• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2.6. Kebijakan Fiskal dan Moneter Indonesia pada Periode Analisis

Analisis three-gap pada perekonomian Indonesia dilakukan dengan

mengestimasi Model Makroekonomi Three-Gap Indonesia pada periode tahun

1969-2000. Simulasi kebijakan fiskal dan moneter dilakukan pada periode tahun 1990-1996 dan 1997-2000. Tujuannya adalah untuk menganalisis kebijakan fiskal dan moneter pada periode sebelum krisis Asia 1997 dan pada periode krisis ekonomi. Periode sebelum krisis yang dipilih adalah tahun 1990-1996 karena pada tahun 1990 pemerintah mengeluarkan paket kebijakan reformasi ekonomi untuk menggairahkan iklim investasi di Indonesia. Simulasi pada periode krisis adalah tahun 1997-2000.

Tabel 11 memperlihatkan peristiwa yang menjadi awal terjadinya krisis ekonomi tahun 1997. Pada 11 Juli 1997, pada saat nilai tukar rupiah mulai terkena

contagion effect, pemerintah merespon dengan cara melebarkan spread nilai tukar

rupiah dari 8% menjadi 12% dari nilai tukar saat itu. Akan tetapi, ternyata nilai tukar rupiah terus melemah sehingga akhirnya pemerintah melepaskan batasan

(band) intervensi sehingga nilai tukar rupiah diambangkan, yaitu dilepaskan

mengikuti nilai pasar. Pada tanggal 18 Agustus 1997, untuk menahan penurunan lebih jauh dari nilai tukar rupiah, Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga sampai menjadi 30% per tahun. Akan tetapi peningkatan suku bunga tersebut hanya mampu meningkatkan nilai rupiah secara sementara, yaitu naik 100 poin dari Rp.2970/dollar AS menjadi Rp.2870/dollar AS selama kurang dari satu bulan. Pada tanggal 15 September 1997, nilai tukar rupiah malah turun menjadi Rp.2940/dollar AS, dan lebih merosot lagi menjadi Rp.3660/dollar AS pada

tanggal 3 Oktober 1997. Karena nilai tukar rupiah terus tertekan lebih dalam, maka akhirnya pemerintah meminta bantuan IMF.

Tabel 11. Awal Krisis Ekonomi Indonesia Tahun 1997

KRISIS TANGGAL KEBIJAKAN DAMPAK KEBIJAKAN

Turunnya Nilai Rupiah

11 Juli 1997 Pelebaran spread dari 8%

menjadi 12%

Rupiah melemah 20 poin, dari Rp.2425 menjadi Rp.2445 per dollar AS

14 Agust. 1997 Bank Indonesia melepas

band intervensi atas nilai

tukar rupiah

Rupiah melemah 122.50 poin, dari Rp.2657.50 menjadi Rp.2780 per dollar AS

18 Agust. 1997 Bank Indonesia menaikkan

suku bunga SBI menjadi 30% untuk jangka waktu satu bulan

Overnite melonjak sampai 250% dan rupiah menguat 100 poin, dari Rp.2970 menjadi Rp.2870/dollar AS

15 Sept. 1997 Bank Indonesia menurunkan

bunga SBI berjangka 7 dan 14 hari, 1 dan 3 bulan sebesar 1% hingga 2%, dan BI membuka lagi lelang SBI

Rupiah melemah 10 poin dari Rp.2930 menjadi Rp.2940 per dollar AS

Krisis Sektor Riil

3 Okt. 1997 BI memberi fasilitas swap

kepada eksportir dan importir agar memperoleh kepastian kurs

Rupiah melemah 247.50 poin, dari Rp.3412.50 menjadi Rp.3660 per dollar AS

30 Okt. 1997 Keputusan program bantuan

paket IMF

Anjloknya rupiah tertahan

Krisis Perbankan

1 Nov. 1997 Pencabutan izin 16 bank

Krisis

Kepercayaan

2 Des. 1997 Isu seputar kesehatan

presiden Soeharto

Satu dollar AS

menembus Rp.4000 dan berlanjut menembus Rp.5000 per dollar AS

16 Des. 1997 Bank Indonesia

mengintervensi pasar untuk memperkuat nilai tukar rupiah Krisis Sektor

Riil

Banyak pabrik tidak dapat membayar utang yang berdenominasi dollar AS

Defisit Neraca Pembayaran

Pinjaman luar negeri pemerintah melalui IMF

Sumber: Bank Indonesia (1997)

Pemerintah Indonesia bersama-sama dengan IMF kemudian menghasilkan paket-paket kebijakan pemulihan ekonomi yang dicantumkan dalam bentuk Letter

berkenaan dengan: (1) fiskal, (2) sektor moneter dan perbankan, (3) kebijakan tentang restrukturisasi sektor perbankan, dan (4) kebijakan tentang perdagangan luar negeri. LOI I tentang kebijakan fiskal, secara umum bertujuan mengefisienkan penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Caranya antara lain adalah dengan menghilangkan segala macam keistimewaan perpajakan yang tidak perlu pada proyek-proyek seperti industri pesawat terbang dan mobil nasional dan mengefisienkan pengeluaran pemerintah dalam rangka mengurangi defisit anggaran belanja pemerintah.

Pada LOI II, diletakkan landasan institusional bidang moneter dengan cara memisahkan bank sentral dengan pemerintah sehingga otoritas moneter dapat berfungsi lebih baik karena tidak dapat diintervensi lagi oleh pemerintah. Kemudian permasalahan perbankan yang mayoritas menjadi tidak sehat pada masa krisis, diatur pada LOI III yang berisi kebijakan restrukturisasi perbankan. LOI IV mengatur tentang kebijakan perdagangan luar negeri.

Bila diperhatikan, kebijakan yang dicantumkan dalam LOI I, II, III dan IV merupakan kebijakan yang baik. Mengenai kebijakan fiskal, tujuan secara keseluruhan adalah efisiensi fiskal, demikian pula dalam kebijakan moneternya, dimana sistem dan prosedur otoritas moneter akan diperbaiki, termasuk di dalamnya kebijakan pengurangan kredit kepada badan usaha milik negara. Kebijakan perdagangan luar negerinyapun diarahkan pada persiapan perdagangan bebas, dimana hampir setiap negara tidak dapat menghindarinya lagi, termasuk Indonesia yang telah masuk dalam Asia Free Trade Association (AFTA) dan

World Trade Organization (WTO). Dalam penerapannya, pada periode tahun

1. Melakukan efisiensi fiskal berupa perbaikan kebijakan perpajakan dan penurunan pengeluaran pemerintah. Perbaikan kebijakan perpajakan ditujukan untuk meningkatkan penerimaan pemerintah, antara lain dengan penghilangan keistimewaan dan fasilitas pada proyek-proyek besar tertentu seperti proyek industri pesawat terbang dan mobil nasional. Sedangkan penurunan pengeluaran pemerintah antara lain dalam bentuk pengurangan subsidi-subsidi dan rasionalisasi pengeluaran.

2. Meminta bantuan dalam bentuk pinjaman melalui IMF untuk mengatasi krisis nilai tukar rupiah yang telah dengan cepat meluas menjadi krisis ekonomi. 3. Menaikkan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Tujuan

menaikkan suku bunga adalah untuk menurunkan jumlah uang beredar dan menahan lebih terpuruknya nilai tukar rupiah. Kenaikan tingkat suku bunga secara teoritis akan membuat harga barang-barang domestik menjadi lebih menarik karena memegang tabungan menjadi lebih menguntungkan daripada memegang barang. Selanjutnya, karena di mata pihak asing harga barang domestik menjadi relatif murah, maka pihak asing akan menukarkan mata uangnya dengan mata uang domestik untuk membeli barang-barang tersebut. Jika hal ini terjadi, maka nilai tukar mata uang domestik akan menjadi lebih kuat.

4. Melakukan kebijakan privatisasi pada badan usaha milik negara termasuk bank-bank negara. Selain untuk meningkatkan penerimaan pemerintah, kebijakan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan perusahaan-perusahaan tersebut karena dengan sebagian sahamnya dimiliki oleh masyarakat, perusahaan menjadi lebih transparan.

5. Membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang bertujuan membantu perusahaan-perusahaan umum dan perbankan yang tidak sehat karena terbeban utang yang sangat tinggi, antara lain dengan cara diambil alih untuk direkapitalisasi, direstrukturisasi atau dimerger, untuk kemudian dijual kembali melalui pasar modal.

Kebijakan fiskal dan moneter yang dilakukan oleh pemerintah pada masa krisis ekonomi tahun 1997-2000 adalah kebijakan efisiensi fiskal untuk memperkecil defisit fiskal, kebijakan mengenai pinjaman luar negeri pemerintah dan kebijakan tingkat suku bunga (butir 1, butir 2 dan butir 3). Sedangkan kebijakan yang dilakukan pemerintah pada masa pemulihan ekonomi (transisi ekonomi) tahun 2001-2005 adalah kebijakan privatisasi dan ekspansi kredit ke sektor swasta (butir 4 dan butir 5).

Pada masa krisis dan pemulihan (transisi) ekonomi di Indonesia, berbagai model telah dibangun untuk memahami perekonomian Indonesia. Berbagai studi juga telah dilakukan untuk memahami terjadinya krisis ekonomi yang dialami Indonesia, termasuk evaluasi atas program kebijakan ekonomi yang disusun bersama International Monetary Fund (IMF). Mengingat perekonomian Indonesia

mengalami defisit fiskal yang kronis selama lebih dari 30 tahun, maka sangat penting untuk melakukan penelitian mengenai masalah defisit. Seperti telah diuraikan, salah satu perangkat analisis yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan analisis tiga kesenjangan (three-gap). Studi tentang analisis tiga

kesenjangan diperlukan karena penelitian independen tentang masalah tersebut masih belum banyak. Berikut ini diuraikan konsep teoritis tentang tiga kesenjangan dalam suatu perekonomian.