A. Bentuk Kompromi: Usaha Mencari Titik Temu
2. Kesadaran Akan Kesetaraan dan Persaudaraan
aslinya. Kalau dipikir-pikir yang belum bisa menerima mereka itu juga kebanyakan santri, tapi mereka itu sangat bisa menerima siapapun ketika diorangkan.3
Dalam konteks relasi antara pesantren dengan kesenian rakyat, Kiai Masrur mengatakan bahwa, apabila kedua belah pihak mampu untuk menumpulkan keinginan-keinginan laten yang dimiliki masing-masing maka, pasti akan terjadi titik temu. Ketika komunitas seni tradisi dapat menghilangkan prasangka-prasangka buruk terhadap pesantren dan pesantren dapat melakukan domestikasi ajaran Islam yang akan diterapkan pastilah tercipta titik temu, paling tidak terjadinya kesepahaman, penghormatan terhadap posisi kedua belah pihak. Kesepahamanan dan rasa rohmat di antara kedua belah pihak pada akhirnya akan memunculkan sikap-sikap akomodatif dan saling menyerap.
Dalam hal akomodasi ini kemudian Kiai Masrur menceritakan tentang islamisasi Nusantara. Pada masa awal Islam datang ke Nusantara, para ulama dalam berdakwah tidak melarang tradisi-tradisi masyarakat, yang dilakukan adalah mengislamkan budaya lokal yang tidak cocok dengan ajaran Islam, seperti kebiasaan meratapi jenazah orang yang meninggal dunia. Tradisi tersebut diganti dengan membaca puji-pujian kepada Allah, shalawatan dan membaca tahlil. Sejak awal memang hukum Islam atau fikih yang diterapkan di Nusantara sangat akomodatif terhadap budaya lokal Nusantara. Sebagai contoh terkait pembolehan cara berpakaian kebaya dan kudungan (berkerudung) untuk perempuan Jawa. Untuk pakaian laki-laki dalam beribadah menggunakan kain sarung, baju koko, atau nganggo surjan, blangkon untuk orang Jawa.
Hal itu menunjukkan tidak adanya keharusan untuk memakai pakaian orang Arab. Para wali pada masa lalu lebih menekankan substansi bukan simbol. Substansi berpakaian dalam Islam adalah pakaian yang dapat menutupi aurat.
saling menyapa. Kekuatan keduanya habis tersedot dalam konflik yang tidak pernah berakhir. Bagi Kiai Masrur, sudah saatnya pesantren tidak berfikir lagi mana yang Islami dan tidak Islami, tetapi dasar yang dipakai adalah kemaslahatan bagi agama (mencari ridha Allah) dan kemanusiaan (padha menungsane).
Dalam persoalan ini Kiai Masrur mengatakan:
Kalau terkait dengan dasar hubungan antara pesantren dengan komunitas, kesenian rakyat seharusnya didasari atas kesadaran bahwa antara pesantren dengan komunitas kesenian rakyat itu Tuhannya sama (podo gustine), nabinya sama, Islamnya sama, Jawanya sama, sama-sama hidup, sama-sama kenyang kalau makan, terkadang juga sama-sama orang kampung.
Membangun relasi antara pesantren dan komunitas kesenian rakyat bagi Kiai Masrur harus didasarkan kepada kesadaran akan kesamaan dan kesederajatan sebagai umat Islam, bukan berdasar kepada kualitas antar yang Islami atau tidak Islami, karena ini akan menjadi sekat pemisah di antara keduanya, padahal seharusnya seni mampu menembus batas-batas pemisah yang sering membelenggu kebebasan berekspresi, mengungkapkan ide, karya dan bahkan perbedaan keyakinan. Berkesenian4 adalah bentuk ekspresi yang dibawakan tanpa harus memandang siapa, dan apa keyakinannya. Dengan demikian, relasi yang terjalin antara komunitas pesantren dengan komunitas pegiat kesenian rakyat mencerminkan adanya pengakuan tentang kesadaran akan kesederajatan sesama manusia.
Lebih menarik, bagi Kiai Masrur, komunitas-komunitas kesenian rakyat yang ada di kecamatan Cangkringan dianggap sebagai anak, maka Kiai Masrur dan pesantren al-Qodir menempatkan diri sebagai bapak bagi komunitas-komunitas kesenian rakyat tersebut. Kiai Masrur mengatakan bahwa dia menganggap komunitas-komunitas kesenian rakyat sebagai anak dan dia juga mempunyai kewajiban ngrumat anak-anaknya apapun keadaannya untuk menjadi yang lebih baik. Dia mengatakan:
4 Dalam berbagai fungsi seni, khususnya tari, jathilan masuk dalam kategori seni tari, sebagaimana di ungkapkan Kraus (1969: 11-12), seni tari dikelompokan dalam 4 fungsi utama, yaitu menjadi bentuk hiburan yang populer demi menarik penonton, sebagai cara mengungkapkan kegembiraan, menawarkan jalan keluar yang penting untuk pergaulan dan hiburan dan untuk pertemuan sosial, dan terakhir untuk menyediakan media atau wahana pergaulan serta daya tarik.
Begini mas, anak-anak jathilan itu bagi saya, sudah saya anggap sebagai anak sendiri. Dengan demikian, apa yang mereka inginkan, apa yang mereka perlukan selagi sesuatu yang baik akan saya turuti sekuat saya. Jadi, kami sebagai kiai itu siap untuk rugi (tombok).
Jadi, kiai itu bukan untuk mencari kekayaan. Walaupun beberapa orang mengatakan bahwa tidak ada untungnya merawat jathilan, seperti kata paman saya itu (sambil menunjuk KH. Ngabdulloh), la buktinya saat ini anak-anak jathilan tidak perlu diperintah, tidak perlu bilangin, sudah mau melaksanakan shalat, mau mengaji, mau mengikuti mujahadahan. Jelas untung kan mas, merawat anak-anak jathilan itu? Bagi kami bukan keuntungan finansial yang kami inginkan, ketika kami menempatkan mereka sebagai anak maka kami akan selalu mempunyai rasa wajib untuk menjadikan mereka menjadi lebih baik, baik dunianya dan akheratnya. Apa pun keadaan mereka, meskipun mereka itu ibaratnya gentho, preman, pencuri (maling kecu), tapi karena mereka anak saya, saya tetap wajib mengentaskan mereka menjadi manusia yang lebih baik. Bukan berarti dalam hal ini selalu berjalan mulus lo, kami juga pernah dibohongi salah satu dari mereka, mobil saya dipinjam sampai lima bulan tidak dikembalikan, ternyata mobil itu digadaikan, he he, ya akhirnya mobil itu saya tebus, tapi karena itu anak, saya juga tidak marah, juga tidak lapor polisi, ya hanya kami doakan semoga mendapat hidayah begitu saja. Ternyata, segera setelah itu, anak itu datang minta maaf sambil bawa uang untuk mengganti uang tebusan di pegadaian, ya langsung kami maafkan tetapi, uangnya tidak saya terima, kami suruh untuk dibawa lagi. Kami cuma bilang kiainya sudah kaya tidak perlu dipikir.
Persaudaraan yang dibangun oleh Kiai Masrur terhadap komunitas kesenian rakyat bukanlah retorika belaka. Dalam kesaksian para penggiat kesenian rakyat membenarkan hal itu. Dalam pandangan mereka, Kiai Masrur orangnya semedulur (bersahabat), tidak wigah-wigih (tidak ragu) dalam bergaul dengan komunitas kesenian rakyat.
Dalam amatan mereka, Kiai Masrur selalu berupaya untuk menyesuaikan diri dengan kondisi komunitas kesenian rakyat, baik dalam cara bergaul, berbahasa, berpakaian. Setiap kesempatan bertemu di jalan pastilah aruh-aruh (menyapa) dengan menggunakan bahasa pasaran yang biasa
dipakai dalam komunitas kesenian rakyat. Suatu saat peneliti diberi kesempatan Kiai Masrur untuk ikut dandan (service) mobil Suzuki Carry Carreta miliknya. Mobil akan diservis di bengkel mobil Pakde Kendil yang berada di desa Wonokerso. Sebagaimana diketahui Pakde Kendil ini adalah dedengkot grup jathilan Turonggo Jiwo Manunggal Klasik.
Desa Wonokerso berada di arah tenggara dari Pesantren al-Qodir yang berjarak kurang lebih tiga kilometer, dihubungkan dengan jalan provinsi sebagai jalur alternatif Solo-Magelang. Setelah sampai kantor Kecamatan Cangkringan lama, ke arah timur melewati sungai Gendol, sungai yang pada saat erupsi Merapi tahun 2010 menjadi jalur lava pijar dan wedhus gembel yang meluluhlantakkan Kecamatan Cangkringan bagian utara.
Pada saat berangkat ke Wonokerso, Kiai Masrur mengenakan sarung berwarna hitam, berkaos oblong putih bermerk Jupiter, berpeci hitam dengan rambut panjangnya yang dikucir belakang. Ketika peneliti konfirmasi mengenai pakaian yang dia kenakan, Kiai Masrur mengatakan, hayo kenthir po piye? mosok arep neng bengkel kok nganggo gamis ro jubah, mengko nek aku tekan kono nganggo jubah yo Kendil malah mesti minggat wong dikiro arep tak jak pengajian. Menurut Kiai Masrur cara dia berpakaian akan selalu menyesuaikan dimana dia akan datangi.
Menurutnya, datang ke tempatnya para seniman kesenian rakyat itu lebih enak, tidak repot dalam berpakaian, sakgeleme dewe ra masalah (semaunya sendiri tidak menjadi persoalan), katanya dapat dipastikan kalau ke tempat seniman kesenian rakyat kok menggunakan pakaian kiai, jelas kesalahan kostum yang akan menyebabkan canggung dalam berinteraksi.
Sewaktu kami sudah menyeberangi sungai Gendol menuju arah Wonokerso malah berpapasan dengan Pakde Kendil pemilik sekaligus mekanik bengkel yang akan kami tuju. Dia berperawakan kecil kerempeng. Dia juga berambut panjang sebagaimana Kiai Masrur, mengenakan kethu (semacam topi yang sering digunakan penjaga malam) berwarna hitam. Pada saat berpapasan secara otomatis pakde Kendil dan Kiai Masrur menghentikan kendaraannya masing-masing, menunjukkan bahwa keduanya memang terlihat sudah hafal dengan kendaraan yang sering mereka pakai. Pada saat itu Kiai Masrur menyapa atau lebih tepatnya bertanya kepada pakde Kendil, "arep neng ndi tho (gentho)?" "la piye to?" Jawab pakde Kendil. "Iki lo grobake remme rasane
wis jeruuu," lanjut Kiai Masrur. "Hayo diuruki pasir ben dadi cethek,"
pakde Kendil menjawab sambil mesem. "Iki tenanan tho" sahut Kiai Masrur. "Mengko disik aku tak golek badhokan neng mbronggang," kata pakde Kendil, "rasah mbadhok sik iki luwih penting," jawab Kiai Masrur.
Sejurus kemudian pakde Kendil berkata, "owalah kampreeeet wong urip kok dikiro ora butuh mbadhok," sambil membelokkan sepeda motor shogun miliknya ke arah Wonokerso.5
Ketika peneliti tanya mengapa Kiai Masrur menggunakan bahasa pasaran bahkan lebih tepat bahasa jalanan, dia mengatakan bahwa itu bahasa popular, bahasa pidak pejarakan (rakyat jelata), bahasa egaliter yang menunjukkan adanya persaudaraan dan kesetaraan. Kiai Masrur mengatakan nek cah-cah koyo Kendil kuwi isih nganggo boso kromo, boso alus karo aku berarti aku durung dianggep sedulur. Menurut Kiai Masrur bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut bukan menunjukkan ekspresi kekasaran atau tiada penghormatan tetapi itu merupakan ekspresi keakraban. Kelompok kesenian rakyat lebih khusus jathilan yang kebanyakan secara sosial mereka adalah petani, pidak pejarakan (rakyat jelata) lebih menyukai ketulusan bukan kehalusan bahasa yang semu.
Hal ini diungkapkan oleh Kiai Masrur dengan mengatakan, bagi mereka komunitas kesenian rakyat itu mending cangkeme ki omongane asu-bajingan ning atine laa ilaha ilallah ngono lo. Dengan demikian, menurut Kiai Masrur, kalau mau menjalin hubungan baik dengan komunitas kesenian rakyat, harus selalu mengupayakan mencari titik temu, sebagai dasarnya melalui nilai penghargaan, penghormatan, persaudaraan dan kesetaraan, sekali-kali bukan penghormatan semu melalui bahasa yang bersifat dekoratif.
Terkait penghargaan pesantren terhadap kemanusiaan ini, dengan menyitir pendapat Gus Dur, Kiai Masrur menyebutkan bahwa penghargaan tersebut tercermin dalam perlindungan atas hak-hak dasar manusia (al-kulliyāt al-khamsah) yang meliputi hak hidup (hifzu al-nafs), hak beragama (hifzu al-dīn), hak kepemilikan (hifzu al-māl), hak keturunan (hifzu al-nasl), dan hak atas profesi (hifzu al-‘ird). Dengan kelima perlindungan asasiah inilah menunjukkan bahwa kemanusiaan merupakan nilai yang paling universal dalam Islam.6
5 Catatan lapangan tanggal 17 Juli 2012.
6 Wawancara dengan KH. Masrur Ahmad, tanggal 17 Juli 2012.
Dalam pandangan Kiai Masrur, peradaban Islam akan mencapai kematangan apabila mampu berdialektika dengan budaya-budaya lain atas dasar pertimbangan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Budaya-budaya lokal memungkinkan dapat mempercantik dan memperhalus wajah budaya Islam, sedangkan nilai-nilai Islam dapat memberikan dasar moral yang adiluhung bagi budaya lokal. Seperti tradisi keharusan silaturahmi bagi masyarakat Indonesia terutama Jawa pada saat perayaan hari raya Idul Fitri atau kemudian dikenal dengan istilah mudik, tradisi menganggukan kepala atau sedikit membungkukan badan serta penggunaan bahasa Jawa halus sebagai tanda penghormatan terhadap yang lebih tua.
Bagi Kiai Masrur, keluwesan interpretasi terhadap hukum Islam dalam menghadapi lokalitas budaya merupakan kekuatan kebudayaan dan peradaban Islam. Berdasarkan sejarah, kebudayaan Islam telah menunjukan sintesa yang cukup lengkap tentang terjadinya adaptasi terhadap unit-unit lokalitas budaya, dimana Islam merasuk ke dalamnya.
Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan Islam tidak terbelenggu kepada terbatasnya pemikiran-pemikiran teologis yang kaku dan doktrinal. Pola pemikiran yang luwes ini sebetulnya telah terkodifikasi dalam kekayaan intelektual Islam (turās) yang terdapat dalam rujukan-rujukan kitab kuning dan banyak digunakan oleh pesantren.
Menurut Kiai Masrur, apabila Islam yang universal mampu melakukan berbagai adaptasi, maka niscaya Islam akan sering melakukan dialektika secara terbuka dengan berbagai macam lokalitas budaya yang menjadi subyek dakwahnya. Apabila proses dialog ini terjadi secara berkesinambungan (kontinyu) maka, Islam akan menjadi toleran terhadap lokalitas budaya, begitu juga sebaliknya budaya-budaya lokal akan mengakomodir nilai-nilai Islam yang dianggap mampu mengembangkan dan memberi dasar etika terhadap budaya lokal.
Sebagai contoh di Jawa telah lama terjadi dialog antara tasawuf dengan mistik Jawa yang sebelumnya telah terpengaruh oleh Hindu-Buddha.
Dialektika keduanya telah memunculkan relasi yang saling menyerap, tanpa harus melenyapkan salah satu dari keduanya.
Dalam hal ini kemudian, Kiai Masrur menolak dengan keras segala bentuk gerakan anti budaya yang dilakukan oleh beberapa organisasi
Islam dan beberapa komunitas muslim tertentu.7 Perlawanan budaya harus dilakukan terhadap kelompok-kelompok tersebut, dengan jalan memperbanyak kantong-kantong muslim moderat yang toleran terhadap lokalitas budaya, yang diupayakan berbasis di daerah pedesaan. Karena gerakan anti budaya ini, menolak tidak hanya kebudayaan yang berwajah lokal, akan tetapi juga budaya agama popular dalam masyarakat yang sudah jelas bernafaskan Islam seperti tahlilan, yasinan dan istighasah atau yang dikenal dengan istilah Tasinta.
Umat Islam tidak boleh menghibur diri dan berapologi, dengan menyebutkan bahwa kontribusi Islam sangat besar dalam peradaban dunia, tetapi seharusnya mampu membuktikan bahwa umat Islam adalah aktor dari peradaban agung tersebut. Umat Islam harus menghindari klaim sosiologis tentang homogenitas keyakinan, bahwa Islam hanya untuk Islam. Slogan semacam ini tidak selalu tepat atau bahkan mempunyai kecenderungan akibat yang merugikan baik dalam dimensi strategis ataupun substantif, sebab misi Islam tidak pernah menganjurkan singularitas. Agama sebagai sesuatu yang sakral, datang dari Tuhan kepada manusia yang lemah, parsial, terbatas, terikat ruang dan waktu. Dengan demikian, agama harus sesuai dengan kondisi manusia, bukan kondisi Tuhan. Agama untuk manusia, dan karena itu harus sesuai dengan tantangan yang dihadapi manusia.8
7 Menurut Said Aqil Siroj, gerakan anti budaya, puritanisme, radikalisme agama dan terorisme muncul sebagai akibat penolakan budaya atau kebutaan budaya. Kebutaan budaya terjadi dalam wilayah yang paling dasar yaitu pada dimensi psikologis-mental, yang pada akhirnya justru aktualitas berbudaya orang Islam banyak merugikan kebudayaan Islam. Apabila Islam sungguh-sungguh sebagai agama yang diturunkan untuk kemaslahatan seluruh semesta dan isinya, maka sudah saatnya batas-batas formal-struktural yang kaku dihindari. Yang harus segera dihilangkan adalah kesan yang memperlihatkan ketika peradaban dan kebudayaan maju, justru agama Islam menghambatnya.
Tugas Islam semestinya memicu kemajuan seraya membimbingnya. Materi pengajian disampaikan pada acara pengajian akhirussannah pesantren al-Qodir.
8 Model keberagamaan yang humanis, moderat, dan toleran di satu sisi dan model radikal di sisi lain tidak terlepas dari pembacaan terhadap teks-teks keagamaan. Model penafsiran teks-teks keagamaan mempengaruhi individu yang menafsiri. Penafsiran skripturalis cenderung menumbuhkan fundamentalisme agama, sikap kaku, salah benar dan hitam putih. Model penafsiran agama secara substansial akan menumbuhkan sikap moderat dan humanis. Islam dipahami secara kontekstual di mana lahirnya teks keagamaan tidak lahir dalam ruang hampa. Penafsiran terhadap teks ini yang kemudian memunculkan justifikasi ideologis, semacam kredo pembenaran di satu pihak dan sekaligus penyalahan terhadap pihak lain. Dalam konteks ini kemudian muncul kecurigaan, tuduhan, klaim dan labeling. Klaim kebenaran ini dapat bersikap duniawi ataupun ukhrawi, yang dapat memunculkan konflik atas nama agama. Lihat Mu’amar Ramadhan, “Peranan Pengasuh Pondok Pesantren dalam Mengembangkan Budaya Damai di Jawa Tengah”, dalam Nuhrison M. Nuh (ed.), Peranan Pesantren dalam Mengembangkan Budaya Damai, (Jakarta: Balitbang Kemenag RI, 2010), 106.
3. Keberanian untuk Selalu Berdialektika dengan Lokalitas