ADVOKASI PEMBERDAYAAN KESEHATAN
E. Keberhasilan Advokasi dalam Pemberdayaan Kesehatan
Keberhasilan dalam pemberdayaan kesehatan tersebut, tidaklah selalu mulus akan tetapi selalu dihadapkan dengan beberapa rintangan, manakala rintangan itu menjadi suatu kendala dalam mencapai tujuan pemberdayaan kesehatan. Dari itu, banyak rintangan yang dihadapi di lapangan seperti menghadapi masyarakat sekitar, aturan hukum berlaku, dan sebagainya.
Menghadapi masyarakat suatu wilayah dalam promosi kesehatan memiliki banyak karakter yang ditemukan mulai dari adanya masyarakat mendukung program, menolak, dan/atau tidak memperhatikan sama sekali. Belum lagi misalnya adanya peraturan-peraturan yang dilalui, sehingga semuanya menggunakan pendekatan strategis dalam menyukseskannya dan untuk mengatasi masalah-masalah di atas tentunya hanya dapat dilakukan melalui suatu proses advokasi.
Advokasi tidak harus dilakukan oleh sendiri para aktor pelaksana pemberdayaan kesehatan, tetapi kebanyakan dapat saja diwakilkan pada pihak lainnya yang memberi bantuan layanan advokasi dan pendekatan ini selalu dilakukan oleh setiap lembaga. Dari pernyataan di atas maka keberhasilan advokasi dalam pemberdayaan kesehatan itu membutuhkan pendekatan yang utama dalam hal advokasi.
Pendekatan utama advokasi pemberdayaan kesehatan masyarakat dapat mengikuti suatu advokasi sebagaimana yang diberlakukan dalam (UNFPA dan BKKBN, 2002) dan ini, sampai sekarang masih menjadi
DUMMY
BAB 5| Advokasi Pemberdayaan Kesehatan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat
70
salah satu referensi ahli kesehatan untuk melakukan advokasi, di antaranya yaitu:
1. Membangun kemitraan
Di atas telah dibahas bahwa kemitraan suatu kerja sama yang dilakukan antara dua lembaga atau lebih dengan tujuan untuk mencapai visi secara bersama. Dalam upaya advokasi sangat penting dilakukan upaya jaringan, kemitraan yang berkelanjutan dengan individu, organisasi-organisasi, dan sektor lain yang bergerak dalam isu yang sama.
Kemitraan ini dibentuk oleh individu, kelompok yang bekerja sama yang bertujuan mencapai tujuan umum yang sama/hampir sama. Namun membangun pengembangan kemitraan tidak mudah, memerlukan aktual, perencanaan yang matang, serta memerlukan penilaian kebutuhan serta minat dari calon mitra. Ada sejumlah keuntungan dan kerugian bila melakukan mitra yang perlu dipahami oleh advokator. Contoh kemitraan yang ada misalnya Forum Kesehatan Reproduksi Jakarta yang difasilitasi oleh JEN, Forum Kesehatan Meternal dan Neonatal yang difasilitasi oleh Kelompok Perinasia, dan sebagianya (Pratomo, 2005).
2. Mobilisasi massa
Selanjutnya Pratomo, menyatakan memobilisasi massa merupakan suatu proses mengorganisasikan individu yang telah termotivasi ke dalam kelompok-kelompok atau mengorganisasikan kelompok yang sudah ada. Dengan mobilisasi dimaksudkan agar motivasi individu dapat diubah menjadi tindakan kolektif. Di sini dapat digunakan berbagai teknik untuk mobilisasi massa misalnya pertemuan desa, media tradisional, teater, kegiatan promosi lainnya. Pada tahap pertama mungkin perlu melibatkan orang berpengaruh, misalnya tokoh masyarakat atau pemuka masyarakat dan mereka perlu diidentifikasi serta diberi informasi tentang isu advokasi yang dipilih.
3. Melibatkan para pemimpin
Dalam advokasi peran pemimpin mampu mendorong percepatan suatu proses advokasi. Pendekatan pemimpin dalam hal ini memberikan kontribusi dalam mengatasi suatu masalah yang
DUMMY
BAB 5| Advokasi Pemberdayaan Kesehatan 71 berhubungan dengan pemberdayaan itu. Besar sekali peran perlibatan pemimpin dalam mendesain proses advokasi tersebut.
Para pembuat undang-undang, mereka yang terlibat dalam penyusunan hukum, peraturan maupun pimpinan politik, yaitu mereka yang menetapkan kebijakan publik sangat berpengaruh dalam meciptakan perubahan yang terkait dengan masalah sosial termasuk kesehatan dan kependudukan. Oleh karena itu, sangat penting melibatkan mereka semaksimum mungkin dalam isu yang akan diadvokasikan.
Dalam hal ini, mereka dapat didekati secara formal maupun informal melalui kunjungan individu, wawancara, dialog, seminar, atau diskusi. Apabila mereka anggota DPR/ DPRD maka secara formal dapat diatur pertemuan dengan legislatif atau parlemen yang merupakan pekerjaan sehari-hari mereka. Dalam melakukan advokasi masalah kesehatan reproduksi kepada anggota DPRD DKI maka kelompok jaringan epidemiologi lapangan melihat langsung masalah, misalnya ke Pukesmas, ke RS dengan diskusi pasca kunjungan Suryadi, 2003 (dalam Pratomo, 2005).
4. Bekerja dengan media massa
Komunikasi dengan media massa perlu dibangun tidak dalam pemberdayaan tetapi termasuk dalam advokasi ini. Oleh karena media massa itu sangat penting dalam berperan membentuk opini publik. Media juga sangat kuat dalam memengaruhi persepsi publik atas isu atau masalah tertentu. Mengenal, membangun, dan menjaga kemitraan dengan media massa sangat penting dalam proses advokasi. Berkaitan dengan media, perlu diidentifikasikan mitra media massa baik tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. Kenali siapa wartawan yang sering menulis isu kesehatan di lingkungan anda atau pada media massa tertentu.
Lakukan identifikasi berbagai jenis media massa dan jaringan organisasinya, misalnya Aliansi Jurnalis Independen (AJI), PWI, termasuk Persatuan Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), dan sebagainya.
5. Membangun kapasitas
Membangun kapasitas dapat diartikan membangun kemampuan diri baik individu maupun lembaga bermitra. Membangun
DUMMY
BAB 5| Advokasi Pemberdayaan Kesehatan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat
72
kapasitas di sini dimaksudkan melembagakan kemampuan untuk mengembangkan dan mengelola program yang komprehensif dan membangun critical mass pendukung yang memiliki keterampilan advokasi. Kelompok ini dapat diidentifikasikan dari LSM tertentu, kelompok profesi serta kelompok lain. Dalam hal ini pilihan tidak terbatas hanya dalam bidang kesehatan misalnya WALHI yang bergerak dalam isu lingkungan, kelompok advokasi kemiskinan sipil yang demokrasi (Yappika), dan koalisi untuk Indonesia Sehat (advokasi kesehatan dalam desentralisasi).
Secara umum kegiatan membangun kapasitas dapat dilakukan dengan pelatihan dan pemberian bantuan teknis yang dilakukan oleh satu organisasi tertentu, misalnya dengan membantu Asia Foundation, kelompok LSM JNPUK melakukan pelatihan advokasi untuk LSM lain pada bulan Februari 2005 selama 5 hari dalam rangka membangun kapasitas LSM kesehatan. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan melakukan riset operasional yaitu intinya mencoba pendekatan dan strategi baru untuk melihat cara apa yang paling efektif untuk mencapai hasil dan pengaruh yang diharapkan.
Bila pengalaman ini berhasil maka dapat dimanfaatkan di bidang lain yang terkait (Pratomo, 2005).
Keberhasilan advokasi akan terwujud apabila sedikit banyaknya menggunakan pendekatan sebagaimana beberapa hal yang telah disebutkan di atas. Artinya pendekatan yang dimaksudkan akan membantu upaya tujuan kemitraan dalam suatu advokasi. Dengan demikian juga advokasi dilakukan berdasarkan untuk mengatasi masalah-masalah sebagaimana disebutkan di atas apakah layanan hukum, penolakan dari masyarakat, dan ini perlu diatasi melalui suatu advokasi.
DUMMY
73
A. Pendahuluan
Dalam pemberdayaan kesehatan masyarakat, komunikasi adalah bentuk penyampaian pesan dari komunikator untuk komunikan atau penerima pesan. Komunikasi itu dilangsungkan dalam bentuk saling memberi dan menerima antara pemberi dan penerima pesan. Dalam berkomunikasi tersebut akan berlangsung interaksi yang di dalamnya terbangun saling bertukar informasi dan bukan sebatas menyampaikan pesan, tetapi ada umpan balik yang berasal dari komunikan.
Sering dipahami bahwa komunikasi dalam pemberian informasi hanya dari sebelah pihak komunikator yang dalam hal ini adalah pihak yang memberikan informasi pemberdayaan kesehatan itu. Budaya atau kebiasaan seperti itu perlu dilakukan perubahan bahwa; tidak sebatas pihak yang memberi pesan saja yang memberikan informasi tetapi ada umpan balik yang diterima dari (dalam hal ini masyarakat) sehingga menghasilkan informasi pemberdayaan masyarakat yang berimbang.
Apabila dilihat dari jauh ruang komunikasi kesehatan selama ini antara lembaga yang memberdayakan dengan masyarakat sangat jauh jurang pemisahnya, yaitu masyarakat sebatas diajarkan ilmu kesehatan yang berbasis pendidikan dalam bentuk penyuluhan, dalam hal umpan balik tersebut masyarakat selalu berada dalam titik terendah, artinya kesempatan masyarakat menyampaikan pendapatnya ruang geraknya sedikit ditutup dan dibatasi, sehingga yang terjadi di masyarakat selalu ketinggalan informasi kesehatan.