• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadaan klien sebelum di lembaga

Dalam dokumen ISI Laporan (Halaman 64-96)

Sebelum berada di YPAC Malang , Klien di titipkan di taman kanak-kanak yang berada di gresik, saat berada di TK klien tidak mampu mengikuti kegiatan yang berada di TK dan sering diejek oleh temannya, karena keterbatasan fisiknya.

Ayah anak asuh yang bekerja sebagai koki di surabaya, mengetahui info asrama dan sekaligus sekolah yang di sarankan oleh teman kerjanya yang berasal dari malang, Ayah klien setelah membicarakan dengan ibu klien, akhirnya sepakat untuk

menitipkan anaknya di YPAC malang dengan tujuan anak dapat mengembangkan potensi diri dengan keterbatasan fisiknya dan meningkatkan kepercayaan diri klien.

G. Keadaan klien DS setelah di YPAC

Praktikan melakukan bantuan terhadap klien selama 24 jam/hari, dalam 6 kali pertemuan dalam satu minggu. Bantuan yang di lakukan oleh praktikan adalah membantu klien dalam menulis, membaca, dan berhitung dengan baik dan benar, memotivasi klien yang di harapkan lebih mandiri, dan mengasah potensi yang ada dalam diri klien. Dengan mengharapkan tujuan perubahan yang berada pada diri klien , praktikan menjalin hubungan baik dari pihak pengasuh asrama, guru, supervesior, pihak fisioterapi medis dan terapi OT, dan teman-temannya.

4.2 Intervensi

A. Rencana Intervensi

No. Nama Kegiatan Tujuan Sasaran Waktu

1. Menjalin relasi dengan Klien Bertujuan untuk menciptakan keakraban dengan klien, guna mempermudah saat proses assesment. Klien 1bulan 2. Bersosial dengan lingkungan luar. Bertujuan untuk melatih interaksi anak dengan Masyarakat sekitar. Klien dan Masyarakat sekitar. 1 Minggu 1x 3. Pemberian Pengawasan dan Bertujuan untuk pendampingan dan Klien Kondisiona l

klien. 4. Pemberian

tanggung jawab

Bertujuan untuk melatih tanggung jawab klien agar bisa menempatkan diri. Klien Kondisonal 5. Melakukan Case Conference Bertujuan untuk menciptakan solusi dari permasalahan yang telah dihadapi klien dan sebagai bahan diskusi. Klien, Guru, Pengasuh dan Terapis. 1 Minggu 1x B. Program Intervensi Program Intervensi Praktikan 1

a. Menjalin Relasi

Tahap menjalin relasi dengan klien, praktikan gunakan untuk menciptakan keakraban dengan klien sehingga mempermudah untuk mengetahui perilaku klien dan juga mempermudah dalam proses penyelesaian. Gambar 4.1 : Praktikan melakukan kontak awal dengan klien.

Dalam foto tersebut praktikan melakukan kontak awal dengan klien ketika klien sudah selesai belajar untuk menyelesaikan tugas sekolah. Praktikan membantu klien ketika mengerjakan tugasnya. Praktikan juga melakukan wawancara dengan klien terkait kegiatan klien selama berada di asrama. Praktikan menumbuhkan suasana yang nyaman dengan klien agar dapat memperoleh data klien seperti respon klien ketika berbicara dengan

praktikan, kegiatan yang sering dilakukan oleh klien dan data diri klien (yang dapat klien ungkapkan/klien mengerti). Saat pertama kali kontak dengan klien, klien menumbuhkan sikap kepercayaannya pada praktikan dengan bercerita

terkait

keluarganya.

Gambar 4.2 : Praktikan melakukan pendampingan di Sekolah

Dalam gambar tersebut praktikan melakukan pendampingan dengan klien ketika di sekolah dan juga praktikan melakukan wawancara dengan klien terkait kegiatan yang dilakukan atau yang disenangi oleh klien ketika belajar di kelas.

Gambar 4.3 : Praktikan melakukan olah raga bersama anak asuh.

Dalam gambar tersebut praktikan melakukan olahraga bersama dengan klien dan anak asuh lainnya. Dalam kegiatan tersebut praktikan melakukan pendekatan dengan klien dengan cara melakukan kegiatan bersama agar praktikan dapat menjalin relasi lebih dekat dengan klien, dan klien bisa merasa nyaman dengan keberadaan praktikan. Sehingga klien dapat menceritakan kegiatan sehari-harinya dan praktikan lebih mudah untuk memperoleh data dari klien.

b. Rekreasi atau Jalan-jalan

Dalam tahap ini praktikan mengajak klien keluar dari lingkungan lembaga, kegiatan ini dlakukan agar klien bisa melatih dirinya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan juga dapat berinteraksi lebih luas. Klien juga tidak terfokus pada asrama dan sekolah.

Gambar

4.4 : Praktikan

melakukan jalan santai bersama anak asuh.

Gambar tersebut praktikan mengajak jalan-jalan anak asuh asrama, klien dan murid-murid SMPLB-SMALB YPAC, kegiatan tersebut dilakukan oleh praktikan supaya klien dapat berinteraksi dengan lingkungan luar yayasan. Dan klien dapat menjalin relasi dengan masyarakat sekitar.

c. Pemberian Pengawasan dan Peneguran

Ketika di dalam lingkungan sekolah maupun di lingkungan asrama klien harus mendapat pengawasan dari guru, pengasuh maupun praktikan. Klien masih membutuhkan pendampingan kusus, masih menunggu perintah untuk melakukan bantu diri.

Dalam tahap ini, pratikan memberikan tanggung jawab pada klien agar bisa menempatkan dirinya di lingkungan yayasan maupun lingkungan luar yayasan agar bisa mengontrol dirinya sendiri. Akan tetapi klien masih memerlukan pendampingan dari praktikan.

Gambar 4.5 : Gambar saat kegiatan Pramuka, anak asuh dilantih untuk membuat tape. Dalam gambar tersebut klien tertupi dengan anak asuh lainnya dan juga Guru, adapun kegiatan tersebut klien hanya diam dan melihat. Tidak ikut ambil andil.

e. Case Conference I

Case Conference I dilakukan guna mendapatkan solusi dari hasil accesment yang sudah dilakukan, untuk menciptakan ide dan gagasan dalam proyeksi berikutnya. Kegiatan ini dilakukan dalam satu kelompok, selama 1x dalam 1 minggu dan saat praktikum berlangsung dilaksanakan 4x pertemuan. Saat proses Case Conference dilaksanakan dengan supervisior, pengasuh asrama , guru dan juga melibatkan tenaga medis seperti Fisioterapi.

Gambar 4.6 : Gambar saat Case Conference I dengan Guru dan pengasuh.

Pembahasan terkait perilaku anak asuh di Sekolah maupun di Asrama. Dilakukan dengan Guru dan pengasuh guna menggali informasi terkait klien.

Metode dan Teknik

a. Metode Case Work

Metode ini digunakan untuk menangani permasalahan klien secara individu yang menjadi sasaran langsung adalah klien secara bertatap muka dengan teknik :

1) Small Talk

Menciptakan suasana yang nyaman untuk menjalin relasi agar klien tidak menunjukkan perilakunya yang agresif pada orang laki-laki. 2) Advice Giving and Counselling

Pemberian nasehat, pelatihan dan pendapat kepada klien ketika klien mulai bosan dan tidak terarah, Karena klien disini tingkat konsentrasinya rendah. Pada saat pelatihan klien mengambil metode pembelajaran dan pelatihan menulis untuk melatih motorik halus klien. 3) Reward and Punishment

Pemberian pujian kepada klien ketika tidak menunjukkan perilakunya apabila berada di dalam maupun di lingkungan luar yayasan dan apabila ada tamu dari luar yayasan memberikan support untuk kliean agar mampu beradaptasi dan berinteraksi. Mendorong klien untuk ikut serta dalam acara, contohnya : Menyanyi didepan audience.

Sistem Dasar Praktik

System dasar praktik yang dilakukan pada proses pertolongan terhadap klien adalah :

a. System Klien

Yaitu “Vn” yang merupakan anak asuh di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Cabang Malang.

b. System Sasaran

1) Klien “Vn” yang mempunyai permasalahan 2) Teman – teman klien

3) Guru sekolah dan pengasuh asrama supaya memberikan pengawasan dan teguran ketika klien menunjukkan Ketidak konsentrasiannya, dan Malas. c. System Pelaksanaan Perubahan

1) Praktikan

2) Pengasuh asrama 3) Guru sekolah

Pelaksanaan Penanganan

a. Pembentukan relasi interpersonal

b. Penumbuhan kesadaran akan adanya masalah

c. Pemberian pengawasan dan peneguran terhadap perilaku klien

Evaluasi

Evaluasi bertujuan untuk menilai apakah pelaksanaan intervensi sesuai dengan program yang direncanakan, untuk mengetahui apakah hasil yang diperoleh telah susuai dengan tujuan yang ditetapkan, serta untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dan hasil program yang telah dibuat, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan bagi pelaksana program selanjutnya, ada dua aspek yang dievaluasi yaitu :

a. Evaluasi Terhadap Proses Intervensi

Evaluasi terhadap proses intervensi dilakukan berdasarkan rencana intervensi yang telah dibuat, yaitu dengan melihat waktu yang digunakan untuk pelaksanaan intervensi, program yang dibuat, serta metode dan teknik yang digunakan.

1. Waktu yang digunakan untuk melakukan intervensi sangat singkat sehingga belum bisa menunjukkan hasil yang maksimal, karena pada dasarnya perubahan perilaku yang diharapkan terjadi tersebut membutuhkan jangka waktu yang cukup lama dan secara terus menerus. 2. Program yang dibutuhkan

Tahapan proses intevensi yang telah direncanakan telah dapat dilaksanakan oleh praktikan.

Metode dan teknik yang digunakan pada dasarnya sudah tepat, namun dalam pelaksanaanya memerlukan pengulangan terus menerus sehingga dapat menunjukkan hasil yang di inginkan.

b. Evaluasi Terhadap Hasil Intervensi

Berdasarkan hasil intervensi yang dilakukan oleh praktikan terhadap perilaku klien, klien sudah merespon nasehat dari praktikan dengan mengiyakan apa yang dikatakan oleh praktikan, dan klien sudah mulai ada perkembangan dalam semangat belajar.

Namun ini belum dapat dijadika patokan berasilnya interfensi karena perilaku wajar pada klien akan berubah tidak merespon jika perintah yang diberikan tidak diulang-ulang. Keadaan ini disebabkan Karena pengaruh saraf otak cerebral palsy, motoric halus dan gangguan fungsi sensorisnya.

Kemajuan lain yang ditunjukkan klien adalah ketika klien di kasih soal untuk melatih motoric halusnya klien mau mengerjakan meskipun masih kurang rapi.

Peran-peran praktikan yang diterapkan selama melaksanakan proses pelayanan yaitu :

1. Edukator

Praktikan mendampingi kegiatan belajar di sekolah maupun di asrama dan mengajari klien mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru kelasnya. 2. Motivator

Praktikan memberian motivasi dengan cara menasehati klien disaat klien mendapatkan teguran Karena perilakunya.

Terminasi

Terminasi merupakan pengakhiran proses pertolongan sesuai dengan kontrak yang telah dibuat. Terminasi tidak hanya pengakhiran dari seluru kegiatan, akan tetapi merupakan bagian integral dari seluruh proses yang telah dilaksanakan oleh praktikan. Terminasi bertujuan untuk menghindari dampak ketergantungan klien kepada praktikan. Terminasi juga bertujuan untuk memberikan kesempatan

kepada yayasan yang terkait untuk mempertimbangkan rekomendasi dari praktikan tentang kesinambungan penanganan kepada klien.

Terminasi yang dilakukan praktikan dilakukan dengan klien dan pengasuh asrama pada tanggal 11 Februari 2017. Praktikan memberikan penjelasan kepada klien bahwasanya praktikan tidak lagi mendampingi klien ketika berada di sekolah maupun asrama dan juga praktikan mengakhiri proses bantuan penyelesaian masalah yang dimiliki oleh klien.

Program Intervensi Praktikan 2 a. Program Intervensi

1. Menjalin Relasi

Tahap menjalin relasi dengan klien, praktikan gunakan untuk menciptakan keakraban dengan klien sehingga mempermudah untuk

mengetahui perilaku klien dan juga mempermudah dalam proses penyelesai Gambar 4.7 : Praktikan kontak awal dengan klien.

Dalam foto tersebut praktikan melakukan kontak awal dengan klien ketika klien sedang belajar untuk menyelesaikan tugas sekolah. Praktikan juga membantu klien ketika mengerjakan tugasnya. Praktikan juga melakukan wawancara dengan klien terkait kegiatan klien selama berada di asrama. Praktikan menumbuhkan suasana yang nyaman dengan klien agar dapat memperoleh data klien seperti respon klien ketika berbicara dengan praktikan, kegiatan yang sering dilakukan oleh klien dan data diri klien (yang dapat klien ungkapkan/klien mengerti).

Gambar 4.8 : Praktikan melakukan pendampingan di Sekolah.

Dalam gambar tersebut praktikan melakukan pendampingan dengan klien ketika di sekolah dan juga praktikan melakukan wawancara dengan klien terkait kegiatan yang dilakukan atau yang disenangi oleh klien ketika belajar di kelas.

Gambar 4.9 : Praktikan melakukan senam pagi bersama klien

Dalam gambar tersebut praktikan melakukan olahraga bersama dengan klien dan anak asuh lainnya. Dalam kegiatan tersebut praktikan melakukan pendekatan dengan klien dengan cara melakukan kegiatan bersama agar praktikan dapat menjalin relasi lebih dekat dengan klien, dan klien bisa merasa nyaman dengan keberadaan praktikan. Sehingga klien dapat menceritakan kegiatan sehari-harinya dan praktikan lebih mudah untuk memperoleh data dari klien.

2. Rekreasi atau Jalan-jalan

Dalam tahap ini praktikan mengajak klien keluar dari lingkungan lembaga, kegiatan ini digunakan agar klien bisa melatih dirinya agar dapat mengontrol perilakunya yang agrasif pada laki-laki pada saat di lingkungan luar dan berlatih mengembangkan kemampuanya dalam berkomunikasi dengan orang yang baru dikenalnya.

Gambar 4.10 :Praktikan melakukan jalan santai bersama anak asuh.

Dalam gambar tersebut praktikan mengajak jalan-jalan anak asuh asrama, klien dan murid-murid SMALB YPAC, kegiatan tersebut dilakukan oleh praktikan supaya klien dapat berinteraksi dengan lingkungan luar yayasan. Dan klien dapat menjalin relasi dengan masyarakat sekitar.

3. Pemberian Pengawasan dan Peneguran

Ketika di dalam lingkungan sekolah maupun di lingkungan asrama klien harus mendapat pengawasan dari guru, pengasuh maupun praktikan agar tidak terlalu dekat dengan orang laki-laki. Apabila klien mulai mendekati

pengasuh maupun praktikan. Dan juga klien mempunyai pembatasan tempat duduk ketika berada di dalam kelas maupun asrama dan di jauhkan dari orang laki-laki.

4. Pemberian Tanggung jawab

Dalam tahap ini, pratikan memberikan tanggung jawab pada klien agar bisa menempatkan dirinya di lingkungan yayasan maupun lingkungan luar yayasan agar bisa mengontrol dirinya sendiri. Akan tetapi klien masih memerlukan pendampingan dari praktikan.

Gambar 4.11 : klien melakukan kegiatan pramuka dengan tujuan untuk melatih tanggung jawab.

Dalam gambar tersebut klien (memakai seragam pramuka) diberikan suatu tugas yang dimana harus dia selesaikan. Dalan gambar tersebut klien sedang melakukan kegiatan di sekolah yaitu mengikuti kegiatan keterampilan membuat tape, yang dimana klien mendapat tugas mengaluskan ragi yang akan ditaburkan pada singkong. Pemberian tugas tersebut akan menumbuhkan rasa tanggungjawab yang harus klien selesaikan oleh klien. Sehingga klien dapat berpartisipasi dan bekerja sama dengan teman-temannya, dank lien dapat menkondisikan dirinya dengan kelompok yang ada.

Case Conference I

Case Conference I dilakukan guna mendapatkan solusi dari hasil accesment yang sudah dilakukan, untuk menciptakan ide dan gagasan dalam proyeksi berikutnya. Kegiatan ini dilakukan dalam satu kelompok, selama 1x dalam 1 minggu dan saat praktikum berlangsung dilaksanakan 4x pertemuan.

Saat proses Case Conference dilaksanakan dengan supervisior, pengasuh asrama , guru dan juga melibatkan tenaga medis seperti Fisioterapi.

Gambar 4.6 : Gambar saat Case Conference I dengan Guru dan pengasuh.

Pembahasan terkait perilaku anak asuh di Sekolah maupun di Asrama. Dilakukan dengan Guru dan pengasuh guna menggali informasi terkait klien.

Metode dan Teknik 1.Metode Case Work

Metode ini digunakan untuk menangani permasalahan klien secara individu yang menjadi sasaran langsung adalah klien secara bertatap muka dengan teknik:

a. Small Talk

Menciptakan suasana yang nyaman untuk menjalin relasi agar klien tidak menunjukkan perilakunya yang agresif pada orang laki-laki. b. Advice Giving and Counselling

Pemberian nasehat dan pendapat kepada klien ketika klien mulai mendekatkan dirinya dengan orang laki-laki dan ketika klien ketahuan telah mendekatkan dirinya dengan orang laki-laki atau telah mencium teman laki-lakinya. Pemberian nasehat ini bertujuan untuk agar klien mengetahui bahwa perilakunnya tersebut salah dan tidak boleh dilakukan karena akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Dan suapaya klien mengerti bahwa perilakunya tersebut adalah suatu permasalahan dan memerlukan suatu penyelesaian akan pentingnya perubahan yang diharpkan.

c. Reward and Punishment

Pemberian pujian kepada klien ketika tidak menunjukkan perilakunya apabila berada di dalam maupun di lingkungan luar yayasan dan apabila ada tamu dari luar yayasan yang ada orang laki-lakinya. Apabila klien menunjukkan perilakunya pada saat di dalam atau luar yayasan dan ketika ada tamu dari luar yayasan, maka klien akan mendapat hukuman seperti tidak boleh keluar dari kamar tidur, tidak boleh mengikuti kegiatan yang ada, dan dalam mengikuti kegiatan yang ada klien akan selalu mendapat pendampingan dari pengasuh atau praktikan.

Sistem Dasar Praktik

System dasar praktik yang dilakukan pada proses pertolongan terhadap klien adalah :

a. Sistem Klien

Yaitu “LM” yang merupakan anak asuh di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Cabang Malang.

b. Sistem Sasaran

1) Klien “LM” yang mempunyai permasalahan

2) Teman-teman klien supaya bisa menegur klien ketika mendekati orang laki-laki.

3) Guru sekolah dan pengasuh asrama supaya memberikan pengawasan dan teguran ketika klien menunjukkan perilaku agresifnya pada laki-laki. Sistem Pelaksanaan Perubahan

a. Praktikan

b. Pengasuh asrama c. Guru sekolah Pelaksanaan Penanganan

a. Pembentukan relasi interpersonal

b. Penumbuhan kesadaran akan adanya masalah

c. Pemberian pengawasan dan peneguran terhadap perilaku klien Evaluasi

Evaluasi bertujuan untuk menilai apakah pelaksanaan intervensi sesuai dengan program yang direncanakan, untuk mengetahui apakah hasil yang diperoleh telah

susuai dengan tujuan yang ditetapkan, serta untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dan hasil program yang telah dibuat, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan bagi pelaksana program selanjutnya, ada dua aspek yang dievaluasi yaitu :

a. Evaluasi Terhadap Proses Intervensi

Evaluasi terhadap proses intervensi dilakukan berdasarkan rencana intervensi yang telah dibuat, yaitu dengan melihat waktu yang digunakan untuk pelaksanaan intervensi, program yang dibuat, serta metode dan teknik yang digunakan.

1) Waktu yang digunakan untuk melakukan intervensi sangat singkat sehingga belum bisa menunjukkan hasil yang maksimal, karena pada dasarnya perubahan perilaku yang diharapkan terjadi tersebut membutuhkan jangka waktu yang cukup lama dan secara terus menerus. 2) Program yang dibutuhkan

Tahapan proses intevensi yang telah direncanakan telah dapat dilaksanakan oleh praktikan.

3) Metode dan teknik yang digunakan

Metode dan teknik yang digunakan pada dasarnya sudah tepat, namun dalam pelaksanaanya memerlukan pengulangan terus menerus sehingga dapat menunjukkan hasil yang di inginkan.

b. Evaluasi Terhadap Hasil Intervensi

Berdasarkan hasil intervensi yang dilakukan oleh praktikan terhadap perilaku klien, klien sudah merespon nasehat dari praktikan dengan mengiyakan apa yang dikatakan oleh praktikan, dan tanpa melalui perintah dari praktikan jika klien duduk di dekat orang laki-laki maka klien akan segera bergeser atau pindah tempat jika praktikan melihatnya.

Namun ini belum dapat dijadika patokan berasilnya interfensi karena perilaku wajar pada klien akan berubah tidak merespon jika perintah yang diberikan tidak diulang-ulang. Keadaan ini disebabkan karena kondisi emosi

Kemajuan lain yang ditunjukkan klien adalah ketika klien emosinya meningkat ketika dimarahi, klien sudah tidak lagi menggigit atau memukuli kepalanya tetapi melampiaskan dengan meremas-remas jari tangannya.

Peran-peran praktikan yang diterapkan selama melaksanakan proses pelayanan yaitu :

1) Edukator

Praktikan mendampingi kegiatan belajar di sekolah maupun di asrama dan mengajari klien mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru kelasnya. 2) Motivator

Praktikan memberian motivasi dengan cara menasehati klien disaat menunjukkan perilakunya yang selalu ingin mendekatkan dirinya dengan orang laki-laki dan jika klien menunjukkan perilaku marah-marahnya jika mendapat teguran keras dari pengasuh asrama atau ketika merasa terganggu oleh teman-temannya.

Terminasi

Terminasi merupakan pengakhiran proses pertolongan sesuai dengan kontrak yang telah dibuat. Terminasi tidak hanya pengakhiran dari seluru kegiatan, akan tetapi merupakan bagian integral dari seluru proses yang telah dilaksanakan oleh praktikan. Terminasi bertujuan untuk menghindari dampak ketergantungan klien kepada praktikan. Terminasi juga bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada yayasan yang terkait untuk mempertimbangkan rekomendasi dari praktikan tentang kesinambungan penanganan kepada klien.

Terminasi yang dilakukan praktikan dilakukan dengan klien dan pengasuh asrama pada tanggal 11 Februari 2017. Praktikan memberikan penjelasan kepada klien bahwasanya praktikan tidak lagi mendampingi klien ketika berada di sekolah maupun asrama dan juga praktikan mengakhiri proses bantuan penyelesaian masalh yang dimiliki oleh klien.

A. Program Intervensi

a. Pendampingan saat Senam

Praktikan menggunakan tahap ini untuk melemaskan badan anak asuh sehingga tubuh anak asuh tidak kaku.

Gambar 4.12 : Praktikan mendamping anak asuh di waktu senam Pada gamabar tersebut praktikan melakukan pendampingan dengan tujuan untuk menjalin relasi dengan klien dan juga memberikan motivasi kepada klien supaya mengikuti kegiatan yang ada.

b. Terapi Berjalan

Dalam tahap ini praktikan mengajak anak asuh untuk terapi berjalan dengan cara memegang kedua tangannya dan praktikan mengarahkan untuk berjalan.agar anak asuh bisa berjalan sehingga anak asuh melakukan aktifitas tidak bergantung pada kursi roda.

c. Pemberian motivasi

Dalam tahap ini praktikan memberikan motivasi kepada anak asuh untuk melakukan kegiatan rutinitas yakni terapi fisik, karena anak asuh takut ketika mengikuti terapi di ruang (fisioterapi)sehingga praktikan memberi semangat

agar anak asuh mengikuti terapi tersebut. Alasan anak asuh sakit ketika di terapi di ruang fisioterapi.

Gambar

4.13: Praktikan

mendamping anak asuh dalam menyelesaikan tugusnya

Pada gamabar tersebut praktikan mendampingi klien pada saat menyelesaikan tugasnya, dan juga praktikan memberikan motivasi supaya klien tidak lagi takut pada saat akan mengikuti kegiatan terapi yang ada.

Case Conference

Shering terkait perilaku anak-anak asuh asrama YPAC saat berada di asrama dan sekolah serta penyakit yang di derita oleh anak-anak asuh. Dengan tujuan untuk mendapatkan solusi dari accesment yang suda dijalankan, dengan harapan menghasilkan proyeksi untuk menjalankan program intervensi. Saat melaksanakan Case Conference praktikan melibatkan Supervisior, pengurus asrama, guru dan tenaga medis.

Metode dan Teknik yang digunakan

Metode yang digunakan dalam pemecahan masalah adalah: a. Social Case Work

Metode ini digunakan untuk menangani anak asuh secara individu dan yang menjadi sasaran langsung adalah anak asuh, dengan teknik:

1. Support

Memberikan semangat dan dorongan kepada anak asuh untuk ikut terapi. Agar anak asuh bisa berjalan dan tidak bergantung pada kursi roda.

2. Reward and punishment

Pemberian penghargaan atau hadiah untuk memancing anak asuh untuk terapi berjalan. Misalnya saat terapi, anak asuh tidak merespon saat di ajak

Dalam dokumen ISI Laporan (Halaman 64-96)

Dokumen terkait