KEARAH UTILISASI SETJARA EFFICIENT DARI ARANG BATU INDONESIA:
III. Keadaan sekarang.
Pada waktu sekarang industri gas dan kokas di Indonesia baru di sen tralisir dalam kota2 jang besar seperti Djakarta, Bogor Bandung, Tjire bon, Semarang, Surabaja di pulau Djawa, Medan di Sumatera dan Maka
sar di Sulawesi dengan menggunakan oven kamar atau retort jang biasa dieksploitir guna keperluan „dual prosess” atau proses gunting, jaitu mem buat gas sambil menghasilkan kokas disertai ter sebagai hasil tambahan. Suatu hal jang perlu dikemukakan jaitu sepak terdjangnja OGEM untuk membuat gas kota dari minjak berat menurut tjara ONIA GEGI, hal mana telah diwudjudkan di Surabaja pada permulaan tahun 1957. Dalam hal ini pendirian kami ialah, bahwa meskipun bahan jang diper gunakan terdapat di Indonesia, akan tetapi djika arang batu kita toch dapat dipergunakan untuk pembuatan kokas dan gas, maka bagi Negara penggunaan arang batulah jang lebih bermanfaat. Pun Direktorat Djen deral Tenaga sudah lama membuat gas minjak dengan tjara „Segas” untuk pemberian gas ke Kota Baru Kebajoran, hanja Pelaksanaannja ma sih tergantung dari usaha lain jang mungkin lebih effektif. 4).
Adalah suatu fakta jang sudah dikenal, bahwa untuk matjam oven kamar atau retort sebagai dipakai di Pabrik2 gas, maka dibutuhkanlah „coking gas coal”. Djika susunan arang bate Indonesia, baik jang ada di Sumafera Barat, maupun di Sumatera Selatan, Kalimantan, Djawa Barat dan Djawa Tengah dipeladjari, maka mau tak mau haruslah diambil ke simpulan, bahwa tak ada satu diantara arang batu2 tsb. jang dapat di klasifisir sebagai "coking gas coal" atau "coking coal" jang dikehendaki oleh Pabrik2 gas dan Pabrik2 kokas tjara biasa. Inilah jang mendjadi alasan jang kuat bagi OGEM untuk masih memasukkan arang batu Luar Negeri jang didatangkan dari Nederland atau Amerika. Arang batu Indonesia tsb. diatas memang tidak tjotjoklah untuk Pabrik2 Gas sebagai sekarang didalam arti bahwa disamping gas jang baik tidaklah menghasilkan kokas jang berkwalitet tinggi.
Dan kokas ini sekarang djuga banjak sekali diperlukan untuk indus tri, baik untuk keperluan karbonatasi di Pabrik2 Gula, maupun untuk ke perluan reduksi/pemanasan di Bengkel2 besi atau di Pabrik2 besi tjor. Dje laslah, bahwa harga (value) arang batu kita itu akan lebih tinggi, djika dari padanja sekaligus dapat pula dibuat kokas jang berkwalitet tinggi jang da pat dianggap sebagai kuntji kemadjuan industri. Industri Besi dan badja jang modern, dengan menggunakan „normal blast furnace” jang tidak terlepas dari kokas berkwalitet baik untuk mulai dapat difikirkan, djika kokas jang berkwalitet tinggi ini memang sudah ada, walaupun ada beberapa proses bagi jang tjukup dengan menggunakan kokas berben tuk ketjil sadja umpamanja:
Electro shaft furnace, Lubatti process, Thermis low shaft furnace, Stuerselberg process, Rena process. 5)
Dengan pendek kata dalam kokaslah dikandungnja arti vital dari , arang batu! Maka kedjurusan itulah langkah2 Direktorat Djenderal Tena ga jang menjalurkan tugasnja kepada Bagian Tenaga Kaloris diarahkannja. IV. Usaha kearah jang ditudju.
Sebagai langkah pertama diusahakan, agar Pabrik Gas Tjirebon jang dinasionalisir oleh Pemerintah pada bulan Djanuari th. 1945 setja ra terpaksa chusus mengunakan arang batu dalam negeri. Sampai kini, maka dibuatlah bagi Tjirebon gas dari arang batu Sigihan dari Kaliman
tan jang dieksploitir oleh N.V. Oost Borneo My dan pula dari arang batu Bukit Asam jang dieksploitir oleh Direktorat Pertambangan. Gas jang dihasilkan memenuhi sjaratz sebagai gas kota, akan tetapi kokas jang dihasilkan disampingnja tidaklah dikatakan haik, hal mama sudah dapat diduga. Arang batu Ombilin belumlah ditjoba di Pabrik Gas Tjirebon berhubung produksi tambang .Ombilin ini menurut keterangan2 dahulu hanja tjukup untuk keperluan di Sumatera Barat sadja. Selandjutnja diusahakan pula bagi pahrik Gas Tjirebon, agar diwudjudkan sebuah Lahoratorium Pabrik dan Pabrik hasil Tambahan setempat untuk meng olah air ammoniak mendjadi ammoniak keras dan mengolah ter sampai didapati benzol dan sepantjaran, phenol dan sepantjaran, naphtalin, min jak kreosot, antracen dan ter padat. Rentjana lengkap dari projek ketjil ini jang didasarkan atas pengalaman di Pabrik Gas Bogor pada th. 1945 s/d 1947. — sudah lama disiapkan, tinggal menunggu pelaksanaannja dan ini dapatlah dianggap sebagai batu lontjatan kearah diwudjudkannja Industri Kimia jang lebih luas lagi, °)
Sebagai langkah kedua Direktorat Djenderal Tenaga mempela djari kemungkinan2 untuk membuat dari arang batu Indonesia jang dapat kita klasifisir sebagai „noncoking goals”, kokas jang memenuhi sjarat2 sebagai kokas industri, haik untuk keperluan karbonatasi, maupun untuk keperluan reduksi/pemanasan. Dalam usaha ini terdjadilah suratmenju rat dengan Dr. Ing. Kurt Baum, seorang Consulting Engineer dari Essen (Djerman Barat) jang menerangkan, bahwa dengan „Two Step Me thod” is sanggup membuat dari „noncokingcoal” kokas jang berkwali tet baik. Tukar menukar bahanz dilangsungkan selama kira2 2 tahun. jang dimulai pada bulan September 1954. Kami kemukakan dahulu dibawah suatu tjatatan ringkas dari proses Langkah Dua jang dinamakan proses „Baumco” jang dipergunalcan dalam tahun 1950, guna suatu „fundamen tal research work” jang dilakukan terhadap Wyvern Coal dari Australia jang kiraa mempunjai sifat jang sama dengan arang batu Indonesia jaitu mempunjai kadar zat dapat terbang jang tinggi lk. 40% jang sama sekali tidak mempunjai „coking capacity”. Test jang telah memberi kesimpu lan konkrit ketika itu adalah sbb:
Sebagai „First Step " (Langkah Pertama) arang batu Wyvern jang mempunjai „Proximate Analis” sbb.
Air — 16.1%
Abu — 4.0%
Zat dapat terbang — 36,3 % Karbon padat — 43,6%
dikarbonisir dalam „rotating furnace” sampai dihasilkan Ter temperatur Rendah (,,Low Temperature Char") jang masih mengandung 10% zat2 dapat terbang. Ter jang dihasilkan bersifat Alifatis dan memberikan analisa destilasi sbb: Minjak ringan (LightOil) — 11.8% Minjak menengah (MiddleOil) — 21.4% Minjak berat (HeavyOil) — 33.9% Ter padat (Pitch) — 26.1% Hilang (Losses) — 6.8%
Untuk membuat briket ketika itu Dr. Ing. Kurt Baum menggunakan tjampuran sbb.:
82% Ter Temperatur Rendah.
11% Coking coal (0.1 mm — 0.5 mm).
7'% Ter Padat Djerman (German Pitch) (75%).
Briket2 dibuat pada temperatur 95° C dengan menggunakan pers hidraulis pada tekanan 200 kg/Cm2
Sebagai „Second Step” (Langkah kedua), maka briket2 jang mem punjai diameter 40 mm dan timbangan 35g dikarbonisir dalam „coking furnace” pada temperature 1000° C selama 3 djam. Maka dihasilkan briket Cokes jang mempunjai angka kekuatan bersatu diantara 60 88,8% jang ditetapkan dengan tjara „Drumtest”. Pula ditjoba pembuatan bri ket dengan menggunakan „Pitch” jang dihasilkan dari ter Temperatur Rendah, akan tetapi hasilnja tidak sebaik hasil tsb. diatas, walaupun masih dapat dibanggakan. 7).
Dari tjatatan ringkas diatas dapatlah kita lihat, bahwa Dr. Ing. Kurt Baum ketika itu telah menggunakan 11% „Coking coal” dan „German Pitch”. Soal jang diberikan kepada Dr. Ing. Kurt Baum oleh Direkto rat Djenderal Tenaga jaitu, agar diusahakan pembuatan briket kokas dari Arang batu Sigihan, Ombilin dan Bukit Asam dengan chusus meng gunakan arang batu Indonesia dan „pitch” jang dihasilkan sendiri dan disamping itu, pembuatan gas benzol dan sepantjaran, phenol dan se pantjaran, naphtalin, minjak kreasot, dan antracen, dan pula air ammonia untuk didjadikan amonia keras dan/atau ammoniasulfat. Terang, bahwa persoalan ini tidak mudah dan baru terdapat hasil jang konkrit setelah dilakukan penjelidikan jang sangat luas selama 6 bulan dari Nopember 1956 s/d April 1957.
V. Djalannja „fundamental research work” di Djerman Barat. A. Instruksi Direktorat Djenderal Tenaga.
Instruksi direktorat Djenderal Tenaga kepada Dr. Ing. Kurt Baum K.G. fur Verfahren Tehnik jang tertjantum didalam Agreement ttg. 10 Oktober 1956. antara Kemput dan Baumco telah diformulier sebagai berikut:
Article 1
Baumco is hereby engaged in a consulting capacity byKEMPUT for the perfornance of studies and testing work use to Indonesian coals as basis for the production of:
a. industrial coke, which can by applied as carbonation and/or metal lurgical coke.
b. Surplus Gas, which will be use as towngas having a caloric value of app. 4000 Cal/m3.
c. tar, which will be use as basic product for the manufacture of benzol and homologues, phenol and homologues, naphta, naphtalene, creasotoil, antracene and homologues and pitch for the process.
d. ammoniacal liquer as raw material for the menufacture of concentra ed ammonium sulfate.
Article 2
KEMPUT shall supply coal samples as mentioned in KEMPUT letter of August 28, 1956, prepared inclosed drums, 200 kg each, described as follows:
a. No. 1: Sample of coal from Sigihan.
The sample has been taken out of stock at the gaswork of Tjerebon. This is thus the kind of coal sold as such by the „Oost Borneo My" (a private Dutch enterprise) for direct use.
b. No. 2: Sample of coal from Ombilin.
The sample has been taken out of stock at the Steam Power Station naar Padang, where it is used as fuel sold as such by the Mining De partment of the Ministry of Economic Affairs for direct use fuol.
c. No. 3: Sample of coal from Bukit Asam.
The sample has been taken out of stock at the Caswork of Tjerebon sold as such by the Ministry of Economic Affair for direct use.
Berdasarkan surat Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia ttg. 27 Desember 1956. No. 497/P.M./1956. jang telah dirobah dengan su rat Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia ttg. 20 Pebruari 1957. No. 85/P.M./1957. dan disusul dengan surat Keputusan Menteri Peker djaan Umum dan Tenaga ttg. 11. Pebruari 1957. No. 11/1/16. maka da patlah kami kehormatan untuk mengikuti „fundamental research work” tsb. sambil mengadakan pertukaran fikiran jang diperlukan guna kelan tjaran pekerdjaan dan tertjapainja hasil jang memuaskan dari Djanuari 1957, std April 1957.