• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kitab Suci sebagai sumber Etika

Dalam dokumen PENGANTAR ETIKA KRISTEN (Halaman 30-38)

Kitab Suci (Alkitab) adalah sumber utama untuk Etika Kristen. Banyak orang

menyangkalnya, juga banyak teolog, atas dasar bahwa waktu dan tempat terlalu berbeda. Tetapi kami yakin bahwa Roh Kudus yang telah mengilhamkan Kitab Suci untuk menjadi Firman Tuhan bagi segala zaman, sanggup untuk membuat Alkitab menjadi sumber bagi setiap orang yang hendak menimba daripadanya.

Dalam Kitab Perjanjian Baru sering ditemukan orang-orang suci yang mendasarkan pandangan mereka atas kitab Perjanjian Lama, mis. Ul 32:35 dalam Roma 12:19. 2 Kor.8:15, 9:9 mengutip Kel. 16:18 dan Mazm 112:9 tentang hal memberi. 1 Kor. 10 menyebut sejarah Israel di padang gurun sebagai pengajaran bagi kita. ‘Sebab ada tertulis’ merupakan alasan kuat. Luk. 10:26, Mat. 22:29, Yoh. 10:35.

Begitu juga pandangan dalam sejarah gereja. Augustinus, Tomas dari Aquino, Luter dan Calvin bersumber pada otoritas Alkitab.

Kedudukan Alkitab berubah total ketika para penafsir, berdasarkan ilmu yang disebut

penelitian historis-kritis, tidak menerima lagi kesatuan Alkitab dan menganggap Alkitab

sebagai kesaksian-kesaksian manusiawi yang bertentangan satu dengan yang lain. Sejak itu selalu diterbitkan buku-buku tentang mis. etika Yesus yang eskatologis, etika jemaat-jemaat pertama, etika Paulus yang kristologis dll. Judul-judul seperti itu menurut kami tidak tepat sebab mengesankan bahwa terdapat bermacam-macam etika dalam Alkitab.

Dalam abad XX, di bawah pengaruh filsafat eksistensialisme, disangkal bahwa terdapat kebenaran-kebenaran yang tetap berlaku. Katanya: tidak mungkin untuk menempatkan buku Alkitab dalam sebuah aku-anda relasi, dalam hal ini relasi Allah dan manusia. Teologi K. Barth dicoraki oleh filsafat tersebut. Dan menurut filsafat tersebut, setiap kebenaran akan terwujud dalam sebuah relasi.

Terdapat teolog-teolog yang tidak menerima Alkitab sebagai Firman Tuhan dan sebagai sumber untuk etika, tetapi menerima saja beberapa model dari Alkitab, yang menurut mereka memiliki wibawa dari Allah. Pertanyaan kami ialah mengapa beberapa model saja diterima sebagai berwibawa dan Alkitab sendiri tidak. Dan juga: model-model apa yang layak diterima dan apa tidak? Contoh: Exodus motif, sebagai dasar untuk teologi Pembebasan, atau motif Khotbah di bukit. Atau motif kasih.

Berbeda sekali dengan pola tadi adalah ‘biblisisme’, yaitu bahwa nas-nas Alkitab diterima terlepas daripada konteks. Perbedaan waktu dan tempat tidak dihiraukan. Mis. kutuk atas Ham (Kej. 9:29) menjadi dasar untuk mempertahankan perbudakan orang negro, atau Yoh.

9:4a sebagai dasar untuk bekerja seminimal 9 jam sehari, atau enam hari seminggu (Kel. 20:9).

Alkitab adalah Firman Tuhan yang oleh pekerjaan Roh Kudus merupakan pedang yang bermata dua (Ibr. 4 :12). Tetapi selalu harus kita memeriksa diri apakah kita menggunakan Alkitab dengan murni dan tidak biblisistis. Mereka yang tidak menerima Alkitab sebagai Firman Tuhan seringkali mengatakan bahwa orang Kristen yang menerima Alkitab sebagai sumber Etika adalah orang yang biblisistis. Namun, tuduhan itu tidak tepat bila pembaca Alkitab yang menerima wibawa Alkitab memperhatikan juga konteks setiap nas.

Telah disebut aliran yang disebut etika naratif (S. Hauerwas): para pembaca yang hidup sekarang tidak terlepas daripada sejarah yang diceriterakan dalam kitab Suci: “we learn to locate our story in Gods story”.

Etika naratif menurut penganutnya menganggap perlu untuk membiasakan diri dengan waktu lampau. Dan memang tidak mungkin membahas Kesepuluh Hukum terlepas daripada

pendahuluan tentang pembebasan dari Mesir, atau Khotbah di bukit terlepas daripada berita tentang kerajaan Allah yang dibawa oleh Yesus Kristus. Tetapi Douma menanyakan apakah hal-hal naratif (yang bersifat ceritera) semudah itu bisa dikaitkan dengan ketaatan, dan apakah tidak lebih baik kita menerima sebagai perintah Tuhan apa yang disampaikan sebagai perintah Tuhan.

Menurut Douma dapat dibedakan antara empat penggunaan Alkitab : 17

1. Apabila digunakan secara langsung, Alkitab adalah seperti pemandu. Dalam keadaan konkrit terdapat petunjuk Alkitab yang konkrit.

2. Alkitab adalah tetap seperti penjaga, yang tidak menunjuk jalan yang benar tetapi memberikan aba-aba untuk tidak ikut jalan yang salah. Dalam keadaan konkrit Alkitab memberikan peringatan untuk tidak melakukan sesuatu yang salah itu.

3. Alkitab digunakan juga sebagai penunjuk arah, yang dalam lalu lintas menunjuk tujuan kepada pengemudi-pengemudi. Sebab Alkitab memberikan faktor-faktor yang tetap, dan yang direktif bagi kita.

4. Di samping itu Alkitab memberikan banyak contoh, mis. dari Yesus Kristus sendiri: contoh-contoh seperti itu sering tidak mengajar kelakuan konkrit melainkan etos Kristen secara umum.

Menyangkut Alkitab sebagai penjaga dapat ditambahkan umpamanya bahwa perkembangan-perkembangan historis seperti pembubaran perbudakan, penghentian poligami, penjajahan, memang tidak langsung diperintah dalam Alkitab tetapi benar-benar adalah sesuai ajaran Alkitab dan juga sesuai perkembangan sejarah.

Menyangkut Alkitab sebagai penunjuk arah: terdapat masalah-masalah etis yang jawabannya tidak ada dalam Alkitab, oleh karena pada waktu itu masalah-masalah tersebut belum bisa ada: mis. bayi tabung, penyelidikan DNA. Tetapi karena Tuhan menetapkan faktor-faktor yang tetap berlaku maka Alkitab berguna dalam permasalahan itu juga, misalnya melalui unsur-unsur seperti ‘jangan membunuh’, ‘manusia adalah gambar Allah’ dll.

Tentang pokok yang sama: Walter C. Kaiser jr ‘How can Christians derive principles from the specific commands of the law’, dalam Clark, Rakestraw, ‘Readings in Christian ethics’, vol. 1, Douma, o.c., 98.

192-201. Cara yang paling lazim untuk mendapatkan relevansi dari perintah-perintah khusus, yang berasal dari waktu dan budaya yang berbeda, adalah mencari ‘middle axioms’, yaitu prinsip-prinsip umum yang mendasari yang khusus. Kaiser membedakan 4 tingkat: 1. Mengasihi Allah; 2. Mengasihi sesama; 3. Ke-10 hukum; 4. Kasus-kasus yang berhubungan dengan ke-10 hukum.

Kita akan maju daripada yang khusus kepada yang umum untuk menjadikannya prinsip kita, dengan memperhatikan 1. Apakah naskah menyebut alasan teologis atau moril yang khusus, 2. Apakah terdapat kutipan dari nas Alkitab lain atau hubungan dengan nas lain, 3. Apakah ada nas yang sejajar yang memberi keterangan, 4. Apakah terdapat penerapan yang legal. Dalam buku yang sama, 202-206, Gordon D. Fee dan Douglas Stuart ´Distinguishing

culturally relative from normative teaching´. Artikel itu terarah kepada kitab Perjanjian Baru.

1. Membedakan inti berita daripada pinggirnya.

2. Membedakan hal-hal yang dianggap moril oleh Perjanjian Baru sendiri. 3. Memperhatikan hal-hal yang tetap sama dalam Perjanjian Baru sendiri. 4. Membedakan prinsip dan penerapan dalam Perjanjian Baru sendiri.

5. Memperhatikan apakah menurut penulis Alkitab sendiri hanya satu keterangan dapat

diberikan atau lebih.

6. Berhati-hati terhadap perbedaan budaya yang terlalu besar. 7. Menerapkan kasih kristiani.

Grudem juga menanyakan apa yang tetap berlaku dan apa yang relatif dalam Alkitab, bdk fasal 3.

Christopher J.H. Wright: Segitiga etika

Wright adalah seorang Inggeris yang pernah mengajar di Indiah. Ia ahli etika dan ahli

Perjanjian Lama. Dalam karyanya yang terkenal: ‘Old Testament ethics for the people of God’ ia meletakkan sebuah dasar yang kuat dengan mengintrodusir pengertian ‘the ethical

triangle’ (segitiga etika) . Ia menekankan bahwa etika Israel dibangun atas ‘worldview Israel’ 18 (pandangan umum orang Israel). Dalam pandangan itu orang Israel berfokus kepada Tuhan, Allah Israel (sudut teologis), bangsa Israel, sebagai bangsa yang dipilih dan yang mempunyai hubungan unik dengan Allah (sudut sosial) dan tanah Israel, yang menurut keyakinan orang Israel adalah tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka (sudut ekonomis). Ketiga sudut tersebut membentuk sebuah segitiga, yaitu segitiga etika.

Wright menekankan bahwa dalam seluruh P.L. etika bersifat teologis: pokok-pokok etis terkait dengan Tuhan Allah: sifat Allah, kehendak Allah, tindakan-tindakan Allah, tujuan Allah. Ditekankan juga bahwa Allah dikenal dari sejarah, dari tindakan-Nya, bukan saja dari perkataan-Nya. Ditekankan pula bahwa dalam sejarah itu Allah selalu berprakarsa: Allah mencari manusia, Allah memilih Abraham dan bangsa Israel, Allah mendirikan perjanjian. Dalam hal itu inti kitab-kitab Perjanjian Baru sama, band. Yoh. 15:12, 1 Yoh.4:19, Roma 12:1. Dan karena itu etika Kristen sekarang seharusnya bertolak dari pembebasan manusia oleh Allah berdasarkan anugerah-Nya itu.

Wright dengan sangat tepat memilih nas-nas Alkitab untuk menjelaskan keseluruhan maksudnya: mis. Kej. 50:20 sebagai pernyataan yang sangat indah tentang kemahakuasaan Allah dan kebebasan manusia (Yusuf dan saudara-saudaranya) atau Kej. 18:19, yang menerangkan keterjalinan peran Israel yang etis dan yang misioner: Abraham dipilih Allah agar ia membimbing rumahtangganya dan keturunannya berjalan di jalan Tuhan, dengan melakukan keadilan dan kebenaran. Supaya Allah akan menghasilkan untuk Abraham apa yang telah dijanjikan-Nya, yaitu bahwa dalam Abraham seluruh dunia akan beroleh berkat. Sedangkan konteks perkataan itu adalah hukuman Allah terhadap Sodom.

Diselidiki ciri khas kehidupan sosial Israel dibanding dengan bangsa-bangsa sekelilingnya. Tentulah perbedaan yang paling nampak adalah teologis. Dan berhubung dengan itu Israel tidak mengikuti pola sosial bangsa-bangsa Kanaan, yang bersifat feodal, di mana raja

memiliki seluruh penduduk dan seluruh tanah, karena raja juga dilihat sebagai anak dewa. Di Israel seluruh tanah dimiliki oleh keluarga-keluarga, setiap orang Israel adalah bebas,

pemerintahan dilakukan oleh penatua-penatua kota. Ketika bangsa Israel mengingini seorang raja, Samuel memberi peringatan keras. Hanya pada masa Daud dan Salomon kerajaan bermakmur, tetapi kemerosotan telah dimulai pada zaman Salomon. Cerita Ahab dan Nabot menjelaskan bahwa kejahatan religius dan ekonomis berjalan sama: penyembahan berhala oleh Ahab akhirnya menyebabkan ia mencuri tanah Nabot, dan Nabot dituduh Ahab dengan palsu sebagai pemfitnah Allah sehingga Nabot dihukumkan mati.

Wright berkata bahwa Israel adalah paradigma (contoh, pengajaran) Allah: bukan saja Firman Allah kepada Israel tetapi seluruh keberadaan Israel sebagai bangsa Allah yang dipimpin Allah, dalam semua aspek kehidupan. Menjadi paradigma tidak berarti bahwa hukum-hukum Perjanjian Lama langsung dapat diterapkan. Israel sebagai paradigma berarti bahwa

keseluruhan sejarahnya menjadi paradigma, dan dalam hal itu perlu direnungkan pula bahwa Israel adalah jalan Tuhan kepada dunia ini untuk mendatangkan Juruselamat dunia.

Tentang pelajaran yang dapat diperoleh dari budaya Israel sesuai Perjanjian Lama, lihat juga Yonki Karman, Bunga rampai teologi Perjanjian Lama.

Penggenapan hukum dalam Kristus:

Menggenapi, pleroo, (Mat. 5: 17) berarti melengkapi, bukan saja mengesyahkan: arti hukum bagi kita berbeda dengan artinya bagi Israel, menurut Douma. Memang bagi kita hukum Musa tidak lagi menjadi pemandu: persembahan-persembahan tidak dituntut lagi, dan juga hukum-hukum perdata berbeda: dalam hukum Musa ditemukan 20 pelanggaran yang menuntut hukuman mati pada waktu itu, tetapi bukan pada waktu kita.

Dalam kasus hukum yang ke-4 penggenapan berarti bahwa sabat israelitica ditemukan kembali dalam perayaan hari minggu. Hukum yang ke-4 itu tidak termasuk peraturan-peraturan seremoniil atau peraturan-peraturan kenegaraan, tetapi termasuk undang-undang dasar yang diperintahkan Allah sendiri di gunung Sinai.

Menurut Calvin hukum-hukum negara yang berbeda dengan hukum Musa kadang-kadang bahkan lebih cocok bagi mereka daripada hukum Musa. Oleh sebab itu menurut Calvin tidak dapat dikatakan bahwa negara non-Kristen telah meniadakan hukum Musa, karena

sebenarnya hukum Musa tidak pernah diberikan kepada bangsa itu sebagai undang-undang negara.

Tomas Aquinas membedakan antara hukum moril, seremoniil, dan sipil, begitu juga sebuah kompendium ajaran Reformed di Belanda dari abad yang ke-16, yang berjudul Synopsis

purioris theologiae.

Berbeda sekali adalah pandangan orang-orang tertentu di Amerika Serikat, a.l. R.J.

Rushdoony, yang disebut Christian Reconstruction. Aliran ini termasuk teonomi, yang sudah dibahas lebih dahulu. Mereka mau menghidupkan seluruh hukum Musa dengan pengertian bahwa penyembahan berhala, mengutuki orang, homoseksualitas, pemberontakan terhadap orangtua, perlu dihukum mati. Menurut Rushdoony pandangan Calvin bahwa bangsa-bangsa boleh mengembangkan hukumnya sendiri, sesuai sikon, adalah pandangan bidah.

Pandangan Christian Reconstruction itu berkaitan dengan postmilennialisme: masyarakat kini akan hancur dan sesudah itu manusia akan hidup bila ia berbalik ke hukum-hukum Alkitab. Hanya hukum-hukum seremoniil merupakan pengecualian baginya.

Untuk bersumber pada Alkitab dengan cara yang bertanggungjawab kita membutuhkan

pertolongan Roh Kudus.

Dibanding dengan Israel, gereja PB sudah akalbalig. Dipimpin oleh Roh Kudus ia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Apakah Roh Kudus memberikan pula pengetahuan tambahan, di samping pengetahuan dari Alkitab? Pertanyaan itu tidak langsung dapat dijawab.Tetapi seorang yang berkata bahwa ia memiliki pengetahuan yang datang langsung daripada Roh Kudus, harus memberikan legitimasinya melalui Firman Tuhan. Seorang yang tampil sebagai seorang yang dipimpin oleh Roh Kudus, harus dinilai dengan analogia fidei (kesamaan iman, isi iman) (Roma 12 :3, 1 Kor. 14 :29).

Calvin telah berkata : kita membutuhkan consonans dari dua suara : Firman dan Roh.

7. Kasih sebagai inti Hukum.

Dalam bab-bab sebelumya telah kami katakan bahwa kami memilih sebuah etika yang dapat dicirikan sebagai etika tanggungjawab, bersama dengan J. Douma dan M. Brownlee. Dietrich Bonhoeffer mengutamakan dua unsur dalam kelakuan etis: tanggungjawab dan kasih. Pada dasarnya Douma memilih yang sama, dan Brownlee maupun kami sendiri juga.

Kasih mencakup segala perintah, sebagai ‘ikatan kesempurnaan’ (Kol. 3:14).

Banyak kebajikan (virtue) telah dibahas, terkait dengan etika kebajikan, namun untuk kebajikan ‘kasih’ kami persembahkan satu fasal tersendiri.

Semua kebajikan yang didefinisikan untuk melukiskan etika kebajikan dengan khusus terarah kepada manusia, tetapi ketika kita membahas kasih, makanya kita harus memperhatikan dulu Allah.

Alkitab menyebut kasih Allah dalam berbagai-bagai bentuk. Kasih Allah kepada dunia (Yoh.3:16), kasih Allah kepada bangsa-bangsa (Ul. 33:3), kepada manusia (Titus 3:4) dan khususnya kepada bangsa-Nya sendiri (Ul. 4:37, Yoh. 17:3, Ef.2:4) yaitu bangsa Israel dulu dan kemudian semua orang yang berada dalam Kristus.

Tersebut juga kasih Kristus, 2 Kor. 5:14, 1 Joh. 3:16, dan kasih Roh Kudus, dan juga kasih antara Bapak, Anak dan Roh.

Manusia dipanggil untuk mengasihi Allah, dan juga sesama manusia. Dalam kasih yang terakhir itu dapat dibedakan kasih antara suami dan isteri, orangtua dan anak, antara sahabat, antara kekasih, antara orang seiman, tetapi juga terhadap orang asing.

Perlu dicatat juga kasih manusia kepada dirinya sendiri.

Bahkan kita dapat juga mengasihi hal-hal seperti hikmat, perintah Allah dll. Sayangnya kasih dapat diarahkan pula kepada hal-hal yang tidak baik, mis. dunia.

Untuk membedakan beberapa bentuk kasih, sebaiknya diperhatikan kata-kata Yunani seperti ‘eroos’ dan ‘agape’, yang diterangkan dengan baik oleh C.S. Lewis: ‘need-love’ dan ‘gift-love’. Keduanya pada dasarnya baik, tetapi mempunyai ciri khas yang berbeda. Di samping itu bahasa Yunani mengenal juga kata ‘storge’ (kasih yang nyata dalam mengasuh,

Sekalipun pembedaan eroos-agape itu penting adanya, namun bukan semuanya dapat dicakup didalamnya itu. Sebab kasih dapat berhubungan juga dengan unsur mengagumi, mis. terhadap perintah-perintah Allah atau Bait Suci.

H. van Oyen memperhatikan tiga bentuk kasih: ‘eroos’, ‘agape’ dan ‘filia’. Douma mengikut pembahagian itu dan menerangkan: ‘eroos’ adalah ketertarikan kepada oknum yang lain, termasuk kasih seksuil. ‘Agape’ adalah kasih yang tidak menerima melainkan memberikan. Kadang-kadang dengan menyangkal diri. ‘Filia’ adalah kasih terhadap struktur-struktur hidup, sebagaimana ditentukan oleh Allah . 19

Katabenda ‘eroos’ dan ‘filia’ tidak ditemukan dalam PB, hanya ‘agape’. Sedangkan katakerja yang ada hanya ‘filein’ dan ‘agapein’.

Kasih kepada Allah tidak terbatas pada saat-saat tertentu, di mana iman kita memuncak dalam hubungan mistik dengan Allah. Dan dalam kasih kepada Allah tentu juga tidak ada tempat bagi seksualitas, seperti pada ritual-ritual orang Kanaan (ilah seperti Baal dan Astarte).

Adiafora

Kasih kepada Allah total adanya. Tinggal pertanyaan apakah ada adiafora (hal-hal yang netral, tidak penting). Secara praktis memang ada, namun istilah itu tidak tepat.

Jelas bahwa Alkitab dalam sekian banyak kasus tidak memberikan peraturan langsung. Tetapi tidak benar bahwa terdapat zone netral di mana manusia dapat menentukan semau-maunya saja. Untuk setiap keputusan ada situasi tertentu, akibat tertentu, mungkin juga emosi tertentu. Mungkin tidak ada perintah tertentu, namun setiap keputusan harus diambil secara

bertanggungjawab.

Pilihan orang Kristen yang satu dengan yang lain dapat berbeda, padahal dua-dua

bertanggungjawab. Dalam Fil. 1:9 tidak dibicarakan tentang adiafora, tetapi justru dikatakan bahwa kita harus menentukan sikap kita tentang ‘diaferonta’ (hal-hal yang harus dibedakan), yaitu memilih yang penting dan mengambil keputusan baik tentang itu.

Siapa sesamaku?

Tidak sulit bagi seorang untuk menjawab siapa sesamanya (ho plesios). Band. Luk 10 dan Mat. 22. Dalam situasi konkrit akan menjadi nyata siapa yang telah menjadi sesama bagi kita: setiap orang dapat menjadinya, tetapi bukan setiap orang adalah sesama kita. Dalam kasih kepada sesama terdapat juga urutan. Sebab terdapat orang yang lebih dekat dengan kita daripada yang lain.

Tidak tepat jika kasih terhadap sesama selalu merupakan ‘gift love’ dan tidak pernah ‘need-love’. Dalam sebuah relasi, dalam hubungan cinta, baik eeroos maupun agape perlu.

Tuntutan untuk mengasihi tidak selalu berat adanya. Sebab apakah dalam kasih kepada anak sendiri, dan antara suami-isteri tidak banyak juga yang kita terima? Akan timbul masalah, jika eroos dan agape diceraikan dan hanya kasih kepada seorang dilihat sebagai tuntutan dari Allah dan kasih daripada seorang tidak.

Kasih kepada Allah dan sesama telah dituntut dalam PL juga, yaitu Im. 19:18, dibanding dengan Ul. 6:5. Tetapi unsur yang baru dalam PB adalah bahwa Yesus menunjuk kepada diri-Nya: ‘Sama seperti Aku mengasihi kamu’ (Yoh. 13:34). Jadi, ‘filadelphia’ (kasih

persaudaraan) adalah bentuk khusus daripada kasih kepada sesama. H. van Oyen, Evangelische Ethik, Basel 1952, 115.

Kata ‘seperti dirimu sendiri’ menunjukkan intensitas kasih. Kasih kepada diri sendiri tidak boleh menjadi ‘mementingkan diri’, ‘filautos’, band 2 Tim. 3:2.

‘Mengasihi musuhmu’ Mat. 5 :47.

Salah satu alasan untuk mengasihi musuh, adalah bahwa Allah sendiri mahamurah (Rom. 12 :1). Yoh. 3 :16 adalah dasar kasih kepada musuh. PL juga melarang untuk bersifat benci: Im 19:17, Amsal 24:17, 29.

Kata Yesus bahwa menurut tradisi para musuh harus dibenci, Mat. 5 :43, bukan berarti bahwa menurut hukum kita harus membencinya, tetapi menurut penafsir-penafsir. Tetapi Yesus Kristus mengajarkan yang lebih mendalam, yaitu lebih radikal, sebab Kristus sendiri mati untuk orang berdosa.

Atas dasar perintah untuk mengasihi sesama janganlah disimpulkan bahwa setiap argumentasi berdasarkan lex talionis (hukum pembalasan) harus ditolak. Bila Yesus menolak itu, Mat. 5 :38, itulah karena Ia berbicara kepada pengikut-pengikut-Nya secara perseorangan. Sebab memang, seorang diri tidak boleh membalas dendam, sebab Allah yang mempunyai

pembalasan. Tetapi Allah menginstruksikan kepada pemerintah-pemerintah untuk menjalankan hukum, bahkan untuk menghukumkan (Roma 12, 13).

Mengasihi musuhnya adalah perintah untuk semua orang Kristen, tidak seperti ajaran KR bahwa hanya saja perfecti (orang sempurna) bisa memenuhi consilia (anjuran-anjuran) itu. ‘Peraturan emas’

Terkenal sebuah nas yang dinamakan ‘peraturan emas’ (Mat. 7: 12): ‘segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi’.

Secara singkat: menunjukkan kepada sesamamu kasih yang diharapkan olehmu. Peraturan seperti itu telah ditemukan pada Thales dari Milete, 600 seb M., dan pada

Konfucius, 500 seb. M. Seringkali rumusan tersebut ditemukan dalam bentuk yang negatif: ‘yang engkau tidak kehendaki dll’. Akan tetapi perbedaan antara perumusan yang positif dan yang negatif tidak terlalu besar.

Konteks bagi penggunaan secara Kristen adalah hukum dan para nabi.

Kant mengeritik peraturan itu tapi sebenarnya tidak berbeda jauh dengan imperatif yang kategoris sebagaimana dikalimatkan Kant sendiri: Berbuat demikian supaya apa yang engkau terima sebagai prinsip, dapat menjadi juga prinsip bagi semua orang.

Terdapat pula tafsiran yang utilistis dari nas tersebut: ‘do ut des’ : ‘berikan supaya engkau akan berikan’.

Mengasihi diri

Menurut Augustinus, Bernard de Clairveau, Thomas Aquinas, maka kita wajar mengasihi diri, sedangkan menurut Calvin dan Barth dll tidak boleh. Tetapi semua teolog tersebut yakin bahwa memang terdapat bentuk kasih diri yang jelek.

Augustinus membela kasih diri sebagai kekuatan yang mendorong manusia memandang ke atas sampai kasih itu memuncak dalam kasih kepada Allah.

Bagus juga Tomas : seorang yang mengasihi Allah akan mengasihi juga kepunyaan Allah, yaitu diri sendiri.

Tetapi berhubungan dengan ini Augustinus maupun Tomas mengajar juga sesuatu yang aneh, yaitu : kita harus mengasihi sesama karena hal yang baik didalamnya, yaitu kita mengasihi

natura manusia pada umumnya. Jadi kita mengasihi musuh karena ia tetap manusia. Tetapi dengan demikian kita membuat manusia konkrit menjadi abstrahan. Dan pada akhirnya kita tidak mengasihi orang tertentu, sedangkan justru itulah yang dikehendaki Allah.

Jangan menempatkan kasih diri di atas kasih kepada sesama, sebab terdapat hanya dua

perintah dalam Mat. 22. Kristus tidak berkata: dan mengasihi dirimu. Kasih diri adalah sebuah kenyataan yang menjadi pengukur dan dorongan untuk kasih yang lain.

Kasih dan keadilan. Etika situasi

Terdapat sebuah perkataan Augustinus yang tidak boleh menjadi patokan absolut: ‘dilige et quod vis, fac’. ‘Kasihilah, dan apa saja yang engkau mau, perbuatlah itu’. Augustinus mau menekankan kemerdekaan kristiani, bahwa seorang Kristen tidak terikat kepada banyak

Dalam dokumen PENGANTAR ETIKA KRISTEN (Halaman 30-38)

Dokumen terkait