Dalam Alkitab kesepuluh hukum dicantumkan dua kali, Kel. 20 dan Ul. 5. Tuhan Allah sendiri mengumumkan hukum-Nya dari atas gunung Sinai. Kesepuluh hukum ini, dalam bah. Yunani: Dekalog, adalah hukum dasar yang telah diumumkan sebelum Tuhan memberikan perintah-perintah lain melalui Musa.
Kel. 20 menceriterakan pengumuman Dekalog, sedangkan Ul. 5 merupakan sebagian dari khotbah Musa yang diucapkan pada saat bangsa Israel mau masuk Kanaan. Musa
mengingatkan sejarah yang sudah terjadi. Dalam ceritera itu diulanginya Dekalog, dengan beberapa perbedaan, dibanding dengan Kel. 20. Sebab Musa bermaksud untuk memberi petunjuk-petunjuk kepada bangsa yang telah tiba di ambang pintu Kanaan, dan keadaannya berubah sejak mereka berangkat dari gunung Sinai. Perbedaan yang paling nampak adalah alasan yang disebut untuk hukum yang ke-4 tentang sabat. Di Kel. 20 alasannya adalah penciptaan Allah, yang beristirahat pada hari yang ke-7. Sedangkan dalam UL. 5 alasannya adalah bahwa hamba-hamba harus beristirahat juga, sebab seluruh bangsa pernah dihambakan dalam Mesir namun dibebaskan oleh Tuhan Allah
Tuhan Allah sendiri menuliskan Dekalog atas dua loh batu (Kel. 31:18), yang disimpan dalam tabut perjanjian (Ul. 10).
Dekalog sering dikutip, baik dalam kitab-kitab P.L. maupun P.B. Lih. Yer. 7:9; Hos. 4:2, Mat. 19:18, Roma 13:9, 1 Tim. 1:9, Ef. 6:2, Yak. 2..
Grudem membahas hukum 1-4 bersama dengan 9 sebagai kesatuan, yang berjudul:
‘Protecting Gods honour’. Hukum yang 9 dilihat sebagai kelanjutan dari hukum yang ke-3, tentang kemurnian dalam pembicaraan. Bagi Grudem dasar untuk tidak berdusta adalah karakter Allah. Siapa yang berdusta menghina Allah. Saya tidak melihat dasar untuk
menyimpang daripada urutan Dekalog sendiri, dan menurut saya hukum yang ke-9 berfokus pada melindungi sesama dengan tidak bersumpah dusta. Fokus dalam wawasan Grudem bukan sesama manusia, tetapi karakter Allah. Saya menganggap juga, seperti dikatakan dalam fasal 3, bahwa dalam hal ini pandangan Grudem terhadap Allah terlalu manusiawi. Nubuat Yesaya fasal 40:12-31 menunjukkan satu jalan yang lain.
Hukum yang pertama
Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku
Perlu diamati hubungan antara kata-kata pendahuluan dan hukum yang pertama. Allah
memperkenalkan diri sebagai Tuhan, Allah mereka, yang telah melepaskan mereka dari Mesir. Nama Tuhan adalah indonesianisasi dari kata Yahwe, ‘Aku adalah Aku’ (Kel. 3:14).
Pengertian nama itu bukan bahwa Tuhan berdiam diri dan tidak bergerak, melainkan bahwa Tuhan tetap sama dan tetap setia untuk mengingat akan perjanjian-Nya (band. Kel. 3:16). Justru karena Tuhan tetap setia makanya Ia membebaskan bangsa Israel dari perbudakan. Dan Tuhan, Pelepas itu, menuntut supaya mereka tidak akan menyembah kepada allah lain.
Tentu rumusan ini tidak berarti bahwa terdapat allah lain. Tetapi Tuhan tahu apa yang kadang-kadang muncul dalam benak anak-anak-Nya dan Tuhan mau mencegah penyembahan berhala itu. Dan sekalipun allah lain tidak ada, memang roh-roh jahat ada dan mereka suka menyeret anak-anak Tuhan kepada perbudakan baru, untuk menunduk kepada allah yang dibuat manusia dengan harapan bahwa mereka bisa menolong. Band. 1 Kor. 10:19,20.
Indah jika diperhatikan bahwa Tuhan berkata: Aku telah membawa ‘engkau’, bukan ‘kamu’. Bangsa Israel dipanggil secara perseorangan. Dalam perjanjian Allah setiap orang
bertanggungjawab penuh.
‘Di hadapan-Ku’: Tuhan Allah tentu menyaksikannya jika kita menyembah kepada berhala. Pelanggaran itu tidak bisa disembunyikan. Apalagi, dosa penyembahan berhala itu sering diumpamakan dengan dosa zinah (Yer. 2; Yeh. 16; Hos. 2) maka dapat dikatakan bahwa penyembahan berhala adalah seperti berzinah di depan mata suami atau isteri yang syah. Ilmu sihir dan tenungan adalah pelanggaran hukum ke-1. Sebab dengan itu kita menarik kepercayaan kepada berhala yang diundang oleh tukang sihir itu.
Jemaat Tuhan harus berhati-hati sekali terhadap pedukunan juga. Bukan jika diartikan sebagai obat tradisional semata-mata, tetapi jika ditemukan unsur percaya terhadap dukun yang mempunyai kuasa gaib, atau yang mengundang kekuatan dari roh-roh.
Grudem menulis bahwa sejak 1971 Amerika Serikat mundur, secara moril, sebab Mahkama Agung mereinterpretasikan kebebasan agama, dengan menentukan bahwa tindakan-tindakan pemerintah tidak boleh memajukan atau melemahkan salah satu agama. Kelihatan sekali bahwa Grudem sangat berfokus pada keadaan di Amerika Serikat. Beliau tidak menyebut agama islam, terkait dengan hukum 1, namun agama hindu disebutnya dengan mengatakan bahwa politeisme adalah pelanggaran hukum 1. Menurut saya beragama islam juga.
Mengherankan bahwa dalam materi hukum 1 Grudem lebih suka membahas perbedaan agama Protestan dan Katolik, sebab penyembahan Maria merupakan pelanggaran hukum yang 1. Menurut saya itu dapat dibenarkan, namun pembahasan agama Islam tepat juga (270). Tentang kebebasan agama: menurut saya interpretasi yang memberi hak yang sama kepada setiap agama adalah interpretasi yang benar, walaupun bukan saja Grudem tetapi juga sebagian dari aliran Reformed cenderung untuk membela agama sendiri dengan kuasa pemerintah (bdk Pengakuan Iman Gereja Belanda fasal 36), apalagi dahulu Katolik Roma.
Hukum yang kedua
Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun…
Hukum 1 dan hukum 2 berhubungan erat. Hukum 1 melarang untuk menyembah kepada allah lain, sedangkan hukum 2 melarang untuk menyembah kepada Allah dengan cara yang salah. Gereja KR tidak membedakan kedua hukum ini dan menerimanya sebagai satu saja. Supaya tetap mencapai angka 10 mereka membagi hukum yang ke-10 menjadi dua. Sebab menurut gereja KR tidak dilarang untuk membuat patung daripada orang santo atau bahkan daripada Tuhan Yesus, konon untuk mempermudah ibadah. Tetapi hal itu bisa berakibat penyembahan di hadapan patung itu. Oleh karena hukum yang ke-2 tidak dianggap sebagai hukum tersendiri maka gereja KR merasa bahwa pembuatan patung bisa diperbolehkan.
Untuk bangsa-bangsa di Timur-Tengah pada waktu kuno maka patung adalah tempat kediaman ilah, karena itu patung sendiri juga sering dinamakan allah. Ingatlah akan dosa dengan anak lembu emas. Kel. 32. ‘Buatlah untuk kami allah yang akan berjalan di depan kami (ay. 1)’. Dan kemudian: ‘Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir (ay.4)’. Jadi, mereka mau menyembah kepada Allah dalam rupa patung itu. Sama seperti bangsa-bangsa keliling, mereka menghendaki allah yang dapat diangkut mereka, dilihat mereka, diraba mereka. Tetapi dengan itu Allah dilecehkan dan dihina.
Pada dasarnya hukum yang ke-2 perlu diartikan sebagai hukum yang melarang setiap cara penyembahan kepada Allah yang melawan kehendak-Nya, dan yang adalah sesuai kehendak manusia. Dan juga segala bentuk kompromis, di mana manusia tidak menaruh percaya kepada Firman Tuhan saja tetapi mencampurkan agama benar dengan agama semu.
Allah sendiri tidak dapat dan tidak boleh digambarkan. Menyangkut makhluk: boleh digambarkan, asal bukan untuk disembah. Jadi, pandangan gereja Kristen berbeda dengan pandangan orang Islam, seperti terlihat pula dari kesenian masing-masing.
Tentang Tuhan Yesus, dan gambar-gambar-Nya seperti di Ceritera-ceritera Alkitab, dapat dikatakan bahwa gambar itu tidak salah sebetulnya, sebab Tuhan Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia. Tuhan Yesus, sebagai manusia, dapat dilukiskan, sekalipun jelas bahwa kita tidak tahu bagaimana roman muka-Nya.
Tajam sekali ucapan berkat dan kutuk yang mengakhiri hukum yang ke- 2 ini, tentang dosa yang dibalas kepada keturunan yang ke-3 dan ke-4 daripada mereka yang membenci Tuhan dan kasih setia yang turun atas generasi yang ke-1000. Ancaman itu tidak berarti bahwa cucu dan cici dikutuk karena orang tua, dan itu juga berlawanan dengan ayat-ayat lain, mis. Yeh. 18. Tetapi ancaman ini merupakan peringatan kepada orang yang hidup, supaya mereka tidak akan menyimpang sedikit pun, sebab jika mereka menyimpang, bisa saja keturunannya akan ikut, sampai cucu dan cici. Orang tua sendiri nanti dapat menyaksikan betapa hebat akibat daripada dosa mereka.
Grudem mendukung juga keterangan bahwa generasi 2 dan 3 tidak akan turut dihukum kalau bertobat. Begitu ia setuju juga kalau kita memiliki salah satu pandangan terhadap Kristus (patung mental) bahkan juga kalau kita melukiskan Yesus, sebagai Dia adalah manusia juga. Tetapi patung atau lukisan terhadap Allah Bapak langsung mengganggu pandangan terhadap Allah Tritunggal. Lukisan seperti yang terkenal dari Michelangelo yang memperlihatkan Allah sebagai manusia yang mengulurkan tangan dalam penciptaan manusia tidak
diperbolehkan, menurut Grudem. Pikir saya: kalau sama sekali tidak ada unsur penyembahan didalam itu, apakah tetap tidak boleh?
Benarlah nasihat Grudem untuk tidak juga membuat patung yang mental daripada Allah. Kalau tentang Kristus, sebagai Pengantara, diperbolehkan, lih. di atas. Di sini Grudem membayangkan bagaimana manusia berupaya untuk turut merasakan apa yang dialami Yesus sebagai manusia, yaitu kelaparan, permusuhan, pemukulan.
Hukum yang ketiga
Hukum yang ke- 2 telah melarang penyembahan yang salah, kemudian hukum yang ke-3 menunjuk jalan yang benar. Sekalipun hukum yang ke-3 juga berbentuk larangan, namun isi hukum itu menyatakan bagaimana Tuhan Allah hendak dipuji dan disembah: dengan memuji nama-Nya dan bersembayang kepada-Nya.
Tuhan tidak jauh, dan tidak perlu didekatkan melalui sebuah patung buatan manusia, yang adalah pemalsuan saja. Sebab Tuhan sudah dekat untuk setiap orang yang memanggil namaNya (Yes. 55:6). Tuhan telah memperkenalkan diri-Nya dengan sebuah nama yang sangat indah: Yahwe (di-indonesiakan dengan TUHAN) dan Tuhan mau dipanggil dengan nama itu dan akan mendengarkan mereka yang berseru kepada-Nya..
Keliru sekali orang Yahudi yang begitu takut untuk melanggar hukum yang ke-3 ini sehingga mereka sama sekali tidak mengucapkan nama Yahwe, tetapi setiap kali membacakan Adonai, di mana tertulis Yahwe. Naskah yang tertulis tidak diganggu, tetapi dalam pembacaannya terjadi penggantian nama. Dan hanya nama Allah yang satu itu, Yahweh, yang begitu disegani. Adonai berarti ‘tuan’, sedangkan Yahwe sebenarnya: ‘Aku adalah Aku’ (band
keterangan hukum yang ke-1). Karena kebiasaan orang Yahudi inilah maka dalam Septuaginta (terjemahan Kitab PL dalam bahasa Yunani), nama Yahwe diterjemahkan dengan Kurios (tuan), begitu juga dalam terjemahan lainnya: Lord (Ingg), Seigneur (Per.), Dominus (Lat), Tuhan (Ind.). Biasanya dengan huruf besar, untuk membedakannya dari kata Tuhan yang adalah sapaan untuk Tuhan Yesus (dan sebenarnya juga terjemahan dari kurios). Sebab dalam bahasa Yunani seorang besar dipanggil kurios: tuan.
Kadang-kadang juga orang Yahudi menggantikan nama Yahweh oleh ‘Syem’, yang berarti ‘Nama itu’, band. Im. 24:10-16.
Jika semuanya dipertimbangkan, harus dikatakan bahwa keliru sekali untuk tidak
menggunakan nama Yahwe yang indah itu. Nama itu diberitahukan oleh Allah sendiri, untuk mengingatkan bangsa Israel akan perjanjian Tuhan. Cuma, pemanfaatan nama itu dengan salah, itulah berbahaya. Contohnya pemanfaat arus listrik: sangat berguna, tetapi sangat berbahaya jika salah dipakai.
Nama Tuhan yang sangat berarti itu boleh disebut juga dalam sumpah: Tuhan mengizinkan kita untuk menyebut namaNya sebagai saksi, supaya perkara hukum yang berat dapat
diselesaikan. Begitu juga dalam pelantikan jabatan (pemerintah, dokter, notaris, ABRI). Tetapi bersumpah dalam hal-hal sepele saja tidak boleh, dan tidak boleh juga untuk menghindar dari kecurigaan. Nama Tuhan adalah agung, jangan mengucapkannya dengan sembarangan. Dalam Khotbah di Bukit Tuhan Yesus berpesan untuk sama sekali tidak bersumpah: tetapi latarbelakang ucapan itu adalah kritik Tuhan terhadap kemunafikan orang Yahudi yang mengucapkan sumpah yang hanya setengah saja (mis. pada surga, atau pada Bait Suci), yakni untuk bisa menyembunyikan tipu daya mereka sendiri. Karena itu Tuhan Yesus melarang sama sekali untuk bersumpah, dengan mengatakan bahwa ‘ya’ tinggal tetap ‘ya’ dan ‘tidak’ tinggal tetap ‘tidak’.
Dalam arti lebih luas harus kita sadari pula bahwa setiap pemakaian nama Tuhan dan juga nama Kristus bahkan Kristen, menuntut supaya kita menghormati nama yang suci itu dalam
kelakuan kita. Jika ada parpol Kristen, atau majalah Kristen, atau sekolah Kristen, hendaklah nama Tuhan terus dimuliakan di sana, dan tidak dicemarkan, apalagi dalam gereja Kristen. Grudem dalam keterangan hukum yang 3 membahas ‘purity of speech’, dan
menggabungkannya dengan hukum yang ke-9 (lih. di atas).
Nama adalah reputasi, kemuliaan, dan benar itu. Pada dasarnya, katanya, hukum ini meliputi seluruh hidup sebab manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. Mengganggu seorang manusia sekaligus merupakan penghinaan terhadap Allah, begitu pencurian (Amsal 30:9). Dan sebagai orang Kristen kita harus hidup dengan penuh bertanggungjawab, sebab nama Allah terlibat.
Grudem mendukung kalau seorang Kristen bersumpah, dan menerangkan Khotbah di Bukit dengan bagus. Ia tidak memilih aliran Anabaptis dalam hal ini, walaupun ia sendiri seorang baptis.
Tentang bernazar, menurut saya, Grudem memberikan keterangan yang agak biblisistis. Bernazar itu adalah alkitabiah, katanya. Akan tetapi sebuah nazar untuk melakukan yang tidak baik tidak perlu ditepati, katanya. Saya beranggapan bahwa sebaiknya kita menjauhi dari bernazar. Tetapi kalau sudah bernazar, kita terikat juga, sama dengan sebuah janji. Apalagi, Grudem sendiri begitu menekan untuk tidak berdusta, bahkan menolak dusta darurat. Kenapa nazar boleh ditiadakan? Ia melihat satu contoh tentang peniadaan nazar dalam Bil. 30, dan itu tidak dapat disangkal, tetapi menurut saya tidak boleh digunakan sebagai patokan umum untuk meniadakan janji. Begitu Grudem berkata bahwa orang tua berhak untuk meniadakan nazar-nazar bodoh dari anak-anak mereka. Menurut saya jangan hal seperti itu dilakukan atas dasar wibawa orang tua, dan atau Bil. 30, tetapi atas dasar hikmat dan tanggungjawab di mana terpaksa kita memilih yang terbaik dari dua opsi yang sama-sama berat dan sulit (289).
Hukum yang ke-empat
Ingatlah dan kuduskanlah hari sabat.
Dalam pemahaman hukum Allah dapat dibedakan antara dua cara penggunaan: yakni ‘nomisme’ dan ‘antinomianisme’. Dan khususnya dalam penetrapan hukum yang ke-4 itu aliran-aliran tersebut sangat nampak.
Nomisme (nomos= hukum) berpegang pada penerapan hukum dengan cara hurufiah. Paling jelas itu dalam aliran adventisme, yang tetap merayakan hari yang ke-7, jadi hari sabtu. Tetapi nomistislah juga penafsiran hukum yang ke-4 yang memproklamir sebuah daftar tentang hal-hal yang diperbolehkan pada sabat dan hal-hal-hal-hal yang tidak, seperti kita tahu dari orang-orang Farisi.
Orang antinomianis beranggapan bahwa hukum tidak penting bagi kehidupan seorang Kristen. Begitu juga hukum yang ke-4. Mereka berani mengatakan bahwa seorang Kristen telah merdeka dari hukum Taurat (Gal. 4,5).
Maksud Paulus di sana adalah bahwa kita bebas dari hukuman yang dituntut oleh hukum kepada orang berdosa. Kita merdeka dari hukuman itu oleh sebab Kristus telah menanggung hukuman itu.
Hemat kami gereja-gereja Kristen di Indonesia cenderung antinomianistis dalam hal merayakan hari minggu: berbelanja, bepergian, dianggap biasa.
1. Menurut Kej. 2:2,3, Kel. 20:8-11; Kel. 31:161,7, Ibr 4, Tuhan Allah telah menetapkan sabat pada awal dunia. Allah Pencipta sendiri berhenti bekerja pada hari yang ke- 7, dan
menentukan bahwa seterusnya sehari pada setiap minggu akan disendirikan untuk menjadi hari perhentian.
2. Hari yang kudus itu dimaksudkan pula menjadi hari ibadah, untuk memuji Tuhan. Sesudah manusia jatuh hari ke-7 sebagai hari perhentian tetap berlaku, juga sebagai hari ibadah di mana Tuhan dipuji, bukan saja karena penciptaan tetapi karena penebusan pula. Unsur itu nyata dalam Ul. 5 di mana pelepasan dari Mesir disebut sebagai alasan untuk merayakan hari sabat.
Bahwa sabat sudah dikenal sejak penciptaan, jadi sebelum hukum Taurat diberikan, menurut kami jelas dari Kel. 16, ceritera mengenai ‘mana’. Sebab dikatakan bahwa pada hari ke-7 mana tidak akan turun, sebab manusia harus bebas dari pekerjaan pada hari itu.
Di bumi baru bangsa Tuhan akan akan menikmati perhentian sempurna dam bersukacita untuk selama-lamanya (Ibr. 4:8,9).
3. Gereja PB sejak zaman rasuli merayakan hari yang pertama, tidak lagi hari yang ke-7, sebab pada hari pertama Tuhan Yesus bangkit dari antara orang mati dan setiap kali jemaat Tuhan, pada hari pertama minggu itu, boleh memperoleh perhentian dan bisa beribadah, dan diingatnya bahwa keselamatan diperoleh oleh Yesus Kristus. Inti dari sabat tinggal tetap: perhentian dan ibadah, tetapi diwujudnyatakan pada hari pertama untuk memuji Yesus Kristus sebagai Juruselamat yang bangkit.
Kebiasaan gereja purba untuk berkumpul pada hari pertama terlihat dari Kis. 20:7, 1 Kor. 16:2, Wahyu 1:10. Jemaat pertama belum diperbolehkan untuk beristirahat sepanjang hari, dan mereka beribadah pada waktu pagi subuh atau malam. Kebudayaan Yunani- Romawi belum memungkinkan untuk berhenti bekerja. Baru kaisar Konstantinus Agung yang masuk Kristen membuat hari minggu menjadi hari raya (tahun 323). Syukurlah, keputusannya mempengaruhi begitu banyak kebudayaan di dunia ini sampai sekarang.
‘Ingatlah’ berarti dalam bahasa Ibrani: mengingat untuk dilakukan.
‘Kuduskanlah ‘ berarti: menganggap khusus, spesial; untuk diperlakukan sebagai hari khusus, yakni untuk Tuhan.
Keterangan Grudem tentang hari sabat panjang lebar. Ia mengaku bahwa ia sendiri lama adalah orang sabatis, tetapi sekarang tidak lagi. Tetapi argumentasinya tidak jelas bagi saya. Menurutnya tidak ada perintah dalam Kej. 1,2 bahwa Adam dan Hawa harus beristirahat pada hari ke -7. Menurut saya ada. Menurutnya hukum sabat terkait dengan banyak seremoni Yahudi. Memang, itu tidak dapat disangkal, tetapi intinya tetap dari awal penciptaan, sebelum terjadi pelebaran dalam agama Yahudi. Menurutnya hukum 4 termasuk hukum Musa yang sudah berlalu. Katanya bahwa sesuai Ibr 3,4 orang Kristen memasuki perjanjian baru dan mengambil bagian dari perhentian yang sudah diberikan sejak penciptaan dan yang tidak dimasuki oleh orang Yahudi. Menurut saya keliru kalau kesepuluh hukum dianggap sebagai bagian hukum Musa yang tidak berlaku lagi.
Grudem menggunakan ke-10 hukum dalam arti tertentu, yaitu sebagai prinsip pengaturan bukunya. Katanya, 9 dari 10 hukum diteguhkan kembali dalam NT sehingga memiliki nilai moril bagi orang Kristen di seluruh dunia, tetapi hukum yang ke-4 tidak. Menurut Grudem sabat berlaku bagi orang Yahudi sampai Kristus datang. Sabat menjanjikan perhentian badani, Yesus memberikan perhentian rohani (Mat. 11, Ibr 4). Bahkan Grudem menjelaskan bahwa
PB secara eksplisit menolak sabat untuk sekarang, Rom. 14, Gal. 4. Menurut saya yang dimaksudkan di sana adalah seremoni-seremoni Yahudi sekitar sabat, tetapi bukan sabat sebagai hari perhentian sendiri. Dan juga PB menolak cara orang Yahudi merayakan sabat, dengan sangat tekad, yang tidak berarti bahwa seluruh hari khusus itu sudah ditiadakan. Grudem sependapat dengan Calvin: sekalipun sabat ditiadakan, kita tetap memiliki
kesempatan untuk beribadah pada hari-hari tertentu dan berhenti bekerja, bagi karyawan juga. Memang pandangan Calvin demikian, namun menurut saya lebih baik kalau sabat tetap dilihat sebagai peraturan yang ditetapkan Allah dari awal penciptaan, asal cara merayakannya tidak seperti cara orang Yahudi. Jangan lupa: kalau dikatakan dalam hukum 4 bahwa seluruh pekerjaan harus dikerjakan pada hari lain, itu tidak berarti bahwa kita mengikuti tambahan-tambahan orang Yahudi mis. tentang jumlah langkah tertentu yang boleh dilalui dll.
Grudem meneruskan pandangen terhadap hikmat untuk beribadah pada hari tertentu, dan berkata bahwa setiap hari pada dasarnya boleh, tetapi hari minggu sangat baik, seperti telah dianjurkan oleh Justinus Martyr.
Grudem berkata bahwa Allah berkenan pada pekerjaan kita, tetapi berkenan juga pada istirahat dan liburan kita. Dari peraturan mengenai tahun sabat ia berkesimpulan bahwa mengatur libur penting juga.
Katanya bahwa tidak perlu namun berhikmat untuk mendukung hukum-hukum sipil tentang tutup usaha pada hari Minggu. Walaupun demikian, ia sendiri suka shopping dan makan di restoran pada hari Minggu, seperti sering terjadi di Indonesia, dan yang sangat jarang di Belanda, bahkan dulu dilarang keras dalam gereja.