3. METODOLOGI PENELITIAN
3.9 Keberlanjutan Pengelolaan Eksosistem Mangrove Berbasis Mitigasi
Keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove PPK TNB dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Mengingat keterpaduan yang dimaksud adalah keterpaduan antar sektor dan dimensi, maka analisis yang digunakan adalah analisis yang mampu mengintegrasikan semua kepentingan yang ada pada ekosistem tersebut. Untuk mengintegrasikan semua variabel yang telah dinalisa pendekatan yang digunakan adalah dengan Multi Criteria Decision Making
Analysis (MCDMA).
Multi Criteria Decision Making Analysis (MCDMA) biasanya
menghasilkan informasi tentang masalah dan kondisi existing dari data yang tersedia . Hal ini cukup efektif untuk menghasilkan solusi (alternatif) untuk suatu masalah, dan memberikan pemahaman yang transparan dari struktur dan isi masalah tersebut. Menggunakan kerangka MCDMA dalam mendukung suatu proses dimana para pemangku kepentingan yang berbeda dapat memeriksa informasi pada kriteria yang berbeda dan dampak dari mengeksplorasi hasil serta keputusan yang dibuat dari prioritas yang berbeda. Oleh karena itu proses yang berorientasi pada MCDMA digunakan sebagai alat untuk memfasilitasi kesepakatan stakeholders. Jadi MCDMA menawarkan peluang untuk menyajikan
Trade-offs dan untuk menentukan peringkat prioritas yang berbeda dan kriteria
secara sistematis (Huylenbroeck et al., 1995; Malczewski et al., 1997). Trade-offs
mempertimbangkan manfaat secara keseruhan dari strategi pengelolaan dan secara eksplisit menentukan prioritas pengelolaan yang terbaik bagi seluruh pihak.
Pada dasarnya, pengelolaan wilayah pesisir dilakukan dengan tujuan untuk mensejahterakan seluruh stakeholders yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir tersebut. Untuk mengetahui stakeholders yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir, maka diperlukan pendekatan Stakeholders Analysis (SA)
Pendekatan ini menggabungkan analisis stakeholders dan penilaian dimensi ekologi, sosial-ekonomi, dan kelembagaan dalam kerangka analisis kriteria ganda. Menggunakan partisipasi sebagai pemangku kepentingan dalam suatu proses berulang-ulang akan mendapatkan bobot kriteria ekologi, sosial-ekonomi, dan kelembagaan yang bertujuan untuk mengembangkan suatu alat pengambilan keputusan yang memungkinkan untuk dimasukkan dalam analisis ini (Grimble & Chan 1995).
Menurut Grimble dan Chan (1995), stakeholders analysis (SA) didefinisikan sebagai sebuah prosedur untuk mendapatkan pemahaman terhadap suatu sistem melalui identifikasi pelaku-pelaku utama (key-actors) atau pemangku utama didalam sistem tersebut. Sementara stakeholders sendiri didefinisikan sebagai semua pihak yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh kebijakan, keputusan dan aksi dari sistem tersebut. Unit stakeholders bisa berupa individu, kelompok sosial, komunitas, berbagai level dalam masyarakat (Grimble & Chan 1995).
Berdasarkan tujuannya, SA dapat digolongkan menjadi empat kategori yaitu : (1) ex-ante appraisal of projects or policies; (2) ex-post evaluation of projects or policies; (3) riset pengelolaan sumberdaya alam; dan (4) analytical support untuk proses-proses yang sedang berlangsung dalam konteks co-management dari sebuah sumberdaya. (Grimble & Chan, 1995). Dalam konteks renstra pesisir; maka SA yang dilakukan adalah tergolong pada kategori kedua yaitu sebagai tools dalam riset pengelolaan sumberdaya alam, dalam hal ini sumberdaya pesisir dan laut. Sementara itu, tahapan dalam SA paling fidak mencakup, (1) mengidentifikasi tujuan dari analisis; (2) membangun pemahaman terhadap sistem dan para pengambil keputusan; (3) mengidentifikasi principal stakeholders; (4)
menginvestigasi keinginan stakeholders, karakteristik dan lingkungannya; (5) mengidentifikasi pola dan konteks dari interaksi antar stakeholders.
Setelah stakeholders strategis berhasil diidentifikasi, maka langkah berikutnya adalah melakukan konsultasi publik melalui mekanisme pertemuan antar
stakeholders dengan agenda utama : (1) identifikasi isu dan permasalahan pesisir dan laut; (2) identifikasi harapan terhadap pengelolaan pesisir dan (3) identifikasi strategi pengelolaan pesisir dan laut. Ketiga agenda dilakukan dengan mengkombinasikannya dengan hasil survey lapangan yang telah dilakukan.
Tujuan dari MCDMA adalah untuk mencapai hasil yang secara luas diterima oleh seluruh stakeholders yang ada, sementara MCDMA merupakan alat yang baik untuk mencapai resolusi konflik lingkungan dan kendala yang ada pada daerah penelitian. Elemen kritis harus secara jelas diidentifikasi untuk mempermudah responden dalam pengambilan keputusan, elemen ini meliputi: kelompok-kelompok kepentingan yang relevan, interaksi antara kelompok kepentingan, dan kegiatan sosial-ekonomi yang dilakukan oleh kelompok- kelompok tersebut.
Metode pokok yang digunakan dalam penyusunan rencana pengelolaan pesisir dan laut khususnya untuk ekosistem mangrove adalah metode partisipatif/pembelajaran (lesson-learned) dari seluruh stakeholders yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir dan laut dalam sebuah forum/media
stakeholders meeting. Metode pembelajaran dalam hal ini bukan diterjemahkan
sebagai penyusunan metode-metode dan teori-teori, tetapi lebih pada upaya untuk memfasilitasi stakeholders untuk mampu mengubah perilaku yang sebelumnya definitif menjadi lebih partisipatif. Pembelajaran yang diberikan kepada
stakeholders dirancang meliputi empat langkah utama, yaitu penjaringan
permasalahan, identifikasi dan klasifikasi permasalahan, analisis permasalahan, dan perumusan permasalahan.
Implementasi dari seluruh kegiatan ini diharapkan dapat diaplikasikan pada PPK yang memiliki potensi ekosistem mangrove. Keberlanjutan dari pengelolaan ekosistem mangrove adalah hal yang penting disamping membangun komitmen untuk pengelolaan terpadu. Tahapan dalam penelitian ini dapat menjadi acuan
dalam mengevaluasi ataupun monitoring terhadap pengelolaan ekosistem mangrove PPK.
Pengelolaan yang bersifat adaptif terhadap seluruh stakeholders mempunyai kekuatan tersendiri dalam melaksanakan seluruh program yang ada. Model yang dirancang ini diharapkan mampu untuk menggambarkan seberapa penting ekosistem mangrove terhadap lingkungan pesisir. Kebutuhan ekonomi yang menjadi driving force terjadinya degradasi ekosistem dapat dimininalkan dengan cara peningkatan kapasitas masyarakat dan pengelolaan terpadu yang bersifat kolaboratif antar seluruh pemangku kepentingan yang ada pada PPK.
Untuk menganalisa hasil dari stakeholders analysis dalam penelitian ini menggunakan teknik SMART. Teknik SMART merupakan keseluruhan proses dari peratingan alternatif-alternatif dan pembobotan atribut-atribut. Proses ini terdiri dari dua tahap yaitu : (i) mengurutkan tingkat kepentingan perubahan-perubahan dalam atribut mulai dari atribut terburuk (peringkat terendah) sampai atribut terbaik (peringkat tertinggi) serta (ii) melakukan estimasi rasio kepentingan relatif dan ranking setiap atribut terhadap atribut yang paling rendah tingkat kepentingannya.
Analisa selanjutnya adalah penggabungan kedua hasil analisis data di atas menjadi satu. Untuk itu digunakan persamaan agregasi sebagai berikut (Wantasen 2008) :
γ = Si 1/n
dimana : γ =rata-rata geometrik
Si =Nilai skor akhir hasil analisis prioritas berdasarkan kelompok kriteria analisis.
Sehingga persamaan menjadi :