• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEARIFAN LOKAL PERADILAN MASYARAKAT DAYAK

5 Pembahasan BAB V 103

5.3. KEARIFAN LOKAL PERADILAN MASYARAKAT DAYAK

Fakta di lapangan banyak dijumpai bahwa yurisdiksi peradilan adat memilikikarakter tersendiri yang membedakannya dengan peradilan nasional, karena peradilan adat bisa mencakup publik, privat, dan atau kombinasi keduanya dalam satu persidangan. Dalam prakteknya, bisa berlangsung sangat informal, cukup dengan mekanisme mediasi, dengan kemungkinan ruang negosiasi atas prosesnya.

Dalam praktek peradilan adat yang terkait dengan fungsinya, maka peradilan adat terkait dengan tiga persoalan, yakni pada tataran praktis, bahwa peradilan adat merupakan lembaga peradilan yang bertugas menyelesaikan masalah-masalah yang menganggu ketentraman dan keharmonisan komunitas masyarakat adat seperti persoalan batas tanah/kebun, perzinahan, warisan, perkawinan, ternak yang menganggu pekarangan atau kebun, dan pelanggaran-pelanggarana lainnya yang menyangkut anggota suatu komunitas adat dengan sesamanya dan dengan pihak lainnya diluar komunitasnya. Pandangan terhadap penyelesaiaan ini bersifat sosiologis dibandingkan tindakan-tindakan bersifat hukum sebagaimana dipahami dalam hukum modern. Hal ini tercermin dari ungkapan yang sangat umum “upaya penyelesaian secara kekeluargaan”. Ungkapan ini memiliki arti bahwa setiap anggota komunitas merupakan satu keluarga atau rumah tangga. Oleh karenanya, maka setiap persoalan yang menyangkut urusan keluarga dan karenanya harus diselesaikan di dalam keluarga sendiri. Dan peranan dari lembaga adat serta kepala adat hanaya mendamaikan saja pihak yang bersengketa.

Unsur terpenting dalam penyelesaian secara kekeluargaan terletak pada cara membatasi cakupan kasus, tidak memperluas pihak yang terlibat dan unsur ”maaf” menjadi unsur penghubung dan pendamai para pihak yang bersengketa. Bilamana upaya penyelesaian secara kekeluargaan tidak dapat dilaksanakan atau menemui kegagalan, maka ditempuh upaya

122

penyelesaian melalui peradilan adat. Di Kalimantan Barat umumnya penyelesaian melalui peradilan adat dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat peradiilan terendah sampai pada tingkat peradilan tertinggi.

Pada tataran konseptual bahwa upaya-upaya menyelesaikana sengketa melalui hukum adat dan peradilan adat dipandang sebagai upaya menggapai otonomi masyarakat adat. Peluang ini muncul sejalan dengan adanya otonomi daerah dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap peradilan negara yang tidak memberikan kepada masyarakat pencari keadilan, sehingga masyarakat lebih mempercayai peradilan adat yang dapat memberikan rasa keadilan kepada masyarakkat. Untuk itu, upaya menghidupkan kembali peradilan adat dilihat sebagai upaya menggembangkan ”kedaulatan” hukum masyarakat adat.

Selanjutnya pada tataran ideologis, bahwa sistem hukum adat menyangkut aspek mental dan spiritual. Aspek ini menyangkut sistem nilai yang dianut pada suatu komunitas masyarakat adat, nilai-nilai tersebut dipengaruhi pula oleh dinamika sosial politik dan ekonomi masyarakat adat.

Di Kalimantan Barat, keyakinan tentang asal-usul orang Dayak sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, yaitu alam roh, lingkungan sekitar termasuk hewan dan tumbuhan dan manusia banyak mempengaruhi gerak langkah orang Dayak dalam berhubungan dengan lingkungan hidupnya maupun dengan kelompok masyarakat lain. Pada posisi ini yang terpenting adalah bagaimana menduduk-letakkan sistem peradilan adat khususnya dan komunitas masyarakat adat pada umumnya secara lebih proposional terhadap keberadaan kelompok masyarakat lain sekaligus negara sebagai suatu sistem payung bagi semua kelompok masyarakat89.

Gambar 12. Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka fungsi dan peranan peradilan adat memiliki arti penting dalam penyelesaian perkara di masyarakat adat. Menurut Matt, ada beberapa alasan yang menyebabkan masyarakat lebih memilih penyelesaian sengketa secara informal.

Peradilan non-negara lebih dipilih karena mudah diakses, cepat dan murah. Matt memberikan

89 Op.cit, hal-106-107.

123

contoh bagaimana kasus pembunuhan di Palangkaraya bisa diselesaikan dalam tiga minggu.

Kalau lewat pengadilan negara bisa bertahun-tahun90. Disamping itu, peradilan non-formal lebih felksibel. Maksudnya, struktur dan norma yang berlaku di sama bersifat longgar untuk menyelesaikan dengan perubahan sosial.

Sedangkan Harifin melihat keberadaan lembaga yang dapat menyelesaikan perselisihan kecil diantara para warga desa sesuai dengan sistem peradilan yang berkembang di negara modern yang bertujuan mewujudkana keadilan restoratif, dimana suatu konflik atau kejahatan harus dilihat bukan semata-maata sebagai pelanggaran hukum negara, tetapi konflik tersebut merepresentasikan terputusnya dan terpecahnya relasi antara dua atau lebih orang dalam masyarakat91.

Prof. Dr. Thumbun Anyang, SH pada semiloka Hukum Adat di Sanggau menyatakan bahwa di kalangan masyarakat Dayak, biasanya suatu sengketa tidak langsung digelar perkara dihadapan umum melalui peradilan adat untuk meminta penyelesaian kepada ketua adat dana para tetua adat setempat, melainkan melalui beberapa tahapan. Sangat jarang suatu penyelesaian diminta langsung ke Temanggung, kecuali penganiayaan berat atau pembunuhan. Tahapan pertama, sengketa diselesaikan secara kekeluargaan. Tahapan kedua, bila sengketa tidak dapat diselesaikan pada tahapan pertama, barulah sengketa diminta penyelesaian pada ketua adat kampung bersama para tetua adat setempat melalui peradilan adat. Tahapan ketiga, sekiranya belum juga selesai pada tahapan sebelumnya, maka diminta penyelesaian pada Temenggung bersama tetua adat sekampung dan biasanya mengundangg beberap atetua adat terkenal dari kampung lain yang warganya tidak terlibat dalam sengketa itu92.

Penyelesaian perkara mengacu hukum adat melalui peradilan adat adalah kebutuhan bersifat mutlak (conditio sine qua non) bagi masyarakat adat Dayak. Guru Fakultas Humum Universitas Tanjungpura, Prof. Dr YC Thambun Anyang, SH, berpendapat, kebutuhan itu disebabkan masih kuatnya alam pikiran religio magis dan perasaan kebersamaan di kalangan etnis Dayak.

Peradilan adat menjadi alternatif terbaik penyelesaian perkara, karena lettak kampung mereka jauh dari ibu kota. Untuk berperkara di peradilan negara di kota, mereka harus menempuh jalan darat yang buruk. Karena itulah, peradilan tetap bertahan hingga sekarang. ”Peradilan adat dirasakan cepat, murah, sederhana, dan tepat. ”Ujar Thambun Anyang. Adat malu masih cukup kuat dianut masyarakat Dayak. Mereka umumnya merasa sangat malu apabila harus bersengketa, apalagi berperkara di muka umum. Sengketa maupun perselisihan perkara tidak disukai warga etnis Dayak sehingga sedapat mungkin dihindari. Peradilan adat tidak secara sekonyong-konyong dilakukan untuk menyelesaikan perkara. Sengketa biasanya diselesaikan dulu melalui musyawarah secara kekeluargaan tanpa mengabaikan penerapan adat serta hukum adat. ”Peradiilan adat baru dilakukan apabila penyelesaian secara kekeluargaan tidak

90 Op.Cit 91 Ibid 92 Op. Cit.

124

berhasil”. Thambun Anyang menambahkan. Asas kerukunan, kepatutan, dan keselarasan dipertimbangkan dalam upaya penyelesaian perkara oleh para ketua adat maupun tetua adat. Diharapkan perkaara bisa diselesaikan secara tuntas, tanpa perasaan dendam. Pelaku maupun korban dapat saling memaafkan, serta melannjutkan kembali kehidupan secara damai. Kompetensi para tetua adat yang memimpin sidang peradilan adat sangat diperlukan, agar bisa diperoleh penyelesaian perkara terbaik mengacu pada asas kerukunan, kepatutan, dan keselarasan. Sanksi atau denda adat yang diputuskan dan diterima kedua belah pihak selanjutnya harus dibayar. Terkadang orang-orang yang berperkara tidak puas atas putusan peradilan adat. Ketika sanksi adat dirasakan tidak cukup adil, mereka mengajukan gugatan memakai hukum formal93.

Terkait dengan fungsi peradilan adat tersebut, Irene A. Muslim menegaskan bahwa fungsinya adalah fokus melaksanakan hukum adat berupa lembaga penegak hukum, melakukan tindakan menuntut, mengadili dan menjatuhkan sanksi hukum kepada pelanggar norma-norma yang berlaku pada pranata-pranata yang ada94. Norma-norma yang berlaku pada pranata masyarakat tersebut berkaitan satu sama lainnya, sehingga menjadi suatu sistem norma yang luas. Oleh karena itu, maka sistem norma tersebut dikenal sebagai ”ahli adat”95. Ahli adat ini menjelma menjadi fungsionaris adat atau petugas adat. Para ahli adat ini mempunyai kedudukan sebagai Pemuka Adat, Temanggung, Kepala Adat, Kepala Kampung atau Kabayan96. Adapun tugas dari petugas adat atau fungsionaris adat tersebut meliputi :

1) Memberikan pedoan kepada anggota masyarakat, bagaimana seharusnya bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat. Dan merupakan dasar dari tingkah laku tersebut adalah kebiasaan yang bersifat normatif yaitu adat dan hukum adat.

2) Menjaga keutuhan persekutuan dalam masyarakat, supaya persekutuan tersebut tetap terpelihara dan dapat dirasakan sebagai tindakan anggota masyarakat yang tidak sesuai dengan adat dan hukum adat.

3) Memberi pegangan kepada anggota masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial. Pengendalian sosial tersebut lebih bersifat pengawasan terhadap tingkah laku masyarakat sehingga hidup persekutuan dapat dipertahankan dengan sebaik-baiknya

4) Memperhatikan setiap keputusan-keputusan yang telah ditetapkan oleh hukum adat, sehingga keputusan tersebut mempunyai wibawa dan dapat memberikan kepastian hukum yang mengikat semua anggota masyarakat.

5) Merupakan tempat bersandarnya anggota masyarakat untuk menyelesaikan, melindungi dan menjamin ketentraman, maka kepala adat adalah satu-satunya tempat anggota masyarakat bersaandar untuk menyelesaikan masalahnya.

6) Sebagai tempat anggota masyarakat menanyakan segala sesuatu yang berhubungan

93 Ibid

94 Irene A. Muslim, Peradilan Adat Pada Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, Untan, 1991.

95 Ibid 96 Ibid

125

dengan pengetahuan dan hukum adat. Hal ini sangat penting sebab tidak semua anggota masyarakat mengetahui, mengerti dan memaahami tentang seluk-beluk adat dan hukum adat. Dengan fungsinya yang demikian, maka kepala adat boleh dikatakan sebagai media informasi adat dan hukum adat dalam masyarakat.

7) Sebagai tempat anggota masyarakat menyelesaikan segala masalah, baik yang menyangkut urusan hidup maupun urusan yang berkaitan dengan kematian.

Fungsi tersebut sanagat penting karena tidak semua anggota masyarakat menyelesaikan masalahnya sendiri, kecuali meminta keterlibatan kepala adat untuk menyelesaikannya.

8) Sebagai bapak masyarakat yang mengepalai persekutuan, dimana fungsi tersebut lebih memperlihatkan kepemimpinan yang dapat menjadi teladan dalam pergaulan di tengah masyarakat97.

Adapun peran strategis yang ”dimainkan” oleh kepala adat dalam penyelesaian sengketa atau perselisihan di masyarakat adat tersebut, antara lain sebagai berikut :

1. Mengenakan sanksi terhadap anggota masyarakat yang telah melakukan pelanggaran adat. Pengenaan sanksi tersebut hanya menyangkut satu bidang pelanggaran saja, tetapi menyangkut semua pelanggaran keseimbangan hukum adat.

2. sebagai pelaksana hukum adat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mempunyaia maksud supaya hukum adat yang telah berlaku tersebut dipertahankan keutuhannya dengan cara menyelesaiakan segala bentuk pelanggaran adat. Dengan menyelesaikan segala sengketa yang timbul dalam masyarakat berarti ada upaya untuk menegakkan hukum adat, untuk meemberitahu hukum adat yang berlaku dalam masyarakat, sebab tidak semua anggota masyarakat mengetahui dan memahami tenetang hukum adat. Oleh karena itu kepala adat disini berperan sebagai media informasi yang cukup efektif memberitahu hukum adat kepada masyarakat98.

Dengan demikian, maka harus ada seseorang yang ditunjuk untuk menjaga keberlangsungan tanah adat tersebut juga bertindak sebagai hakim adat jika adat pelanggaran terhadap tanah adat tersebut. Pada masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, hakim adat tersebut disebut dengan Damang. Damang ini juga merupakan kepala persekutuan adat yang bertugas mengadili pelanggaran terhadap hukum adat dan teritori adat (hierarki peradilan adat di Kalteng terdiri dari damang di tingkat kecamatan, desa dan kampung).

Dalam Pasal 7 PERDA KALTENG No. 16 tahun 2008, Damang Kepala Adat berkedudukan di ibu kota kecamatan sebagaimitra Camat dan mitra Dewan Adat Dayak kecamatan, bertugas dalambidang pelestarian, pengembangan dan pemberdayaan, adat istiadat,kebiasaan-kebiasaan dan berfungsi sebagai penegak hukum adatDayak dalam wilayah Kedamangan

97 Soleman Biasene Taneko. Dasar-dasar Hukum Adat. Alumni. Bandung, 1981. hal 54.

98 Ibid, Hal. 32

126

bersangkutan. Sedangkan Fungsi Damang Kepala Adat adalaha. mengurus, melestarikan, memberdayakan dan mengembangkanadat istiadat, kebiasaan-kebiasaan, hukum adat dan lembaga

Kedamangan yang dipimpinnya; b. menegakkan hukum adat dengan menangani kasus dan atau sengketa berdasarkan hukum adat dan merupakan peradilan adat tingkat terakhir; dan c. sebagai penengah dan pendamai atas sengketa yang timbul dalam masyarakat berdasarkan hukum adat. Selain fungsi di atas, Damang KepalaAdat juga mempunyai fungsi selaku inisiator untuk membawa penyelesaian terakhir sengketa antara para Damang terkait tugas dan fungsinya kepada Dewan Adat Dayak Kabupaten/Kota.

Bentuk sanksi adat adalah jipen atau singer mempunyai peran dalam kehidupan masyarakat Dayak, setiap pelanggaran aturan adat harus diberi sanksi (jipen/singer) yang berfungsi sebagai sarana untuk mengembalikan keseimbangan yang terganggu. Sanksi jipen merupakan sanksi yang sangat ditakuti dalam masyarakat adat, namun akhir-akhir ini sanksi adat jipen banyak mendapat tanggapan antara pro dan kontra. Bahkan ada sebagian pihak yang menganggap sanksi jipen sudah tidak relevan. Menurut Nathan Ilun, sebagaimana dikutif oleh Herdiwang Tabat, menyatakan untuk saat ini sudah tidak tepat lagi menggunakan istilah jipen dan lebih tepat disebut singer.99 Sebenarnya istilah jipen dan singer mengandung pengertian yang sama yaitu sanksi adat. Berbagai jenis sanksi jipen/singer yang masih hidup di masyarakat dapat dikelompokan menjadi 3 kelompok, yaitu : 1). Mengganti kerugian dalam berbagai rupa, seperti pembayaran uang adat kepada orang yang terkena, menyerahkan barang adat seperti guci, gong, pisau mandau sebagai pengganti kerugian rohani. 2). Melaksanakan upacara adat (korban) untuk pembersihan batin si korban, membersihkan masyarakat dari segala aib, sebagai bentuk permohonan maaf si pelaku kepada para leluhur secara rohaniah.

3). Pengasingan (dikucilkan) dari masyarakat diluar tata hukum, bentuk pertangung jawaban secara batiniah si pelaku atas pelanggaran adat yang dilakukannya.

Pada prinsipnya, penjatuhan sanksi adat jipen adalah sebagai tindakan hukum bukan ditujukan sebagai pembalasan atas tindakan pelanggar hukum adat, melainkan lebih ditujukan sebagai sarana untuk mengenbalikan suasana harmonis dalam kehidupan masyarakat adat, baik dalam kehidupan duniawi nyata mapun dunia tidak nyata (gaib), baik secara batiniah maupun secara rohaniah sehingga perlu adanya pembersihan.Apabila suatu kasus sulit untuk dibuktikan, karena pihak yang disangkakan telah melakukan pelanggaran hukum adat tetapi tidak mau mengakuinya, maka Kerapatan Mantir/Let Perdamaian Adat dapat melakukan upaya terakhir dengan melaksanakan “Sumpah Adat” yang berlaku di wilayah kedamangan bersangkutan.

Sumpah Adat adalah upaya terakhir yang dapat dilakukan oleh Damang beserta para Mantir Adat dalam menangani suatu perkara atau sengketa adat yang pembuktiannya menemui jalan buntu.Sumpah adat atau dapat juga disebut “Sumpah Pemutus” dilakukan menurut tata

99 Herdiwang Tabat,2008, Buku Hukum Adat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah, tanpa penerbit, Panagkaraya, hal.04-05.

127

cara hukum adat setempat dengan penuh pertimbangan dan kehatihatian, hanya dilakukan sebagai upaya terakhir dan sangat terpaksa.

Sedangkan di Kalimantan Barat, permasalahan yang ada biasanya tidak langsung diselesaikan timanggong. Sangat jarang suatuperkara langsung dimintakan penyelesaian kepada timanggong, kecuali penganiayaanberat dan pembunuhan. Untuk perkara-perkara ringan seperti pencurian, penipuan, bias diselesaikan dalam peradilan adat yang dipimpin kepala desa. Sebagai tahap awal, sengketa diselesaikan secara kekeluargaan. Meski digelar tertutup, peradilan adat tetapmengacu ketentuan hukum adat yang berlaku. Siapa yang dinyatakan bersalah dalamsidang itu, atau pun secara sukarela mengaku bersalah, tetap harus menjalani sanksiadat. Apabila sengketa tidak dapat diselesaikan, ketua adat kampung bersama para tetua adat setempat akan diminta ikut menyelesaikan perkara melalui peradilan adat. Biasanya tahapan ini belum melibatkan timanggong. Jika sengketa tetap belum bias diselesaikan ketua adat kampung, barulah perkara diselesaikan timanggong bersama para tetua adat sekampung. Sidang adat ikut dihadiri tetua adat dari kampung lain, meskipun sengketa yang disidangkan itu tidak melibatkan warga mereka.Sanksi adat biasanya berbentuk denda yang dibayar dengan benda-benda adat. Untukkasus pati nyawa yaitu pelanggaran besar yang mengakibatkan kematian secara tak disengaja, maupun pati delima yaitu pelanggaran besar yang mengakibatkan kematian secara sengaja atau terencana. Dalam kasus itu si pelaku harus membayar batang tubuh yang disimbolkan dengan barang-barang, misalnya tempayan tajau, tempayan biasa, molo (tutup tempayan), dan cangkul (besi), apabila sulit mendapatkan benda untuk sanksi adat tersebut maka dapat diganti dengan uang.