HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Kebijakan yang harus diprogramkan dalam RKPD untuk mendukung tercapainya layanan prima pendidikan dasar pada satuan pendidikan SMPN di Kabupaten Tanah
Laut
Dari beberapa kendala yang dihadapi sekolah sebagai satuan pendidikan yang berupaya memenuhi Standar Pelayanan Minimum, maka para sekolah mencari, menemukan, memberikan dan menawarkan solusi, terhadap sumber permasalahan, berupa kebijakan yang hendaknya diprogramkan dalam RKPD untuk mendukung tercapainya layanan prima pendidikan dasar pada satuan pendidikan SMPN di Kabupaten Tanah Laut
No Sumber Permasalahan Bentuk Kebijakan
1 Dinas Pendidikan a. Dinas pendidikan segera merespon dengan cepat segala kekurangan, baik sarana dan prasarana yang dibutuhkan, terutama anggaran yang memerlukan dana yang cukup besar dan kewenangan perekrutan guru dan tata usaha PNS
b. Dinas pendididikan memiliki peta tentang kondisi sarana prasarana sekolah dan penentuan prioritas sekolah yang membutuhkan bantuan.
c. Penentuan sekolah yang mendapat bantuan sarana prasarana sesuai SPM hendaknya berdasarkan skala prioritas dan kualitas proposal.
2 Sekolah a. Mencari cara untuk memperoleh informasi secepatnya tentang jenis-jenis bantuan yang diberikan Dinas Pendidikan serta prosedur dan persyaratannya
73 b. Menyediakan waktu pada hari-hari tertentu
untuk mengunjungi/silaturahmi ke bagian bantuan sarana prasarana
c. Perlunya pelatihan pembuatan proposal untuk pengusulan bantuan sarana prasarana sekolah
3 Guru a. Dilakukan pemetaan guru untuk mengetahui
jam wajib mengajar
b. Selalu meminta dan mengusulkan ke dinas pendidikan untuk melengkapi guru-guru mata pelajaran yang belum sesuai kualifikasinya.
4 Sarana prasarana a. Sekolah yang yang belum memiliki ruang guru dan kepala sekolah, maka ruang perpustakaan difungsikan sebagai kantor, sehingga layanan perpustakaan kurang optimal
b. Sekolah belum memiliki laboratorium komputer, maka operasional TIK untuk siswa dilaksanakan bersamaan dengan ruang yang difungsikan untuk perpustakaan, hal ini menyebabkan aktivitas siswa kurang leluasa
c. Kekurangan kursi dan meja belajar, dengan cara menganggarkan dalam dana BOS, atau mengusulkan ke Dinas Pendidikan.
d. Memanfaatkan ruang belajar untuk dijadikan ruang kepala sekolah, ruang guru dan ruang tata usaha menjadi satu ruang. e. Melengkapi secara bertahap buku-buku teks
pelajaran dan referensi dengan menganggarkan pada RAKS, dan memanfaatkan dana BOS, untuk pembelian buku-buku tersebut, walaupun dananya terbatas.
4 Dana Memanfaatkan atau mengalokasikan dana
APBN (BOS) dan APBD (BOSDA) secara tepat dan efektif berdasarkan skala prioritas untuk memenuhi SPM
5 Komite Sekolah a. Lebih memberdayakan peran komite sekolah
b. Menumbuhkan kesadaran orang tua/komite untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikan/sekolah dalam bentuk dukungan material, pemikiran maupun spiritual
74 6 Sekolah Pendukung a. Untuk kekurangan siswa diatasi dengan
sistem jemput bola (pendaftaran langsung datang ke SD pendukung).
b. Pemetaan SD pendukung masing-masing SMP satu wilayah kecamatan, kondisi daya tampung dan prediksi sekolah terhadap kelebihan dan kekurangan siswa dengan memanfaatkan MKKS SMP satu wliayah kecamatan
6 Pihak Ketiga (DUDI) Merangkul, mengajak dan melibatkan kerja dari pihak ketiga (DUDI) untuk berpartisipasi aktif dalam pemenuhan SPM sekolah.
E.Pembahasan
Dari hasil penelitian tentang indikator pencapaian SPM SMPN, maka ditemukan capaian indikator dari SMPN di Kabupaten Tanah Laut, terutama di capaian yang berada di bawah 50%, sebagai temuan yang secepatnya harus ditanggulangi oleh Dinas Pendidikan, yaitu
No Indikator Pencapaian SPM SMPN Capaian Indikator (%)
1 Jumlah SMPN yang menyelenggarakan proses pembelajaran
di sekolah selama 34 minggu per tahun dengan kegiatan
pembelajaran kelas VII-IX selama 27 jam per minggu 32.61
2 Jumlah rombongan belajar yang memenuhi standar alokasi
waktu proses pembelajaran 32.42
3 Jumlah SMPN yang telah memenuhi jumlah buku pengayaan
dan referensi 28.26
4 Jumlah guru tetap yang rata-rata jam kerja per minggu ≥ 37,5
jam 26.70
5 Jumlah SMPN yang memiliki ruang laboratorium IPA yang
dilengkapi dengan meja dan kursi untuk 36 peserta didik 13.04
6 Jumlah SMPN yang telah memenuhi IP Jumlah guru tetap
yang rata-rata jam kerja per minggu ≥ 37,5 jam 10.87
7 Jumlah SMPN yang mendapat kunjungan oleh pengawas satu
kali setiap bulan dan setiap kunjungan selama ≥ 3 jam untuk
melakukan supervisi dan pembinaan 4.35
8 Jumlah set buku teks mata pelajaran yang sudah ditetapkan
kelayakannya oleh Pemerintah yang disediakan oleh sekolah 3.28
9 Jumlah SMPN yang telah memenuhi kebutuhan ruang kelas,
meja/kursi, dan papan tulis untuk setiap rombel 0
10 Jumlah SMPN yang memiliki satu set peralatan praktek IPA
untuk demonstrasi dan eksperimen peserta didik 0
11 Jumlah SMPN yang memiliki guru untuk setiap mata
pelajaran atau untuk daerah khusus 1 (satu) guru untuk setiap
75
12 Jumlah SMPN yang telah memenuhi IP Jumlah set buku teks
mata pelajaran yang sudah ditetapkan kelayakannya oleh
Pemerintah yang disediakan oleh sekolah 0
Capaian indikator SPM yang tidak terpenuhi oleh seluruh SMP Negeri di Kabupaten Tanah Laut adalah jumlah set buku teks mata pelajaran yang sudah ditetapkan kelayakannya oleh pemerintah, guru untuk setiap mata pelajaran di sekolah, jumlah set peralatan praktek IPA untuk demonstrasi dan eksperimen peserta didik, dan jumlah kebutuhan meja/kelas untuk setiap rombongan belajar. Hal yang berkaitan dengan tidak dapat dipenuhinya jumlah buku teks mata pelajaran dan jumlah set peralatan pratek IPA untuk demonstrasi dan eksperimen oleh sekolah, karena keterbatasan dana, sebab hanya bersumber pada dana BOS pusat sebesar 5% dari pagu yang tersedia. Hal demikian nampaknya tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan terhadap pelaksanaan SPM meskipun di SD, yakni bahwa sekolah masih terdapat kekurangan buku (Herwin, 2010/2011; Kemendikbud dan Uni Erofa, 2014; MSS-CDP, 2014) dan ketersediaan peraga IPA Nuryani, 2014).
Sementara sekolah yang tidak memiliki guru untuk setiap mata pelajaran, sehingga dilapangan ditemukan guru yang mengajar tidak sesuai dengan kompetensi. Hal ini juga ditemukan oleh survei Bank Pembangunan Asia (2014), khususnya mengajar tidak sesuai antara ijazah dengan tugas mengajarnya, atau kualifikasi guru belum S1/D4 serta belum bersertifikasi. Kondisi ini terjadi disebabkan tidak ada atau belum cermatnya pemetaan kompetensi guru maupun pemetaan jam mengajar, sehingga Dinas Pendidikan kurang tepat dalam mengirim guru yang sesuai dengan bidang keahlian, bahkan terdapat di suatu sekolah, jumlah gurunya honornya sebanyak 50%. Kondisi guru demikian, nampaknya berkaitan juga dengan distribusi guru di sekolah, dan kondisi jumlah siswa, jumlah meja/kursi dan jumlah ruang kelas yang digunakan. Semakin banyak siswa, semakin banyak meja/kursi, dan semakin banyak ruang kelas yang digunakan pada suatu sekolah, akan berakibat semakin banyak guru yang bertugas di sekolah itu. Namun yang perlu dicermati adalah jumlah siswa dengan jumlah meja/kursi dan jumlah ruang yang digunakan hendaknya mendekati jumlah yang ditentukan SMP. Jangan sampai terjadi demi memenuhi jam mengajar guru, maka ruang ditambah, dengan jumlah siswa yang semakin jauh dari jumlah siswa yang menjadi standar.
76 Indikator yang menarik untuk ditelaah adalah tidak dipenuhinya jumlah kebutuhan ruang kelas, meja/kursi, dan papan tulis untuk setiap rombongan belajar oleh seluruh SMP Negeri, tetapi faktanya yang tidak terpenuhi adalah jumlah meja/kursi yang sesuai dengan jumlah SPM, yakni untuk 36 siswa, maka tersedia 36 meja/kursi. Terdapat tiga pola tidak terpenuhinya jumlah meja/kursi menurut SPM, yakni; 1) jumlah meja/kursi yang tersedia lebih sedikit dari jumlah siswa, dan jumlahnya tidak memenuhi jumlah SPM; 2), jumlah meja/kursi melebihi jumlah siswa, tetapi tidak memenuhi standar jumlah SPM, atau jumlah meja/kursi sesuai dengan jumlah siswa, tetapi tidak memenuhi standar jumlah SPM. Selain pada kelas-kelas tertentu terdapat jumlah siswa melebihi 36 siswa. Fakta lainnya adalah pada sekolah-sekolah yang jumlah siswanya banyak, lebih dari 100 siswa dengan jumlah kelas 4-5 ruangan, perlu ditata kembali, agar lebih mendekati jumlah siswa sesuai SPM yang yakni 36 siswa. Hal ini juga akan berdampak pada distribusi guru, karena guru yang tidak terpenuhi jam mengajarnya, akan dapat mengajar di sekolah lain, yang kekurangan guru. Karena itu perlu dilakukan pemetaan jumlah siswa, jumlah meja/kursi, jumlah ruangan, dan jumlah guru yang diperlukan di satu sekolah.
Jumlah set buku teks mata pelajaran yang sudah ditetapkan kelayakannya oleh pemerintah yang disediakan oleh sekolah berdasarkan SPM dilihat dari jumlah sekolah, maka sebagaimana data yang diperoleh, tidak satu SMPN pun yang memenuhi SPM. Tetapi jika jumlah set buku teks mata pelajaran yang ada dibandingkan dengan jumlah siswa, maka hanya diperoleh angka 3.28%. Jadi sangat kecil sekali prosentasenya. Prosentase ini lebih kecil dari temuan MSS-CDP (2014) terhadap pemilikan buku teks mata pelajaran di SMP yang mencapai angka 8%. Kendalanya juga disebabkan karena keterbatasan dana. Hal sesuai dengan temuan dari Herwin (2010/2011), dan Khoirina (2014) analisis terhadap pembiayaan operasional nonpersonalia menunjukkan masih kecilnya pangsa anggaran.
Temuan lainnya adalah rendahnya kuantitas kunjungan dan kualitas supervisi dan pembinaan yang dilakukan pengawas ke sekolah, karena dari 46 sekolah, hanya 2 sekolah saja yang terpenuhi. Kendalanya adalah pengawas kesulitan masalah dana dan transportasi untuk menjangkau sekolah-sekolah yang jauh dari pusat kota. Namun sinyalemen Suyonomemo (2011) tentang kendala pengawas dalam melaksanakan tugas supervisi dan pengawasan, bisa juga terjadi terhadap pengawas SMP Negeri Tanah, yaitu :
77
1. Pengawas tidak menyusun program kerja kepengawasan untuk setiap semester dan setiap tahunnya pada sekolah yang dibinanya.
2. Pengawas merasa kesulitan dalam melaksanakan penilaian, pengolahan dan analisis data hasil belajar/bimbingan siswa dan kemampuan guru.
3. Pengawas tidak mengumpulkan dan mengolah data sumber daya pendidikan, proses pembelajaran/bimbingan, lingkungan sekolah yang berpengaruh terhadap perkembangan hasil belajar/bimbingan siswa.
4. Pengawas tidak melaksanakan analisis komprehensif hasil analisis berbagai faktor sumber daya pendidikan sebagai bahan untuk melakukan inovasi sekolah.
5. Pengawas jarang memberikan arahan, bantuan dan bimbingan kepada guru tentang proses pembelajaran/bimbingan yang bermutu untuk meningkatkan mutu proses dan hasil belajar/ bimbingan siswa.
6. Pengawas tidak melaksanakan penilaian dan monitoring penyelenggaran pendidikan di sekolah binaannya mulai dari penerimaan siswa baru, pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan ujian sampai kepada pelepasan lulusan/pemberian ijazah.
7. Pengawas tidak menyusun laporan hasil pengawasan di sekolah binaannya dan melaporkannya kepada Dinas Pendidikan, Komite Sekolah dan stakeholder lainnya. 8. Pengawas jarang melaksanakan penilaian hasil pengawasan seluruh sekolah sebagai
bahan kajian untuk menetapkan program kepengawasan semester berikutnya.
9. Pengawas hanya sebagian yang memberikan bahan penilaian kepada sekolah dalam rangka akreditasi sekolah.
10. Pengawas jarang memberikan saran dan pertimbangan kepada pihak sekolah dalam memecahkan masalah yang dihadapi sekolah berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan.
11. Pengawas kesulitan masalah dana dan transportasi untuk menjangkau sekolah-sekolah yang jauh dari pusat kota
12. Pengawas dalam tugas pengawasannya hanya sebagai simbolis, datang tanda tangan SPPD , ngobrol dan pulang
78
13. Pengawas tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan sehingga merasa tidak ada modal untuk melaksanakan kepengawasannya
Temuan lainnya yang perlu segera ditindaklanjuti adalah hanya 5 sekolah dari 46 sekolah, yang guru tetapnya telah memenuhi rata-rata jam kerja per minggu sebanyak 37,5 jam, atau indikator pencapaian hanya sebesar 10,87%. Sementara indikator pencapaian jam kerja guru tetap rata-rata per minggu sebanyak 37,5 jam hanya 157 guru tetap dibanding jumlah seluruh guru tetap, yakni sebesar 26.07%. Berarti masih banyak sekolah dan guru tetap yang belum memenuhi standar untuk bekerja sebanyak 37,5 jam per minggu di satuan pendidikan, termasuk merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing atau melatih peserta didik, dan melaksanakan tugas tambahan. Beberapa kendala di lapangan yang menjadi penyebab tidak terpenuhinya beban kerja di sekolah (Irfad, 2015) adalah; 1) jumlah rombongan belajar di sekolah terlalu sedikit; 2) keterbatasan akan jam suatu mata pelajaran dalam kurikulum, misalnya PKn, PAI; 3) jumlah guru suatu mata pelajaran dalam sekolah berlebihan; dan 4) satuan pendidikan daerah terpencil, inklusi, khusus dan terpadu. Untuk itu pihak dinas pendidikan kabupaten selaku pengelola sertifikasi di daerah pun perlu melakukan monitoring secara objektif terkait dengan pemberian tunjangan profesi. Kelayakan tidak sekedar cukup-tidak cukup 24 jam, dinilai secara administratif di atas meja berdasarkan Surat Keputusan Pembagian Beban Kerja yang dibuat oleh kepala sekolah. Perlu pemberdayaan para pengawas sekolah untuk melakukan verifikasi di lapangan.
Temuan berikutnya adalah hanya 6 sekolah dari 46 sekolah yang memiliki ruang laboratorium IPA yang dilengkapi dengan meja dan kursi untuk 36 peserta didik. Jadi indikator pencapaian SMP dalam aspek ini hanya 13,04%. Kendalanya adalah ketiadaan lahan dan lahan tersedia tetapi masih belum selesai status legal kepemilikan, dan keterbatasan anggaran dari Dinas Pendidikan. Temuan Kemendikbud dan Uni Erofa (2014) terhadap Status Qou Assessment (SQA) menunjukkan bahwa beberapa indikator SPM pendidikan belum tercapai, misalnya penyediaan laboratorium ilmiah.
Temuan lainnya yang layak menjadi perhartian Dinas Pendidikan adalah pemenuhan jumlah buku pengayaan di sekolah, karena hanya 13 sekolah dari 46 sekolah yang mampu memenuhi jumlah buku pengayaaan sesuai SPM, jadi baru sekitar 28,26%, masih terdapat
79 71,74% sekolah yang belum memenuhi. Hal demikian juga terjadi dalam temuan Kemendikbud dan Uni Erofa dalam survei Status Quo Assessment (SQA) yakni jumlah buku di perpustakaan masih belum memadai. Kendalanya keterbatasan dana, jika hanya mengharapkan dana BOS Pusat. Demikian juga temuan Khoirina Nuryani (2014) bahwa kendala yangdihadapi dalam pemenuhan SPM adalah keeterbatasan dana. Untuk Dinas Pendidikan diharapkan secara bertahap memenuhi jumlah buku pengayaan di sekolah yang memenuhi SPM berdasarkan skala prioritas.
Jumlah rombongan belajar yang memenuhi standar alokasi waktu proses pembelajaran, dari 364 rombongan belajar, hanya 118 rombongan belajar yang memenuhi standar alokasi waktu proses pembelajaran, yakni sebesar 32,42% saja, jadi masih 67,58% rombongan belajar terpenuhi. Demikian juga baru 15 sekolah, dari 46 sekolah yang menyelenggarakan proses belajar d sekolah selama 34 minggu per tahun dengan keegiatan pembelajaraan keelas VII-IX selama 27 jam per minggu, jadi indikator pencapaiannya baru 32,61%. Hal ini perlu mendapat perhatian pihak Dinas Pendidikan tentang pelaksanaan proses pembelajaran agar sesuai dengan standar alokasi waktu 27 jam per minggu dan 34 minggu per tahun. Peningkatan kunjungan supervisi dan pembinaan pengawas perlu dilakukan dan pemetaan proses pembelajaran perlu dilakukan untuk menjamin ketercapaian indikator standar alokasi waktu proses pembelajaran. Dari temuan hasil penelitian terhadap capaian indikator SPM, maka terdapat beberapa sekolah yang dikategorikan rendah pencapaian SPM berdasarkan rendahnya skor pencapaian pada 27 indikator. Berdasarkan skor yang diperoleh, maka disusunlah 13 peringkat SMP Negeri yang menjadi prioritas untuk ditangani dilihat dari jumlah indikator SPM terbanyak yang tidak terpenuhi, yaitu:
Peringkat SMP Negeri Jumlah Indikator SPM yang tidak terpenuhi
1 SMP Negeri 1 Batu Ampar 20 indikator
2 SMP Negeri 3 Kintap 19 indikator
3 SMP Negeri 4 Batu Ampar 18 Indikator
4 SMP Negeri 6 Jorong 18 Indikator
5 SMP Negeri 5 Jorong 17 Indikator
6 SMP Negeri 5 Takisung 17 Indikator
7 SMP Negeri 9 Pelaihari 16 Indikator
8 SMP Negeri 3 Jorong 15 Indikator
80
10 SMP Negeri 4 Kintap 15 Indikator
11 SMP Negeri 10 Pelaihari 14 Indikator
12 SMP Negeri 11 Pelaihari 14 Indikator
13 SMP Satu Atap Kurau 14 Indikator
Dari beberapa temuan tersebut beberapa kebijakan, selain kebijakan yang dilakukan, dicari, disarankan dan ditawarkan oleh kepala sekolah, maka kebijakan yang hendaknya dimasukan dalam RKPD adalah sebagaimana dalam tabel berikut:
No Dimensi Permasalahan Program dalam RKPD 1 Tidak terpenuhinya jumlah set
buku teks mata pelajaran yang sudah ditetapkan kelayakannya oleh Pemerintah yang disediakan oleh sekolah di seluruh SMPN
Pengadaan buku teks mata pelajaran yang sudah ditetapkan kelayakannya untuk SMPN yang belum terpenuhi sesuai SPM
2 Tidak memiliki guru untuk setiap mata pelajaran atau untuk daerah khusus 1 (satu) guru untuk setiap rumpun mata pelajaran di seluruh SMPN
Pengadaan guru setiap mata pelajaran secara bertahap untuk SMPN yang belum terpenuhi, sehingga memenuhi standar sampai tahun 2019 3 Jumlah set peralatan praktek IPA
untuk demonstrasi dan eksperimen peserta didik sesuai SPM tidak terpenuhi untuk semua SMPN
Pengadaan set peralatan praktek IPA untuk demonstrasi dan eksperimen peserta didik untuk SMPN yang belum terpenuhi sesuai SPM 4 Jumlah kebutuhan ruang kelas,
meja/kursi, dan papan tulis untuk setiap rombel, terutama jumlah meja/kursi tidak terpenuhi sesuai SPM di seluruh SMPN
Pengadaan meja/kursi untuk setiap rombel untuk SMPN yang belum terpenuhi sesuai SPM
Pemetaan jumlah siswa, jumlah meja/kursi, jumlah ruangan, dan jumlah guru yang diperlukan di satu sekolah
5 Jumlah kunjungan oleh pengawas satu kali setiap bulan
dan setiap kunjungan selama ≥ 3
jam untuk melakukan supervisi dan pembinaan belum sesuai SPM di sebagian besar SMPN
Peningkatan kuantitas kunjungan oleh pengawas satu kali setiap bulan dan setiap
kunjungan selama ≥ 3 jam untuk melakukan
supervisi dan pembinaan dengan membuat regulasi tentang laporan pemetaan, rekaman dan hasil kunjungan bulanan, serta penambahan anggaran transportasi ke lapangan.
6 Jumlah guru tetap yang rata-rata
jam kerja per minggu ≥ 37,5 jam
belum terpenuhi sesuai SPM di sebagian besar SMPN
Pemetaan jam wajib mengajar guru tetap per minggu di SMPN
Verifikasi dari pengawasan tidak hanya berdasarkan surat keterangan sekolah
81 7 Ruang laboratorium IPA yang
dilengkapi dengan meja dan kursi untuk 36 peserta didik belum terpenuhi sesuai SPM di sebagian besar SMPN
Pengadaan meja/kursi peserta didik untuk ruang laboratorium IPA di SMP yang belum memenuhi SPM
8 Jumlah buku pengayaan dan referensi belum memenuhi sesuai SPM di sebagian besar SMPN
Pengadaan buku pengayaan dan referensi untuk SMPN yang belum memenuhi SPM
9 Jumlah rombongan belajar yang memenuhi standar alokasi waktu proses pembelajaran belum terpenuhi sesuai SPM di sebagian besar SMPN
Pemetaan rombongan belajar sesuai standar alokasi waktu proses pembelajaran di SMPN yang belum memenuhi SPM
10 Penyelenggaraan proses pembelajaran di sekolah selama 34 minggu per tahun dengan kegiatan pembelajaran kelas VII-IX selama 27 jam per minggu belum memenuhi SPM di sebagian besar SMPN
Pemetaan proses pembelajaran di sekolah per tahun di kelas VII-IX di SMPN yang belum memenuhi SPM
82 BAB V
PENUTUP