• Tidak ada hasil yang ditemukan

Moral, Etika dan Agama Bermoral = Beragama?

1. Moral dan Etika

Moral berasal dari bahasa latin mos-moris, yang artinya adat-istiadat, kebiasaan, kelakuan, cara hidup yang baik. Kata “baik” di sini mengacu pada kualitas khas moral. Kata tersebut merupakan penilaian moral yang menunjuk pada kebaikan manusia sebagai manusia secara keseluruhan, dan bukan hanya parsial saja. Kalau saya berkata, orang itu sangat pandai main piano. “Pandai main piano” merupakan kualitas, tapi bukan kualitas moral. “Pandai” merupakan kualitas ketrampilan atau kemampuan manusia: kemampuan jari-jari tangan, kemampuan otak, kemampuan daya ingat. Tetapi kalau

132 Moral, Etika dan Agama

saya berkata, orang itu sangat murah hati. “Murah hati” merupakan kualitas moral, kualitas manusia sebagai manusia. Orang bisa saja pandai, tetapi sangat pelit. Sebaliknya, orang bisa saja bodoh tetapi sangat murah hati. “Murah hati” merupakan penilaian moral, sedangkan “bodoh dan pandai” bukan. Satu prinsip moral yang amat penting adalah “melakukan yang baik dan menghindari yang jahat”. Prinsip ini perlu diterima, jika tidak maka tidak ada moralitas.

Tetapi masalahnya tidak selesai dengan menerima prinsip di atas tadi. Masih banyak perdebatan lebih lanjut mengenai apa yang dianggap baik. Pandangan mengenai apa yang baik dan yang tidak baik (buruk) sangat dipengaruhi oleh pandangan orang tentang manusia. Ada bermacam-macam pandangan, antara lain: moral positivisme (baik-buruknya tindakan tergantung dari ketaatan terhadap aturan/ hukum yang berlaku), utilitarisme (baik-buruknya tindakan ditentukan oleh kegunaan atau akibatnya), hedonisme (sesuatu itu baik bila membawa nikmat). Salah satu pedoman untuk bertindak ialah apa yang di sebut dengan suara hati atau hati nurani. Suara hati muncul pada saat orang menghadapi pilihan untuk menentukan tindakan. Orang merasakan suatu kewajiban yang muncul dari dalam untuk melaksanakan sesuatu, entah dia sukai atau tidak, entah membawa suatu keuntungan atau tidak. Secara jujur, itulah yang harus dilakukan menurut kesadaran moral pada saat itu.

Etika merupakan salah satu cabang dari filsafat yang membahas moralitas. Etika memberikan penilaian dan pemikiran kritis mengenai sistem-sistem moral, apakah sistem moral tertentu dapat dipertanggungjawabkan, melihat kelemahan, kekurangan dan kelebihannya, dan bagaimana kita mengambil sikap terhadapnya. Etika berusaha mengerti mengapa dan atas dasar apa kita harus hidup menurut norma-norma tertentu. Magnis-Suseno dalam Etika

Dasar, Masalah-masalah pokok Filsafat Moral mengibaratkan ajaran

moral dengan petunjuk bagaimana caranya mengendarai dan memperlakukan sepeda motor kita dengan baik, sedangkan etika memberikan pengetahuan tentang struktur dan teknologi sepeda motor itu sendiri. Untuk dapat mengendarai motor, orang tidak perlu belajar tentang mesin sepeda motor dan komponen-komponennya.

Moral adalah kehidupan itu sendiri, sedangkan etika membuat refleksi dan penilaian kritis tentangnya. Untuk menjadi orang baik, tidak perlu belajar etika dan tidak perlu menjadi seorang filsuf, tetapi etika bisa membantu orang untuk mencari orientasi dan membuat pertanyaan kritis tentang moralitas. Kehidupan manusia makin lama makin kompleks, dengan segala macam pluralitas, polaritas, transformasi dan semacamnya. Dalam keanekaragaman ini semakin diperlukan sebuah pegangan atau pedoman agar tidak hanyut ditelan gelombang kehidupan, yang sering penuh dengan “badai dan taufan”. Etika dapat menjadi salah satu pegangan.

2. Agama

Gambaran umum mengatakan bahwa agama adalah kepercayaan kepada Tuhan/ Dewa Tertinggi, Roh Supra Natural, Pengada Tertinggi, atau kepercayaan akan adanya kehidupan sesudah kehidupan di dunia ini. Pandangan umum tentang agama ini dipengaruhi oleh agama-agama besar dunia. Gambaran yang menyebutkan kepercayaan kepada Tuhan/ Dewa Tertinggi itu terlalu spesifik dan terlalu teologis sehingga tidak mencakup semua yang “layak” disebut agama (sebetulnya siapa yang menentukan “kelayakan” ini?). Para penganut agama Budha tidak menyembah Tuhan/ Dewa. Mereka tidak mempunyai (membuat) konsep tentang Tuhan, tetapi siapa yang bisa menyangkal bahwa Budha termasuk “agama”? Orang-orang Yahudi menganggap iman mereka lebih sebagai masalah praksis kehidupan daripada hanya ide-ide. Bagi orang-orang Indian (penduduk asli Amerika), agama mereka adalah tarian. Mereka hidup supaya bisa tetap menari. Bagi kelompok lain, agama adalah masalah liturgi dan ritual. Maka gambaran umum tadi tidak memadai untuk mencakup semua yang layak disebut agama.

Untuk melukiskan sesuatu yang paling esensial bagi agama, Durkheim dan Eliade memakai istilah “the sacred”, sedangkan Rudolf Otto memakai istilah “the holy” (yang kudus). Istilah ini mempunyai cakupan yang lebih luas daripada istilah “Tuhan/ Dewa”. Penganut Budha yang tidak mempunyai konsep tentang Tuhan/

134 Moral, Etika dan Agama

Dewa, mempunyai “sense of the sacred”, sesuatu yang suci. Dan bisa dikatakan bahwa semua agama, dari jaman pra sejarah sampai jaman paling modern, mempunyai “sense of the sacred” ini. Karena itu perlu melihat agama dalam artinya yang paling luas, yang tidak selalu berarti kepercayaan kkepada Tuhan/ Dewa Tertinggi atau Roh Supra Natural. Kata “yang kudus” kiranya lebih tepat, karena kata “Tuhan”, “Dewa” atau “Roh Supra Natural” tidak mempunyai arti yang sama bagi semua orang. Istilah-istilah tersebut sudah menunjuk pada konsep-konsep dan gambaran-gambaran tertentu yang berbeda satu sama lain. Dengan istilah yang kudus, Eliade bermaksud menunjuk pada Living Reality (Realitas Hidup) yang mengatasi segala sesuatu dan tidak dapat diidentifikasi dan dibandingkan dengan “realitas biasa” manusia dalam kehidupan sehari-hari. Istilah ini tidak memberikan penilaian pada obyek dari yang kudus dan tidak pula mengidentifikasikan yang kudus dengan obyek apapun, baik yang maha kuasa, yang ilahi, Tuhan, Dewa atau dewa-dewa transenden manapun.

Secara singkat bisa dikatakan bahwa menurut Eliade agama menunjuk pada suatu relasi dengan yang kudus dan karena itu berhubungan erat dengan persoalan ada, makna dan kebenaran. Maka agama bisa dianggap sebagai way of life (cara hidup), yang tidak hanya menyangkut sederetan kepercayaan yang dianut, tetapi meliputi keseluruhan totalitas pribadinya.