• Tidak ada hasil yang ditemukan

oleh Mircea Eliade

1. Sedikit tentang Mircea Eliade

Mircea Eliade lahir di Bukarest, Rumania, pada tanggal 9 Maret 1907 dan meninggal pada bulan April 1986 setelah menyelesaikan karya besarnya The Encyclopedia of Religion. Karyanya yang terakhir ini terdiri dari 16 jilid tebal dan dia sebagai ketua editor. Dia melakukan bermacam-macam penelitian tanpa kenal lelah tentang kerangka dasar, struktur dan makna berbagai macam fenomena religius, misalnya mitos, simbol, ritual dsb. Dia mencoba melihat kesamaan-kesamaan yang ada dalam bermacam-macam agama. Bidang penelitiannya begitu luas, meliputi bermacam-ragam suku dengan macam-macam kebudayaan dan bentuk hidup, dari yang paling kuno sampai yang paling modern, baik yang masih nomaden maupun yang sudah menetap, yang hidup dari berburu, memetik maupun bercocok tanam. Mereka semua terdapat di benua Afrika, Asia, Eropa, Australia dan Amerika. Karena itu hasil penelitiannya merupakan semacam kesimpulan yang bersifat umum. Dari sini dia bisa melihat perkembangan yang dapat diterlusuri dari agama-agama yang amat kuno sampai dengan yang paling modern. Perkembangan ini dibicarakan dalam sebuah disiplin ilmu yang disebut dengan

Sejarah Agama-Agama2 yang digeluti oleh Eliade. Ilmu Sejarah Agama-Agama, dengan tekanan lebih pada Agama-Agama daripada

Sejarah,3 dimaksudkan dalam arti yang paling luas yang tidak hanya mencakup sejarah, tetapi juga studi komparatif agama-agama, morfologi dan fenomenologi agama.4 “Agama”, menurut Mircea Eliade, tidak harus berarti kepercayaan kepada Tuhan, dewa-dewa atau roh-roh, tetapi mengacu pada pengalaman akan yang kudus dan, sebagai konsekuensinya, berhubungan erat dengan konsep ada, makna dan

kebenaran.5

“Masyarakat primitif” merupakan tema esensial dalam karya-karya Eliade. Kata “primitif” di sini bukan berarti suatu pemikiran yang tidak logis, kebodohan primordial ataupun tingkat intelektual yang rendah. Istilah “primitif” mempunyai konotasi negatif dan dengan mudah bisa menimbulkan salah paham. Eliade mengusulkan satu istilah yang dia anggap lebih tepat atau lebih cocok, yaitu “arkais” atau “praliteral”.6 Karena itu tulisan ini lebih cenderung menggunakan istilah “arkais” daripada “primitif”. Istilah-istilah ini mau menggambarkan sebuah masyarakat yang mempunyai ciri-ciri tradisional, eksotis, pramodern, ahistoris dan prahistoris.

Salah satu cirikhas dunia arkais ialah orang-orangnya sering dan bahkan terutama memakai ungkapan-ungkapan simbolis. Dan di antara bermacam-macam ungkapan simbolis mereka, mitos

2 Sejarah Agama-Agama dengan huruf besar pada awal untuk membedakannya dengan disiplin ilmu lain: sejarah agama-agama.

3 Mircea Eliade, Images et symboles. Essais sur le symbolisme magico-religieux ( Paris: Gallimard, 1952), hlm. 36.

4 Mircea Eliade, The Quest, History and Meaning in Religion, (Chicago: University of Chicago Press, 1969),. hlm. 1.

5 Ibid., hlm. i.

6 Ada perdebatan mengenai istilah “arkais” ini, karena bisa mempunyai konotasi dengan sesuatu yang sudah punah dan hanya tinggal fosil-sofilnya saja. Beberapa ilmuwan mengusulkan lagi sebuah istilah yang lebih cocok yaitu “primal”. Tetapi Eliade sendiri memakai istilah “arkais”, karena itu dalam tulisan ini digunakan istilah yang sama.

34 Memeluk Agama, Menemukan Kebebasan

mempunyai peranan yang fundamental. Mitos merupakan satu di antara berbagai unsur yang membentuk dasar kehidupan sosial dan budaya masyarakat arkais. Mitos tidak bermaksud untuk menggambarkan atau menjelaskan sesuatu; mitos itu sebuah ungkapan pengalaman dan relasi manusia-manusia arkais dengan yang kudus, dengan sesama, dengan dunia dan lingkungan hidup mereka. Mitos adalah ungkapan cara berada mereka di dunia ini. Dengan dan melalui mitos, mereka memberikan makna pada dunia dan eksistensi mereka sebagai manusia.7 Mitos merupakan realitas kultural yang sangat kompleks dan karenanya sangat sulit untuk memberikan batasan-batasan yang definitif. Eliade melihat mitos sebagai usaha manusia arkais untuk mengungkapkan “terobosan” yang kudus atau yang supranatural ke dalam dunia. Terobosan inilah yang memberikan pendasaran dan membuat dunia seperti apa adanya sekarang ini.8

Pada dasarnya Eliade adalah seorang ilmuwan agama, tetapi dia mempunyai minat yang amat besar pada bidang-bidang lain seperti misalnya antropologi, filsafat, sosiologi, psikologi, termasuk juga dunia kesusastraan dan seni. Dia menulis banyak sekali roman dan novel yang sama sekali tidak boleh diabaikan kalau mau memahami pemikirannya. Sekedar beberapa contoh dari roman-roman dan novelnya: À l’ombre d’une fleur de lys...(roman), Forêt interdite(roman),

Mademoiselle Christina (roman), Noces au paradis (roman), La nuit bengali (roman), Le roman de l’adolescent myope (roman), Les Trois Grâces (novel), Uniformes de général (novel), Le vieil homme et l’officier (roman).

Di sini perlu diperhatikan bahwa kesusastraan dan agama mempunyai hubungan erat persis pada asal-muasalnya. Kesusastraan muncul dari mitos religius dan pada awalnya didaraskan dalam sebuah ritus religius. Hubungan ini masih tetap berlangsung bahkan jauh setelah kesusastraan sudah bukan lagi menjadi medium untuk

7 Eliade, Mythes, rêves et …, hlm. 21-23.

kebenaran wahyu atau bagian dari ritus religius.9 Baik kesusastraan maupun agama sama-sama mencari makna, tetapi dengan cara yang berbeda. Kesusastraan mencari makna secara heuristis, untuk menunjukkan arah dan pentingnya makna-makna itu; sedangkan agama lebih menggunakan cara parabolis, untuk menunjukkan dari mana asal makna-makna itu dan apa artinya bagi kehidupan manusia.10 Kecuali itu sejarah kesusastraan menunjukkan kedekatan dan kompleksitas hubungan antara kesusastraan dan mitos. Keduanya saling berhubungan karena kesamaan ciri khas dalam naratif, imaji dan tema. Ada sebuah pandangan yang melihat mitos sebagai cara kebudayaan yang paling kuno untuk memberikan tanggapan terhadap dunianya; kemudian perkembangan mitos selanjutnyanya tampak dalam kesusastraan, bersama-sama dengan agama, ilmu, sejarah dan filsafat.11

Eliade sama sekali tidak setuju dengan pendapat bahwa ilmu-ilmu, termasuk kesusastraan, merupakan perkembangan lanjutan dari mitos, bahwa ilmu-ilmu itu lebih maju dibandingkan dengan mitos. Dia mengatakan bahwa mitos merupakan suatu cara hidup, cara logika dan cara berada yang berbeda dengan cara orang-orang modern. Mitos sama sekali tidak lebih rendah dibandingkan dengan ilmu-ilmu modern; mitos adalah ungkapan asli pengalaman orang arkais dengan realitas yang nota bene multi dimensional. Kita tidak akan pernah “mengetahui” realitas secara penuh. Ada banyak sekali cara manusia memahami dan berpartisipasi dengan realitas dan karena itu pula ada banyak sekali macam “ilmu” sebanyak cara manusia memahami dan berpartisipasi dengan realitas tadi. Karangan ini tidak akan masuk ke dalam diskusi ini, karena akan menyimpang terlalu jauh dari topik utamanya, yaitu melihat agama

9 G. Gunn, “Literature and Religion”, dalam: J.-P. Barricelli and J. Gibaldi (eds.),

Interrelations of Literature, (New York: The Modern Language Association of

America, 1982), hlm. 47.

10 Ibid., hlm. 50.

11 J. B. Vickery, “Literature and Myth”, dalam: J.-P. Barricelli and J. Gibaldi (eds.),

36 Memeluk Agama, Menemukan Kebebasan

dan kebebasan dalam masyarakat arkais menurut Mircea Eliade, yang akan membicarakan apa itu kebebasan dan bagaimana manusia arkais mencapainya. Dalam mencermati pandangan mereka kitapun akan dapat melihat pandangan Eliade sendiri tentang hal tersebut.