oleh Mircea Eliade
4. Kebebasan: Pembaharuan Abadi
Eliade mengatakan bahwa manusia-manusia modern sudah kehilangan hak asali untuk kreativitas bebas yang absolut ini. Manusia “modern” dan “historis” sudah menyangkal partisipasi bebas di dalam momen transhistoris dan kosmogonis ini. Mereka terpaksa menjadi produk proses historis yang dideterminasikan tanpa akhir dan di luar kontrol mereka. Mereka sudah menolak kesempatan lewat ritual mitis untuk kembali ke awal-mula dunia dan manusia. Menurut Eliade, manusia-manusia yang dideterminasikan secara historis tidak dapat bebas, karena mereka “terpaksa” selalu menjadi korban kefanaan waktu linier yang tak terelakkan.44
Bila seseorang menjalani suatu kehidupan profan dan historis, tidak ada cara untuk “membatalkan” masa lalu. Waktu sekarang merupakan konsekuensi yang niscaya dari peristiwa-peristiwa masa lampau yang tak dapat kembali. Paling jauh orang hanya bisa berharap bahwa tindakan-tindakan masa kini akan membuat masa depan sedikit lebih baik dan sedikit kurang bermasalah. Tetapi karena masa kini itu selalu sudah ditentukan oleh masa lalu, maka efek yang diharapkan pada masa depan itu minimal. Karena itu, menurut Eliade, tidak ada jalan keluar dari teror sejarah yang tak kenal ampun.
43 Ibid., hlm. 138-139, 153; Eliade, Le sacré et…, hlm. 150-151. 44 Eliade, Le mythe de …, Chapter III: Malheur et histoire, hlm. 111-157.
Dalam reaktualisasi mitos kosmogoni selama ritual religius, seseorang dibebaskan dari segala kondisi dunia, termasuk sejarah, dan memulai kehidupan baru sebagai manusia. Peristiwa ini memberdayakan seseorang untuk mempunyai kebebasan kreatif yang tak terbatas untuk berpartisipasi dalam pembangunan kosmos dan semua yang ada di dalamnya. Orang-orang arkais dapat selalu kembali pada peristiwa penciptaan yang orisinal ini. Mereka mempunyai kesempatan yang selalu dapat diperbaharui untuk memulai segalanya kembali. Maksud Eliade dengan “eksistensi kudus” ini ialah kekkuatan untuk berpartisipasi dalam penciptaan dunia ini. Maka, kebebasan penuh bagi manusia terletak dalam “penghayatan mitos”.
Manusia historis hanya mempunyai kemungkinan untuk mempengaruhi proses sejarah dalam skala kecil tertentu seperti sebuah ranting kecil yang dapat sedikit membelokkan aliran sebuah sungai. Sebatas inilah wilayah kebebasan profan yang kreatif. Karena ontologi modern itu profan dan historis, maka manusia modern tidak dapat mencapai kebebasan menjadi manusia tanpa kondisi yang terjadi pada penciptaan kosmos.45
Kreativitas orang-orang modern terbatas sejauh kreativitas itu historis. Tetapi kreativitas orang-orang arkais terletak pada level lain, yaitu suatu level yang bahkan tak terduga oleh kesadaran manusia sekarang. Mereka bebas, tetapi bebas untuk tidak lagi menjadi seperti sebelumnya, bebas untuk menganulir sejarah mereka sendiri melalui penghapusan waktu periodik dan regenerasi kolektif.46
Jadi, kebebasan manusia modern itu untuk menghadapi sejarah, sedangkan kebebasan manusia arkais justeru untuk menghindarinya. Dengan membandingkan kedua hal ini, menurut Eliade, manusia arkais itu lebih kreatif daripada manusia modern yang melihat diri mereka hanya sejauh dalam hubungan dengan sejarah. Sedangkan
45 E. M. Baeten, “Myth and Freedom”, dalam: Thought, A Review of Culture and
Idea 266 (1992), hlm. 328-329. 46 Eliade, Le mythe de …, hlm. 176.
52 Memeluk Agama, Menemukan Kebebasan
manusia arkais paling sedikit setiap tahun mengambil bagian dalam pengulangan kembali kosmogoni, yaitu tindakan kreatif par
exellence.47
Tentu saja, dari sudut pandang empiris, penghapusan sejarah itu hanyalah sebuah “ilusi”, karena bagaimanapun, waktu selalu mengalir, tidak peduli apakah itu diterima, ditolak ataupun dihapuskan. F. Ricardi mengatakan bahwa penghapusan sejarah oleh orang-orang arkais itu merupakan transendensi waktu, yang bersifat simbolis. Konsep itu merupakan pemikiran konkret, yaitu suatu konsep yang sekaligus merupakan pemikiran dan realisasinya bersama-sama.48
Jadi, penghapusan sejarah itu merupakan sebuah sikap terhadap waktu, yang melindungi mereka dari bahaya “pemberhalaan” sejarah.
Dalam masyarakat arkais terdapat dua pertentangan ontologis, yaitu, ontologi kudus dan ontologi profan. Ontologi kudus disusun oleh hierofani dan memungkinkan manusia kembali ke awal-mula terjadinya kosmos melalui mitos dan ritus. Saat kosmogonis merupakan pencanangan dunia sebagai suatu tatanan yang teratur dan bermakna. Hanya melalui mitos dan ritus manusia arkais dapat terbebaskan dari kebinasaan eksistensi profan, yaitu disintegrasi yang terjadi karena dunia seisinya bergerak semakin menjauh dari kemurnian awalnya. Karena itu manusia arkais selalu mendambakan untuk kembali ke awal-mula waktu secara periodik untuk memulihkan dunia dari segala korupsinya.
Bagi orang-orang arkais, dunia sekarang ini tidak lagi merupakan dunia yang kudus, murni dan kuat seperti ketika baru diciptakan oleh para dewa. Dunia ini bukan lagi “kosmos”, tempat tinggal para dewa. Dunia ini sudah menjadi dunia yang didiami dan digunakan oleh makhluk-makhluk dari daging dan darah, suatu dunia yang ada di bawah hukum perkembangan, yang dapat menjadi tua dan mati.
47 Ibid., hlm. 177.
48 F. Ricardi, “L’interpretazione del sacro nell’opera di M. Eliade - I”, dlm. Rivista di
Karena itu merupakan suatu keniscayaan bahwa dunia ini perlu diperbaharui, dipulihkan dan diperkuat. Dan satu-satunya jalan untuk memperbaharui dunia ialah melalui reaktualisasi tindakan penciptaan oleh para dewa in illo tempore (pada jaman bahari).49
... suatu kepercayaan yang tersebar luas di antara orang-orang arkais, yang dapat diringkas sebagai berikut: dunia ini mengalami degenerasi karena fakta sederhana bahwa dunia ini ada, dan dunia ini harus diperbaharui secara periodik, yaitu diciptakan kembali.50
Bagi orang-orang arkais, satu-satunya cara untuk memperbaharui dunia ini ialah melalui reaktualisasi mitos dalam ritus dan dengan demikian dapat memulihkan eksistensi historis dunia sehingga kembali menjadi teratur dan bermakna. Jika ontologi profan adalah ontologi historis, maka dalam ontologi ini tidak terdapat kemungkinan untuk pembaharuan penebusan kembali dalam makna dan adanya.
Bagi Eliade, realitas sejati itu ditentukan oleh kedekatannya dengan locus (tempat) kekuatan kreatif, yaitu saat kosmogoni (penciptaan). Apabila seluruh dunia itu dideterminasikan, maka demikian pulalah eksistensi manusia. Apa yang disebut dengan manusia “sejati” itu juga manusia yang terdapat pada saat sumber penciptaan awal. Dengan mengulangi peristiwa penciptaan awal manusia, yaitu reaktualisasi mitos di dalam ritus, maka muncullah kembali manusia sejati dalam keadaan murni dan sempurna, segala kondisi historis dihapus dan yang tinggal hanya bentuk asali awal-mula. Manusia kembali pada penciptaan aslinya, manusia yang sejati di dalam kosmos.51 Sedangkan dalam dunia profan tidak mungkin terdapat “ada” yang sebenarnya, karena tidak mempunyai model yang sempurna dan tidak berpartisipasi dalam “ada”.
49 Eliade, Aspects du …, hlm.. 59-63.
50 Eliade, The Quest, History and …, hlm. 106.
54 Memeluk Agama, Menemukan Kebebasan
Apa saja yang termasuk dalam lingkungan profan itu tidak berpartisipasi dalam ada, karena yang profan tidak ditetapkan secara ontologis lewat mitos, jadi tidak mempunyai model yang sempurna.52
Jadi, apa saja yang keluar dan berasal dari eksistensi manusia tidak dapat mempunyai makna dan nilai yang sebenarnya; kebebasan sejati terletak pada penyerahan total kepada para dewa yang menetapkan model paradigmatik.
Sebagai kontrasnya, apa yang dilakukan oleh manusia-manusia atas inisiatif mereka sendiri, apa yang mereka lakukan tanpa suatu model mitis, itu termasuk dalam wilayah profan; karena itulah maka aktivitas tersebut hanya sia-sia dan ilusi, dan, dalam analisis terakhir, “tidak nyata”.53
Mitos mereduksi pluralitas dunia ke dalam suatu dualisme ontologis, yaitu yang kudus dan yang profan, dengan satu prioritas ontologis sebagai locus manusia yang sejati yaitu eksistensi yang kudus. Kebebasan juga terletak di sini. E.M. Baeten menginterpretasikan ini sebagai kebebasan yang sejati dan tak terkondisikan bagi manusia. Kebebasan kreatif yang absolut ini dipahami sebagai penghapusan semua bentuk determinasi. Baeten mempersoalkan apakah kebebasan yang tak terbatas ini merupakan kodrat sejati sebagai manusia, sebagai tujuan akhir bagi kita semuanya.54 Saliba juga mengatakan bahwa kebebasan lengkap dalam waktu awal-mula ini, yang berarti kehidupan paradisal, didambakan oleh manusia arkais, tetapi tak pernah sepenuhnya tercapai.
Jadi mitos dan ritus merupakan usaha dari pihak manusia untuk kembali pada masa awal-mula yang membahagiakan, kehidupan primordial dan paradisal sebelum manusia dibebani oleh waktu dan kondisi-kondisi historis. Tetapi keadaan macam itu tak pernah secara penuh tercapai. Pelarian dari waktu hanya berlangsung sesaat
52 Ibid., hlm. 85.
53 Eliade, Le sacré et…, hlm. 86.
saja atau dalam periode waktu yang relatif amat pendek. Karena itu fungsi mitos dan ritus menjadi sia-sia untuk sebagian. Jadi, mitos dan ritus dapat dilihat lebih sebagai simbol yang menunjuk pada tujuan yang didambakan daripada sebagai sarana-sarana yang sepenuhnya efektif untuk merealisasikan tujuan tersebut.55
Eliade akan menjawab bahwa tindakan kembali ke waktu asal
in illo tempore itudilakukan dalam rangka untuk menciptakan dunia
kembali dan mendapatkan kekuatan yang baru. Baginya, seorang Barat modern, hal ini berarti bahwa dia dapat selalu memulai lagi hidupnya. Setiap saat tersedia kesempatan untuk memperbaharui kembali hidupnya dan, sebagai konsekuensinya, juga termasuk menjamin kreativitasnya. Ini merupakan pandangan hidup yang optimistis. Kehidupan dapat selalu diperbaharui. Kematian selalu diikuti dengan “kebangkitan”. Bahkan sesudah penghancurannya, dunia akan diciptakan kembali dalam bentuknya yang baru.56 Kehidupan tidak lagi menakutkan karena selalu ada harapan untuk kelahiran kembali. Tetapi dia melanjutkan bahwa kebebasan yang absolut, yaitu penghapusan kondisi manusia, merupakan suatu godaan. Manusia itu makhluk yang terbatas dan dikondisikan, sementara kebebasan seorang dewa, seorang leluhur mitis atau roh tidak mempunyai tubuh yang dapat mati. Manusia selalu mendambakan untuk menjadi
seperti seorang dewa.57
Kebebasan sempurna tak akan pernah dapat dicapai dalam kehidupan di dunia ini. Jadi, kebebasan di dunia ini merupakan sebuah “persiapan” atau realisasi dari “dialektika” kebebasan yang sempurna, yaitu proses yang berlangsung terus-menerus untuk menuju kebebasan yang sempurna. Sukses atau gagalnya tergantung dari bagaimana manusia mengarahkan tindakan-tindakan bebasnya selama hidup mereka untuk menuju tujuan akhir hidup mereka.
55 J.A. Saliba, ‘Homo Religiosus’ dlm. Mircea Eliade, An Anthropological Evaluation, (Leiden: Brill, 1976), hlm. 54.
56 Eliade, Mythes, rêves et …, hlm. 75; Eliade, Aspects du …, hlm. 74-75.