1. Penyataan Rujukan
Semua orang tua menghendaki anaknya lahir dengan normal dan sehat. Namun harapan itu tidak selalu terwujud. Realitas seperti ini dialami oleh MZ, saat mendapati lambannya tumbuh kembang anak ketika memasuki usia bulan ketiga.Penyebabnya belum diketahui namun faktor resikonya termasuk kelahiran prematur dan mengalami komplikasi selama persalinan, seperti infeksi ibu atau trauma. Kebanyakan masalah ini terjadi ketika bayi masih dalam kandungan.
Kecacatan bagi sebagian orang merupakan suatu masalah yang berat serta dapat menghambat cita-cita dan aktivitas. Permasalahan yang dihadapi penyandang cacat bukan hanya masalah psikologis seperti rendah diri, merasa tidak mampu dan tidak berdaya, menutup diri dan tidak percaya diri untuk bergaul tetapi juga masalah dunia kerja seperti akses informasi, kesempatan dan peluang mendapatkan pekerjaan Meskipun demikian adapula penyandang cacat tubuh yang tegar dengan kondisi kecacatannya. Penyandang cacat fisik pada dasarnya memiliki kesempatan untuk bekerja seperti halnya orang normal. Dalam Undang– Undang Republik Indonesia No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, pada Bab IV pasal 9 yang berbunyi “Setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.” Pasal 13 yang berbunyi “Setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan jenis dan derajad kecacatannya.” Dalam Undang–Undang tersebut jelaslah bahwa kesempatan untuk bekerja bagi penyandang cacat sama
Anak asuh mengalami penyandang cacat fisik yang mengakibatkan tidak bisa berjalan dan penglihatannya menghambat aktifitasnya. adanya disfungsi atau kurangnya suatu fungsi yang secara objektif dapat diukur/dilihat, karena adanya kelainan dari bagian tubuhanak asuh.Praktikan selalu memberi motivasi kebada anaka asuh untuk selalu percaya diri dengan keadaan yang di alaminya.
Kepercayaan diri ini meliputi adanya sikap yakin terhadap kemampuan dirinya, merasa aman, mandiri, bertanggung jawab, optimis serta tahu apa yang dibutuhkan. Oleh karena itu kepercayaan diri memegang peranan yang sangat penting bagi penyandang cacat, hal ini disebabakan kepercayaan diri dapat menentukan penyesuaian diri penyandang cacat tersebut dengan lingkungannya. E. MASALAH KEBERFUNGSIAN
1. Keberfungsian Aspek Biologis/ Fisik dan Kesehatan
Dari hasil wawancara dengan orang tua (ayah) yang dilakukan oleh praktikan melalui via telepon menjelaskan bahwa anak asuh lahir dengan proses persalinan normal yang dibantu oleh seorang bidan. Pada usia 3 bulanorang tua anak asuh baru menyadari anak mereka menglami cacat fisik pada bagian kaki dan mata.
Anak asuh tidak memiliki kecatatan mental akan tetapi anak asuh memiliki kecatatan fisik pada bagian kaki dan mata.Saat ini anak asuh mempunyai ciri-ciri : kulit putih, anggota tubuh tidak normal, rambut lurus.
a. Kemampuan Dasar
Kemampuan dasar imitasi anak asuh bertarafbaik, karena mental anak asuh normal dan tidak cacat.Sehingga praktikan berpandangan bahwa kemampuan dasar imitasi anak asuh bertaraf baik.
2. Kemampuan Dasar Persepsi
Kemampuan dasar persepsi anak asuh bertaraf baik, karena pemahaman perintah yang diberikan oleh guru dan praktikan sudah dimengerti oleh anakasuhdan merespon anak asuh juga baik.
3. Kemampuan Motorik Kasar
Kemampuan motorik anak asuh bertaraf cukup, karena tidak semua motorik kasar dapat dilakukan oleh anak asuh. Motorik kasar yang bisa di lakukan oleh anak asuh adalah menggerakkan kursi rodanya, mengangkat kedua tangan, dan lain-lain. Motorik kasar yang tidak bisa dilakukan anak asuh adalah berjalan, menjinjit.
4. Kemampuan Motorik Halus
Kemampuan motorik halus anak damping bertaraf cukup, karena motorik halus yang bisa dilakukan anak asuh adalah menulis, menempel gambar, mewarna sedangkan untuk menggunting lurus anak asuh belum mampuh menyelesaikan.
5. Kemampuan Integrasi Mata dan Tangan
Kemapuan integrasi mata dan tangan anak asuh bertaraf kurang, karena penglihatan anak asuh terganggu sehingga konsentrasi saat melakukan kegiatan menempel gambar dan menggunting luruskurang tepat pada garing
dan praktikan memegang tangannya dan di mengarahkan anak asuh untuk menempel dan menggunting.
6. Kemampuan Performen Kognitif
Kemampuan performen kognitif anak asuh bertaraf baik, karena anak asuh sudah bisa menghitung penjumlahan, pengurangan, membaca sudah mengenal kelompok hewan, dan lain.
7. Kemampuan Kognitif Verbal
Kemampuan kognitif verbal anakasuh bertaraf baik, karena anak asuh bisa menanyakan kembali apa yang sudah ditanyakan oleh guru danpraktikan.
2. Aspek Mental Psikologis
Aspek mental anak asuh tidak terganggu dan emosional anak asuh selalu stabil.
3. Aspek Spritual
Keluarga anak asuh semua beragama Islam. Kegiatan yang sering dilakukan anak asuh adalah sholat magrib dan sering adzan ketikan sholat berjama’ah,saat belajar membaca do’a sesudah belajar, membaca do’a sebelum dan sesudah makan, selalu mengucapkan salam saat datang dan pulang dari sekolah, dan disertai bersalaman dengan guru dan praktikan.
4. Aspek Mental Intelektual
Anak asuh merupakan penyandang masalah cacat fisik akan tetapi masalah tersebut tidak berpengaruh pada intelektual anak asuh, kemampuan menghitung, membaca dan menulis dapat di lakukan oleh anak asuh akan tetapi
harus ada pendampingan dari guru maupun praktikan. Ketika ada tugas sekolah anak asuh selalu mengajak praktikan untuk membantu dan mendampinginya. 5. Aspek Sosial
a. Kemampuan Realitas Diri
Anak asuh dapat mengenal diri sendiri, keluarga, teman-teman, pengasuh Asrama dan Praktikan. Bantu diri yang dapat dilakukan oleh anak asuh adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, makan sendiri, buang air kecil dan membersihkannya. Kemampuan perawatan seperti mandi, dan kesehatan anak asuh masih memerlukan bantuan dari pengasuh.
b. Kemampuan Realitas Sosial
Anak asuh mudah berbaur dan sangat senang ketika ada orang baru. Awal praktikan masuk lembaga anak asuh langsung menanyakan nama praktikan, sebelum praktikan memperkenalkan nama, dan anak asuh sangat antusias ketika mendengar praktikan akan perada di lembaga selama satu bulan.
c. Kemampuan Integrasi Sosial
Anak asuhbelum bisa melaksanakan kegiatan kemasyarakatan karena kondisi fisik yang di alaminya. dan masihmemerlukan bantuan atau pendampingan dalam melaksanakan dengan teman-teman dan masyarakat luar, karena anak asuh tidak bisa berjalan.
Anak asuh belum bisa melakukan jenis pekerjaan seperti membersihkan dirinya sendiri. Dalam melakukan aktivitas, anak asuh masih membutuhkan pendampingandari pengasuh dan praktikan.
F.
KEADAAN ANAK ASUH SEBELUM DILEMBAGASebelum berada di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang, anak asuh dititipkan di “TK Aisyah Harapan VIII” salah satu Taman Kanak-kanak yang berada di kota Mojokerto. Saat berada di Taman Kanak-kanak anak asuh tidak bisa mengikuti kegiatan yang berada di TK tersebut, karena anak asuh sering di buli sama teman-temannya. Sehingga anak asuh tidak nyaman dalam melakukan proses belajar.
Sala satu Saudara dari ibu anak asuh yang bekerja di YPAC, menawarkan anak asuh untuk sekolah di SLB Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang. Sehingga anak asuh di masukkan di YPAC tersebut, supaya anak asuh nyaman dalam melakukan proses belajar.