KARAKTERISTIK PEMBERDAYAAN KESEHATAN
C. Metode Partisipasi Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat
Setiap pemberdayaan kesehatan masyarakat desa itu, dilakukan dengan menggunakan metode dan pola pendekatan tertentu. Metode pemberdayaan kesehatan bagi masyarakat dibutuhkan karena setiap masyarakat memiliki berbagai perbedaan dari pendidikan, ekonomi, sosial, keagamaan, suku, ras, dan perilaku lainnya.
Metode pemberdayaan kesehatan masyarakat selain dibutuhkan dari perbedaan di atas juga dilatarbelakangi kondisi antar wilayah dari akses layanan kesehatan yang ada. Misalnya akses layanan kesehatan di kota memiliki perbedaan dengan akses layanan kesehatan di desa.
Akses layanan kesehatan yang telah tersedia di kota dalam praktik pemberdayaan tidak terlalu sulit, hal ini didukung kemajuan teknologi dan sementara di desa ditambah kurangnya akses layanan kesehatan, akses layanan teknologi untuk kesehatan sedikit tertinggal apabila dibandingkan dengan di kota.
Dari paparan tersebut pemberdayaan kesehatan masyarakat itu dilakukan dengan menggunakan pendekatan metode sebagai berikut:
1. RRA (rapid rural appraisal)
Metode ini bertujuan untuk menggali sebanyak mungkin informasi tentang kondisi desa yang dilakukan oleh orang luar dan sangat sedikit melibatkan masyarakat setempat, teknik penilaian tentang kondisi desa. Kekurangan dari metode penilaian ini adalah walaupun mereka telah melakukan praktik “partisipatif” tetapi hanya dilakukan melalui kegiatan pengamatan dan bertanya langsung kepada informan yaitu warga masyarakat itu sendiri (Chambers, 1996).
Untuk melakukan teknik RRA perlu diperhatikan beberapa prinsip yaitu:
a. Efektivitas dan efisiensi. Kaitannya dengan biaya, waktu, serta informasi yang diperoleh.
b. Hindari bias, introspeksi, mendengarkan, menanyakan secara berulang, menanyakan kepada kelompok termiskin.
c. Triangulasi sumber informasi. Melibatkan tim lintas ilmu untuk bertanya dalam beragam pandangan.
DUMMY
BAB 2| Karakteristik Pemberdayaan Kesehatan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat
24
d. Belajar dari dan bersama masyarakat.
e. Belajar cepat melalui eksplorasi, cross-check, dan jangan terpaku pada materi yang telah disiapkan.
2. PRA (participatory rapid appraisal)
Metode PRA ini merupakan pengembangan dari metode RRA di mana metode RRA penekanannya adalah pada kecepatannya (Rapid) dan penggalian informasi oleh orang luar, sedangkan metode PRA penekanannya pada partisipasi dan pemberdayaan. Prinsip PRA adalah belajar dari masyarakat, orang luar sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai pelaku, saling belajar dan saling berbagi pengalaman, keterlibatan semua kelompok masyarakat, bebas dan informal, menghargai perbedaan dan triangulasi (Chambers, 1996).
Metode dan teknik PRA:
a. Pendidikan Andragogy
Sering disebut bahwa dengan adult education. Konsep ini mempraktikkan consciousness (menumbuhkan kesadaran).
Masyarakat diajak untuk melihat kenyataan dan keberadaan dirinya. Warga diajak untuk menyadari kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirinya. Terlalu banyak kekurangan mengakibatkan ketertindasan dan terlalu banyak kelebihan mengakibatkan kemalasan.
b. Bidang keilmuan dan penelitian
Diupayakan kritik sehingga mengarah kepada sifat partisipatif.
Maksud bidang di atas adalah masyarakat tidak lagi ditempatkan sebagai objek untuk tujuan menggali informasi dan data primer.
RRA memberikan sumbangan yang besar kepada PRA.
Penekanan PRA adalah partisipasi dan pemberdayaan sehingga pelibatan masyarakat perdesaan dalam proses pengembangan program menjadi lebih intensif dan partisipatif (Chambers, 1996).
3. FGD (Focus Group Discussion)
Esensi istilah FGD dalam masyarakat adalah “Rembug Warga” yakni tradisi gotong royong yang sudah lama mengakar pada masyarakat.
FGD merupakan teknik mengumpulkan data untuk memperoleh
DUMMY
BAB 2| Karakteristik Pemberdayaan Kesehatan 25 data dari suatu kelompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. Proses FGD melibatkan partisipan-partisipan, di mana mereka melakukan pertukaran pesan secara dialogis dalam kerangka pemahaman bersama atas situasi sosial (Fardiah D, 2005).
Peran fasilitator sangat penting untuk menciptakan situasi yang menyenangkan bagi para partisipan dalam memecahkan masalah sehingga semua unsur masyarakat merasakan sumbangsih sarannya atas permasalahan yang sedang terjadi di lingkungannya (Fardiah D, 2005).
4. PLA (Participatory Learning and Action)
Proses belajar dan mempraktikkan secara partisipatif PLA merupakan metode pemberdayaan masyarakat yang terdiri dari proses belajar (melalui ceramah, curah pendapat, diskusi) tentang sesuatu topik seperti: persemaian, pengolahan lahan, perlindungan hama tanaman.
Yang segera setelah itu diikuti dengan aksi atau kegiatan riil yang relevan dengan materi pemberdayaan masyarakat tersebut dengan prinsip-prinsip:
a. Merupakan proses belajar secara berkelompok yang dilakukan oleh stakeholder secara interaktif dalam suatu proses analisis bersama.
b. Multi perspective. Mencerminkan keragaman interpretasi dari pihak.
c. Spesifik lokasi. Sesuai dengan kondisi para pihak yang terlibat.
d. Difasilitasi oleh ahli dan stakeholder yang bertindak sebagai katalisator dan fasilitator dalam pengambilan keputusan, serta meneruskannya kepada pengambil keputusan.
e. Pemimpin perubahan. Keputusan yang diambil melalui PLA akan dijadikan acuan bagi perubahan yang akan dilaksanakan oleh masyarakat setempat.
5. Pelatihan partisipatif
Ciri utama dari pelatihan ini adalah:
a. Hubungan instruktur/fasilitator dengan peserta didik tidak lagi bersifat vertikal tetapi bersifat horizontal.
DUMMY
BAB 2| Karakteristik Pemberdayaan Kesehatan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat
26
b. Lebih mengutamakan proses daripada hasil. Bukan seberapa banyak terjadi alih pengetahuan, tetapi seberapa jauh terjadi interaksi atau diskusi dan berbagi pengalaman antara sesama peserta dan antara fasilitator dengan pesertanya.
c. Substansi materi pelatihan mengacu pada kebutuhan peserta, sebelum pelatihan dilaksanakan selalu diawali dengan kontrak belajar.
Masyarakat biasanya diberdayakan adalah masyarakat miskin.
Penelitian Mulyono (2011) ada 3 formulasi strategi pemberdayaan masyarakat miskin dan model pemberdayaan masyarakat miskin melalui pendidikan nonformal yaitu, apabila penawaran lebih kecil dari permintaan maka strategi difokuskan pada pelatihan dasar sampai warga belajar mampu usaha mandiri atau bekerja, apabila penawaran sama besar dengan permintaan maka strategi difokuskan kepada skill kewirausahaan, apabila penawaran lebih tinggi daripada permintaan maka strategi difokuskan pada fasilitas usaha atau fasilitas pencarian alternatif pengembangan.
Winarianto (2009) pemberdayaan masyarakat harus mengikuti pendekatan, upaya yang terarah (targeted) atau pemihakan, harus langsung mengikutsertakan atau dilaksanakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran, menggunakan pendekatan kelompok, karena secara sendiri-sendiri masyarakat yang miskin sulit dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
Penelitian Sukamawati, Dwi (2006) suatu model pemberdayaan masyarakat yang bisa diterapkan adanya pengelolaan sampah di Kelurahan Kutisari adalah model berbasis workshop, berbasis komunitas, konsultasi stakeholder, dan analisis sosial.
Menurut Notoatmodjo (2012) banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengajak atau menumbuhkan partisipasi dari masyarakat. Pada pokoknya ada dua cara yakni:
1. Partisipasi dengan paksaan (enforcement participation)
Artinya memaksa masyarakat kontribusi dalam suatu program, baik melalui perundang-undangan, peraturan-peraturan, maupun dengan perintah lisan saja. Cara ini akan lebih cepat hasilnya dan mudah.
Tetapi masyarakat akan takut, merasa dipaksa dan kaget, karena
DUMMY
BAB 2| Karakteristik Pemberdayaan Kesehatan 27 dasarnya bukan kesadaran (awarenees), tetapi ketakutan. Akibatnya masyarakat tidak akan mempunyai rasa memiliki terhadap program.
2. Partisipasi dengan persuasi dan edukasi
Yakni suatu partisipasi yang didasari pada kesadaran. Sukar ditumbuhkan, dan akan memakan waktu yang lama. Tetapi bila tercapai hasilnya ini akan mempunyai rasa memiliki, dan rasa memelihara. Partisipasi dimulai dengan penerangan, penyuluhan, pendidikan, dan sebagainya, baik secara langsung maupun tidak langsung.