• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keberanian untuk Selalu Berdialektika dengan Lokalitas

Dalam dokumen Dalam Akomodasi Pesantren (Halaman 135-142)

A. Bentuk Kompromi: Usaha Mencari Titik Temu

3. Keberanian untuk Selalu Berdialektika dengan Lokalitas

3. Keberanian untuk Selalu Berdialektika dengan Lokalitas

Kunci dari keberanian selalu berdialektika dengan budaya dan tradisi lokal Pesantren al-Qodir adalah kemauan Pesantren al-Qodir dan Kiai Masrur untuk selalu melakukan silaturahmi dan membawa kegiatan-kegiatan atau agenda-agenda Pesantren al-Qodir ke komunitas-komunitas kesenian rakyat. Menurut Kiai Masrur dialektika yang baik antara pesantren dengan komunitas kesenian rakyat pastilah akan memunculkan kesepahaman, yang pada akhirnya akan memunculkan model beragama yang harmonis, adem ayem. Dia mengatakan, karena kami dan mereka akan menjadi kita. Kesepahaman ini berujung kepada adanya akomodasi terhadap berbagai hal yang dianggap masih baik dari dua kelompok. Meskipun banyak protes dan makian terhadap langkah dari Kiai Masrur baik dari muslim tradisionalis maupun modernis terkait dengan merangkul komunitas seni tradisi, namun dia tidak akan menghentikan aktivitasnya tersebut, karena apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang benar baginya.

Sebagai contoh respon Kiai Masrur terhadap tuduhan melanggengkan klenik dari kelompok modernis di Cangkringan, dia mengatakan:

(sambil terkekeh) memang ada yang bilang kalau kami merawat komunitas jathilan itu untuk melanggengkan klenik, biar kami kelihatan hebat (ampuh), biar kegiatan medukun kami jadi laris.

Banyak juga yang mengatakan bahwa dekat-dekat dengan komunitas jathilan itu nanti akan membawa santri-santri kami mengikuti mereka jadi penyembah setan. Kalau dalam hal ini saya tidak takut, kalau dalam dimensi tauhid, hidayah beragama itu datang dari Allah bukan dari sebab lain. Apalagi kok hanya anak-anak jathilan yang jelas-jelas Islam. La pastor, biksu juga ingin berada disini, pengin tidur bareng santri, kami bolehkan.

Sebetulnya kami hanya ingin mengatakan ke mereka bahwa beragama itu tidak bisa dibujuk rayu, apakah kalau pastor dan biksu tidur di al-Qodir kemudian beralih ke Islam? Ya tidak, apakah santriku terus menjadi Kristen, terus menjadi Budha ya tidak juga, padahal santri juga tidak kami larang untuk berdialektika langsung dengan mereka. Saya dalam konteks ini hanya ingin mengatakan kepada mereka sudahlah masalah agama itu tidak perlu dipaksa-paksa, tidak perlu dirayu-rayu, sekarang menjadi tetangga yang

baik saja. Dan keinginan saya itu ternyata terwujud, mereka menghargai, menghormati kami, begitupun sebaliknya kami sangat menghormati dan menghargai mereka. Selalu berdialektika dengan kelompok yang dianggap berbeda secara terus menerus ternyata akan memunculkan pengertian-pengertian dan kesepahaman-kesepahaman baru yang membuat tambah eratnya persaudaraan.

Jadi meskipun pistol ditodongkan kearah kepala saya, saya tidak akan mundur dari upaya selalu berdialog dengan mereka.12

Menurut Kiai Masrur, tantangan terberat dalam berdialektika dengan komunitas kesenian rakyat itu justru bukan berasal dari komunitas muslim modernis. Dia mengatakan, nek konco-konco Muhammadiyah kuwi mung nyindir dadi ora ponjo-ponjo (belum seberapa). Bagi dia halangan terberat adalah larangan dari guru-gurunya (semua kiai sepuh NU di Sleman dianggap guru oleh Kiai Masrur), kiai-kiai NU di kecamatan Cangkringan dan kecamatan Ngemplak termasuk di antaranya adalah ayahnya sendiri KH. Mohammad Zaidun.

Sebagaimana dijelaskan dalam bab sebelumnya bahwa Kiai Zaidun sangat menentang upaya yang dilakukan Kiai Masrur dalam merangkul komunitas kesenian rakyat. Sambil mengenang masa itu, Kiai Masrur mengatakan yang duko (marah) meskipun secara halus karena tidak mau memberikan fatwa terkait merangkul komunitas kesenian rakyat ini adalah Syaikh Barmawi dari pesantren Kiyudan. Namun menurutnya banyak juga kiai-kiai NU lain yang mendukungnya, seperti Kiai Mochamad dari pesantren Ngemplak, Kiai Abdul Wahid dan Kiai Abdul Hamid Rusdjani. Tantangan dan halangan ini menurutnya tidak dapat menyurutkan langkahnya untuk berani selalu berdialektika dengan komunitas yang dianggap berbeda. Perbedaan-perbedaan pandangan dengan guru-gurunya termasuk ayahnya sendiri dapat diselesaikan dengan baik, melalui jalur tabayun sebuah tradisi kultural pesantren dalam menyelesaikan masalah.

Bagi Pesantren al-Qodir, dialog dengan berbagai komunitas yang dianggap berbeda itu selalu terus dilakukan agar terjadi kesepahaman tentang apa yang harus ditoleransi dari masing-masing komunitas.

Jalan terbaik dan selalu dilakukan oleh Pesantren al-Qodir adalah dengan silaturahmi, dengan datang ke kantong-kantong komunitas

12 Wawancara dengan KH. Masrur Ahmad pada tanggal 17 Juli 2012.

kesenian rakyat atau mengundang komunitas-komunitas kesenian rakyat tersebut dalam acara-acara yang dilaksanakan oleh Pesantren al-Qodir. Bagi Kiai Masrur, termasuk kemudian diikuti oleh santri-santri al-Qodir bahwa, merangkul komunitas yang berbeda adalah untuk mencari ridho Allah yang kemudian dapat mewujud kepada paseduluran sejati.

Terkait dengan kritik serba boleh yang dialamatkan ke Pesantren al-Qodir tidaklah benar. Menurut Ki Sungkono, Pesantren al-Qodir dan Kiai Masrur itu punya prinsip ketat dan itu pula yang kemudian membuat komunitas kesenian rakyat mengetahui apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Prinsip Pesantren al-Qodir yang dipahami Ki Sungkono adalah apabila terjadi budaya dan tradisi tidak dapat didialogkan atau dengan kata lain antara nilai Islam dengan budaya dan tradisi saling menegasikan maka budaya atau tradisi tersebut harus dihapus. Dia mengatakan:

Saya sudah pernah berdialog dengan Kiai Masrur terkait dengan masalah kemenyan (dupo) atau membakar kemenyan dalam pementasan jathilan. Beliau bertanya kepada saya mengenai masalah membakar kemenyan itu untuk apa? Saya jawab membakar kemenyan itu untuk dapat berkonsentrasi (matekung) kepada Tuhan semesta alam supaya diberikan kesehatan, keselamatan pada saat njanthil. Asap kemenyan yang harum mewangi semoga bisa menjadi tali rasa saya (pawang) kepada Tuhan semesta alam.

Beliau bertanya tentang bunyi (rapal) mantra yang saya baca, bunyinya begini…bismilahirahmanirahim asyahadu ala ilaha ilallah wa asyhadu ana muhammadar rasulullah…niat ingsun ngobong dupo, kukuse dumugi angkoso, kang anggondo arum pinongko tali rasaningsun manembah dumateng gusti kang akaryo jagad, mugio pinaringan keslametan, kesarasan adoh nir sambikolo sakjroning ngayahi njantil. Mendengar apa yang saya katakan kemudian beliau malah bicara bahwa hal itu bagus, hal itu boleh dan sudah seharusnya dilakukan sebelum pentas. Namun, begitu beliau tidak sepakat dengan aktivitas minum ciu (jenis minuman keras lokal), atau istilah yang dipakai Kiai Masrur yaitu ABG singkatan dari anggur botol gede, tidak boleh minum ciu sebelum njanthil sebab akan menghilangkan kesadaran (weninge

pikir), makanya saya juga memerintahkan kepada seluruh kru saya untuk tidak minum ciu sebelum pentas, meskipun untuk alasan agar kuat mengangkat kuda kepang seharian.13

Dalam konteks di atas, dapat dimengerti apabila tuduhan dari sebagian kalangan modernis bahwa Pesantren al-Qodir membolehkan semua tradisi yang ada tidaklah beralasan. Dari pernyataan Ki Sungkono dapat diketahui bahwa Pesantren al-Qodir memegang prinsip-prinsip yang jelas dalam mengakomodir tradisi yang ada dalam masyarakat, Kiai Masrur membolehkan pembakaran dupa atau kemenyan sebelum pentas jathilan dimulai sebab tujuan pembakaran dupa adalah agar dengan bau harum dupa menambah konsentrasi pawang untuk dapat terhubung dengan Tuhan agar selama pentas jathilan tersebut diberikan kelancaran dan keselamatan. Akan tetapi Kiai Masrur tidak membolehkan tradisi minum-minuman keras (omben-omben ciu) sebelum dilakukan pentas jathilan, ora enthuk mendhem (mabok).

Terkait dengan kebolehan membakar kemenyan atau dupa ini, Kiai Masrur berpandangan bahwa selama tradisi dan budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam secara prinsipil, maka Islam akan mendukung eksistensinya. Islam universal menyediakan banyak ruang terbuka bagi masuknya budaya dan tradisi baru selain budaya yang telah ada semasa Rasulullah dan para sahabat di masa lalu. Dalam konteks Indonesia, membakar kemenyan dan dupa adalah tradisi Hindu yang telah mengakar dalam masyarakat. Dalam keyakinan Hindu, hal tersebut dilakukan untuk persembahan terhadap leluhur, dalam semua ritual keagamaan Hindu, pembakaran kemenyan harus ada. Dimata Islam universal tindakan membakar kemenyan dan tujuan dari pembakaran kemenyan adalah dua hal yang berbeda. Apabila tindakan dilepaskan dari tujuannya, atau tujuannya diganti dengan nilai-nilai yang disetujui oleh Islam, maka membakar kemenyan terlepas dari tujuan awalnya, memuat tujuan baru yang disetujui oleh Islam. Jika seseorang membakar kemenyan dengan tujuan menghadirkan wangi-wangian atau tujuan lain yang tidak berbau syirik, maka tindakan ini dibolehkan. Termasuk juga berkumpulnya masyarakat dalam memperingati kematian seseorang di hari ketiga, hari ketujuh, keempat puluh, hari keseratus, hari keseribu, merupakan tradisi masyarakat lokal Jawa. Tindakan-tindakan tersebut pada awalnya tidak

13 Wawancara dengan Ki Sungkono tanggal 5 Juli 2013.

mempunyai tujuan-tujuan Islami atau tidak disetujui oleh ajaran Islam.

Namun, dengan jalan melepaskan tindakan dari tujuan, atau mengisi tindakan tersebut dengan tujuan lain yang Islami, maka berkumpul pada hari hari yang telah ditentukan pasca kematian tersebut dibolehkan. Dalam komunitas pesantren dan NU terdapat acara tahlilan pasca kematian, yang sebenarnya mengadopsi tradisi lokal dan mengisinya dengan spirit Islam.

Hal tersebut merupakan contoh universalisme Islam yang diterjemahkan ke dalam praktek kultural.14

Bagi Kiai Masrur, budaya dan tradisi dapat diterima atau ditolak oleh Islam berdasarkan pertimbangan unsur-unsurnya. Apabila unsurnya memenuhi syarat-syarat Islami maka, Islam menerimanya, atau pun sebaliknya. Hal ini juga sesuai respon al-Qur’an yang bermuara pada dua kemungkinan, yaitu mengkritik atau mengkonfirmasi. Al-Qur’an mengkritik budaya dan tradisi sepanjang menistakan kehormatan manusia, menodai derajat luhur kemanusiaan. Namun sebaliknya, al-Qur’an mengkonfirmasi dan mengafirmasi budaya dan tradisi apabila keduanya sejalan dengan Islam, yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.15

Dalam pandangan Kiai Masrur, Islam selalu berdialog dengan lokalitas setiap saat, merupakan sebuah keniscayaan. Hal ini terkait

14 Dalam pandangan Abdurrahman Mas’ud, tidak diragukan lagi bahwa pesantren merupakan bagian dari masyarakat Sunni atau Ahl as-Sunnah wa-l-Jamaah (Aswaja) yang dapat didefinisikan sebagai mayoritas muslim yang menerima otoritas Sunnah Rasul dan seluruh generasi pertama (sahabat) serta keabsahan sejarah komunitas muslim. Faham Sunni dalam hal ini ditandai dengan kecenderungan dalam menggunakan al-Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai sumber utama untuk menyelesaikan debat ideologis serta untuk membimbing kehidupan mereka, tidak sebaliknya menggunakan logika yang dapat mengalahkan otoritas sunnah seperti paham Mu’tazilah, atau melakukan pertumpahan darah seperti yang dilakukan oleh gerakan kelompok Khawarij untuk meraih tujuan sebagaimana terlihat dalam konteks sejarah Islam klasik. Masyarakat Sunni termasuk di dalamnya adalah komunitas pesantren, pada umumnya terbebas dari paham fundamentalisme dan terorisme. Komunitas ini biasanya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1) tidak melawan penguasa atau pemerintah yang ada, 2) kaku atau rigid dalam menegakkan kesatuan berhadapan dengan disintegrasi dan chaos, 3) teguh dan kokoh dalam menegakkan konsep jama’ah, mayoritas, dengan supremasi Sunni dan kemudian dinamakan dengan Ahlusunnah wal Jamaah, 4) tawassuth, sikap tengah antara dua kutub dan antara dua ekstrem politik-teologis Khawarij dan Shi’ah, dan 5) menampilkan diri sebagai suatu komunitas normatif, kokoh dan teguh menegakkan prinsip-prinsip kebebasan spiritual dan memenuhi serta melaksanakan standar etik syariah. Dengan demikian melihat kultur yang telah terbangun semacam itu, sulit dipahami apabila komunitas pesantren kemudian melakukan hal-hal yang intoleran terhadap yang lain. Abdurrahman Mas’ud, “Memahami Agama Damai Dunia Pesantren, dalam Nuhrison M. Nuh (ed.), Peranan Pesantren dalam Mengembangkan Budaya Damai, (Jakarta: Balitbang Kemenag RI, 2010), 24.

15 Wawancara dengan KH. Masrur Ahmad, tanggal 17 Juli 2013. Dengan mengutip Imam Syatibi, Kiai Masrur menyebutkan bahwa maqashid syari’ah atau tujuan dari disyariatkan agama adalah untuk menjaga dan memelihara kemaslahatan manusia. Budaya dan tradisi yang mengangkat kehormatan dan derajat manusia pasti didukung oleh Islam, begitu pula sebaliknya budaya dan tradisi yang menghilangkan kemaslahatan dan kehormatan akan ditentang dan dihapuskan oleh Islam.

dengan misi utama diturunkannya ajaran Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Islam ditujukan untuk semua manusia. Islam diturunkan untuk membawa kedamaian bagi semesta. Dengan demikian, pergerakan Islam ke seluruh antero dunia tidak dapat lepas dari proses dialektika dengan lokalitas budaya dimana Islam melewatinya, karena sudah barang tentu pada saat Islam merasuk pada komunitas lokal tertentu, mereka mempunyai kebudayaannya sendiri yang telah mapan sebelumnya. Dialog yang didasari oleh adanya penghormatan dan kesetaraan di antara dua entitas tersebut pasti akan melahirkan sebuah sintesis kreatif dan dinamis sehingga Islam mampu diterima sebagai agama baru dengan tanpa menghilangkan lokalitas yang sudah mapan.16

Menurut Kiai Masrur, lokalitas tetap dapat dipertahankan dan dilestarikan tanpa harus mereduksi ajaran Islam, begitu juga sebaliknya Islam tetap dapat dianut dengan tanpa melenyapkan lokalitas, ibarat membangun sebuah rumah tanpa harus meruntuhkan sebuah kota.

Sintesis kreatif antara Islam dan lokalitas tidak berarti menempatkan posisi Islam sebagai inferior (tereduksi) di hadapan lokalitas, dan posisi lokalitas Islam ini juga bukan sebagai Islam rendahan atau Islam menyimpang yang berbeda dengan Islam murni (otentik) yang berkembang di tanah Arab. Menurut Kiai Masrur lokalitas Islam ini harus dibaca sebagai bentuk varian Islam, yang dikarenakan telah mengalami proses dialektika dengan lokalitas. Menjadi Islam tidak harus menjadi Arab, orang Jawa dapat menjadi muslim sejati tanpa harus meninggalkan lokalitas Jawa nya.17

16 Dalam hal ini, Abdurrahman Wahid menyebutkan bahwa Islam selalu mempertimbangkan kebutuhan lokalitas dalam merumuskan hukum-hukum agama dengan tanpa mengubah hukum itu sendiri.

Tidak berarti bahwa meninggalkan norma demi budaya, tetapi agar norma-norma itu menampung kebutuhan-kebutuhan dari budaya dengan menggunakan peluang yang telah disediakan oleh variasi pemahaman nash dengan tetap member peranan kepada qaidah fiqh dan ushul fiqh. Dengan demikian lokalitas Islam menjadi sebuah keniscayaan, Islam dan lokalitas ditempatkan dalam posisi dialektis bukan diametral yang kemudian memungkinkan terjadinya transformasi nilai dan kebutuhan diantara keduanya. Proses transformasi tersebut menghasilkan lokalitas Islam yaitu perpaduan antara Islam dan budaya lokal, varian Islam semacam ini lah yang sampai saat ini dikembangkan dan dilestarikan oleh pesantren-pesantren tradisional di lingkungan NU. Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan, (Jakarta: Desantara, 2001), 111.

17 Menurut Abd. A’la yang dilakukan Kiai Masrur dalam memandang dan menghadapi lokalitas lebih luwes dan lentur, karena lokalitas tidak serta merta dipahami sebagai sesuatu yang sesat selagi tidak bertentangan dengan ajaran Islam sekalipun tidak ditemukan teks normatif yang secara spesifik mengaturnya. Sebagaimana dilakukan oleh ulama-ulama kalangan yang mengakui sebagai kelompok sunni di Nusantara pada masa lampau, yang dilakukan adalah proses inkulturasi dengan jalan melakukan internalisasi nilai-nilai Islam sehingga menjadi landasan etik dalam pelaksanaan dan pelestarian lokalitas. Dengan demikian, Islam tidak dipahami sebagai ideologi yang sarat dengan

B. BENTUK TOLERANSI: MENGURANGI POLARISASI

Dalam dokumen Dalam Akomodasi Pesantren (Halaman 135-142)