• Tidak ada hasil yang ditemukan

Percakapan dengan Raja-raja

Dalam dokumen Seruan Zarathustra - F.nietzsche (Halaman 182-187)

Seruan Zarathustra

63. Percakapan dengan Raja-raja

1

Belum lagi Zarathustra berjalan sejam melalui gunung-gunung dan hutan-hutan ia melihat satu arak-arakan janggal. Sepanjang arah-jalan yang ia akan turuni datang dua orang raja berjalan kaki, didandani dengan mahkota serta selendang lembayung, terang benderang bagai burung flaminggo: mereka menggiring seekor keledai di belakang mereka penuh dimuati beban. „Apa yang raja-raja inginkan di kerajaanku?‟ kata Zarathustra penuh heran pada hatinya, dan cepat menyembunyikan dirinya di balik belukar. Tetapi ketika raja-raja maju ke hadapannya, ia berkata, setengah berteriak, serupa seorang yang berkata pada dirinya sendiri: „Janggal! Janggal! Bagaimana ini bisa terjadi, ada angin apa? Aku, lihat dua raja – dan hanya seekor keledai!‟

Lalu dua raja ini berhenti, tersenyum, memandang ke tempat darimana suara itu datang, lalu melihat ke wajah satu sama lainnya. „Kita pun berpikir demikian, di antara kita,„ kata raja sebelah kanan, „tetapi kita tidak mengucapkan ini.‟

Sang raja sebelah kiri, namun, mengangkat bahunya menjawab: „Ini mungkin seorang penggembala kambing. Atau seorang petapa yang hidup terlalu lama di tengah-tengah pepohonan dan batu-batuan. Karena hidup tanpa masyarakat akan merusak sopan-santun.‟

„Sopan-santun?‟ jawab raja yang lainnya jengkel dan pahit. „Apa yang lalu kita hindari? Bukankah itu “sopan santun”? “masyarakat baik” kita?

Sungguh, lebih baik hidup di antara para petapa dan para penggembala kambing dari pada hidup dengan masyarakat sombong, palsu, penuh kosmetik – walau mereka menamakan dirinya “masyarakat baik.”

Walau menamakan dirinya “keningratan”. Tetapi semuannya itu palsu dan busuk, terlebih- lebih darahnya - puji syukur ke penyakit jahat tua dan para dukun gadungan.

Manusia terbaik dan yang sangat aku cintai sekarang adalah petani yang sehat, kasar, cerdik, keras kepala lagi tahan menderita: sekarang ini mereka itu adalah jenis manusia yang paling ningrat.

Petani adalah manusia yang terbaik sekarang; dan jenis manusia petani musti menjadi tuan! Tetapi kerajaan kita adalah kerajaan gerombolan – aku tidak lagi membiarkan diriku ditipu. Gerombolan, namun, maknanya adalah: campur-bauran.

Gerombolan campur-bauran: di dalamnya setiap sesuatu bercampur dengan setiap sesuatunya, santo dan bangsat, priyayi dan Yahudi serta setiap binatang dari segala berokoh Nuh.

Sopan-santun! Setiap sesuatunya adalah palsu dan membusuk dengan kita. Tidak seorang pun tahu untuk menghormat lagi: tepatnya dari ini semua kita melarikan diri. Mereka mulut- madu, anjing-anjing pendesak, mereka menyepuh daun-daun palem mereka denga emas.

Kejijikan ini mencekikku, bahwa kami raja-raja sendiri telah menjadi palsu, dihias dan didandani dengan kemegahan usang leluhur kita, menjadi tontonan

bagi orang-orang yang paling bodoh, dan paling cerdik, juga bagi siapa saja yang tawar menawar untuk mendapatkan power!

Kami bukan yang pertama – namun kami musti mempura-purakan ini: kami akhirnya letih dan jijik denga penipuan ini.

Sekarang kami menghindar dari gerombolan, dari segala para pembual dan lalat hijau penggurit, bau apek para pedagang, ambisi yang menyentak-nyentak, napas berbau busuk: cih, untuk hidup di tengah-tengah gerombolan!

Cih, untuk berpura-pura sebagai orang yang pertama di tengah-tengah gerombolan! Ah, jijik! jijik! jijik! Apa pentingnya lagi raja-raja itu sekarang!‟

„Penyakit lama kau menyerang kau,‟ berkata raja sebelah kiri, „kejijikan menyerang kau, saudaraku yang malang. Namun, kau tahu bahwa seseorang bisa mendengarkan kita di sini.‟

Langsung saja Zarathustra, yang telah membuka mata dan telinganya ke pembicaraan ini, bangkit dari tempat persembunyiannya, melangkah kehadapan raja dan mulai:

„Ia yang telah mendengarkan kau, yang senang mendengarkan kau, O para raja, ia bernama Zarathustra.

Aku Zarathustra, yang sekala berkata: “Apa pentingnya raja-raja itu sekarang!” Maafkan aku, tetapi aku senang ketika kau berkata ke satu sama lainnya: “Apa pentingnya lagi raja-raja sekarang!”

Namun di sini adalah wilayah serta kekuasaanku: apa yang kau cari di wilayahku? Tetapi mungkinkah di arah-jalan kau kau telah menemui apa yang aku cari: yaitu, sang manusia utama.‟

Ketika para raja mendengar ini, mereka menepuk dada mereka serta berkata dalam satu suara: „Kita dikenali!

Dengan ketajaman kata-kata kau, kau telah memotong tebalnya hutan belukar kegelapan hati kami. Kau telah menemui penderitaan kami, karena perhatikan! Kami di arah-jalan kami sedang mencari sang manusia utama –

Manusia yang lebih tinggi daripada kami, walau kami raja. Padanya kami bawa keledai ini. Karena Manusia Yang Paling Utama musti pula menjadi dewa yang paling tinggi di dunia.

Tidak ada musibah yang lebih buruk dalam takdirnya umat manusia, selain ketika manusia yang terkuat di dunia itu bukan pula para manusia yang pertama. Lalu setiap sesuatunya menjadi palsu, rusak dan menakutkan.

Bahkan ketika mereka itu manusia yang terakhir, dan lebih seperti binatang daripada manusia, lalu nilai- nilai gerombolan itu naik dan lebih dihormati, dan akhirnya kebajikan-gerombolan berkata: Perhatikan, aku sendiri adalah kebajikan!‟

Apa yang aku barusan dengar? jawab Zarathustra. „Wah, kebijaksanaan raja-raja ini! Aku tergiur, dan sungguh, aku merasa terdorong untuk menggubah sebuah sajak untuk ini:

Bahkan jika sajak ini tidak menyenangkan setiap telinga. Aku sejak dahulu memang tidak perduli pada telinga-telinga yang tidak pernah mendengar. Ayo! Mari!

(Tetapi di sini terjadi bahwa keledai, pun, menemukan kata: dia berkata dengan jelas dan culas „Ye-a‟.)

Mabuk tanpa minum, Sybil menyesali: “Alangkah buruk sesuatunya berlangsung!

Merosot! Merosot! Tidak pernah dunia tenggelam sangat rendahnya! Roma sekarang menjadi pelacur dan bordil pula,

Romanya Kaisar menjadi binatang, dan Tuhan itu sendiri – orang Yahudi!”„

2

Dengan bait-bait Zarathustra ini para raja senang; sang raja sebelah kanan berkata: „O Zarathustra, alangkah beruntungnya kami telah datang dan melihat kau!

Karena musuh- musuh kau telah memperlihatkan kami imaji kau di cermin mereka, yang darinya kau memandang dengan seringaian setan, dan tawaan mencemooh, maka kami takut pada kau.

Tetapi apa gunanya itu! Selalu kau sengat telinga dan hati kami dengan seruan-seruan kau. Lalu akhirnya kami berkata: Seperti apa rupanya itu tidak penting!

Kami musti mendengarkan ia, ia yang mengajarkan: „Kau harus mencintai perdamaian sebagai sebuah cara untuk mulai berperang lagi, dan perdamaian yang sangat sebentar daripada lama!

Tidak satu pun pernah berseru kata-kata kesatrian ini: „Apa itu baik? Untuk menjadi berani adalah baik. Adalah perang yang baik yang mensucikan setiap alasan.‟

O Zarathustra, di kata-kata sedemikian darah bapak-bapak kami di dalam nadi kami bergejolak: itu seperti suara mata air yang berbicara pada gentong-gentong air anggur tua.

Ketika pedang-pedang saling bersilangan satu sama lain, serupa ular- ular bintik merah, lalu bapak-bapak kami mencintai kehidupan; segala matahari-matahari perdamaian bagi mereka adalah buram dan suram, perdamaian yang lama membuat mereka malu.

Bagaimana mereka mengesah, bapak-bapak kami, ketika melihat pedang-pedang berkilauan, tergantung kering di atas dinding! Bak pedang-pedang-pedang-pedang itu, mereka pun haus bagi pertempuran. Karena pedang mau minum darah, dan berkilauan dengan hasrat.‟

Ketika raja-raja berkata serta mendamba dan meleter akan kebahagiaan bapak-bapaknya, Zarathustra tercekam oleh hasrat besar untuk mencemooh dambaan mereka: karena mereka nyatanya adalah raja-raja yang sangat pendamai yang ia lihat di hadapannya, raja-raja dengan paras tua, halus. Tetapi ia mengendalikan dirinya. „Ayo!‟ katanya, „nun jauh di sana arah-jalan ke guha Zarathustra, dan hari- hari ini akan mempunyai malam yang panjang; namun, sekarang lolong duka memanggilku, harus terburu-buru untuk meninggalkan kau.

„Ini akan menghormati guhaku jika raja-raja duduk, dan menunggu di dalamnya: tetapi, tentunya, kau musti menunggu lama!

Ayo! Apa pentingnya ini! Di manakah sekarang seseorang itu belajar menunggu dengan baik selain di istana-istana? Dan seluruh kebajikan raja-raja

yang masih tersisa bukankah itu sekarang dinamakan: Kemampuan untuk menunggu!‟

Ini seruan Zarathustra.

64. Lintah

Dan Zarathustra berjalan lebih jauh dan lebih dalam lagi, penuh dengan pikiran, melalui hutan- hutan dan meliwati rawa-rawa; tetapi, seperti yang terjadi pada mereka yang berpikir sesuatu yang sulit, ia dengan tidak sengaja menginjak seorang manusia. Dan perhatikan, serta merta teriakan kesakitan dan dua kutukan serta dua puluh caci makian menyiprati mukanya: maka dalam kekagetannya ia mengangkat tongkatnya dan memukulkannya ke manusia yang ia injak itu. Tetapi segera ia sadari; dan hatinya tertawa pada kebodohannya yang baru saja ia lakukan.

„Maafkan aku,‟ katanya pada manusia yang terinjak, yang dengan marahnya bangkit dan duduk kembali, „maafkan aku dan pertamanya terimalah satu peribahasa.

Bak seorang pengembara yang bermimpi sesuatu yang jauh di jalan yang sepi, tidak sengaja menginjak seekor anjing, anjing yang sedang rebahan di sinar surya:

Keduanya langsung menyongnyong dan memaki satu sama lainnya, seperti musuh bebuyutan, keduanya ketakutan setengah mati: ini terjadi juga pada kita.

Namun! Namun – mereka sama sekali tidak lupa untuk perduli satu sama lainnya, anjing ini dan sang penyendiri ini! Bukankah mereka itu - para penyendiri!‟

„Siapa gerangan kau,‟ kata manusia yang terinjak itu, tetap marah, „kau datang terlalu dekat padaku tidak saja dengan peribahasa tetapi juga dengan kaki kau!

Karena lihatlah, apa aku ini anjing?‟ – Lalu manusia yang duduk itu bangkit dan mengangkat lengan telanjangnya dari rawa. Karena sebelumnya ia menelungkup di geladak, tersembunyi tidak dikenal, seperti seseorang yang sedang berbaring menunggu permainan rawa.

„Tetapi apa yang kau kerjakan!‟ teriak Zarathustra terkejut, karena ia melihat banyak darah mengucur lengan telanjangnya, „siapa yang melukakan kau? Apa binatang jahat menggigit kau, manusia tidak bahagia?‟

Manusia berdarah tertawa, tetap marah. „Apa ini bagi kau?‟ katanya, lalu siap pergi. ‟Di sini aku di rumahku dan di wilayahku. Sesiapa yang mau bertanya padaku, silahkan: tetapi aku jarang menjawab pada si gebleg!‟

„Kau salah,‟ kata Zarathustra penuh sayang, dan memegang kuat ia, „kau salah. Disini kau bukan di rumah kau tetapi di wilayahku, dan aku tidak memperbolehkan seseorang untuk dilukai di sini.

Namakan aku apa saja semau kau – tetapi aku adalah apa yang aku musti menjadi. Aku menamakan diriku Zarathustra.

Ayo! Di atas nun jau di sana-arah jalan ke guha Zarathustra: tidak lah jauh – tidak maukah kau merawat luka kau di rumahku?

Segala sesuatunya berjalan buruk dengan kau di dalam kehidupan ini, kau manusia tidak bahagia: di awalnya seekor binatang menggigit kau, lalu – seorang manusia menginjak kau!‟

Namun ketika manusia yang terinjak ini mendengar nama Zarathustra, ia berubah. „Apa yang telah terjadi padaku!‟ teriaknya, „siapa yang memenuhi

pikiranku dalam kehidupan selama ini, selain daripada manusia ini, Zarathustra,

dan binatang yang yang hidup oleh darah, lintah ini?

Demi lintah aku telah bertelungkup di sini di sisi rawa-rawa ini, seperti seorang nelayan, dan telah pula bentangan lenganku digigit sepuluh kali; lalu lintah yang lebih baik menggigit darahku, Zarathustra ini sendiri!

Oh kebahagiaan! Oh keajaiban! Terpujilah hari ini, yang memikatku ke rawa ini! Terpujilah cangkir yang terbaik, yang penuh semangat yang hidup sekarang, terpujilah lintah megah suara hati nurani, Zarathustra!‟

Maka berkatalah manusia yang terinjak ini dan Zarathustra gembira akan kata-kata dan kesopan-santunan serta kehalusan budi pekertinya. „Siapa gerangan kau?‟ ia bertanya, dan mempersembahkan tangannya, „di antara kita masih ada banyak yang harus diterangkan dan jelaskan: tetapi, ini tampaknya bagiku, hari terang yang murni benderang sudah menyingsing.‟

„Aku adalah spirit suara hati,‟ jawab yang yang ditanya, „dan mengenai spirit tidak ada seorang pun yang lebih tegar, keras, kejam daripadaku, kecuali seseorang yang telah mengajariku, Zarathustra itu sendiri.

Lebih baik untuk tidak tahu sama sekali daripada tahu banyak tetapi setengah-setengah! Lebih baik menganggap diri sendiri bodoh daripada dianggap bijaksana oleh orang lain! Aku – menyelidiki segala sesuatu hingga ke akar-akarnya:

Apa pentingnya jika ini besar atau kecil? Jika ini rawa-rawa atau langit? Geladak selengan sehasta cukup bagiku: hanya jika ini geladak padat penuh!

Geladak selengan sehasta: asalkan seseorang bisa berdiri di atasnya. Dalam ilmu pengetahuan murni, tidak ada besar, tidak ada kecil.‟

Kalau begitu mungkinkah kau ahli lintah?‟ tanya Zarathustra. „Dan kau menyelidiki lintah hingga ke akar-akarnya, kau manusia suara hati?‟

„O Zarathustra,‟ jawab manusia yang terinjak ini, „ini akan menjadi tugas yang amat besar, bagaimana aku bisa melakukannya!

Namun apa yang aku kuasai dan pakari itu adalah otak lintah: – itu adalah duniaku!

„Dan itu pula adalah dunia! Tetapi maafkan aku bahwa keangkuhanku di sini berbicara banyak, karena di sini tidak ada yang setara denganku. Mengapa itu aku berkata “di sini aku dirumahku”.

Sudah sebegitu lamanya aku meneliti satu benda ini, otak lintah, maka kebenaran yang licin sekali pun di sini tidak lagi bisa melepaskan dirinya jauh dariku! Di sini adalah wilayahku!

Demi ini aku telah membuang segala yang lainnya, demi ini aku telah tidak perduli pada apa pun juga; dan dekat di sisi pengetahuanku duduk ke tidaktahuan gelap hitamku.

Spirit suara hatiku memintaku bahwa aku harus tahu satu hal saja, dan tidak harus tahu hal- hal lain lagi: semua para semi- intelektual, ide-ide yang tidak jelas, yang melayang- layang, menjijikanku

Di mana kejujuranku tidak ada lagi, disana aku buta, dan juga ingin menjadi buta. Namun, di mana aku ingin tahu, aku pun ingin menjadi jujur, - yakni menjadi keras, tegar, sergap, kejam, teguh.

Karena kau, O Zarathustra, sekala berseru: “Spirit itu adalah kehidupan yang ini sendiri memotong ke dalam kehidupan,” ini yang telah membawa dan menggodaku pada ajaran kau. Dan sungguh, dengan darahku aku telah menambah ilmu pengetahuanku!‟

„Seperti apa yang telah terbukti,‟ Zarathustra menyela; karena darah tetap berkucuran dari lengan telanjang manusia suara hati ini. Karena sepuluh lintah telah menggigitnya.

„Oh kau teman yang janggal, begitu banyaknya bukti ini mengatakan sesuatu padaku, tentang diri kau sendiri! Dan mungkin aku tidak bisa menuangkan itu semuanya ke dalam telinga tegar kau!

Ayo! Mari kita berpisah disini! Tetapi aku ingin menemui kau lagi. Di atas nun jauh di sana arah-jalan ke guhaku: malam ini kau harus ada di sana menjadi tamu undanganku!

Dan aku harus pula mengobati badan kau karena Zarathustra telah menginjak kau dengan kakinya: aku akan pikirkan mengenai ini. Namun, baru saja lolong duka memanggilku, harus terburu-buru untuk meninggalkan kau.‟

Ini seruan Zarathustra.

Dalam dokumen Seruan Zarathustra - F.nietzsche (Halaman 182-187)