• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM YANG TERKANDUNG

2. Keberanian

Dibalik sikapnya yang ramah dan murah hati, Abu Bakar sejatinya adalah seorang pemberani terutama dalam membela kebenaran atau pun mereka yang terzalimi. Beliau juga seorang yang cerdas dan paling diterima

2

A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Khusna, 1983), h. 226.

pendapatnya. Diantara sikap kepahlawanan yang dianggap sebagai kebanggaan yang disematkan dalam diri Abu Bakar adalah keberanian menghadapi setiap orang yang menghalanginya di jalan dakwah, serta pertolongan yang telah diberikannya pada Nabi Muhammad.

Keberanian Abu Bakar salah satunya adalah ketika Uqbah Ibn Abi Mu‟ith mencekik nabi Muhammad saat berada di dalam ka‟bah. Imam Bukhari meriwayatkan hadis Urwah ibnu Zubair yang bertanya kepada Abdullah ibn Amr ibn Ash, “ceritakan kepadaku tentang kelakuan paling kasar dari orang musyrik terhadap nabi Muhammad saw.”

Abdullah ibn Amr menjawab, ketika beliau melakukan shalat di dalam ka‟bah, tiba-tiba datang Uqbah ibn Abi Mu‟ith meletakan selendang di leher Nabi Muhammad dan menariknya dengan kuat tak berselang lama, Abu Bakar datang beliau pun memegang pundak Uqbah untuk menyelamatkan Nabi Muhammad saw.3

Abu Bakar berkata kepadanya dengan membaca sebuah ayat yang artinya:

























“Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki Karena dia

menyatakan: Tuhanku ialah Allah padahal dia Telah datang kepadamu

dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. (QS. Al-Mu‟min:

28).

Sebagai bukti lain keberanian Abu Bakar yaitu ketika beliau menyuarakan kebenaran. Saat kaum Yahudi Madinah mulai terang-terangan bersikap terhadap perkembangan Islam yang kian mendapat tempat di hati penduduk Madinah, Abu Bakar perlu mendatangi mereka dipusat perkumpulannya yaitu bait Al-Midras, untuk melakukan dialog keagamaan dengan mereka.

3

Saat berada di Bait Al-Midras, Abu Bakar melihat orang-orang Yahudi yang sedang berkumpul termasuk Finhas juga tokoh penting Yahudi lainnya bernama Asya‟, Saat bertemu Abu Bakar berkata:

“Binasahlah kau wahai Finhas, takutlah kepada Allah dan masuklah agama Islam “Demi Allah engkau telah mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dia datang di tengah-tengah kalian untuk membawa kebenaran dari Allah dan kalian mengetahui nama Muhammad telah tertulis dalam kitab Taurat dan Injil.”

Ini adalah salah satu keberanian Abu Bakar seorang yang berani menyuarakan kebenaran di hadapan musuh-musuh Allah. Beliau berani berkata tegas kepada pendeta Yahudi itu karena sudah menghalangi dakwah Islam. Kaum Yahudi mengetahui bahwa akan hadir seorang Nabi Allah bernama Nabi Muhammad sebagaimana yang tercantum dalam kitab suci Taurat. Akan tetapi mereka sengaja menyembunyikan fakta tersebut. Itulah watak dasar kaum Yahudi yang menyembunyikan kebenaran suka berkhianat, berbohong serta angkuh.4

Di medan perang pun beliau diakui keberaniannya serta memiliki jiwa patriotik yang tidak tertandingi, realita tersebut diakui para sahabat dan tidak ada satu pun yang memungkiri keberaniannya.

Muhammad bin Aqil menuturkan, “suatu hari saat kami berkumpul bersama para sahabat, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib berbicara dihadapan orang banyak, siapakah orang yang paling berani diantara umat ini? semua yang hadir menjawab serentak, andalah orang yang paling berani wahai putra Abu Thalib! Siapapun tau, anda paling pandai memainkan pedang dan selalu tampil gemilang mengalahkan musuh-musuh Allah.”

Usai mendengar jawaban mereka, Ali bin Abi Thalib berkata tegas, “Mungkin kalian menilai seperti itu karena tidak ada satu pun diantara kalian yang mampu mengungguli permainan pedangku atau mengalahkanku saat bertanding pedang. Bisa saja kalian menilai diriku orang paling berani karena setiap pedang selalu terbelah menjadi dua saat bertanding denganku.

4

Misbah Em Majidy, AbuBakarThe1stKhalifah,(Bandung: PT. Syigma Examedia Arkanlema, 2013), h. 89.

Akan tetapi, sejujurnya aku katakan kepada kalian bahwa orang yang paling berani diantara umat ini adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Orang-orang lantas bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, apa alasan anda menyebut Abu Bakar sebagai orang paling berani diantara kita, wahai putra Abu Thalib? Ali menjawab, “Dalam sebuah peperangan kami mendirikan tenda untuk didiami Rasulullah. Kemudian diantara kami saling bertanya, siapakah yang akan mengawal Rasulullah ditenda ini agar tidak terjadi sesuatu kepadanya? Demi Allah, tidak ada seorangpun yang berani menerima tawaran tersebut kecuali Abu Bakar. Ketika pasukan kafir mendekati tenda Rasul, Abu Bakar dengan sigap menghunuskan pedangnya dan menghabisi setiap pasukan musuh yang mendekati tenda Rasul. Oleh sebab itu menurutku, Abu Bakarlah yang paling pemberani.5

Tetapi apa yang menghilangkan kekaguman kita tidak mengubah penghargaan kita atas keberaniannya tampil ke depan umum dalam situasi ketika orang masih serba menunggu, ragu dan sangat berhati-hati. Keberanian Abu Bakar ini patut sekali kita hargai, mengingat dia pedagang, yang demi perdagangannya diperlukan perhitungan guna menjaga hubungan baik dengan orang lain serta menghindari konfrontasi dengan mereka, yang akibatnya berarti menentang pandangan dan kepercayaan mereka. Ini dikhawatirkan kelak akan berpengaruh buruk terhadap hubungan dengan para relasi itu.

Dengan uraian tersebut di atas sikap keberanian yang dimiliki Abu Bakar Ash-Shiddiq mengajarkan kita arti dari keberanian. Keberanian adalah alat dari pada alasan diri secara keseluruhan untuk membuat diri kita melawan atau memerangi musuh nyata dalam diri kita untuk merebut hak dan kewajiban kita, menawarkan sebuah pergerakan yang kuat menjadi lebih kuat lebih pintar dan lebih percaya diri, percaya pada kemampuan kita membuat suatu pergerakan membangkitkan semangat hidup pergerakan serikat pemberontak untuk memerangi pribadi diri sendiri, seakan berperang

5

melawan hawa nafsu, berjuang melawan nafsu diri sendiri suatu kekuatan lahiriah dengan kontak batin yang bersatu dalam satu tujuan.

Dokumen terkait