• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teilhard de Chardin

5. Refleksi dan Tinjauan Kritis

a. Validitas Teori Evolusi

Teori evolusi dari Teilhard ini sebenarnya merupakan hipotesa saja, sebab inti yang sebenarnya dari teori ini tidak dapat diverifikasi secara empiris. Sebagai palaentolog dan geolog ia banyak mengadakan penyelidikan dari dunia materi sampai manusia. Dalam penyelidikan itu ia menemukan adanya bermacam-macam tingkat kompleksitas struktur dan taraf konsentrasi kesadaran. Ada yang mempunyai tingkat kompleksitas struktur yang rendah dan taraf konsentrasi kesadaran yang dangkal, tetapi ada pula yang mempunyai tingkat dan taraf yang dianggap lebih tinggi, bahkan ada yang mempunyai tingkat tertinggi. Dari bermacam-macam penyelidikan lalu Teilhard menarik kesimpulan bahwa taraf yang lebih rendah berkembang menuju yang lebih tinggi, yang lebih tinggi berkembang menuju yang lebih tinggi

98 Jembatan Agama dan Ilmu Pengetahuan

lagi dst. (demikian inti teori evolusi). Jadi, taraf yang lebih tinggi berasal dari yang lebih rendah.

Sekarang kita bisa mempermasalahkan, dari mana dia menarik kesimpulan itu? Apakah kalau ditemukan adanya bermacam-macam tingkat kompleksitas dan taraf kesadaran itu lalu berarti bahwa yang lebih tinggi berasal dari yang lebih rendah? Tidak ada bukti untuk hal itu, dan memang kiranya tidak akan mungkin untuk membuktikannya. Teilhard juga tidak membuktikan, ia langsung menarik kesimpulan tersebut. Dengan menyimpulkan demikian itu sebenarnya Teilhard sudah melampaui kompetensinya sebagai palaentolog dan geolog.

Penemuan-penemuan fosil juga bukan merupakan bukti teori itu. Fosil-fosil yang telah ditemukan sempai sekarang hanya merupakan contoh-contoh tentang organisme-organisme atau jenis-jenis kehidupan yang ada pada saat itu dan yang sudah tersebar cukup luas. Apalagi belum pernah ditemukan bentuk-bentuk transisi materi - tumbuh-tumbuhan - binatang - manusia dalam arsip-arsip alam di bumi ini. Palaentologi hanya menemukan bentuk-bentuk yang sudah sempurna.

Teilhard sendiri mengatakan bahwa tahap-tahap biologi yang pertama tak dapat membentuk fosil, karena masih terlalu halus dan mudah rusak. Ia menunjuk pada hukum kepunahan sumber-sumber (suppression of peduercles, istilah Teilhard dalam bukunya

The Phenomenon of Man). Kemudian Teilhard juga memberi contoh,

bahwa kita tak akan bisa menemukan jejak-jejak orang Yunani pertama, orang Romawi pertama, kereta pertama, alat tenun pertama, dsb. Taraf-taraf permulaan selalu lemah dan karenanya mudah rusak. Alam dan berjalannya waktu sudah menghapus jejak-jejak pertama. Lagipula kita hanya mungkin menemukan organisme-organisme sebagai fosil apabila organisme-organisme itu sudah cukup berkembang, bentuk-bentuknya sudah tetap dan ada dalam jumlah yang besar. Inilah sebabnya mengapa kita hanya menemukan bentuk-bentuk yang sudah kuat dalam arsip-arsip kulit bumi. Banyak sela taraf yang sudah lenyap dan tak akan pernah ditemukan selamanya, tanpa meremehkan kegiatan kaum palaentolog, demikian Teilhard.

Tetapi, juga seandainya semua fosil ditemukan dengan lengkap, hal itupun bukanlah merupakan bukti teori evolusi. Ada kemungkinan bahwa keberagaman yang ditemukan, baik yang mempunyai struktur sederhana atau kompleks, memang sudah ada demikian dan bukan seperti yang dikatakan dalam teori evolusi (yang lebih kompleks berasal dari yang lebih sederhana).

Oleh karena itulah maka teori evolusi tetap merupakan suatu hipotesa saja. Namun demikian hipotesa ini bukanlah sembarang hipotesa yang tanpa dasar. Banyak tanda dan data empiris yang dianggap bisa menjadi indikasi untuk menunjang hipotesa ini, misalnya saja perkembangan janin dalam kandungan sampai menjadi bayi. Dikatakan juga bahwa manusia merupakan tiruan kosmos dalam bentuk mini (mikrokosmos). Atau fakta metamorfosis dari ulat - kepompong - sampai menjadi kupu-kupu, perkembangan telur katak hingga menjadi katak, dsb. Walaupun demikian, fakta dan data inipun bukan merupakan bukti dari teori evolusi.

b. Orientasi ke Barat dan Fenomen Kejahatan di Dunia

Mengenai teori itu sendiri, banyak yang melontarkan kritik dan tanggapan karena banyak hal yang bisa dipermasalahkan dalam teori tersebut. Misalnya anggapan Teilhard tentang orientasi manusia ke Barat. Menurut dia poros-poros utama antropogenesis sudah lewat melalui dunia Barat. Apakah pernyataan ini keluar dari kebanggaan berlebihan dan superioritas orang Barat? Sekarang ini kita melihat adanya bermacam-macam polarisasi di dunia dan dunia Barat bukanlah satu-satunya yang paling “besar”. Peradaban tertinggi juga tidak hanya ditemukan di Eropa Barat atau paling sedikit bukan monopoli mereka. Kita bisa melihat adanya pengaruh Timur, Jepang, Cina, Rusia, Dunia Islam, dsb. yang tidak termasuk dunia Barat dan tidak “lebih rendah” daripada mereka.

Bagi beberapa orang, ide-idenya dianggap terlalu optimistis. Teilhard memang sangat optimis dan yakin akan keberhasilan evolusi manusia di masa depan. Mau tak mau evolusi akan sampai pada puncaknya secara niscaya, demikian katanya. Dunia telah

100 Jembatan Agama dan Ilmu Pengetahuan

dapat hidup terus melalui bahaya-bahaya yang tak terduga, yang tak terbilang banyaknya selama milyaran tahun untuk menghasilkan manusia, maka iapun akan menunaikan karyanya sampai akhir dengan cara yang sama tanpa mempedulikan ancaman-ancaman. Bagi kita anggapan ini menimbulkan tanda tanya. Kalau masa lampau berhasil, apakah pasti secara niscaya akan berhasil juga pada masa depan? Kalau evolusi pertama-tama merupakan perkembangan spirit dan dunia adalah kesadaran yang diselimuti daging, maka menurut Teilhard, mau tak mau evolusi akan sampai pada puncaknya dengan sendirinya secara niscaya. Dari mana dia menyimpulkan keniscayaan berhasilnya evolusi? Kejahatan, kesengsaraan dan dosa yang berperanan besar dalam hidup manusia sehari-hari tidak mempunyai tempat dalam konsepnya.

Kritik-kritik ini dijawab secara pribadi oleh Teilhard. Penghancuran manusia sebelum waktunya, sebelum pemenuhan masa biologisnya adalah sesuatu yang mustahil, karena manusia bukan hanya “bunga” pohon kehidupan, melainkan juga puncak alam semesta. Seluruh kosmogenesis dan biogenesis tak berarti tanpa manusia. Dari sebab itu manusia “harus” mencapai tujuannya. Kalau sebelum waktunya manusia dibinasakan, seluruh alam semesta akan kandas, karena kehilangan artinya. Di sini kita masih bisa mempermasalahkan lagi, siapa yang mengatakan bahwa alam semesta “harus” mempunyai arti? Manusia juga. Kalau begitu, apakah tidak mungkin terjadi suatu akhir yang absurd? Maka masih terbentanglah suatu diskusi yang panjang.

Mengenai adanya fenomen kejahatan, ia menyatakan bahwa demi kejelasan ia hanya mau menunjukkan segi positif dari evolusi, karena menurut dia, segi negatifnya akan jelas dengan sendirinya. Dalam kenyataan, evolusi terdiri dari satu sukses dari berjuta-juta percobaan. Sangat sedikit yang maju dalam dunia dan sangat banyak yang menempuh jalan salah, tidak sesuai untuk hidup terus, lalu tenggelam. Usaha-usaha manusia untuk mencari dan menemukan apakah sebenarnya alam semesta itu, apa makna dan manfaatnya, itu menyeret manusia ke kecemasan dan kemurungan. Kemudian bertambahnya pertemuan kebudayaan-kebudayaan yang

sering-sering menjurus pada perselisihan pendapat dan pertikaian, menambah kesedihan manusia. Inilah antara lain segi negatif evolusi dan karena itu evolusi serempak merupakan nasib dan persoalan manusia.

Bahkan juga pemusatan ke titik Omega akan disertai kesalahan dan kegagalan, karena keseimbangan selalu diganggu oleh perbuatan-perbuatan yang tidak bertanggung-jawab. Jadi penyelesaian pendakian terakhir inipun tidak akan luput dari sejumlah besar perbuatan-perbuatan sesat dan dosa.

Dalam suatu kosmos yang statis, di mana penciptaan muncul secara mendadak dan sempurna dari tangan sang Pencipta, kejahatan akan menjadi sesuatu yang mustahil sama sekali, demikian Teilhard. Bagaimana mungkin kejahatan dapat berasal dari tangan Tuhan yang Maha Baik dan Maha Sempurna? Akan tetapi, bila kita memandang alam semesta sebagai dalam keadaan menjadi, jelaslah bahwa kekurangsempurnaan “harus” menjadi bagian dari proses tersebut, karena segala sesuatu yang mengatur dirinya sendiri memerlukan sedikit ketidakteraturan pada setiap tahap.

c. Masalah Teologis

Titik Alfa, asal mula dan Tuhan Penciptaan, tidak dipaparkan dengan cukup jelas dalam konsep Teilhard tentang dunia, demikian para teolog mempermasalahkan. Juga mengenai pandangan Teilhard yang universal tentang benda, hidup dan pikiran. Para teolog mendapat kesan, bahwa Teilhard menganggap segala sesuatu berasal dari semacam jiwa umum; dan juga manusia dibedakan dari jiwa umum itu hanya dari derajatnya dan bukan dari kodratnya. Karena itu manusia jadi tidak tampak menonjol dalam seluruh kebesarannya, terutama tidak dalam kedudukannya yang unik dan transenden.

Kecuali itu para teolog juga mendapat kesulitan untuk menyelaraskan ajaran kitab suci tentang firdaus, jatuhnya manusia ke dalam dosa dan dosa asal dengan teori-teori Teilhard itu. Visi Teilhard tentang Kristus sebagai Kosmokrat, sebagai penyempurna evolusi,

102 Jembatan Agama dan Ilmu Pengetahuan

tidak lagi memberi tempat kepada inkarnasi, penebusan dan salib.. Bila dimasukkan dalam kerangka evolusionaris, maka Kristus diletakkan sederet denga ciptaan dan berasal dari ciptaan. Berarti Kristus tidak muncul dari kebebasan Allah untuk menebus seluruh umat manusia, karena Kristus muncul dari keniscayaan perkembangan materi. Maka di sini tidak tampak ke-Alllah-an Kristus sebagai penebus. Sebagai titik Omega, Kristus hanya diletakkan sebagai tujuan akhir.

Fase Kristogenesis, yang disebut sebagai fase puncak kekristenan oleh Teilhard, juga bisa dipermasalahkan. Manakah tanda-tanda fenomen Kristogenesis? Kapan fase itu akan tercapai? Masa sekarang ini, yang namanya kebudayaan tertinggi manusia atau lebih baik dikatakan “hasil-hasil teknologi tinggi” itu terutama digunakan untuk kepentingan si ego sendiri, untuk perlombaan dalam persenjataan mutakhir yang akhirnya hanya dipakai untuk saling menghancurkan sesama umat manusia. Orang-orang yang mempunyai itikad baik, yang memperjuangkan perdamaian dan hak-hak azasi manusia malah dibunuh atau mendapat tentangan dari mana-mana. Dalam sejarah kita melihat Mahatma Gandhi ditembak oleh orang dari bangsanya sendiri, Anwar Sadat juga diberondong tembakan sampai mati, Paus Yohanes Paulus II juga ditembak, tetapi untung masih bisa diselamatkan, Yitzhak Rabin juga mengalami nasib yang sama, ditembak mati oleh orang dari bangsanya sendiri, dan masih banyak contoh lainnya. Di manakah fenomen Kristogenesis? Dan apakah yang mengalami fase Kristogenesis itu hanya orang-orang Kristen saja? Bukankah menurut iman Kristen juga, Tuhan menebus seluruh umat manusia tanpa kecuali, baik yang Kristen maupun yang bukan, baik yang sadar dan mengerti akan penebusan Kristus maupaun yang tidak?

Teilhard bisa saja menjawab bahwa zaman sekarang ini baru merupakan krisis permulaan umat manusia untuk menuju perkembangan selanjutnya sampai fase Kristogenesis. Tetapi, sampai kapan hal ini akan terjadi? Sampai 1000 tahun yang akan datang atau lebih kita tentu akan mendapat jawaban yang sama bila terjadi kekacauan manusia seperti sekarang ini. Sekarang panggilan individu menjadi panggilan struktural. Manusia dipanggil untuk membangun

struktur-struktur yang adil di dunia ini, merombak struktur-struktur yang tidak adil dan yang hanya menguntungkan segelintir orang tertentu saja. Bila manusia sudah terjepit dalam suatu struktur yang “tidak beres”, maka sulit baginya untuk keluar dari belenggu struktur itu. Dan bukan pekerjaan yang mudah untuk membangun suatu struktur yang adil, apalagi merombak struktur-struktur yang ada. Pengalaman tersendat-sendatnya reformasi di Indonesia sekarang dengan jelas menunjukkan hal ini. Nah, struktur-struktur yang ada dan yang akan kita bangun itulah yang harus kita usahakan untuk menjadi struktur-struktur yang “Kristiani”, yang juga berarti “manusiawi”. Apakah Teilhard juga memikirkan dimensi ini?

Dengan adanya banyak keberatan ini, bukan berarti bahwa teologi akan mengesampingkan begitu saja teori baru yang diajukan oleh Teilhard. Dan sia-sia belaka bila memberi cap konsep dunia Teilhard itu sebagai “monisme”, “pantheisme”, “panpsychisme” atau “isme-isme” yang lainnya, hanya agar dapat membuangnya dengan lebih mudah. Teilhard sendiri selalu menentang bila suatu teori diterima tanpa kritik. Dia juga berpendapat bahwa suatu percobaan sintesis yang sedemikian besar dan luas “tidak mungkin” berhasil pada percobaan pertama. Pemunculan pertama suatu kebenaran akan selalu diikuti dengan kesalahan-kesalahan. Yang utama dan menentukan adalah ragi yang dapat mengakibatkan pemuaian dan karenanya memungkinkan terjadinya kejelasan.

Teilhard sendiri jelas sangat mengharapkan kritik-kritik dan tanggapan-tanggapan terhadap teorinya dari berbagai pihak. Beberapa dari pertanyaan-pertanyaan itu sudah disadari oleh dia sendiri. Tetapi banyak pandangan dan kritik yang baru dikemukakan oleh para kritisi setelah karya-karyanya diterbitkan secara anumerta.

d. Usaha Raksasa Teilhard

Walaupun dalam teori dan karangan-karangan Teilhard terdapat banyak hal yang tidak jelas dan kurang meyakinkan, namun pandangannya secara keseluruhan tetap menarik perhatian sarjana-sarjana dari pelbagai bidang keahlian, karena Teilhard

104 Jembatan Agama dan Ilmu Pengetahuan

telah membuatu suatu usaha yang berani untuk memperdamaikan agama dan ilmu pengetahuan. Jarang sekali ada sarjana yang berani menyeberangi jurang antara agama dan ilmu pengetahuan. Teilhard berusaha membina suatu sintesis, bukan kompromi antara agama dan ilmu pengetahuan. Hal ini dia lakukan dengan menekankan segi rohani dari evolusi dan dengan menunjukkan, bagaimana rayapan waktu jutaan tahun telah diarahkan ke penyempurnaan spiritual dalam pembentukan kepribadian. Ia mencoba memberikan suatu jawaban yang benar-benar meyakinkan dan membangun kepada ateisme materialistis. Ia menunjukkan bahwa evolusi tidak berjalan atas susunan materi belaka, tidak berkembang dari kebetulan, tetapi secara terarah, berdasarkan kesadaran batin.

Di lain pihak, Teilhard pun tidak dapat digolongkan ke dalam aliran spiritualisme. Penganut paham spiritualisme, misalnya Plato, Hegel dll. mengatakan bahwa unsur pokok di dunia ini adalah roh, sedangkan materi hanya sekunder. Sedangkan Teilhard menekankan persatuan mutlak antara segi lahir dan segi batin.

Keistimewaannya yang paling mencolok adalah pandangannya yang menyeluruh tentang alam semesta dan pikirannya yang merentang jauh ke masa depan. Usaha raksasa ini sebenarnya melebihi kemampuan satu orang manusia, karena untuk itu ia harus menyelami secara mendalam semua cabang ilmu pengetahuan alam, filsafat dan teologi. Maka bisa dimaklumi bahwa dalam tulisan-tulisannya terdapat banyak kekurangan, rintisan pikiran yang terlalu berani dan pembuktian yang kurang. Dan teori evolusi Teilhard boleh dikatakan merupakan suatu visi filsafat-teologis yang optimistis dari seorang yang sungguh-sungguh beriman.