BAB II RIWAYAT HIDUP ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ
B. Riwayat Hidup Abu Bakar Ash-Shiddiq setelah masuk
2. Masa Kepemimpinan Abu Bakar
Pada masa kepemimpinan Abu Bakar ini, pemerintah Islam banyak mengalami ujian atau cobaan, baik internal maupun eksternal, yang dapat mengancam berlangsungnya kelestarian agama Islam. Sejumlah masalah seperti ridat atau kemurtadan dan ketidak setiaan, munculnya beberapa kafir yang menyatakan dirinya sebagai Nabi, banyaknya orang-orang yang ingkar
18Syaikh Muhammad Sa‟id Mursi, Tokoh-tokoh Besar Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2007), Cet. I, h.8
19
membayar zakat serta sejumlah pemberontakan kecil yang merupakan bibit-bibit perpecahan. Namun berkat dari kepiawaian sang Khalifah semua cobaan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik.
Kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Nabi Muhammad SAW, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah juga melaksanakan hukum yang telah ditetapkan dalam al-Qur‟an dan as-Sunnah. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad Shallallahu „Alaihi wasallam, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah. Abu Bakar selalu menyediakan kesempatan bagi kaum muslim untuk berunding dan menentukan pilihan, inilah peradaban berpolitik dan bernegara beliau. Ia adalah orang yang demokratis, dengan tetap berpedoman pada al-Qur‟an.20
Kebijakan politik yang dihadirkan oleh Abu Bakar pada masa pemerintahannya merupakan sebuah era baru, babak perluasan dakwah Islam setelah sepeninggal Rasulullah SAW dan dinilai sebagai sebuah kemajuan yang signifikan. Maka penulis membagi kepada tiga hal penting yang terjadi pembahasan masa tersebut, diantaranya:
a. Memerangi Kemunafikan dan Kemurtadan
Adapun orang murtad pada waktu itu ada dua yaitu pertama, mereka yang mengaku nabi dan pengikutnya, termasuk di dalamnya orang yang meninggalkan shalat, zakat dan kembali melakukan kebiasaan jahiliyah. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW wafat, maka segala perjanjian dengan Nabi menjadi terputus. Dan mereka merasa tidak terikat lagi dengan agama Islam lalu kembali kepada ajaran agama sebelumnya. Tentang orang-orang yang mengaku dirinya nabi sebenarnya fenomena ini sudah muncul pada masa Nabi, tetapi wafatnya Nabi Muhammad mereka anggap sebagai kesempatan untuk tampil terang-terangan. Diantara nabi palsu seperti Musailamah Al Kadzab dari Bani
20
Khalid, Muh. Khalid. Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik
Hanifah, Tulaihah bin Khuwailid dari Bani As'ad Saj'ah Tamimiyah dari Bani Yarbu, dan Aswad al-Insi dari Yaman.
Kedua, yaitu mereka yang ingkar zakat, mereka membedakan antara shalat dan zakat, tidak mau mengakui kewajiban zakat dan mengeluarkannya. Mereka berpandangan bahwa zakat itu diberikan kepada Nabi Muhammad. Oleh sebab itu setelah Nabi meninggal, hukum tentang zakat tidak berlaku lagi.21
Dengan realita bahwa terdapat banyak pro-kontra dalam kekhalifahan Abu Bakar pasca sepeninggal Nabi, maka tidaklah aneh jika dalam pemerintahannya Abu Bakar lebih banyak terpakai untuk menstabilkan politik dalam negeri, dengan adanya kemunculan nabi palsu ataupun kelompok-kelompok yang murtad sepeninggal Nabi. Untuk menstabilkan politik dalam negeri di Madinah Abu Bakar mengirim 11 panglima untuk melakukan tugas tersebut, adapun panglima yang dimaksud adalah Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal, Syurahbil bin Hasanah, Thuraifah bin Hajir, Amr bin Al-Ash, Khalid bin Said bin Al-„Ash, Al-Ala‟ bin Al-Hadhar, Hudzaifah bin Muhshin Al-Ghalfa‟i, Urfajah bin Hartsimah dan Muhajir bin Abu Umayyah.
Pembagian pasukan ini sesuai dengan perencanaan yang strategis dan memiliki makna penting, Meskipun kaum murtad berjumlah besar, tapi pemurtadan mereka dapat diatasi tidak lebih dari masa tiga bulan saja hal ini disebabkan karena: pertama, kaum murtad masih terpisah-pisah, semua berada di negeri masing-masing, mereka tidak mampu untuk menggalangkan persatuan karena tempat mereka yang berjauhan dan waktu yang tidak memungkinkan untuk mereka menggalang persatuan. Kedua kaum murtad tidak mengetahui bahaya kaum muslimin bagi mereka, dimana kekuatan kaum muslimin mampu untuk memusnahkan seluruh kaum murtad dalam beberapa bulan saja.22
21
Wahyu Ilaihi, Pengantar Sejarah Dakwah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), Cet. I, h. 84.
22
Langkah berani khalifah Abu Bakar dalam memerangi kaum murtad salah satunya yaitu melanjutkan rencana Rasulullah SAW untuk mengirim pasukan Usamah yaitu pasukan umat Islam yang dipimpin Usamah bin Zaid yang diperintahkan Rasulullah sebelum wafat untuk memerangi tentara Romawi. Pada mulanya keinginan Abu Bakar ditentang oleh para sahabat dengan alasan suasana dalam negeri sangat memprihatinkan akibat berbagai kerusuhan yang timbul. Akan tetapi setelah ia meyakinkan mereka bahwa itu adalah rencana Rasulullah SAW, akhirnya pengiriman pasukan itu pun disetujui.
Langkah politik yang ditempuh Abu Bakar itu ternyata sangat strategis dan membawa dampak yang positif. Pengiriman pasukan pada saat negara dalam keadaan kacau menimbulkan interpretasi di pihak lawan bahwa kekuasaan Islam cukup tangguh sehingga para pemberontak menjadi gentar. Di samping itu, bahwa langkah yang ditempuh Abu Bakar tersebut juga merupakan taktik untuk mengalihkan perhatian umat Islam dalam perselisihan yang bersifat intern. Dan atas pertolongan Allah SWT Pasukan Usamah berhasil menunaikan tugasnya dengan gemilang. Pasukan Usamah mampu memukul mundur pasukan Romawi. Dengan keberhasilan pasukan Usamah ini memberikan efek yang sangat bagus bagi kondisi politik dalam Negeri dan luar Negeri daulah khilafah, diantaranya yaitu:
1. Menebar kehebatan Daulah Islamiyah di mata umat-umat lain. Sampainya berita-berita kemenangan yang dicapai umat Islam dalam memerangi kelompok orang-orang murtad kepada Persia dan Romawi saat itu, maka kedua Negara ini melihat bahwa bangunan umat baru ini (Islam) menentang fenomena yang muncul dan umat Islam telah berhasil mengatasi ujian-ujian dan meredam gejolak yang terjadi di dalam wilayahnya. Bagi Khalifah Abu Bakar, ini merupakan langkah untuk menyebar kehebatan Daulah Islamiyah. Dan ini merupakan sebuah potret gemilang jihad Islam.
2. Menyiapkan Jazirah Arab sebagai landasan ekspansi Islam. Kepemimpinan pusat di Madinah dan medan perang adalah diatur oleh
pemimpin-pemimpin yang saling memahami, bekerja sama, saling mencintai meskipun dipisahkan oleh jarak yang jauh. Akan tetapi, keseimbangan yang indah antara peranan masing-masing pimpinan pusat dan pemimpin medan perang adalah sangat jelas dan terang. 23
3. Perjalanan dakwah tidak terikat dengan siapapun dan kewajiban mengikuti perintah Nabi Muhammad. Dalam kisah pengiriman pasukan Usamah oleh khalifah Abu Bakar, kita bisa menemukan bahwa Khalifah Abu Bakar menjelaskan dengan ucapan dan tindakan bahwa perjalanan dakwah tidak akan terhenti meski dengan kematian pemimpin makhluk dan imam para nabi dan Rasul Muhammad SAW. Khalifah Abu Bakar membuktikan keberlanjutan perjalanan misi dakwah tersebut dengan segera merealisasikan pemberangkatan misi militer pasukan Usamah. 4. Terjadinya perbedaan pendapat dan sudut pandang seputar perealisasian
misi militer pasukan Usamah namun tidak sampai mendorong mereka kepada sikap saling benci, pertengkaran, saling menjauhi dan saling memusuhi atau sampai mengakibatkan terjadinya konflik kekerasan di antara mereka. Tidak ada satu orangpun yang tetap keras pada pendapatnya ketika pendapatnya itu jelas telah terbukti keliru dan batil.24 5. Menghilangkan pemaksaan kepada umat-umat di wilayah yang dikuasai
Islam. Diantara simbol politik luar negeri yang dibangun oleh Khalifah Abu Bakar adalah menghilangkan penindasan dari penduduk yang wilayahnya dikuasai oleh Islam. Khalifah tidak memaksa seseorang dari umat atau bangsa lain untuk mengikuti agamanya dengan kekerasan.25
Dari penjelasan yang terurai diatas, dapat disimpulkan bahwasannya Khalifah Abu Bakar adalah seorang pemimpin yang tegas, adil dan bijaksana. Langkah politik yang dijalaninya merupakan langkah strategis dan membawa dampak positif bagi pemerintahan Islam sehingga para pemberontak menjadi gentar, disamping itu juga dapat mengalihkan perhatian umat Islam dari perselisihan yang bersifat intern.
23 Ibid., h. 494. 24 Ibid., h. 319. 25 Ibid., h. 626.
b. Penghimpunan al-Qur’an
Umar bin Khatab kawatir akan gugurnya para sahabat penghafal al Qur‟an yang masih hidup, maka ia lalu datang kepada Abu Bakar memusyawarahkan hal ini. Dalam buku-buku tafsir dan hadist percakapan yang terjadi antara Abu Bakar, Umar dan Zaid bin Tsabit mengenai pengumpulan al-Qur‟an di terangkan sebagai berikut:26
Umar berkata kepada Abu Bakar: “Dalam peperangan Yamamah para sahabat yang hafal al-Qur‟an telah banyak yang gugur. Saya kawatir akan gugurnya para sahabat yang lain dalam peperangan selanjutnya, sehingga banyak ayat-ayat al-Qur‟an itu perlu di kumpulkan”. Abu Bakar menjawab: “Mengapa aku harus melakukan sesuatu yang tidak di lakukan oleh Rasulullah?"
Umar menegaskan: “Demi Allah! Ini adalah perbuatan yang baik”. Dan ia berulang kali memberikan alasan-alasan kebaikan mengumpulkan al-Qur‟an ini, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima pendapat Umar itu.
Saat itulah khalifah mengutus Zaid bin Tsabit agar segera mengumpulkan semua ayat-ayat suci al-Qur‟an. Kemudian Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit dan berkata kepadanya:
“Engkau adalah seorang yang cerdas yang ku percayai sepenuhnya. Dan engkau adalah seorang penulis wahyu yang selalu di suruh oleh Rasulullah. Oleh karena itu, maka kumpulkanlah ayat-ayat al Qur‟an itu”.
Zaid menjawab: “Demi Allah! Ini adalah pekerjaan yang berat bagiku. Seandainya aku di perintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah lebih berat bagiku dari pada mengumpulkan al-Qur‟an yang engkau perintahkan itu”.
Dalam usaha mengumpulkan ayat-ayat al-Qur‟an itu Zaid bin Tsabit bekerja amat teliti. Ia mengumpulkan al-Qur‟an dari daun, pelepah kurma, tulang dan juga dari hafalan-hafalan para sahabat. Sekalipun beliau hafal al-Qur‟an seluruhnya, tetapi untuk kepentingan pengumpulan al-Qur‟an yang
26
sangat penting bagi umat Islam itu masih memandang perlu mencocokkan hafalan atau catatan sahabat-sahabat yang lain dengan di saksikan oleh dua orang saksi.
Dengan demikian al-Qur‟an seluruhnya telah di tulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran, dan di ikatnya dengan benar. Tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yang telah di tetapkan oleh Rasulullah. Kemudian di serahkan kepada Abu Bakar. Setelah sepeninggal Abu Bakar mushaf disimpan oleh Umar bin Khatab hingga dia wafat, dan kemudian berada ditangan Hafshah binti Umar.27
c. Awal Perluasan Wilayah Islam
Perluasan wilayah yang dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar merupakan pencapaian yang sukses dalam hal perluasan Daulah Islam setelah apa yang dilakukan Rasulullah SAW, dan hal ini terlihat ketika menaklukan wilayah-wilayah lain di masa permulaan khulafa’urasyidin. Dan perluasan wilayah ini sesungguhnya bukan disandarkan pada ketamakan melainkan, melindungi dakwah, menjamin keamanan dan sebagai sarana menyebar pesan besar yang diemban kaum muslimin, yaitu pesan pembebasan umat manusia dan mengarahkan mereka kepada keadilan dan kebenaran
Adapun usaha yang ditempuh untuk perluasan dan pengembangan wilayah Islam Abu Bakar melakukan perluasan wilayah ke luar Jazirah Arab. Daerah yang dituju adalah Irak dan Suriah yang berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan Islam. Kedua daerah itu menurut Abu Bakar harus ditaklukkan dengan tujuan untuk memantapkan keamanan wilayah Islam dari serbuan dua adikuasa, yaitu Persia dan Bizantium. Untuk ekspansi ke Irak dipimpin oleh Khalid bin Walid, sedangkan ke Suriah dipimpin tiga panglima yaitu : Amr bin Ash, Yazid bin Abu Sufyan dan Surahbil bin Hasanah.
27
Memperluas wilayah penyebaran agama Islam ke Hiroh (dijadikan pusat pertahanan dan ibu kota di luar Arab), Anbar dan Persia, Daumatul Jandal, Yarmuk, Syam (pernah dikuasai tentara Romawi), dan Syria. Abu Bakar menugaskan empat panglima perangnya untuk menguasai Syria dari Romawi Timur yang dipimpin oleh Kaisar Heraklius. Mereka adalah Yazid bin Abu Sufyan yang ditugaskan di Damaskus, Abu Ubaidah bin Jarrah ditugaskan di Horns, Amr bin Ash ditugaskan di Palestina, dan Surahbil bin Hasanah di Yordan.28
Masa kekhalifahan Abu Bakar merupakan masa peralihan yang sulit. Dalam masa yang rumit ini, Abu Bakar harus menghadapi berbagai kesulitan berat yang pada awalnya menimbulkan ketakutan di kalangan kaum muslimin. Karena keimanan yang mantap dan pemberian taufiq dari Allah SWT. Umat Islam di bawah kepemimpinan Abu Bakar dapat mengatasi kesulitan besar yang dihadapi.
Dipandang dari hitungan waktu memang masa pemerintahan Abu Bakar sangat singkat, tetapi apa yang dicapai Abu Bakar jauh melampaui masa yang tersedia. Masa-masa pemerintahan Abu Bakar sarat dengan amal, jihad dan meninggalkan untuk kita jasa yang sangat bermanfaat.