B. Meminimalisasi Pengaruh Islam Fundamentalis-Puritanis dan
3. Sikap Tepa Selira: Perbedaan adalah Rahmat
Di kalangan pesantren perbedaan pandangan fikih merupakan hal yang sangat biasa dan lumrah. Berdasarkan hadits Nabi, perbedaan pendapat dapat melahirkan rahmat. Namun, begitu perbedaan-perbedaan ini apabila tidak dikelola dengan baik maka yang muncul adalah perpecahan dan putusnya tali persaudaraan. Maka dari itu, ulama-ulama fikih yang sadar dengan hal ini, bahwa fikih adalah bidang yang rawan terhadap perselisihan pendapat telah sejak awal menyepakati sebuah prinsip pemecahan yang bijak, yang berbunyi khurūj ‘an
al-raga semata-mata kepada Allah serta memutuskan selain-Nya (inqita’ illā Allah). Senafas dengan pandangan sufi ini adalah Amatullah Amstrong. Menurut Amstrong, suatu maqam diperoleh dan dicapai melalui upaya dan ketulusan sang penempuh jalan spiritual. Lihat : Tim Penulis UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Tasawuf Jilid II, (Bandung: Angkasa, 2008), 781.
khilāf mustahab, yang bermakna menghindari dari polarisasi pendapat adalah baik. Atas dasar prinsip ini, maka jika seorang ulama menghadapi dua pilihan yang diametral, seringkali akhirnya mengambil salah satu dari dua kemungkinan yaitu diam, atau memunculkan pendapat ketiga sebagai sintesa dari kedua pendapat yang saling bertentangan tadi.
Namun sikap demikian ini diterapkan hanya untuk hal-hal yang bersifat far’iyyah (cabang), bukan yang bersifat usūliyyah (pangkal).51
Ungkapan fīhi qaulāni (dalam hal ini terdapat dua pendapat), atau fīh aqwāl (dalam hal ini terdapat beberapa pendapat) hampir selalu menyertai pembahasan setiap masalah cabang (furū’) yang menjadi objek kajian ijtihad. Sejauh perbedaan pendapat yang muncul bukan dalam masalah dasar (usūl) maka perlu dihindari kecenderungan untuk memberi putusan secara hitam putih, yaitu bahwa ini yang paling benar dan itu salah. Ungkapan yang dipakai dalam menggarisbawahi suatu pendapat yang lebih dicondongi adalah hazā al-asahhu ‘indī (ini adalah yang lebih sah menurut saya), atau hazā al-arjah ‘indī (ini adalah yang lebih kuat menurut saya) dan ungkapan lain yang senada. Dimungkinkan atas dasar inilah yang menyebabkan masyarakat pesantren sebagai pengguna kitab kuning dalam banyak hal lebih mudah mencapai kompromi daripada mutlak-mutlakan.52
Kiai Masrur berpandangan bahwa, arus besar perspektif ortodoksi pesantren tentang seni ini harus diimbangi dengan sosialisasi pandangan-pandangan lain yang mungkin berbeda bahkan mungkin bertolakbelakang, karena sebetulnya di kalangan NU dan pesantren perbedaan pendapat dalam sebuah pendapat adalah hal biasa yang dapat dirujuk dalam kitab-kitab kuning. Selain hal tersebut juga perlu dilakukan tindakan tindakan nyata dalam mengakomodir kesenian rakyat. Kalau kiai sepuh mengharamkan kesenian rakyat tidak terlalu mengherankan, tetapi kalau kiai muda mengharamkan kesenian rakyat itu merupakan kebodohan, karena hal ini akan menutup pintu dakwah bagi komunitas kesenian rakyat.
Kiai Masrur dalam kaitan ini akan menerapkan hukum fikih sesuai dengan situasi sosial budaya masyarakatnya. Dalam pengalamannya,
51 Masdar Farid Mas’udi, “Mengenal Pemikiran Kitab Kuning”, dalam M. Dawam Rahardjo (ed.), Pergulatan Dunia Pesantren Membangun dari Bawah, (Jakarta: P3M, 1985), 67.
52 Ibid., 65.
di pedesaan Jawa orang Islam tidak bisa meninggalkan tradisi, maka pintu dakwah juga harus dimulai dari seni tradisi ini. Terkait dengan kesenian rakyat terutama tentang seni jathilan, ketoprak, menurutnya tidak ada kitab fikih yang secara spesifik membahas hal itu. Hal ini bisa terjadi karena memang tidak ada sesuatu yang pasti dalam fikih.
Kalau ada yang melarang jathilan dan ketoprak biasanya bukan faktor seninya, melainkan lebih kepada hal-hal yang artifisial seperti cara berpakaian yang tidak benar. Oleh karena itu, tidaklah tepat melarang pagelaran keseniannya, akan lebih baik jika yang dilakukan adalah membetulkan cara berpakaiannya, atau perilakunya.53
Kiai Masrur meletakan fikih sebagai produk dari intelektualitas manusia. Manusia sebagai subjek interaksi sosial, berposisi sebagai agen aktif yang memproduksi skema-skema interpretatif dalam rangka menciptakan kebermaknaan. Dengan demikian memaknai fikih secara manusiawi adalah dengan jalan mencoba meletakkan produk intelektual tersebut dalam kaitan organik dengan skema penafsiran yang diproduksi manusia. Klaim-klaim terhadap kebenaran (truth claim) yang bersifat a priori yang langsung diterima begitu saja harus dibaca ulang, termasuk di dalamnya adalah konsep-konsep keagamaan lain yang hanya dibangun atas landasan normativitas wahyu dan terlebih lagi dibangun berdasar konsepsi pemikiran ortodoksi yang bersifat eksklusif.
Komunitas kesenian rakyat di sekitar desa Wukirsari tetaplah orang Jawa yang mempunyai sikap teposeliro, Kiai Masrur meyakini bahwa komunitas kesenian rakyat mempunyai kesadaran sikap dalam bertamu, contohnya apabila sebuah komunitas jathilan diundang untuk pentas di pesantren pasti akan berbeda pagelarannya ketika dipentaskan di luar pesantren. Pentas jathilan yang dilihat oleh kiai pastilah berbeda dengan pementasan jathilan yang tidak dilihat oleh kiai, lagu atau tembang pengiringnya pun berbeda, seperti tembang tombo ati. Akan tetapi, apabila komunitas jathilan ini tidak didekatkan dengan pesantren dan kiai selamanya akan tetap tidak bisa mengenal Islam dengan baik.54
53 Wawancara dengan KH. Masrur Ahmad, tanggal 13 Juli 2013.
54 Wawancara dengan KH. Masrur Ahmad, tanggal 13 Juli 2012.
Apa yang dikatakan Kiai Masrur tersebut bukanlah hal klise namun benar adanya. Pada saat akan digelar pertunjukkan jathilan, setelah shalat jamaah Isya ada dua orang tamu yang menemui Kiai Masrur. Mereka berdua berpakaian serba hitam dengan ikat kepala warna hitam pula, salah satunya sudah sepuh berjenggot panjang dan satunya berbadan tegap, tinggi besar masih kelihatan muda. Ternyata dua tamu ini merupakan pimpinan rombongan jathilan yang akan pentas di al-Qodir malam itu, tamu yang berbadan tegap bernama Mbah Kedung memulai pembicaraan. Dia mengatakan (matur) kepada Kiai Masrur, "mohon maaf kiai, saya beserta rombongan datang ke sini untuk memenuhi undangan bapak untuk pentas pondok Tanjung sini." Kiai Masrur menjawab, "ya-ya Kang Kedung terima kasih." Mbah Kedung berkata lagi, "dan ini saya beserta rombongan mohon ijin dan restu agar pentas kami nanti lancar dan tiada kendala apapun. La ini kita juga sudah menyiapakan lagu (sekar) khusus untuk pengiring pentas, ilir-ilir dan tombo ati, dan juga ada salawate sebisa kita kiai," sambil senyum. Kiai masrur menjawab, "top-top markotob Kang Kedung, terus lama tidak latihannya itu"? "Ya agak lama Kiai", jawab mbah Kedung sambil tertawa. Percakapan mereka diakhiri dengan permintaan mbah Kedung agar Kiai Masrur mau melihat (kerso mirsani) pementasan mereka dan disanggupi oleh Kiai Masrur. Sebelum pementasan Kiai Masrur meminta rombongan jathilan yang kurang lebih berjumlah 80 orang tersebut untuk makan dulu di aula Pesantren al-Qodir.55
Dalam mengakomodir kesenian rakyat, Kiai Masrur tidak hanya mendekatinya dari sisi fikih saja, akan tetapi juga menggunakan pendekatan-pendekatan yang lain seperti tasawuf, dan yang terpenting baginya adalah penafian dari salah satu aspek yang bersifat manusiawi seperti keinginan untuk mengapresiasi keindahan adalah hal yang tidak baik. Dia juga menambahkan dalam persoalan berkesenian ini hendaknya umat Islam saling menghargai sehingga tidak jatuh kepada saling klaim terhadap sebuah kebenaran.
Dia mengatakan, "…saya angkat jempol tehadap kiai ortodok yang istiqamah di maqam fikih, tetapi saya tidak mau berhenti di sini, di maqam fikih karena Islam tidak hanya di maqam fikih. Fikih bagi saya adalah tempat perbedaan, jadi kalau kita mau berbicara fikih maka
55 Catatan lapangan tanggal 11 Juli 2012.
harus mau saling menghormati perbedaan. Dia tidak membolehkan ya silahkan karena punya dalil, saya juga punya dalil yang membolehkan, kalau seperti itu kami juga menghormati kiai-kiai yang melarang, tetapi kiai-kiai tersebut jangan juga melarang kami untuk masuk kesitu. Kalau kami dilarang masuk kesitu, kasihan nanti orang-orang tidak masuk Islam, Islam yang benar. Jadi, dalam hal ini sudah ada bagiannya masing-masing." 56
Dalam merespon fenomena ortodoksi pesantren, Kiai Masrur tetap menggunakan pendekatan gradual dan tidak revolusioner. Secara bertahap beliau melakukan perubahan paradigma dalam menyikapi kesenian rakyat ini karena sesungguhnya Pesantren al-Qodir pada awalnya juga termasuk kategori ortodoks. Perubahan paradigma ini sudah dia rintis semenjak dia pulang dari nyantri dan mulai mukim di Wukirsari. Pada masa ini, terlalu sering dia terlibat perselisihan pendapat dengan ayahnya KH. Muhammad Zaidun dalam hal penyikapan terhadap kesenian rakyat. Ayahnya melarang pagelaran kesenian jathilan dan campusari, apalagi dangdut, karena selain kegiatan itu banyak bersentuhan dengan hal-hal klenik, juga lebih banyak madharatnya karena cenderung melenakan masyarakat dari mengingat Allah. Namun, dengan pendekatan yang berbeda, Kiai Masrur justru merangkul kesenian rakyat dengan mementaskan kesenian jathilan di tanah kosong sebelah pondok.
Resistensi dari Kiai Zaidun dan kiai-kiai sepuh di Cangkringan tidak menyurutkan niat Kiai Masrur untuk mengakomodir komunitas kesenian rakyat yang banyak terdapat di daerah Wukirsari dan sekitarnya.
Kemarahan kiai-kiai sepuh ini ditanggapi dengan diam tanpa perlawanan argumentasi. Namun, dia memperlihatkan gerakan yang cemerlang dengan membentuk jamaah mujahadah yang merekrut komunitas-komunitas jathilan ini sebagai anggotanya. Kedatangan gentho-gentho57 jathilan dalam acara mujahadahan dan mengikuti prosesi mujahadah ini mengagetkan kalangan kiai dan santri, yang sejurus kemudian mendapatkan respon positif. Salah satu respon yang menarik adalah ungkapan dari Kiai Zaidun bahwa, dia telah merasa tua sehingga tidak mampu lagi memahami tanda-tanda zaman, sulit mencerna cara berfikir
56 Wawancara dengan KH. Masrur Ahmad tanggal 13 Juli 2012.
57 Gentho adalah julukan untuk menyebut tokoh utama atau pentholan dari komunitas seni tradisi, yang mempunyai konotasi lebih condong ke arah makna negatif.
anak muda. Meskipun secara keilmuan tidak menyetujui pola pikir anaknya namun, Kiai Zaidun menyatakan ridlo terhadap kegiatan yang dilaksanakan putranya.