Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis capung di Jogja Adventure Zone berdasarkan perbedaan waktu yang dibagi dalam 4 waktu selama 12 jam dalam sehari atau setiap 3 jam. Berdasarkan data yang tersaji pada tabel 3, menunjukkan adanya perbedaan faktor abiotik dari setiap waktu penelitian. Faktor abiotik yang diukur adalah kelembaban udara, suhu udara, suhu air, intensitas cahaya, kecepatan angin, dan ph air. Menurut Martin R. Speight (2008 : 33), faktor abiotik ini memiliki pengaruh yang mendasar terhadap ekologi serangga mulai dari keberhasilan reproduksi, proses fisiologis, interaksi di dalam spesies, dan interaksi antar spesies.
a. Keanekaragaman Jenis Capung di Jogja Adventure Zone
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan sebanyak 35 jenis capung dan capung jarum yang terdiri 2 sub ordo dan 8 famili, yaitu sub ordo Anisoptera/Capung biasa yang terdiri dari famili Aeshnidae, Cordullidae,
Gompidae, dan Libellulidae, dan sub ordo Zygoptera/Capung jarum yang terdiri
dari famili Chlorocyphidae, Coenagrionidae, Platycnemidae, dan Protoneuridae sebagaimana yang tersaji pada tabel 1. Hasil eksplorasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa famili Libellulidae memiliki persentase tertinggi dalam hal jumlah spesies yaitu 19 spesies atau 54,3% dari total spesies yang ditemukan, diikuti oleh famili Coenagrionidae 7 spesies atau 20% dan spesies yang paling melimpah dari kedua famili tersebut adalah Crocothermis servilia dan Ishnura
76
spesies. Sedangkan 4 famili lainnya adalah Aeshnidae, Cordullidae,
Platycnemididae dan Protoneuridae, masing-masing hanya terdiri dari 1 spesies
saja atau sebesar 2,9% dari total spsesies yang ditemukan di Jogja Adventure Zone. Keempat jenis capung dari empat famili tersebut adalah Anax guttatus,
Epophthalmia vittata, Copera marginipes dan Prodasineura autumnalis (tabel 1).
Jumlah jenis dan jumlah individu pada tiap waktu pengamatan memiliki jumlah yang berbeda. Grafik 1 dan grafik 2 menunjukkan bahwa waktu pengamatan pertama memiliki jumlah jenis dan jumlah individu terbanyak yaitu 31 jenis dan 3373 jenis capung. Sedangkan jumlah jenis terendah 26 jenis ada di waktu pengamatan ke tiga dan jumlah individu terendah 1717 individu di waktu pengamatan ke empat. Jumlah individu capung menjunjukkan tren grafik yang menurun meskipun jumlah jenis mengalami kenaikan di waktu ke empat. Hal ini dikarenakan jenis capung yang memiliki jumlah individu melimpah yaitu
Crocothemis servilia dan Ischnura senegalenses mulai beristirahat dan tidak
menunjukkan aktivitas, sehingga julmah individu yang ditemui jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan waktu pengamatan sebelumnya. Adapun jumlah jenis mengalami kenaikan karena ada jenis capung yang hanya aktif di waktu senja yaitu
77
Gambar 3. Grafik jumlah jenis capung dan jumlah individu pada tiap waktu pengamatan.
Gambar 4. Grafik jumlah individu capung pada setiap waktu pengamatan. b. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner (H’)
Indeks Keanekaragaan Shannon-Wiener (H’) digunakan untuk mengetahui keanekaragaman jenis capung yang ada di Jogja Adventure Zone dikaitkan dengan kualitas habitatnya. Grafik 3 merupakan hasil perhitungan H’ dan H’max yang menunjukan bahwa indeks keanekaragama tertinggi terdapat di waktu ke empat, disusul oleh waktu ke dua, ke tiga, dan indeks keanekaragaman terendah terdapat di waktu pertama. Berdasakan kriteria indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (Melati. 2007:96), keempat waktu tersebut memiliki tingkat keanekaragaman sedang karena nilai H’ berada di antara 1,0-3,0. Tingkat keanekaragaman jenis di
31 30 26 27 22 24 26 28 30 32 T1 T2 T3 T4 Ju m lah J en is Waktu Pengamatan
Jumlah jenis pada tiap waktu pengamatan
3373 2612 2442 1717 0 1000 2000 3000 4000 T1 T2 T3 T4 Ju m lah In d iv id u Waktu Pengamatan
78
Jogja Adventure Zone secara umum menunjukkan bahwa kondisi habitat hidup bagi
capung di Jogja Adventur Zone cukup baik, produktivitas baik, tekanan ekologis rendah, dan kondisi ekosistem cukup stabil. Artinya, faktor-faktor lingkungan yang ada di sana cukup mendukung bagi kehidupan capung dan gangguan yang mengancam kecil.
Gambar 5. Grafik hasil perhitungan Indeks Shannon-Wiener (H') dan H'max c. Indeks Dominasi dan Indeks Kemerataan Jumlah Jenis
Hasil perhitungan indeks dominasi Sampson dan indeks kemerataan jumlah jenis menunjukkan hasil yang serupa. Grafik 4 menunjukkan nilai indeks dominasi Sampson tertinggi terdapat pada waktu pertama, sedangkan nilai indeks kemerataan jumlah jenis terendah ada di waktu pertama. Melati (2007:96) mengatakan bahwa indeks dominasi Sampson digunakan untuk mengetahui adanya dominansi jenis tertentu pada suatu ekosistem , sedangkan indeks kemerataan jumlah jenis digunakan untuk mengetahui pola persebaran biota, yaitu merata atau tidak jumlah individu tiap spesiesnya.
1,914 2,178 2,063 2,197 3,401 3,401 3,258 3,296 0,000 0,500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 3,500 4,000 T1 T2 T3 T4 N ilai I n d eks Waktu Pengamatan
Indeks Shannon-Wiener (H') dan H'max
79
Hasil kedua indeks ini menunjukkan bahwa terdapat jenis yang mendominasi jenis lain. Di waktu pertama, nilai indeks dominasi Sampson cukup tinggi jika dibandingkan 3 waktu lainnya, yaitu 0,242 sedangkan ketiga waktu lain hanya berkisar antara 0,166-0,178. Nilai indeks dominasi Sampson semakin mendekati angka 1 artinya terdapat jenis yang mendominasi spesies lainnya. Di waktu yang sama nilai indeks kemerataan jumah jenis terendah terdapat di waktu pertama yaitu 0,557 sedangkan tiga waktu lain relatif lebih tinggi yaitu antara 0,633-0,74. Nilai indeks kemerataan jumlah jenis semakin mendekati angka 0 artinya kemerataan antar spesies rendah, kekayaan individu masing-masing spesies sangat jauh berbeda, dan terdapat jenis yang mendominasi. Hasil ini menunjukkan bahwa di waktu pengamapatn pertama terdadat jenis yang lebih mendominasi dibanding dengan tiga waktu yang lain.
Tingginya nilai indeks Dominasi Simpson dan rendahnya nilai indeks kemerataan jumlah jenis dikarenakan adanya perbedaan jumlah kumulatif individu antar jenis yang begitu besar. Terdapat jenis capung yang memiliki jumlah kumulatif yang begitu besar antara lain Crocothemis servilia 2242 individu,
Ischnura senegalensis 3259 individu, dan Paracercion malayanum 1383 individu
dan ada pula jenis capung yang memiliki jumlah kumulatif sangat kecil antara lain
Ephopthalmia sp, Macrogomphus parallelogramma, Paragomphus reinwardtii,
dan Pseudagrion rubriceps yang masing-masing hanya berjumlah 1 individu. Beberapa jenis yang lain memiliki jumlah individu antara 2 hingga ratusan individu.
80
Gambar 6. Grafik hasil perhitigan Indeks Dominasi Simpson dan Indeks Kemerataan Jumlah Jenis
d. Indeks Richness/Kekayaan Jenis (E)
Jogja Adventure Zone memiliki nilai indeks kekayaan jenis tertinggi 3,693
dan terendah 3,205, nilai tertinggi berada di waktu pertama sedangkan nilai terendah ada di waktu ke tiga (Grafik 5). Indeks kekayaan jenis digunakan untuk mengetahui kekayaan jenis berdasarkan jumlah jenis pada suatu ekosistem, semakin besar nilai indeks maka semakin tinggi kekayaan jenis yang dimiliki ekosistem tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekayaan jenis suatu ekosistem antara lain: daya reproduksi, ketersediaan pakan, kemampuan beradaptasi, dan banyaknya pemangsa. Nilai indeks kekayaan jenis tertinggi ada di waktu pagi atau waktu pengamatan pertama. Di waktu pagi merupakan waktu aktif bagi hampir semua jenis capung di Jogja Adventure Zone untuk mencari akan dan melakukan reproduksi. Ketersediaan pakan di waktu pagi juga melimpah karena jenis-jenis serangga yang menjadi makanan capung juga aktif di pagi hari sehingga bagi capung akan lebih mudah menemukan mangsanya.
0,242 0,166 0,178 0,172 0,563 0,640 0,633 0,667 0,000 0,100 0,200 0,300 0,400 0,500 0,600 0,700 T1 T2 T3 T4 N ilai I n d eks Waktu
Grafik Indeks Dominasi Simpson dan Indeks Kemerataan Jumlah Jenis
81
Gambar 7. Grafik hasil perhitungan Indeks Kekayaan Jenis (R) e. Kelimpahan Relatif Capung di Jogja Adventure Zone
Kelimpahan Relatif menggambarkan jumlah individu dari suatu jenis dalam suatu komunitas. Grafik 6 menggambarkan nilai kelimpahan relatif masing-masing jenis capung di Jogja Adventure Zone menurut Lowen (1996 dalam Colin Bibby. 2000:109). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa terdapat 2 jenis capung yang masuk dalam kategori melimpah yaitu Crocothemis servilia dan Ischnura
senegalensis. Jenis capung lainnya sebanyak 3 jenis masuk dalam kategori umum,
8 jenis masuk dalam kategori sering, 14 jenis masuk dalam kategori tidak umum, dan 8 jenis masuk dalam kategori jarang.
Semakin melimpah suatu jenis maka jenis tersebut akan semakin mendominasi pada suatu habitat (Syaifudin, 20011:58). Crocothemis servilia dan
Ischnura senegalensis adalah jenis capung yang sangat mudah beradaptasi dan
toleran dengan perubahan lingkugan. Kedua jenis ini hampir mendominasi di seluruh area perairan-perairan terbuka.
3,693 3,686 3,205 3,491 2,800 3,000 3,200 3,400 3,600 3,800 T1 T2 T3 T4 N ilai In d eks Waktu Pengamatan
82
Gambar 8. Grafik Hasil perhitungan kategori kelimpahan relatif jenis-jenis capung di Jogja Adventure Zone
2,3 0,2 3,5 0,2 0,243,30,4 165,4 126,7 467,1 13,5 7,5 0,8 1,7 73,5 27,717,731,032,9 1,9 14,0 4,2 10,2 0,4 8,3 0,4 28,523,5 679,0 25,6 9,2 0,2 288,1 2,1 1,9 0,0 100,0 200,0 300,0 400,0 500,0 600,0 700,0 800,0 N ilai Ke lipa h an Rel at if
Kategori Kelimpahan Relatif
83
Berikut ini adalah pemaknaan hasil penghitungan kategori kelimpahan relatif menurut Lowen (1996 dalam Colin Bibby 2000) dengan modifikasi sesuai dengan kondisi lapangan.
Tabel 14. Pemaknaan kategori kelimpahan relatif untuk melihat skala urutan kelimpahan sederhana
Nilai Kelimpahan Relatif Skala Urutan
< 1 Jarang
1-20 Tidak Umum
21-100 Sering
101-400 Umum
>400 Melimpah
f. Faktor Abiotik di Jogja Adventure Zone
Tabel 3 menggambarkan kondisi faktor-faktor abiotik di Jogja Adventure
Zone pada setiap waktu penelitian. Suhu udara berkisar antara 26,5 0C – 33 0C, suhu udara terendah ada di waktu pagi (waktu pertama) dan suhu udara tertinggi ada di waktu siang hari (waktu ke tiga) sedangkan suhu air rata-rata 28 0C di semua waktu. Clarke (2003) mengatakan bahwa temperatur lingkungan mempengaruhi segala aktivitas serangga, karena semua serangga adalah hewan poikiloterms yaitu suhu tubuhnya dipengaruhi oleh temperatur lingkungan (Martin R. Speight. 2008:33). Menurut Lyons (1944) telur serangga akan rusak (mati) apabila temperatur lingkungannya berada di bawah 5.8 0C atau diatas 30 0C, sedangkan Peat (2005) dan Omkar & Pervez (2004) mengatakan bahwa telur serangga akan berkembang dengan baik pada temperatur antara 25 0C – 30 0C dan temperatur optimalnya adalah 27 0C (Martin R. Speight. 2008:34). Sedangkan untuk serangga dewasa,
84
Jumar (2000) mengatakan bahwa serangga dapat bertahan hidup pada suhu antara 15 0C – 45 0C, sedangkan suhu optimal bagi serangga adalah 25 0C (Nuri Gustia. 2014 : 3).
Kelembaban udara berkisar antara 53 % - 82,5%. Kelembaban udara merupakan faktor penting yang mempengaruhi penyebaran, aktivitas, perkembangan serangga, kemampuan terbang, kemampuan bertelur, dan pertumbuhan serangga. Kisaran kelembaban udara optimum bagi serangga pada umumnya sekitar 73-100 %. Kelembaban optimum serangga berbeda menurut jenis dan stadium (tingkatan kehidupan) pada masing-masing perkembangan (Sunjaya 1970 dalam Sudarwati dkk, 2014 : 15). Kelembaban udara yang rendah akan mempercepat penguapan atau kehilangan air dari tubuh makhluk hidup (Agus Dharmawan, 2005:33). Saat kelemban udara menurun, beberapa jenis capung lebih memilih bertengger di bawah naungan, namun untuk jenis-jenis capung yang menyukai intensitas cahaya yang tinggi seperti Urothemis signata, Diplacodes
trivialis, dll tetap memilih bertengger di bawah terik matahari dengan
memposisikan tubuhnya dalam posisi obelix (abdomen diangkat keatas).
Kondisi lingkungan yang ideal bagi capung meliputi faktor biotik dan abiotik yang dapat mendukung kehidupan capung di suatu tempat, dan setiap hewan memiliki batas kisaran tertentu terhadap setiap faktor lingkungannya. Sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Hukum Toleransi Shelford bahwa setiap organisme mempunyai batas minimum dan maksimum ekologis, yang merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu terhadap kondisi faktor lingkungannya (Agus Dharmawan, 2005:38)
85
g. Karakteristik Habitat Capung di Jogja Adventure Zone
Jogja Adventure Zone merupakan kawasan wisata outbond yang memiliki dua kolam pancing yang mendukung habitat hidup capung. Kedua kolam tersebut memiliki karakteristik yang berbeda sehingga jenis-jenis capung yang ditemukan di keduanya memiliki perbedaan jenis seperti yang tersaji pada tabel 1. kolam selatan memiliki jenis capung lebih sedikit dari pada kolam utara, yaitu 23 jenis capung sedangkan kolam utara terdapat 31 jenis capung. Hal ini dikarenakan, kolam selatan tidak terdapat pepohonan di sekitar kolam sehingga intensitas cahaya matahari sangat kuat, sedangkan di kolam utara terdapat banyak penutupan dari pepohonan terutama di sisi utara kolam, sehingga terdapat lokasi yang memiliki intensitas cahaya matahari kuat dan lemah. Tang Hung Bun (2010:18) mengatakan bahwa setiap jenis capung memiliki karakteristik habitat yang berbeda dari jenis lainnya, beberapa jenis capung membutuhkan tempat yang ternaungi pepohonan, jenis lainnya membutuhkan intensitas cahaya yang kuat. Semakin beragam kondisi klimatik suatu tempat maka jenis-jenis capung yang tinggal di dalamnya juga semakin banyak.
Kondisi habitat hidup capung Jogja Adventure Zone tergolong baik, terbukti
dengan tingginya keanekaragaman capung yang ada di sana. Hal ini dikarenakan kedua kolam di Jogja Adventure Zone memiliki substrat dasar berupa pasir, bebatuan, dan lumpur, terdapat aliran air masuk di sisi utara dan aliran air keluar di sisi selatan, dan sebagian besar dipenuhi oleh Eceng Gondok dan Hydrila. Sebagamana yang dikemukakan oleh Jill Silsby (2011 : 65) bahwa perairan yang mengalir merupakan kondisi yang bagus untuk perkembangbiakan capung. Nimfa
86
capung hidup di air selama beberapa minggu hingga tahunan (Susanti,1998 : 15), habitat yang disukai oleh nimfa capung adalah dasar perairan yang berpasir atau akar-akar tanaman air. Makanan utama nimfa capung adalah hawan-hewan kecil yang ada di air antara lain ikan, serangga air, berudu, dan udang (Wahyu Sigit, 2013 : 25) yang semua banyak terdapat di dalam kolam.
Capung dewasa memiliki karakteristik habitat hidup lebih beranekaragam. Zygoptera atau capung jarum pada umumnya hidup tidak jauh dari perairan dan daerah jelajahnya sangat kecil. Jenis capung Coenagrionidae banyak ditemui bertengger di rerumputan sekitar kolam atau di tanaman-tanaman air di permukaan perairan yang memimiliki intensitas cahaya matahari optimal, famili lain lebih menyukai tumbuhan perdu dan minim cahanya matahari. Makanan capung jarum adalah kecil seperti lalat buah, belalang, dan nyamuk, beberapa jenis lain ada yang kanibal misalnya jenis Ischnura senegalensis.
Anisoptera atau capung biasa memiliki daya jelajah lebih luas (Borror, 1992
: 244), famili Gomphidae umumnya memiliki daerah teritorial yang hanya dihuni oleh 2-3 individu jenis tersebut saja dan menyukai ranting-ranting kering di atas permukaan air. Jenis Libellulidae lebih bervariasi, Crocothemis servilia menyukai alang-alang atau rumput-rumput yang tinggi untuk beristirahat, sedangkan Pantala
flavecens menyukai pucuk-pucuk pohon yang sangat tinggi untuk beristirahat.
Makanan capung Anisoptera adalah serangga-serangga yang ukuranya tidak lebih besar dari ukuran mereka, antara lain belalang, ulat, kepik, dan beberapaa jenis capung seperti Orthetrum sabina dan Rhodothemis rufa merupakan capung kanibal yang memakan sejenisnya atau jenis capung lain (Wahyu Sigit, 2013 : 28).
87