PENGANTAR ETIKA KRISTEN
Dr. Jan Boersema
Daftar isi
2 Daftar isi3 1. Moral dan etika Prakata Definisi
7 2. Etika umum dan etika Kristen 13 3. Wayne Grudem, Christian ethics.
18 4. Sekularisasi
Charles Taylor, A Secular age
Herman Paul, Shopping pada masa Adven
22 5. Utilisme atau deontologi? Atau etika kebajikan? Atau etika nilai? Kewajiban yang bertabrakan?
30 6. Kitab Suci sebagai sumber etika. Christopher Wright, segitiga etika. 34 7. Kasih sebagai inti hukum.
Adiafora. Siapa sesamaku? Mengasihi musuh. Peraturan emas. Mengasihi diri.
Etika situasi.
38 8. Kesepuluh hukum (hukum 1-4) 44 9. Kesepuluh hukum (hukum 5)
Taat kepada pemerintah Berperang
49 10. Kesepuluh hukum (hukum 6) Etika medis
54 11. Kesepuluh hukum (hukum 7) Nikah adat. Nikah gereja. Penceraian.
Homoseksualitas. Pelecehan seksual 63 12. Kesepuluh hukum (hukum 8-10)
Etika lingkungan. ‘Stewardship’. Budaya.
70 13. Kebebasan Kristiani dan hukum Kebebasan
Fungsi hukum yang bertiga. Lex naturalis. Etika jemaat. Kasuistik.
Perfeksionisme. Kompromis Suara hati
76 Kata akhir 78 Kepustakaan
1. Moral (moril) dan etika.
A. PrakataDalam setiap budaya dan agama manusia membahas ‘moral’ dan ‘etika’. Kata-kata itu menunjukkan kelakuan yang baik. Kedua kata sering ditukar, namun lebih baik kalau kedua istilah tersebut dibedakan, yaitu bahwa ‘moral’ merupakan deskripsi kelakuan itu dan etika merupakan ilmu atau pertimbangan-pertimbangan tentang moral.
Ditemukan pula kata-kata sifat yang sesuai kedua kata benda tersebut, yaitu ‘moril’ dan ‘etis’. Filsafat Barat dan juga teologia Barat dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan Romawi, dan disitu dikembangkan pertimbangan-pertimbangan etis yang berperan sampai sekarang. Kedua kata tersebut berasal dari dunia Yunani/Romawi: moral datang dari kata bah. Latin ‘mos’, dan etika dari kata bah. Yunani ‘ethos’. Dalam kedua bahasa klasik itu kata-kata ini mempunyai arti yang sama, yakni ‘kebiasaan’ ‘perilakuan’, ‘adat’.
Sebuah kamus Bahasa Indonesia (Poerwadarminta) membedakan etika dan moral sbb: etika : ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral); moral : (ajaran tt) baik buruk perbuatan dan kelakuan (akhlak).
Sebuah istilah lain adalah kesusilaan, yang terdiri dari katakata Sanskerta ‘sila’, norma kehidupan, dan ‘su’: baik. Dewasa ini kesusilaan sering dipakai dengan arti sopan santun, tetapi pada akarnya artinya sama dengan etika (Brownlee).
Buku-buku agama Kristen tidak selalu memisahkan ajaran dan etika. Dalam karangan Yoh. Calvin ‘Institutio’ (ajaran tentang agama Kristen), etika tercakup. Begitu dalam Karl Barth ‘Kirchliche Dogmatik’. Terdapat juga banyak buku etika kristen yang tidak bercampur dengan pembahasan ajaran, tetapi pemisahan itu dibuat dengan dasar praktis saja, bukan karena alasan prinsipiil.
Diktat ini bersandar dengan khusus pada karangan-karangan J. Douma, yang berjudul Christelijke ethiek (Etika Kristen), dari tahun-tahun terakhir abad yang ke-XX. Di Indonesia terkenal karangan-karangan Joh. Verkuyl, Etika Kristen. Dan walaupun terdapat pembedaan waktu yang cukup terasa antara tahun-tahun Joh. Verkuyl (tahun 50-an dan 60-an abad XX), dan tahun-tahun J.Douma (tahun 90-an abad XX, tahun 10-an abad XXI), dasar dan alur pikiran Verkuyl dan Douma tidak berbeda.
J.Verkuyl, Etika Kristen, bagian umum, merupakan buku yang lengkap, dan yang tetap layak dipakai. Mengapa demikian? Kami akan menyebut hanya satu hal:
Dalam pembicaraan tentang titik pangkal etika kristen, dibahas pentingnya antropologi bagi etika. Tetapi itu dikaitkan dengan pemberitaan Alkitab tentang manusia, termasuk asal, hakekat, dan perkembangan dosa, dan di sana juga dibahas dosa turunan dan masalah
kehendak yang bebas. “Sekarang kemungkinan manusia untuk tidak berbuat dosa (posse non peccare) menjadi, sebagaimana dikatakan Augustinus, non posse non peccare, yaitu tidak mungkin tidak berbuat dosa. Manusia yang sudah dalam keadaan berdosa tetap dapat berprestasi: membangun kehidupan keluarganya, menyelenggarakan pemerintahan negara, memajukan kebudayaan, memulai dengan percobaan-percobaan keagamaan, mendirikan
rumah ibadah dan istana dsb. Tetapi ada satu hal yang tak dapat dilakukannya dengan kekuatannya sendiri, yaitu atas kemauan sendiri mengasihi Allah dan sesama manusia” . 1 Memang manusia tidak kehilangan semua kebebasan. Kebebasan untuk melakukan kejahatan kini tetap ada, tetapi kebebasan untuk berbuat baik sudah lenyap. Kecuali jikalau ia dilahirkan kembali oleh Roh Kudus.
Manusia telah menjadi seorang ‘roi dépossedé’ (raja yang diturunkan dari takhta), sesuai perkataan Blaise Pascal: manusia penuh kebesaran dan penuh sengsara. Hidup baru, yang hendak dibangun Allah di dalam diri kita dengan Roh-Nya adalah ‘restitutio imaginis Dei’: pemugaran gambar Allah. Pembaharuan itulah dilukiskan Verkuyl sesuai keyakinan
Reformed, bukan secara kharismatik. Sebab Verkuyl menerangkan bahwa dalam diri manusia tetap terdapat ‘manusia lama’ dan ‘manusia baru’, dan pandangan itu berbeda dengan
pandangan kharismatik bahwa seorang yang telah bertobat dan lahir kembali karena Roh tidak berbuat dosa lagi . 2
Kami menggunakan juga Malcolm Brownlee, ‘Pengambilan keputusan etis, dan faktor-faktor di dalamnya’, dari tahun 1981. Brownlee berkata bahwa buku Verkuyl sangat berguna, dan bukunya sendiri bukan pengganti dari karangan Verkuyl. Verkuyl menerangkan dengan khusus kesepuluh hukum sedangkan Brownlee lebih mengarahkan perhatiannya kepada Alkitab sebagai keseluruhan dan menganggap bahwa perintah-perintah yang terdapat di dalamnya tidak langsung berlaku sebagai perintah bagi kita.
Pada tahun 2018 ahli dogmatik Wayne Grudem mengeluarkan sebuah pedoman etika Kristen yang lengkap, yaitu ‘Christian Ethics. An introduction to Biblical Moral Reasoning’. Grudem membahas kesepuluh hukum satu per satu dan sangat terurai, sebagai kerangka bagi etika kristen. Alasannya untuk mengikuti kesepuluh hukum adalah praktis, tidak prinsipiil. Sebab ia tidak menganggap kesepuluh hukum sebagai hukum dasar untuk jemaat Perjanjian Baru. Seorang teolog Injili lainnya, Patrick Nullens, menuliskan bersama dengan Ronald T.
Michener, ‘The Matrix of Christian Ethics. Integrating Philosophy and Moral Theology in a postmodern context’ 2010. Buku ini bercorak filsafat. Mereka juga tidak bertolak daripada kesepuluh hukum sebagai hukum dasar.
Grudem adalah seorang evangelical in Amerika Serikat, Nullens dan Michener bekerja di Belgia.
Teolog-teolog dan filsof-filsof lainnya yang berbahasa Inggeris dan yang berpengaruh di seluruh dunia adalah Alisdair Mc Intyre, Charles Taylor, Oliver O’Donovan, Stanley Hauerwas, dan tak lupa juga karangan-karangan Tim Keller, yang buku-bukunya sering mempunyai makna etis.
Terdapat juga buku pedoman etis dari sudut pandang khusus: Christopher J. Wright: ‘Old Testament Ethics for the people of God’, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: ‘Hidup Sebagai Umat Allah, Etika Perjanjian Lama’, BPK 2007. Bagian umum buku ini tentang ‘segitiga etika’ akan kami nanti bahas dengan judul: Allah, tanah dan bangsa.
Buku terkenal yang lain adalah Glen H. Stassen & David P. Gushee, ‘Kingdom ethics’, yang akan kami sebut dalam pelajaran tentang mengikuti Yesus Kristus (fasal 2). Terjemahan :
Joh. Verkuyl, Etika Kristen. I, Bagian umum, cet. 7, Jakarta 1982, 61,62. 1
Etika Kerajaan, Momentum, 2010. Mereka membedakan empat lapis atau tingkat dalam Alkitab, yaitu petunjuk khusus (particulars), petunjuk (rules), prinsip (principle), keyakinan dasar (basic convictions). Nullens/Michener mengikuti pola pikir itu walaupun mereka melihat sebagai kelemahannya bahwa ke-empat lapis itu sulit dibedakan. Sebagai contoh untuk yang pertama: nasihat nabi Natan kepada raja Daud melalui ceritera (2 Sam. 12); sebagai contoh untuk yang kedua: kesepuluh hukum; sebagai contoh untuk yang ketiga Mat. 22: 37-39, Mat. 7:12. Sebagai contoh untuk ke-empat: Mat. 5:9: Seorang Kristen selalu harus mencerminkan karakter Allah yang mulia. Pokok terakhir itu terlihat juga dalam buku
Grudem dan buku Nullens/Michener, yaitu bahwa kita harus bertolak dari karakter moril Tuhan Allah. Dalam pembahasan buku Grudem saya akan mempertimbangkan cara kerja itu (fasal 3).
Henk ten Napel, ’Jalan yang lebih utama lagi. Etika Perjanjian Baru’,1997 menguraikan semua bagian Perjanjian Baru yang bermakna etis.
Buku etika Dietrich Bonhoeffer, yang dikarangnya selama Perang dunia II, dan sebagian bahkan dari dalam penjara, telah membentuk juga banyak orang Kristen di negeri-negeri Barat.
Pengganti Douma sebagai mahaguru di STT Kampen adalah A. L. Th. De Bruijne, yang dalam 2006 menerbitkan disertasinya tentang Oliver O’Donovan, yang berjudul: ‘Levend in Leviathan’ (Hidup di dalam Leviathan). Leviathan adalah nama Ibrani untuk ular naga, yang dalam Abad Pertengahan sering dilukiskan sebagai lambang neraka, dan kadang-kadang juga sebagai pemerintah yang jahat, sesuai Wahyu 13. Berhubung dengan itu perlu dicantumkan filsof Inggeris Thomas Hobbes, yang dalam abad ke 17 mengarang ‘Leviathan’, tentang kuasa pemerintah dari sudut pandang humanistis.
Berbeda dengan Douma, dan mirip dengan Nullens/Michener, De Bruijne tidak bertolak dari kesepuluh hukum tetapi dari Khotbah di Bukit, dengan menekankan mengikuti Kristus dan hidup sebagai warga Kerajaan Allah.
B. Definisi moril dan etika
Etika menganalisis dan menimbang hal-hal moril. Kami menggunakan kata ‘moril’ sebagai kata sifat, dan ‘moral’ sebagai kata benda. Tetapi, apakah yang menentukan arti moril? Sesudah berusaha memberikan beberapa jawaban, akhirnya Douma berkesimpulan bahwa tidak mungkin kita memberi definisi moril yang pendek saja, tentang satu ciri khas saja, yang berlaku bagi semua kenyataan moril. Definisi yang diusahakannya adalah sebuah perumusan yang menyebut banyak aspek.
Dalam definisi yang disarankan Douma terdapat 7 aspek yang menggarisi dan menentukan arti ‘moril’ : 3
Definisi ‘moril’:
(1) manusiawi, (2) bernorma, (3) dipandang dari aspek baik-buruk, (4) berkaitan dengan motivasi, (5) disertai dengan emosi, (6) didasari atas kebajikan (virtue)
(7) dituju kepada nilai-nilai tertinggi.
J. Douma, Christelijke Ethiek, I, Grondslagen, Kampen 1999, 23. 3
Seperti dikatakan, ‘moril’ sebagai kata sifat, dikaitkan dengan kata benda ‘kelakuan’, dan kata itu (kelakuan) menjadi kata dasar dalam definisi etika (ilmu tentang moral), sekalipun kita akan membicarakan pula motivasi yang mendorong, dan kebajikan-kebajikan yang
dibutuhkan dan yang menjaminkan kontinuitas dalam kelakuan. Definisi ‘etika’:
Etika adalah pertimbangan-pertimbangan tentang kelakuan moril, yang dapat digambarkan sebagai kelakuan yang
(1) manusiawi, (2) bernorma, (3) dipandang dari aspek baik-buruk, (4) berkaitan dengan motivasi, (5) disertai dengan emosi, (6) didasari atas kebajikan (virtue),
(7) dituju kepada nilai-nilai tertinggi.
Nullens/Michener menganggap bahwa definisi Douma dibatasi kepada kelakuan, dan mereka sendiri menyarankan suatu definisi yang berkisar pada pertimbangan metodologis tentang nilai-nilai, norma-norma, kebajikan-kebajikan dan tujuan-tujuan dalam kehidupan Kristen . 4 Menurut saya semua aspek yang disebut Nullens/Michener ditemukan juga dalam definisi Douma.
Perbedaan etika dengan dogmatika bagus diterangkan Verkuyl sbb : Dogmatik bertolak dari keyakinan bahwa Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh. 4 :19), sedangkan etika berfokus pada perintah bahwa manusia harus mengasihi Allah (dan sesamanya) (Mat. 22 :37-40). Keterkaitannya dengan tepat dilukiskan oleh Tim Keller dalam bukunya tentang keadilan yang murah hati. Jika seorang manusia sungguh-sungguh merasakan kasih karunia Allah terhadap dia, orang berdosa, maka ia akan mengejar keadilan. Keller berhasil menghindar dari dogmatisme, yang hanya mengutamakan ajaran murni dan keselamatan jiwa, maupun dari ‘Social Gospel’ yang menekankan pergerakan di bidang sosial dan tidak mengkhotbahkan Kristus yang mati untuk menebus dosa. Keller malah mengkaitkan ajaran yang murni dengan kelakuan baik orang Kristen. Bukan saja Allah yang adil dalam menebus dosa karena jasa Kristus, tetapi seharusnya manusia yang diselamatkan juga adil terhadap sesamanya. Keller mengutip seorang filsof, A. Leff, yang membuktikan bahwa baik rasio maupun kasih mesra tidak berhasil untuk menjadikan kita manusia yang baik. Mujizat itu dikerjakan oleh Allah saja, dalam Yesus Kristus, dengan Roh-Nya.
Kalau kita mau menolong sesama kita, kata Keller, pertolongan itu harus diberikan pada tiga tingkat: 1. Sumbangan (kepada orang yang melarat), 2. Pendidikan (kepada orang yang sudah ditolong itu), 3. Pengembangan masyarakat (agar lebih aman, lebih stabil, lebih makmur). Jadi: terdapat lingkungan-lingkungan tertentu dan semuanya membutuhkan keadilan . 5 Mengenai lingkungan-lingkungan tertentu itu, Keller mengikuti A. Kuyper (lih. penjelasan berikutnya).
Brownlee menekankan bahwa ciri khas sebuah keputusan etis adalah bahwa keputusan itu tidak bisa dielakkan dan harus diambil . Pertimbangan-pertimbangan harus menuju tindakan. 6
Patrick Nullens & Ronald T. Michener, The Matrix of Christian Ethics, 2010, 12. 4
Tim Keller, Generous justice. How God’s grace makes us just’ , New York 2010, passim. 5
Dalam hal itu harus kita beresiko bahwa mungkin keputusan kita salah, tetapi jika kita tidak mengambilnya kita lebih salah lagi. Kalau pengambilan disertai dengan doa dan penyerahan diri kepada Tuhan, kita tidak usah kuatir. Tuhan akan menolong. Dan kalau kita ternyata salah, Tuhan akan mengampuni. Kita seperti seorang yang mengemudi kendaraan pada waktu malam. Sinar lampu hanya bercahaya sampai beberapa puluhan meter ke depan, bukan seluruh jarak disinari. Bukan seluruh jalan, hanya sampai tikungan berikut. Tetapi sementara kita maju, kita diterangi terus-menerus.
Seorang filsof bernama Herman Dooyeweerd (abad yang ke-20, dalam gereja Reformed di Belanda) memelopori mazhab filsafat kristen yang dikenal sebagai ‘Filsafat tentang lingkungan hukum’. Ia meneruskan pandangan yang dikembangkan oleh Abraham Kuyper bahwa terdapat beberapa
lingkungan hidup yang tidak boleh dicampurbaurkan (mis. rumah tangga, gereja, negara, universitas). Dooyeweerd membedakan 15 aspek kehidupan (dari bawah ke atas): 1. menyangkut jumlah (aritmetis); 2. menyangkut ruang; 3. menyangkut pergerakan (kinematis); 4. menyangkut alam (fysis); 5.
menyangkut kehidupan (biotis); 6. menyangkut jiwa (psichis); 7. menyangkut akal budi (logis); 8. menyangkut sejarah (historis); 9. menyangkut bahasa (linguistis); 10. sosial; 11. ekonomis; 12. menyangkut keindahan (estetis); 13. juridis; 14. etis; dan 15. pistis (menyangkut iman).
Selalu ditekankannya bahwa masing-masing lingkungan mempunyai hukumnya sendiri, sebagaimana diatur oleh Allah Pencipta. Mis. lingkungan yang bercorak moril, seperti perkawinan dan keluarga, pembinaan dan pemeliharaan anak, tidak boleh dikekang oleh negara, sebab lingkungan negara ditentukan oleh aspek hukum (juridis.) Masing-masing lingkungan juga mempunyai tujuan sendiri, mis juridis: pembalasan. Dan tujuan lingkungan etis adalah kasih . 7
Dietrich Bonhoeffer berbicara tentang 4 mandat yang diberikan Allah kepada manusia : gereja, keluarga/pendidikan, pekerjaan/budaya, pemerintah . Perhatikan bahwa Bonhoeffer 8 tidak berbicara tentang negara. Ia telah melihat betapa besar bahayanya kalau satu negara atau satu bangsa dijunjung tinggi, bahkan diperilahi. Sebab hal itu terjadi dalam negara yang dipimpin oleh rezim Nazi di Jerman pada waktu itu, dan Bonhoeffer melawan rezim itu.
2. Etika umum dan Etika Kristen.
A. Etika umum
Etika menganalisis dan menimbang hal-hal moril. Tetapi, apakah yang menentukan arti moril? Terdapat beberapa jawaban, sesuai pembahasan dalam buku Douma.
1. ‘Universalizability’ : perilakuan yang berlaku bagi setiap orang. Ahli filsafat Kant memesan: Berlaku demikian sehingga apa yang kauhendaki bagi dirimu sendiri dapat menjadi prinsip yang berlaku pula bagi setiap orang. Berarti: jangan memilih untuk dirimu sebuah gaya hidup yang tidak mungkin akan menjadi gaya hidup semua orang. Band. perkataan Tuhan Yesus sendiri dalam Mat. 7:12.
Namun, unsur universalizability tidak dapat menjadi penentu mutlak untuk ‘moril’. Sebab terdapat banyak hal yang umum berlaku, namun tidak termasuk bidang moril. Mis. dalam teknik pelukisan biasanya warna kelam ditaruh sebelum warna-warna cerah.
Douma, o.c., 20. 7
Dietrich Bonhoeffer, Aanzetten voor een ethiek, Zoetermeer 2012, passim. 8
2. ‘Prescriptivity’: preskript adalah persyaratan. Memang, ‘ought to’ (wajib untuk) adalah sebuah ciri untuk kelakuan moril, tetapi bukan ciri yang satu-satunya. Apakah hanya persyaratan, yang harus diperhatikan, dan apakah keadaan kongkrit tidak perlu dipertimbangkan? Mungkin kita memesan dengan sangat serius bahwa manusia tidak boleh mencuri, padahal kita sendiri mencuri karena keadaan yang kritis. Apakah kita berlaku ‘amoril’, kalau begitu? Atau dalam keadaan darurat dapat
dipertanggungjawabkan?
3. ‘Overriding’: melampaui/melebihi. Menurut definisi ini perbuatan-perbuatan moril melebihi perbuatan lain. Contoh: Seorang ingin sekali menyelesaikan sebuah pekerjaan, tetapi pada saat itu isterinya jatuh sakit dan membutuhkan pertolongan: maka kewajiban yang terakhir melampaui yang pertama. Kewajiban itu adalah ‘overriding’ dan keputusan untuk menolong isterinya adalah keputusan yang moril. Cuma, pandangan-pandangan terhadap hal-hal yang dianggap penting tidak selalu sama. Seorang kapitalis (kapital=modal) beranggapan bahwa tujuan utama
perusahaannya adalah laba. Seorang environmentalist (environment=lingkungan) beranggapan bahwa pertama-tama lingkungan alamiah yang harus dilestarikan. Seorang Kristen akan mengatakan bahwa Allah patut ditaati, lebih daripada manusia (Kis. 5 :29). Di sini kami melihat pentingnya ‘filsafat tentang lingkungan hidup’, yang diterangkan dalam fasal 1.
4. Ciri : ‘takut hukuman’ dan ‘rasa malu’.
Menurut pandangan ini mereka yang melanggar peraturan-peraturan yang bersifat moril dengan sendirinya takut dihukum, merasa bersalah, bahkan merasa malu. Akan tetapi : bisa juga kita merasa malu apabila diolokkan, karena kita kaku dalam
pergaulan sosial. Dan itulah bukan hal yang moril. 5. Ciri khas moril tergantung dari beratnya perkara.
Sebagai contoh : apakah dapat disimpulkan bahwa sebuah kelakuan moril berfokus kepada kebaikan orang lain ? Memang, jika kita membandingkan hal-hal moril dengan perkara lainnya, jelas perkara-perkara yang bersifat moril selalu penting adanya. Tetapi, juga perkara-perkara juridis bahkan perkara-perkara estetis (menyangkut keindahan, kesenian) terarah kepada kebaikan orang lain.
6. Kasih sebagai ciri khas.
Bahkan solusi ini tidak memadai. Sebab dapat dipersoalkan apakah aspek ‘kasih’ saja yang menentukan kelakuan etis, dan apakah ‘keadilan’ tidak juga termasuk (walaupun nanti satu paragraf seluruhnya dikhususkan kepada ‘kasih’ karena penting sekali). Etika meneliti pula hal-hal seperti perang, hukuman mati, hak-azasi manusia, persoalan-persoalan medis, yang nampaknya tidak dicoraki oleh kasih.
Jadi, semua jawaban yang disebut di atas tidak memadai untuk menentukan arti ‘moril’. Ternyata terdapat beberapa unsur yang sama-sama penting. Kita telah menemukannya dalam definisi tentang etika yang sudah disebut dalam bab 1. Di bawah ini definisi diperinci. Definisi ‘etika’:
Etika adalah pertimbangan-pertimbangan tentang kelakuan moril, yang dapat digambarkan sebagai kelakuan yang
(1) manusiawi, (2) bernorma, (3) dipandang dari aspek baik-buruk, (4) berkaitan dengan motivasi, (5) disertai dengan emosi, (6) didasari atas kebajikan (virtue),
(7) dituju kepada nilai-nilai tertinggi. 1.Kelakuan manusiawi.
Jika berbicara tentang binatang, dan mengatakan ‘anjing yang setia’, atau ‘semut yang rajin’, kita menggunakan sebuah metafor (perbandingan). Binatang-binatang bergerak berdasarkan naluri, bukan karena moral tinggi. Memang, binatang dapat dilatih, sehingga mirip dengan manusia dalam pergerakannya, tapi itu bukan kelakuan moril.
Dalam kelakuannya manusia harus berlaku moril terhadap binatang, tetapi binatang tidak dapat berlaku moril atau amoril terhadap manusia. Walaupun mungkin kelihatan lebih setia daripada manusia.
Jika berbicara tentang malaekat, mereka sekarang tidak mengenal ketertarikan oleh dosa seperti manusia, jadi bagi mereka (sekarang) tidak ada perjuangan moril, sekalipun pada mulanya memang ada. Dan sebagian dari malaekat memang jatuh dalam pencobaan. Jika berbicara tentang Allah sendiri: bagi Allah tidak ada hukum atau norma yang di atas-Nya. Allah menciptakannya dan tidak dapat dikatakan bahwa Allah mempunyai tindakan yang etis atau kurang-etis. Allah semata-mata ilahi dalam perbuatan-Nya dan tidak boleh diukur oleh manusia.
Dalam pembahasan buku Wayne Grudem pokok ini akan dinilai, sebab Grudem melihat moral Allah sebagai dasar etika. Dan sering juga ia berbicara tentang ‘karakter’ Allah.
2. Kelakuan yang bernorma.
Bukan setiap kelakuan manusia bernorma. Terkadang juga kita bertindak instinktif atau dengan terpaksa. Itulah kelakuan yang bersikap ‘must’, (bah. Inggeris: harus, dalam arti non-etis) seperti menguap, bermimpi, makan dan minum jika merasa lapar atau haus. Moral berkaitan dengan ‘ought’, (bah. Inggeris, harus, dalam arti ‘etis’), kelakuan yang harus dipertanggungjawabkan.
Tanpa pilihan, tanpa kebebasan, tidak ada moral. Tetapi, dari dahulu dibedakan antara
determinisme, yang mengatakan bahwa seluruh kelakuan manusia telah ditentukan, dan di sisi lain indeterminisme yang mengatakan bahwa semuanya masih terbuka dan bebas. Kedua aliran itu, bila diterapkan mutlak, tidak dapat disesuaikan dengan moral.
Setiap manusia ditentukan oleh sikon dan sejarah, tetapi setiap orang mengembangkan pula pola kelakuan sendiri. Jadi, keterikatan dan kebebasan saling memperlengkapi.
Ahli filsafat Kant berkesimpulan bahwa seharusnya kita harus menerima tiga postulat (= tuntutan logis), yaitu kebebasan, ketidakfanaan jiwa dan keberadaan Allah. Ketiga ini dengan sendirinya mengiringi moral. Siapa yang mengakui manusia sebagai makhluk yang bermoral, harus menerima juga ketiga postulat itu.
3. Kelakuan yang dipandang dari aspek ‘baik-buruk’.
Dalam pemandangan moril bukan aspek ‘benar-salah’ yang menentukan. Sebuah soal ujian, yang diisi salah, tidak berkaitan dengan moral.
Begitu juga bukan aspek ‘trampil-tidak trampil’. Seorang tukang yang tidak trampil, sehingga hasil kerjanya tidak kuat, bukan seorang yang amoril.
‘Indah-jelek’ juga tidak, bahkan ‘legal-ilegal’ tidak. Sebuah tindakan yang menurut keputusan hakim illegal, tidak dengan sendirinya buruk dalam arti moril. Jadi, aspek baik-buruk
lingkungan moril, yang (menurut filsafat Dooyeweerd) lebih tinggi itu, kita memperhatikan baik-buruk.
4. Kelakuan yang bermotivasi.
Hal yang bersifat legal berbeda dengan yang bersifat moril. Legal mungkin disertai
kemunafikan, atau mementingkan diri. Sedangkan moril selalu disertai ketulusan, kehendak yang baik. Band. orang Farisi yang memberi zedekah, berdoa dan berpuasa, tetapi khususnya agar mereka dilihat orang. Pentinglah motif yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. 5. Kelakuan yang disertai emosi.
Bukan saja kehendak yang turut menentukan, tetapi juga perasaan. Dalam hal ini harus kita mengeritik Kant yang tidak menghiraukan emosi. Perlu kita turut merasakan kesakitan dan penderitaan orang yang kita tolong. Menghilangkan emosi tidak baik. Etika yang bertujuan untuk memutuskan sesuatu mutlak obyektif dan tidak mau menunjuk rasa hati, tidak sesuai dengan kehidupan manusia, di mana hubungan yang emosional sangat vital.
6. Kelakuan didasarkan atas kebajikan ( virtue).
Kebajikan menunjukkan sesuatu yang kontinu: mis. ketulusan terus menerus, keadilan terus menerus. Kebajikan adalah sebagian dari akhlak manusia. Menurut Aristoteles kita harus melatih diri dalam kebajikan, supaya kita menjadi manusia yang betul. Aristoteles menekankan: pentinglah bukan apa yang kita lakukan, tetapi apa yang kita menjadi.
Terdapat sebuah aliran etika yang dapat disebut etika kebajikan (mis. Plato, Aristoteles). Kami lebih cenderung untuk mengganggap kebajikan sebagai salah sata faktor, bukan yang satu-satunya.
7. Kelakuan yang ditujukan kepada nilai tertinggi.
Kelakuan yang moril bertujuan kepada nilai-nilai tertentu. Misalnya nilai-nilai seperti kesehatan, keindahan, kemerdekaan, demokrasi, kesejahteraan, pengabdian kepada Tuhan. Aliran-aliran etika
Pada umumnya diakui bahwa ada beberapa sistem etika. J. de Graaf membedakan:
a. Etika deskriptif (yang menguraikan, tanpa langsung menilai), a.l. etika kebajikan, seperti diajar Aristoteles: pentinglah manusia menjadi sebagai apa, dan bukan apa yang dilakukan manusia; dan juga etika nilai, seperti terlihat dalam buku Nullens/ Michener)
b. Etika normatif (yang mengarahkan dan mengendalikan), biasanya dibedakan normatif secara teleologis : pentinglah tujuan yang mau dicapai, dan normatif secara
deontologis: pentinglah hukum yang merupakan titik tolak. c. Etika khusus : mis. kasuistik, etika situasi, etika medis.
d. Meta-etika: filsafat tentang etika dan tentang pertimbangan-pertimbangan etis . 9 Biasanya dalam etika yang matang unsur-unsur dari semua sistem dapat ditemukan, tetapi tidak secara mutlak. Begitu juga dalam etika yang diajar Douma dan yang kami sarankan dalam diktat ini. Etika itu dapat disebut etika tanggungjawab, di mana manusia mendengar
akan perintah-perintah yang disampaikan dan sekaligus memperhatikan situasi yang ada dan akibat-akibat yang akan terjadi.
Nullens/Michener menulis tentang matrix(acuan) etika kristen, di mana mereka menyediakan sebuah pendekatan integratif yang meminjam dari model-model etika yang terkenal, yaitu etika tujuan (consequential ethics), etika normatif (principle ethics), etika kebajikan (virtue ethics) dan etika nilai (value ethics).
Menurut kami sendiri etika selalu terkait dengan keyakinan dan pandangan pribadi, begitu juga Douma dan H. de Vos . Akan tetapi terdapat pula ahli (mis. J. de Graaf) yang berkata 10 bahwa etika justru mencari azas-azas yang dianut semua manusia, mis. ‘Penyataan tentang hak azasi manusia’ . 11
B. Etika Kristen
Sampai kira-kira 1960 di dunia Barat dilihat dengan jelas bahwa moral orang Kristen adalah moral khusus. Dari dahulu orang Kristen dikenal sebagai orang yang berbeda daripada yang lain, mis. dalam hal kasih. Orang Kristen setia kepada isteri, tidak mengutuki mereka yang menganiaya mereka, orang Kristen membantu orang yang sakit, menguburkan orang yang tidak mempunyai keluarga.
Sayang sekali sekarang banyak orang teolog menganut pandangan Kant, bahwa moral adalah otonom. Sekarang banyak orang mengatakan bahwa Etika Kristen tidak mempunyai sesuatu yang khas. Atau mereka berpendirian bahwa orang Kristen boleh saja mempunyai moral Kristen dalam hal-hal yang luarbiasa : seperti mis. yang disebut dalam 1 Kor. 10 :24 (jangan mencari keuntunganmu sendiri saja) dan Mat. 5 :41,44 (kasihilah musuhmu). Solusi ini mirip dengan pembedaan gereja Katolik Roma antara kodrati dan adikodrati. Keadilan, kesetiaan adalah sama untuk semua orang, tetapi iman dan kasih, mencari penebusan dan mengikut Kristus adalah bagian orang-orang Kristen saja, menurut pandangan ini.
Terdapat suatu pembedaan yang agak mengherankan, jika dikaitkan dengan rumusan Alkitabiah tentang jalan yang lebar dan jalan yang sempit. Pembedaan itu adalah antara moral yang sempit dan moral yang lebar. Dalam perumpamaan tentang kedua jalan itu jelas bahwa kita harus mengikuti jalan yang sempit (Mat. 7:13,14). Jadi, sempit lebih baik daripada lebar. Tetapi berbeda dengan itu ‘moral yang lebar’ lebih baik daripada moral yang sempit. Dimaksudkan bahwa moral yang sempit adalah moral yang umum, yang mengandung
peraturan-peraturan, seberapa yang perlu untuk hidup bersama dalam masyarakat dan bekerja sama. Moral yang lebar adalah moral dari golongan tertentu, yang mengandung banyak keyakinan untuk dipraktekkan dalam golongan sendiri. Selain daripada moral Kristen terdapat pula moral islam atau moral humanis. Moral seperti itu tak perlu disetujui oleh seluruh
masyarakat. Sekarang ini dalam dunia pluriform moral-moral sekelompok boleh saja berkembang, asal tidak berlawanan dengan moral umum.
Pandangan tersebut membahayakan gereja, sebab kalau begitu moral Kristen tidak perlu lagi diusahakan menjadi moral umum sebab kita sudah puas dengan moral kelompok.
H. de Vos, Inleiding tot de ethiek, Nijkerk 1966. 10
De Graaf, o.c.,4. 11
Dengan demikian moral Kristen dikesampingkan. Ataupun mereka yang menganut moral umum berpendirian bahwa orang Kristen boleh mempunyai moral Kristen dalam hal-hal yang tertentu.
Tetap kami berpandangan bahwa moral Kristen mempunyai pretensi universal. Tidak ada pemisahan antara yang adikodrati dan kodrati. Allah adalah Pencipta dan Pemelihara dunia ini, jadi hukum-hukum-Nya berlaku bagi setiap orang, dan kepada Yesus Kristus diberikan segala kuasa baik di bumi maupun di surga.
Syukurlah, bahwa sering terdapat kemiripan antara kelakuan orang Kristen dan orang lain. Kenyataan itu tidak mengherankan, jika kita merenungkan bahwa hukum Allah adalah ‘pakaian yang cocok’ untuk seluruh ciptaan (ucapan K. Schilder), sebab seluruh dunia ini adalah hasil kerja tangan Tuhan. Akhir-akhir ini pandangan seperti itu juga disampaikan oleh O. O’ Donovan . 12
Sayangnya moral Kristen kadang-kadang juga membuahkan hal-hal yang jelek: perbudakan, perang saudara, apartheid, penjajahan. Tetapi dalam membahas moral Kristen dan etika Kristen kita berurusan dengan hal yang normatif, bukan saja deskriptif.
Terakhir dua saran tentang pergaulan dengan mereka yang non-Kristen.
1. Jangan memperlebar jurang pemisah dengan mereka yang bukan-Kristen, dan selalu mengusahakan kesepakatan di mana mungkin.
2. Jangan malu menggunakan alasan-alasan Kristiani, karena itulah sumber di mana sebenarnya setiap orang harus menimba untuk dirinya dan orang lain.
Definisi Etika Kristen: Pertimbangan-pertimbangan tentang kelakuan moril, dari sudut pandang yang disediakan dalam Kitab Suci.
Catatan:
• Etika Kristen tidak dengan khusus membahas pokok agamiah atau liturgis, tetapi membatasi diri pada pokok-pokok moril.
• Dalam perumusan di atas dikatakan ‘Kitab Suci’ oleh karena Alkitab adalah kesatuan, band. Yoh. 10:35; 17:12, 1 Tim. 5:18.
• Nama ‘Etika Kristen’ lebih tepat daripada ‘Moral Alkitabiah’. Nas-nas Alkitab seperti mengenai poligami, perbudakan dan perang suci dapat disalahgunakan jika langsung diterapkan tanpa memikirkan sejarah penyataan Allah.
• Nama ‘Etika Teologis’ tidak memuaskan, sebab jika dibanding dengan mis. ‘Etika Medis’, yang membahas pokok menyangkun bantuan medis, apakah etika teologis membahas pokok-pokok menyangkut teologi? Jelas tidak.
Etika Kristen untuk memikirkan bagaimana mengikut Kristus
Untuk merenungkan arti mengikut Kristus bukan saja kita membahas beberapa nas yang menyebutnya hurufiah, mis Mat. 8:22, 9:9, 19:21. Lebih penting lagi kata Paulus dalam 1 Kor. 11:1, dan secara khusus seluruh pola hidup Kristus sendiri dan pemikiran-Nya. Band Fil.2:7.
Mengikut Yesus bukan menjiplak-Nya atau mengimitasi-Nya. Yang dimaksudkan adalah melayani dan mentaati, band. 1 Raja-Raja 18:21: Mengikut allah lain sama dengan mengabdi kepadanya. Begitu dengan mengikut Allah: Ul. 13:4.
Kitab-kitab Perjanjian Baru lebih jelas lagi: bukan saja mentaati, bukan juga mengimitasi jalan hidup Tuhan Yesus, tetapi mewujudkan pola hidup-Nya.
‘Akolouthein’, kata Tuhan Yesus, ‘mimeisthai’, kata Paulus. Tidak perlu keduanya dipisahkan atau dibedakan.
Dahulu sangat terkenal buku Thomas a Kempis, ‘De imitatione Christi’ (tentang mengikut Kristus). Thomas berbicara tentang ‘mengikut Kristus’ (sequi) tetapi langsung
menggantikannya dengan ‘menjadi serupa dengan Kristus’ (imitare). Bukunya adalah pedoman untuk spiritualitas Kristen, dengan tekanan atas doa, renungan, latihan rohani. Mengikut Yesus berarti:
1. mengindahkan panggilan dari Bapak, dalam setiap pelaksanaan tugas, sama seperti Yesus selalu melakukan kehendak Bapa-Nya (Yoh. 4:34). Karena itu Kristus berdoa terus.
Bonhoeffer pernah berkata bahwa Luther, karena panggilan dari Allah, harus meninggalkan biara untuk berjuang di dunia, dan sebelum Luther melakukan itu, menurut Bonhoeffer, dunia tidak pernah diserang sedemikian: mengikut Kristus harus diwujudnyatakan di tengah dunia. 2. Kristus berusaha demi sesama-Nya. Kristus mencuci kaki saudara-saudara-Nya. Karena kasih untuk sesama-Nya ia meninggal dunia. Lalu kasih itulah merupakan tujuan dari mengikut Kristus : 2 Kor. 5 :14, 1 Kor. 13:4.
3. Mengikut Kristus berarti pula: menyangkal diri, rela menerima penderitaan dalam mengikut Yesus: Mat. 16:24. Bahkan Paulus pernah berkata: ia memperlengapi penderitaan Kristus (Kol. 1:24): mutatis mutandis penderitaan Kristus kena juga orang Kristen.
Bukan setiap orang harus meninggalkan keluarga dan pekerjaan seperti murid-murid pertama, atau harus meninggalkan biara (Luther), tetapi untuk setiap orang berlaku: Manusia lama harus mati, dan hal itu berarti penderitaan. Kata Bonhoeffer bahwa mengampuni sesamanya dapat terasa pula sebagai penderitaan, namun perjuangan itu sangat perlu, berdasarkan Gal. 6:2 (saling memikul beban, beban dalam arti: dosa, band. ay. 1). Pada akhir hidupnya Bonhoeffer telah membuktikan itu dengan sungguh-sungguh, ketika ia dihukum mati (digantung) oleh rezim Nazi dan mati syahid.
H. Stassen dan David P. Gushee mengarang ‘Kingdom Ethics. Following Jesus in contemporary context’. Mereka bertolak dari Khotbah di Bukit, dan ucapan-ucapan berbahagia dilihat sebagai virtues, kebajikan-kebajikan, untuk orang Kristen. Mereka
menunjukkan bahwa virtues tersebut ditemukan pula dalam surat-surat Paulus. Dalam Mat. 5 tercantum: kerendahan hati, keadilan, kemurahan hati, kesucian hati, pembuatan damai, ketabahan dalam penganiayaan.
3. Wayne Grudem, Christian ethics, 2018
Pada tahun 2018 Wayne Grudem menerbitkan Christian Ethics, An Introduction to Biblical Moral Reasoning.
Untuk menggunakan buku pedoman yang berharga ini saya rasa perlu menyadari dua aspek teologi Grudem yang signifikan.
Pertama: Pandangan Grudem terhadap inerrancy Alkitab, yang adalah seperti sering
ditemukan dalam kalangan Injili di Amerika, yaitu bahwa dalam naskah asli, yaitu Ibrani dan Yunani, tidak ada kesalahan sama sekali. Kalau ditemukan hal-hal yang kelihatannya tidak benar, perlu kita menafsirkan dengan teliti dan tekun dan akhirnya masalah-masalah tersebut dapat diterangkan. Dalam pandangan Reformed yang saya anut tekanan diberikan kepada infallacy (infallibilitas Alkitab), artinya bahwa Allah tidak mengelirukan kita dan Alkitab dapat dipercayai. Tetapi kita tidak perlu seakan-akan mengdewakan Alkitab, seperti kaum Islam terhadap Al-Qoran. Iman kita tidak terikat pada satu buku, tetapi pada Allah yang hidup, dan pada Firman yang menjadi manusia.
Dalam pandangan kami ini pengilhaman Alkitab sama sekali tidak disangkal, tetapi dipandang secara organis, yaitu Roh Kudus menggunakan penulis-penulis Alkitab sebagaimana mereka ada: manusia dengan akhlak dan karunia sendiri, yang kadang-kadang menulis sendiri,
kadang-kadang mendiktekan kepada orang lain, dan yang menggunakan juga tradisi lisan dari angkatan yang sebelum mereka. Karena itu dapat terjadi bahwa tidak semua hal yang ditulis dalam Alkitab dapat dipahami, bahkan mungkin dianggap keliru, karena dalam tradisi lisan perkataan-perkataan dapat bergeser, dan mereka yang berceritera memanfaatkan cara berceritera yang sesuai budaya setempat dan sewaktu.
Pandangan inerrancy tersebut dapat menghentikan pertimbangan lebih lanjut dan mengarah kepada kesimpulan yang kelihatan sederhana, melainkan agak dangkal juga. Misalnya: Atas dasar janji-janji Allah, Grudem yakin bahwa kita tidak pernah akan berada dalam situasi di mana kita harus memilih antara penyelewengan besar dan penyelewengan kecil. Apakah kesimpulan ini tidak terlalu mudah? Apakah presiden A.S., untuk mengakhiri Perang Dunia kedua, tidak bergumul tentang penggunaan senjata nukleir? Pertimbangannya: kalau tidak, maka perang akan berlanjut lebih lama dengan banyak korban untuk merebut semua pulau yang diduduki Jepang.
Contoh lain: Menurut Grudem secara moril dapat dipertanggungjawabkan untuk
menggunakan kekerasan, bahkan senjata, untuk membela diri. Apakah ini tidak dangkal juga? Kalau bukan pemerintah saja yang menggunakan senjata, tetapi warga juga, betapa mudah terjadi pembantaian oleh seorang yang tidak dapat menahan diri dan melampiaskan
amarahnya atau frustrasinya dengan senjata. Contohnya di A.S. banyak sekali.
Contoh ketiga: Aborsi amoril, dalam setiap kondisi, dan pada setiap saat sesudah konsepsi, kata Grudem, kecuali untuk menyelamatkan nyawa ibu. Apakah tidak perlu dibedakan antara konsepsi dan nidasi? Nidasi/implantasi merupakan peristiwa masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium. Endometrium adalah lapisan terdalam pada rahim dan tempatnya menempelnya ovum yang telah dibuahi. Diperlukan waktu sekitar 4-5 hari setelah pembuahan.
Contoh ke-empat: Alkohol diperbolehkan dalam jumlah kecil, narkoba tidak, dalam jumlah terkecil pun tidak. Atas dasar apa pembedaan tersebut? Mungkin karena Alkitab menyebut anggur, bahkan kadang-kadang positif, dan narkoba secara langsung tidak disebut. Larangan narkoba kami dukung, tetapi tidak atas dasar itu.
Contoh ke-lima: Bahan bakar fosil boleh digunakan terus, sebagai pemberian Allah kepada manusia, dan tidak akan berakibat bahaya-bahaya seperti global warming, kata Grudem. Bagaimana kalau hampir seluruh ilmuwan menunjukkan hubungan antara global warming dan penggunaan bahan bakar fosil?
Pandangan teologis yang kedua: Grudem menulis tentang moralitas Allah, dan dari situ ia menarik kesimpulan-kesimpulan tentang moral orang Kristen dan etika Kristen. Kalau kita mengingat betapa sulit menurut Douma definisi moral, makanya kita heran bahwa seorang teolog lain menulis tentang moralitas Allah. Kata itu tidak ditemukan pula dalam Alkitab terkait dengan Allah. Suatu ungkapan yang mendekatinya adalah kekudusan Allah, yang dalam seluruh Alkitab memengaruhi juga kekudusan anak-anak Allah. Band. Im. 19 dan 1 Pt 2: “Kuduslah kamu sebab Akulah kudus”. Namun kata kudus, kalau digunakan untuk Allah, menunjukkan ketinggian-Nya dan ke-ilahianNya, bukan karakter-Nya.
Kekuatiran kami adalah bahwa kita akan memandang Allah secara manusiawi, walaupun maksud Grudem justru sebaliknya.
Mengapa tidak bertolak dari sifat-sifat Allah, sebagaimana digambarkan dalam dogmatika Kristen, dan yang saling melengkapi tetapi tidak memberikan suatu gambaran mutlak tentang Allah? Sebab Allah jauh melampaui kita.
Terlalu manusiawi kalau dikatakan Grudem bahwa Allah menyetujui dan menerima makhluk-makhluk yang sesuai akhlak moral Allah sendiri.
Kata Grudem: Tidak mungkin Allah membuat standar-standar etis yang berbeda dengan standar yang telah dibuat-Nya. Standar-standar Allah berlaku bagi semua bangsa di setiap budaya dan setiap waktu. Apakah dalam hal ini kita tidak membatasi Allah?
Maksud saya adalah apakah kita benar-benar melihat dengan baik standar yang dibuat Allah? Mungkin standar-Nya lebih agung daripada apa yang kita pahami. Di mana keadilan Allah dalam sejarah Ayub? Pasti ada, tetapi tidak semudah dilihat oleh Ayub dan teman-teman-nya maupun oleh kita.
Pokok kedua ini, yaitu pembicaraan tentang karakter Allah, dalam pengamatan saya
berhubungan dengan yang pertama. Kita yakin bahwa Allah mahatahu, dan mahaberhikmat, dan tidak pernah melupakan sesuatu atau meragukan sesuatu. Berbeda sekali dengan kita, bahkan dalam hal-hal etis pun. Sering kita bergumul untuk mendapatkan jawaban yang tepat, dan sesudahnya kadang-kadang kita tetap bimbang. Kelihatannya pada Grudem bukan
demikian. Oleh karena ia sangat yakin tentang kejelasan Alkitab, bahkan inerrancynya (pokok pertama), ia mengesankan bahwa jawaban-jawaban dalam masalah-masalah etis kita dapat tahu dengan pasti, seakan-akan kita adalah Allah. Seakan-akan apa yang disebutnya moralitas Allah langsung menentukan moralitas kita.
Pertanyaan inti menurut Grudem: Bagaimana orang Kristen dapat mengetahui tentang bagian-bagian Alkitab yang kalau dilihat dari segi budaya relatif adanya, dan yang mana mutlak berlaku bagi setiap orang percaya di setiap budaya dan setiap waktu.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa Grudem mengesampingkan kitab-kitab Perjanjian Lama, dan cenderung menerima Perjanjian Baru secara mutlak. Ia mengeritik seorang bernama W.J. Webb yang menganggap bahwa baik PL maupun PB merupakan tahap yang menuju ke etika ultim. Webb mengembangkan sebuah filter dengan 18 kriteria untuk menentukan apa yang masih berlaku dan apa yang relatif. Dengan benar Grudem menolak suatu cara kerja yang begitu rumit, namun ia sendiri membaca PB secara biblisistis. Menurut dia dalam PB hanya beberapa bagian saja yang sulit, tetapi bagian-bagian itu sudah dikenal oleh kebanyakan teolog Injili sebagai relatif dari segi budaya: ciuman suci, pembasuhan kaki, kepala yang bertuding, rambut pendek seorang lelaki, jangan berhiasan, meneladah tangan dalam doa. Bagian Perjanjian Baru lainnya mudah dipahami dan langsung dapat diterapkan
Definisi Etika menurut Grudem: Etika Kristen adalah setiap penelitian yang menjawab pertanyaan: apakah yang diajar seluruh Alkitab kepada kita tentang kelakuan, sikap dan akhlak pridabi yang disetujui Allah, dan apa yang tidak.
Grudem menolak etika teologis yang bertolak dari satu atau dua pokok ajaran, seperti etika O’Donovan mengenai kebangkitan Kristus, atau etika situasi (Fletcher) yang bertolak dari kasih.
Kesepuluh Firman menolong untuk memberikan struktur, dan saya setuju. Tetapi menurut saya Dekalog tidak saja menolong secara praktis untuk menyusun, tetapi merupakan pula Firman Allah yang langsung berlaku bagi kita.
Menurut Grudem Etika Kristen menggabungkan etika deontologis, teleologis dan etika virtue. Dalam hal ini saya sependapat, dan sama dengan Grudem saya menolak etika yang disebutnya relativistis, seperti antinomianisme.
Dengan benar juga Grudem menolak Gusher &Stassen, Kingdom Ethics, yang didasarkan atas prinsip-prinsip biblika dan bukan atas peraturan-peraturan spesifik. Mereka takut legalisme, Grudem tidak, dan sekalipun saya menolak legalisme, saya bersama Grudem menganggap bahwa terdapat peraturan-peraturan Alkitab yang jelas.
Saya tidak dapat menerima kalau dikatakan Grudem bahwa sebagai implikasi dari suffisientia (kecukupan) Alkitab semuanya yang dikatakan Allah tentang pokok-pokok spesifik dan jawaban-jawaban soal-soal etis dapat ditemukan dalam Alkitab. Apakah tidak ada pertimbangan dari luar Alkitab, mis. tentang pokok-pokok medis?
Begitu juga: menurut Grudem kita tidak boleh menyebut dosa suatu hal yang tidak ditunjukkkan Alkitab sebagai dosa (eksplisit atau implisit). Bagaimana tentang
penyelewengan yang belum ditemukan pada masa Alkitab, mis. terkait dengan lingkungan? Dan juga katanya: Tuhan tidak menuntut sesuatu bahwa tidak diperintahkan Alkitab (eksplisit atau implisit). Apakah Alkitab tidak diberikan pada konteks tertentu? Apakah kita tidak boleh menyebut dosa penyalahgunaan alam seperti yang belum ditemukan dalam Alkitab?
Dalam semua hal tersebut kesimpulan-kesimpulan Grudem tidak berimbang, dan di bawah ini saya akan menuliskan tentang pokok-pokok lain yang diangkat Grudem
Sebagai tujuan etika Grudem mengemukakan dengan bagus:
Hidup demi pujian Allah, melalui akhlak yang memuji Allah, hasil-hasil (buah-buah) yang menggembirakan Allah, kelakuan yang memuliakan Allah, yaitu hidup dalam relasi dengan Kristus.
Menarik adalah cara Grudem menguraikan bahaya legalisme: yaitu legalisme untuk dibenarkan (Gal. 2:16), legalisme oleh menambahkan perintah sendiri kepada perintah-perintah Allah (Gal. 4:15), legalisme dalam sikap kesombongan, kekerasan, penekanan. Grudem pernah menulis juga “Pleasing God by our obedience. A neglected New Testament teaching.”
Grudem menyebut berkat-berkat Allah atas ketaatan kepada-Nya, tetapi bertanya juga : berapa lama lagi sebelum berkat yang telah hilang dapat dipulihkan (dbk 1 Kor.11:30). Pertimbangan seperti itu saya tidak mengerti. Menurut saya tidak ada waktu tertentu yang disebut Alkitab tentang itu.
Tentang dosa besar dan kecil Grudem menasihati dengan benar supaya kita berhati-hati dalam kesimpulan, sebab pembicaraan dalam Alkitab itu tergantung daripada tujuan. Ia membedakan sbb:
1 Kalau berbicara tentang posisi legal di hadapan Allah, tidak ada perbedaan antara besar dan kecil. 2. Kalau berbicara tentang akibat dosa, memang ada perbedaan. 3.Tuhan Yesus sendiri pernah berbicara tentang ‘salah satu perintah yang terkecil’ Mat. 5:19. 4 Dan perlu dibedakan juga tentang pelaku dosa: Kata Tuhan Yesus: kepada siapa yang diberi banyak, akan dituntut banyak.
Analisis seperti di atas bagi saya berharga dan sangat menolong.
Penting juga kalau Grudem membahas akibat-akibat dari dosa sengaja, ‘willful sin’, yang merugikan. Ia membedakan bahwa pembenaran tidak diganggu (Rom. 8:1), dan pengangkatan menjadi anak Allah (adopsi) tidak juga (1 Joh. 3:2), namun tetap ada banyak kerugian,
khususnya sebagai peringatan: hubungan dengan Allah terputus, terasa ketidaksenangan dari Allah Bapak, manusia mundur dalam pengudusan, ia kurang berbuah dalam pelayanan dan kehidupan Kristen, ia kehilangan upah-upah surgawi tertentu.
Bagaimana kita dapat tahu kehendak Allah? Grudem mengajak untuk memperhatikan kelakuan, sikap pribadi terhadap kelakuan, motivasi, hasil. Biasanya semuanya ini bercampuran.
Untuk mengenal kehendak Allah kita membutuhkan sebagai sumber-sumber informasi dan bimbingan: 1. Alkitab. 2. Penelitian terhadap situasi. 3. Bagaimana posisi dirimu dalam kasus tersebut. 4. Nasihat-nasihat orang lain. 5 Perhatikan keadaan yang mungkin berubah di bawah pimpinan Allah (mis. Paulus di Troas).
Dan sebagai subyek-subyek yang mencari kehendak Allah (biasanya bercampuran): hati nurani, hati, roh, dan pimpinan Roh Kudus. Bagi saya kurang jelas mengapa membedakan hati dan roh. Penting juga bahwa untuk menggunakan semuanya ini kita membutuhkan ‘skill’ (ketrampilan) dari hikmat.
Seperti dikatakan di atas, Grudem beranggapan bahwa orang Kristen tidak pernah akan harus memilih dosa yang lebih kecil, untuk menghindar yang lebih besar. Grudem pernah menulis khusus tentang itu, dan menolak graded absolutism dari Norman Geisler. Menurut Geisler: 1. Kasih kepada Allah melebihi kasih kepada sesama. 2. Mentaati Allah lebih dari mentaati pemerintah. 3 Kasih karunia melebihi mencari kebenaran. Dan menurut Geisler tidak perlu juga memohon pengampunan atas pelanggaran dalam dosa kecil.
Grudem menggunakan argumentasi yang lemah dengan mengatakan bahwa Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita harus menaati setiap perintah pemerintah, sebab Rom. 13: 1 berkata: ‘Be subject’ (takluk), yaitu tentang sikap, bukan tentang perintah-perintah khusus. Kalau memperhatikan keseluruhan Alkitab kita selalu melihat bahwa Allah menyetujui
mereka yang taat kepada-Nya. Namun, menurut saya, kadang-kadang ini justru terjadi melalui dosa yang lebih kecil itu.
Contoh: menurut Grudem Rachab dipuji, dan dustanya tidak diamati, sebab ia berdusta ketika ia masih pelacur Kanaan. Tafsiran itu tidak dapat saya dukung. Sekalipun ia masih kafir, dosanya tetap terhitung, cuma dalam hal ini diampuni karena tujuan Rachab adalah menyelamatkan pengintai Israel.
Kalau menyembunyikan pengungsi dalam perang, kata Grudem, maka selalu terdapat lebih banyak opsi, bukan saja berdusta, mis. berdiam diri, atau mengundang: lihat saja, atau menawarkan minuman. Menurut saya kadang-kadang tidak ada jalan lain daripada menipu, untuk menghindar kecurigaan.
Grudem menulis bahwa dalam Alkitab tidak ditemukan contoh-contoh jelas dari konflik moril. Menurut saya memang tidak ada, justru karena Alkitab tidak melihatnya sebagai konflik moril.
Menurut Grudem ‘impossible moral conflict’ akan membawa ke makin banyak dosa. Lebih baik, menurut Grudem: “Christians will neve face an impossible moral conflict”. Kenyataan, menurut saya, bukan demikian.
Kalau saya tidak salah, Grudem bermaksud, bahwa kita harus setia kepada seluruh isi Alkitab, dan bahwa di situlah ditemukan ruang untuk bergerak. Saya mendukung itu.
Tetapi, singkatnya, Grudem mengikuti Rakestraw, yang akan kita bahas kemudian (fasal 5) tentang ‘Non conflicting biblical commands’.
Tentang perjanjian Allah Grudem menganut pandangan kebanyakan orang Injili: Perjanjian Musa, yang dimulai dengan ke-10 firman, berhenti ketika Kristus mati, dan sekarang orang Kristen berada di bahwa P.B. .Tetapi, P.L. tetap berfungsi sebagai sumber hikmat etika. Grudem melihat beberapa perjanjian yang berbeda: Nuh, Abraham, Musa, yang masing-masing memiliki sejumlah statements dari Allah.
Pandangan Reformed adalah bahwa perjanjian Allah dengan manusia pada dasarnya satu saja, walaupun masa yang berbeda-beda.
Saya mendukung Grudem, kalau ia menolak aliran teonomi, yang mengatakan bahwa hukum moril dan sipil dari P.L. tetap berlaku, kecuali seremoniil. Jadi, hukum-hukum pidana juga. Pandangan teonomi itu berbahaya. Apalagi, menurut Grudem, mereka yang ikut teonomi tetap juga berselisih pendapat, seorang dengan yang lain.
Menurut Grudem Kej. 1- Kel. 19 mendahului Musa dan karena itu mengandung prinsip-prinsip etis yang umum berlaku. Bdk Kej. 2:24, yang dikutip dalam Mat. 19:1-6. Sedangkan Kej. 9:6 digunakan Grudem sebagai dasar untuk hukuman mati.
Dengan benar Grudem mengatakan bahwa ke-10 hukum tidak terikat oleh waktu dan tempat. tetapi alasannya ialah bahwa semua diaffirmasikan dalam P.B., kecuali hukum 4.
4. Sekularisasi
A. Charles Taylor, A secular age. 2007.
Taylor adalah seorang filsof dari Kanada, yang sangat berpengaruh pada awal abab XXI. Ia beranggota gereja Katolik Rum, tetapi ia tidak yakin bahwa ada Allah yang transenden dan yang nyata. Dalam bukunya A secular age (Era duniawi, tetapi juga : waktu yang duniawi) ia melukiskan sejarah sebagai hasil pemikiran manusia (filsafat).
Sekularisasi bagi Taylor bukan pemisahan gereja/negara, atau agama/ruangan umum (public domain), tetapi satu langkah di mana iman (agama) dilihat sebagai salah satu pilihan di samping pilihan lain. Dengan ketentuan itu maka mis. Amerika Serikat dapat dicoraki sekuler
(sekalipun agama sangat umum : civil religon) tetapi, menurut kami, Indonesia tidak dapat disebut sekulir. Sebab : Republik Indonesia terkenal sebagai beragama, bahkan untuk orang Indonesia ‘tidak beragama’ bukanlah opsi.
Apa yang dilakukan dunia Barat ? Dalam hal itu Taylor menggunakan pengertian
‘kepenuhan’. Katanya : Kami telah bergerak daripada dunia di mana sebuah ‘kepenuhan’ tanpa masalah dapat ditempatkan di luar atau di atas kehidupan manusiawi, kepada sebuah era yang penuh konflik di mana ‘kepenuhan’ ditempatkan di dalam kehidupan manusiawi. Jadi, tidak ada ‘atasan’ lagi.
Namun, ia menolak untuk mengatakan bahwa dunia modern tidak beragama, sebab agama, atau religi, sulit didefinisikan. Ada sebagian yang transenden, dan sebagian yang imanen, dan menurut Taylor ‘imanensi’ adalah penemuan barat yang terbesar.
Sekularitas dalam bentuk baru timbul bersamaan waktu dengan munculnya masyarakat yang telah meraih humanisme yang mutlak independen, dan itulah untuk kali pertama dalam sejarah. Sekularitas nr 1 adalah penemuan ruangan umum (public domain) yang sekuler, dalam arti tidak dikuasai gereja. Sekularitas nr 2 adalah kemunduran iman . Sekularitas nr 3 adalah situasi iman yang baru, yaitu mengakhiri penerimaan transendensi secara spontan. Dari mana semuanya itu ? Sebabnya adalah bahwa di Barat (Atlantik Utara) terjadi sesuatu yang unik : sebuah alternatif untuk ‘kepenuhan’. Ingatlah bahwa ‘kepenuhan’ itu tidak dengan sendirinya menunjuk kepada Allah, bisa juga kepada humanisme yang eksklusif. Dalam dunia seperti dahulu seorang individu tidak bisa melawan Allah : dalam dunia yang beragama itu setiap ‘aku’ keropos adanya, ia berada dalam sebuah medan penuh kekuatan-kekuatan rohani. Dalam dunia modern ‘aku’ berdiri tersendiri, tertutup, individual.
Dalam dunia dahulu ada kebersamaan yang tidak boleh diputuskan : seorang yang melawan komunitas kena sanksi. Sekarang boleh saja.
Akhirnya muncul sekularitas nr 4 : ‘secular age’ : waktu atau era yang sekuler : waktu biasa, yang bertentangan dengan ‘waktu yang lebih tinggi’, atau kekekalan. Dalam kekekalan semuanya stabil, bahkan dalam agama Kristen sesuatu yang sebesar korban Kristus di Golgota mendapat tempat dalam keseluruhan, dan dalam rencana Allah. Sama seperti Plato dan Aristoteles juga mengenal kekekalan, atau waktu yang sempurna, yang tidak akan goyang.
Tetapi ‘secular age’ cenderung kepada ketidaksempurnaan.
Bagi Plato dan Aristoteles terjadi waktu yang mulia yang melebihi waktu biasa. Di agama Kristen (Augustinus) waktu mulia adalah waktu yang diperpadatkan menjadi kekekalan : ‘Nunc’ (bah. Latin : kini) dari Allah meliputi semua waktu : ‘nunc stans’ (kekinian yang tinggal tetap).
Dalam agama suku terdapat juga waktu mulia, yaitu ketika adat ditentukan oleh nenek moyang: era yang mulia.
Dalam ‘secular age’ semua itu tidak perlu.
Sekarang manusia telah beralih dari kosmos ke universum : kosmos terbatas adanya, hierarkis, sedangkan universum tidak terbatas , tidak hierarikis, penuh dengan secular age. Di Eropah dalam abad yang ke-XVII timbullah orang-orang elit yang suka mengendalikan dan mengatur. Mereka tidak lagi mengikuti pandangan Plato dan Aristoteles tentang ‘bentuk dan isi’, bahwa semuanya sudah tercakup dalam alam, tetapi mereka ingin membentuk alam. Mis. hukum naturae dari Hugo Grotius sangat rasional, hampir geometris : ‘etsi Deus non
daretur’ : seakan-akan tidak ada Allah. Kemudian Locke dengan teori tentang ‘anima sebagai tabula rasa’ (jiwa yang mulai sebagai tulisan yang masih kosong): jika kita memasuki
lingkungan hidup yang baik, akhirnya hasilnya bagus. Segala sesuatu dapat dikonstruksi, asal logis. Descartes : realita semata-mata mekanis adanya, dan dapat dikendalikan oleh kehendak. Baru kemudian Hegel (abad XVIII) kembali kepada teleologi seperti Aristoteles, yaitu bahwa semuanya bertujuan dan tercakup dalam suatu proses.
Orang seperti Descartes, sama dengan aliran Reformasi (menurut Taylor), menolak yang sakral, dan ikut menciptakan identitas yang baru : ego yang tertutup : seorang yang tidak lagi takut terhadap demon dll.
Teori tentang ordo moril seperti disebut di atas dengan sendirinya mengubahkan pandangan sosial, khususnya dalam tiga pokok : ‘ekonomi’, ‘ruangan umum’, ‘pemerintahan
demokratis’.
Adam Smith : ekonomi adalah realita yang obyektif : mencari untung. Perdagangan dan ekonomi merupakan jalan ke sikon yang teratur, ditambah dengan pandangan Reformasi bahwa setiap pekerjaan suci adanya dan bisa berkontribusi kepada masyarakat. Begitu berlangsung perkembangan masyarakat di Inggeris dan Belanda.
Kemudian munculnya ‘ruangan umum’ : public domain dengan civil society : negara tidak lagi segala sesuatu. Ekonomi mempunyai dinamika tersendiri. Pertumbuhan Amerika Serikat adalah juga berdasarkan pandangan Locke (bahwa pemerintah terbentuk berdasarkan kontrak sosial) dan pandangan Grotius.
Dalam perkembangan kepada humanisme yang eksklusif maka menurut Taylor deisme sangat berperan. Deisme tidak menyangkal bahwa ada Allah, tetapi menurutnya Ia tidak bergerak atau bertindak. Tidak ada pemeliharaan khusus, walaupun Taylor menyebutkan sebuah deisme providentia. Melalui langkah deisme maka humanisme yang eksklusif menjadi opsi yang riil untuk banyak orang. Sebab deisme providentia berarti bahwa rencana Allah terbatas pada kenyataan ini bahwa manusia sendiri harus mewujudkan ordo dalam kehidupannya. Spinoza adalah pelopor dalam kritik terhadap Allah yang berpribadi, Allah yang memberi anugerah, membenarkan, menanggung dosa : agama kristen ortodoks melihat manusia sebagai orang yang harus diselamatkan, dan dengan itu merampas kehormatannya. Karena itu agama ditolak dan terakhir tinggallah sebuah ‘agama’ (pegangan) yang bukan agama : ateisme. Sebagai keuntungan identitas yang tertutup, Taylor melihat : kesadaran tentang kuasa sendiri, kesadaran tentang keamanan sendiri. Namun sekaligus keadaan itu labil, sebab setiap orang bebas adanya, dan bergaul bebas, sehingga terjadi pluralitas, mis dalam perkawinan dan agama.
Sekarang kita melihat diri kita tidak lagi sebagai pribadi yang muncul dari kosmos yang tertutup yang usianya 6000 tahun melainkan sebagai makhluk yang muncul dari jurang waktu yang gelap.
Mengapa dalam abad ke-19 manusia kehilangan iman ? Karena materialisme (termasuk Darwinisme). Sebab epistemologi materialisme lebih masuk akal daripada epistemologi agama Kristen. Dalam pandangan tentang pembentukan materi berdasarkan hukum-hukum dan aturan-aturan yang umum, tidak lagi dibutuhkan Allah berpribadi, yang
Tutur Taylor : Tidak pernah ilmu semata-mata yang menggugurkan iman tetapi selalu paket materialisme seutuhnya.
Inti pertanyaan ialah: apa yang berubah sejak tahun 1500 ? Sebab pada waktu itu ‘tidak beriman’ dianggap tidak mungkin. Mengapa dalam tahun 2000 terdapat banyak orang ateis yang katanya berbahagia saja?
Jawabnya bahwa dunia dibebaskan dari dewa-dewa dan dari yang sakral, sedangkan ‘waktu yang tinggi’ dikesampingkan, jadi pada dasarnya semua ciptaan yang dianggap lebih tinggi daripada yang lain bisa ditolak. Reformasi ikut membentuk itu, menurut Taylor.
Taylor sendiri, yang mau berbicara sebagai orang beriman, berkata bahwa kemunduran agama tidak dapat disangkal, tetapi ada juga penampakan-penampakan yang baru dari yang sakral atau spiritual, dalam hubungan antara individu dan masyarakat, juga terhadap Allah. Sekarang kita memasuki era mobilisasi, maksudnya bahwa manusia mudah dapat diarahkan kepada sesuatu yang baru. Taylor menyebut bermacam-macam bentuk spiritualitas : ‘new
age’ (keterbukaan terhadap agama-agama Hindu-Buddha), ‘positive thinking’ (kombinasi agama dan psikologi), Taize (pusat meditasi Protestan di Perancis).
Tetapi, mengapa Amerika Serikat pada umumnya tetap beragama : 1. Banyak orang imigran : agama mengikat sebuah komunitas suku. 2. Amerika tidak hierarkis. Sedangkan di Eropah orang elit sering bercorak ateis dan menggiring orang lain. 3. Amerika dari awal sejarahnya menekan etika otentisitas (kesungguhan): setiap orang mempunyai harga diri, dan bisa maju. Tetapi, ‘beragama’ di Amerika seringkali juga dangkal, bahkan disertai munafikan. Terdapat juga kebebasan dalam hal-hal yang tidak boleh disetujui, mis. revolusi seksual, revolusi etika kesehatan.
Kesimpulan saya : memasuki ‘secular age’ mungkin lebih berbahaya daripada
berkeuntungan. Dengan kata lain : hidup sebagai masyarakat /negara yang menjunjung tinggi ‘agama’ seperti di Indonesia, itulah mempunyai nilai tambah.
B. Herman Paul, Shoppen in advent (Shopping pada masa adven). Teori sekularisasi yang singkat. 2020.
Paul meneruskan pandangan Taylor, bahwa sekularisasi adalah satu opsi, yang dipilih, bukan suatu kuasa yang memenangkan kita, seperti angin badai. Bukan tren, tapi opsi, dan
kelihatannya manusia hendak memilih opsi tersebut. Dan ia menambahkan bahwa bagi
manusia modern terdapat begitu banyak opsi, sehingga hampir tidak ada waktu untuk memilih agama. Begitu banyak pilihan yang dapat dinikmati, untuk apa berfokus pada agama? Bukan bahwa manusia modern pada umumnya bermusuhan dengan agama, tetapi kenyataannya ialah bahwa tidak ada waktu untuk itu. Untuk apa ke gereja pada hari Minggu, kalau ada begitu banyak pertandingan olah raga yang menarik juga, mulai dari Grand prix sampai sepak bola? Gereja tidak dikalahkan oleh keyakinan lain tetapi oleh tur-tur pada hari Minggu dan meubel-meubel yang baru.
Pandangan yang lama bahwa sekularisasi adalah suatu tren, suatu pergerakan yang tidak dapat dihentikan, hampir sama dengan salah satu gejala alam, disebabkan oleh filsafat Pencerahan yang bermuaru di Darwinisme, yaitu evolusionisme. Jadi sekularisasi dilihat sebagai tahap yang perlu dalam perkembangan manusia, dan dengan tepat Paul menolak itu
Sama seperti Taylor, Paul juga bertolak dari Augustinus. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa sekulum itu adalah waktu antara kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua. Masa kerajaan Allah, tetapi jangan lupa bahwa seorang Kristen beranggota juga dalam kerajaan duniawi. Menurut saya wawasan Paul lebih bersifat Kristiani daripada wawasan Taylor. Namun ia tidak mendukung orang Kristen yang tajam sekali melawan sekularisasi sebagai musuh besar. Kenyataannya ialah bahwa kita hidup dalam sekulum seperti dicoraki tadi. Ia memberi judul ‘Shopping pada masa adven’, untuk menyatakan bahwa kita menantikan kedatangan (adventus) Kristus yang kedua. Dan ia menggunakan istilah shopping daripada istilah memilih, oleh karena manusia modern begitu tertarik oleh shopping mall. Ia ingin membeli, bukan saja yang perlu, tetapi juga yang indah, yang keren. Ia ingin memiliki apa yang dianggap hebat, yang sesuai gaya terbaru. Berbelanja seperti itu merupakan ciri penting bagi manusia modern, yang tidak semata-mata berfokus untuk mendapatkan keperluan utama (sembako).
Terdapat satu kemiripan dengan Augustinus lagi, yang begitu menekankan keinginan manusia, bahkan menekan kedua keinginan yang sama-sama kuat dalam diri manusia. Keinginan bahkan kehendak yang satu yang membawa manusia kepada konsumerisme, sedangkan yang lain membawanya kepada Allah, dan itulah yang merupakan tujuan hidup manusia, kata Augustinus.
Paul menyebut konsumerisme sebagai religi yang baru. Manusia terikat pada keinginan-keinginan untuk selalu membelikan sesuatu yang baru, dan yang membuat dia sebagai seorang individu yang dapat menonjolkan diri dengan ciri-ciri khasnya yang baru dibeli, mis. kendaraan, jam tangan, sepatu, hp dan laptop.
5. Utilisme atau deontologi? Atau etika kebajikan ? Atau etika nilai?
Sekarang kita membicarakan dua aliran dalam etika yang merupakan kedua ujung yang di antaranya terdapat banyak tipe etika, sedangkan pendekatan etis yang menurut kami benar, etika tanggungjawab, ditemukan di tengah kedua ini. Di ujung satu, utilisme menanyakan keuntungan/guna (utilis=lat. : berguna), di ujung lain deontologi menanyakan keharusan/ kewajiban (deon, Yun., berarti : kewajiban). Saya menambahkan hasilnya nanti dengan unsur etika kebajikan dan etika nilai. Dalam pertimbangan yang utilistis ditanyakan apakah efek dan guna dari kelakuan tertentu, dan kemudian atas dasar itu beberapa kesimpulan yang ditarik. Deontologi menanyakan prinsip-prinsip, terlepas daripada efeknya : apakah kita setia pada prinsip atau tidak?
Akan menjadi nyata bahwa Etika Kristen tidak sama dengan satu dari kedua ini, tetapi tidak terlepas juga dari unsur-unsur yang didalamnya. Dari keduanya dapat diambil sesuatu yang baik dan harus ditolak juga sesuatu yang buruk. Bandingkan definisi etika yang dipersiapkan dalam bab 2, di dalamnya tertera a.l. norma dan tujuan.
Brownlee membedakan tiga jalan yang disebutnya ‘etika akibat’ (±utilisme), ‘etika kewajiban’ (deontologi) dan ‘etika tanggungjawab’. Nama utilisme tidak muncul dalam karangan
Brownlee, ia menyebutnya etika teleologis (teleos,Yun. =tujuan).
Dalam etika tanggungjawab kita berusaha untuk memberi jawaban kepada Tuhan dalam kelakuan kita, dengan membuat apa yang (menurut kita) diminta Allah daripada kita. Tetapi tak dapat disangkal bahwa si jahat juga berperan dan dapat mengacaukan pikiran kita.
Untuk bertindak dengan bertanggungjawab haruslah kita memikirkan baik efeknya maupun perintah Tuhan. Brownlee memberikan banyak contoh Alkitabiah tentang ketiga cara itu dan membuktikan dengan itu bahwa cara berpikir yang satu tidak bisa terlepas daripada yang lain. Utilisme bertolak dari konsekwensi suatu kelakuan dan bertujuan kepada kesenangan terbesar atau manfaat terbesar untuk orang terbanyak : ‘the greatest happiness of the greatest number’. Pelopor-pelopornya adalah Jeremy Bentham dan John Stuart Mill (abad ke-18, 19). Istilahnya dalam bahasa Inggeris adalah utilitarianism.
Menurut Bentham manusia ditempatkan oleh alam di bawah kuasa dua tuan: penderitaan (kesakitan) dan kesenangan. Menurut Bentham sendiri ‘happiness’ lebih cocok daripada ‘utility’, maka aliran ini termasuk aliran eudaimonisme (eudaimonia, Yun, berarti: kesukaan). Augustinus pernah berkata bahwa eudaimonia yang benar adalah fruitio Dei: menikmati Allah. Mungkin utilisme dapat dikatakan eudaimonisme yang sosial, sebab yang dicari adalah keseluruhan kesenangan, untuk masyarakat, bukan untuk oknum tersendiri.
Utilisme membutuhkan pertimbangan: kesakitan dan kesenangan, celaka dan untung, semuanya harus ditimbang. Bentham menyebut 7 buah alat pengukur (calculus hedonistis) antara lain intensitas, lamanya, keterjaminan dan kemurnian dari kesenangan. Karena itu menurut Bentham mis. minum mabuk, jika diukur etis, sangat jelek.
Dalam hal itu Mill menilai bahwa sebuah makhluk yang terbatas kapasitasnya (mis. seekor kambing) lebih mudah menjadi fully satisfied (sangat puas), daripada seorang manusia. Kami mengikuti Douma yang berkata bahwa mempertimbangkan manfaat sebuah kelakuan memang amat penting, tetapi berbeda dengan utilisme.
Sebab utilisme berarti bahwa ‘utilis’ selalu menjadi kepentingan yang satu-satunya. Utilisme perlu dikeritik dan tidak dapat dipertahankan. Sebab:
1. Apa kesenangan yang terbesar: siapa yang mengukurnya? Terkandung sebuah maksimilisasi, dan belum dipikirkan distribusi yang adil.
2. Apa kesenangan yang terbesar? Seorang yang ketagihan narkoba mungkin merasa puas (satisfied) tetapi tidak senang (happy). Siapa yang mengukur kesenangan, mis. makan/minum dibanding dengan mendengar musik atau seks?
Kesenangan bukan sesuatu yang empiris, tapi evaluatif: band. Khotbah di Bukit: mereka yang sekarang dianiaya akhirnya akan dikenyangkan dengan kesenangan. 3. Bagaimana kita mengukur the greatest number? Apakah generasi-generasi yang akan
datang harus diperhitungkan juga? Apakah hanyalah manusia, yang harus ditinjau, bukan binatang atau lingkungan?
Mungkin kita beranggapan bahwa dengan sendirinya manusia mencari juga
kesenangan orang lain, sehingga terjadi kesenangan sosial, tetapi ternyata manusia seringkali sangat egoistis.
Apalagi: mempertimbangkan baik-buruk harus dilihat secara historis: apa yang terbaik untuk hari ini mungkin besok ternyata sangat buruk: orangtua si Hitler pasti amat senang waktu ia lahir, tetapi kemudian para penduduk dunia menderita karena ia menjadi diktator.
Dalam utilisme ‘good’ adalah yang menghasilkan kesenangan, dan ‘right’ adalah apa yang menghasilkan yang ‘good’. Jadi, bertolaklah dari jumlah kesenangan dan dari yang ‘good’, untuk mendapatkan yang ‘right’.
Deontologi
Dalam deontologi ‘good’ adalah apa yang menghasilkan yang ‘right’. Jadi, bertolaklah dari ‘right’ untuk mendapatkan yang ‘good’. Deontologi adalah aliran etika yang berdasarkan prinsip norma, dan tidak berdasarkan efek sebuah kelakuan.
Kant adalah seorang deontolog. Bonhoeffer sering menyebutnya sebagai contoh yang tidak boleh diikuti, sebab Kant berbangga bahwa ia selalu akan membicarakan kebenaran, juga mis. jikalau dengan itu ia menyerahkan seorang pengungsi kepada rezim kejam yang mencarinya. Deontologi berbentuk banyak. Dapat berdasarkan penyataan Allah, atau seperti gereja Katolik Roma berdasarkan hukum naturalis. Sedangkan dalam deontologi Kant intensi manusia adalah intinya, kemauannya. Prinsip Kant adalah: berlaku demikian bahwa peraturan yang engkau kehendaki selalu dapat menjadi prinsip hukum-hukum umum. Cuma, Kant
menyampaikan saja etika yang formil. Bukan materiil. Ketika ia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kasus konkrit (menyembunyikan pengungsi, dan tidak melaporkannya) ia kalah. Bonhoeffer selalu mengatakan bahwa etika tidak boleh dilepaskan daripada keadaan konkrit, dan bahwa keadaan konkrit itu adalah dunia yang diciptakan Kristus bagi manusia dan didalamnya Kristus menuntut jawaban yang bertanggungjawab dan penuh kasih.
Apakah Etika Kristen bercorak deontologistis? Memang itu sering dianggap demikian, tetapi tidak benar juga!
Terdapat satu bentuk deontologi yang kami sebut dengan khusus: Divin Command Theory (DCT). Orang Reformed mungkin dipandang sebagai penganut dari DCT itu, sebab orang Reformed menganggap benar seluruh isi Firman Tuhan. Orang Injili seperti Wayne Grudem, mirip dengan aliran tersebut. Namun, DCT adalah ekstrim.
Justru Firman Tuhan mengajar kepada kita untuk memperhatikan konteks dan berlaku baik dalam konteks itu. Ingat akan Rahab yang menyembunyikan orang-orang Israel. Dan ingat akan Tuhan Yesus sendiri yang menyembuhkan orang sakit pada hari sabat.
Mereka yang mengeritik DCT mengolok: seandainya Allah menyuruh kebengisan, dusta, percabulan, apakah kita harus ikut saja? Tetapi orang Kristen akan menjawab bahwa Tuhan adalah baik dan tidak akan meminta yang buruk.
Etika Kristen tidak seharusnya seperti DCT, yaitu menilai tanpa nuansa apapun. Grudem cenderung ke DCT, walaupun ia tidak menyebutnya. Dan Grudem justru bertolak dari moralitas Allah dalam mempertimbangkan arti perintah-perintah Allah sehingga tidak mungkin ia akan menerima kritik bahwa kita mau tidak mau harus mengikut perintah Allah sekalipun perintah itu bengis.
Terkait dengan deontologi sering diceriterakan dilema Eutrypho (dari sebuah dialog filsof Socrates): Apakah sesuatu adalah baik, karena para dewa menghendakinya, atau para dewa menghendaki sesuatu karena itu baik adanya?
Menurut ceritera, Eutrypho melaporkan ayahnya kepada kehakiman, karena ia membunuh seorang tetangga. Hanya saja, ayahnya membunuh orang itu dengan terpaksa, sebab ia melakukan kekerasan (pembunuhan) terhadap orang lain. Eutrypho takut murka dewa jika ia tidak melaporkan, sedangkan Socrates tidak menyetujui bahwa Eutrypho harus melaporkan ayahnya. Sebab bagi ayah Eutrypho tidak ada jalan lain daripada membunuh orang jahat itu.