• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keberlanjutan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berbasis Mitigasi

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.7 Keberlanjutan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berbasis Mitigasi

melalui stakeholders analysis bertujuan mengetahui prioritas dan bentuk pengelolaan yang baik, serta dapat mengakomodir semua kepentingan yang ada. Pendekatan ini menggunakan metode partisipatif dalam menentukan pola pengelolaan yang baik. Terdapat tiga skenario/pilihan yang ditawarkan terhadap

stakeholders.

Skenario A adalah pengelolaan yang berbasiskan pada pemerintah, sedangkan skenario B adalah pengelolaan dengan berbasiskan pada pola pengelolaan kolaboratif dengan bentuk Co-Management pada kawasan konservasi dan pemerintah sebagai leading sector, dan yang terakhir adalah skenario C merupakan pola pengelolaan yang berbasiskan pada privatisasi manajemen oleh pihak swasta yang bertanggung jawab langsung terhadap pemerintah. Dari

decision score yang dianalisa menggunakan teknik SMART (Simple multi

atribute rating technique) dengan menggunakan software Criterium decision plus

(Criplus Version 3.0 S) mendapatkan hasil skenario B adalah skenario terbaik

yang dipilih sebagi pola pengelolaan dalam kawasan konservasi TNB khususnya terhadap pengelolaan ekosistem mangrove PPK. Skenario B mendapat nilai 0.792, diikuti skenario A (0.612) dan yang terendah adalah skenario C (0.502) ( Gambar 54).

Untuk melihat kekonsistenan digunakan tradeoffs analysis terhadap masing-masing skenario, hasil yang sama ditunjukkan pada Gambar 55. skenario B berada pada titik teratas dibandingkan skenario yang lain. Hal ini telah diuji coba terhadap beberapa decision score dari masing-masing atribut dan mendapatkan hasil yang sama yaitu skenario B adalah skenario terbaik yang dipilih stakeholders untuk pengelolaan eksosistem mangrove PPK TNB.

Kontribusi masing-masing dimensi terhadap pengelolaan ekosistem mangove PPK TNB dapat dilihat pada Gambar 56. Dari grafik ini terlihat bahwa pada semua skenario dimensi ekologi memiliki peran penting (prioritas utama) dalam pengelolaan ekosistem mangrove. Hal ini mengandung arti bahwa

Gambar 54. Decision scorePada Pola Pengelolaan Ekosistem Mangrove

Gambar 55. Tradeoffs analysis Pola Pengelolaan Ekosistem Mangrove 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Decision Score Skenario C Skenario A Skenario B

pengelolaan yang akan diterapkan ini bedasarkan Ecological Based Management

(EBM) dimana ekologi penjadi perhatian pertama dalam pengelolaan. Sebagai negara yang berbasiskan sumberdaya sudah seharusnya kita mulai melakukan pengelolaan dengan menjunjung tinggi keberlanjutan dari sumberdaya tersebut. Kerusakan ekologi dirasakan akan berdampak negatif terhadap tatanan perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat. Stakeholders sangat sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan ekosistem sebagai sumberdaya yang sangat rentan terhadap degradasi akibat eksploitasi yang bersifat destruktif. Dimensi selanjutnya yang memberikan kontribusi terhadap pengelolaan adalah dimensi sosial ekonomi yang dirasakan sangat mempengaruhi keberadaan sumberdaya yang ada di PPK. Dimensi yang terakhir adalah dimensi kelembagaan. Dalam kasus ini yang menjadi permasalahan serius adalah rendahnya kualitas tatakelola pada kawasa konservasi ini. Sampai saat ini stakeholder masih berpendapat bahwa belum ada keterpaduan antar sektor dalam menangani masalah yang ada pada kawasan konservasi ini. Setelah melihat kontribusi dari level dimensi, selanjutnya menjelaskan tentang kontribusi masing-masing atribut terhadap pengelolaan ekosistem mangrove.

Berdasarkan nilai prioritas pada atribut masing-masing atribut maka atribut peningkatan tutupan mangrove mendapat prioritas utama dalam pengelolaan, diikuti kualitas lingkungan mangrove, kualitas dan kuantitas zona inti, peningkatan pendapatan masyarakat, tingkat pendidikan masyarakat, dan peningkakatan kualitas tata kelola. Enam dari dua belas atribut ini apabila dilakukan peerbaikan maka akan memberikan dampak nyata terhadap kualitas ekosistem mangrove PPK TNB. Selama ini kegagalan pengelolaan ekosistem mangrove yang ada pada kawasan ini adalah kurangnya pelibatan masyarakat langsung dalam menyusun dan merencanakan program, sehingga pada tahap implementasi dan monitoring serta evaluasi mengalami banyak kendala.

Untuk mengetahui prioritas masing-masing atribut Gambar 58, Gambar 59 dan Gambar 60 akan menampilkan prioritas atribut pada setiap dimensi. Prioritas atribut ini akan menjadi acuan dalam strategi pengelolaan ekosistem mangrove yang didasarkan pada kebutuhan dan program yang ada. Prioritas atribut ini akan sangat membantu dalam pengambilan kebijakan terutama untuk skala prioritas

dimensi atau atribut mana yang menjadi sasaran utama dalam pengelolaan ekosistem mangrove berbasis mitigasi.

Prioritas utama pengelolaan pada dimensi ekologi adalah tutupan mangrove yaitu dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas mangrove yang ada melalui rehabilitasi dan restorasi ekosistem mangrove yang rusak (Gambar 58). Selanjutnya adalah peningkatan kualitas lingkungan perairan ekosistem mangrove melalui pengendalian limbah dan bahan pencemar dari daratan dan mengurangi sedimentasi, hal ini tidak saja berdampak pada ekosistem mangrove sendiri melainkan pada ekosistem yang ada didepannya yaitu padang lamun dan terumbu karang. Atribut selanjutnya adalah peningkatan kualitas dari zona inti yang pada saat ini dirasakan belum optimal dari segi kuantitas dan kualitasnya. Begitu juga dengan zona pemanfaatan yang perlu dikaji lagi tentang luasan serta aturan yang harus diterapkan pada zona ini. Kesalahan persepsi mengakibatkan masyarakat mengangap bahwa zona pemanfaatan adalah zona yang bisa dieksploitasi tanpa batas toleransi atau memperhitungkan daya dukung.

Prioritas selanjutnya adalah pada dimensi sosial ekonomi. Pada dimensi ini atribut pendapatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam pengelolaan (Gambar 59). Minimnya pendapatan masyarakat membuat mereka tidak mempunyai pilihan lain untuk mengeksploitasi sumberdaya yang ada. Selain itu atribut selanjutnya ada tingkat pendidikan, yang masih berhubungan dengan pendapatan masyarakat sangat mempengaruhi tindakan seseorang dalam mengeksploitasi sumberdaya. Ketidaktahuan akan resiko akibat pemanfaatan yang melebihi daya dukung serta minimnya pengetahuan akan hukum dan peraturan membuat tekanan terhadap ekosistem pesisir terus meningkat. Atribut selanjutnya adalah parisipasi masyarakat dan pemahaman masyarakat akan fungsi dari ekosistem mangrove. Minimnya partisipasi masyarakat mengakibatkan beberapa program yang dicanangkan tidak berjalan dengan baik. Masyarakat masih bergantung pada bantuan pemerintah serta lembaga swadaya masyarakat dalam menjaga ekosistem mereka. Belum terlihat adanya swadaya masyarakat dalam menjaga serta melestarikan ekosistem mangrove, serta rasa mengahargai atas jasa dari ekosistem mangrove terhadap manusia. Sampai saat ini ekosistem mangrove

masih dirasakan sebagi ekosistem yang kurang produktif dibandingkan ekosistem terumbu karang yang mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih nyata.

Sedangkan untuk dimensi kelembagaan prioritas utama terlihat adalah perbaikan tatakelola kawasan konservasi TNB (Gambar 60). Peningkatan tatakelola yang dimaksud adalah peningkatan kualitas dari tahap perencanaan program, koordinasi, implementasi, dan kontrol yang didalamnya termasuk evaluasi dan monitoring terhadap program yang dibuat. Pelibatan masyarakat serta sosialiasi yang baik akan mampu memperbaiki kualitas dari elemen-elemen diatas tadi. Selanjutnya adalah atribut peningkatan kualitas infrastruktur sperti jalan, listrik, selokan, ketersedian air bersih dan saran penunjang restorasi atau reboisasi ekosistem mangrove. Atribut selanjutnya adalah pengembangan sumberdaya manusia pihak pengelola yang perlu dievaluasi serta ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pengelolaan kawasan konservasi khususnya terhadap ekosistem mangrove. Sedangkan atribut yang terakhir adalah peningkatan peran institusi lokal dalam meningkatakan dan mengembangkan kawasan konservasi ini menjadi lebih baik untuk kedepannya dengan mengakomodir semua kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kebutuhan masa yang akan datang.

Berdasarkan hasil analisa terhadap kondisi dan permasalahan exisiting, tingkat kerentanan masing-masing pulau, efektvitas ekosistem mangrove, dan pola pengeloaan yang efektif untuk meminimalkan kerentanan serta meningkatkan efektivitas mangrove, sub bab selanjutnya akan menyajikan implikasi strategi pengelolaan ekosistem mangrove berbasiskan mitigasi. Strategi ini terdiri dari tiga dimensi yaitu ekologi, sosial ekonomi, dan kelembagaan. Strategi ini dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan fungsi dari ekosistem mangrove baik fungsi ekologi, sosial, dan ekonomi. Diharapkan melalui strategi ini dapat meminimalkan kerentanan pulau kecil melalui pengelolaan ekosistem mangrove yang baik.

Gambar 56. Prioritas Pengelolaan Ekosistem Mangrove Tingkat Dimensi

0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8

Skenario B Skenario A Skenario C

Ekologi Sosek Kelembagaan

Gambar 58. Prioritas Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Dimensi Ekologi Gambar 57. Prioritas Pengelolaan Ekosistem Mangrove Tingkat Atribut

Gambar 59. Prioritas Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Dimensi Sosial Ekonomi

Gambar 60. Prioritas Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Dimensi Kelembagaan 0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8

Skenario B Skenario A Skenario C

0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 0,35 0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 0,35

Skenario B Skenario A Skenario C

0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25

Skenario B Skenario A Skenario C

0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30

Skenario B Skenario A Skenario C

Level:Atribut

Tutupan Mangrove Kualitas Lingkungan Mangrove Kualitas dan Kuantitas Zona inti Kualitas dan Kuantitas Zona Pemanfaatan Pendapatan masyarakat

Tingkat Pendidikan Masyarakat Others

Tutupan Mangrove Kualitas Lingkungan Mangrove Kualitas dan Kuantitas Zona inti Kualitas dan Kuantitas Zona Pemanfaatan

Kualitas Tatakelola Kesiapan Infrastruktur Pengembangan SDM Peran Institusi lokal

Pendapatan masyarakat Tingkat Pendidikan Masyarakat Partisipasi masyarakat Pemahaman Masyarakat