• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manusia yang Menyembuh

Dalam dokumen Seruan Zarathustra - F.nietzsche (Halaman 162-166)

Seruan Zarathustra

57. Manusia yang Menyembuh

1

Di pagi hari ketika ia baru saja kembali ke guhanya, Zarathustra meloncat dari ranjangnya seperti orang gila, berteriak suara menakutkan, serta bertingkah seolah-olah ada seseorang yang berbaring di ranjangnya dan tidak mau bangkit; dan suara Zarathustra bergema sedemikian rupa sehingga binatang-binatangnya berdatangan padanya ketakutan, dan dari segala guha-guha dan tempat-tempat persembunyian di sekitar guha Zarathustra semua mahluk- mahluk menyelinap, terbang, menggelepar, merayap, melompat, menurut macam kaki atau sayap apa yang telah diberikan pada masing- masing. Zarathustra, namun, berseru kata-kata ini:

Bangun, pikiran terdalam, bangun dari kedalaman-kedalamanku! Aku adalah ayam jantan dan fajar kau, cacing ngantuk: bangun! bangun! Suara kokokanku musti membangunkan kau!

Longgarkan sengkela-sengkela telinga kau: dengar! Karena aku mau mendengarkan kau! Bangun! Bangun! Cukup bergemuruh di sini bahkan kuburan pun mendengar!

Dan lenyapkan sang kantuk dan segala kesuraman serta kebutaan dari mata kau! Dengarkan pula aku dengan mata kau: suaraku adalah obat bahkan bagi mereka yang buta dari lahir.

Dan sekali kau gugah, kau musti tetap gugah seumur hidup. Itu bukanlah caraku untuk menggugahkan nenek- nenek kau dari tidurnya demi memohon mereka – tidur kembali!

Apa kau sedang mengulet, merentangkan diri kau, mendesah? Bangun! Bangun! Kau tidak boleh mendesah, – tetapi berkata padaku! Zarathustra memanggil kau, Zarathustra yang tidakbertuhan!

Aku Zarathustra, sang penasihat kehidupan, sang penasihat kesengsaraan, sang penasihat siklus – aku panggil kau, pikiran-pikiran terdalamku!

Hiduplah aku ! Kau datang – aku dengar kau! Ngaraiku berbicara, aku telah merubah kedalaman terakhirku menjadi sang cahaya!

Hiduplah aku! Mari sini! Berikan lengan kau – ha! Lepaskan! Ha, ha! – Jijik, jijik, jijik – oh tidak!

2

Namun, belum lagi Zarathustra menghabiskan seruan kata-katanya, ia jatuh seperti orang mati dan tetap seperti orang mati beberapa lamanya. Tetapi ketika ia siuman, ia pucat dan gemetaran tetap rebahan untuk beberapa lamanya tidak mau makan tidak juga minum. Keadaan ini berlangsung tujuh hari; para binatangnya, namun, tetap bersamanya pagi atau malam, kecuali sang elang terbang mencari makanan. Dan apa saja yang dia ambil dan kumpulkan dibaringkan di hadapan ranjang Zarathustra: maka akhirnya Zarathustra rebahan di tengah-tengah buah

arbei-arbei kuning dan merah, anggur, apel-apel merah, ramu-ramuan berbau manis serta buah pohon cemara. Di kakinya, namun, dua ekor kambing dibentangkan, yang sang elang dapatkan dengan susah payahnya, dirampas dari para penggembala.

Akhirnya, setelah tujuh hari, Zarathustra bangkit dari ranjangnya, mengambil apel merah dengan tangannya, menciuminya, dan menemui baunya menyenangkan. Lalu para binatangnya berpikir bahwa waktunya telah tiba untuk berbicara padanya.

„O Zarathustra,‟ kata mereka, „kau rebahan serupa ini tujuh hari, dengan mata berat: tidak maukah kau sekarang berdiri di atas kaki kau lagi?

Melangkahlah keluar guha kau: dunia menunggu kau laksana taman. Bada i dimuati dengan wewangian tajam yang rindu pada kau; dan segala anak sungai ingin lari ke kau.

Segalanya merindukan kau, sejak kau menyendiri tujuh hari – melangkahlah keluar dari guha kau! Segalanya mau menjadi tabib kau!

Mungkinkah satu pengetahuan baru datang pada kau, pengetahuan pahit yang memilukan? Serupa adonan ragi kau rebahan, jiwa kau naik dan membanjiri tepian.‟

O para binatangku, jawab Zarathustra, terus bicara biar aku mendengar! Ini menyegarkanku untuk mendengar kau berbicara: di mana ada pembicaran, dunia seperti taman bagiku.

Betapa menyenangkan, bahwa kata-kata dan suara-suara musik itu ada: bukankah kata-kata dan musik itu pelangi-pelangi dan jembatan-jembatan antara sesuatu yang terpisah abadi?

Setiap jiwa memiliki dunianya sendiri; bagi setiap jiwa setiap jiwa lainnya adalah dunia asing.

„Diantara sesuatu yang sangat serupa, ilusi mengatakan dengan manisnya kebohongannya; karena jurang yang terkecil pun sulit untuk dijembatani.

„Bagiku – bagaimana ada yang di luar diriku? Tidak ada luar! Tetapi kita lupa ini, ketika kita mendengar musik; alangkah manisnya ini lalu kita lupa!

„Tidakkah segala sesuatunya itu diberi nama-nama dan suara-suara musik, lalu manusia bisa menyegarkan dirinya bersama sesuatunya? Kata-kata adalah keindahan dungu: dengannya manusia menari di atas segala sesuatunya.

Alangkah manisnya segala kata-kata dan segala kepalsuan musik! Dengan musik cinta kita menari di atas aneka warna pelangi-pelangi‟

„O Zarathustra,‟ berkata para binatangnya kemudian, „bagi mahluk yang berpikiran serupa kita, segala sesuatunya mendekat dengan menari: mereka datang dan mempersembahkan lengan mereka, tertawa dan mundur – dan kembali lagi.

Segala sesuatunya pergi, segala sesuatunya kembali; roda kehidupan berputar selamanya. Segala sesuatuya akan mati, segala sesuatunya akan memekar baru; era kehidupan selalu berputar abadi.

Segala sesuatunya patah, segala sesuatunya menyatu membaru kembali; rumah kehidupan yang sama itu sendiri membangun dirinya sendiri abadi. Segala sesuatunya berpisah, segala sesuatunya bertemu kembali; siklus kehidupan itu benar pada dirinya sendiri abadi.

Di setiap saat Kehidupan bermula; di setiap Sini menggelinding bola ke setiap Sana. Tengah-tengah ada dimana- mana. Berliku- liku jalan ke keabadian.‟

O kau badud-badud dan tong-tong orgel!‟ jawab Zarathustra, dan tersenyum kembali; „betapa kau tahu apa yang musti dihasilkan dalam tujuh hari:

„Dan bagaimana monster ini merayap ke tenggorokanku dan mencekikku! Tetapi aku gigit kepalanya dan memuntah jauhkannya.

Dan kau – membuat lagu keroncongan pula tentang ini? Namun, aku sekarang berbaring di sini, tetap letih karena gigitan dan pemuntahan ini, tetap sakit dengan penebusanku.

Dan kau hanya menonton ini semua? O para binatangku, apakah kau, pula,

kejam? Apa kau ingin pula menonton dukacita megahku, bagai yang dikerjakan para manusia? Karena manusia adalah binatang yang paling kejam.

Sandiwara-sandiwara tragedi, adu-adu banteng, serta penyaliban-penyaliban ini sangat disenangi manusia melebihi segala sesuatunya di dunia ; dan ketika ia menciptakan Neraka baginya sendiri, perhatikan, itu surganya di dunia.

Ketika seorang manusia akhbar menjerit, langsung datang berlarian manusia kecil; lidahnya bergelantungan dari mulutnya penuh nafsu. Namun, ia menamakan ini “belas kasihan” nya.

Manusia kecil, khususnya sang pujangga – betapa bersemangatnya ia menghujat kehidupan dalam kata-kata! Dengarkanlah ia, tetapi jangan sampai tidak mendengar nafsunya dalam segala hujatan-hujatannya!

Para penghujat kehidupan ini dikalahkan oleh kehidupan, dengan kerlingan matanya. “Apa kau mencintaiku?” kata si genit ini; “tunggu sebentar, aku namun tidak punya waktu bagi kau.”

Bagi dirinya sendiri manusia adalah binatang paling kejam; dan mereka yang menamakan diri mereka “para pendosa” dan “para pengemban Salib” dan “para penyesal,” jangan sampai tidak mendengar nafsu gairahnya dalam jeritan dan hujatan mereka!

Dan aku sendiri – apa aku mau menjadi penghujat manusia? Ah, para binatangku, ini saja yang aku telah pelajari hingga kini, bahwa bagi manausia kejahatan itu adalah perlu bagi kebaikannya,

Bahwa segala yang terjahat dalam dirinya itu adalah kekuatan terbaiknya, dan batu terkeras bagi sang pencipta agung; dan manusia harus tumbuh lebih baik

dan lebih jahat:

„Bukan di atas salib yang membuat aku tersiksa, lalu aku tahu bahwa manusia itu jahat – tetapi aku berteriak bagai tidak ada seorang pun pernah berteriak sebelumnya:

„Duh, kemahajahatannya sangat kecil! Duh, kemahabaikannya sangat kecil!‟ Kejijikan megah pada manusia – ini mencekikku dan merangkak ke dalam tenggorokanku: dan apa yang sang nabi ramalkan: “Semua adalah satu, tidak ada yang berharga, pengetahuan mencekik.”

Senja yang berkepanjangan berjalan timpang di hadapanku, keletihan abadi, kesedihan abadi yang memabukan yang berbicara dengan mulut yang menguap menahan kantuk.

„Secara abadi ia kembali, manusia yang karenanya kau letih, si manusia kecil‟ – maka kesedihanku menguap, dan menyeret kakinya dan tidak bisa tidur.

Menjadi guha, dunianya manusia bagiku, dadanya ambruk, segala sesuatu yang hidup bagiku menjadi debu manusia dan tulang-belulang dan reruntuhan masalampau.

Kesahan-kesahanku duduk di atas kuburan-kuburan manusia, dan tidak bisa lagi berdiri; kesahan-kesahanku dan pertanyaan-pertanyaanku berkeroak dan tercekik, dan menggerogoti dan meratap pagi dan malam:

„Duh, manusia ada kembali abadi! Si manusia kerdil pun ada kemba li abadi!‟

Aku melihat mereka keduanya telanjang, manusia termegah dan manusia terkecil: semuanya sangat serupa satu sama lainnya, bahkan yang termegah pun sangat manusiawi!

Semuanya sangat kecil bahkan yang mahamegah sekali pun! – ini kejijikanku pada segala eksistensi!

Ah, Jijik! Jijik! Jijik!‟ ini seruan Zarathustra, mengesah dan risi; karena ia teringat akan sakitnya. Maka para binatangnya mencegahnya untuk berseru lebih lanjut.

„Jangan berseru lagi, kau manusia yang menyembuh!‟ – jawab para binatangnya, „tetapi pergilah keluar di mana dunia menunggu kau laksana taman.

Pergilah keluar pada kembang-kembang mawar, dan pada kumbang-kumbang dan pada kumpulan merpati- merpati! K hususnya, pergilah keluar pada burung-burung pengicau, untuk belajar menembang dari mereka!

Karena menembang adalah bagi manusia yang menyembuh; yang sehat boleh bicara. Dan ketika manusia sehat, juga, ingin lagu, ia ingin lagu yang berbeda daripada manusia yang menyembuh.‟

„O kau badud-badud dan tong-tong orgel, tolong diam!‟ jawab Zarathustra, dan tersenyum ke para binatangnya. „Tahu benar kau pelipur apa yang aku telah upayakan bagi diriku dalam tujuh hari!

Bahwa aku musti menembang sekali lagi – pelipuran itu, dan penyembuhan

ini aku rekayasakan bagi diriku: apa kau mau membuat lagu keroncongan akan

ini, pula?‟

„Jangan berseru lagi,„ para binatangnya menjawab sekali lagi: „malah, mulanya siapkan diri kau sebuah harpa, manusia yang menyembuh, harpa baru!

„Karena perhatikan, O Zarathustra! Untuk lagu-lagu baru kau dibutuhkan harpa-harpa baru.

Menembanglah dan meleter, O Zarathustra, obati jiwa kau dengan lagu-lagu baru, agar kau dapat mengemban takdir megah kau, yang tidak pernah menjadi takdir manusia lain!

Karena para binatang kau tahu betul, siapa kau itu dan apa yang akan menjadi: perhatikan, kau adalah guru mengenai siklus abadi, nah ini, adalah takdir kau itu!

Bahwa kau musti menjadi manusia pertama yang mengajarkan doktrin ini – bagaimana takdir megah ini tidak musti pula menjadi bahaya megah dan penyakit kau!

Perhatikan, kami tahu apa yang kau ajarkan: segala sesuatunya bersiklus abadi, dan kami sendiri bersama mereka, dan kami pernah eksis berkali-kali abadi, dan segala sesuatunya bersama kami.

Kau mengajarkan bahwa ada zaman megah Kemenjadian, zaman kolosal: zaman ini harus, seperti jam pasir, selalu membalikan dirinya sendiri lagi dan lagi, supaya jatuh ke bawah dan mengosongkan diri:

Maka segala zaman- zaman menyerupai satu sama lainnya, di dalam yang termegah dan juga di dalam yang terkecil, begitu pula kita sendiri, dalam setiap zaman megah, menyerupai diri kita sendiridi dalam yang termegah juga di dalam yang terkecil.

Dan jika kau ingin mati sekarang, O Zarathustra: perhatikan, kami tahu pula apa yang kau lalu akan katakan pada diri kau – tetapi para binatang kau memohon kau untuk tidak mati dulu!

Kau akan berkata – tanpa gemetaran, malah menghirup kebahagiaan: karena beban berat dan kekhawatiran kau terlepaskan dari diri kau, kau manusia tersabar dari segala manusia!

„Sekarang aku mati dan menghilang,‟ kau akan berkata, „dan dalam sedetik aku bukan apa-apa. Jiwa bisa mati seperti juga badan.

Tetapi jalinan sebab-sebab yang melibatku muncul kembali – ini mau menciptakanku lagi! Aku sendiri bagian dari sebab-sebab siklus abadi itu.

Aku datang kembali dengan matahari ini, dengan dunia ini, dengan elang ini, dengan ular ini – bukan ke kehidupan baru, atau ke kehidupan lebih baik atau ke kehidupan yang hampir menyerupai:

Aku datang kembali abadi ke kehidupan yang identik, ke kehidupan yang sama persis, di dalam sesuatu yang termegah dan di dalam sesuatu yang terkecil, untuk mengajarkan sekali lagi siklus abadi segala sesuatunya,

Untuk berseru sekali lagi mengenai ajaran tentang tengah hari megahnya dunia dan manusia, untuk menyatakan pada manusia mengenai sang Superman sekali lagi.

Aku telah menyerukan ajaranku, di atas ajaranku aku mati: maka takdir abadiku memaui ini – sebagai nabi aku punah!

Sekarang waktunya telah tiba, bagi sesiapa yang turun-kebawah, untuk memberkahi dirinya sendiri. Lalu – berakhirlah kepergian menurunnya Zarathustra.‟

Setelah para binatang berbicara kata-kata ini mereka membisu dan menunggu, agar Zarathustra mengatakan sesuatu pada mereka: tetapi Zarathustra tidak mendengar bahwa mereka membisu. Sebaliknya, ia tetap rebahan dengan mata tertutup seperti seorang yang sedang tidur, walau ia tidak tidur: karena ia sedang berkomunikasi dengan jiwanya. Tetapi sang ular dan sang elang, ketika mereka temui ia membisu seperti ini, menghormat kemembisuan megah di sekelilingnya, dan dengan sopannya merayap mundur.

Dalam dokumen Seruan Zarathustra - F.nietzsche (Halaman 162-166)