• Tidak ada hasil yang ditemukan

LATAR BELAKANG MASALAH 1. Pernyataan Rujukan

Dalam dokumen ISI Laporan (Halaman 35-43)

Klien masuk di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Cabang Malang, pada tahun 2007 dengan di antar oleh ibu kandungnya yang telah mengetahui bahwa anaknya mempunyai permasalahan dalam fisik dan psikologisnya.

Pada tanggal 18 Januari 2017 klien dirujuk oleh supervisior lembaga kepada praktikan untuk melakukan assesment terhadap permasalahan klien yang

SD KL NB SP SW BIY VN NB KL SP SD VN

mengalami Cerebral Palsy (CP) merupakan bagian dari tunadaksa dan juga gangguan funsi motoriknya.

Cerebral Palsy menurut asal katanya berasal dari dua kata, cerebral atau cerebrum yang berarti otak, dan palsy yang berarti kekakuan. Menurut arti kata, cerebral palsy berarti kekakuan yang disebabkan oleh adanya kerusakan yang terletak di dalam otak. Dapat disimpulkan bahwasannya cerebral palsy merupakan bagian dari tunadaksa, dimana adanya kelainan gerak, sikap, ataupun bentuk tubuh, gangguan koordinasi dan kadang-kadang disertai gangguan psikologis dan sensoris, yang disebabkan oleh adanya kerusakan atau kecacatan pada masa perkembangan otak.

Penyandang tunadaksa yang tergolong anak cerebral palsy mengalami kerusakan pada pyramidal tract dan extrapyramidal. Kedua system tersebut berfungsi mengatur system motorik manusia. Oleh karena itu anak mengalami gangguan fungsi motoriknya. Gangguan tersebut berupa kekakuan, kelumpuhan, gerakan-gerakan yang tidak dapat dikendalikan, gerakan ritmis, dan gangguan keseimbangan. Selain gangguan motorik, anak tunadaksa juga mengalami gangguan pada fungsi sensoris. Gangguan itu berupa penglihatan, pendengaran, perabaan, dan kemampuan kesan gerak dan raba (tactilekinesthetic). Tingkat kecerdasan anak cerebral palsy pun berentang, mulai dari tingkat yang paling dasar, yaitu idiocy sampai gifted. Pengungkapan kemampuan tingkat kecerdasan anak cerebral palsy mengalami kesukaran dan hambatan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penyesuaian social anak-anak cerebral palsy tidak menyenangkan.Penyesuaian social seseorang berkaitan erat dengan konsep diri ( Sawrey dan Telfold, 1975). Konsep diri merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya. Konsep diri bukanlah bawaan, tetapi diperoleh anak melalui interaksi antara keluarga dan lingkungan.

1. Menurut derajat kecacatan

Golongan ringan (Mild)

Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah mereka yang dapat berjalan tanpa menggunakan alat, berbicara tegas, dapat menolong dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun cacat, tapi tidak akan mengganggu kehidupannya sehingga dapat beraktifitas dengan anak-anak normal lainnya.

Golongan sedang (Moderate)

Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah mereka yang memerlukan latihan khusus untuk berbicara, berjalan, dan mengurus dirinya sendiri. Golongan ini memerlukan alat-alat khusus seperti brace, crutches untuk memperbaiki cacatnya.

Golongan berat (Severe)

Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah anak-anak yang tetap membutuhkan perawatan tetap dalam ambulasi, bicara, dan menolong dirinya sendiri. Prognosis hasil usaha peningkatan jelek, sehingga mereka tidak dapat hidup sendiri di tengah-tengah masyarakat.

2. Menurut topografi

Monoplegia, hanya satu anggota gerak yang lumpuh. Misalnya kaki kiri, kaki kanan dan kedua tangan normal.

Hemiplegia, lumpuh anggota gerak atas dan bawah pada sisi yang sama. Misalnya tangan kanan dan kaki kanan, tangan kiri dan kaki kiri.

Paraplegia, lumpuh pada kedua buah tungkai atau kakinya.

Diplegia, lumpuh kedua tangan kanan dan kiri atau kedua kaki kanan dan kiri lumpuh. Lumpuh kedua kaki kiri dan kanan yang disebut juga paraplegia.

Triplegia, tiga anggota gerak mengalami kelumpuhan. Misalnya, tangan kanan dan kedua kakinya lumpuh, atau tangan kiri dan kedua kakinya lumpuh.

Quadriplegia, menderita kelumpuhan pada seluruh anggota geraknya, yang disebut juga dengan tetraplegia.

3. Menurut fisiologi

Berdasarkan fungsi letaknya (motorik)

Anak yang mengalami sistem ini menunjukkan kekejangan pada otot-ototnya, yang disebabkan oleh gerakan-gerakan kaku dan akan hilang dalam keadaan diam (tidur). Pada umumnya kekejangan ini akan menjadi hebat jika anak dalam keadaan marah atau dalam keadaan tenang.

Athetoid

Anak yang mengalami athetoid, tidak mengalami kekejangan atau kekakuan. Otot-ototnya dapat bergerak dengan mudah, malah sering terjadi gerakan-gerakan yang tidak terkendali yang timbul diluar kemampuannya. Gerakan ini terdapat pada tangan, kaki, lidah, bibir, dan mata.

Tremor

Anak yang mengalami tremor sering melakukan gerakan-gerakan kecil yang berulang-ulang. Sering dijumpai anak yang salah satu anggota tubuhnya selalu bergerak.

Rigid

Gerakan-gerakannya sangat lambat dan kasar.

Ataxia

Kelainannya terletak di otak kecil (cerebellum) sehingga penderita mengalami gangguan keseimbangan.

Anak cerebral palsy akan mengalami kesulitan permasalahan, diantaranya kesulitan aktifitas motorik. Kesulitan aktifitas motorik ini dibagi atas tiga, yaitu:

1. Hiperaktif, anak tertarik oleh setiap rangsangan yang ia terima dan perhatiannya sangat mudah beralih dari satu objek ke objek yang lain.

2. Hipoaktif, gerakan lamban dan sangat kurang, tidak dapat menanggapi rangsanga yang di terima.

3. Gangguan koordinasi motoric

Selain itu, juga terdapatnya kesulitan sensoris yang dapat dibagi menjadi: 1. Gangguan persepsi yang menyebabkan sulit mengolah rangsangan visual, auditorium dan sulit dalam konsep bentuk ruang, warna, dan bunyi.

2. Gungguan emosi, dimana adanya rasa rendah diri, pemalu, mudah tersinggung, pemarah, keras kepala dan acuh tak acuh.

3. Gangguan bahasa dan bicara, disebabkan karena anak cerebral palsy tidak mendapatkan pengalaman untuk mendapatkan konsep bahasa yang menyebabkan timbulnya keterlambatan perkembangan bicara.

Ada dua hal yang menyebabkan keadaan anak cerebral palsy memiliki keterbatasan, yaitu sempitnya ruang lingkup gerak dan respon dari masyarakat. Hasil penelitian Helman menunjukkan bahwa 45% dari anak cerebral palsy memiliki keterbelakangan mental, 35% memiliki kemampuan kecerdasan rata-rata, 20% memiliki kemampuan di bawah rata-rata. (Michael C. Hardman, 1999). 2. Tujuan Assesment

Assessment adalah suatu proses yang dilakukan oleh pratikan untuk mencari data terkait dengan klien, keluarga klien, dan lingkungan sekitar klien. Assessment juga disebut sebagai pengungkapan dan pemahaman masalah merupakan kegiatan pengkajian pemeriksaan aspek fisik, mental, sosial vokasional klien serta kondisi klien dan lingkungan masyarakat untuk mendapatkan kejelasan kondisi objektif. Praktikan menggunkan proses assessment untuk mempermudah menganalisis masalah klien dan menentukan program pelayanan pada rehabilitasi sosial yang berhasil dan berdaya guna untuk proses penyelesaian masalah klien.

E. MASALAH KEBERFUNGSIAN

1. Keberfungsian Aspek Biologis/Fisik dan Kesehatan

Dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh praktikan menunjukkan bahwa klien merupakan anak pertama dari pasangan BIY dan SW, klien dilahirkan oleh ibunya dengan proses persalinan premature 6bulan.

Klien memiliki kecacatan dalam tubuhnya yaitu kecacatan pada kaki yang membentuk huruf O dan juga dibagian mata yang tidak sama yang mengakibatkan klien harus memakai kursi roda.

Ciri-ciri fisik yang dimiliki oleh klien adalah dia tidak bisa berjalan dan harus menggunakan kursi roda, namun klien mampu untuk memindahkan posisi tubuhnya saat berpindah, kulit bersih, rambut pendek, badan sedikit gemuk dan

klien berpenampilan kurang rapi karena klien masih terbilang susah untuk bantu diri, masih membutuhkan bantuan orang lain agar terlihat rapi.

a. Kemampuan Dasar Klien 1. Kemampuan Dasar Imitasi

Kemampuan dasar imitasi klien terbilang kurang baik karena klien lumayan lama untuk merespon ketika guru sekolah, pengasuh asrama maupun praktikan memerintahkan klien untuk menirukan apa yang dicontohkan seperti menulis, membaca maupun dalam kegiatan berolahraga.

2. Kemampuan Dasar Persepsi

Kemampuan dasar persepsi klien bertaraf baik, karena pemahaman perintah yang diberikan oleh guru sekolah, pengasuh asrama dan praktikan sudah dimengerti oleh klien tetapi masih diperlukan pengulangan dan penegasan.

3. Kemampuan Motorik Kasar

Kemampuan motorik kasar klien bertaraf kurang baik karena klien tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang normal pada umumnya. Klien sangat membutuhkan pendampingan kusus.

4. Kemampuan Motorik Halus

Kemampuan motorik halus klien bertaraf kurang baik karena meskipun klien bisa melakukan kegiatan motorik halus seperti menulis, mewarna, membuat kerajinan tangan, mengecat topeng dan lain sebagianya. Hanya saja pada saat menulis klien masih belum bisa melengkapi tulisan dengan benar terkadang masih ada kurang kata, kurang huruf yang tidak ditulis disetiap kata. Saat menulis tangan klien terlihat kurang kuat untuk memegang pensil dan juga tulisan klien susah untuk di baca. Karena itu saat menulis, klien masih memerlukan pengawasan dari guru kelas maupun oleh pratikan ketika sedang belajar di asrama.

5. Kemampuan Integrasi Mata dan Tangan

Kemapuan intergasi mata dan tangan klien bertaraf kurang, karena konsentrasi saat melakukan kegiatan seperti menulis mata klien masih

terfokus pada kegiatan orang lain yang berada disekitarnya, sehingga perlu diberikan teguran pada klien jika konsentrasi klien mudah beralih pada hal di sekeliling klien. Pada saat Guru menjelaskan materi mata klien juga masih tidak terfokus pada materi namun ke hal yang lain.

6. Kemampuan Performen Kognitif

Kemampuan performen kognitif klien bertaraf Baik, karena klien sudah bisa menghitung, sudah mengenal kelompok hewan, buah, transportasi, warna, dan bisa mengenal macam-macam penggolongan kelompok dengan baik.

7. Kemampuan Kognitif Verbal

Kemampuan kognitiv verbal klien bertaraf kurang baik karena klien lumayan susah untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain, klien terlihat lebih suka menyendiri.

b. Keberfungsian Aspek Mental Psikologis

Klien terbilang diam dan suka menyendiri, namun dalam pemahaman terkait pendidikan mampu memahami dank klien mampu berhitung. Dalam aspek inoi terbilang kurang Karena klien kalua sudah diajak berbicara kadang kala tidak nyambung dengan pertanyaan, menjawab yang tidak terarah.

c. Keberfungsian Aspek Spiritual

Klien adalah penganut agama Islam. Sikap dan perilaku klien dalam melaksanakan ajaran agama sudah cukup baik karena klien sebelum dan sesudah melakukan suatu kegiatan selalu membaca do’a karena sudah menjadi suatu kebiasaan dalam sekolah maupun asrama. Klien juga sudah melakukan kegiatan beribadah seperti sholat, mengaji, berdo’a, berwudhu dan berpuasa ketika bulan ramadhan. Klien juga mengerti bahwasanya sehabis klien menstruasi klien harus melakukan mandi besar. Tetapi ketika klien sholat, klien masih belum bisa mengerti jumlah rakaat dalam sholat, klien hanya mengikuti orang disampingnya. Klien juga masih belum bisa menghafal do’a sholat. Klien juga masih suka mengalihkan pandangannya ketika sholat.

d. Keberfungsian Aspek Intelektual

Pengungkapan kemampuan tingkat kecerdasan anak cerebral palsy banyak mengalami kesukaran dan hambatan. Hambatan itu terjdi karena anak cerebral palsy mengalami gangguan bicara sehingga sukar mengemukakan jawaban saat tes dilakukan.

e. Keberfungsian Aspek Sosial 1. Kemampuan Realisasi Diri

Klien dapat mengenal diri dan keluarganya. Klien juga bisa melakukan bantu diri seperti makan, berpakaian, mandi, ke toilet, merawat hak milik. Klien termasuk anak asuh yang sangat susah untuk dapat membantu dalam kegiatan asrama, seperti merapikan piring setelah makan.

Dalam merawat dirinya klien masih terbilang kurang baik, meskipun klien sudah bisa mandi sendiri, dan setelah mandi klien memakai pakaian sendiri, namun sering terbalik dan kurang rapi. Pernah juga pada saat klien haid klien salah memasang pembalut terbalik bagian perekatnya ditaruh diatas. Memakai bedak dan parfum juga masih membutuhkan bantuan teman atau pengasuh.

2. Kemampuan Relasi Sosial

Kemampuan relasi sosial klien kurang baik karena hubungan klien dengan teman-temannya kurang dekat. Klien hanya dekat pada salah satu teman saja, kurang bisa berbaur lebih suka menyindiri. Namun pada saat permainan klien bisa bekerja sama dalam kegiatan permainan kelompok. Hubungan klien dengan guru sekolah dan pengasuh asrama terbilang kurang karena klien sering mendapatkan teguran dari pihak guru sekolah maupun asrama karena keleletannya dan lain sebagainya.

Ketika klien berada di lingkuang luar seperti jalan-jalan ke pemukiman sekitar yayasan, berberlanja dan bertamasya, klien bisa beradaptasi dengan lingkungan luar akan tetapi klien termasuk anak asuh yang susah untuk menebar senyum dan menyapa orang lain. Klien masih memerlukan pendampingan saat berada dilingkungan luar.

3. Kemampuan Integrasi Sosial

Klien sudah cukup baik melakukan kegiatan kemasyarakatan meskipun masih memerlukan pengawasan dari praktikan, guru sekolah maupun pengasuh asrama. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh klien adalah dalam kegiatan beribadah seperti pergi ke musollah, membaur dengan masyarakat

melakukan kegiatan yang berorientasi pada lingkungan seperti penggunaan sarana umum ketika klien berada di lingkungan luar yayasan.

4. Keberfungsian Aspek Vokasional

Klien tidak dapat melakukan jenis pekerjaan kerumahtanggaan seperti, menyapu ketika sesudah makan, membuang sampah, merapikan piring setelah makan, menjemur handuk dan bantal teman-temannya. Akan tetapi disini klien mampu untuk bernyanyi dan membuat hasil karya seperti celengan, dompet meskipun masih dibantu dengan pemberian intruksi.

Dalam dokumen ISI Laporan (Halaman 35-43)

Dokumen terkait