• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Kepemimpinan dan Tatanan Hukum Adat

Deskripsi Wilayah

TABEL 4.2. SUBSUKU DAYAK YANG ADA DI KALIMANTAN BARAT BERDASARKAN HASIL PENELITIAN ETNOLINGUISTIK

A. Pangaraga/Pamane

8. Dayak Kotawaringin Barat

4.2.3. Struktur Kepemimpinan dan Tatanan Hukum Adat

Dalam Perda dinyatakan bahwa Damang Kepala Adat adalah pimpinan adat dan Ketua Kerapatan Mantir Perdamaian Adat tingkat kecamatan yang berwenang menegakkan hukum adat Dayak dalam suatu wilayah adat yang pengangkatannya berdasarkan hasil pemilihan oleh para kepala desa/kelurahan, para ketua Badan Permusyawaratan Desa, Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan, para Mantir Adat Kecamatan, para Ketua Kerapatan Mantir Adat Perdamaian desa/kelurahan yang termasuk dalam wilayah Kedamangan tersebut. Tindak lanjut dari Perda tersebut maka dikeluarkan Pergub No. 13 tahun 2009 ( direvisi dengan Pergub No. 4 tahun 2012) Tentang Tanah Adat Dan Hak-Hak Adat Di Atas Tanah Di Provinsi Kalimantan Tengah.Seorang Damang Kepala Adat dianggap tidak sah kalau tidak ada Surat Keputusan Bupati. Jadi, sah tidaknya Damang Kepala Adat itu bukan dari masyarakat adatnya, melainkan dari pemerintah.

84

Lembaga Kedamangan sebagai salah satu unsur Kelembagaan Adat Dayak yang hidup, tumbuh dan berkembang bersamaan dengan sejarah Masyarakat Adat Dayak Kalimantan Tengah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, bersinergis dan didukung oleh Majelis Adat Dayak Nasional, Dewan Adat Dayak Provinsi, Dewan Adat Dayak Kabupaten/ Kota, Dewan Adat Dayak Kecamatan dan Dewan Adat Dayak Desa/Kelurahan.

Damang Kepala Adat bertugas :

a. menegakkan hukum adat dan menjaga wibawa lembaga adat Kedamangan ; b. membantu kelancaran pelaksanaan eksekusi dalam perkara perdata yang

mempunyai kekuatan hukum tetap, apabila diminta oleh pejabat yang berwenang;

c. menyelesaikan perselisihan dan atau pelanggaran adat, dimungkinkan juga masalah-masalah yang termasuk dalam perkara pidana, baik dalam pemeriksaan pertama maupun dalam sidang penyelesaian terakhir sebagaimana lazimnya menurut adat yang berlaku ;

d. berusaha untuk menyelesaikan dengan cara damai jika terdapat perselisihan intern suku dan antara satu suku dengan suku lain yang berada di wilayahnya ;

e. memberikan pertimbangan baik diminta maupun tidak diminta kepada pemerintah daerah tentang masalah yang berhubungan dengan tugasnya ;

f. memelihara, mengembangkan dan menggali kesenian dan kebudayaan asli daerah serta memelihara benda-benda dan tempattempat bersejarah warisan nenek moyang ;

g. membantu pemerintah daerah dalam mengusahakan kelancaran pelaksanaan pembangunan di segala bidang, terutama bidang adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan dan hukum adat;

h. mengukuhkan secara adat apabila diminta oleh masyarakat adat setempat para pejabat publik dan pejabat lainnya yang telah dilantik sebagai penghormatan adat;

i. dapat memberikan kedudukan hukum menurut hukum adat terhadap hal-hal yang menyangkut adanya persengketaan atau perkara perdata adat jika diminta oleh pihak yang berkepentingan;

j. menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan nilai-nilai adat Dayak, dalam rangka memperkaya, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional pada umumnya dan kebudayaan Dayak pada khususnya ;

k. mengelola hak-hak adat, harta kekayaan adat atau harta kekayaan Kedamangan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kemajuan dan taraf hidup masyarakat ke rah yang lebih baik;

l. menetapkan besarnya uang sidang, uang meja, uang komisi, uang jalan, dan lap tunggal dalam rangka pelayanan /penyelesaian kasus dan atau sengketa oleh Kerapatan Mantir Perdamaian Adat, baik tingkat kecamatan maupun tingkat desa/

kelurahan.

85

Fungsi Damang Kepala Adat adalah:

a. mengurus, melestarikan, memberdayakan dan mengembangkan adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan, hukum adat dan lembaga kedamangan yang dipimpinnya;

b. menegakkan hukum adat dengan menangani kasus dan atau sengketa berdasarkan hukum adat dan merupakan peradilan adat tingkat terakhir; dan

c. sebagai penengah dan pendamai atas sengketa yang timbul dalam masyarakat berdasarkan hukum adat.

Selain fungsi di atas, Damang Kepala Adat juga mempunyai fungsi selaku inisiator untuk membawa penyelesaian terakhir sengketa antara para Damang terkait tugas danfungsinya kepada Dewan Adat Dayak Kabupaten/Kota. Damang juga diberi wewenang menerbitkan Surat Keterangan Tanah (SKT) Adat dan Hak-hak Adat Di Atas Tanah, Yang dimaksud dengan surat keterangan tanah adat (SKTA) adalah surat tanda bukti pengakuan lembaga Kedamangan atas tanah hak adat atau hakhak adat di atas tanah tersebut. Surat keterangan tanah adat dimaksud apabila dikehendaki oleh pemegang haknya, dapat dijadikan bukti untuk didaftarkan sebagai hak atas tanah yang sesuai menurut ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria. Dalam menetapkan Surat Keterangan Tanah Adat (SKTA) dan Hak-hak Adat Di Atas Tanah Damang Kepala Adat wajib mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a. Bukti tertulis terdahulu (kalau ada) b. Bukti penguasaan fisik

c. Bukti saksi

d. Bukti pengakuan yang bersangkutan

e. Berita Acara Hasil Kerapatan Mantir Perdamaian Adat

Damang dibantu oleh Sekretaris Damang dalam hal pengarsipan terkait surat menyurat yang berkaitan dengan masalah hukum adat baik berupa ranah pidana maupun perdata.

Sekretaris Damang juga mempunyai fungsi sebagai panitera peradilan adat, menerima laporan masalah sengketa adat sekaligus mengatur tentang adminitrasi pembiayaan persidangan adat.

Selanjutnya terdapat Kerapatan Mantir Adat atau Kerapatan Let Adat, yaitu perangkat adat pembantu Damang atau gelar bagi anggota Kerapatan Mantir Perdamaian Adat yang ada di tingkat kecamatan dan anggota Kerapatan Mantir Perdamaian Adat tingkat Desa/Kelurahan, berfungsi sebagai peradilan adat yang berwenang membantu Damang Kepala Adat dalam menegakkan hokum adat Dayak di wilayahnya.

Kerapatan Mantir Adat berdasarkan Pergub No.13 Tahun 2009 mempunyai fungsi mengatur tentang kepemilikan, pengelolaan, penguasaan, pemanfaatan maupun pengalihan kepemilikan tanah adat dan hak-hak adat di atas tanah. Kerapatan Mantir Adat juga menerbitkan Berita Acara terkait adanya permohonan pembuatan SKTA berdasarkan hasil musyarah Kerapatan Mantir yang disahkan oleh Damang. Ketetapan hasil musyarah Kerapatan Mantir bersifaf mengikat bagi masyarakat adat Dayak. Dalam penerbitan SKTA ini sering menimbulkan

86

gesekan dengan aparat desa, karena Damang dianggap sering mengeluarkan SKTA dalam luasan yang terlalu besar dan berpotensi tumpang tindih, selain itu Damang tidak membuat riwayat tanah sehingga menimbulkan keraguan bagi BPN untuk memproses alas haknya. BPN mensyaratkan dalam proses permohonan hak SKTA harus disertai dengan Surat Pernyataan yang dibuat aparat Desa. Untuk mengendalikan penguasaan tanah dalam jumlah besar atau sangat luas maka perlu ada pembatasan penguasaan tanah milik bersama ataupun tanah milik perorangan. Dalam sistem Hukum Adat Dayak di Palangkaraya, juga diatur mengenai sanksi adat. Sanksi adat jipen atau singer mempunyai peran dalam kehidupan masyarakat Dayak, setiap pelanggaran aturan adat harus diberi sanksi (jipen/singer) yang berfungsi sebagai sarana untuk mengembalikan keseimbangan yang terganggu.

Sanksi jipen merupakan sanksi yang sangat ditakuti dalam masyarakat adat, namun akhir-akhir ini sanksi adat jipen banyak mendapat tanggapan antara pro dan kontra. Bahkan ada sebagian pihak yang menganggap sanksi jipen sudah tidak relevan. Menurut Nathan Ilun, sebagaimana dikutif oleh Herdiwang Tabat, menyatakan untuk saat ini sudah tidak tepat lagi menggunakan istilah jipen dan lebih tepat disebut singer76. Sebenarnya istilah jipen dan singer mengandung pengertian yang sama yaitu sanksi adat. Berbagai jenis sanksi jipen/singer yang masih hidup di masyarakat dapat dikelompokan menjadi 3 kelompok, yaitu : 1). Mengganti kerugian dalam berbagai rupa, seperti pembayaran uang adat kepada orang yang terkena, menyerahkan barang adat seperti guci, gong, pisau mandau sebagai pengganti kerugian rohani. 2). Melaksanakan upacara adat (korban) untuk pembersihan batin si korban, membersihkan masyarakat dari segala aib, sebagai bentuk permohonan maaf si pelaku kepada para leluhur secara rohaniah.

3). Pengasingan (dikucilkan) dari masyarakat diluar tata hukum, bentuk pertangung jawaban secara batiniah si pelaku atas pelanggaran adat yang dilakukannya.

Pada prinsipnya, penjatuhan sanksi adat jipen adalah sebagai tindakan hukum bukan ditujukan sebagai pembalasan atas tindakan pelanggar hukum adat, melainkan lebih ditujukan sebagai sarana untuk mengenbalikan suasana harmonis dalam kehidupan masyarakat adat, baik dalam kehidupan duniawi nyata mapun dunia tidak nyata (gaib), baik secara batiniah maupun secara rohaniah sehingga perlu adanya pembersihan.

Apabila suatu kasus sulit untuk dibuktikan, karena pihak yang disangkakan telah melakukan pelanggaran hukum adat tetapi tidak mau mengakuinya, maka Kerapatan Mantir/Let Perdamaian Adat dapat melakukan upaya terakhir dengan melaksanakan “Sumpah Adat”

yang berlaku di wilayah kedamangan bersangkutan. Sumpah Adat adalah upaya terakhir yang dapat dilakukan oleh Damang beserta para Mantir Adat dalam menangani suatu perkara atau sengketa adat yang pembuktiannya menemui jalan buntu. Sumpah adat atau dapat juga disebut “Sumpah Pemutus” dilakukan menurut tata cara hukum adat setempat dengan penuh pertimbangan dan kehatihatian, hanya dilakukan sebagai upaya terakhir dan sangat terpaksa.

76 Herdiwang Tabat,2008, Buku Hukum Adat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah, tanpa penerbit, Panagkaraya, hal.04-05.

87