Ada pun kesenian rakyat dan komunitas kesenian rakyat yang ada di desa Wukirsari masih bernuansa tradisional, seperti wayang, campursari dan jathilan ada sebagian warga yang menyebut dengan janthilan. Untuk yang terakhir disebut merupakan kesenian yang paling banyak peminat dan pelaku seninya dan mempunyai kantong-kantong komunitas pejathil yang terhitung banyak. Hal ini menunjukkan bahwa seni jathilan bukan merupakan seni termarginalkan dalam konteks pedesaan, melainkan justru sudah merasuk dalam hati sebagian besar warga desa Wukirsari. Oleh karena itu, tidak heran jika pada acara-acara tertentu seperti memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, hajatan yang dilaksanakan oleh warga dan perhelatan lainnya, maka pentas seni jathilan ini juga menjadi bagian pengisi acaranya. Seni jathilan banyak digemari warga Salah satu alasan yang paling menonjol adalah tanggapannya yang relatif murah dibandingkan dengan nanggap wayang dan campursari.
anak yang nakal luar biasa, namun mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan teman sebayanya, kemampuan menguasai pengetahuan yang baik tanpa harus banyak belajar. Kiai Masrur berbeda dengan kiai-kiai lain, orangnya supel, suka bercanda, berbicara ceplas-ceplos terhadap siapa saja dengan bahasa Jawa ngoko. Penampilannya lebih tampak seperti seorang seniman, dengan rambut panjang yang dikucir, bergaya slengekan, dan banyak bergaul dengan artis. Banyak julukan yang disematkan kepada Kiai Masrur, kiai jathilan, kiai gondrong, kiai nyentrik, kiai seniman, dan kiai gentho.24
Pendidikan formal Kiai Masrur dimulai dari SDN Kiyaran, SMPN 1 Pakem. Ijazah SMA baru diperoleh setelah dia berpindah-pindah sekolah sampai tujuh kali, ijazah itu diperoleh setelah dia menamatkan studinya di SMA Islam 3 Pakem Sleman. Kemudian Kiai Masrur melanjutkan kuliah ke Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, dan aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dalam menentang rezim Orde Baru.
Atas aktivitasnya yang terakhir ini, membuat ayahnya KH. Muhammad Zaidun merasa khawatir atas keselamatan anaknya. Maka, Kiai Zaidun meminta agar Masrur muda di tahun ketiga kuliahnya untuk berhenti dan melanjutkan ngaji di pesantren.
Dalam konteks agama Islam, seorang pencari ilmu dianggap sebagai seorang musafir yang berhak untuk mendapatkan zakat, apabila dia meninggal dunia pada saat masih mencari ilmu, maka seorang pencari ilmu tersebut dianggap mati syahid. Bagi masyarakat yang memberikan santunan kepada pencari ilmu atau pun guru-guru yang mengabdikan diri untuk mengajarkan ilmunya, dianggap telah menyerahkan amal jariyah. Amal jariyah merupakan sumbangan kekayaan untuk tujuan-tujuan agama yang dapat menjamin kesejahteraan penyumbang dalam kehidupan di akherat kelak. Dengan demikian, pendidikan dalam Islam sangat dipentingkan, para guru-guru Islam menganggap dan menerimanya sebagai kewajiban mereka untuk mengajarkan ilmunya tanpa mengharapkan imbalan-imbalan keuntungan yang bersifat material.25
Dalam Islam ditekankan bahwa perjalan atau kewajiban mencari ilmu tidak berujung, atau mempunyai akhir. Sebagai manifestasi dari
ajaran-24 Catatan lapangan tanggal 1 Juli 2012.
25 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, 24.
ajaran ini maka salah satu aspek penting dari sistem pendidikan pesantren adalah tekanan pada para santri untuk terus menerus berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Seorang santri biasanya disebut sebagai seorang pencari ilmu (tālib al-‘ilm).Tradisi ini mewajibkan seorang santri mencari ilmu, berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain, mencari guru-guru yang paling masyhur dalam berbagai cabang pengetahuan Islam. Dalam konteks ini maka, pengembaraan merupakan ciri utama kehidupan pengetahuan di pesantren dan menyumbangkan terwujudnya kesatuan (homogenitas) sistem pendidikan pesantren dan sebagai stimulasi bagi aktivitas keilmuan. Tradisi ini merupakan hasil akulturasi kebudayaan antara dorongan orang Jawa untuk mencari hakekat kehidupan dan kebijaksanaan, dan tradisi Islam di mana berkelana mencari ilmu merupakan ciri utama sistem pendidikan tradisional.26
Kiai Masrur Ahmad merupakan tipe santri kelana. Dia belajar dibanyak pesantren di pulau Jawa dari ujung timur sampai ujung barat.
Di antara pesantren yang pernah disinggahinya adalah Pesantren Wahid Hasyim, Pesantren Mbah Najah Condong Catur, al-Munawir Krapyak, Pesantren Cilumuh Majenang, Pesantren Nglirab Kebumen, Pesantren Kesugihan, Pesantren Banten dibawah bimbingan Abuya Dimyati, Pesantren Banyuwangi dan Pesantren Ploso Mojo Kediri, termasuk juga beberapa pesantren kecil di wilayah Sleman dan Magelang.
Dalam tradisi pesantren, pengetahuan diukur oleh jumlah buku-buku yang telah dipelajari dan kepada ulama mana dia berguru. Jumlah buku-buku standar dalam tulisan Arab yang dikarang oleh ulama-ulama terkenal yang harus dibaca telah ditentukan dalam kurikulum pesantren.
Kiai-kiai di masing-masing pesantren biasanya mengembangkan diri untuk memiliki keahlian dalam cabang ilmu pengetahuan tertentu, di mana kitab-kitab yang dibaca juga cukup dikenal. Dalam konteks ini homogenitas pandangan hidup keagamaan terbina dengan baik, di samping itu sifat kekhususan seorang kiai juga dapat tersalurkan.
Kemasyhuran kiai dan jumlah mau pun kitab-kitab yang diajarkan di pesantren menjadi faktor yang membedakan antara satu pesantren dengan pesantren yang lain.27
26 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, 25.
27 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, 22.
Kompetensi Kiai Masrur adalah dalam bidang ilmu alat, al-Qur’an dan tasawuf. Dalam ilmu alat dia mampu menghafal bait-bait dalam kitab Alfiyyah Ibnu Mālik dengan dibaca dari bait terkhir ke bait terdepan atau menghafal dengan cara terbalik, dalam bidang al-Qur’an dia tahfidz 30 juz dan dalam ilmu tasawuf, dia mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap kitab Risālah Qusyairiyyah karya al-Qusyairi dan kitab al-Hikam karya Ibn ‘Athaillah.
Pesantren mempunyai tradisi yang khas dalam transmisi keilmuan, yaitu sistem isnad dan ijazah. Isnad merupakan tradisi ilmiah yang mensyaratkan kesahihan mata rantai transmisi keilmuan atau pun tradisi dari sumber ilmu kepada guru hingga sampai kepada penulis kitab, atau pengembang ajaran, atau pemegang otoritas keilmuan dan tradisi. Daftar silsilah nama guru dan murid secara berurutan dikenal dengan istilah sanad. Ijazah merupakan ijin guru kepada muridnya untuk membaca kitab, mempelajari dan mengajarkan ilmu atau mengamalkan dan mentransmisikan tradisi. Dua hal tersebut menjadi sebuah mekanisme untuk menjaga kesahihan ilmu dan tradisi di lingkungan pesantren.
Melalui sarana kultural ini, seorang santri mendapatkan transmisi otoritas dan acapkali memunculkan kekeluargaan primordial di antara penerima ijazah.
Secara nonformal, Kiai Masrur telah mendapatkan pendidikan yang cukup, dan telah banyak mendapatkan berbagai ijazah dari guru-gurunya untuk mengamalkan dan mengajarkan berbagai kitab kuning. Salah satu yang paling diingat adalah perkataan dari KH Muhammad Dimyati bin Muhammad Amin al-Bantani atau dikenal dengan Abuya Dimyati atau Mbah Dim, pengasuh Pesantren Cidahu Pandeglang, bahwa Masrur Ahmad (Kiai Masrur) pada saatnya nanti akan lebih banyak mengurusi orang-orang yang tidak wira’i. Perkataan Mbah Dim inilah yang kemudian oleh Kiai Masrur dipahami sebagai prediksi terhadap karirnya mengembangkan pesantren, dan ini terbukti bahwa Pesantren al-Qodir tidak hanya pesantren yang mengajarkan kitab-kitab klasik, tetapi juga merupakan tempat rehabilitasi orang gila, pecandu narkoba dan tempat berkumpul serta berekspresi dari kalangan seniman.28
Salah satu guru yang berpengaruh terhadap pandangan-pandangan Kiai Masrur yang moderat adalah KH. Qasim Nur Ali pengasuh Pesantren
28 Wawancara dengan KH. Masrur Ahmad pad tanggal 2 Juli 2012.
el-Baz, seorang mursyid dari Tarekat al-Qodiriah wa Naqsabandiyah.
Pesantren el-Baz berada di daerah Cilumuh, Majenang, Jawa Tengah, Kebanyakan santrinya adalah jamaah tarekat dan sebagian besar merupakan santri kalong, santri mukim tidak lebih selalu berjumlah sepuluh orang datang dan pergi. Menurut penuturan Nyai Masrur, sekitar lima tahun Kiai Masrur nyantri kepada Kiai Qosim, dan pada saat belajar disana Kiai Masrur diperlakukan berbeda dengan santri yang lain, Kiai Masrur tidak diperbolehkan ikut ngaji kitab kuning seperti santri lainnya. Kiai Masrur hanya disuruh untuk membuatkan kopi, ndereke kiai dan mijeti, namun begitu justru waktu kebersamaan dengan Kiai Qosim menjadi lebih banyak dibanding santri lain, pada waktu-waktu itulah Kiai Masrur mendapatkan banyak piwulang.
Di antara beberapa pemikiran Kiai Qosim yang kemudian dipraktikkan oleh Kiai Masrur di Pesantren al-Qodir dan masyarakat sekitarnya adalah pertama, model seleksi santri. Santri yang akan masuk pesantren diseleksi dulu terkait dengan kemampuan dan minatnya. Tidak semua santri yang datang dimasukan ke kelas awal, tetapi menyesuaikan dengan kemampuannya, termasuk di dalamnya adalah minat santri terhadap materi pelajaran seperti fikih, alat, al-Qur’an, dan tasawuf. Dalam hal ini, santri dibebaskan untuk menentukan kitab yang akan dipelajarinya meskipun tetap dalam koridor kitab-kitab yang diperbolehkan dalam lingkungan pesantren NU. Kedua, keras terhadap diri sendiri dalam melaksanakan ibadah sunah dan ritual wirid. Kiai Qosim sebagai mursyid tarekat sangat ketat untuk menjalankan ibadah sunah dan ritual wirid bagi dirinya29. Ketiga, cinta dan dekat dengan kesenian. Kiai Qosim mempunyai suara serak yang melengking sehingga ketika menyanyikan lagu-lagu gambus sangat merdu. Dia juga mempunyai kemampuan untuk memainkan alat-alat musik seperti gitar, suling dan terbang. Kiai Qosim juga dikenal sangat dekat komunitas seniman baik kesenian modern atau pun kesenian rakyat. Keempat, dalam berdakwah yang terpenting adalah prosesnya bukan pada hasil, niat yang harus dibangun adalah mencari ridha Allah bukan pada jumlah orang yang mengikuti dakwahnya, karena itu akan sangat bergantung kepada hidayah Allah.30
29 Termasuk kemudian di Pesantren al-Qodir terdapat kegiatan Dzikir Karomah bagi santri-santri senior.
30 Dituturkan oleh Mustaghfirin santri ndalem yang pernah nyantri juga di Pesantren el-Baz yang diasuh oleh Kiai Qosim, menurutnya dulu Kiai Masrur saat nyantri sangat dikenal oleh santri-santri dan masyarakat sekitar pesantren terkait dengan penampilannya yang selalu berambut gondrong dan mempunyai kemampuan supranatural sehingga banyak dimintai pertolongan oleh warga sekitar