdul Qadir al–Jailani. Beliau tokoh sufi besar di Indonesia–khususnya di kawasan anak benua India. Keterlibatan Syaikh dalam pendidikan sufistik melahirkan ide dan pemikiran tentang tasawuf yang sangat berpengaruh bagi perkembangan sufistik dan pendidikan Islam.

Fokus kajian yang diteliti dalam skripsi ini adalah 1) bagaimana pendidikan sufistik pada aspek takhalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani? 2) Bagaimana pendidikan sufistik pada aspek tahalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani? 3) Bagaimana pendidikan sufistik pada aspek tajalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani?

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Mendeskripsikan pendidikan sufistik pada aspek takhalli dalam kitab Fathur Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani. 2) Mendeskripsikan pendidikan sufistik pada aspek tahalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani. 3) Mendeskripsikan pendidikan sufistik pada aspek tajalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani.

Penelitian ini menggunakan prosedur penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian studi kepustakaan. Sementara itu, metode pengumpulan data menggunakan dokumentasi, teknik analisis datanya menggunakan analisis isi (content analysis). dan Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber literatur.

Penelitian ini memperoleh kesimpulan: 1. Pendidikan sufistik pada aspek takhalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani terdiri dari delapan komponen: syirik lahir dan syirik batin; cinta dunia; sombong; ujub;

munafik; dusta; bakhil; zalim. Sifat–sifat tersebut dalam sudut pandang pendidikan sufistik merupakan akhlak tercela sehingga perlu dihindari dalam diri seorang peserta didik, 2. Pendidikan sufistik pada aspek tahalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani terdiri dari tiga belas macam: taubat; wara´; qana´ah; rida; zuhud; tawakal; ikhlas; sabar; syukur; jujur;

takwa; uzlah; khalwat. Sifat–sifat tersebut merupakan sikap dan kepribadian akhlak mulia yang perlu dimiliki oleh peserta didik, 3. Pendidikan sufistik pada aspek tajalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani memuat empat maqam: makrifat; ´arif billah; wali qut}b; sufi. Empat maqam tersebut merupakan karakter seorang ahli ilmu yang patut diteladani.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar belakang ... 1

B. Fokus kajian ... 10

C. Tujuan penelitian ... 10

D. Manfaat penelitian ... 11

E. Definisi istilah ... 12

F. Sistematika pembahasan ... 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 14

A. Penelitian Terdahulu ... 14

B. Kajian Teori ... 19

BAB III METODE PENELITIAN ... 54

A. Pendekatan penelitian ... 54

B. Jenis penelitian ... 54

(9)

C. Sumber data ... 56

D. Metode pengumpulan data ... 56

E. Teknik analisis data... 58

F. Keabsahan data ... 62

BAB IV BIOGRAFI SYAIKH ABDUL QADIR AL–JAILANI ... 64

A. Garis Keturunan Syaikh Abdul Qadir al–Jailani . ... 64

B. Riwayat Syaikh Abdul Qadir al–Jailani ... 68

C. Kehidupan Intelektual Syaikh Abdul Qadir al–Jailani ... 69

D. Keluarga Syaikh Abdul Qadir al–Jailani ... 73

E. Karya–Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani ... 75

BAB V PAPARAN DATA DAN ANALISA ... 78

A. Pendidikan Sufistik pada Aspek Takhalli dalam Kitab Fathur- Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani ... 79

B. Pendidikan Sufistik pada Aspek Tahalli dalam Kitab Fathur- Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani ... 97

C. Pendidikan Sufistik pada Aspek Tajalli dalam Kitab Fathur- Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani ... 125

BAB VI PEMBAHASAN ... 142

A. Pendidikan Sufistik pada Aspek Takhalli dalam Kitab Fathur- Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani ... 144

B. Pendidikan Sufistik pada Aspek Tahalli dalam Kitab Fathur- Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani ... 157 C. Pendidikan Sufistik pada Aspek Tajalli dalam Kitab Fathur-

(10)

Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani ... 183

BAB VII PENUTUP ... 193

A. Kesimpulan ... 193

B. Saran–Saran ... 194

DAFTAR PUSTAKA ... 195

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

No Uraian Halaman

1.1 Matrik Penelitian ... 200

1.2 Surat Pernyataan Keaslian Tulisan ... 201

1.3 Jurnal Kegiatan Penelitian ... 202

1.4 Dokumentasi ... 203

1.5 Biodata Penulis ... 205

(12)

Krisis spiritualitas dan upaya pembinaan akhlak merupakan suatu persoalan yang rumit dalam dunia pendidikan. Penerapan pendidikan karakter merupakan tugas utama pada lembaga–lembaga pendidikan di Indonesia.

Seperti yang telah disampaikan oleh Fahruddin Faiz, bahwa di samping menawarkan berbagai kenikmatan dan kemudahan hidup, perkembangan terkini peradaban manusia juga kerap membuahkan dehumanisasi, manusia yang tak lagi manusiawi. Fakta dehumanisasi itu sudah menjadi keprihatinan banyak tokoh dari berbagai bidang. Banyak manusia kebingungan karena kehilangan jati diri kemanusiaannya. Kehidupan manusia hari ini secara mental banyak diwarnai oleh disorientasi (kehilangan pegangan karena runtuhnya nilai–nilai lama), dan juga deprivatisasi relatif (perasaan tersingkir dan terasing dalam bidang kehidupan tertentu).1

Kajian pendidikan berbasis sufistik merupakan wacana yang memberikan ruang gerak terhadap pembentukan kepribadian dan nurani manusia. Corak pendidikan model demikian memang menekankan aspek spiritual. Dimana substansi kehidupan tidak lengkap tanpa adanya dorongan jiwa yang mampu mendekatkan seorang manusia dengan Sang Pencipta.2

1 Fahruddin Faiz, Menjadi Manusia Menjadi Hamba (Bandung: Mizan Media Utama, 2020), 6.

2 M. Rikza Chamami, Pendidikan Sufistik: Mengungkap Tarekat Guru–Murid (Semarang:

Pustaka Rizki Putra, 2013), 15, Z-Library.

(13)

Pendidikan dan spiritual tidak dapat dipisahkan. Pendidikan bukanlah sekedar memindahkan ilmu, berbeda dengan pengajaran yang sifatnya hanya kognitif. Pendidikan bukan hanya di lembaga formal saja seperti sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga, serta di lingkungan sosial dan masyarakat.3 Pendidikan berarti upaya membentuk akhlak, membentuk karakter. Dalam rangka menanamkan sifat–sifat terpuji, pendidikan sufistik perlu diajarkan kepada anak didik melalui kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam hidup, dan Tuhan selalu mengawasi segala tingkah laku kita. Metodik–didaktik nya harus ditemukan bagaimana cara menyadarkan anak didik akan makna ibadah lahiriah dan apa yang sebenarnya diharapkan dari ibadah itu bagi pembentukan diri pribadinya, yakni akhlaknya.4

Pendidikan sufistik secara implisit telah dilegitimasi oleh Undang–

Undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dimana pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengenalan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.5

3 Kautsar Azhari Noer, “Kehilangan Allah? Itu Sakit Spiritual”, Majalah Sufi News Melihat Wajah Allah, (Agustus 2003), 15.

4 Sudirman Tebba, Orientasi Sufistik Cak Nur – Komitmen Moral Seorang Guru Bangsa, (Jakarta: KPP Kelompok Paramadina, 2004), 121-122.

5 Departemen Pendidikan Nasional, Undang – Undang RI No.20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) (Jakarta: Sisdiknas, 2003), 2.

(14)

Jadi pendidikan berbasis sufistik merupakan upaya pembentukan karakter sebagai kebutuhan utama bagi tumbuh–kembang cara beragama yang dapat menciptakan peradaban. Ajaran–ajaran sufistik perlu diimplementasikan secara utuh, agar dapat mengantarkan peserta didik atau murid untuk menjadi manusia mukmin yang bertakwa dan berakhlak mulia. Pentingnya pendidikan sufistik secara umum dapatlah dikatakan bahwa sufistik merupakan sebuah upaya untuk mensistematisasi ajaran pendidikan agama Islam, berkaitan dengan tujuan pendidikan yaitu peserta didik atau murid yang berkarakter dan berbudi luhur dalam kehidupan sehari–hari sebagaimana akhlak Nabi Muhammad Saw.

Firman Allah Swt:





































6

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.7

Namun, dalam praktik internalisasi pendidikan sufistik melalui penanaman nilai–nilai yang ada dalam ilmu pendidikan berbasis sufistik secara teoritis maupun praktis belum bisa terealisasikan secara sempurna. Hal ini dapat dibuktikan melalui sebuah penelitian studi lapangan tentang internalisasi nilai–nilai tasawuf di pondok pesantren Al–Amien Prenduan Sumenep.

6 Al-Quran, 33:21

7 Depag RI, al-Quran dan Terjemahnya, 832.

(15)

Temuan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor penghambat dari internalisasi nilai–nilai tasawuf adalah dari internal santri sendiri. Sebagian para santri tidak patuh atau tidak disiplin dalam menjalankan peraturan yang ditetapkan di pondok pesantren tersebut.8

Kondisi di atas menunjukkan bahwa aspek afektif dan psikomotorik adalah interaksi antara guru dan murid sangat berpengaruh dalam pelaksanaan pendidikan karakter berbasis tasawuf. 9 Selain itu, pendidikan karakter berbasis sufistik dari segi aspek kognitif pengetahuan juga penting untuk diperhatikan.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ahli Muhdi bahwa kurikulum pendidikan lembaga pendidikan atau satuan pendidikan harus bersifat komprehensif, dan memberikan porsi yang seimbang antara pendidikan keimanan dengan kajian yang lainnya.

Teori dan konsep kajian pendidikan sufistik memiliki kekayaan gagasan dan pemikiran dalam perspektif tokoh–tokoh sufi di dunia. Seperti: al–Ghazali dengan konsep riyadhah tazkiyatun nafs–nya, Jalaludin Rumi dengan konsep

“cinta Ilahiah”, Rabi‟ah „Adawiyah dengan ajaran tasawuf mahabbah atau pendekatan rasa cinta kepada Tuhan, Ibnu Arabi dengan konsep wahdah al–

wujud dan insan kamil, dan masih banyak lagi tokoh sufi populer yang lainnya.

8 Andi Sutrisno, “Internalisasi Nilai–Nilai Tasawuf di Pondok Pesantren Al–Amien Prenduan,” Jurnal Al‟Adalah 24, no. 1 (2021): 2-9, https://doi.org/10.35719/aladalah.v24i1.64.

9 Ahli Muhdi, Konsep Moral Pendidik dan Peserta Didik Menurut Imam al–Nawawi al–

Dimasyqiy: Studi Analisis Sufistik Kitab al–Tibyan fi Adabi Hamalati al–Qur‟an (Yogyakarta:

Lontar Mediatama, 2020), 77.

(16)

Peneliti tertarik untuk mengkaji konsep pendidikan berbasis sufistik perspektif Syaikh Abdul Qadir al–Jailani. Konsep, doktrin, dan nilai–nilai etis sufismenya sangat mendalam dan tajam. Nilai–nilai luhur yang diwariskan oleh Syaikh dapat dipahami secara konkret. Namun, bukan hanya itu sisi yang melekat pada diri Syaikh. Hal yang membuat menarik untuk memperhatikan dan mengkaji beliau adalah sebagai berikut.

Pertama, Syaikh Abdul Qadir al–Jailani adalah sufi paling populer di Indonesia–khususnya di kawasan anak benua India. Saudara–saudara kita di kampung–kampung, sampai hari ini mungkin masih menjalankan tradisi manakib atau manakiban. Ini adalah tradisi membacakan riwayat hidup Syaikh Abdul Qadir Jailani.10

Kedua, Syaikh Abdul Qadir al–Jailani adalah seorang wali tertinggi disebut qut}b al–auliya (wali qut}b), pemimpin para wali, Syaikh al–Islam al–

Muslimin, jeli, wushul, arif, menguasai ilmu Barat dan ilmu Timur.11

Ketiga, pemikiran Syaikh tentang sufistik sangat berpengaruh bagi perkembangan pendidikan sufistik dan amaliyah dunia tarekat, yaitu menduduki abad 12 Masehi atau 6 Hijriah. Beliau berhasil membentangkan jembatan penghubung antara syariat dan sufisme secara praktis. Campur tangan ajaran tarekatnya ikut mempengaruhi proses Islamisasi Indonesia yang kemudian Qadiriyah memasuki deretan tarekat muktabarah di Indonesia.12

10 Faiz, Menjadi Manusia Menjadi Hamba, 265.

11 Mohamed Fadil al–Jailani al–Hasani, Biografi Syaikh Abdul Qadir Al–Jailani r.a. , terj.

Ahmad Dzulfikar (Depok: Keira Publishing, 2016), 71.

12 Sri Mulyati, “Tasawuf, Tarekat, dan Islamisasi Indonesia”, Majalah Penyejuk Hati Cahaya Sufi edisi 90, (2014), 42.

(17)

Inilah yang membuat beliau menarik untuk kita perhatikan, ulama sufi besar yang memposisikan dirinya dengan sangat tawad}u´ dan sabar.

Syaikh menuliskan gagasan keilmuannya ke dalam beberapa karya literatur. Sejarah mencatat ada tiga belas kitab yang beliau tulis, diantaranya yang paling eksentrik adalah kitab al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni>

sebuah risalah sufistik klasik paling berbobot diantara kitab lainnya. al-Fath~ al- Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni> merupakan rekaman dari 62 khotbahnya selama 545–546H atau 1150–1152M.13 Merupakan ajaran sufi dan tauhid murni yang disampaikan menggunakan bahasa lisan melaui khotbah beliau di berbagai majelis seperti madrasah, pondok, dan pengajian.

Kitab ini menjadi semakin menarik karena dalam ceramah–ceramah beliau juga menyandarkan al–Quran, Hadis, juga kisah–kisah dari nabi–nabi agung yang lain, seperti Nabi Dawud, Ibrahim, Musa, Yusuf, Isa dan lain–lain.

Demikian juga perkataan para sahabat, seperti Abu Bakr as Siddiq, „Ali ibn Abi Talib, Siti A‟isyah dan lain–lain, juga menyitir peristiwa yang dialami oleh para Sufi sebelumnya, seperti al–Hasan al–Basri, Ibrahim Ibn Adam, Abu Yazid al–Bustami, Ibrahim al–Khawwas, Sufyan as–Sawil, dan kaum saleh yang lain.14

13 Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat–Tarekat Muktabarah di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2006), 34.

14 al–Jailani, Pencerahan Sufi (Fathur Rabbani), viii–ix. ed. Abdul Kholiq. Yogyakarta : Familia Pustaka Jaya

(18)

Kitab ini menjadi semakin menarik untuk dibaca karena di dalamnya berisi nasihat–nasihat yang mengajarkan kepada peserta didik atau murid untuk meneladani karakter mulia dari seorang ahli ilmu. Diantaranya adalah menjadi mukmin yang bertakwa kepada Allah Swt. Jika seorang peserta didik meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Swt. maka ia akan selalu memperbaiki niat dalam menuntut ilmu, menghindari akhlak tercela dan mengamalkan akhlak terpuji. Melalui pembelajaran adab–adab dalam menuntut ilmu, seorang peserta didik akan terarah dalam prosesnya menggali ilmu pengetahuan, mengamalkannya, untuk mendapatkan keberkahan dan manfaat dari ilmu. Peserta didik atau murid yang terbina akhlaknya, maka ia akan mampu bertahan menghadapi kesulitan dan godaan dalam proses menuntut ilmu.

Kitab al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni dapat dikategorikan sebagai kajian sufistik, sebab seluruh pembahasannya mengandung ajaran pendidikan berbasis sufistik. Kajian kitab ini dapat menjawab semua persoalan mengenai krisis spiritualitas yang berimplikasi terhadap akhlak seorang peserta didik, sehingga kitab ini sangat representatif untuk dikaji secara mendalam.

Pentingnya ketauhidan sebagai tolak ukur kepribadian, akhlak, dan amal salih bagi peserta didik dijelaskan dalam nasihat Syaikh al–Jailani sebagai berikut.

(19)

Syaikh berkata:

ْنَمَف ،ُص َلَْخِْلْاَو ُدْيِحْوَّػتلا ِؿاَمْعَْلْا ُساَسَأ ُساَسَأ ُمُكْحَأ ،ُهَل َلَمْعََلا ُهَل َصَلَْخِإ َلاَو ُهَل َدْيِحْوَػت َلا

ِصَلَْخِْلْاَو ِدْيِحْوَّػتلاِب َكِلَمَع َكِتَّوُػقَو َكِلْوَِبِ َلا ِهِتَّوُػقَو َّلَجَوَّزَع ِللها ِؿْوَِبِ ِؿاَمْعَْلْا ِنْبا َُّثُ ،

ُدَي ،

َدَي َلا ِةَّيِناَبْلا َىِه ِدْيِحْوَّػتلا ُؽاَفّْػنلاَو ُؾْرّْشلا

ُقِفاَنُمْلا اَّمَأ ِهِلَمَع َرْدَق ُعَفَػتْرَػي ىِذَّلا َوُه ُدَّحَوُمْلا ،

، َلََف

ٔ٘

Sesungguhnya, pondasi amal perbuatan terletak pada pengesaan (tauhid) dan keikhlasan. Seseorang yang tidak punya tauhid dan keikhlasan artinya tidak mempunyai amal perbuatan baik. Karena itu, kokohkanlah fondasi perbuatan baikmu dengan tauhid dan keikhlasan.

Kemudian, bangunlah perbuatan– perbuatan baik dengan daya dan kekuatan Allah swt. bukan dengan daya kekuatanmu. Tangan tauhidlah yang seharusnya membangun, bukan tangan kemusyrikan dan kemunafikan. Orang yang bertauhid dapat mengangkat kadar amal perbuatannya, tetapi tidak bagi orang munafik16 (al-munafiq).17

Nasihat di atas, Syaikh Abdul Qadir al–Jailani menjelaskan bahwa pondasi amal perbuatan manusia terletak pada ketauhidan dan keikhlasannya.

Metode yang ditempuh adalah menanamkan akhlak–akhlak mulia kepada peserta didik atau murid. Hal ini berarti, penerapan akhlak mulia kepada peserta didik adalah untuk menjadi insan yang bertakwa kepada Allah Swt.

Esensi takwa kepada Allah Swt. adalah dengan membangun perbuatan–

perbuatan baik. dalam Sudut pandang pendidikan sufistik, keunggulan seorang peserta didik bukan diukur dari wawasan ilmu pengetahuan dan kecerdasannya saja melainkan dari akhlak dan kepribadian personalnya.

15 Abdul Qadir al-Jailani, al-Fath~ al-Rabba>ni> wa-al-Fayd} al-Rah~ma>ni> (Singapore–Jeddah:

al–Haromain , t.th.), 41.

16 Abdul Qadir al-Jailani, Kitab Fathur Rabbani: Kunci-Kunci Pembuka Rahasia Ilahi, terj.

Zainul Maarif (Jakarta: TUROS Khazanah Pustaka Islam, 2018), 61.

17 al-munafiq adalah orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman dan keimanan, dapat dibaca dalam al-Jailani, Kitab Fathur Rabbani, terj. Zainul Maarif, 61.

(20)

Kitab lain berjudul Sirr al-Asra>r wa-Maz}haru al-Anwa>r fi>ma> yah~ta>ju Ilaihi al-Abra>r yang ditulis Syaikh Abdul Qadir al–Jailani. Beliau menjelaskan:

“Ahli sufi yang hakiki dapat dikenali dengan dua cara: Pertama, zahir mereka: yaitu mereka mengamalkan syari‟at. Kedua, batin mereka:

yaitu boleh dijadikan contoh teladan karena mereka mewarisi kerohanian Nabi s.a.w. sebenarnya manusia contoh yang paling baik ialah Nabi Besar Muhammad s.a.w. Dialah sebenar sufi yang hakiki.

Hakikat dan syariat hendaklah bersama seiring jalan untuk kesinambungan agama dalam kehidupan mukmin dan mukminah sejati.”18

Syaikh melihat bahwa, ajaran Islam terdiri dari dua aspek, lahir dan batin, demikian juga dalam setiap ayat al–Quran, bagi Syaikh, ada yang mengandung makna lahir dan batin. Sebagai contoh, taharah yang berarti bersuci terbagi pada dua bagian. Pertama, penyucian diri secara lahiriah. Hal ini diperintah oleh agama dan caranya dengan mencuci anggota badan atau tubuh dengan air suci, baik dalam bentuk wudu maupun mandi.19

Kedua, penyucian diri secara batiniah, diawali dengan adanya kesadaran akan adanya kotoran dalam wujud diri seseorang, sehinga menjadi sadar terhadap dosa–dosanya dan secara sungguh–sungguh menyesali dosa–

dosa tersebut. Cara pensucian batiniah ini harus mengambil jalan spiritual dan diajarkan serta dibimbing oleh guru spiritual, yaitu dengan taubat, talqin, az- Dzikir, tasfiah dan suluk.20

18 Abdul Qadir al-Jailani, Rahasia Sufi, terj. Abdul Majid Hj. Khatib (Singapore: Pustaka Nasional PTE LTD, 1999), 199.

19 Cecep Alba, Tasawuf dan Tarekat: Dimensi Esoteris Ajaran Islam (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012), 56-57.

20 Cecep Alba, 57.

(21)

Berangkat dari keistimewaan ajaran–ajaran sufistik Syaikh Abdul Qadir al–Jailani di atas, peneliti tertarik untuk melakukan suatu kajian yang mendalam mengenai pendidikan berbasis sufistik. Peneliti akan membedah kembali nilai–nilai pendidikan berbasis sufistik dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani. Kajian ini berjudul PENDIDIKAN SUFISTIK DALAM KITAB FATHUR RABBANI KARYA SYAIKH ABDUL QADIR AL–JAILANI.

B. Fokus Kajian

Relevan dengan problematika sebagaimana telah diuraikan pada latar belakang di atas. Maka peneliti merumuskan fokus kajian sebagai berikut:

1. Bagaimana pendidikan sufistik pada aspek takhalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani?

2. Bagaimana pendidikan sufistik pada aspek tahalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani?

3. Bagaimana pendidikan sufistik pada aspek tajalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini mengacu kepada masalah–masalah yang telah dirumuskan sebelumnya, sebagaimana berikut:

1. Mendeskripsikan pendidikan sufistik pada aspek takhalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani

2. Mendeskripsikan pendidikan sufistik pada aspek tahalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani

(22)

3. Mendeskripsikan pendidikan sufistik pada aspek tajalli dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi yang diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis, yaitu:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian untuk memperluas wawasan pengetahuan di lembaga pendidikan formal maupun non-formal.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat yaitu:

a. Bagi Peneliti

Mengembangkan dan memperluas memperluas khazanah keilmuan, serta bahan evaluasi diri.

b. Bagi Instansi dan Masyarakat

1) Memberikan sumbangsih pemikiran kepada lembaga pendidikan sebagai materi pembelajaran untuk diimplementasikan oleh peserta didik atau murid dalam kehidupan sehari-hari.

2) Memberikan wawasan pengetahuan kepada masyarakat untuk diambil manfaatnya sebagai bekal hidup dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

(23)

E. Definisi Istilah

Pendidikan sufistik adalah bimbingan untuk mengikuti tuntunan agama dengan melatih kecerdasan emosi dan spiritual menuju perbaikan diri menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan beramal salih, melalui pendidikan berbasis sufistik pada aspek takhalli, tahalli, dan tajalli.

Hal ini dijelaskan oleh Mursalim, bahwa sufistik lebih berkonotasi sifat (adjective) dimana sifat ini khas dimiliki oleh para sufi yang selalu menjaga hidupnya dengan baik dari segala sesuatu yang menodai jiwa dan batinnya.

Makna sufi mengacu kepada seseorang yang memiliki kearifan hidup yang didedikasikan kepada semua makhluk ciptaan Tuhan dalam rangka menyatukan dirinya dengan Tuhannya.21

Kitab Fathur Rabbani berisi nasihat–nasihat Syaikh Abdul Qadir al–

Jailani yang terdiri dari 62 tema. Kitab ini merupakan kajian ketauhidan dan akhlak yang dapat menuntun para pembaca untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari–hari. Kitab Fathur Rabbani adalah kajian sufistik yang paling dominan di antara karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani yang lain.

Pendidikan sufistik dalam kitab Fathur Rabbani karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani lebih kepada suatu penekanan penghayatan ke–Tuhanan melalui pengalaman spiritual dalam olah ruhani yang merupakan dimensi pendidikan akhlak. Wujudnya adalah iman, takwa, ibadah, amal salih dan akhlak mulia, yang perlu dimiliki oleh seorang peserta didik atau murid melalui pendidikan berbasis sufistik pada aspek tahalli, takhalli, dan tajalli.

21 Mursalim, Psikoterapi Sufistik : Solusi Quranik Atas Kehampaan Spiritual Manusia Modern (Jember: STAIN Jember Press, 2013), 17-18.

(24)

F. Sistematika Pembahasan

Bab Satu, merupakan pendahuluan yang meliputi: latar belakang, fokus kajian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab Dua, merupakan kajian pustaka, mencantumkan berbagai hasil kajian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan dan pembahasan teori yang dijadikan sebagai perspektif dalam melakukan penelitian.

Bab Tiga, merupakan metode penelitian yang menjelasksn langkah yang dikerjakan penulis sejak awal hingga akhir. Pada bagian ini dimuat:

pendekatan penelitian, jenis penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, teknik analisis data, dan keabsahan data.

Bab Empat, mendeskripsikan Biografi Syaikh Abdul Qadir al–Jailani.

Bab Lima, mendeskripsikan paparan data dan analisa. Yaitu paparan data dalam kitab Fathur Rabbani yang mengindikasikan adanya gagasan pendidikan sufistik untuk menjawab fokus kajian.

Bab Enam, memuat dialog hasil temuan berupa pemikiran atau ide baru dari peneliti dikaitkan dengan teori–teori, sesuai dengan fokus kajian.

Bab Tujuh, memuat kesimpulan dan saran.

(25)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu adalah suatu kegiatan untuk menjamin orisinalitas dan mengetahui posisi penelitian yang akan dilakukan dengan mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan judul penelitian yang hendak dilakukan oleh peneliti.

Adapun penelitian terdahulu yang mempunyai kaitan dengan judul penelitian ini “Pendidikan Sufistik dalam Kitab Fathur Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir al–Jailani” adalah sebagai berikut.

1. NILAI–NILAI SUFISTIK DALAM BUKU SUCCESS PROTOCOL KARYA IPPHO SANTOSA

Skripsi ini disusun oleh Anggi Ulandari, program studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2017.

Penelitian ini membahas Nilai-Nilai Sufistik dalam buku Success Protocol Karya Ippho Santosa dengan fokus kajian: 1. adakah nilai-nilai sufistik dalam buku Success Protocol? 2. Bagaimana implementasi nilai sufistik dalam kehidupan masyarakat kontemporer?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Library Research dengan sifat penelitian deskripstif filosofis.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat nilai-nilai sufistik dalam rumus 7i.

(26)

yaitu: a) ikhtiar (work with worship), b) ittihad (work with network), c) itqan (perfection for satisfaction), d) i‟tikaf (introspection for improvement), e) indibath (persistency with consistency), f) ihsan, g) ikram. Dijelaskan juga bahwa tasawuf relevan untuk menjawab keterasingan dan kekeringan spiritualitas manusia modern, sehingga bila ajaran tasawuf ini diimplementasikan dalam kehidupan, maka kehidupan ini akan jauh lebih indah dan lebih berwarna. Terlebih tasawuf modern.22 2. NILAI–NILAI ETIKA SUFISTIK DALAM NOVEL DI BAWAH

LINDUNGAN KA‟BAH KARYA HAMKA

Skripsi ini disusun oleh Nur Fitriani, program studi akidah dan filsafat Islam, Fakultas Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2018.

Penelitian ini adalah membahas nilai–nilai etika sufistik dalam novel di Bawah Lindungan Ka‟bah Karya Hamka dengan fokus kajian: 1.

apa sajakah nilai–nilai sufistik dalam novel Di Bawah Lindungan Ka‟bah Karya Hamka? 2. Bagaimanakah implementasi nilai – nilai sufistik dalam novel Di Bawah Lindungan Ka‟bah dengan kehidupan masyarakat kontemporer?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Library Research dengan pendekatan deskriptif filosofis.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah nilai–nilai sufistik dalam novel di Bawah Lindungan Ka‟bah karya Hamka mengandung beberapa nilai sufistik.

22 Anggi Ulandari, “Nilai-Nilai Sufistik dalam Buku Succes Protocol Karya Ippho Santosa”

(Skripsi, UIN Raden Intan Lampung, 2017), 92-93.

(27)

Yaitu: Ikhtiar, dzikir, sabar dan zuhud. Dijelaskan juga bahwa tasawuf begitu relevan untuk menjawab keterasingan dan kekeringan spiritualitas manusia modern, sehingga bila ajaran tasawuf ini diimplementasikan dalam kehidupan, maka kehidupan ini akan jauh lebih indah dan lebih berwarna. Terlebih tasawuf modern.23

3. NILAI–NILAI SUFISTIK DALAM SYAIR–SYAIR HAMZAH FANSURI (ANALISIS TEMATIK KITAB ASRARUL „ARIFIN)

Disertasi ini disusun oleh Mardinal Tarigan sebagai persyaratan memperoleh gelar Doktor, program studi agama dan filsafat Islam, Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2016.

Penelitian ini membahas seputar analisis tematik, yaitu nilai–nilai sufistik dalam syair syair Hamzah Fansuri kitab Asrarul „Arifin dengan fokus kajian: 1. bagaimana menjelaskan sebab–sebab penciptaan melalui bait–bait syair, 2. Bagaimana menjelaskan munculnya yang banyak (aneka) dari Yang Satu, 3. Bagaimana hubungan ontologis antara Tuhan, manusia dan „alam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode jenis Library Research dengan pendekatan sejarah (historical appoarch), terutama yang berkaitan dengan biorafinya, latar belakang pemikirannya, ide–ide penting yang ditimbulkannya serta peranan dan pengaruhnya.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini: Pertama, nilai–nilai sufistik yang terkandung dalam syair–syair Hamzah Fansuri.

23 Nur Fitriani, “Nilai-Nilai Etika Sufistik dalam Novel di Bawah Lindungan Ka‟bah Karya Hamka” (Skripsi, UIN Raden Intan Lampung, 2018), 102-103.

(28)

Adalah (1) nilai tauhid, bahwa Keesaan Tuhan (tauhid) tidak bertentangan dengan gagasan tentang penampakan pengetahuan–Nya di

„alam fenomena („alam al–khalq). Tuhan sebagai Zat mutlak satu–satunya di dalam keesaan–Nya, dan karenanya Tuhan adalah transenden (tanzih).

(2) nilai Kemanusiaan; bahwa manusia adalah salah satu bagian yang paling mulia dari makrokosmos („alam besar). Kedua, Hamzah Fansuri menjelaskan sebab–sebab penciptaan, bahwa Tuhan mempunyai sifat senang “melihat Diri–Nya” (al-tara‟i), Ia menciptakan „alam (al–khalq) untuk dijadikan cermin (mir‟at), dengan tujuan melihat diri–Nya dan memperkenalkan diri–Nya melalui „alam. Ketiga, Tajalli sebagai

„kenyataan‟ dan penunjukan, maksudnya penampakan pengetahuan Tuhan melalui penciptaan „alam semesta dan isinya. Keempat, Tuhan (Allah) adalah pemilik wujud yang hakiki yang dipancarkan kepada „alam, ibarat matahari menerangi „alam secara kontinuitas. 24

Dengan memperhatikan penelitian diatas maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa penelitian yang akan dilakukan ini layak dan penting untuk dilaksanakan karena dari ketiga penelitian diatas masih menyisakan celah yang bisa diperdalam dan bahkan fokusnya sangat berbeda. Secara lebih ringkas perbedaan dan persamaan dengan penelitian yang dilakukan yaitu dapat dilihat pada tabel berikut:

24 Mardinal Tarigan, “Nilai-Nilai Sufistik dalam Syair-Syair Hamzah Fansuri (Analisis Tematik Kitab Asrarul „Arifin)” (Disertasi, UIN Sumatera Utara, 2016), 328-330.

(29)

Tabel 1.1 Penelitian terdahulu No Penulis dan Judul

Penelitian Persamaan Perbedaan

1 Anggi Ulandari, Nilai – Nilai Sufistik dalam Buku Success Protocol Karya Ippho Santosa

Fokus kajian salah satunya adalah membahas nilai – nilai sufistik.

Metodologi

penelitian dan Teknik pengumpulan Data adalah studi kepustakaan dan triangulasi sumber

Fokus kajian adalah nilai – nilai sufistik dan implementasi nilai sufistik

dalam kehidupan

masyarakat kontemporer.

Objek kajian „Buku Success Protocol Karya Ippho Santosa‟

2 Nur Fitriani, Nilai – Nilai Etika Sufistik dalam Novel di Bawah Lindungan Ka‟bah karya Hamka

Fokus kajian salah satunya adalah nilai – nilai sufistik.

Metodologi

penelitian library research

Fokus kajian adalah nilai – nilai sufistik dan implementasi nilai – nilai sufistik dalam novel dengan kehidupan masyarakat kontemporer.

Objek kajian „Novel di Bawah Lindungan Ka‟bah Karya Hamka‟

3 Mardinal Tarigan, Nilai – Nilai Sufistik dalam Syair – Syair Hamzah Fansuri (Analisis Tematik Kitab Asrarul

„Arifin)

Fokus kajian tentang nilai – nilai sufistik, metodologi

penelitian menggunakan library research.

Fokus kajian tentang nilai- nilai sufistik dirinci menjadi; Sebab – sebab penciptaan melalui bait – bait syair, munculnya yang banyak (aneka) dari Yang Satu, hubungan ontologis antara Tuhan, manusia dan

„alam.

Objek kajian „Syair – Syair Hamzah Fansuri dalam Kitab Asrarul

„Arifin‟

Ditinjau dari skripsi dan hasil penelitian diatas, maka sejauh ini penulis belum menemukan judul skripsi yang mengkaji tentang analisis nilai–nilai pendidikan sufistik dalam kitab Fathur Rabbani yang berjudul

“Pendidikan Sufistik dalam Kitab Fathur Rabbani Karya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.

(30)

B. Kajian Teori 1. Sufistik

a. Definisi Sufistik

Sebelum beralih membahas kata sufistik, ada baiknya membahas kata sufisme atau tasawuf terlebih dahulu agar kajian ini lebih mudah dipahami dengan alur berpikir yang runtut. Secara etimologi sufisme atau tasawuf berasal dari kata s}uf (ٌ ف ْوُص „bulu domba‟)25, s}aff (ٌ فَص „barisan‟), s}afa´ (ٌ ءاَفَص „jernih‟), dan s}uffah (ٌ تَّفُص serambi Masjid Nabawi yang ditempati oleh sebagian sahabat Rasulullah Saw.). dari segi kebahasaan, tasawuf menggambarkan keadaan yang selalu berorientasi kepada kesucian jiwa, mengutamakan panggilan Allah, berpola hidup sederhana, mengutamakan kebenaran, dan rela berkorban demi tujuan yang lebih mulia.26 Adapun menurut Syaikh Abdul Qadir al–Jailani r.a., “Tasawuf” diambil dari asal kata

‚s}afa‛ (bersih atau jernih), bukan dari kata lubsu as}–s}uf (memakai wol kasar).ٌ27 Sementara itu dalam Wikipedia dikatakan bahwa sufisme adalah tasawuf dalam bahasa Arab atau irfan dalam bahasa Parsi. Di dalam sufisme terdapat aspek esoterik mengenai komunikasi dan dialog langsung antara seorang Muslim dengan Allah. Nampak jelas dari pemahaman ini bahwa sufisme menjadi sesuatu yang khas Islam.28

25 ) فاَو ْصَاٌ ج(ٌ ُف ْوُّصلا Bulu domba (wool) ; ٌ اًيِفْوُصٌ َرَصٌٌ َفَّوَصَت Menjadi seorang sufi, menyerupainya. Lihat A.W. Munawwir, Kamus Arab-Indonesia (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), 804.

26 Amin, Ilmu Tasawuf, 1-5.

27 al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani: Kunci–Kunci Pembuka Rahasia Ilahi, 196.

28 Mursalim, Psikoterapi Sufistik, 18.

(31)

Sufistik berasal dari kata sufi.29 Dari kata sufi ini kemudian muncul kata sufisme (sufism). Istilah sufisme memiliki padanan kata dengan tasawuf.30 Tasawuf tidak bisa dipisahkan dari kerangka pengalaman agama, yang berorientasi kepada al–Quran dan as–

Sunnah.31

Kata Sufistik atau sufism (sufisme) biasa digunakan oleh para orientalis Barat. Kata sufisme dalam literatur Barat khusus dipakai untuk mistisisme Islam (Islamic mysticism) atau mistik yang tumbuh dalam Islam. Sedangkan tasawuf adalah nama yang diberikan untuk mistisisme dalam Islam.32

Sufisme atau tasawuf (the mystic of Islam) tidak dipakai untuk mistisisme dalam agama lain dan merupakan istilah yang khusus untuk menggambarkan mistisisme dalam Islam. Dengan demikian, jelas bahwa sufisme telah diakui memiliki sistematika keilmuan tersendiri.

29 Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani r.a. kata sufi diambil dari al-mashafah yang berarti seorang hamba yang dibersihkan oleh Allah, atau orang yang bersih dari penyakit hati dan sifat-sifat tercela, berakhlak mulia, konsisten terhadap hakikat, dan tidak bersandar kepada orang lain. Lihat al-Fath ar-Rabbani (manuskrip) dalam Mohamed Fadil al-Jailani al-Hasani, Biografi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani r.a. , terj. Ahmad Dzulfikar (Depok: Keira Publishing, 2016), 164.

30 Hakikat tasawuf menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani r.a. adalah, “tasawuf´ diambil dari asal kata “s}afa”(bersih, jernih), bukan dari kata lubsu as-s}uf (memakai wol kasar). Seorang sufi yang benar dalam bertasawuf memiliki hati yang bersih dari selain Allah Swt. Kesufian tidak datang dengan mengubah pakaian, memucatkan muka, mengumpulkan tulang belikat (menguruskan badan), berbicara tentang hikayat orang-orang saleh, dan menggerakkan jemari dengan tasbih dan tahlil. Sebaliknya, kesufian itu hadir dengan kejujuran dalam mencari Allah swt., berzuhud terhadap dunia, mengeluarkan makhluk dari hati, dan mengosongkan hati dari selain Allah swt. Lihat Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Kitab Fathur Rabbani Kunci-Kunci Pembuka Rahasia Ilahi, terj. Zainul Maarif (Jakarta: Turos Khazanah Pustaka Islam, 2018), 196.

31 Muhammad Rifa‟i Subhi,” Pendekatan Sufistik dalam Pendidikan Islam (Telaah Pemikiran Hamka)”, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pemalang; Edukasia Islamika, Vol.1, No.1, (Desember 2016), 66.

32 Amin, Ilmu Tasawuf, 1.

(32)

Sebagai suatu sistem mistik yang sejati, sufisme memiliki jiwa kosmopolitan (secara cultural–accumulative) sesuai dengan dogma umum, the true mystic is a cosmopolitan.

Kata sufistik lebih berkonotasi sifat (adjective) dimana sifat ini khas dimiliki oleh para sufi yang selalu menjaga hidupnya dengan baik dari segala sesuatu yang menodai jiwa dan batinnya. Sifat mulia ini pada akhirnya melahirkan perilaku arif terhadap alam semesta, manusia, dan Tuhannya. Ketenangan ruhani dan kedalaman spiritual adalah salah satu ciri sifat yang dimiliki oleh para sufi sepanjang sejarah kemanusiaan. Kata sufi maupun sufisme selalu merujuk kepada sesuatu yang bersifat mistis dan ia merupakan dimensi esoteris Islam.

Kata ini diartikan sebagai dimensi terdalam (batiniah) yang darinya kekuatan Islam sebagai agama mengalir.33

Terkait dengan ta´rif atau pengertian tasawuf tersebut, seorang sufi modern, K.H. Achmad Siddiq (selanjutnya disebut Kyai Achmad) berpendapat, “tasawuf adalah pengetahuan tentang semua bentuk tingkah laku jiwa manusia, baaik yang terpuji maupun tercela, kemudian bagaimana membersihkannya dari yang tercela itu dan menghiasinya dengan yang terpuji, bagaimana menempuh jalan kepada Allah dan berlari secepatnya menuju kepada Allah.” 34

Dari pengertian di atas, Kyai Ahmad memandang bahwa tasawuf secara substansial mengandung dua ajaran penting.

33 Mursalim, Psikoterapi Sufistik, 18.

34 Syamsun Ni‟am, Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf (Yogyakarta: Ar–Ruzz Media, 2014), 31.

(33)

Pertama, tasawuf mengajarkan tentang bagaimana pembersihan jiwa dari sifat–sifat yang tercela atau merusak (at–takhalli ´an al–muhlikat) dan mengisi atau menghiasinya dengan sifat–sifat terpuji (at–tah~alli bi al–munjiyat) sehingga menimbulkan pengaruh–pengaruh positif pada jiwanya. Kedua, tasawuf mengajarkan tentang bagaimana cara/ jalan yang ditempuh untuk bisa menjadikan jiwa tersebut bisa sampai kepada Allah secepat mungkin (al–wus}ul ila Allah). Dengan kata lain, tasawuf sebenarnya tidak hanya mengajarkan tentang materi tasawuf, tapi juga membicarakan mengenai metode atau cara penempuhannya.

Dengan demikian, pengertian tasawuf yang dikemukakan Kyai Achmad di atas, secara substansial sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pengertian tasawuf yang pernah diajukan para pemikir maupun praktisi sufi sebelumnya.35

Mengenai karakter seorang Sufi, Syaikh Abdul Qadir al–Jailani menjelaskan, Seorang sufi yang benar dalam bertasawuf memiliki hati yang bersih dari selain Allah Swt. Kesufian tidak datang dengan mengubah pakaian, memucatkan muka, mengumpulkan tulang belikat (menguruskan badan), berbicara tentang hikayat orang-orang saleh, dan menggerakkan jemari dengan tasbih dan tahlil. Sebaliknya, kesufian itu hadir dengan kejujuran dalam mencari Allah Swt., berzuhud terhadap dunia, mengeluarkan makhluk dari hati,

35 Ni‟am, Tasawuf Studies : Pengantar Belajar Tasawuf, 31.

(34)

dan mengosongkan hati dari selain Allah swt.36 Gelar sufi diberikan kepada mereka, yaitu orang–orang Sufi karena hati dan jiwa mereka suci bersih dan disinari dengan cahaya hikmah, tauhid dan „kesatuan‟

dengan Allah.37

Ajaran pokok dari kaum sufi (ahli tasawuf) adalah bahwa manusia dekat dengan Tuhan dan harus berusaha untuk dekat.

Selanjutnya para ahli tasawuf lebih banyak memberikan petunjuk–

petunjuk pelaksanan pendidikan secara praktis. Ilmu yang benar adalah ilmu yang diperoleh melalui pengalaman inderawi dan batini. Hal ini menunjukkan pentingnya metode empiris eksperimental dalam pendidikan dan pengajaran. Untuk sampai pada makrifat harus melalui tingkatan–tingkatan yang disebut tarikat, dan pada setiap tingkatan harus melalui riyadah atau latihan–latihan.38

Maksud yang terdalam dari tasawuf (sufistik) adalah membersihkan hati (tashfiyatul qulub), karena itu bisa berganti dari pakaian yang penuh gebyar kemewahan menjadi pakaian kesederhanaan (tawadu‟), penuh dengan rasa keilahian. Akhirnya tasawuf atau sufistik, sebagaimana diungkapkan oleh al–Qusyairi, sebagaimana ini dikutip oleh Muhammad Sholikhin, yang mengartikan tasawuf atau sufistik sebagai kemurnian, yaitu orientasi hanya kepada

36al–Jailani, Kitab Fathur Rabbani: Kunci–Kunci Pembuka Rahasia Ilahi, 196.

37 al–Jailani, Rahasia Sufi, 77.

38 Zuhairini. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015), 141.

(35)

Tuhan, dia tidak merosot kepada derajat umat manusia pada umumnya, hingga kejadian–kejadian dunia tidaklah mempengaruhinya.39

Dasar utama tasawuf adalah kepercayaan. Kepercayaan Islam (Iman) mempunyai enam tiang penyangga; Tuhan Ada; Tuhan menurunkan Kitab–Kitab Suci; Ada Malaikat–Malaikat; Ada Nabi–

Nabi; Ada Hri Kebangkitan kita; Ada Takdir. Hal–hal itu terekam dalam pikiran dan dihayati dalam hati. Memahami pernyataan–

pernyataan di atas dalam hati.40

Adapun pemahaman tasawuf menurut Syaikh Abdul Qadir al–

Jailani, beliau berkata, “Tasawuf itu yakin terhadap al–H~aq dan berbuat baik kepada makhluk.”

Beliau juga mendefinisikan tasawuf sebagai berikut:

Ilmu tasawuf adalah takwa kepada Allah dan menaati–Nya, konsisten terhadap hukum syariat lahiriyah, lapang dada, membersihkan hati, periang, saling menolong, tidak menyakiti, kuat menahan celaan dan caci maki, menghormati guru, berbuat baik kepada saudara – saudara, menasehati yang kecil dan besar, meninggalkan perdebatan, berlemah lembut, konsisten, tidak saling mendahului, tidak menimbun harta, meninggalkan pergaulan yang tidak benar, saling membantu mengenai urusan agama dan dunia.”

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa tasawuf menurut pengertian Syaikh Abdul Qadir al–Jailani adalah sistem yang mengatur hubungan hamba dan Tuhannya dengan penuh keyakinan dalam beribadah.

39 Muhammad Sholikin, Tasawuf Aktual (Semarang: Pustaka Nuun, 2004), 6.

40 Idries Shah, The Way of The Sufi, terj. Kasidjo Djojosuwarno (Bandung: Dunia Pustaka Jaya, 2001), 344.

(36)

Tasawuf merupakan sistem yang mengatur hubungan antara seorang hamba dan seluruh makhluk Allah denganmuamalah yang baik dan akhlak mulia.41

b. Tujuan Sufistik

Tujuan sufistik sebagaimana dijelaskan oleh Ni‟am, bahwa tujuan sufistik adalah untuk mengenal Allah dengan sebenar–benarnya sehingga dapat tersingkap tabir atau hijab (kasyf) antara seorang hamba dengan Tuhan, sehingga menjadi jelas rahasia ketuhanan baginya. Dengan jalan tasawuf, seseorang dapat mengenal Tuhan dengan merasakan adanya, tidak sekedar mengetahui bahwa Tuhan Itu ada. Oleh karena itu, tasawuf mensyaratkan ketaatan yang sempurna dari kewajiban agama sebagai pola hidup dan menolak hasrat–hasrat hewani.42

Tujuan sufistik adalah menyucikan jiwa, hati dan menggunakan perasaan, pikiran, dan semua fakultas yang dimiliki sang salik (pelaku tasawuf) untuk tetap berada pada jalan Sang kekasih, Tuhan Semesta Alam, untuk hidup berlandaskan ruhani. Tasawuf juga memungkinkan seseorang melalui amalan–amalan yang istiqamah (konsisten &

kontinu) dalam pengabdiannya kepada Tuhan.43

Menurut A. Rivay Siregar, secara umum tujuan terpenting dari sufi adalah berada sedekat mungkin dengan Allah.

41 al–Hasani, Biografi Syaikh Abdul Qadir Al–Jailani r.a. , 164.

42 Ni‟am, Tasawuf Studies, 79.

43 Ni‟am, 79.

(37)

Apabila memperhatikan karakteristik tasawuf secara umum terlihat adanya tiga sasaran “antara” dari tasawuf, yaitu sebagai berikut:

Pertama, tasawuf yang bertujuan pembinaan aspek moral.

Aspek ini meliputi mewujudkan kestabilan jiwa yang berkesinambungan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia konsisten kepada keluhuran moral. Tasawuf yang bertujuan moralitas ini pada umumnya bersifat praktis. Kedua, tasawuf yang bertujuan makrifatullah melalui penyingkapan langsung atau metode kasy al–hijab. Tasawuf jenis ini sudah bersifat teoretis dengan seperangkat ketentuan khusus yang diformulasikan secara sistematis–

analitis. Ketiga, tasawuf yang bertujuan membahas bagaimana sistem pengenalan dan pendekatan diri kepada Allah secara mistisfilosofis.

Pengkajian garis hubungan antara Tuhan dengan makhluk–terutama hubungan manusia dengan Tuhan dan apa arti dekat dengan–Nya.

Mengenai makna dekat dengan Tuhan, terdapat tiga simbol, yaitu (a) dekat dalam arti melihat dan merasakan kehadiran Tuhan dalam hati;

(b) dekat dalam arti berjumpa dengan Tuhan sehingga terjadi dialog antara manusia dan Dia; (c) makna dekat dalam arti penyatuan manusia dengan Tuhan sehingga yang terjadi adalah monolog antara manusia yang telah menyatu dalam iradat–Nya.44

Dari uraian singkat tentang tujuan sufistik ini terlihat adanya keragaman tujuan itu. Dapat dirumuskan bahwa tujuan akhir dari

44 Amin, Ilmu Tasawuf, 58-59.

(38)

sufistik adalah etika murni atas psikologi murni dan atau keduanya secara bersamaan, yaitu (a) penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak mutlak Tuhan, karena Dialah penggerak utama dari semua kejadian di alam ini; dan (b) penanggalan secara total semua keinginan pribadi dan melepas diri dari sifat–sifat buruk yang berkenaan dengan kehidupan duniawi yang diistilahkan sebagai fana’ al-ma´as}i dan baqa´

at}-t}a´ah serta pemusatan diri pada perenungan terhadap Tuhan semata, tiada yang dicari kecuali Dia–Ilahi anta maqs}udi wa rid}aka mat}lubi.45 c. Dasar–Dasar Sufistik dalam al-Quran

Terdapat dasar–dasar naqli dari tasawuf. Landasan naqli adalah landasan al–Quran dan hadis. Hal ini penting karena dua landasan itu merupakan kerangka acuan pokok yang selalu dijadikan pegangan oleh umat Islam.

Pada awal pembentukannya tasawuf adalah akhlak, sedangkan moral keagamaan ini banyak diatur dalam al-Quran dan sunnah.

Sumber pertama adalah ajaran–ajaran Islam, sebab tasawuf ditimba dari al-Quran, sunnah, dan amalan serta ucapan para sahabat.

Amalan serta ucapan para sahabat itu tentu saja tidak keluar dari ruang lingkup al-Quran dan sunnah. Oleh karena itu, dua sumber utama tasawuf adalah al–Quran dan sunnah.46

Ajaran Islam secara umum mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pemahaman terhadap unsur kehidupan yang

45 Amin, Ilmu Tasawuf, 59.

46 Amin, Ilmu Tasawuf, 15.

(39)

bersifat batiniah pada gilirannya melahirkan tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, al–Quran dan sunnah, serta praktik kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya. al–Quran antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dapat saling meencintai dengan Tuhannya.47

Landasan sufistik yang terdapat di dalam al–Quran:





























































































48

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia.

sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." 49

47 Amin, 16.

48 Al-Quran, 66:8

49 Depag RI, al-Quran dan Terjemahnya, 1149.

(40)

Allah Swt. berfirman:













































































50

Artinya : Hai orang–orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai–Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Itulah karunia Allah, diberikan–Nya kepada siapa yang dikehendaki–Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian–Nya), lagi Maha Mengetahui.51

Allah Swt. berfirman:



























52 Artinya : Dan kepunyaan Allah–lah timur dan barat, maka kemanapun

kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat–Nya) lagi Maha Mengetahui.53 Allah Swt. berfirman:





































54

50 Al-Quran, 5:54

51 Depag RI, al-Quran dan Terjemahnya, 218.

52 Al-Quran, 2:115

53 Depag RI, al-Quran dan Terjemahnya, 35.

(41)

Artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.55

Allah Swt. berfirman:































56

Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.57

Allah Swt. berfirman:































58

Artinya : Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.59

Itulah kajian mengenai dasar–dasar sufistik yang tertera di dalam al–Quran.

54 Al-Quran, 2:186

55 Depag RI, al-Quran dan Terjemahnya, 55.

56 Al-Quran, 50:16

57 Depag RI, al-Quran dan Terjemahnya, 1046.

58 Al-Quran, 35:5

59 Depag RI, al-Quran dan Terjemahnya 861.

Referensi

Dokumen terkait

Segala puji dan syukur kupanjatkan selalu kehadirat Allah ‘ Azza wa Jalla , atas berkat, rahmat dan karunia -Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Kelahiran karya ini tidak

Skripsi yang berjudul “TASAWUF AMALI SYEKH ABDUL QADIR AL- JAILANI (Studi Kritis Tentang Ibadah Dalam Kitab Sirr Al-Asrar)”, ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat

Dari pembahasan yang telah penulis paparkan tersebut, yaitu tentang beberapa etika bagi guru dan murid dalam kitab Al- Fatḥu Al- Rabbāniy dapat diambil kesimpulan Syekh

Relevansi antara konsep pendidikan spiritual Syaikh Abdul Qadir Al Jaiani terhadap konsep pendidikan Islam di Indonesia dapat ditemukan bahwa konsep tauhid pada

Syukur dengan Perbuatan; Syukur dengan perbuatan memiliki makna bahawa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan pada jalan yang diridlai Allah Azza

Yaitu kepercayaan yang pasti bahwasanya Allah subhanahu wata’ala memiliki kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasul-Nya untuk disampaikan kepada para hamba-Nya,

Kemudian, semua unsur Hakikat Muhammad itu diturunkan oleh Allah melalui empat lapis alam lahut, jabarut, malakut, dan mulki, di mana misi penurunan ini adalah dalam rangka agar seluruh

heart, and freeing himself from other than Allah `Azza wa Jalla.42 In addition to reforming the meaning of zuhd towards its true meaning as explained above,43 Shaykh al-Jilani also