Kebebasan
Manusia mempunyai kehendak bebas, sehingga ia sendiri bertanggungjawab atas dosanya. Tetapi bukan bebas dalam arti bahwa ia sendiri dapat luput dari perhambaan dosa.
Secara antropologis memang manusia mempunyai kehendak bebas, jadi bebas dari paksaan. Tetapi secara religius tidak, sebab tidak mungkin ia sendiri dapat memilih mengikuti Tuhan. Manusa bebas dalam arti religius jika ia dibebaskan oleh Kristus dan diperbaharui oleh Roh. Bagi orang Kristen pengertian ‘kebebasan’ atau ‘kemerdekaan’ berbeda dengan pandangan humanis.
Mulai dari aliran Stoa di Yunani kuno kebebasan dilihat sebagai bagian dari ataraxia: kemampuan untuk tidak terpengaruh dan tidak tergerak. Dan sekaligus: mampu untuk berkuasa atas nasib yang menentukan kehidupan. Bagi orang Yunani seorang merdeka berbeda dengan seorang budak. Seorang budak harus menaati tuannya, dan seorang merdeka memang bebas terhadap orang lain. Namun, seorang merdeka tetap taat kepada perintah-perintah negara dan menyadari tanggungjawabnya.
Seorang Kristen tidak akan memilih antara determinisme atau indeterminisme, yakni antara keterikatan dan kebebasan. Bagi seorang Kristen kebebasan tidak berarti boleh mengatur dirinya sendiri, tetapi bahwa ia terikat kepada Tuhan Allah, dan justru itulah kemerdekaannya. Dalam ajaran Katolik Roma bukan kemauan tetapi akal budi berjalan di depan, dan mereka bertindak berdasarkan hukum naturalis.
Untuk Kant kehendak manusia penting, bersama dengan akal budi yang praktis, dan
mengikuti ordo moralis. Tetapi sesudah Kant ahli-ahli filsafat lainnya menganggap kehendak sebagai hawa nafsu: Nietsche, Freud. Manusia dipimpin oleh keinginannya, kata mereka. De Kruijf menyetujui Nietsche bahwa tidak ada subyek etis yang mempunyai kehendak yang bebas, tetapi ia menambahkan: kecuali jikalau Allah bertindak dalam hidupnya.
Kruijf berkesimpulan: etika membutuhkan kebebasan. Pada mulanya kebebasan adalah bahwa kehendak mengikuti akal budi yang mengenal ordo moralis yang diciptakan Allah. Tetapi kehendak telah busuk karena dosa. Dengan melalui pembebasan oleh Allah, dalam rahmat-Nya dan kasih-rahmat-Nya, maka kehendak menyesuaikan diri dengan akal budi dan manusia akan men-dengar-dengar-an. Khususnya jikalau ia dengar-dengar kepada Allah . 30
Kalau kita membicarakan kebebasan Kristiani, harus kita membedakannya dari kebebasan secara filsafat yang menunjukkan otonomi yang mutlak. Kebebasan adalah sebuah kata Alkitabiah tentang pergaulan dengan Allah tanpa halangan, di dalam Kristus, sebagai jalan kebenaran. ‘Bebas’ berarti: berada dalam lingkungan asal, bersama dengan Allah. Pada saat manusia mau memperluas lingkungannya ia mirip seekor ikan yang melompat dari dalam air dan mati di atas darat. Pembebasan adalah bahwa ikan dikembalikan kedalam air.
Kebebasan Alkitabiah itu tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan. Kita boleh bergaul dengan Allah dan menikmati segala yang diberikan-Nya. Band. Gal. 3,4,5.
Kebebasan dan hukum : kita telah dibebaskan dari kutuk dan kuk hukum. Tetapi hukum
sedangkan interpretasi orang Farisi yang mendangkalkannya ditolak oleh Kristus sendiri dalam Khotbah di bukit..
Seorang yang mendalami hukum Kristus mendalami hukum kemerdekaan yang sempurna (Yak. 1).
Pada waktu Perjanjian Lama orang beriman tidak merasakan hukum sebagai penyiksaan atau beban, Mazm. 119, Mazm 92. Jadi, jangan memisahkan Hukum dan Injil, seperti sering dilakukan oleh teolog-teolog Luteran. Kata Roma 10:4 tentang Kristus yang adalah telos (tujuan, penggenapan) dari hukum Taurat bagi mereka yang percaya, harus diartikan sbb: bagi orang beriman hukum bukan jalan keselamatan, sekalipun pada waktu Perjanjian Lama memang sering ditafsir demikian, apalagi oleh orang Yahudi pada zaman rasuli. Tetapi orang yang percaya dengan sungguh-sungguh tidak pernah melihat hukum seperti itu, bahkan pada masa Perjanjian Lama pun tidak. Allah yang menyelamatkan.
Berbeda sekali dengan orang Luteran itu adalah pandangan Barth yang mengatakan bahwa hukum adalah sebuah bentuk Injil. Pandangan itu tak dapat disetujui sebab menghilangkan rasa bersalah.
Fungsi hukum yang bertujuan tiga.
Jemaat Kristen telah menerima hukum mosaica dari tangan Kristus dan sebagai hukum Kristus, dan bagi jemaat itu fungsi hukum dapat dibagi tiga:
Usus legis primus: usus politicus atau civilis: bermanfaat bagi kehidupan politik. Usus legis secundus: usus pedagogicus atau elenchticus, untuk menunjukkan dosa.
Usus legis tertius: usus didacticus atau normativus, untuk menjadi pedoman bagi pengucapan syukur.
Usus primus mengekang kejahatan, tetapi tidak mengalahkannya. Melalui hukum itu Allah mengatur bahwa kehidupan di bumi tetap mungkin. Hukum Allah adalah pakaian yang satu-satunya yang cocok untuk dunia. Usus primus itu juga adalah alat dalam tangan Kristus, sebab Dialah yang mempunyai kuasa baik di surga maupun di bumi.
Usus secundus sering dikaitkan dengan Gal.3: 24, dari situ juga kata pedagogicus. Cuma, tidak terlalu tepat sebab menurut nas tersebut hukum adalah pedagogos sampai Kristus, jadi sekarang tidak lagi. Dalam sejarah keselamatan fungsi tersebut telah berlalu.
Namun, hukum tetap berlaku sebagai cermin untuk mengenal dosa, sebab dalam diri kita adalah perjuangan antara roh dan daging (Roma 7:13 dst). Tetapi Injil mendahului Hukum, band. pendahuluan hukum Taurat.
Mengenai kata pedagogis: dulu seorang pedagogos tidak selalu disenangi: ia bukan saja pendidik, tetapi juga penjaga.
Usus tertius berlaku dalam dan untuk pengudusan hidup. Dalam tangan Kristus hukum berlaku sebagai pedoman.
Sering dikatakan bahwa untuk Calvin usus yang ke-3 itu telah menjadi nr 1. Verkuyl menerangkan bahwa usus elechticus menjadi nr 1 untuk Calvin, baru normativus, baru politicus. Menurut Douma para Reformator sebenarnya tidak berselisih pendapat, tetapi para penganut Luter memang kurang menghargai usus normativus dan berfokus pada politicus dan khusus elenchticus . 31
J. Douma, Kelakuan yang bertanggungjawab, 64-70. 31
Lex naturalis (hukum alamiah)
Ordo creationis adalah struktur yang ditemukan dalam ciptaan-ciptaan, sedangkan lex naturalis –kata orang- adalah hukum yang telah tertulis dalam hati setiap manusia, sekalipun ia tidak menyadarinya.
Sesuai pandangan Reformed tidak mungkin untuk menyusun sebuah etika atas dasar lex naturalis, seperti diusahakan gereja K.R.
Memang menurut Roma 2:14 bangsa-bangsa melakukan hukum Allah dari dirinya sendiri (natura) . Benarlah juga, bahwa terdapat moral di dunia, di luar gereja pula. Tetapi hukum yang dimaksudkan dalam Roma 2 :14 adalah hukum Musa, bukan semacam hukum dalam hati manusia yang dimilikinya sesuai dengan sifatnya sebagai manusia. Kata Paulus ialah bahwa bangsa-bangsa sekalipun tidak mengenal hukum Allah tetap melakukan ‘pekerjaan hukum’. Bukan inti hukum Allah yang diraih oleh bangsa-bangsa itu, tetapi yang dilakukan mereka adalah hasil dari pengaruh hukum.
Jangan kita berargumentasi bertolak pada sebuah hukum alamiah sepertinya diciptakan Allah sebagai sesuatu yang bekerja sendiri. Lebih baik kita mendasarkan pikiran pada kelebihan kuasa penyataan Allah.
Apalagi, tujuan Roma 1 adalah menggambarkan manusia sebagai oknum yang tidak bisa berdalih, dan mendakwanya. Tujuannya bukan mengajarkan suatu teori tentang tata tertib alam kejadian.
Keterangan yang menarik tentang ‘natural law’ diberikan oleh Oliver Barclay dalam Clark, Rakestraw, ‘Readings in Christian Ethics’, Vol. 1, 41-49, dengan judul : ‘The nature of christian morality’. Melawan pandangan seperti dari Hauerwas, bahwa etika Kristen bukan untuk orang yang non-Kristen, Barclay menunjuk kepada ‘natural law’, tetapi berkata pula bahwa dasar ini tidak kuat. Begitu juga argumen-argumen berdasarkan logika tidak kuat, sebab pengetahuan kita tentang dunia-alam tidak sempurna dan tabiat manusia juga tidak sempurna. Barclay sendiri memilih ‘creation ethics’ : kita harus bertolak dari Allah dan ciptaan-Nya. Allah menganjurkan hal-hal yang baik untuk ciptaan-Nya. Menurut Alkitab kita harus kembali ke permulaan (Mat. 19). Tata tertib alam kejadian adalah sebagian dari ciptaan sendiri. Norma-norma Kristen merupakan persyaratan yang terbaik untuk dunia ; dari mulanya kaidah Allah tetap berlaku. Apalagi, semua manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah, kata Barclay.
Terdapat ‘tata tertib alam kejadian’? Kata itu adalah terjemahan Verkuyl dari
‘Schöpfungsordnungen’, ordo creationis.
Khususnya Emil Brunner, Das Gebot und die Ordnungen, membahas etika tata tertib alam kejadian. Brunner adalah seorang teman Karl Barth, tetapi dalam penghargaan terhadap tata tertib tersebut mereka berbeda pendapat. Brunner, seperti Barth, memang mengatakan bahwa manusia menerima perintah Allah hanya pada saat tertentu saja, bila Allah memanggilnya, gaya eksistensialistis. Tetapi menurutnya harus dibedaken antara ‘Gebot’, perintah, dan ‘Ordnungen’, ketentuan-ketentuan. ‘Gebot’ merupakan panggilan Allah pada saat kita
bertemu Tuhan secara eksistensial, ‘Ordnung’, atau ‘Gesetz’, terdiri dari Alkitab, dan juga hati nurani, maupun hukum-hukum alam, bahkan kebiasaan-kebiasaan sosial. Barth mengeritik Brunner, dan menurut Douma dengan benar, sebab tidak mungkin realita-realita di sekeliling kita bisa bersuara, seperti dikatakan Brunner.
Manusia selalu sibuk untuk membentuk struktur dalam lingkungan hidupnya, sesuai struktur yang telah ditemukan secara alamiah, sosial dan bersejarah, tetapi ia merusakkannya juga. Berbahaya jika ‘struktur’ menjadi sumber tersendiri bagi kita.
Tentu struktur-struktur penting adanya, dan diletakkan Allah Pencipta dalam dunia ini. Apalagi, manusia yang baru akan diperbaharui sesuai gambar Penciptanya (Kol. 3:10). Struktur yang diletakkan Penciptanya dalam dunia ini harus dihargai. Tetapi manusia tidak dapat tahu persis bagaimana adanya struktur dunia pada saat diciptakan Allah, yaitu sebelum ada dosa, dan juga ‘schema’ (=struktur) dunia ini sedang berlalu (1 Kor. 7:31).
Struktur-struktur itu tidak boleh diabadikan. Namun, Douma membahas struktur sebagai salah satu dari kelima relasi yang penting bagi manusia . 32
Etika jemaat dan kasuistik
Terdapat dua sistem etika yang mudah salahdigunakan, yaitu yang disebut etika jemaat dan kasuistik. Etika jemaat dapat diartikan bahwa tidak ada petunjuk dari luar, tetapi bahwa jemaat sendiri menentukan apa yang perlu dan wajar dalam keadaan konkrit. Tentu pandangan itu salah, sebab Firman Tuhan yang merupakan lampu bagi kaki kita. Tetapi benar adalah bahwa kita dalam memikirkan tanggungjawab Kristen harus membagi hikmat dengan jemaat dan belajar dari jemaat dan sebagai jemaat harus tumbuh bersama-sama.
Kasuistik adalah ilmu tentang kasus-kasus, yang mengajar bagaimana menerapkan peraturan
umum untuk kasus-kasus khusus. Seorang dapat menolong sesamanya dalam hal itu. Kasuistik sering dibenci, ingat orang Farisi dengan 613 perintah dan larangan. Ingat juga buku-buku pedoman pada pengakuan dosa dari gereja Katolik Roma dalam Abad
Pertengahan. Kasuistik dapat menjadi seperti terlukis dalam Yes. 28:10. Dan juga dapat memberi kelonggaran untuk menyebut baik apa yang jahat, band. Mat. 23:23.
Barth menolak kasuistik, dengan mengatakan bahwa, kalau begitu, manusia mengambil tempat di takhta Allah. Tetapi Bonhoeffer mengintroduksikan dalam seminari teologia yang dipimpinnya ‘pengakuan dosa’, walaupun tidak sama seperti di gereja Katolik Roma. Ia mau supaya seorang Kristen secara pastoral ikut memikirkan beban saudaranya dan akan
mengatakan apakah sesuatu baik atau tidak dan akan mendoakan saudaranya.
Menurut Douma tidak bisa kita menolak kasuistik semata-mata. Ternyata dalam praktek sehari-hari setiap orang melakukannya. Kita tidak menolong orang yang menggumuli sebuah masalah dengan mengatakan kepadanya : saudara memutuskan sendiri saja sesuai seleramu apa yang baik. Jika kita berbelas kasihan maka kita akan memberi pandangan, dan sedikit-dikitnya kita membutuhkan kasuistik. Dalam Alkitab terdapat kasuistik juga, sebab setelah kesepuluh hukum diumumkan dalam Kel. 20 dan Ul .5 dinyatakan juga banyak peraturan yang diawali dengan : jika terjadi yang ini atau yang itu (ki, im), dan itulah peraturan kasuistis. Peraturan itu berbeda dengan peraturan apodiktis, seperti kesepuluh hukum, yang diawali dengan : jangan (lo).
Pada ukuran tertentu kita membutuhkan etika jemaat dan kasuistik. Terlebih dalam ‘secular age’.
Dalam sejarah KR (band. karangan Verkuyl) terbentuk sistem probalisme (dalam ordo Jesuit; probabilis=mungkin): sampai jauh mana seorang berhak bertindak jika tidak ada hukum yang jelas? Kemungkinan satu adalah untuk menolak apa saja yang mungkin salah : tutiorisme: memilih jalan yang aman (tutior: lebih aman). Kemungkinan lain adalah laxisme: salah satu pilihan sudah bisa disetujui jika hanya satu pengarang saja mendukungnya (laxus=lemah). Verkuyl dengan jelas menolak probabilisme itu, bahkan cenderung menolak kasuistik pada umumnya.
Bdk. Jan A. Boersema dkk, Berteologi abad XXI, Jakarta 2015, 438. 32
Kasuistik yang baik tidak membahas sedetailnya tetapi menyebut tipe-tipe situasi yang agak umum. Jangan kita terperangkap dalam kesalahan-kesalahan kasuistik yang buruk, dengan mau mengatur semuanya.
Jika kita menggunakan etika jemaat, dan membentuk sebuah pola hidup didalam mengikut Yesus, dan jika kita tidak mempertentangkan kebebasan sendiri dan hukum Allah, makanya kita akan menggunakan kasuistik untuk memperoleh uluran tangan etis. Bersama-sama dengan orang seiman harus kita mencapai kedewasaan rohani : Ef. 4 :12.
Perfeksionisme.
Seorang perfeksionis beranggapan bahwa kesempurnaan sudah bisa dicapai dalam kehidupan ini, dan ia melupakan perjuangan seperti dalam Roma 7 :14. Mereka menafsir Roma 7 secara lain : yaitu bahwa Paulus berbicara tentang hidupnya sebelum bertobat. Semboyan Reformasi ‘simul iustus dan peccator’ dilupakan.
Kehendak manusia memang tidak bebas lagi, dan harus dibebaskan, namun belum sampai sempurna.
1 Joh 3:9 harus dikaitkan dengan 1 Joh. 1:10, dan 1 Joh. 2:1. Seandainya sudah sempurna, mengapa doa ‘Bapak kami’ mengatakan ‘jangan membawa kami kedalam pencobaan? Perlu disadari Fil. 3 :12.
Seorang perfeksionis menyangka bahwa seorang beriman bukan saja bebas dari utang dosa tetapi juga dari kuasa dosa. Mis. John Wesley berpikir bahwa sesudah pembenaran oleh iman, dosa manusia dapat dimenangkan secara riil, melalui tindakan Allah yang khusus, yaitu ‘second blessing’, Wesley ditentang oleh Ludwig von Zinzendorf, pelopor Pietisme dari Jerman.
Zinzendorf benar, sebab ‘tamim’ (Ibr) dan ‘teleios’ (Yun) tidak menunjukkan kesempurnaan etis tetapi hidup yang ditujukan kepada Allah dengan baik.
1 Joh 3:9 tidak menunjukkan kesempurnaan etis tetapi harus dilihat dalam pertentangan dengan orang gnostik yang mengatakan bahwa mereka yang mengenal Allah tidak melakukan dosa lagi. Dosa itu tidak kena diri mereka, hanya tubuh saja. Karena itu Yohannes mau
menyatakan bahwa tidak mungkin mereka benar-benar mengenal Allah, sebab kalau begitu benih Allah ada didalamnya, dan juga Kristus presens (hadir) (4:4). ‘Tidak bisa berdosa’ bukan kenyataan, tetapi norma yang jelas dan masuk akal: tidak bisa seorang Kristen melakukan yang demikian.
Sikap lain, bertentangan dengan perfeksionisme, adalah sikap orang yang senang-senang saja, mudah puas, sembrono, lalai. Mereka tidak berjuang lagi, tidak mencita-citakan pengudusan (Ibr. 12:14).
Perjanjian Baru tidak mengizinkan untuk menyangkal kesungguhan dosa, sekalipun dalam iman dapat dikatakan bahwa kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Kristus..
Dosa yang terberat adalah dosa melawan Roh. Yakni menyangkal sama sekali penyataan Roh Kudus dalam Kristus dan menyebutnya pekerjaan roh jahat (Mark. 3:30). Rupanya apa yang dilakukan Paulus dengan melempari Stefanus masih dapat diampuni. Dosa melawan Roh sungguh ada, tetapi hanya Tuhan tahu dan kita tidak dapat menilai. Band. Ibr. 6:4. 1 Yoh.5:16.
Apakah pembedaan KR antara peccata mortalia (dosa menuju kematian) dan peccata venialia (dosa yang dapat diampuni) dapat dipertahankan? Pembedaan itu sudah lama ada, sejak bapak-bapak gereja, dan diperincikan oleh Skolastik, tetapi ditolak oleh Reformasi. Tentu dapat dibedakan antara dosa yang berat dan yang kurang berat, band. Kristus dalam Mat. 7:3. Tetapi coram Deo (di hadapan Allah) setiap dosa membuktikan kejahatan kita di luar Kristus. Namun, coram hominibus (di depan manusia) pembedaan-pembedaan perlu.
Kompromis.
Kenyataan kompromis terdapat dalam Alkitab. Band. Ul. 24:1. Tetapi kompromis tidak boleh disalahgunakan. Douma: Kompromis adalah akseptasi (penerimaan) sesuatu yang kurang
daripada yang semestinya dan harus diusahakan berdasarkan perintah Allah . 33
Terkadang perceraian merupakan kompromis, begitulah perpecahan gereja. Setiap kali kita berkompromis kita menderita, karena maksimum tidak bisa dicapai.
Dalam Kis. 5 :29 dinyatakan sebuah batas yang tidak boleh dilewati : kita harus mentaati Allah lebih daripada manusia.
Manusia mempunyai suara hati.
Para reformator melihat suara hati sebagai penuduh. Memang para reformator tetap menganggap adanya terang kodrati, tetapi itu ditindas dengan kelaliman (band. Rom.1,2). Calvin menggambarkan conscientia sebagai ‘mengetahui bersama dengan Allah’. Menurut Calvin suara hati berada di tengah Allah dan manusia.
Tetapi pada abad 19 dan 20 F. Nietsche dan S. Freud menjelekkan suara hati, sebab adalah fenomena yang menyakiti manusia. Menurut Nietsche orang yang terbaik adalah dia yang berani berlagak ego-istis: itulah kebebasan mutlak.
Sebab kalau tidak ego-istis, maka kita mengikat diri kepada orang lain. Dan suara hati tidak boleh menghalangi manusia dalam kemauannya yang keras itu.
Menurut Douma suara hati adalah lembaga dalam diri manusia yang mengkonfrontirnya
dengan segala keputusannya, lalu menilai itu . 34
Juga orang yang bukan Kristen mempunyai sedikit pengenalan akan Allah bahkan suara hati: Roma 2:14.
Bahasa Ibrani tidak mengenal kata untuk ‘suara hati’. Mungkin ‘leb’ ‘hati’ bisa dianggap sebagainya. NT mengenal kata ‘suneidesis’.
Berhubungan dengan itu De Kruijf bersama Van Oyen menunjukkan bahwa dalam khotbah – Nya Tuhan Yesus tidak pernah berkata tentang suara hati, dan juga tidak tentang kesusilaan dan kebajikan. Sebab Tuhan Yesus tidak bertolak dari kesusilaan atau moral umum , tetapi menekankan relasi pribadi antara Allah dan manusia. Tuhan Yesus menuntut kesetiaan kepada firman-Nya sendiri: “Tetapi Aku berkata...”. Baru dalam surat-surat rasuli menjadi jelas bahwa seorang yang bertemu dengan Tuhan Yesus akan dilepaskan dari ketakutan dan ketegangan dan mendapat hati nurani yang baik dan murni (1 Tim.3:4, 1 Petrus 3:16) . 35
Douma, o.c., 302. Bdk. Douma, Kelakuan yang bertanggungjawab. 33
Douma, o.c., 352. 34
De Kruyf, o.c., 46. 35
G.C. de Kruijf, Christelijke Ethiek, mengatakan:
Etika klasik terarah kepada subyek moril, dan mengembangkan ajaran tentang kebajikan dan hati nurani, atau berfokus kepada tujuan kehidupan moril, seperti kebahagiaan.
Tetapi etika modern terarah kepada kelakuan. Sebab mulai dari Kant para ilmuwan tidak suka berfokus kepada teleologi (tujuan), sebab menurut Kant teleologi berakibat tindakan yang sewenang-wenang.
Dan sejak Nietsche subyek moril dikekang, sebab subyek itu tidak ada, katanya. Kant tetap menghargai hati nurani, Nietsche membuangnya.
Namun, konsentrasi pada kelakuan semata-mata tidak memuaskan, dan tentu tidak menyenangkan untuk etika Kristen, yang bertujuan untuk hidup di hadapan Allah.
De Kruijf berteologi secara Augustinus dan secara Reformed: hidup yang baik membutuhkan pengenalan akan yang baik dan juga kehendak akan yang baik. Berbeda dengan etika klasik yang menyangka bahwa pengetahuan akan mengendalikan kemauan, dan juga berbeda dengan etika Katolik-Roma ala Tomas dari Aquino, yang positif terhadap kehendak yang bebas. Dalam pandangan Augustinus dan pandangan Reformed maka kehendak dan juga suara hati harus diperbaharui oleh Roh Kudus, jadi kita teringat akan pandangan Verkuyl, yang sudah disebut dalam fasal yang pertama.
Suara hati yang baik merasa diri bebas di depan Allah. Dan suara hati yang baik tidak bisa dibentuk di luar anugerah Allah.
Akhir kata
Cetakan kedua buku ini dikerjakan pada masa korona, april 2020. Suatu bencana menimpa seluruh bumi, malapetaka terbesar sesudah Perang Dunia II.
Bukan tidak mungkin tantangan itu membutuhkan keputusan-keputusan etis yang pada saat kami tulis ini belum dapat dilihat. Sebab akibat-akibat COVID-19 akan terasa sesudah ini dan belum bisa diramalkan.
Tentu akan terjadi banyak perubahan di bidang ekonomi dan bidang sosial, pada skala nasional maupun global. ‘Worldview’, pandangan dunia, dapat berubah juga, semoga membaik.
Dalam karangan ini kami telah memerhatikan sekularisasi. Apakah nanti pandangan itu akan berkurang? Apakah nanti manusia akan merasakan tidak begitu perlu untuk bebas samata-mata? Apakah akan berkurang keinginannya untuk dapat menentukan seluruh hidupnya, termasuk agama? Sebab sebagai salah satu ciri sekularisasi kami sebut bahwa manusia dengan segala kebebasan dapat memilih apakah ia mau beragama atau tidak. Sebelum abad 19
keinginan itu belum terasa, tetapi dalam abad 20 dan 21 kuat sekali.
Apakah melalui COVID-19 manusia akan lebih merasakan ketergantungannya, dan akan mengalami bahwa ia dibatasi dalam kebebasannya?
Kebebasan Kristiani adalah bahwa seorang merasa diri terhubung dengan Kristus, dan merasa terpanggil untuk mengambil keputusan-keputusan etis dengan pertolongan Roh-Nya yang Kudus.
Seorang Kristen tidak perlu hidup berdasarkan kode-kode yang tetap, tanpa memikirkan apa-apa. Sebab kalau begitu kehidupannya bersifat non-pribadi, mekanis. Tidak manusiawi. Seorang Kristen tidak juga akan hidup atas rasio, sesuai aliran modernisme, seakan-akan rasionya mahakuasa. Krisis korona membuat manusia gugup dan mengerti keterbatasannya. Seorang Kristen tidak juga hidup sesuai aliran post-modernisme, dengan menekankan otonomi ego-nya sendiri, perasaannya, kebebasannya, tanpa peraturan-peraturan yang mengikatnya. Seakan-akan tidak ada kepastian yang tetap.
Allah telah menyatakan segala sesuatu yang perlu kita tahu untuk hidup dengan bahagia. Dengan khusus kasih-Nya dalam Diri Yesus Kristus, bersama segala kebenaran lainnya, semua pekerjaan-Nya dan perbuatan-Nya, mulai dari penciptaan sampai bumi baru.
Seorang Kristen harus menerapkan penyataan Allah dan mengimplementasikannya, dengan Alkitab yang terbuka dan ditolong oleh teman-teman seiman, gereja Kristus, dan dengan doa