• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebajikan yang Membuat Kecil

Dalam dokumen Seruan Zarathustra - F.nietzsche (Halaman 124-128)

Seruan Zarathustra

49. Kebajikan yang Membuat Kecil

1

Ketika Zarathustra sekali lagi ada di dataran kering, ia tidak langsung pergi ke gunung-gunung dan guanya, tetapi membuat banyak perjalanan-perjalanan serta banyak bertanya-tanya, dan memeriksa ini dan itu; lalu ia berkata pada dirinya bergurau: „Perhatikan sungai yang mengalir balik ke sumbernya itu melalui banyak liku- liku!‟ Karena ia ingin tahu apa yang telah terjadi diantara para

manusia ketika ia pergi jauh: apakah mereka telah menjadi lebih besar atau lebih

kecil. Dan ketika ia melihat barisan rumah-rumah baru, ia takjub, serta berseru:

„Apa arti rumah-rumah ini? Sugguh, bukan manusia berjiwa besar yang mendirikan rumah-rumah ini sebagai citra dirinya!

Apa mungkin seorang anak dungu mengambil ini dari kotak- mainannya? Semoga anak lainnya akan menaruh rumah-rumah ini kembali ke dalam kotaknya!

Dan kamar-kamar duduk dan kamar-kamar tidur ini: apa para manusia bisa keluar- masuk darinya? Ini semua tampaknya dibuat bagi boneka-boneka sutera; atau bagi para pengutil kecil yang mungkin membiarkan diri mereka sendiri dikutili.‟

Dan Zarathustra berhenti dan berpikir. Akhirnya ia berkata dengan sedih: „Di sana segalanya telah menjadi lebih kecil!

Di mana- mana aku melihat pintu-pintu yang lebih rendah: semua yang sejenis aku tetap bisa masuk melaluinya, tetapi – ia harus membungkuk!

„Oh, bilakah aku kembali ke rumahku lagi, di mana aku tidak lagi harus membungkuk – tidak harus lagi membungkuk di hadapan para manusia kecil!‟ Dan Zarathustra mengesah. dan memandang ke kejauhan.

Pada hari yang sama, namun, ia berseru tentang diskursusnya mengenai kebajikan yang membuat kecil.

2

Aku pergi ketengah-tengah rakyat ini dan membuka mataku lebar-lebar: mereka tidak memaafkanku karena aku tidak cemburu pada kebajikan-kebajikan mereka.

Mereka menggigitku karena aku katakan pada mereka, bahwa bagi manusia kecil kebajikan kecil itu perlu – karena sulit bagiku untuk mengerti bahwa manusia kecil itu perlu!

Di sini aku tetap seperti seekor ayam jantan di ladang janggal, yang dipatuk-patuki ayam-ayam betina; tetapi aku tidak marah pada ayam-ayam betina dalam hal ini.

Aku sopan pada mereka, seperti pada setiap gangguan kecil; untuk menjadi berduri pada sesuatu yang kecil, bagiku ini kebijaksanaannya landak.

Mereka semua membicarakanku ketika mereka duduk-duduk di sekeliling api di malam hari – mereka membicarakanku, tetapi tidak seorang pun memikirkanku!

Ini adalah kemembisuan baru yang aku telah pelajari: suara ribut mereka menebarkan selubung ke atas pikiran-pikiranku!

Mereka saling teriak: „Apa yang mendung suram ini inginkan dari kita? Marilah kita lihat pula bahwa ini tidak akan memberikan kita wabah penyakit!‟

Dan baru-baru ini seorang perempuan menarik anaknya yang datang ke arahku: „Jauhi anak ini!‟ teriaknya; mata seperti ini menghanguskan jiwa anak-anak.‟

Mereka batuk-batuk ketika aku berseru: mereka pikir batuk-batuk ini penentang angin-angin keras – mereka tidak tahu sama sekali tentang keberingasan kebahagiaanku!

„Kita namun tidak punya waktu bagi Zarathustra‟ – maka mereka menentang; tetapi apa artinya sebuah waktu yang „tidak punya waktu‟ bagi Zarathustra?

Bahkan jika mereka memuji- mujiku: bagaimana aku bisa tidur di atas puji-pujian mereka? Seperti sabuk berduri bagiku puji-puji-pujian mereka itu: mencakarku bahkan ketika aku lepaskan.

Dan ini pula aku telah belajar di tengah-tengah mereka: ia yang memuji-muji berpura-pura untuk memberi kembali, namun sebenanya ia minta untuk diberi lebih banyak lagi!

Tanya pada kakiku jika ia suka pada sanjungan-sanjungan dan iming- iming mereka! Sungguh, kakiku tidak suka dengan irama tik-tok tik-tok ini tidak juga suka untuk menari dan berdiri.

Mereka mau memikat dan menganjurkanku kebajikan kecil; Kepada nada irama tik-tok tik-tok kebahagiaan kecil, mereka ingin membujuk kakiku.

Aku pergi ke tengah-tengah rakyat ini dan membuka mataku lebar-lebar: mereka telah menjadi lebih kecil, dan masih akan mengecil lagi: doktrin mereka

tentang kebahagiaan dan kebajikan itulah peyebabnya.

Karena mereka moderat bahkan dalam kebajikan, – karena mereka ingin santai. Tetapi hanya kebajikan yang moderat sajalah yang cocok dengan kesantaian.

Tentunya, mereka juga belajar dengan cara mereka sendiri untuk melangkah dan berjalan ke depan: ini, aku namakan kepincangan mereka. Dengan ini mereka menjadi penghalang bagi siapa saja yang tergesa-gesa.

Dan sebagian besar dari mereka maju ke depan dan pada saat yang sama melihat kebelakang, dengan leher kaku: aku mau tabrak mereka.

Kaki dan mata tidak harus berbohong, tidak pula membohongi satu sama lainnya. Tetapi ada banyak kebohongan-kebohongan di tengah-tengah rakyat kecil.

Banyak dari mereka memaui, tetapi sebagian besar dari mereka dipermaui belaka. Banyak dari mereka sejati, tetapi sebagian besar dari mereka aktor buruk.

Mereka adalah para aktor tanpa disadari, dan para aktor tanpa disengaja – yang sejati selalunya langka, khususnya para aktor sejati.

Hanya ada sedikit kejantanan di sini: maka para perempuannya membuat diri mereka kelelaki- lakian. Karena hanya ia yang cukup jantan sajalah, yang akan – menyelamatkan perempuan dalam perempuan.

Dan inilah kemunafikan yang terburuk yang aku temukan di antara mereka: bahkan mereka yang memerintah berpura-pura berkebajikan seperti mereka yang melayani.

„Aku melayani, kau melayani, kita melayani‟ – maka di sini bersenandunglah para penguasa yang munafik itu – duh, jika sang penguasa yang pertama itu hanyalah pelayan yang pertama belaka!

Ah, bahkan ke atas kemunfikan mereka pula rasa keingintahuan mataku itu hinggap; dan aku telah menerka dengan baik segala kebahagiaan-lalat mereka, dan mendengungan di sekeliling kaca jendela hangat.

Ada banyak kebaikan ada banyak kelemahan, aku lihat. Ada banyak keadilan dan belas kasihan, ada banyak kelemahan.

Terus terang, jujur, dan lemah lembut mereka pada sesamanya, seperti butir-butir pasir memaklumi butir-butir pasir lainnya.

Dengan sederhana memeluk satu kebahagiaan kecil – ini yang mereka namakan „kepasrahan‟! Dan pada saat yang sama mereka mencari secara sederhana pula kebahagiaan kecil baru lainnya.

Dalam hati mereka, mereka hanya ingin satu ini saja dari segalanya: bahwa tidak seorang pun akan mencelakakan mereka. Maka untuk itu mereka saling dahulu mendahului serta berbuat baik pada siapa saja.

Ini, namun, kepengecutan walau ini dinamakan „kebajikan.‟

Dan ketika mereka berbicara secara kasar, rakyat kecil ini, lalu aku mendengar hanya suara serak mereka belaka – nyatanya, setiap ada tiupan angin, membuat mereka serak.

Memang mereka cerdas, kebajikan-kebajikan mereka punya jejari terampil. Tetapi mereka tidak punya kepalan-kepalan tinju, jari-jari mereka tidak tahu cara untuk mengepal.

Kebajikan bagi mereka adalah sesuatu yang membuat bersahaja dan jinak: dengan ini mereka membuat serigala menjadi anjing, dan manusia sendiri menjadi binatang peliharaan terbaik.

„Kita menaruh kursi kita di tengah‟ – maka seringaian mereka berkata padaku – „dan sejauh-jauhnya dari para satria yang sekarat juga dari babi-babi rakus.‟

Namun, ini adalah – mediokritas: walau ini dinamakan kebersahajaan. 3

Aku pergi ketengah-tengah rakyat banyak lalu menebar banyak kata-kata di sana; tetapi mereka tidak tahu bagaimana untuk mengambil atau pun menyimpannya.

Mereka takjub bahwa aku datang tidak untuk mencerca ketamakan dan kejahatan mereka; sungguh, tidak pula aku datang untuk memperingatkan mereka akan pencuri dompet!

Mereka takjub mengapa aku tidak siap untuk memajukan dan mengasah kecerdasan mereka: seolah-olah mereka belum cukup lihay, dan suara-suara mereka mengilukan telingaku bagai goresan gerip di atas sabak!

Dan ketika aku berteriak: „Kutuk segala setan-setan penakut yang ada di dalam diri kau, yang ingin meratap serta menekap tangan mereka dan memuja,‟ lalu mereka berteriak: „Zarathustra tidakbertuhan.‟

Dan ini khususnya para guru yang mengajarkan kepasrahan diri yang berteriak demikian; tetapi tepatnya ke dalam telinga-telinga mereka aku senang untuk berteriak: Ya! Aku adalah Zarathustra, yang tidakbertuhan!‟

Para guru tentang kepasrahan diri ini! Di mana saja ada yang kecil, atau sakit, atau keropengan, di sana mereka merayap seperti kutu; hanya kejijikankulah yang menghentikan untuk memecahkan mereka.

Ayo! Ini adalah wejanganku ke telinga-telinga mereka: Aku Zarathustra yang tidakbertuhan, yang berseru „Siapa yang lebih tidak bertuhan daripadaku, yang ajaran-ajarannya bisa menggembirakanku?‟

Aku Zarathustra yang tidakbertuhan: di mana aku bisa menemui manusia yang setara denganku? Dan mereka adalah setara denganku, mereka yang telah memberikan pada diri mereka sendiri Kemauan mereka, dan melepaskan semua kepasrahan diri.

Aku Zarathustra yang tidakbertuhan! Aku masak setiap keberuntungan dalam periukku. Dan hanya ketika cukup matang aku akan merimanya sebagai makananku.

Dan sungguh, banyak keberuntungan-keberuntungan datang dengan sombongnya kepadaku: tetapi dengan lebih sombong lagi Kemauanku berseru padanya, lalu ia berlutut memohon dengan sangat –

Memohon supaya bisa mendapatkan perlindungan, dan kasih sayang dariku, dan berkata merayu: „Lihat saja, O Zarathustra, bagaimana seorang teman datang ke temannya!‟

Tetapi mengapa aku berseru di mana tidak seorang pun punya telinga serupaku? Lalu aku mau meneriakan ini dengan sekuat tenaga ke empat penjuru angin:

Kau akan menjadi lebih kecil dan kecil, kau rakyat kecil! Kau akan hancur remuk, kau rakyat santai! Nanti kau akan punah –

Melalui banyak kebajikan-kebajikan kecil kau, melalui banyak kelalaian-kelalaian kau, dan melalui kepasrahan-kepasrahan kecil kau!

Terlalu pemurah, terlalu lunak: ini adalah keadaan tanah kau! Tetapi agar pohon itu tumbuh besar, dia ingin untuk membelitkan akar-akar kuatnya ke sekeliling batu-batu cadas keras!

Bahkan apa-apa yang kau jauhkan itu akan menjadi rajutan jaring masadepan seluruh kemanusiaan; bahkan kehampaan kau itu pun adalah jaring laba-laba, dan laba- laba yang hidup dari darah masadepan.

Dan ketika kau mengambil, ini serupa mencuri, kau rakyat kecil yang baik; meski pun di antara para durjana, sang kehormatan berkata: „Seseorang harus mencuri ketika seseorang tidak bisa merampok.‟

„Ini diberikan‟ – ini pula doktrin kepasrahan diri itu. Tetapi aku serukan pada kau, kau rakyat santai: ini diambil, dan ini akan diambil lebih banyak dan banyak lagi dari kau!

Oh, semoga kau membuang jauh-jauh segala kemauan yang

setengah-setengah dari dalam diri kau, dan bersikap tegas dalam kelesuan kau seperti kau

bersikap tegas dalam tindakan!

Ah, kau mengerti seruanku: „Selalu kerjakan apa yang kau maui – tetapi mulanya jadilah laksana yang bisa memaui.

Selalu mencintai tetangga kau sebagai diri kau sendiri – tetapi mulanya jadilah laksana cinta itu sendiri –

Laksana cinta dengan cinta megah, laksana cinta dengan kebencian megah!‟ Maka berseru Zarathustra yang tidakbertuhan.

Tetapi mengapa aku berseru, ketika tidak ada seorang pun yang punya telinga serupaku? Namun saatnya masih terlalu dini bagiku di sini.

Aku adalah pertandaku sendiri di tengah-tengah rakyat ini, suara kokok ayam jantanku di lorong- lorong gelap.

Tetapi waktu mereka pun tiba! Dan waktuku pun tiba pula! Dari wak tu ke waktu mereka akan mengerdil, lebih miskin, lebih mandul – semak-semak miskin! tanah miskin!

Dan segera mereka harus berdiri di hadapanku serupa rumput kering dan padang datar, dan sungguh! letih akan diri mereka sendiri – dan rindu malah bagi

api daripada air!

O berkahilah saat kedatangan sang kilat! O misteri menjelang tengah hari! Gulungan api aku akan menjadikan mereka pada suatu hari nanti, dan pewarta-pewarta berlidah bara –

Suatu ketika mereka musti berikrar dengan lidah- lidah api: ini akan tiba, ini sudah dekat, tengah hari megah!

Ini seruan Zarathustra.

Dalam dokumen Seruan Zarathustra - F.nietzsche (Halaman 124-128)